Sehun menarik tangan Zitao sambil berlari-lari kecil, membuat Zitao sedikit tertawa, "Pelan-pelan, Sehun. Makanan tidak akan meninggalkanmu," ujarnya, kemudian tawanya mengeras begitu melihat Sehun yang cemberut dan melambatkan langkahnya.
"Baiklah! Baiklah! Aku selalu menurut padamu, ma queen,"
Zitao kembali memukul lengan kekasihnya, membuat Sehun mengambil alih tawa. Keduanya baru saja pulang dari kedai kopi milik Sehun, mengerjakan tugas mereka masing-masing. Dan sekarang, Sehun lapar dan membawa Zitao ke restoran seafood langganannya. Zitao menurut saja, sebenarnya ia ingin sekali pulang dan tidur, tubuhnya sangat lelah. Ia baru saja pulang kuliah dan harus membantu Sehun mengurus kedai kopinya. Yah, tapi tak apalah. Sebelum Sehun kembali merajuk, lebih baik ia turuti permintaannya.
Sehun dan Zitao segera duduk. Dengan cepat, Sehun segera membuka menu dan menatap puluhan nama masakan seafood yang sudah berkali-kali dilihatnya. Pelayan bahkan sudah datang dimeja mereka, memegang sebuah note kecil dan pulpen. "Aku akan memesan kerang saus merah. Zitao?"
Zitao memperhatikan menu, berusaha mencari sesuatu yang mungkin membuat rasa laparnya meningkat. "Hm ... sama," serunya, cengar-cengir kepada Sehun yang terkekeh pelan mendengarnya.
"Minumannya?"
"Aku teh apel,"-Zitao berseru terlebih dahulu dari Sehun. Ini yang daritadi ditunggunya.
Sehun kembali membuka menu, "Aku ... sama saja deh," ujarnya, cengar-cengir persis yang dilakukan Zitao sebelumnya, membuat pemuda cantik itu mencibir. Pelayan itu menatap mereka jengah, kemudian segera pergi menuju dapur.
"Sebentar lagi musim semi yah .." gumam Zitao, mengusap kedua tangannya dan menatap ke jendela.
Sehun tersenyum, dengan iseng ia memotret Zitao yang tampak sangat cantik dihadapannya. Dengan cepat ia menyembunyikan handphone-nya sebelum Zitao kembali memarahinya karena menambah koleksi foto dirinya. "Kau suka bunga apa?" tanyanya.
"Eum ... mawar?"
Sehun menggeleng. "Kau tidak cocok dengan mawar, sayangku,"
"Lalu?"
"Seharusnya kau suka dengan bunga matahari. Dan aku adalah mentarinya,"
Zitao mencibir, "Aku bisa berdiri tegak tanpamu, tuan Oh!"
Dan Sehun sudah tertawa begitu Zitao mengetahui arah gombalannya.
.
.
.
Hingga, mata Zitao melihatnya. Melihat jelas seseorang yang juga tengah menatapnya. "Sehun ..."
"Hm?"
"Aku ... ke toilet sebentar,"
"Okay, princess,"
AUTOMNE
Chapter Ten
Rated : T
Cast : Huang Zitao, Wu Yifan, Oh Sehun, Xi Luhan, Suho, Chanyeol, Kai, Kyungsoo and others
Warning : YAOI! Genk of TYPO!
DON'T LIKE, DON'T READ!
NO SIDERS! just need a review :v
.
.
I TOLD YOU BEFORE, IF YOU DON'T LIKE THIS FANFIC, GO AWAY, PLEASE!
Oiyeth, di chapt ini ada HunHan loh^^
ENJOY~
Zitao melangkahkan kakinya, sedikit berlari, masuk kedalam toilet restoran. Jantungnya berdetak sangat cepat. Ia membekap mulutnya sendiri dibalik bilik toilet. Tidak mempercayai apa yang baru saja dilihatnya. Itu tadi ... mantan kekasihnya, ..
... –Wu Yifan.
Yifan menatap Zitao dengan tajam. Pemuda itu tidak melepaskan pandangannya dari Zitao bahkan ketika ia masuk kedalam toilet. Si cantik mulai panik. Mengapa Yifan harus berada di tempat yang sama dengan dirinya? Terlebih lagi, Yifan bersama dengan calon tunangannya. Zitao membekap mulutnya dan menangis pelan. Berusaha membunyikan suara tangisnya.
"Y-Yifan-ge ..." Zitao menangis, menggumamkan nama Yifan disela-sela tangisannya.
.
Sementara itu, Yifan yang sedari tadi memperhatikan Zitao, menghela napas begitu melihat mantan kekasihnya masuk kedalam toilet. Untunglah Sehun berhadapan dengan arah yang berlawanan sehingga tidak melihatnya. Dan Luhan juga berhadapan dengan dirinya, sehingga tidak menyadari kehadiran Zitao dan Sehun. Yifan menolehkan kepalanya dan menatapi Luhan yang masih asyik memakan masakan pesanannya.
"Aku .. ketoilet dulu," ucap Yifan.
Luhan mengangguk, tidak memperhatikan Yifan dan tetap menikmati makanannya. Yifan berjalan dengan pelan dan penuh kehati-hatian agar Sehun tidak melihat dirinya. Akhirnya ia sampai di toilet. Kepalanya celingukan didalam toilet yang mempunyai empat bilik itu. Hei, ia tidak mendapati Zitao. Yifan membasuh wajahnya, lagi-lagi ia menghela napas. Kemana perginya anak panda itu?
"Y—Yifan-ge ..."
Tubuh Yifan seketika menegang begitu mendengar namanya diserukan oleh seseorang. Dan pemuda itu tahu betul siapa yang memanggilnya. Huang Zitao.
Yifan memposisikan dirinya, berdiri tegak dihadapan bilik toilet, dimana Zitao bersembunyi menahan tangisnya disana. Yifan harap-harap cemas. Mungkin saja Zitao akan terkejut melihatnya, dan tidak menyapanya sama sekali. Atau mungkin saja ia berlari keluar dari toilet dan mengajak Sehun pergi dari restoran ini. Yifan tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Suara kunci bilik yang diputar membuat Yifan menelan ludahnya cepat. Tangan kanannya sudah menggenggam kuat cincin pemberian Ibunya. Hatinya bahkan menyerukan nama Zitao beberapa kali.
Bilik itu terbuka. Menampakkan sosok yang sangat Yifan rindukan.
Huang Zitao, dengan segala keterkejutannya, membulatkan matanya dan kembali membekap mulutnya sendiri begitu melihat Yifan berdiri tegap dihadapannya. Otaknya seketika tidak berjalan sama sekali. Bingung dengan apa yang harus dilakukannya, Zitao terpaku. Dan ketika dirinya sudah dilanda kepanikan, dengan cepat ia menarik pintu bilik dan berusaha menguncinya, namun dengan tangkas lengan Yifan segera menahannya.
"Zitao," suara serak Yifan membuat Zitao berkeringat dingin. "Aku ingin bicara denganmu,"
Zitao menggelengkan kepalanya kuat-kuat, tidak setuju dengan permintaan Yifan walaupun ia tidak mengeluarkan suara.
Yifan menatap langsung kedua manik mata Zitao. "Sebentar saja,"
Zitao terdiam. Tidak menunjukkan reaksi maupun menjawab pertanyaan Yifan. Pemuda cantik itu diam saja, begitu Yifan masuk kedalam bilik dan mengunci bilik tersebut. "A-apa yang gege lakukan?" Zitao mulai bersuara, melihat Yifan yang mendekat pada dirinya.
"Kau ... benar-benar pergi dariku?"
Zitao tersentak. Tidak, jangan tanyakan hal ini. "Gege bicara apa?"
"Kau tahu benar aku sedang membicarakan apa, Zi,"
Zitao menunduk, rasanya ia ingin kembali menangis, namun ditahannya sekuat mungkin. Yifan mengangkat dagu Zitao, membuat pemuda cantik itu menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Zi,"
Zitao masih menatap Yifan dengan sendu, menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan.
.
"Perasaanku masih sama,"
Jantung Zitao berdetak sangat cepat begitu Yifan membisikkan perkataannya.
.
"... Aku masih mencintaimu,"
Zitao seharusnya merasa senang begitu Yifan kembali mengucapkan kalimat sakral untuknya. Namun yang ada dipikirannya hanyalah ketakutan. Badannya bergetar hebat dan keringat dingin tidak berhenti keluar. Ia berhasil menangis, menatap Yifan yang langsung menyeka airmatanya. "Mengapa kau menangis?" tanyanya.
Zitao menggeleng, kemudian mencengkram tangan Yifan yang sudah menyentuh pipi gembilnya, ia mendorong Yifan, menjauhkan pemuda tampan itu dari dirinya. ".. –Ge, kumohon, jangan seperti ini ..." ucapnya dengan suara serak.
"Kau sudah melupakanku?"
Yifan memotong ucapan Zitao, kembali mendekat dan mendekap tubuh Zitao. Masuk kedalam pelukannya. "Kita masih bisa seperti dulu, Zitao. Ini belum terlambat," Yifan mengusap surai halus milik Zitao yang sudah menangis, membasahi kaos hitam miliknya.
"Aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku. Apa yang salah? Kita berdua saling membutuhkan," ucapan Yifan hanya membuat tangisan Zitao semakin keras. "Kenapa kau menangis?"-Yifan masih tidak mengerti mengapa Zitao masih saja menangis.
Dia takut, Yifan
"Apa kau takut padaku?"
Zitao menggeleng pelan dalam pelukan Yifan. Pemuda tampan itu melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang terkasih. Zitao masih sesegukan, pipinya bersemu merah dan basah akibat tangisan. Matanya juga sedikit sembab. Tangan Yifan mengusap lembut pipi Zitao. "Jangan menangis," serunya.
Si cantik mengangguk, memejamkan matanya saat Yifan semakin mendekatkan dirinya. Dirinya sudah masuk kedalam dekapan Yifan. Ia mencengkram kuat kaos Yifan, berusaha untuk melampiaskan kerinduannya dan juga ketakutannya. Yifan, mengusap lembut surai sang terkasih, ia menghembuskan nafas berat. Inilah yang ia tunggu. Sebuah perasaan lega dan pelukan hangat Zitao. Tidak ingin menyiakan semuanya, Yifan segera mengecup puncak kepala Zitao yang membuat pemuda cantik itu menyembunyikan wajahnya di dada bidang miliknya.
"Aku mencintaimu, Zitao ..."
"A-aku ... aku juga ... mencin—"
.
.
"Zitao?"
.
Suara Sehun yang terdengar memasuki toilet langsung membuat Yifan dan Zitao terkejut. Mereka melepaskan pelukan hangat yang sudah berlangsung beberapa detik. Yifan menggenggam erat tangan Zitao. "S-Sehun, aku masih disini, pe-perutku agak sakit ..." si cantik berseru dari dalam bilik, berusaha untuk membuat Sehun keluar dari toilet dengan kebohongannya.
"Benarkah? Kau baik-baik saja?" suara Sehun yang terkesan khawatir membuat Yifan mendecih pelan.
"I-iya, aku baik-baik saja. Tunggu aku diluar," ujar Zitao, menolehkan pandangannya pada Yifan yang masih terdiam disampingnya. Raut wajah pemuda itu tentu saja tidak menyukai Oh Sehun. Sangat. Suara pintu toilet terbuka menandakan Sehun sudah pergi. Keduanya bernafas lega, terlebih lagi Zitao. Jika saja Sehun melihatnya bersama dengan Yifan, tamat sudah. Mereka pasti akan berkelahi dan kembali menimbulkan keributan.
"Ge, lepaskan tanganku ..." seru Zitao pelan, menolehkan pandangannya dan menatap nanar genggaman tangannya dengan Yifan.
"Tidak,"
Zitao meras ketakutan. Yifan tidak mau melepaskannya, dan mungkin saja Sehun akan kembali masuk kedalam toilet. Bahaya jelas akan datang dan Zitao tidak ingin hal itu terjadi. Dengan penuh kecemasan, Zitao melepaskan genggaman Yifan. "Gege sudah memiliki kekasih, aku pun begitu. Gege seharusnya tidak melakukan hal ini lagi!"
"Jangan menolakku. Aku tahu kau masih mencintaiku!"—Yifan tetap tidak mau mengalah.
"Ge, yang benar saja! Kau bahkan akan bertunangan!"
"Aku akan bertunangan denganmu, Huang Zitao! Bukan dengan orang lain!"
Tangan Zitao kembali digenggam kuat oleh Yifan. "Ge! Lepaskan!"—dengan tenaganya, Zitao berhasil melepaskan kembali genggaman tersebut. Ia menatap sendu pada Yifan. "Kita ... kita berdua, harus saling melupakan, ge!" ucapnya lirih, kemudian menghilang dari balik pintu toilet, meninggalkan Yifan yang terdiam, terkejut mendengar Zitao akan mengatakan hal seperti itu padanya.
Zitao berlari menuju mejanya dan Sehun. Terlihat makanan yang sudah mereka pesan telah datang, dan Sehun yang kelihatan bosan. Tampaknya pemuda itu menunggu Zitao. "Kau baik-ba,—"
"Sehun! Ayo kita pulang!"
"Eh?" Sehun mengerjapkan matanya, kebingungan melihat Zitao yang tetap berdiri dan mengajaknya pulang. "Tapi makanannya?"
"Aku ingin pulang, kumohon .." suara Zitao yang memohon padanya membuat Sehun menghela napas. Jika sudah begini, maka ia jelas-jelas kalah.
"Baiklah, ayo kita pulang," ia membuka dompetnya dan mengeluarkan sejumlah uang, menaruhnya diatas meja dan segera menarik Zitao pergi. Dengan penuh keheranan, ia menatap kekasihnya khawatir. "Kau baik saja?"
Zitao mengangguk, ia memeluk lengan Sehun dan keringat dingin tidak berhenti keluar dari tubuhnya. Sehun jelas tahu ada yang salah. "Kau yakin kau baik-baik saja?" tanya Sehun, mengusap kepala Zitao penuh sayang.
"Iya, aku baik-baik saja," ucap Zitao pelan.
"Perutmu masih sakit? Bagaimana kalau kita ke rumah sakit?"
"Tidak, aku ingin pulang,"-Sehun menuruti permintaan kekasihnya, dan keduanya pun masuk kedalam mobil, tidak menyadari Yifan yang memperhatikan mereka melalui kaca restoran.
"Yifan?"
Dan panggilan Luhan mengalihkan pandangannya.
.
.
.
Luhan merasa ada yang aneh ketika pulang dari restoran. Yifan jauh lebih banyak melamun dan mereka nyaris menabrak seorang wanita saat perjalanan pulang. Luhan begitu kebingungan saat Yifan langsung masuk kedalam kamarnya begitu sampai dirumah. Ia menghela napas. Mengapa pemuda itu sangat sulit untuk dimengerti?
"Lu-ge?"
Luhan menoleh begitu mendengar namanya dipanggil, ah, rupanya adik Yifan, YiKuan. "Ya, ada apa, YiKuan?" tanya Luhan, tersenyum manis pada gadis remaja itu.
"Kurasa ... aku pusing, ge," YiKuan menatap Luhan, dan ia terhuyung sedikit. Pemuda manis itu terkejut dan segera menangkap YiKuan. Badannya terasa hangat.
"YiKuan? Kau baik saja?!" seru Luhan panik.
YiKuan memegangi keningnya yang terasa sakit. "Aku pusing, ge. Vitamin-ku sudah habis, bisakah kau membelikannya untukku?" gadis itu memberikan Luhan sebuah resep Vitamin. Luhan segera mengangguk.
"Tentu saja, YiKuan! Aku akan membelikannya! Sekarang, kau istirahatlah, tunggu aku!" pemuda manis itu membaringkan YiKuan dikursi sofa, lalu segera berlari keluar rumah. Sebenarnya, ia sedikit heran. Mengapa YiKuan tidak menyuruh para pelayannya? Apakah ia tidak ingin para pelayan yang membelikan vitamin untuknya? Luhan tidak mau ambil pusing, dengan segera ia berlari menuju apotik terdekat.
Luhan berlari tanpa henti memasuki apotik tersebut, dan kecerobohannya membuatnya menabrak seseorang.
BRUK!
"Ah, maafkan aku! Sungguh maafkan aku!" Luhan segera bangkit dan membungkuk beberapa kali, meratapi kecerobohannya.
Pemuda yang ditabraknya, bangkit berdiri dan mengambil obat yang terjatuh dari tangannya. "Tidak apa. Berhati-hatilah," ujarnya.
DEG!
Luhan kenal betul suara ini. Dengan cepat ia mendongak, menatap korban penabrakannya. Dan matanya membelalak sempurna, begitu pun dengan pemuda dihadapannya.
"Ah, kau?"—pemuda itu, yang tak lain adalah Oh Sehun, menunjuk dan menatap Luhan kaget.
Luhan menelan ludahnya dalam-dalam. Bukankah pemuda dihadapannya ini, kekasih baru Huang Zitao? "I-iya. Kita bertemu lagi. Salam kenal, namaku Xi Luhan,"—si manis menjulurkan tangannya dengan agak gugup. Sehun mengangkat sebelah alisnya dan menerima uluran tangan Luhan.
"Salam kenal juga, Oh Sehun. Hm, kau cukup sopan. Yifan beruntung mendapatkanmu," ucap Sehun, membuat Luhan merona "Ah, kau, bisa saja," tawanya hambar.
Sehun terkekeh, kemudian matanya melihat sebuah kertas resep yang dipegang Luhan. "Kau ingin membeli obat?"
"Iya, sebuah vitamin," jawab Luhan, kemudian maju selangkah dan mendekati apoteker yang sibuk menata obat yang baru datang. "P-Permisi," panggil Luhan pelan. Namun tampaknya sang apoteker tidak mendengar ucapan Luhan dan terus menata rapi obat-obat itu.
Luhan mengeraskan suaranya, "Permisi,"
Sang apoteker tetap tidak menatapi Luhan dan membawa setumpuk kardus berisi puluhan obat didalamnya. Luhan sedikit agak kesal, apakah apoteker itu tuli? "Permisi!"
Dan kejadian yang sama kembali terulang. Luhan tidak mendapatkan jawaban atas panggilannya. Pemuda manis itu cemberut dan mendengus seketika. Sehun terkekeh melihatnya, ia melangkah, mendekati Luhan dan berteriak cukup keras, "PAMAN!"
Teriakan Sehun membuahkan hasil, si apoteker—yang kurang pendengaran—menoleh menatap Luhan dan Sehun. 'Ah, rupanya sudah tua. Pantas saja' batin Luhan dalam hati.
"Ada apa?"—apoteker itu menghampiri Luhan dan Sehun.
Sehun menyenggol lengan Luhan, memberikan isyarat untuk segera bertanya. "B-Bisakah anda memberiku vitamin ini?" Luahn segera menunjukkan kertas resep yang sedari tadi dipegangnya. Paman apoteker itu mengambil kertas tersebut dan memicingkan matanya, ia menggeleng kemudian mengambil sebuah kacamata. Sekarang penglihatannya jauh lebih baik.
Dan Luhan segera mendapatkan apa yang diinginkannya. Satu botol sirup vitamin. Dengan senyum yang mengembang, ia merogoh sakunya.
Tunggu.
Ada yang salah.
.
.
Luhan lupa membawa uang.
.
.
Raut wajah pemuda itu seketika menjadi gelisah. Ia mencoba mencari uang di dalam saku celananya dan juga saku bajunya. Namun ia tidak mendapatkan apapun. Sang apoteker mulai kebingungan melihat gelagat Luhan, dan Sehun langsung tertawa pelan, segera mengetahui apa yang terjadi.
"Paman,"—Sehun memanggil sang apoteker, ia menyerahkan sebuah obat. "Aku ingin membayar obat ini ..." matanya melirik pada Luhan yang masih gelisah tidak mendapatkan sepeser pun uang dalam sakunya.
"Dan juga obat pemuda ini,"
Mata Luhan kembali membulat begitu mendengar ucapan Sehun. Si pemuda albino hanya menoleh, menatapnya sebentar, tersenyum dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya.
Luhan merasa Sehun adalah malaikat
.
"Aku benar-benar berterimakasih! Anda benar-benar baik padaku!" seru Luhan dengan senyum leganya.
Sehun mengangguk, "Tidak apa, itu hanya hal kecil. Jangan terlalu dipikirkan,"
"Bagaimana aku bisa membalas kebaikanmu?" tanya Luhan dengan mata yang berbinar-binar. Sekarang Sehun adalah malaikat penyelamatnya.
"Hahaha, tidak perlu seperti itu. Hm ... cintai saja pasanganmu sepenuh hati," ujar Sehun, memasang seringainya.
Luhan menggaruk kepalanya kebingungan. Ah! Ia harus segera pulang kerumah Yifan dan memberikan YiKuan vitamin! "Aku harus segera pergi! Dan, anda benar-benar baik padaku! Zitao beruntung mendapatkan kekasih sepertimu!"—setelah mengatakan berbagai pujian untuk Sehun, Luhan segera berlari menuju rumah Yifan dan meninggalkan Sehun yang tersenyum kecil melihatnya.
"Menarik," gumam Sehun sembari memakai helm merahnya, "Tetapi terlalu polos, aku kasihan padanya," lanjutnya, lalu menaiki motor miliknya dan segera pergi meninggalkan apotik tersebut.
.
.
.
"Yifan? Bagaimana dengan rencana kita?"
Yifan mencibir, "Itu rencanaku,"
Suho yang berada diseberang telepon memutar bola matanya, "Ya, baiklah! Itu rencanamu. Bagaimana ini? Kau belum memulainya sama sekali! Aku tidak bisa berlama-lama di China!"
"Aku ingin Chanyeol kerumah Sehun besok,"
"Kau ingin melempar Chanyeol kekandang buaya?!"
Yifan menjauhkan handphone yang berada ditangannya. Suho terlalu berisik, "Berisik kau, bodoh. Aku ingin menjalankan rencana pertamaku,"
Suho mulai tertarik, mendengar Yifan akan memulai rencananya. "Baiklah, aku mendengarkan. Kau ingin dia melakukan apa?"
Yifan berjalan menuju meja nakasnya, membuka lacinya dan mengambil sebuah kertas undangan. "Mengantarkan undangan pertunanganku dengan Luhan,"
.
.
.
.
Chanyeol menghentikan mobilnya, tepat didepan rumah Sehun yang besarnya sama dengan rumah Yifan. Ia menghela napas. Sehun bahkan sudah membencinya dari mereka masih sekolah, dan jika ia menampakkan diri lagi, mungkin saja ia akan dimaki dan diremehkan habis-habisan. Apalagi setelah kejadian ia menculik Zitao, pasti dia akan diusir secepat mungkin.
Chanyeol harus siap mental.
Dengan perasaan penuh ragu, ia menekan bel rumah Sehun.
Ting tong
Pemuda itu harap-harap cemas. Apa yang akan terjadi setelah ini?
.
.
"C-Chanyeol hyung?"
Chanyeol langsung menghela napas lega saat melihat Zitao yang membuka pintu, sekaligus sedikit marah. Ia tak habis pikir, mengapa Zitao harus memilih Sehun dan meninggalkan Yifan? Padahal Zitao pun tahu kalau dirinya membutuhkan Yifan. Pemuda itu memegang erat undangan tunangan Yifan dengan Luhan. "Hai, Zitao," ucapnya, tersenyum kepada Zitao.
Zitao menelan ludahnya. Sekarang, keresahannya bertambah dua kali lipat saat melihat Chanyeol, ia merasa sangat tidak berguna dihadapan hyung-nya itu. Apalagi setelah mengetahui usaha Chanyeol untuk menyatukannya dengan Yifan yang seolah-olah ditolaknya mentah-mentah. Ia benar-benar bodoh. "H-hyung ... ada apa kemari?"
"Yifan mengutusku kemari ..."
DEG!
"Untuk mengantarkan ini,"
Dan tubuh Zitao seketika tidak bisa bergerak saat Chanyeol memperlihatkan undangan. Sebuah undangan dengan warna putih, dengan tulisan nama Yifan dan Luhan disana. "A-apa ini?"
Chanyeol terdiam lama, melihat reaksi Zitao yang sudah berkeringat dingin dihadapannya. Ya, ia harus melakukan ini. "Undangan Yifan dan Luhan. Mereka akan tunangan minggu depan,"
Tubuh Zitao menegang.
Dengan kaku, ia menerima undangan tersebut dan berusaha tersenyum kepada Chanyeol. "A-aku turut bahagia,"
Bohong
Chanyeol jelas tahu pemuda dihadapannya berbohong. Zitao yang tersenyum paksa dan tubuhnya yang kaku sudah menandakan bahwa ia berbohong. Chanyeol menghela napas, "Kau akan datang?"
"T-tentu saja! Aku akan datang bersama Sehun,"
Chanyeol tersenyum begitu mendnegar itao yang akan datang bersama kekasihnya. "Sampaikan maafku padanya,"
"Eh? Hyung tidak salah apa-apa pada Sehun,"
Chanyeol menggeleng, "Aku akan bersalah sangat besar padanya saat pertunangan Yifan nanti," ucapnya, membuat Zitao menatapnya tak mengerti.
Bersalah sangat besar
.
.
"Aku sudah mengantarkannya. Zitao yang menerima undangan tersebut,"
"A-apa yang dia katakan?"
"Dia akan datang kepertunanganmu, Wu Yifan ...
.. –bersama Oh Sehun,"
Seharusnya Yifan senang mendengarnya. Karena rencana pertamanya untuk mengajak Zitao dan Sehun datang ke pertunangannya berhasil. Namun entah mengapa, seperti ada yang menghajarnya berkali-kali, hati Yifan berdenyut sakit mendengarnya. "Baguslah .. rencana pertama berjalan lancar,"
"Yifan? Kau baik-baik saja?"
"Ya. Bukankah aku harus senang saat mendengar Zitao akan datang?"
"... Terserah,"—Dan Chanyeol langsung memutuskan pembicaraan. Ia lelah melihat Yifan juga Zitao yang terus saja berpura-pura.
.
.
.
TBC
Okeh :v akhirnya chapt ini muncul juga :3 ira banyak ngelamun waktu bikin chapt ini, soalnya lagi dengarin lagunya BTS 'I NEED U', Bigbang 'LOSER', Winner 'EMPTY', EXO 'HURT', sama 2NE1 'LONELY'. Entah kenapa ira malah ngelamun :3 Padahal rencananya supaya dapat feelnya waktu nulis ff AUTOMNE ini :v eh malah kesambet dengerin lagu :v
Ah sudahlah :v btw, gimana dengan chapt ini? Bagus ato nggak? :3 kayaknya ff AUTOMNE ini bikin readers gregetan pengen langsung end-nya ya XD
Balasan review chapt 8 :
wuziper : "Ni hao~~ aduh, ff ini bukan bergenre angst kok:D jadi gaada yang mati disini, kecuali ortunya sehun itu. Ahahaha iya, ira usahain fast update trus kok. Thanks yaa udah review :)"
Huang Zi Mei : "Ni hao~~ wah makasih udah nyempatin baca ff ira walaupun lagi ujian, semoga hasilnya memuaskan ya :D duh senengnya, makasih banyak atuh {} Thanks yaa udah review :)"
LVenge : "Ni hao~~ heheh, kakaknya lulu bukan kai, kai itu pasangannya kakak lulu. Moment kristaonya? Eheheh ini udah ada kok di chapt ini, tapi klo yang sweet belum :3 Thanks yaa udah review :)"
Putz : "Ni hao~~ ahahaha, maaf jika buat kmu kesal, ira gaada maksud apapun buat kamu sebel, dan memang seperti ini rencana ff nya :) lebih baik kamu nggak usah baca ff ira daripada dipaksain, nantinya kesel :) sebelumnya, terimakasih banyak sudah mau membaca dan mereview ff ira :)"
anis.l mufidah : "Ni hao~~ aduh, naik rate? :D ira belum sanggup tuh wkwk. Lay ya? Hm, coba nanti ira pikirin lagi. Thanks yaa udah review :)"
yuikitamura91 : "Ni hao~~ em .. jujur nih, ira kangen sama kamu :V wkwk, di chapt ini udah ada kristaonya kok XD walaupun kristaonya belum bahagia :'v Thanks yaa udah review :)"
Kirei Thelittlethieves : "Ni hao~~ siip, ini udah lanjut kok. Thanks yaa udah review :)"
ajib4ff : "Ni hao~~ iya emaknya om naga emang baik gitu ya jadi pengen punya emak kayak gitu :V Thanks yaa udah review :)"
maulina45 : "Ni hao~~ waduh kok gregetan sama luhan XD ah untunglah kmu suka huntao scene disini wkwk. Siip, ini udah lanjut kok :) Thanks yaa udah review :)"
HUANGYUE : "Ni hao~~ wah kalo soal nc-an ira belum kuat buatnya wkwk XD siip, ini udh lanjut kok. Thanks yaa udah review :)"
ndadinda : "Ni hao~~ ff ini bukan rate angst kok, jadi gabakal ada yang sakit dan mati disini, kecuali ortunya sehun itu. Ahahaha, gapapa atuh, yang penting kamu baca ff AUTOMNE ini ira udah senang kok. Hmm, bakal ira pertimbangin deh ide kamu :) soalnya ira mau buat fanfic fantasy kalo ff AUTOMNE ini selesai, dan well, ira juga tertarik dengan idemu sih wkwk. Thanks yaa udah review :)"
celindazifan : "Ni hao~~ iya maaf ya, zizi nya belum bahagia disini :'3 siip, bakal ira cepet2 lanjutin supaya mereka cpt2 bahagia kok XD Thanks yaa udah review :)"
luphbebz : "Ni hao~~ ahahah mamanya om naga emang baik banget dah :v top jempol mama wu:v wah seneng deh kalo reader suka sama huntao-nya :D Thanks yaa udah review :)"
BabyWolf Jonginnie'Kim : "Ni hao~~ hehehe disini udah ada Hunhan kok wkwk. Makasih yaa buat semangat dan reviewnya^^"
beruanggajah : "Ni hao~~ wkwk iya sama, agak gasuka sama pair kray, tapi suka sama huntao wkwk :D iya lulunya kasihan, kena php padahal udah jatuh cinta aduuuhh. Thanks yaa udah review :)"
kawaiiaegyo33 : "Ni hao~~ ahahaha iya KT tetap dihattiii! XD Thanks yaa udah review :)"
reader : "Ni hao~~ di chapt ini udah ada kristao loh, walaupun belum lope-lope (?) :v iya, ira usahain buat fast update kok! Thanks yaa udah review :)"
Aiko Michishige : "Ni hao~~ siip, ini udah lanjut kok :D Thanks yaa udah review :)"
Orangecuppie : "Ni hao~~ iya mama Wu jempolan deh! :v Thanks yaa udah review :)"
owe : "Ni hao~~ ini udah ada kristao-nya kok, walaupun masih kaku :v Thanks yaa udah review :)"
nurcahya : "Ni hao~~ ahaha makasih udah baca ff ini yaa, wah kai lucu ya disini wkwk XD Thanks yaa udah review :)"
sehunna : "Ni hao~~ iya ini udah lanjut kok. Thanks yaa udah review :)"
yjima : "Ni hao~~ itu maksudnya kris yaa, gitu deh :v wkwk sukses bikin reader greget nih XD Thanks yaa udah review :)"
EXOST : "Ni hao~~ iya Kevin mah imut gitu, baik lagi :v nah sekarang, kris udah jadi om naga :V Thanks yaa udah review :)"
Safitri676 : "Ni hao~~ iya kris harus pertahanin dedek panda dong XD harus itu mah, wajib wkwk. Thanks yaa udah review :)"
JungSooHee : "Ni hao~~ wkwkwk kayak ada kebahagian tersendiri gitu yah liat kris menderita wkwk XD Thanks yaa udah review :)"
zee konstantin : "Ni hao~~ ahahaha iya nanti dikembalikan kok :D sehun ma luhan, kris sama tao wkwk XD Thanks yaa udah review :)"
swgzch : "Ni hao~~ iya galama juga nih sehun bikin kita dongkol wkwk. Kita santet aja yuk :v Thanks yaa udah review :)"
YuRhaChan : "Ni hao~~ siip, ini udah lanjut kok. Thanks yaa udah review :)"
annisakkamjong : "Ni hao~~ iya nih sehun ambil kesempatan dalam kesempitan :v siip, ini udah lanjut kok. Thanks yaa udah review :)"
exoel12 : "Ni hao~~ dedek panda kan sayang sama sehun makanya gabisa biarin sehun begitu :'v dan jadilah om naga yang tersakiti (?) kris tuh gabisa diginiin :v sehun mah apa atuh cuma jadi pelampiasan doang :'v wkwk Thanks yaa udah review :)"
Xyln : "Ni hao~~ iyaa, kasian ini tao gabisa bebeas dari ancaman sehun :v tao tuh gabisa diginiin :v kris mah apa atuh cuma bisa nungguin tao :v Thanks yaa udah review :)"
Varka : "Ni hao~~ siip, ini udah lanjut kok. Thanks yaa udah review :)"
.
And yeah, Big THANKS ira ucapin buat kalian semua yang udah ngedukung ira. Love y'all!
Semangatin ira terus yaaa, soalnya ira mulai kena penyakit yang namanya 'MALAS NULIS':V ira takutnya ntar ff2 ira terlantarkan gegara gaada semangat :3 Dan ira minta maaf kalo ada salah penulisan atau typo yang masih demen sama ff-ff ira :V
Last,
Can you give me some REVIEW? :)
