Love Comes From Inside
Ohayou/Konbawa minna! ^^ Gomen, gomen, gomen ... T^T updatenya telat banget ya? hehehe ... maklum lah, kan lagi lebaran ^^
Oh ya! minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin, maafkan author kalau banyak kesalahan atau kata – kata yang kurang berkenan di hati readers, mohon dimaafkan. Nah, langsung aja ya? Sekarang adalah sesi balah review! Cekidot! ^^ :
SabakuNoNisa :
Uwaaaaah! Gomenasai, gomenasai! *bungkuk - bungkuk* akan aku tingkatkan lagi. Semoga chapter sepuluh ini memuaskan ya! :3 review lagi? ;)
98 :
Udah di lanjut, review lagi? ;)
KonoHaru :
Hehehe ... iya, jadinya sad end :) Iya, dapet momen terakhir kok, tenang aja ;) OK, makasih supportnya. Review lagi? ;)
V3Banana :
Iya, udah mau end, hehehe ...ok, gomen kalau telat update T^T *bungkuk - bungkuk* makasih supportnya. Review lagi? ;)
Murasaki Nabilah :
Nasib Sakura, ya? Nanti Naruto dan Hinata nolongin Sakura kok. Jadi Sakura bisa dapet penanganan medis secepatnya. Naruto dan Hinata itu suami-istri, hehe ... gak papa kok, feel free to ask anything ;)
OK, akan author tingkatkan lagi. Semoga chapter ini memuaskan ya! :) Gak papa kok ... aku seneng dapet banyak review dan saran ^^ iya, terimakasih supportnya, review lagi ya! ;)
s.s.s.s.s
Makasih buat supportnya! RnR lagi dong? ;)
Langsung aja, gak usah pake bacot - bacotan. Ini dia, dengan bangga author mempersembahkan 'Love Comes From Inside' chapter 10! Happy reading! ^^
Naruto selalu punya Masashi Kishimoto-sensei
.
WARNING! : Typo bertebaran, alur kecepetan, OOC, humor garing, Romancenya aneh, pakenya budaya Indonesia (?), gaje, ide pasaran, dll (etc)
.
Cerita ini MURNI karya saya sendiri. Jika ada kesamaan adegan, alur cerita, tokoh, dll, adalah sesuatu yang tak disengaja
^^ !Arigatou! ^^
o.o.o.o.o.o.o
Sementara itu~
Di rumah, Sasuke sedang mondar - mandir gelisah. Berkali – kali ia menengok ke pintu depan. Karena orang yang ditunggu tak kunjung datang, Sasuke berniat untuk menelfonnya.
Drrrrrrrt ... Drrrrt ...
Baru saja ia akan membuka kunci, ia langsung menerima sebuah telefon. Tulisan 'Naruto's Calling' tertera jelas di layar handphonenya. Tanpa berpikir panjang, Sasuke langsung mengangkat telfon dari Naruto.
"Moshi – moshi? Ada apa, dobe?"
"Temeeee! Cepat ke rumah sakit sekarang juga!" Naruto menjawab dengan sebuah seruan keras, membuat Sasuke harus menjauhkan ponselnya dari telinganya. Ia merasakan ada firasat buruk tentang ini.
"Kenapa sih? Ada apa emangnya?" sahutnya.
"Sakura-chan ... itu ..."
"Sakura kenapa?"
"Sakura-chan ... kecelakaan! Keadaannya kritis. Sekarang ia-tut"
Sambungan telefon di putus oleh Sasuke secara sepihak dan ia langsung ambil langkah seribu menuju rumah sakit.
.
.
Begitu sampai rumah sakit, ia langsung berlari masuk. Menerobos orang – orang yang berlalu lalang. Terkadang ia mendapat teriakan – teriakan protes dari orang – orang sekitar, tapi ia tidak peduli. Ia terus berlari dan berlari. Jantungnya berdetak berkali – kali lipat lebih cepat dari biasanya, ia merasakan perasaan gelisah yang tidak wajar. Sakura, ia mengkhawatirkan Sakura. Keadaannya, lukanya, dan keselamatannya. Ia terlalu takut bila ia tidak bisa lagi melihat senyum cerah yang selalu tertempel di wajah Sakura. Ia terlalu takut bila ia tidak bisa melihat manik emerald yang selalu menghipnotisnya setiap ia melihatnya. Ia takut, sangat takut.
Dan sampailah ia di depan ruang tunggu operasi. Di sana terdapat Hinata yang menangis sesenggukan, dan Naruto yang sedang jalan mondar – mandir sambil memainkan ponselnya gelisah. Dengan napas yang masih terengah – engah selepas berlari, Sasuke mendekati mereka. Saat manik blue saphire milik Naruto menangkap sosok Sasuke, ia langsung menyerbunya tanpa ragu - ragu.
"Temeeeeeeeeeeee!" Naruto tiba – tiba saja menangis sembari memeluk Sasuke.
"D – Dobe! Apa – apaan sih?!"
"Akhirnya kau datang! Sekarang Sakura-chan sedang operasi. Sudah hampir dua jam lebih ia belum keluar juga" ujar Naruto sambil menghapus air matanya. Sasuke pun menggiring Naruto untuk duduk di sebelah Hinata,
"Ceritakan, apa yang terjadi pada Sakura?" ujar Sasuke.
"Sakura-chan ... k – kondisinya begitu p – parah saat kami menemukannya. I – Ia terkapar d – di sebuah gang sempit d – dan gelap dengan l – luka bekas tusukan di p – perutnya. T – Tubuhnya juga memar – memar. Se – Sepertinya, ia baru be - berkelahi dengan sekelompok preman. Begitu sampai k – ke sini, detak jantungnya s – sudah sangat le – lemah, dan ia l – langsung di bawa ke r – ruang operasi" sahut Hinata. Jantung Sasuke rasanya sedang di remas – remas begitu kuat, sangat sakit. Membayangkannya saja sudah membuat tangan Sasuke gemetaran, apalagi melihat kondisinya saat itu? Ia benar – benar tidak sanggup. Ia menundukan kepala emonya dalam – dalam dan mengepalkan tangannya kuat – kuat.
"Aku ... aku ... aku tidak tau harus bagaimana. Padahal ... hari ini, aku akan menyatakan perasaanku dengan membuat kejutan untuknya. Aku ... sangat ..." Sasuke mengantungkan ucapannya. Naruto mengusap – usap punggung Sasuke, guna menenangkannya.
"Jangan terlalu bersedih. Aku yakin kok kalau Sakura-chan bisa melalui operasi ini dengan selamat!" ujar Naruto. Tapi kata – kata itu tidak mampu mencairkan kesedihan Sasuke.
"Aku perlu udara segar" Sasuke bangkit dan berjalan pergi menuju taman rumah sakit, Naruto dan Hinata memandangi punggung Sasuke yang semakin menjauh dengan tatapan sendu.
.
.
Disebuah bangku taman, terdapat seorang pemuda berambut emo yang tengah duduk termenung. Ia melamun, melamunkan masa depan yang akan terjadi pada Sakura. Apakah ia akan baik – baik saja? Apakah ia akan mengalami cacat? Apakah ia tidak dapat tertolong lagi?. Ia menggelengkan kepalanya, menghilangkan pikiran negatif yang sempat singgah di otaknya, dan menghela napas panjang. Semua ini karena kesalahannya, semua ini gara – gara dia, gara – gara Sasuke. Andai saja, waktu itu ia dapat menyatakan perasaanya ... andai saja waktu itu ia tidak gugup ... andai saja, haaaaaah ... andai saja. Waktu tidak dapat diulang lagi kan? Penyesalan memang selalu datang belakangan.
Ia memang laki – laki yang bodoh, sangat bodoh. Sakura sekarang sedang sakit, ia tidak bisa apa – apa lagi, kan? mana mungkin ia menyatakan perasaannya di sebuah ruang rawat inap, apa lagi orang yang ia sukai sedang sakit parah, sungguh tidak masuk akal.
Sekali lagi, ia menghela napas panjang. Ia merasa, sekarang ia sedang kehilangan arah di dalam kegelapan. Dan ia bersumpah jika Itachi melihat ini, dia akan tertawa keras dan menggodanya. Tanpa Sakura, rasanya hidupnya sangat hampa, seperti tidak ada harapan untuk hidup lagi. Dengan kasar ia mengacak – acak rambut emonya, kemudian ia memijit pelan pelipisnya.
Langit malam bersinar cerah. Bintang bertaburan di mana – mana, menemani indahnya sang bulan. Sasuke masih terus melamun sampai sebuah suara memanggilnya.
"Otoutoooo!" refleks ia menoleh dan mendapati Itachi sedang berlari kecil ke arahnya. Setelah sampai, Itachi langsung duduk di sebelah Sasuke yang masih saja menunduk dalam – dalam.
"Hei-"
"Aku ... tidak bisa ..." ujar Sasuke memotong ucapan Itachi,
"Aku ... tidak bisa melakukannya ..." sambungnya. Sesaat Itachi bingung, tapi kemudian ia paham apa yang dimaksudkan oleh Sasuke. Ia memutuskan untuk mendengarkan segala curahan hati Sasuke terlebih dulu.
"Nii-san ... kenapa jadi seperti ini akhirnya?" suara Sasuke semakin parau. Ia pun menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Itachi hanya bisa menatap sedih adik semata wayangnya itu.
"Selama ini ... aku telah jatuh cinta ... untuk pertama kalinya. Tapi, kenapa berakhir seperti ini? Aku ... tidak bisa lagi ... tidak bisa ..." manik onyx Sasuke mulai meneteskan air mata. Itachi menepuk – nepuk punggung adiknya pelan. Tapi percuma saja, tangis Sasuke tak kunjung mereda.
"Aku ... tidak bisa mengatakannya ..." lirihnya. Keheningan menyelimuti mereka sesaat, sampai Itachi membuka suaranya.
"Tenangkan dirimu dulu, Sasuke. Kita doakan saja yang terbaik untuk Sakura, hn?"
"Aku ... sangat takut, sangat takut jika Sakura-"
"Shh shh ... jangan berucap seperti itu lagi. Singkirkan pikiran negatifmu. Lebih baik kau pulang dulu untuk menenangkan diri, besok kita akan kembali lagi untuk melihat kondisi Sakura, bagaimana?" bujuk Itachi, Sasuke mengangguk lemah. Itachi pun membawa Sasuke menuju mobilnya dan langsung tancap gas ke rumah Sakura.
.
.
Keesokan harinya~
Matahari sedikit demi sedikit mulai menyembulkan wajahnya, memulai pagi yang baru, hari yang baru, dan petualangan baru. Namun tidak bagi pemuda raven yang satu ini. Dari tadi malam, Sasuke mencoba untuk tidur, tapi tidak bisa. Bayangan Sakura terus melayang – layang menghantui pikirannya. Makanya, sekarang ini matanya merah, kantung mata tercetak jelas diwajahnya, mukanya pun berantakan gak karuan.
Ia terus berdiri di balkon selama beberapa jam, sambil memegang segelas teh hangat -yang sudah mendingin-. Pandangannya kosong ke depan, dan tubuhnya terpaku dengan posisi tersebut. Pokoknya, kondisinya saat ini benar – benar sangat parah, lebih parah dari saat kemarin ia pergi ke Sunagakure.
TENG TONG!
"Otoutooooo!" seru seseorang dari luar rumah. Suara itu terdengar jelas di telinga Sasuke, di tengah rumah yang begitu sunyi senyap seperti tak berpenghuni ini.
Dengan enggan, Sasuke berjalan membukakan pintu dan tampaklah sosok Itachi yang segar bugar, kinclong, dan wangi maskulin bertebaran dimana – mana, sangat berbanding terbalik dengan adiknya.
"Err ... siapa ya?" ujar Itachi polos, yang langsung mendapat hadiah berupa jitakan dari Sasuke.
"Pake nanya siapa ... ini gue, lah!" gerutu Sasuke dengan suara serak seperti kodok #plaaak!
"Gomen, gomen ... abis, tampangmu begitu! Gue kira tukang kebun" sahut Itachi dengan senyum canggung di wajahnya, sementara Sasuke mendecih kesal, kemudian ia mempersilahkan Itachi masuk.
"Ehm ... masih kepikiran soal Sakura, ya?" tanya Itachi setelah sekian lama hening. Sasuke hanya mengangguk.
"Kenapa gak coba nengok?"
"... percuma aja, gak akan ada yang berubah"
"Eeeeeeeeh! Jangan gitu! Siapa tau, Sakura udah sadar setelah operasi kemaren, kan?"
"Kalau pun dia udah sadar, pasti dobe-baka bakalan hubungin aku" sahut Sasuke kesal. Itachi menghela napas panjang melihat kondisi adiknya yang seperti itu.
"Aku ke sini, niatnya mau ngajak kamu ikut besuk Sakura. Jadi, cepetan bersih – bersih, gih" titah Itachi, dengan terpaksa Sasuke menuruti permintaan kakaknya itu.
.
.
Sebuah mobil mewah terparkir di salah satu tempat parkir rumah sakit Konoha Medical Centre, mengundang rasa penasaran orang – orang yang di sana. Kemudian, turunlah sang pengendara yaitu Uchiha Itachi, yang di sambut semilir angin musim gugur. Rambut panjangnya berkibar oleh angin, dan dengan pose yang sangat anggun ia menyisir rambutnya kebelakang. Kaum hawa pun langsung nose bleed melihat pemandangan yang menyegarkan mata itu.
Berbanding jauh dengan adiknya, Uchiha Sasuke. Ia turun dengan muka lecek, meskipun orang – orang tau kalau itu Sasuke. Yah, mungkin pesonanya sedang tidak dalam mood (?) Siapa yang gak bad mood kalau pujaan hatimu lagi diambang hidup dan mati? Tentu saja tidak ada!
"Ayo, tersenyumlah sedikit, Sasuke. Nanti penggemarmu pada kabur lho" goda Itachi, Sasuke mendecih kesal dan memalingkan muka. Mereka berjalan beriringan menuju ke r. Lavender kamar no. 170, kamar dimana Sakura di rawat.
"Yo, Itachi-nii! Teme!" tiba – tiba ada yang memanggil mereka dari belakang. Mereka berdua sama – sama menoleh, dan mendapati Naruto tengah berlari kecil sambil membawa sekantung belanjaan.
"Oh, Naruto! Ternyata kau masih disini?" ujar Itachi ramah, Naruto langsung memasang cengiran khasnya.
"Hehehe ... iya! Aku dan Hinata-hime menunggu Sakura dari semalam. Setelah, Sakura selesai operasi, Sasuke dan kau ternyata sudah pulang. Akhirnya, kami bermalam sampai Sakura sadar kembali. Begitu sadar, ia langsung menyuruh kami untuk pulang" ujar Naruto.
"Boruto kau tinggal dirumah?" tanya Itachi, Naruot mengangguk.
"Apa? Anakmu yang baru berumur 12 bulan kurang seminggu itu kau tinggal di rumah? Lucu sekali, Naruto. Apa dia sudah cukup dewasa untuk mengganti popoknya sendiri?" sahut Sasuke,
"Oy oy oy ... tentu saja tidak! Aku menelfon kaa-san dan tou-san untuk menjaga Boruto sejenak, baru aku mencari Sakura-chan" Itachi dan Sasuke manggut – manggut mendengar penjelasan Naruto.
"Ne, kalian mau ke kamar Sakura kan? Ayo ikut aku!" ujar Naruto semangat,
"Kami juga sudah tau kamarnya dimana. Jadi tidak usah repot - repot" sahut Sasuke dingin.
.
.
SREEK!
Pintu kamar rawat inap no. 170 terbuka. Muncullah 3 orang pria di ambang pintu, dan salah satunya langsung berlari masuk ke dalam.
"Ohayou Hinata-chaaaaaaan!" Naruto langsung berlari dan menghambur ke arah Hinata yang sedang menidurkan Boruto.
"Shhh ... d – diamlah Naruto-kun" ujar Hinata sambil terus menepuk pelan tubuh Boruto yang sedang tertidur dengan damai.
"Akhem ... aku tidak mau menginterupsi kegiatan kalian berdua, tapi, apakah kalian pernah memikirkan betapa irinya Sasuke melihat kalian?" ujar Itachi innocent, dan langsung disambut dengan jitakan keras dari Sasuke.
BLETAAAK!
"Ittaiii! Sasuke jahat!"
"Naruto ... mana pesananku?" tiba – tiba muncul suara lembut dari arah balkon. Melihat sosok tersebut, onyx Sasuke langsung membulat. Manik emerald gadis itu bersibobrok dengan onyx milik Sasuke. Ia pun tersenyum dan menyapa dengan semangat.
"Ohayou gozaimasu, Sasuke! Itachi-nii" ujarnya lagi.
"Ohayou, imouto-chan!" sahut Itachi, sementara Sasuke hanya mematung. Rambut yang biasanya cerah dan mengkilat, kini terlihat kusam. Wajah berpipi montok yang menggemaskan, kini terlihat tirus. Bibir yang tadinya berwarna pink dan sangat menggoda –menurut Sasuke-, kini terlihat pucat. Dan perban terpasang di kepalanya.
"S – Sakura ..." gumam Sasuke.
"Ah, ini kuenya" Naruto menyerahkan kantung plastik yang tadi ia bawa kepada Sakura. Sakura menerimanya dan segera duduk di tempat tidurnya.
"Waaaaaaaah! Sugoi!" pekik Sakura begitu membuka bungkus kardus kecil yang berisi 6 buah potongan kue tart. Tangan mungilnya segera meraih plastik yang lebih kecil lagi.
"Aaaaaaaaaah, canelé! Arigatou, Naruto! Hinata!" pekik Sakura lagi. Dengan lahap Sakura memakan kue – kue tersebut.
"Sakura, kau kan baru operasi di bagian perut, apa boleh makan sebanyak itu?" tanya Itachi sembari melangkah untuk duduk di sebelah Sakura,
"Ah, tidak apa – apa kok! Yang penting, makanan yang aku makan bersifat lembut. Jadi aku belum boleh makan daging dan makanan keras lainnya. Maka dari itu, aku memilih memakan kue - kue"
"Nanti kalau kau jadi gendut gimana?" sambung Naruto. Sakura mengedikan pundaknya dan lanjut makan.
"Tidak apa – apa. Nanti setelah sembuh, aku bisa melakukan diet kok" ujarnya, kemudian ia melirik ke arah Sasuke yang sedari tadi berdiri di ambang pintu.
"Kau tidak mau masuk ..." Sakura menggantungkan ucapannya. Ia menyeringai seram sebelum melanjutkan kata terakhirnya.
"... eh, kepala ayam?"
JDEEEER!
Suasana dramatis berubah menjadi medan perang. Sasuke langsung cemberut kesal mendengar ucapan Sakura.
"Heh, jidat! Aku sudah menyempatkan untuk menjengukmu, malah langsung kau hina, apa – apaan itu?!" gerutu Sasuke. Ia pun masuk lalu menutup pintu.
"Hahahaha ..." tawa Itachi dan Naruto langsung pecah.
"Urusai!" bentaknya pada mereka berdua. Hinata langsung mengeluarkan bunyinya.
"Tolong jangan berisik ..." ujarnya, kemudian menaruh Boruto di sofa. Mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol bersama, bercanda tawa, dan bernostalgia bersama.
"Ah iya ... aku belum memasakan Sasuke makan malam! Gomen ne, ayam! Pasti ayam kesayanganku ini kelaparan, ya? Cup cup cup ... kasihan sekali kau, ayam" ujar Sakura sambil menepuk – nepuk puncak kepala Sasuke, dan gelak tawa Itachi serta Naruto kembali mengisi ruangan tersebut. Sebenarnya Sasuke agak kesal dengan ucapan Sakura. Tapi, sisi lain dari dirinya merasa ... senang, dan merasa hangat. Merasa lega Sakura sudah bisa kembali seperti semula. Bisa bercanda tawa dengan bebasnya seperti tidak ada beban.
"Lalu, bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Itachi,
"Yah, ada Sai dan 2 orang dokter junior yang baru masuk bulan kemarin, jadi tidak perlu khawatir" ujar Sakura.
Na – Naruto-kun, aishiteru ... Na – Naruto-kun, aishiteru ...
Sakura, Sasuke dan Itachi segera menoleh ke arah NaruHina. Wajah Hinata sudah memerah sampai ke telinga, sedangkan Naruto tertawa geli.
"Ka - Kau masih me – memasang ringtone itu, N – N – Naruto-kun? Itu ... me – memalukan tau" ujar Hinata.
"Ahahaha ... gomen, gomen ... nanti akan kuganti, deh" sahut Naruto kemudian mengangkat telfon.
"Moshi – moshi, Neji? ... Hmmmm, EEEEEEEEEEH?!" tiba – tiba Naruto menjerit. Ia menutup speakers telefon sebentar kemudian berbalik ke arah mereka semua.
"Tenten ... akan melahirkan anaknya Neji!"
"Waaaaaah ... selamat ya!"
"Akhirnya mereka punya anak juga" ujar Itachi senang. Sasuke hanya diam saja.
"Baiklah, baiklah. Ne, kau dapat salam selamat dari semuanya ... Sakura-chan, Sasuke-teme, dan Itachi-nii ... hm? Sekarang juga? ... tidak bisa, paling aku akan ke sana besok pagi ... iya, aku akan mengajak Boruto dan Hinata juga kok ... hu'uh, jaa ne-tut" sambungan telfon terputus.
"Neji, meminta kita untuk datang ke rumah sakit" ujar Naruto,
"Memangnya Tenten dan Neji tinggal dimana?" tanya Sasuke,
"Oto ..." sahut Naruto lirih.
"K – Kalau begitu, kami pa – pamit pulang du – duluan. K – Kau, cepat sembuh y – ya, Sakura" ujar Hinata sambil tersenyum.
"Arigatou" sahut Sakura. Hinata dan Naruto pun pergi dari ruangan itu.
"Nah, ini sudah lebih dari waktu besuk. Ayo kita pulang, Sasuke. Cepat sembuh ya, imouto. Besok kami akan ke sini lagi" Itachi mengusap – usap rambut Sakura.
"Ha'i!"
"... cepat sembuh ya, jidat. Rumah terasa sepi tanpamu" ujar Sasuke dengan senyum yang dipaksakan. Sakura yang melihatnya tercengang, tapi kemudian ia tersenyum lembut.
"Hmm ... kau juga jaga diri baik – baik, ayam"
"Hn. Jaa ne" Sasuke melangkah keluar dan menutup pintu. Sakura pun berdiam diri di ruangan yang sunyi itu. Sampai seorang perawat masuk ke dalam ruangannya.
"Konbawa, Sakura-san"
"Ah, Konbawa minna"
"Apa kerabatmu sudah pulang?"
"Hmm. Mereka baru saja pergi"
"Kalau begitu, bisa saja mulai?"
"Ha'i. Tolong pasang kembali selang intravenousnya. Dan cabut kembali sebelum matahari terbit" ujar Sakura. Perawat itu pun masuk sambil membawa peralatan medis.
"Ha'i" sahuutnya.
"Gomen nee, telah merepotkanmu, Shizune-san"
"Tidak apa – apa, sama sekali tidak merepotkan. Tapi, apa tidak ada efek sampingnya kalau terlalu sering lepas-pasang?"
"Hmmm ... tenang saja, aku akan baik – baik saja. Asalkan, Sasuke-kun tidak tau tetang hal ini, aku baik – baik saja"
"Kenapa kau melakukannya sampai seperti ini?"
"Aku ... tidak ingin membuat orang yang aku sayangi terlalu cemas. Lagipula, mungkin waktuku sudah tidak banyak lagi" ujar Sakura dengan mata berkaca – kaca. Shizune pun tersenyum,
"Aku mengerti perasaanmu, Sakura-san"
"Jadi, kumohon bantuanmu"
"Ha'i" sahut Shizune dan kembali memasang selang intravenous. Sakura mengulurkan tangan kanannya, dan Shizune membuka perban yang sebelumnya tertempel di urat nadi pergelangan tangannya, sementara Sakura menatap ke arah luar. Ia menatap indahnya bulan purnama yang ikut menerangi malam bersama dengan lampu – lampu kota.
Entah berapa lama lagi ia bisa menghabiskan waktu bersama Sasuke, entah ia bisa mengatakan perasaannya atau tidak, ia tidak tau. Tapi yang pasti, ia tidak mau menyia – nyiakan momen – momen berharganya bersama Sasuke.
'Gomenasai, Sasuke-kun ... aku telah berbohong padamu'
.
.
Bersambung~
.
.
Huaaaaaaaa ... T^T
Gomen ne ... kalau cerita yang ini agak membingungkan. Author sendiri juga bingung sih (digampar)
Jadi, bagaimana dengan chapter 10? Yah, mungkin gak bakal tamat disini, mungkin chp. 11 atau 12 XP gomen ... gomen ... maaf untuk keterlambatan publish ya! semoga lebaran readers semua tambah menyenangkan setelah baca cerita author! (bagi yang merayakan)
Last words, REVIEW PLEASE! ^O^
