Baekhyun sering bertanya sendiri mengapa orang-orang mengatakan hidup ini indah. Ada banyak sekali quotes yang bertebaran di internet dengan menjunjung tinggi kalimat: Life is Beautiful, dan Baekhyun lagi bertanya… mengapa hidup ini dikatakan indah?

Baekhyun tidakkah seseorang yang hidup dengan basis perekonomian yang terlampau rendah. Dia masih dapat makan tiga kali sehari dengan lauk yang dapat di katakan lezat pula. Dia juga masih bersekolah, mendapatkan pendidikan dengan layak juga mendapatkan uang saku berlebih dari orangtuanya.

Ayahnya merupakan seorang pekerja kantoran. Membangun susah payah perusahaan mereka sendiri dan benar mereka hidup layak karena hal itu.

Baekhyun masih berumur delapan tahun saat itu. Otaknya masih di penuhi akan sederet aktifitas bermain dan jelas ia tak tau apa yang menimpa keluarganya. Dirinya sama sekali tak tau jika ibunya sering pulang larut—atau kadang-kadang tak pulang. Ayahnya sering menginap di kantor dengan alasan lembur dan yeah…seharusnya Baekhyun tau jika hidupnya tak sedang baik-baik saja.

Baekhyun ingat betul apa yang terjadi malam itu. Sangat ingat ketika ibunya menyeret sebuah koper besar keluar dari kamar sembari berteriak keras kepada ayahnya. Pertikaian dua orang dewasa itu sedikit banyak membuat Baekhyun pusing, ia memutuskan untuk kembali ke kamar dan memejamkan matanya.

Ketika pagi menjelang, ia tak lagi mendapati ibunya pun dengan ayahnya. Baekhyun tak berangkat sekolah hari itu. Ia duduk berjongkok di depan rumah dengan perut kosong tak mendapat asupan sejak kemarin malam. Kepalanya sesekali ia bawa pada ujung kanan atau ujung kiri jalan sesekali. Berharap jika salah satu dari orangtuanya pulang dan hidupnya dapat hidup kembali seperti semula.

Berandai-andai boleh. Bermimpi pun tak salah. Asal jangan terlalu berharap.

Malam menjelang ayahnya kembali ke rumah, dalam keadaan setengah sadar dengan bau alkohol yang menyengat. Ada dua orang berseragam hitam datang dari arah belakang tubuhnya. Baekhyun menatapnya dengan takut. Langkah kecilnya beranjak mundur namun tertahan ketika di cekal oleh ayah.

Saat itu lagi Baekhyun masih tak mengerti apa yang tengah terjadi. Sederet kalimat terucap dengan begitu mudah dari ayahnya dan segera setelah itu salah satu dari pria yang berseragam hitam itu membawa dirinya pergi dari rumah. Tidak ada yang menahan sama sekali. Termasuk ayahnya sendiri yang bahkan telah hilang kesadaran di depan pintu.

"Ini, bawa saja anak ini dan setelah itu kumohon lepaskanlah aku."

Delapan tahun yang lalu

Bangunan yang memiliki penggalan tulisan "Galaxy's Café" itu terlihat menawan dengan tiga lantai menjulang tinggi yang di apit oleh gedung-gedung tinggi lain di samping kanan-kiri, Baekhyun bahkan harus mendongak sampai belakang lehernya terasa sakit untuk dapat melihat puncak dari gedung itu.

Baekhyun berguman seorang diri tanpa suara menatap bangunan itu dengan kagum. Langkah kecilnya terayun penuh minat mengikuti langkah seorang pria tinggi berambut pirang masuk ke dalam sana. Pada lantai satu yang ia pijaki, sayup-sayup tercium aroma khas kopi. Merupakan sebuah kafe yang terlihat sama pada umumnya yang menjual berbagai jenis kopi juga kue gula manis berbagai rasa yang terpajang cantik di etalase.

Mata bulan sabit Baekhyun menatap penuh minat pada sepotong kue dengan krim putih berlebih lengkap dengan sebuah buah ceri merah yang begitu menggiurkan dimatanya. Liurnya tanpa sadar ia telan dan pria tinggi yang berdiri disampingnya tak dapat menahan diri untuk tak tersenyum.

Ia berjalan menuju belakang etalase dan mengambil tanpa sungkan kue yang menarik perhatian Baekhyun lalu memberikannya kepada bocah berumur sepuluh tahun itu.

"Jika nanti Byunie ingin kue atau cemilan yang lain… Byunie boleh mengambilnya disini." Kata pria itu sembari tersenyum lembut padanya.

Baekhyun menerima kue tersebut dan menggengamnya erat dengan kedua tangan. Matanya berbinar dan ia tak dapat menahan diri untuk tak segera menggigit bagian itu masuk ke dalam mulutnya.

"Sekarang ayo kita naik ke lantai dua."

Baekhyun menurut saja dengan mulut bergerak pelan menikmati kue manis tersebut. Mengikuti langkah pria bersurai pirang itu dan pemandangan baru pun segera menyambut indera penglihatannya.

Pada lantai dua, ruangannya terlihat sedikit gelap. Meja DJ dengan alat menggeras suara terlihat hampir di setiap sudut. Pada langit-langitnya, terdapat sebuah lampu disko besar dengan lantai dansa pada tengah-tengah ruangan itu. Jejaran kursi tinggi tersusun apik menlingkari sebuah meja bar dengan berbagai macam jenis minuman berakohol pada rak kaca. Juga sofa besar yang terlihat disisi yang lain.

Tepat di samping jajaran sofa tersebut terlihat sebuah lorong panjang dengan pintu-pintu yang telah memiliki nomor masing-masing. Sekilas terlihat seperti jejaran kamar hotel, namun isi di dalamnya tentu akan sangat berbeda terlihat.

Sebuah tepukan lembut pada pundak kecilnya, membuat lamunan Baekhyun terbuyar. Bocah kecil itu mendongak pada pria yang baru saja menepuk pundaknya itu dan lagi sebuah senyuman hangat menyambut dirinya.

"Nah, disinilah nanti Byunie akan bekerja." Pria itu berujar.

Otak kanak-kanaknya mencerna kata bekerja dalam diam. Sedikit berkerut kening dan menuntut sebuah jawaban atas pertanyaan polosnya.

"Bekerja seperti apa?" tanyanya.

"Bekerja seperti bermain. Byunie takkan merasa kelelahan sama sekali, bahkan Byunie akan sangat menyukainya."

Senyumannya tertarik cepat mendengar kata bermain juga kata menyenangkan. Kepalanya ia angguk-anggukkan dengan cepat setelah itu.

"Aku mau bekerja!" serunya dengan suara riang.

Pria tinggi disampingnya itupun tersenyum penuh kemenangan. Helaian rambut hitam nan halus bocah itu ia usap perlahan lalu menarik satu tangannya untuk ia genggam.

"Dan sekarang ayo kita naik ke lantai tiga." Ajaknya.

Baekhyun kembali mengangguk. Langkahnya terlihat begitu bersemangat dan begitu anak tangga terakhir telah ia pijaki, pemandangan berbeda lainnya pun segera di tangkap oleh retina miliknya.

"Dan disinilah Byunie akan tinggal."

Lantai tiga itu terlihat nyaris serupa seperti apartemen. Ada ruang tamu, dapur, balkon, ruang santai juga beberapa pintu kamar yang terlihat di antaranya.

Salah satu pintu itu pria pirang itu buka dan memperlihatkan sebuah kamar di dalamnya. Ia menunjukkannya kepada Baekhyun sembari berkata,

"Dan ini adalah kamar Byunie."

Kamar itu terlihat begitu berbeda dengan kamarnya terdahulu. Tidak ada gambar hasil coretan tangannya yang tertempel di dinding, tidak ada warna ungu yang menjadi warna dindingnya, dan tidak ada pula jejeran komik pada rak di atas meja belajarnya, oh… bahkan ia tak memiliki meja belajar disini.

Baekhyun tanpa sadar mengerucutkan bibirnya. Namun terlalu segan untuk memberikan protesan, maka yang ia lakukan hanyalah diam sampai ketika pria yang sedari tadi menemani ia berkeliling itu berjongkok di depannya. Merengkuh kedua pundak kecilnya dan kembali melempar senyum hangat.

"Dan sekarang… kau akan kunamai sebagai hm, Bian Boxian."

Kerutan pada kening dalam hitungan detik segera tercetak di balik juntaian poninya.

"Bi apa?" tanyanya tak paham.

"Bian Boxian. Karena sekarang kau tinggal di Beijing maka namamu harus berganti menjadi Bian Boxian. Kau mengerti?"

"Tapi ibu memanggilku dengan nama Baekhyun bukan Boxian." Bocah itu menyela.

Pria dewasa di depannya itu mengangguk membenarkan.

"Ya,itu dulu saat kau masih tinggal dengan ibumu. Tapi sekarang kau tinggal denganku. Maka namamu kuganti dengan Boxian."

Wajahnya ia dekatkan pada Baekyun. Menatap penuh godaan yang tak dipahami oleh bocah itu dan dalam sekejab saja ia hilangkan jarak di antara mereka. Bibir mungil nan merah yang belum terjamah itu ia kecup dengan dalam. Mengakibatkan sebuah dentuman keras yang tiba-tiba saja berdendang pada dada Baekhyun.

Darahnya ia rasakan berdesir pula. Menjalar cepat dan berkumpul pada wajahnya. Warna merah melingkupi bahkan sampai k eke telinga. Disana… tepat pada bibirnya, ia rasakan dengan betul sebuah tarikan pada bibir bawahnya. Seolah tersedot oleh sesuatu hingga ketika pemilik bibir yang lebih tua itu terlepas, ia rasakan sebuah kedutan menyenangkan dari sana.

"Dan kau adalah milikku." Suara berat pria itu menyapa setelahnya.

Baekhyun tak tau harus seperti apa untuk merespon. Tubuhnya ia rasakan kaku dan jelas sekali terlihat jika ia masih terpengaruh dengan sebuah ciuman bibir yang baru pertama kali ini ia rasakan.

"Jadi namamu sekarang adalah?" satu alis terangkat menanti jawaban dari bocah di depannya itu.

"Bi-Bian… Bian Boxian." Jawab Baekhyun gagap.

"Dan Bian Boxian adalah milik?" tuntutnya lagi.

"Milik… Yifan ge."

Senyum kemengan kembali tercetak pada paras si pirang.

"Good boy."

...

Tujuh tahun yang lalu

"Oh hai… kau orang baru ya?"

Baekhyun mendongakkan kepalanya pada sumber suara dan segera menemukan seorang anak laki-laki berparas cantik berdiri disamping kanan dirinya.

Bahasa Mandarinnya begitu lancar terdengar sampai Baekhyun kepayahan sendiri menangkap maksud pembicaraannya dengan cepat.

Kepalanya ia anggukan sekali lalu menjawab, "Ya."

Anak lelaki asing yang baru kali ini ia lihat tersenyum lebar. Ia menarik sebuah kursi kosong di samping Baekhyun dan menempetkan dirinya duduk disana.

"Namaku Luhan, umurku enam belas tahun." Satu tangannya terulur sembari ia memperkenalkan dirinya.

Baekhyun menyambutnya dengan senang, mendapatkan teman baru selalu ia harapkan selama ini.

"Namaku Boxian, umurku empat belas tahun."

Mata bulat anak lelaki bernama Luhan itu membola.

"Umurmu empat belas tahun? Kau masih kecil sekali." Ujarnya tak percaya. "Omong-omong, dialek bicaramu terdengar sedikit aneh," Luhan tertawa kering. "Kau sepertinya bukan orang asli Beijing ya?"

Baekhyun mengangguk membenarkan.

"Aku sebelumnya tinggal di Bucheon."

Alis Luhan menyatu—bingung, "Bucheon? Dimana itu?"

Baekhyun menerawang selama beberapa saat. Otak bocahnya tak begitu tahu-menahu dari mana ia berasal sebelumnya.

"Itu di… um… Korea."

"Korea?!" Pekik Luhan tak percaya. "Kau orang Korea? Benarkah? Wah beruntung sekali aku. Sudah lama aku ingin pergi ke pulau Jeju, kudengar disana saat indah."

"Aku pernah sekali kesana dan benar… disana memang sangatlah indah."

"Wah, Boxian aku ingin juga pergi ke pulau Jeju atau jika bisa aku juga ingin tinggal disana. Boxian kau mengajariku berbicara bahasa Korea dan sebagai gantinya aku akan mengajarimu untuk berbicara Mandarin lebih baik lagi. Bagaimana?" Luhan menatapnya penuh harap.

Baekhyun pikir itu adalah ide yang bagus maka tanpa berpikir panjang ia pun segera menganggukkan kepalanya—setuju.

"Itu ide yang sangat bagus, ge!"

.

Lima tahun yang lalu

"Ini adalah danau Houhai, bagus bukan?" Luhan membentangkan tangannya lebar sambari menikmati desauan angin basah musim gugur yang menerpa tubuhnya.

Didepan mereka terdapat sebuah danau cantik yang terletak pada pusat kota Beijing sendiri. Ini merupakan kali pertama bagi Baekhyun melihat danau ini dengan begitu dekat—biasanya ia hanya melihat melalui kaca mobil ketika hendak melintas saja—dan benar… ini lebih indah dari yang biasa ia lihat.

"Ini bagus sekali, ge!" ujar Baekhyun sungguh-sungguh. Ia berdecak kagum sesekali. Nyaris lima tahun tinggal di Beijing nyatanya tak membuat ia tau tempat-tempat pariwisata ibukota Tiongkok itu. Kesehariannya selalu di sibukkan dalam hal 'bekerja' selalu dan tak pernah punya waktu untuk berpergian sembari menikmati objek-objek wisata tersebut.

Luhan tersenyum mendengarnya. Pandangan mata ia bawa danau dan mulai menerawang seorang diri.

"Kuharap Roma bisa lebih baik." Gumannya.

Ada rasa ketidaksenangan dalam hati. Merasa tak adil dan rasa dengki akan hal lain mengikuti. Namanya iri.

Fase itu mereka lewati bersama-sama. Semua pelik hati meraka bagi selama ini. Dan rasanya menjadi aneh ketika satu angin pelik itu berubah menjadi angin kebebesan, sedang satu yang lain tinggal dalam kesendirian.

Baekhyun tau benar hati kecilnya berubah iri dengan sejumput kalimat tajam yang tak seharusnya ia katakan. Luhan memilih jalannya yang seperti itu. Di hari lalu mereka memimpikan arti kebebasan itu bersama-sama. Ego Luhan membawa dirinya pergi sedang ego Baekhyun malah membawa dirinya semakin dalam terperosok jatuh.

Kenyataan yang membawa Luhan pada kehidupan baru miliknya yang nyata, membawa senyum baru milik dan juga seseorang yang baru dalam hidupnya. Mereka memimpikan ha itu bersama-sama lalu Luhan mendapatkannya kini.

Baekhyun hanya benci kenyataan hidupnya masih menyedihkan. Ia merasa menyesal dan seharusnya ia ikut ajakan Luhan untuk pergi.

Sisi kiri dalam dirinya membuat ia tak dapat mengkontrol apa yang seharusnya. Tak seharusnya Baekhyun berujar seperti itu. Luhan sudah tidak lagi dan harusnya ia memberikan ucapan selamat dengan senyum hangat bukan dengan cacian yang ia lontarkan beberapa saat yang lalu.

Seharusnya memang tidak boleh seperti itu.

...

Sehun hilang kata dalam tempatnya. Ia membisu dalam waktu yang lama dan hanya mampu menatap Luhan dalam keterdiaman. Lelaki berwajah cantik itu menatap dirinya dengan sarat yang tak terbaca. Kesedihan mendominasi dengan iringan air mata yang masih tak terhenti.

"Tapi kenapa?" Lirihan suara itu terendam di balik lidahnya. Luhan menggeleng menyahuti. Bibirnya ia gigit kuat menahan ledakan tangisan yang masih ingin ia suarakan.

"Aku tak ingin kau menyesal melakukannya. Aku sungguh tak seperti—"

"Mengapa aku menyesal melakukannya? Aku mencintaimu dan akan selalu seperti itu!" Nada suara Sehun meninggi.

Luhan menggeleng cepat.

"Tidak seperti itu. Aku—tak seperti yang kau lihat hari ini. Tidakkah kau ingin tau apa yang kulakukan di hari lalu?"

"Luhan... apa yang—"

...

"Baek? Apa yang kau lakukan disini?"

Tubuh mungil itu tersentak ketika Chanyeol menyentuh pundaknya tiba-tiba. Ia reflek beringsut dari posisinya dan menarik pintu kamar itu hingga tertutup sepenuhnya.

Baekhyun menggeleng dan tanpa kata segera berlari menuju kamar yang ia tempati, meninggalkan Chanyeol yang berkerut bingung pada tempatnya,

"Apa yang Baekhyun lakukan di depan kamar Sehun?"

"Jangan seperti itu lagi, kau membuatku khawatir." Sehun berujar pelan sembari memakaikan baju kering kepada Luhan. Luhan bergeming di tempatnya dan masih tak percaya akan respon yang baru saja lelaki itu berikan kepadanya.

"Nah, sekarang tidurlah. Kau harus terlihatfit besok." Sehun menjauh dari tempat tidur. Membawa handuk lembab milik Luhan ke dalam kamar mandi dan bersiap untuk menghubungi pihak hotel untuk makan malamnya,

"Sehun..." Luhan memanggilnya.

"Ya?"

"Tidakkah kau... marah padaku?"

"Mengapa aku harus melakukannya?" Sehun balik melempar tanya. Luhan tertegun. Sehun menarik senyum tipis lalu menghampiri Luhan di atas ranjang kembali. Kedua tangan miliknya ia bawa melingkar kepada tubuh mungil itu dan merengkuhnya dengan erat.

"Itu merupakan satu lembaran gelap dalam hidupmu. Mengapa aku harus marah ketika mengetahuinya sedang kau masih memilik banyak lembar putih yang lain untuk kau isi?"

Sehun lalu melepas rengkuhannya seseaat. Menghabiskan beberapa detiknya untuk menatap paras lelaki kesayangannya itu lalu membelai pipinya dengan lembut.

"Kau seperti tunas baru, kau tau? Pohon kehidupanmu yang lalu telah layu dan kau memiliki tunas baru untuk kehidupanmu sekarang. Kau hidup dengan sosok yang baru dan aku bertemu denganmu disana. Lalu mengapa aku harus marah sedang Luhan yang berada di depanku ini hanya merupakan Luhan biasa yang takut kuajak naik roller coaster bersama?"

Kalimat terakhir itu terdengar bagai sebuah ledekan dengan nada mengejek. Sehun lagi tersenyum tipis dan memberikan sebuah kecupan pada kening Luhan.

Air mata Luhan menitik tanpa sadar. Ia hendak tertawa namun malah terlihat seperti tengah menahan tangis.

"Bodoh," lirihnya nyaris tak terdengar. "Kau benar-benar laki-laki bodoh yang pernah ku temui, aku—"

"Hei, jangan menangis lagi."

Luhan tak mendengarnya. Tangisnya pecah seperti bocoh lima tahun dengan ekspresi wajah aneh di mata Sehun. Luhan terlihat konyol dan Sehun menertawainya.

"Sudah, jangan menangis lagi," Sehun mengusap lelehan air mata itu dengan ibu jarinya. Menepuk sekali dua kali pipi basah Luhan dan berakhir dengan bungkaman pada bibir oleh bibir miliknya.

"Aku mencintaimu Luhan."

...

Baekhyun menghabiskan waktunya dengan sinar matahari sore di balkon. Matanya memandang jauh dengan pikiran menggembara entah kemana. Mengenai Luhan mendominasi dan diselingi oleh rasa menyesalnya.

Ia terus membatin, mengujarkan deretan kalimat penyesalannya. Seharusnya tidak boleh seperti itu. Luhan telah lama mengharapkan hal seperti ini terjadi dalam hidupnya. Lelaki itu mendapatkannya dan seharusnya Baekhyun memberikan ia selamat.

Kakinya terasa bergetar hendak ia pakai untuk segera berlari menuju kamar Luhan kembali. Mengujarkan seribu kali permintaan maaf dan berharap dapat mengulangnya kembali.

Namun sisi rasionalnya memiliki pandangan yang lain. Rasa malu juga tak pantas terus saja membayangi. Rasanya kata maaf pun tak sebanding atas apa yang telah ia lakukan.

Baekhyun menghela nafas lelah. Matahari telah terbenam setengah. Langit berubah jingga dan menara Effeil terlihat begitu menawan di depannya.

Ia lagi menghela nafas lelah. Menegakkan tubuhnya yang terasa kaku lalu membalikkan badannya. Sosok Chanyeol berada tepat di belakangnya. Bersandar pada kusen pintu balkon dengan ulasan senyum tipis pada bibirnya.

"Apa yang menganggu pikiranmu?" Lelaki itu bertanya.

Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban. Ia tak jadi beranjak, alih-alih kembali menyandarkan punggungnya pada pembatas balkon berhadapan dengan Chanyeol.

"Jika kau bosan, kita bisa pergi keluar untuk berjalan-jalan." Kata Chanyeol.

"Tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya sedang memikirkan tentang makan malam kita saja." Jawabnya tanpa perencanaan. Ia tertawa kecil dengan kaku.

"Sehun dan Luhan baru saja keluar untuk mencari makan malam mereka, lalu bagaimana dengan kita?"

Diameter kelopak mata Baekhyun sedikit melebar ketika mendengarnya. Keluar makan malam bersama? Jadi mereka—

"Apa mereka baik-baik saja?" Lidahnya tak sadar merangkai pertanyaan itu. Chanyeol berkerut kening dan menganggukkan kepalanya dengan bingung.

"Ya, tentu saja mereka baik-baik saja."

Baekhyun tertegun. Benarkah? Pikirnya. Ia mendengar sendiri Luhan mengatakan semuanya pada Sehun. Apakah lelaki itu tak mempermasalahkannya? Apakah Sehun tak marah, kecewa mungkin?

Retetan kalimat itu memenuhi pikirannya. Namun di sisi lain, Baekhyun merasa lega. Sehun menerima Luhan apa adanya. Itu merupakan hal yang bagus. Benar.

Tak sadar ia mengulas senyum tanpa Chanyeol tau mengapa ia melakukannya.

...

Jam telah menunjukkan angka sembilan lebih beberapa menit waktu Paris ketika Sehun dan Luhan kembali ke hotel. Masih banyak waktu tersisa sebelum waktu malam menjemput jika tak mengingat besok adalah hari penting untuk mereka berdua.

Bukan masalah besar karena mereka memutuskan untuk berbulan madu di kota romantis ini.

Di depan pintu kamar sewaan mereka, Luhan maupun Sehun cukup terkejut mendapati Baekhyun berjongkok disana. Lelaki yang Sehun ketahui sebagai kekasih saudara kandungnya itu segera bangkit ketika menyadari orang yang di tunggunya telah kembali.

"Apa yang kakak ipar lakukan disini?" Sehun bertanya pertama kali. Baekhyun tak menanggapi, alih-alih membawa pandangannya kepada Luhan dan lelaki yang lebih tua darinya itu sedikit banyak merasa terkejut.

"Bisakah kita berbicara sebentar?" Baekhyun bertanya dalam bahasa Mandarin, jelas ia tujukan kepada Luhan.

Sehun berkerut kening dan menatap kedua lelaki cantik itu bergantian. Bertanya-tanya dalam hati dan mulai menerka ada hubungan apa mereka.

Luhan termangu selama beberapa saat. Baekhyun menatapnya resah dan ia tak sanggup untuk menolak permintaannya. Luhan memberi kode Sehun untuk masuk terlebih dahulu ke kamar lalu ikut langkah Baekhyun yang membawa mereka ke pintu tangga darurat.

...

"Aku—" suara lirih Baekhyun berbaur dalam kesenyapan. Luhan berdiri di belakangnya menatap sabar punggung yang memunggungi dirinya itu.

Baekhyun berbalik dan menatap Luhan menyesal di depannya dengan mata panas di desaki air mata. Luhan terkejut dan tak sempat bertanya kenapa ketika Baekhyun segera menyambung kalimatnya.

"Aku minta maaf atas apa yang telah kukatakan padamu, ge. Tak seharusnya aku berbicara seperti itu dan memaksamu mengingat apa yang yang ingin kau lupakan. Aku—aku menyesal mengatakannya." Air matanya tumpah akan penyesalan. Ia tak sanggup menatap Luhan lebih lama lagi dan berakhir dengan menundukkan kepalanya.

"Aku benci menyadari hidupku yang masih memilih bertahan seperti ini, kita menjalani banyak hal bersama dan semuanya terasa menyebalkan ketika hanya kau yang lepas sedang aku—masih tetap menjijikkan..."

Luhan mendekat dan memeluk tubuh bergetar itu dengan erat. Tangis Baekhyun pecah. Tungkainya tak dapat menahan bobot tubuhnya lebih lama lagi, ia ambruk di lantai dan meraung bagai anak kecil. Meluapkan segala emosi yang terus ia pendam selama ini.

"Berhentilah Boxian, jangan lakukan hal itu lagi. Jangan kembali padanya."

...

"Jadi selama ini gege tinggal di Jeju?"

Luhan mengangguk membenarkan. Baekhyun duduk pada anak tangga satu lebih rendah dibanding Luhan, menyandarkan kepalanya pada paha Luhan sedang laki-laki itu menyisir rambutnya.

"Bukankah sudah ku katakan jika aku sangat ingin tinggal disana?"

"Aku bahkan baru sekali kesana." Baekhyun tertawa kecil mengatakannya.

"Kalau begitu aku akan mengajakmu lagi kesana." Luhan berkata sungguh-sungguh. "Jeju bahkan terlihat lebih indah dibanding yang kita lihat di internet."

"Benarkah?"

Luhan lagi mengangguk, lebih bersemangat dari yang pertama.

"Jika kau ingin, kau bisa tinggal di flatku. Masa sewanya masih berlaku beberapa bulan lagi."

Dalam imajinasi tanpa perencanaannya, Baekhyun mulai membayangkan hal-hal yang Luhan ceritakan padanya. Betapa bahagianya ia tinggal disana, memiliki pekerjaan 'normal' dan melakukan apapun yang ia inginkan.

Baekhyun pun memiliki keinginan yang sama juga. Dan ia ingin merasakannya juga.

Menyadari Baekhyun yang terdiam membuat pergerakan Luhan ikut terhenti. Ia mencuri pandang kepada Baekhyun dan mendapati lelaki itu tengah melamun.

Luhan jelas tau apa yang menjadi beban pikirannya. Dengan perlahan Luhan angkat kepala Baekhyhn dari pahanya. Bertukar pandang mata dan mulai menyelami iris bulan sabit itu.

"Ikutlah denganku, Boxian." Luhan berujar. Sorot matanya mengisyaratkan banyak harapan dan Baekhyun merasa tergiur untuk menerimanya.

Hanya saja—

"Aku tidak bisa melakukannya."

"Kenapa? Kau hanya tak perlu kembali ke Roma dan Yifan takkan tau jika kau pergi—"

"Eric disini," potong Baekhyun. "Jika aku ikut denganmu, Yifan ge akan tau dan semuanya akan berantakan. Bagaimanapun juga aku tak ingin menghancurkan apa yang telah kau dapatkan selama ini." Baekhyun tersenyum pahit.

"Boxian..."

Baekhyun kembali menyandarkan kepalanya di atas paha Luhan setelah itu.

"Sehun pasti sangat mencintaimu, itu bagus." Ucapnya pelan. "Gege akan bahagia bersamanya."

Mendengar nama Sehun di sebut, seketika Luhan teringat akan Chanyeol, saudara kandung dari kekasihnya itu.

"Mengenai Chanyeol," Luhan setengah berguman mengatakannya.

"Chanyeol pria yang baik." Tukas Baekhyun cepat. "Chanyeol tak seharusnya memberlakukanku seperti itu, aku merasa menyesal melakukan hal ini padanya."

"Untuk itu jangan lakukan, Boxian."

Baekhyun menerawang lagi. Memandang sendu pada pintu datar itu dan menangkap sebuah celah disana.

"Aku... sudah melakukannya."

Luhan terkesiap dan tak tau harus menanggapinya seperti apa. Baekhyun lantas bangkit dari posisinya. Menatap Luhan dengan senyum tulus yang terpantri menawan dari sudut bibirnya.

"Bagaimanapun, selamat atas pernikahanmu ge. Kuharap kau bahagia selamanya."

Ia bangkit berdiri setelahnya.

"Aku akan pergi sekarang, mungkin Sehun ingin bicara denganmu."

"Huh?"

Belum selesai kebingungannya berakhir, sosok Baekhyun menghilang di balik daun pintu. Lalu di gantikan oleh sosok Sehun yang taunya telah berada disana dalam waktu yang lama. Mencuri dengar tanpa satupun ia lewatkan.

"Sehun?"

Dan Luhan hanya mampu membulatkan matanya karena hal itu.

...

Pernikahan itu berlangsung di sebuah gereja yang hanya di hadiri oleh beberapa tamu undangan saja. Didominasi oleh teman-teman Sehun sedang dari pihak keluarga hanya di hadiri oleh Chanyeol saja.

Seorang pastur yang berdarah asli Prancis itulah yang mengikat keduanya. Semua berjalan khidmat dengan sebuah ciuman yang di selingi oleh sorakan teman-temannya, pernikahan itu pun selesai.

...

Chanyeol dan Baekhyun meninggalkan Paris satu jam setelah pernikahan Sehun dan Luhan selesai. Mereka kembali ke Seoul dengan Chanyeol yang akan menempati janjinya untuk bertemu Jina.

...

Sosok perempuan itu terlihat di depan pintu yang selalu Chanyeol datangi akhir-akhir ini. Penampilannya terlihat tak begitu baik. Polesan make up tebal yang selalu menjadi tunjanngan penampilannya, kali ini tak tidak terlihat.

Jina berjongkok di depan pintu ketika Chanyeol datang menghampirinya. Kepalanya mendongak dan mengulas senyum kelegaan menatap kedatangan suaminya itu.

"Kau datang?" Suaranya terdengar serak.

Jina bangkit berdiri di hadapan Chanyeol, matanya sontak bergulir kepada Baekhyun yang berdiri di belakang suaminya itu. Jina menatapnya, ekspresi itu tak terbaca. Antara tengah menahan amarah atau tengah menahan kesedihan. Hanya sesaat sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya kembali kepada Chanyeol.

"Jina aku—"

"Bisakah kita membicarakannya di dalam saja, Chanyeol-ah?" Pintanya.

Kalimat Chanyeol menggantung di tenggorokannya. Ia mengangguk pelan sebelum beringsut menuju pintu dan memasukkan kombinasi kata sandi disana.

Pintu terbuka. Chanyeol mempersilahkan Jina masuk dan juga Baekhyun. Lelaki itu tak berucap apapun dan berdiri paling dekat dengan pintu. Memberikan keleluasaan kepada suami istri itu untuk berbicara walau Chanyeol menyuruh ia untuk bergabung.

"Jihyun... mengatakannya padaku. Tentang alasan mengapa dia menggugat ceraimu juga mengenai..." Jina melirik Baekhyun lagi, "seorang lelaki yang bersamamu akhir-akhir ini." Jina menelan liur susah payah.

Matanya menatap sendu Chanyeol, meninggalkan banyak harapan yang tersimpan disana sedang Chanyeol tak memiliki nyali untuk balas menatap bola mata itu.

"Lelaki yang Jihyun katakan padaku itu, hanya sebatas temanmu bukan?"

"Jina..."

"Dia temanmu bukan? Dan Jihyun hanya salah paham atas apa yang dia lihat."

Chanyeol diam seribu bahasa. Jina mencari mata miliknya dan Chanyeol semakin tak tau harus seperti apa menanggapi. Chanyeol hanya berusaha untuk tak membuat semua ini terlihat menyakitkan bagi Jina, perempuan itu memiliki perangai yang baik. Rasanya kejam Chanyeol menyakitinya seperti ini.

"Chanyeol?" Jina memanggil namanya kembali.

"Maafkan aku, Jina."

"Kau tak harus meminta maaf jika lelaki itu hanya sekedar teman bagimu, itu bukan sesuatu yang—"

"Lelaki itu... dia kekasihku. Baekhyun, aku mencintainya seperti itu."

Diameter mata Baekhyun melebar. Tak percaya atas apa yang baru saja Chanyeol lontarkan padanya. Jina hilang kata. Lalu air mata yang sedari tadi ia coba pertahankan itu, melesak keluar. Jatuh bergumulan membasahi belah pipinya yang merah.

"Apa aku... tak cukup baik selama ini padamu? Apa aku tak memiliki sesuatu yang menjadi keinginanmu, Chanyeol?"

Jina melangkah maju satu langkah pada Chanyeol. Tangannya bergetar hendak menggenggam lengan suaminya itu.

"Seharusnya kau mengatakannya padaku. Kita bisa memulainya dari awal. Mungkin kita sudah harus memikirkan program bayi tabung karena aku tak bisa memberikannya padamu, atau... atau aku yang terlalu sibuk dengan pekerjaanku, kau bisa mengatakannya padaku. Aku bisa meninggalkan pekerjaanku, Chanyeol. Tidak seperti ini."

Kedua tangannya terkepal menuju dada Chanyeol. Menghujani pukulan tak bertenaga miliknya sebelum ia luruh jatuh pada lantai.

Jina terlihat bersimpuh dengan tangis pilu terdengar. Chanyeol bagai patung di depannya, air matanya bergelinding jatuh dengan tangan terkepal kuat menahan emosi akan hal itu.

Baekhyun mengalihkan pandangannya. Kemana saja asal tidak pada sepasang insan berbeda gender itu. Matanya ikut memanas entah sejak kapan. Sisi hatinya terketuk dan Baekhyun merasa semua sudah pada batasnya.

Ia tak boleh seperti ini lagi. Chanyeol pria yang baik sebagaimana yang ia katakan kemarin malam pada Luhan. Sudah terlalu banyak hal yang telah lelaki itu korbankan hanya untuk sebuah kebersamaan semu dengan dirinya.

Baekhyun... sudah tak ingin melakukan hal ini lebih lama dia. Game over. Sudah seharusnya berhenti disini.

Langkah mundurnya meraba pintu dan meraih kenop. Ia bawa tubuhnya keluar dari sana. Memeluk tubuhnya erat sembari menelusuri lorong panjang apartemen itu.

Kepalanya mendongak pada sosok Eric yang berdiri di samping lift. Memberikan satu pancaran mata sedih lalu mengulurkan tangannya untuk lelaki itu genggam.

"Ayo kita pulang."

...

Chanyeol menghabiskan malamnya seorang diri di apartemen dalam keadaan terjaga. Posisinya tak berpindah sedang tatapan mata kosong dengan lingkaran mata hitam yang terlihat mengerikan di wajahnya.

Jina telah pulang sebelum senja menjemput. Membawa seluruh kekecewaan akan diri naif Chanyeol yang tak berusaha untuk memperbaiki segalanya. Dia pergi meninggalkan sepenggal kalimat, "Aku membenarkan kalimat Jihyun betapa brengseknya kau dengan orientasi seksual menyimpang yang begitu bangga kau sandang." dan Chanyeol tak berniat untuk mengingatnya.

Cahaya matahari pagi mengintip malu-malu di antara celah gorden yang tak terbuka sempurna. Dengan perlahan Chanyeol mengangkat kepalanya. Rasa penat terasa. Sedang mata mulai bergerak menggelingi apartemen mencari sosok Baekhyun di sekitarnya.

Tungkainya ia bawa paksa menuju setiap ruangan. Memanggil nama lelaki terkasihnya dan tak ia dapati dimanapun. Chanyeol mulai gelisah. Kakinya melangkah besar-besar keluar dari apartemen namun tak benar ia lakukan.

Sosok ayahnya tertangkap oleh indera penglihatannya di depan pintu. Rahang menggeras dengan wajah merah padam menahan emosi. Lalu sebuah kepalan tangan keras mengenai tulang pipinya dengan telak.

"Aku kecewa padamu, Chanyeol."

Di balik tubuh ayahnya Sehun terlihat. Tak cukup memperbaiki keadaan dan pria tua itu segera berbalik badan dengan sejuta rasa kekecewaan dalam dirinya.

...

Sehun menatap sendu Chanyeol. Saudara tertuanya terlihat sangat kacau. Kacau menjadi kata yang cocok untuk gambaran atas dirinya kini. Seharusnya takkan begitu buruk jika saja Baekhyun tidak menghilang tiba-tiba lalu Sehun menambahi kenyataan mengapa Baekhyun ikut dirinya di hari lalu.

Semuanya menyakitkan terasa. Tapi Sehun tak memiliki alasan kuat lain untuk tak memberitau apa yang sebenarnya terjadi.

Terkejut menjadi respon pertama. Sama seperti dirinya, sulit mempercayai semuanya tapi tak punya pilihan untuk menyangkal semuanya.

Chanyeol sudah tak lagi masuk kantor sejak kedatangan ayahnya yang terakhir. Kata kecewa itu memiliki banyak pengertian yang terselubung. Chanyeol tak cukup bodoh untuk tak tau apa maksudnya. Lagipula, Chanyeol bukan lagi anak kecil yang dungu akan kesalahan. Ia tau apa yang ia lakukan di hari lalu dan hari ini... ia menerima resikonya.

"Besok aku sudah akan pindah ke Beijing bersama Luhan." Kata Sehun. Ia menghabiskan waktunya hampir seharian itu bersama Chanyeol dan menikmati rutinitas biasa, menonton teve dan menghabiskan makanan cepat saji di apartemen. Satu-satunya aset nyata yang masih ia miliki, selain rumah mewah yang dulu ia tinggali bersama kedua mantan istrinya.

Chanyeol lebih memilih tinggal di apartemen yang sempat ia peruntukan untuk Baekhyun. Tak tau mengapa Chanyeol melakukannya. Dia... hanya ingin.

"Itu bagus." Chanyeol merespon. Ia memasukkan potongan pizza terakhir ke dalam mulutnya lalu meneguk kola setelah itu.

"Lalu bagaimana denganmu, hyung?"

"Aku? Aku akan tinggal disini, tentu saja."

Chanyeol mencoba acuh. Mengabaikan tatapan kasihan yang Sehun tujukan kepadanya.

"Apa rencanamu selanjutnya?"

"Tidak ada." Lagi, Chanyeol acuh, ia menggidikkan bahunya tak peduli. "Mungkin bersantai sampai bosan."

"Apa kau... tak ingin mencarinya?"

Nya yang Sehun maksud sudah pasti itu adalah Baekhyun. Chanyeol terdiam selama beberapa saat. Tangannya meraih remote teve di atas meja dan mulai mencari-cari channel secara acak. Volume ia keraskan sembari mengujarkan patahan kalimat harapan dirinya.

"Aku menunggunya."

Dan Sehun dapat dengan jelas menangkap dua kosakata itu, ia terdiam, tak lagi menyahut.

...

Satu tendangan pada perutnya membuat ia merasa akan muntah. Rasanya perih namun tetap ia paksakan untuk bangkit kembali.

Yifan murka di depannya. Baekhyun tau hal itu. Ia sudah sering mendapati hal seperti ini. Tubuhnya bergetar tiap kali mendengar gelagaran suara pria yang telah hidup bersama dirinya hampir delapan tahun itu.

"Coba katakan sekali lagi!" Giginya terdengar beradu di dalam mulutnya.

Baekhyun mengangkat wajah ketakutan namun tak cukup membuat ia hilang nyali. Dirinya sudah cukup sabar selama ini dan semuanya sudah di luar batas, Baekhyun... dia—

"Aku ingin berhenti ge, aku tak ingin melakukan hal ini lebih lama lagi."

Mata tajam Yifan menggelap. Tinjuan juga tendangan sudah tak lagi menjadi hal baru ketika ia melakukannya. Mungkin Baekhyun sudah kebal akan hal itu.

Gerakan tangannya cepat membuka laci meja kerjanya. Meraih sebuah pistol di dalam sana, lalu menarik pelatuk dan menaruh moncongnya telak pada kening Baekhyun.

Nafas serasa terhenti pada tenggorokannya. Eric yang berdiri di depannya pun sama. Membulatkan matanya dan menatap awas pada telujuk Yifan yang berada pada trigger.

"Katakan sekali lagi dan aku akan melubangi otakmu jalang!"

Baekhyun tergugu di tempatnya. Lidahnya terasa kelu tak dapat ia gerakkan sama sekali. Tak bisa menghasilkan suara walau ingin ia lakukan.

"Kau hanya seonggok sampah yang kutemukan nyaris mati di tempat pembuangan, tidakkah kau ingat posisimu? Kau pikir setelah kau lepas dariku, orang di luaran sana akan menerima pelacur hina seperti dirimu!? Berhentilah bermimpi Byun Baekhyun!"

Kalimat itu menggores hatinya. Baekhyun memejamkan matanya sesaat, menguatkan dirinya sendiri lalu membuka matanya kembali.

"Aku ingin berhenti, ge."

"Katakan dengan jelas!"

"AKU INGIN BERHENTI!" teriaknya.

"BANGSAT!" umpatan itu diikuti dengan suara gertakan pistol dengan trigger yang tertekan. Semuanya bergerak secepat kilat.

Baekhyun bahkan tak sempat berkedip ketika Eric melompat di sampingnya. Memelintir lengan Yifan kuat dan mengarahkan moncong pistol itu berbalik tepat pada keningnya, lalu—

DORRR!

Suara tembakan itu membahana memenuhi setiap aspek ruangan. Diikuti oleh rubuhnya tubuh Yifan pada lantai dengan tenggorak bolong dilubangi amunisi panas itu.

Baekhyun memekik tertahan akan pemandangan mengerikan di depannya itu. Ia membisu dengan bola mata membesar menatap tak percaya Eric yang berdiri tenang di sebelah tubuh Yifan yang tak lagi bernyawa.

"Aku sudah lama sekali ingin melakukan hal ini. Pria ini benar-benar membuatku muak!" Eric tersenyum penuh kemenangan. Pandangannya ia alihkan kepada Baekhyun yang bagaikan patung.

"Bukankah tadi itu keren?" Nada bicaranya terdengar santai seperti biasa. "Ini akan terlihat seperti tembakan bunuh diri, tentu saja karena hanya ada sidik jari miliknya pada pistol itu."

Baekhyun berubah pucat dengan aliran keringat dingin membasahi pelipisnya dengan gila. Masih tak percaya dan menatap horor kepada Eric.

Pria Eropa itu lalu berjalan santai menuju lemari besi di balik meja kerja yang selalu Yifan duduki. Memasukkan kombinasi password yang telah ia hafal luar kepala dan kotak besi itu pun terbuka.

"Lihat, dia menyimpan semua uangmu disini. Wah, banyak sekali." Eric merasa kagum.

Matanya bergerak menggelilingi ruangan itu dan menemukan sebuah kopor hitam yang berada di kaki meja. Tak membuang banyak waktu, segera ia masukkan tumpukan uang tunai itu kedalam kopor tanpa meninggalkan satu lembar pun di dalam sana. Lalu menutup kembali seolah kotak besi itu tak terjamah sebelumnya.

Eric lalu bangkit, menghampiri Baekhyun yang menatap ia ketakutan. Tubuhnya tegang sekali dan Eric menggenggam jemari lembut seperti yang selalu ia lakukan setiap harinya.

"Jangan takut, sekarang kau bukan lagi Bian Boxian yang berada dalam kukungan Wu Yifan. Sekarang kau telah menjadi Byun Baekhyun, lelaki biasa penuh kebebasan dengan kehidupan normal seperti yang selalu kau mimpikan, benar?"

...

"Morning..." Jongin menyapa sembari melingkarkan sepasang lengannya kepada Kyungsoo. Memberikan sebuah ciuman pada bibir juga pada pipinya sebelum membawa masuk indera penciumannya pada ceruk leher lelaki terkasihnya itu.

"Morning." Balas Kyungsoo. Tangannya sibuk menggoreng telur diselingi dengan menunggu roti selesai terpanggang.

"Hari ini kau akan kemana?" Kyungsoo bertanya.

"Menemui klien."

"Di akhir pekan seperti ini?" Kyungsoo menatapnya tak percaya. Pikirnya mereka akan menghabiskan waktu akhir pekan bersama.

"Bukan aku, tapi Chanyeol. Rumahnya baru saja terjual, yang membelinya kebetulan salah satu rekan bisnisku. Jadi ya, aku hanya menemaninya saja."

Kyungsoo berguman paham. Matanya melirik sesekali pada ruang tengah, pada sosok besar Chanyeol yang tengah tertidur pulas di atas sofa panjang di depan teve. Selalu saja seperti itu, batinnya.

"Akan sampai kapan Chanyeol selalu seperti itu?" Kyungsoo menunjuk Chanyeol dengan dagunya. Bukannya merasa tak suka ketika si pengangguran Chanyeol terus saja menghabiskan waktunya -bahkan menginap kapanpun yang ia mau- di kediaman ia dan Jongin. Hanya saja, Chanyeol yang tak tau tempat itu yang membuatnya sedikit kesal. Misal, mengapa lelaki itu tak tidur di kamar saja daripada mendengkur di ruang keluarga seperti itu? Kyungsoo cinta kedisplinan omong-omong.

"Biarkan saja." Jawab Jongin acuh. "Jika bosan nanti dia juga akan mencari tempat lain yang bisa ia singgahi."

"Tapi ini sudah memasuki bulan ke lima, Jongin dan selama itu juga ia menganggur dan... ya Tuhan, aku tak percaya jika dia benar Park Chanyeol si ahli waris EXO'luxion Group!"

"Hei, namanya sudah di cabut dari ahli waris. Chanyeol maupun Sehun tak mendapatkan sepeser pun dari harga kekayaan ayah mereka."

"Benar-benar hidup yang menyedihkan." Kyungsoo berguman.

Jongin terkekeh pelan mendengarnya. Wajahnya kembali ia benamkan pada leher Kyungsoo dan kembali mengendus aroma lelaki itu.

"Jangan seperti itu sayang. Chanyeol hanya sedang berusaha. Aku bahkan tak bisa membayangkan apa yang di alaminya terjadi padaku. Masih bagus Chanyeol tidak gila."

Kyungsoo membenarkan dalam hati.

"Kuharap Chanyeol bisa segera bertemu dengan Baekhyun."

...

Menjelang tengah hari, Chanyeol terbangun. Masih ada waktu kurang dari dua jam lagi untuk bertemu dengan orang yang akan membeli rumahnya, dan Chanyeol berpikir untuk kembali tidur saja. Tak jadi ketika Jongin datang dan menendang bokongnya hingga ia terjatuh dari sofa.

Chanyeol mengaduh dan merutuki Jongin sembari mengusap bokongnya yang terasa perih.

"Cepat bersiap, kita akan pergi sekarang Park." Jongin mengambil remote dan mulai mencari saluran olahraga.

"Masih ada dua jam lagi, Kim." Chanyeol menyela. Ia hendak mendudukkan dirinya kembali di sofa ketika Jongin menyeletuk.

"Memangnya kau tak berniat mengambil beberapa barang milikmu terlebih dahulu?"

"Tidak ada yang berharga disana."

"Ah, siapa tau kau sempat meninggalkan beberapa lembar cek, lumayan bukan?"

Chanyeol berpikir sesaat dan ide Jongin ada benarnya juga. Ah, siapa tau. Hidup menganggur -atau sebenarnya malas bekerja- dalam keadaan miskin mendadak membuat keadaannya sedikit banyak kelimpungan. Uang selalu menjadi prioritasnya selama ini. Jika dulu uang ia dapat dari hasil produk terbarunya, maka kali ini hasil dari menjual satu per satu isi rumahnya dan puncaknya pada gedung rumah itu sendiri.

Hidup memang kejam bukan?

Chanyeol tak jadi tidur kembali. Ia patuh mengikuti perkataan Jongin dan mulai membersihkan dirinya setelah itu.

...

Kali terakhir Chanyeol menginjakkan kakinya di rumah sekitar dua minggu yang lalu. Bukan untuk melepas lelah, bukan juga untuk bernostalgia. Tapi tak lebih dari menjual apa yang menjadi 'aksesoris' rumahnya itu. Dan hari ini Chanyeol kembali lagi. Mungkin untuk terakhir kalinya sebelum rumah itu resmi berpindah kepemilikan.

Chanyeol tak memiliki banyak ruang berharga di rumah ini sebenarnya. Waktunya lebih banyak ia habiskan di ruang kerja dan melepas penat di kamar. Jadi tempat pertama yang terpikir untuk Chanyeol masuki ialah ruang kerja miliknya.

Ruangan itu tampak begitu membosankan. Deretan rak besar dengan berbagai buku tebal di dalamnya sudah tak lagi menjadi favorite Chanyeol.

Matanya hanya tertarik pada sebuah laptop di atas meja dan brrpikir untuk membawa benda itu bersamanya. Lalu ia mulai membuka satu per satu laci juga lemari dan menemukan kamera miliknya berada disana.

Chanyeol menekan tombol on dan membuka folder foto yang tersimpan disana. Kali terakhir ia mengabadikan gambar mungkin sekitar setahun yang lalu untuk perjalanannya ke Italia.

Ia menarik senyum dan semakin rindu ketika menatapi satu per satu gambar dari negara beribukota Roma itu. Semuanya seolah kembali bercerita akan sosok Baekhyun yang -tanpa alasan jelas- selalu ia rindukan. Mengabaikan apa yang menjadi alasan mengapa lelaki itu bersamanya… Chanyeol terlalu gila mengatakan jika ia tak peduli dan ia tetap mencintai laki-laki itu. Mengharapkan sebuah pertemuan dan mengulang semuanya kembali.

Chanyeol tertegun dan tangannya tiba-tiba terhenti. Ia ingat gambar itu ia ambil saat berada di kota Vinezia, sosok asing yang tertangkap dalam jumlah banyak pada bidikan kamera miliknya. Chanyeol men-zoom tak sabaran pada sosok itu dan ia tertegun selama beberapa saat.

Sosok itu... terlihat seperti Baekhyun. Baekhyun yang menawan dengan panggilan singkat B yang kali pertama menarik perhatiannya.

Jantung Chanyeol berdegup kencang tanpa sadar. Perasaan asing itu menggetarkan hatinya. Langkahnya tak tau bagaimana tiba-tiba tertarik menjauh keluar dari ruang kerjanya itu, menuju pintu utama rumahnya dan melesat dengan mobil Jongin.

"Hei Park Chanyeol! Kau akan pergi kemana?!"

Mengabaikan panggilan dari pemilik mobil yang tengah ia kendarai itu.

...

Kota Vinezia selalu mengagumkan di matanya. Sama seperti kali terakhir ia berada di tempat ini, kamera tergantung pada leher sedang mata awas menatap satu per satu objek menarik yang tersuguh di depannya.

Chanyeol tak berada di atas perahu seperti apa yang ia lakukan di hari lalu. Melainkan pada jembatan yang berada di atas sungai itu dengan langkah yang terlampau pelan ia jejakkan.

Lensa kameranya masih sibuk mengabadikan tiap hal yang berada di depan. Bukan untuk objek random seperti sebelumnya, melainkan satu objek mungil yang tengah memandang jauh pada hamparan sungai.

Senyumnya terkembang, Chanyeol tau benar hal itu. Pergerakan kepalanya bagai slow motion dan tertangkap benar oleh lensa kamera miliknya. Hingga keseluruhan wajah itu berpaling sempurna padanya. Chanyeol tak melewatkan satu detik pun untuk mengambil puluhan gambar sekaligus hanya dalam hitungan satu menitnya saja.

Hingga pada menit selanjutnya, lensa kamera itu pun ia turunkan... memandang langsung dengan iris miliknya dan jantungnya serasa berhenti berdetak.

Sosok itu masih menatap dirinya dengan senyum tipis menawan yang selalu ingin ia lihat. Sosok itu lalu membawa sepasang tungkai jenjangnya untuk melangkah, begitu anggun, begitu mempesona, mendekati posisi Chanyeol dan berdiri di depannya. Chanyeol tiba-tiba saja merasa lupa untuk bernafas.

"Kau sudah terlalu banyak mengambil gambarku, kau seharusnya membayar untuk itu."

Suara itu... bahkan masih sama menggetarkan rongga dadanya. Semua sensasi ini, tau benar begitu ia rindukan untuk ia rasakan kembali.

Chanyeol berdehem pelan mencoba menormalkan detak jantung miliknya. Lalu menarik senyuman dan menatap tepat pada mata bulan sabit itu.

"Well, haruskah kita membicarakan kontrak itu sekarang? Mungkin ditemani dengan segelas kopi, hm?"

"Ide bagus, aku tau tempat yang punya kopi enak disini."

"Omong-omong, aku Chanyeol. Park Chanyeol."

"Aku Baekhyun, Byun Baekhyun. Senang bisa berkenalan denganmu..."

...

"Eric kau sudah seharusnya pergi dari sana. Biarkan mereka berdua."

"Sebentar Lulu, aku hanya sedang memastikan pria bertelinga lebar itu tidak melakukan hal-hal aneh kepada B."

"Dia hanya akan membawanya kembali ke Seoul,"

"Dan tentu saja aku akan ikut kesana."

"Ya Tuhan! Kapan kau bisa berhenti bersikap menyebalkan!"

"Sayang ada apa?" Sehun menegur di sampingnya. Luhan menurunkan ponselnya dari daun telinganya dan memasang wajah kesal disana.

"Aku benar-benar ingin sekali menendang bokongnya saat Eric berkunjung kesini lagi!"

"Sayangku jangan anarkis seperti itu."

Luhan berdecih pelan seorang diri. Ia bersedekap dada dan memunggungi Sehun di belakangnya.

"Apa Chanyeol hyung sudah bertemu dengan kakak ipar?" Sehun mencoba mengalihkan pembicaraan.

Luhan mengangguk membenarkan. Moodnya berubah dengan cepat/ Ia segera berbalik kepada Sehun dan menatap suaminya itu penuh harap.

"Ayo kita ke Seoul, Chanyeol hyungmungkin sudah melamar Baekhyun sekarang. Kita tak mungkin melewatkan acara pernikahan mereka bukan?"

Sehun tertawa namun cepat-cepat menganggukkan kepalanya sebelum Luhan kembali merajuk karena kesal kepadanya.

"Haruskah kita bersiap-siap sekarang?"

...

Chanyeol menatap lembut Baekhyun yang berada di bawahnya. Menarik senyum tipis di sela seringaiannya yang membuat jantung Baekhyun berpacu dua kali lipat dari batas normal.

Chanyeol mengukungnya dengan lembut. Memberikan beberapa ciuman memabukkan yang singkat—menggoda si mungil dan menjilati daun telinganya sesekali. Menyalurkan hasrat tak tertahankan dari suaranya yang semakin memberat malam ini.

Tepat satu jam berlalu setelah pesta pernikahan mereka yang hanya di hadiri oleh beberapa orang saja, Sehun, Luhan, Jongin, Kyungsoo juga Eric—lelaki itu benar-benar serius mengatakan akan ikut ke Seoul jika Baekhyun berada disana... maka saat ini, hasrat tak sabaran itu haruslah tertuntaskan.

"Sayangku, Park Baekki." Chanyeol menggumankan nama sayangnya itu tepat pada lubang telinga Baekhyun.

"Ya, Yeolli." Sahutnya.

"Park Baekki,"

"Ada apa?" Baekhyun menahan senyum.

"Aku hanya ingin memanggil istriku saja."

"Aku laki-laki, Chanyeol,"

"Tapi kau cantik. Sangat cantik."

"Tapi tetap saja—"

Chanyeol membungkamnya dengan sentuhan bibir. Memanja benda lunak itu dan merasakan dengan benar tiap tekstur lembut yang ikut mengulum bibir miliknya.

Ciuman itu bergerak lambat. Hanya ada gigitan kecil di sela. Lalu di gantikan dengan jilatan, bersamaan dengan jemari Chanyeol yang mulai merambah pada kain yang menutupi tubuh Baekhyun.

Ia dengan tenang membuka satu per satu kancing kemeja itu lalu meraba kulit dadanya dengan nyata. Menggesekkan ibu jarinya pada puting mungil merah muda itu dan menjepitnya sesekali.

Chanyeol melepas ciuman bibir mereka. Berpindah pada lehernya dan mulai mendengarkan desakan nafas kepayahan Baekhyun.

...

Baekhyun mengatakan ia ingin membuka kafe atau restoran. Ia bisa memasak makanan Italia dan berpikir untuk membuka restoran Italia di Seoul.

Chanyeol setuju.

Pikirnya akan sangat bagus untuk menunjang kehidupan mereka. Chanyeol sebenarnya masih menganggur, berdalih mengatakan ingin menemani Baekhyun. Jongin bahkan menawari dirinya posisi yang bagus di perusahaan, lagi memakai alasan ingin menemani Baekhyun.

Lelaki itu benar-benar malas,

...

Pagi sudah di mulai kembali dan Baekhyun mulai sibuk di dapur. Semalam otaknya tiba-tiba saja di rasuki oleh resep baru untuk tambahan menu restorannya dan berpikir untuk mencoba membuatnya. Ia akan menemui Kyungsoo nanti dan meminta pendapat koki senior—mBaekhyun memanggilnya seperti itu- yang sudah seperti guru masak dadakannya.

Chanyeol menghampirinya dengan wajah mengantuk sisa bangun tidur dan memeluk suaminya itu tanpa aba-aba. Baekhyun sudah tak lagi merasa terkejut, Chanyeol biasa melakukannya.

"Resep baru?" Chanyeol menebak.

Baekhyun mengangguk membenarkan.

"Aku akan pergi menemui Kyungsoo lalu membawa Jackson untuk imunisasi. Bagaimana denganmu?"

Jackson adalah bayi laki-laki yang Baekhyun adopsi saat pergi ke Roma untuk menghadari pesta pernikahan Eric. Ia dan Chanyeol setuju untuk memiliki bayi yang bisa mereka rawat dan mereka besarkan bersama.

"Kalau begitu aku akan ikut denganmu saja," sahut Chanyeol.

Baekhyun berdecih pelan mendengarnya. "Aku tak seharusnya bertanya, kau sudah pasti akan memberiku jawaban itu lagi."

Chanyeol menyengir mendengarnya.

"Kalah begitu jangan."

...

I walked across an empty land

(Kususuri tanah kosong)

I knew the pathway like the back of my hand

(Jalan setapaknya kukenali seperti punggung tanganku)

I felt the earth beneath my feet

(Kurasakan bumi di bawah kakiku)

Sat by the river and it made me complete

(Duduk di tepi sungai, membuatku merasa sempurna)

Simple thing where have you gone?

(Hal sederhana, kemana kau pergi?)

I'm getting old and I need something to rely on

(Aku semakin tua dan aku butuh sesuatu untuk bersandar)

So tell me when you're gonna let me in

(Maka beritahu aku kapan kau kan ijinkanku)

I'm getting tired and I need somewhere to begin

(Aku mulai lelah dan aku butuh tempat tuk memulai)

I came across a fallen tree

(Kujumpai pohon tumbang)

I felt the branches of it looking at me

(Kurasakan dahannya seolah menatapku)

Is this the place we used to love?

(Inikah tempat dulu kita biasa memadu kasih?)

Is this the place that I've been dreaming of?

(Inikah tempat yang selama ini kuimpikan?)

And if you have a minute why don't we go

(Dan jika kau ada waktu, ayo kita pergi)

Talk about it somewhere only we know?

(Membicarakannya di suatu tempat hanya kita yang tahu?)

This could be the end of everything

(Ini bisa jadi akhir dari segalanya)

So why don't we go

(Jadi kenapa kita tak pergi)

Somewhere only we know?

(Ke suatu tempat hanya kita yang tahu?)

~Somewhere Only We Know by Keane/Lily Allen lyric~


Fin The End Tamat Selesai Bubar


Akhirnya kelar juga ini fic. Thank you so much udah baca ff sinetron ini, udah berkenan nge fav. juga nge foll dan ngasih satu dua kata di kotak review. Thank you so much readernim! :D

Sampai bertemu di ff aku yang lain!

#CHANBAEKISFUCKINGREAL