Tittle : Uzumaki's Prodigy

Genre : Adventure/Friendship/etc

Rate : T

Mainchar : Naruto U.

Disclaimer : Naruto punya MK. Fanfict ini punya saya

Summary : Apabila Naruto menemukan jalan pintas ke Uzushio. Apabila dia mempelajari banyak fuuinjutsu. Apabila dia salah segel dan termakan segelnya sendiri sampai berubah gender, Kyuubi berhasil didekatinya sebelum genin, apa yang akan terjadi dengan jalan cerita?

Warning : OOC(maybe), AU semi Canon atau sebaliknya(?), ide pasaran, fem!Naru smart and strong!Naru and other standard warnings

NB :

"BIJUU BERBICARA"

"-telepati-"

Sudah review Chap 9? Happy read! Jangan lupa tinggalkan review untuk yang satu ini juga :D


Chapter 10 : Grey Blossom


"Ngh..."

Kelopak mata Kakashi terbuka perlahan, membiaskan cahaya matahari pada retina matanya. Pria itu mendudukkan dirinya di pinggiran kasur. Ia meringis kecil saat dirasa luka di perutnya masih sakit. Ia menatap sekitar dengan mata sayu-nya. Sebuah kamar, sepertinya kini dia sudah ada di rumah Tazuna.

'Yare-yare...'

Mengingat apa yang terjadi sebelum kesadarannya menghilang membuat Kakashi ingin menggetok tiga kepala muridnya yang selalu berbuat seenaknya jika Naruto berkehendak(?) itu. Yah...Mereka paling jempol deh soal membuat Kakashi kesal!

"Hmm..."

Efek(?) dari memiliki hidung tajam, Kakashi bisa menghirup aroma masakan yang mengocok perut dari arah dapur. Alhasil pria itu memakai kaos hitam jounin-nya, lalu berjalan ke arah aroma masakkan itu berasal. Tepat, ia berhasil memasuki dapur. Dan...

Bertatap muka dengan Sasuke, Sakura, juga Tazuna.

"Kaka-sensei! Kau sudah bangun?"

"Hn. Ohayou, sensei."

"Duduklah Kakashi, putriku sedang memasak sarapan."

Kakashi hanya mengangguk pelan dan duduk di sebelah Tazuna. Matanya yang tertutup sebelah menatap Sasuke-Sakura dengan tatapan menuntut penjelasan. Pria itu tertawa dalam hati saat Sakura menyikut pelan Sasuke yang acuh-tak-acuh. Tapi tatapannya berubah bingung saat melihat Sakura baik-baik saja, tanpa lecet sedikitpun. Padahal luka di perutnya lebih ringan, kenapa Sakura yang duluan sembuh? Wah...diam-diam Kakashi curiga.

"Apa ada inryou-nin hebat yang berpapasan dengan kita? Dia dendam padaku dan memilih membalut manual luka-ku? Dia tidak ingin kemampuannya kuketahui sehingga menyuruh rekannya sendiri merubuhkanku?"Kakashi bergumam. Tepat sasaran.

"..."

"Saa(siapa tahu)? Benar 'kan? Jadi, kemana si pirang itu pergi?"

Hening.

"Sejak kapan?"

Sakura menyerah.

"Hah... Kemarin, begitu sampai dia langsung menghilang tanpa pamit."

Kakashi menghilang dari hadapan mereka semua menyisakan kepulan asap. Tazuna angkat bahu tak peduli, Sakura menempelkan pipinya di meja makan. Tidak seperti Sasuke yang tersenyum tipis.

'Bawa dia kembali, sensei...'

.

.

.

"Hei..."

"Bangun..."

"Bocah!"

"Bangun!"

Naruto melenguh pelan saat badannya diguncang pelan. Sedikit merutuk ketika silaunya mentari terpaksa membuatnya membuka mata setelah mendudukkan dirinya. Tangannya mengusap pelan kedua matanya yang terasa berat. Menguap kecil, sebelum akhirnya terpaku dengan mata terbelalak ketika beradu pandang dengan orang yang membangunkannya.

"C-cantik..."terpukau(?) dengan paras sosok di hadapannya, Naruto berucap reflek. Mengundang tawa geli dari sosok di hadapannya yang sebenarnya adalah...laki-laki.

"Kau cukup polos untuk menjadi pekerja keras."kekeh pemuda di hadapan Naruto yang memang benar-benar mirip wanita apalagi rambutnya hitam panjang. Pemuda itu bangun dan menghampiri keranjang berisi tumbuhan yang ia tinggalkan hanya untuk membangunkan Naruto.

"Hehe...Maaf, ttebayo..."

Naruto berdiri, lalu meregangkan ototnya yang agak pegal. Ia menguap lebar, matanya merem-melek ngantuk. Maklum saja, dari kemarin sampai pagi buta Naruto masih berlatih. Sadar-sadar ia dibangunkan, tadi.

"Aku melihatmu berlatih terlalu keras, dari kemarin. Pulanglah dan istirahat. Wajahmu tak berbentuk, tahu!"gurau pemuda tadi, masih asyik mencari tumbuh-tumbuhan. Naruto tertawa lebar mendengarnya. Pipi gadis itu bersemu, senang ada yang perhatian padanya.

"Hehe... Apa yang kau cari nii-san?" Naruto mendekati pemuda itu. Tersenyum simpul saat keranjang penuh tanaman obat ditunjukkan padanya.

"Tanaman yang kau dapat memang bagus. Tapi ada satu tanaman yang bisa mempercepat penyembuhan luka dalam Zabuza, jika kau mau tahu."

DEG!

Badan pemuda 15 tahunan itu menegang. Kepalanya ditolehkan ke kanan, tempat Naruto berada dengan gerak patah-patah. Matanya terbelalak lebar, menatap shock pada Naruto yang tampak meneliti semak-semak.

"K-kau...tahu?"gumam pemuda itu tidak percaya. Naruto sempat terdiam, sebelum akhirnya tertawa geli. Mendapat tanaman yang ia maksud, segera ia kembali mendekati remaja lebih tua darinya yang masih diam tak bergerak.

"Nah... Yang ini pasti bisa mengobati Zabuza-san lebih cepat."

Setelah menaruh tanaman tadi pada keranjang, Naruto menggaruk tengkuknya yang mendadak ingin ia garuk. Tangan kanannya terjulur ke depan, mengajak berkenalan.

"Uzumaki Naruto desu! Err?"

Grab.

"Haku. Yuki Haku."

Hening sampai tangan keduanya berhenti bersalaman.

"Kau...menolong...yah...musuhmu?"ujar Haku sedikit tak percaya.

"Dalam misi kau memang musuhku. Tapi ini bukan misi. Kenapa aku tak boleh menolong manusia?"jawab Naruto enteng. Haku gemas sekali melihat Naruto yang benar-benar menganggap segalanya enteng.

"Hm... Bagaimana keadaan temanmu yang dilukai Zabuza-sama?"tanya Haku beralih topik. Melihat gadis itu tersenyum, mau tak mau Haku balas tersenyum juga.

"Dia sudah aman kusembuhkan-ttebayo! Bagaimana dengan Zabuza-san? Hehe...aku kelepasan memakai tendangan spesial."

"Masih belum sadar. Tapi kuyakin akan segera siuman."

"Maaf ne, Haku-san?"

Sweatdrop. Haku melongo melihat Naruto menggaruk belakang kepalanya. Sebenarnya apa sih yang ada di kepala pirang itu? Baru sekarang ia bertemu dengan seorang shinobi fleksible dan damai dengan musuhnya sendiri. Bahkan meminta maaf pula! Kalau saja di dunia ini semua ninja sepertinya, mungkin dunia ini akan damai, walau agak konyol. -Ah! Sudahlah! Haku masih banyak pekerjaan!

"Hm. Aku pulang dulu. Cepatlah pulang dan tidur, Naruto. Kau tampak mengkhawatirkan. Jaa matta!"

Naruto melambaikan tangannya pelan, mengiringi Haku yang semakin menjauh darinya dan hilang di balik pepohonan lebat. Gadis itu menyeringai kecil, sembari menopang dagunya. Sebuah kekehan tidak jelas ia keluarkan.

'Kirigakure ya? Sepertinya asyik sedikit mengukir kertas. Khukhu~ Kurama-nii! Kau pasti tertarik dengan rencana baruku!'batin gadis itu-tidak jelas apa maksudnya.

"Oh ya... Rompi-ku mana?"

Naruto yang memutuskan untuk segera kembali ke rumah Tazuna-gak nahan ngantuk-mencari rompi oranye kesayangannya yang dari kemarin ia buka dan simpan di bawah pohon. Sedikit merengut karena tak bisa menemukannya dimanapun. Badannya terpaku ketika menyadari ada sebuah chakra tak asing di atas pohon dimana rompinya semula berada.

"Kau mencari ini?"

Hup! Tap!

"K-kaka-sensei?!"

Ya, pelaku hilangnya rompi Naruto adalah Hatake Kakashi. Pria itu kini sudah berdiri, mendarat di bawah pohon. Naruto memang dobe*plak*. Tapi ia tak sebodoh itu untuk menyadari Kakashi menahan sakitnya. Pasti gara-gara pria itu banyak bergerak!

"Siapa yang menyuruhmu banyak bergerak? Lukamu bisa melebar, sensei!"protes Naruto.

"Lalu...kenapa tak kau sembuhkan?"

Dengus.

Naruto melangkah menuju tempat Kakashi berada. Mengabaikan norma berperilaku, gadis itu menjatuhkan Kakashi tanpa hati bahwa perlakuannya itu memperburuk luka Kakashi. Gadis itu duduk dengan tumpuan lutut tepat di depan Kakashi. Tangannya mengangkat kaos hitam Kakashi, mendumel pelan karena merasa seharusnya Kakashi jangan pakai baju dulu.

"Kau menyebalkan."

Kakashi tertawa dan meringis secara bersamaan saat Naruto sengaja menekan luka di perutnya yang terbalut perban. Tersenyum geli saat Naruto membuka balutan perban dengan sangat hati-hati. Tampak takut memperburuk luka Kakashi. Benar-benar anak yang manis.

"Kenapa tidak dari kemarin?"goda Kakashi. Ingin mengusik ketenangan muridnya yang satu ini.

"Diam saja kau!"

"I-ish... Kejam sekali kau pada guru sendiri."

Naruto mendengus kecil menanggapi gurauan sekaligus sindiran dari Kakashi yang dibuat-buat seperti sedang merana. Gadis itu meringis kecil saat melihat luka Kakashi kembali diwarnai merah darah.

"Basah lagi kan?!"sinis Naruto saat tangannya mulai diwarnai chakra kehijauan, lalu di arahkan pada perut Kakashi. Perlahan rasa sakit yang Kakashi rasakan semakin berkurang, seiring dengan semakin tertutupnya luka sayat itu.

"Apa yang kau lakukan sampai dua kepala pink-raven tim 7 tidak berkutik?"

"Jangan tanya padaku! Mereka sendiri yang menumbuhkan sifat segan itu! Huffft..."

Kakashi tertawa kecil. Ia harus menahan diri untuk tidak mencubit gemas Naruto. Melihat gadis itu semakin sebal dan merutuk dengan penuh ke-childish-an, Kakashi tidak bisa menahan diri untuk mengacak pelan rambut gadis itu.

"Aku percaya padamu."

Dan Naruto membeku seketika. Raut wajahnya berubah sendu perlahan, dengan kepala semakin menunduk. Kakashi yang merasa bersalah jadi gelagapan sendiri.

"K-kau kenapa?"

"..."

"Naruto? Maaf jika aku salah..."

"...Tidak..."

"..."

"Bukan kau yang salah, Kaka-sensei... Aku hanya...ingat pada tou-san. Apa yang kau perbuat benar-benar mirip dengannya."

Gantian, kini Kakashi yang terpaku di tempat. Matanya memandang kaget pada Naruto.

"Kau..." "-Jika yang kau maksud adalah aku sudah tahu atau aku sudah bertemu, maka jawaban dua-duanya adalah sudah."

Naruto tertawa kecil melihat Kakashi tampak benar-benar kaget. Yah...Naruto tidak berbohong dengan perkataannya. Naruto memang sudah bertemu dengan ayahnya, tentu saja ia sudah tahu siapa ayahnya.

"Kau...benar-benar sudah bertemu...Minato-sensei?"ulang Kakashi tak yakin.

Naruto tadinya ingin mengangguk semangat, namun ia jadi hanya menguap saat rasa kantuk luar biasa menyerangnya. Gadis itu menggosok matanya pelan, sebelum akhirnya ia ambruk. Tertidur.

"Naruto?!"

Kakashi mengguncang badan Naruto panik. Dia sweatdrop di tempat saat tahu Naruto tertidur. Tawa kecil keluar dari bibirnya saat Naruto memeluk perutnya, seakan memeluk guling.

"Aku akan penuhi janjiku, Minato-sensei..."

Dengan perlahan, Kakashi mengangkat tubuh Naruto, menggendongnya seapik mungkin agar tidur jinchuuriki Kyuubi tersebut tidak terganggu. Pada akhirnya, Kakashi kembali ke rumah Tazuna dengan Naruto dalam gendongannya.

'Yare-yare...Kau tenang, Minato-sensei. I'll take care of your blossom...'

.

.

.

"Hoaaam!"

Naruto menguap lebar. Ia mengerjapkan matanya pelan. Setelah berhasil menggenggam kontrol akal dan pikiran tubuhnya, gadis itu bangun dan meregangkan ototnya. Ia mengangkat bahu tak peduli saat dirasa tak ada siapapun di rumah ini.

"Hmm..."

Naruto keluar kamar, langsung menuju lantai bawah. Saat hendak keluar rumah, seorang bocah masuk dan menabraknya tanpa peduli. Naruto yang memang masih setengah sadar tentu jatuh terduduk karenanya. Gadis itu menggeram rendah. Bocah bernama Inari itu, selalu menekan tombol perang ketika berhadapan dengannya! Demi tuhan! Dia tidak suka ada yang benci padanya!

'Kau tidak boleh membenciku, Inari...'

Alhasil, Naruto menyusul Inari yang pergi ke halaman belakang rumah Tazuna. Gadis itu langsung duduk tak jauh dari Inari berada.

"...Mati."

Naruto terlonjak. Ia menatap bingung Inari yang menunduk dalam-dalam. Tangannya bergerak perlahan hendak menyentuh bahu Inari. Tapi belum satu detik tangannya mendarat, bocah itu menepis tangan Naruto.

"Kau akan mati kalau berani pada Gatou! Seperti dia!"

Naruto tertawa kecil, sukses membuat Inari terdiam. Dia? Naruto tahu orang yang Inari maksudkan. Tazuna sudah menceritakan kisah desa ini dan keluarganya. Naruto mengerti jika Inari marah. Naruto mengerti jika Inari kecewa. Tapi...tak ada alasan untuk membenci ayahnya, maupun melampiaskannya pada siapapun yang ingin menentang Gatou!

"Membela kebenaran kau anggap salah? Lalu apa? Perlukah aku ikut menjajah desa ini seperti Gatou agar kau tidak berteriak dan menyalahkan semuanya?"

"Tak ada pahlawan di dunia ini!"

"Baka."

"..."

"Aku akan buktikan kalau pria gendut itu bukan apa-apa! Apa yang dia punya? Uang? Cih! Aku bisa membakarnya sampai habis tak bersisa semauku-dattebayo!"

Naruto kembali menggeram rendah saat Inari masih menunduk. Rasa itu masih tersisa pada diri Inari. Naruto tidak bisa menyalahkannya.

"Dia...disalahkan atas perlakuan Gatou yang semakin kejam."gumam Inari.

'Terbuka juga kau!'

"Terus?"

Naruto menyeringai kecil saat Inari mulai mau membuka percakapan dengannya. Gadis itu nyaris tersedak ludahnya sendiri ketika bahu Inari mulai bergetar. Khas bila seseorang menahan tangisnya.

"Orang-orang memang bilang dia di anggap pahlawan. Tapi tidak bagiku. Dia meninggalkanku dan kaa-chan!"

"..."

"Seharusnya dia tidak begitu...seharusnya dia melindungiku...melindungi kaa-chan...melindungi jii-chan... Dia bahkan percaya bahwa Gatou akan melepaskan kami setelah kematiannya! Dia melepas nyawanya tak berguna-"

-Sret!

Perkataan Inari terhenti saat Naruto mencengkram kerah kaosnya. Bocah itu mengangkat wajahnya perlahan. Ia kira Naruto marah. Ia kira Naruto akan memukulnya. Ia kira Naruto akan membentaknya. Tapi tidak... Naruto tersenyum-sebuah senyum yang biasa Inari lihat ketika sang ibunda menjelaskan dengan sabar tentang pengorbanan ayahnya. Dan matanya...berkaca-kaca, menyembunyikan kilat tajam yang takkan Inari mengerti.

"Heh...bocah sepertimu tahu apa tentang pengorbanan?"

Bukan hanya ayahmu yang berkorban...

Setelah mengatakannya, Naruto berdiri memunggungi Inari. Dapat Inari lihat, dua tangan Naruto mengepal erat. Gadis itu menghela nafas panjang, meredakan emosinya yang datang tiba-tiba. Ia menolehkan kepalanya ke belakang dan tersenyum innocent.

"I'll show you the real of Heroes! Jaa na!"

"H-hah?"

Boffft!

Naruto menghilang dari hadapan Inari dan muncul di balik pohon tempat ia latihan, kemarin. Giginya bergemelatuk. Ketika dua bola mata birunya kembali tampak, sebuah tatapan mematikan tergambar di sana. Di bibirnya pun tersungging sebuah senyum terlampau innocent-menyeramkan. Senyumnya perlahan tandas, diiringi tetesan liquid bening yang menghujam pipinya perlahan.

Kau lebih beruntung, bodoh... Aku bahkan dicap monster dan dituduh membunuh kedua orangtuaku...

"Salahkan Inari soal ini. Khukhu... Seperti katamu, Kurama-nii! Nyawa tak usah dibalas nyawa. Jiwa saja sudah cukup. Ide yang cukup bagus 'kan?"

Naruto berbicara sendiri. Gadis itu terkekeh kecil, lalu mengacak rambutnya pelan sampai dua ikatan rambutnya terlepas. Ia duduk bersila, lalu menyentuh segel penyimpanan di kakinya dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil berwarna kuning milik mendiang ayahnya. Ia menggigit jempolnya, lalu meneteskan darahnya sendiri di atas satu lembaran kosong. Tangannya membentuk insou. Membuat darah Naruto bercahaya dan bergerak perlahan, membentuk rangkaian kalimat.

"-Kurama-nii~-" Naruto mengirim telepati pada Kurama.

"-Hoaaam! Apa?-"Kurama menjawab malas di seberang sana.

"-Aku...punya rencana untuk berterimakasih pada pengorbanan tou-san dan kaa-san-ttebayo!-"

"-Ng? Bagaimana?-"

"-Ingat berita tentang Iwa-Kumo-Kiri dari burung pemantauku?-"

"-...-"

"-Kurama-"

"-Ya. Kenapa?-"

"-Aku akan mulai mengeliminasi Kirigakure. Bagaimana menurutmu?-"

"-H-hoi! Kau bercanda 'kan?-"

"-Tidak, tentunya. Keadaan di sana sedang konflik persaudaraan. Di misiku ini aku bertemu dua orang hebat. Aku tertarik untuk memohon pada mereka.-"

"-Memohon? Cih...Apanya yang memohon? Memanfaatkan untukmu!-"

"-Fufu~ Bukankah bagus? Aku ingin jiwa mereka, Kurama-nii~"

"-Perkataanmu lebih mirip seperti malaikat kematian, tahu!-"

"-Haha...Anggap saja rasa terimakasihku karena mereka bisa membuat kaa-san berada di Konoha. Bukankah lebih menarik jika di tanganku bukan hanya Konoha?-"

"-Dasar kau ini! Memang apa yang mau bocah seperti kau lakukan?-"

"-Kuberitahu jika sudah berhasil. Jaa!-"

"-W-woy!-"

Naruto mengabaikan telepati lanjutan dari Kurama. Ia mendengus pelan. Rompi yang dipakai olehnya dilepas. Lalu gadis itu menatap lurus ke langit cerah.

"Legenda baru akan segera di mulai. Uzumaki akan kembali mengudara. Kupastikan siapapun yang terlahir dari marga itu takkan menyesal."

Dan kalian yang pernah berurusan dengannya...Akan kubuat merasa bersalah...

.

.

.

Di sisi lain hutan yang berada di kawasan Nami, team 7 tampak sedang beristirahat. Mereka baru saja berlatih-lebih tepatnya dilatih oleh guru pembimbing. Kakashi dekat Sasuke, sedangkan Sakura agak jauh menyender di pohon lain.

"Sasuke...semua yang kau ceritakan...benar adanya?"

"Hn. Seperti yang selama sparring kujelaskan padamu. Kurang lebih seperti itulah tingkatan Naruto."

"Benar-benar...Tak salah ayahnya adalah Kiiroi Senkou..."

Sasuke hanya mengangguk pelan, mengakhiri diskusinya dengan Kakashi mengenai kemampuan Naruto yang sebenarnya. Bukan maksud membuat orang-orang tahu. Tapi Sasuke ingin Naruto segera keluar dari benteng pertahanannya, dan menunjukkan siapa Naruto sebenarnya. Ia mengernyit bingung saat Kakashi diam menerawang.

"Kaka-sensei?"

"...Kelemahannya? Apa dia memiliki kelemahan?"

Sasuke sempat terdiam, sebelum akhirnya tertawa kecil.

"Tak ada orang yang lebih unggul dalam segala hal di dunia ini. Dia sendiri yang bilang padaku."

"Lalu...kau tahu?"

Sasuke beranjak dan meregangkan ototnya pelan. Wajahnya tetap datar, tapi Kakashi tahu dibaliknya ada sebuah senyum hangat. Dilihat dari bagaimana dua langit malam itu menerawang ke atas langit.

"Kalau aku tahu memang kenapa?"

Dan pemuda itu mulai melompati dahan pohon, meninggalkan Kakashi yang melongo.

'Yare-yare...Pantas saja Sandaime-sama menyatukan mereka berdua dalam satu kelompok.'

"Menjaga mereka? Atau dijaga mereka nih?"

Kakashi tertawa kecil. Entah kapan lagi ia bisa merasakan kehangatan ini. Sandaime-sama benar-benar bisa menarik grey blossom. Tak salah dia dipercaya menjadi seorang Hokage sampai saat ini.

'Grey blossom, huh?'

Yeah...Something like that.


~Bersambung ke Chap 11~


Yosh dua chap beres! Buat chap 11, jangan terlalu berharap sama Chic yaa! Ini Chic ke warnet kebetulan ortu lagi pergi, Kakak ada acara di sekolahnya. Hoho ngumpet wkwk!

Do'ain aja sebelum UN Chic bisa update :D

Kalo gak sempet yaaa...SAMPAI JUMPA DUA MINGGU LAGI :D

Adios!

Sign,

Chic White