ANDANTE
Chapter 8 : One Step Closer
Cast:
Lu Han, Se Hun
EXO Members
Romance, Angst, a little bit Humor and Drama
This is Genderswitch.
.
.
.
Sehun terus menerus mengutuk dalam hati melihat bagaimana keponakannya yang berubah menjadi musuh paling menyebalkan sepanjang hari ini. Setau Sehun, Leon tidak pernah berulah namun yang ia tahu hari ini keponakan malaikatnya sudah berubah menjadi jelmaan setan. Sejak kedatangannya dengan Luhan tadi pagi, anak setan itu terus mengekori gadis itu tanpa memberikan Sehun celah sedikitpun untuk sekedar melempar tatapan cinta mautnya kepada Luhan. Leon akan terus membuat Luhan terfokus padanya dan menghiraukan Sehun yang meradang di belakang mereka. Ayolah yang membujuk Luhan setengah mati agar gadis itu mau menginjakkan kakinya ke butik Sena adalah dirinya sekarang mengapa ia malah sama sekali tidak mendapatkan hadiah atas usahanya?
"Lulu Aku tampan tidak?"
"Lulu cantik sekali hari ini."
"Lulu jangan lepaskan genggamanku ya."
Dan masih banyak Lulu Lulu lainnya yang membuat kepala Sehun mendadak pening. Kalau mau sih ia bisa saja menarik Luhan ke sampingnya menghiraukan Leon yang nantinya akan merajuk atau menangis tapi masalahnya adalah Luhan sendiri yang juga terlihat ikutan membuatnya meradang. Gadis itu ikut-ikutan mengacuhkannya padahal sejak tadi ia sudah melontarkan pertanyaan yang tidak jauh berbeda dengan Leon kok.
"Lu, kau lapar tidak?"
"Aku suka rambutmu hari ini."
"Lu temani aku mencari pakaianku." Dan pertanyaan lainnya yang hanya di jawab Luhan dengan "Sebentar ya Sehun."
Ya Tuhan Sehun ingin membuang Leon agar ia bisa memonopoli Luhan kembali. Tapi apadaya, ia hanya bisa pasrah diri duduk di sofa tunggu sembari melihat gadis cantiknya dibawa bergerak ke sana ke mari oleh keponakannya.
"Kalau sampai butikku tutup, semua karena dirimu." Ocehan baru lagi membuat Sehun semakin sakit kepala. Siapa lagi kalau bukan dari mulut manis kakaknya yang sejak tadi hanya cuek melihat keadaannya.
"Kenapa salahku? Aku tidak berbuat kesalahan apapun." Bela Sehun yang malah mendapatkan pukulan pada kepalanya.
"Tidak melakukan kepalamu! Tidak lihat kau mengeluarkan tatapan menyebalkan begitu membuat pelangganku kabur!" Sehun mengikuti arah jari Sena yang bergerak dari ujung ke ujung ruangan memperlihatkan pengunjung butik yang menatapnya takut lalu diam-diam pergi. Apa sebegitu burukkah rupanya sehingga membuat mereka semua pergi begitu?
"Tersenyumlah, atau pergi masuk ruanganku jika mau cemberut begitu." Begitu Sena selesai mengucapkan usiran halusnya, Sehun segera berjalan dengan kekesalan yang sudah sampai kepala meninggalkan semua pengunjung butik, Luhan dan juga Leon. Sepertinya ia memang harus berdiam diri di ruangan Sena untuk meredakan kekesalannya.
"Uncle kenapa wajahnya buruk sekali?" tanya Leon yang kembali dari acara membeli minuman ringan bersama Luhan beberapa saat lalu. Ia duduk manis di sebelah Sena sembari menarik tangan Luhan agar duduk di sebelahnya juga.
"Marah padamu." Jawab Sena asal sambil mencubit pipi Leon yang menggembung karena anak itu sedang mengigiti sedotan minumannya.
"Kenapa? Aku tidak nakal kok." Tanya Leon penasaran. Ia sendiri juga bingung mengapa unclenya itu bisa marah padanya padahal seingatnya ia sama sekali tidak berbuat ulah pada pria itu. Kalau pun ada yang marah orang itu tentu saja Luhan karena sejak tadi gadis itu terus menerus menemaninya bergerak tanpa lelah.
Sena hanya tersenyum melihat putranya yang diam tampak berpikir keras. Ia tahu jagoan kecilnya itu pasti tidak tahu jika tingkahnya memonopoli Luhan sama saja membuat masalah dengan Sehun tapi ia juga tidak habis pikir dengan jalan pikiran adik laki-lakinya tersebut. Apa susahnya berbagi dengan keponakan sendiri toh Luhan juga terlihat baik-baik saja? Dasar pria egois.
"Mom, kenapa uncle marah padakuuuuu." Tanya Leon lagi sembari menarik-narik lengan baju Sena penasaran sementara sang ibu hanya tertawa melihat ulah putranya tersebut. Ia kemudian membawa Leon kedalam gendongannya dan mendudukkan anak itu di pangkuannya.
"Kau ingat apa janjimu pada mommy semalam?"
"Janji?"
"Iya janji. Sebelum mommy mengizinkanmu untuk ikut ke butik hari ini, kita punya perjanjian bukan? Kau ingat?"
Leon tampak mengerutkan dahinya juga mengerucutkan bibirnya tanda ia berpikir begitu keras berusaha mengingat janjinya semalam dengan sang ibu. Ia ingat mereka punya janji tapi sayangnya otak lucunya tidak memberikan gambaran apapun tentang janji tersebut. Pelan-pelan ia mencoba mengingat kejadian semalam di mana sang ibu berbicara pada ayahnya tentang pekerjaan dan tiba-tiba saja ia mendengar kata 'Luhan' keluar dari mulut ibunya yang lantas membuatnya semangat bertanya macam-macam dan terjadilah sebuah perjanjian.
"Besok Luhan akan ke butik mom?"
Sena dan Kris menoleh ke arah Leon yang sudah melihat ke arah mereka dengan mata berbinar. Anak laki-laki mereka ini memang sudah kepalang jatuh hati dengan gadis bernama Luhan sampai-sampai telinganya begitu sensitif mendengar kata Luhan.
"Iya. Besok Luhan akan mencoba gaunnya untuk pernikahan Uncle Jongin." Jawab Sena kemudian.
"Sendirian?"
"Bersama Uncle Sehun tentu saja." Jawab Kris yang membuat Leon semakin semangat. Ia kemudian melonjak lonjak dari kursinya meminta untuk ikut ke butik.
"Mooooom! Biarkan aku ikut! Aku merindukan merekaaaaa." Baik Kris maupun Sena sama sekali tidak kuasa untuk menolak permintaan Leon karena pada dasarnya mereka sangat mengetahui betapa rindunya Leon pada Sehun dan Luhan. Terakhir paska kejadian di apartemen Sehun, Leon selalu menanyakan keadaan Luhan apapun yang terjadi pada Sehun, meminta Sena untuk mampir ke kafe Minseok untuk sekedar melihat kakak cantiknya tersebut.
Sementara Sena sibuk dengan pemikirannya akan Leon, Kris sudah tersenyum puas dan menggendong putra mereka. Ia kemudian membuat suara untuk menarik perhatian keluarga kecilnya dan memulai pelajaran barunya untuk Leon.
Janji laki-laki.
"Sena, Mommy yang cantik dan Leon, jagoan daddy yang tampan, Leon boleh ikut ke butik bersama mommy akan tetapi Leon harus melakukan tugas dari daddy."
"Tugas?" Wajah Leon begitu lucu ketika mulut Kris mengeluarkan kata 'Tugas'. Agak sensitif bagi anak kecil mendengar kata tersebut karena yang terlintas dalam otaknya adalah pekerjaan rumah yang menyebalkan. Leon jadi sedih sendiri seketika.
"Jangan aneh-aneh Kris. Lihat putramu sudah murung." Bisik Sena begitu melihat perubahan wajah leon.
Kris hanya tersenyum yang kemudian menyodorkan jari kelingkingnya ke hadapan Leon sembari mengucap janji, "Janji pada daddy kau tidak akan mengganggu uncle Sehun kalau sedang berdekatan dengan Luhan."
Masa bodo dengan janji, Leon langsung melingkarkan kelingkingnya dan berseru bahagia,"Aku Janji!"
Mata Leon membulat begitu ia mengingat janji yang ia buat dengan daddynya. Oh astaga apakah ia sudah menggangu pamannya? Bahaya ini bahaya. Ia harus segera berbaikkan kalau tidak pasokan makanan ringan akan menghilang. Tanpa basa-basi Leon segera turun dari pangkuan Sena dan lantas menarik Luhan pergi menuju tempat Sehun berada. Sedikit mengedarkan pandangannya hingga mata cokelat Leon menangkap uncle-nya yang baru saja keluar dari ruangan sang mommy.
Luhan yang tidak mengerti apa yang sedang Leon lakukan hanya pasrah ketika anak itu menarik tangannya dan membawa Luhan dalam gerakan jalan yang cepat. Sebenarnya Luhan sudah lelah mengikuti Leon kemanapun anak itu pergi karena sejak tadi Leon tidak mau melepaskannya namun tingkah menggemaskan keponakan Sehun itu membuat rasa lelah Luhan hilang begitu saja. Ia sudah hampir menyuarakan pertanyaannya sampai akhirnya Leon berhenti tepat di depan Sehun yang baru saja keluar dari ruangan Sena.
"Uncle! Sorry for take Luhan with me all the time ok? Now your turn with her." Anggap saja telinga Sehun, Luhan bahkan beberapa pelayan dan pelanggan yang ada di sekitar Leon mendadak salah dengar dengan apa yang baru saja putra Kris itu katakan. Anak itu dengan lancar menyuarakan permintaan maafnya pada Sehun dengan bahasa inggris yang lantas membuat Sehun menelan ludah kaget. Ia bukannya asing dengan tingkah Leon barusan hanya saja ia tidak mengira anak itu akan sefasih ini dalam berbicara bahasa ibu ayahnya.
Kris memang luar biasa.
"Uncle? Forgive me ok?"
Sensasi sentuhan jemari Luhan yang disatukan Leon dengan jemarinya yang membuat Sehun melayang. Ia tidak tahu sebegitu berdebarnya ia sekarang bahkan hanya dengan sentuhan ringan seperti ini saja. Sementara Luhan dan Sehun yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja Leon lakukan pada mereka, putra kesayangan Sena tersebut malah tersenyum puas dan meninggalkan keduanya setelah memeluk kaki Sehun sambil berkata,"Good luck uncle!"
Rasa bahagia itu pelan-pelan merayap memenuhi hati Sehun. Semua rasa kesalnya tadi dengan Leon menguap begitu saja begitu matanya melihat genggaman tangannya dengan Luhan yang terasa sangat pas dan saling mengisi. Tangan mungil si cantik terbungkus sempurna oleh tangannya dan terasa begitu hangat menyalurkan cinta. Terserah jika Luhan menolak fraksi keindahan yang Sehun berikan tersebut namun pipinya berhasil bersemu malu. Jantung yang berdegup kencang dan perasaan bahagia melingkupi hatinya dengan sempurna. Mungkin benar jika perasaan itu masih sangat kuat berada di sekeliling mereka berdua, tinggal bagaimana keduanya berusaha untuk saling mengumpulkan semuanya dan menyatukan keduanya.
Berjuangn bersama, bukan bergerak sendirian.
"Ayo, kita coba gaunmu."
Kalau Sehun boleh lupa diri dan status mereka sekarang mungkin yang terjadi adalah Luhan yang tergolek lemas dalam pelukannya dengan bibir yang saling bertaut membagi cinta. Semua karena wajah malu-malu Luhan yang begitu menggodanya sampai ke tulang.
.
.
.
From Jongin - Handsome Group :
Sial! Aku gugup sekali!
Semoga aku tidak mengacau saat sumpah sehidup semati nanti.
From Chanyeol – Handsome Group :
Kau bisa gugup? Kau benar-benar gugup untuk bersumpah atau untuk malam pertama kalian? Kkkkk!
From Sehun – Handsome Group :
Yang benar saja?! Kkamjjong tidak pernah gugup untuk malam pertama.
Aigoo kasian Kyungsoo.
Si mesum itu pasti melampiaskan nafsu mesumnya dengan bejad kkkkkk
From Chanyeol – Handsome Group :
Butuh stok film baru? Wifi kantor sedang lancar jongiiiiin! Mungkin kau bisa mendownload video baru untuk belajar gaya baru kkkkkkkkk!
Tawa Chanyeol terdengar begitu menyebalkan di telinga Jongin sekarang. Sahabatnya yang satu itu memang benar-benar kurang ajar kalau sudah membahas tentang kegelisahannya akan pernikahannya yang sudah tinggal menghitung hari saja. Chanyeol bahkan Sehun tidak akan henti-hentinya menggoda Jongin perihal pernikahan pria itu hingga obrolan mesum mereka tentang malam pertama. Merasa sebal sendiri dengan ulah keduanya, Jongin kemudian melemparkan ponselnya ke meja begitu saja setelah mengunci benda tersebut tanpa berniat membalas pesan group dari Chanyeol toh Sehun juga tahu-tahu menghilang begitu saja.
"Berhenti tertawa Yoda. Kau membuatku kesal saja." Katanya lengkap dengan dengusan kesalnya pada Chanyeol sementara Chanyeol hanya berusaha menetralkan tawa dengan menarik nafas panjang namun tetap terkekeh pelan.
"Jangan kesal begitu dong. Calon pengantin baru tidak boleh banyak-banyak marah nanti kualitas bibit unggulmu berkurang." Balas Chanyeol acuh tanpa melihat wajah Jongin yang semakin kesal akibat kata-katanya barusan.
"Apa urusannya emosiku dengan bibit unggul bodoh?!" Jongin tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya tersebut. Meskipun demikian ia tetap bersyukur karena Sehun tidak ada bersama mereka sekarang jika tidak bahasan mereka akan semakin tidak nyambung dan semakin menyudutkannya.
"Tentu saja ada. Kalau kau marah-marah terus, kulitmu akan cepat keriput dan bisa saja ada kemungkinan jagoanmu juga akan mengkerut. Kalau sudah begitu aku jamin kualitas bibit unggulmu akan berkurang." Ucap Chanyeol yang langsung membuat Jongin semakin putus asa. Mereka sama-sama berasalh dari anak sains tapi entah mengapa Chanyeol lebih bodoh dari perkiraannya.
"Tidak ada urusannya Yoda."
"Kemungkinan tetap ada Kkamjjong."
Setelahnya Jongin hanya menarik nafas masa bodo dengan ucapan Chanyeol barusan. Kalau ia terus membalas ocehannya maka pembahasan mereka akan semakin tidak jelas. Maka dari itu ketimbang meladeni Chanyeol yang kurang waras, Jongin memutuskan untuk menggambar sketsa rumahnya nanti dengan Kyungsoo. Saat sedang asik-asiknya membayangkan rumah idamannya tersebut terbentuk, ponselnya bergetar dan menampilkan pesan masuk dari Sena. Ia mengkerutkan dahinya tanda heran akan pesan dari Sena yang berupa pesan gambar.
"Jong, kau dapat pesannya?" tanya Chanyeol yang ternyata juga baru saja mendapatkan pesan di ponselnya.
"Dari Sena noona?" Chanyeol hanya mengangguk.
"Ada apa ya kira-kira?" Tanya Jongin yang hanya dibalas gelengan oleh Chanyeol. Setelah saling pandang selama beberapa detik, mereka berdua lalu memutuskan membuka pesan tersebut dari ponsel masing-masing dan mendapatkan sebuah gambar yang membuat hati keduanya menghangat. Chanyeol tersenyum puas begitu melihat gambar tersebut. Kedua matanya terbuka lebar dengan binar kebahagian yang terpancar dengan jelas, sementara Jongin pria itu tersenyum simpul melihat gambar tersebut meskipun tak dipungkiri ia juga turut bahagia atas yang tengah terjadi.
"This is happily ever after right Jong?" ucap Chanyeol dengan senyumnya,
"Yes, this is the best one."
Dan kedua sahabat itu tersenyum bahagia dengan hati yang menghangat.
.
.
.
Sehun sendiri tidak tahu sejak kapan ia terlahir sebagai manusia yang senang menunggu. Menanti, menunggu atau semua kata yang merujuk pada pekerjaan menghabiskan waktu untuk seseorang menyelesaikan pekerjaannya bukanlah hal yang sering ia lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Ia bisa saja merajuk sepanjang hari jika ada seseorang yang membuatnya menunggu barang satu menit pun. Namun hari ini, demi seorang gadis mungil bermata cantik yang sudah memikat hatinya sampai ke tulang, Sehun rela menghabiskan hampir lima menitnya menunggu tirai merah tersebut terbuka dan menampilkan Luhan dalam balutan gaunnya. Gadis itu masuk dengan membawa satu buah gaun berwarna biru safir berbahan satin yang mengkilap juga sebuah bandana rangkaian bunga kecil yang akan disematkan di kepalanya dan Sehun benar-benar menantikan penampilan Luhan nantinya sementara ia sendiri sudah siap dengan setelan jas formal berwarna senada dengan gaun Luhan nantinya lengkap dengan bros bunga di saku kirinya.
Berusaha mengusir rasa gugup yang tiba-tiba datang begitu saja, Sehun mencoba menghubungi dua sahabatnya Chanyeol dan Jongin untuk sekedar menggoda keduanya. Sebuah pesan sialan ia kirimkan dan membuat grup chatting mereka ramai karena ulahnya. Ia sesekali terkekeh membaca balasan dari kedua sahabatnya yang sedang mati kebosanan di kantor sementara ia bisa bersantai.
From Jongin - Handsome Group :
Sial! Aku gugup sekali!
Semoga aku tidak mengacau saat sumpah sehidup semati nanti.
From Chanyeol – Handsome Group :
Kau bisa gugup? Kau benar-benar gugup untuk bersumpah atau untuk malam pertama kalian? Kkkkk!
From Sehun – Handsome Group :
Yang benar saja?! Kkamjjong tidak pernah gugup untuk malam pertama.
Aigoo kasian Kyungsoo.
Si mesum itu pasti melampiaskan nafsu mesumnya dengan bejad kkkkkk
From Chanyeol – Handsome Group :
Butuh stok film baru? Wifi kantor sedang lancar jongiiiiin! Mungkin kau bisa mendownload video baru untuk belajar gaya baru kkkkkkkkk!
Tadinya Sehun akan menimpali ocehan Chanyeol barusan namun begitu ia mengetikkan satu kata, tirau merah tersebut terbuka dan pelayan toko tersebut mempersilahkan Luhan keluar dari sana. Katakan saja Sehun sudah gila karena dimabuk cinta sebab Luhan dengan biru safir dan bunga adalah perpaduan yang sempurna dan memabukkan. Gaun itu melekat dengan sangat baik pada tubuh si cantik, sisi feminim yang terukir sempurna membuat Sehun mabuk akan pesona yang dipancarkan Luhan. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai indah dengan bandanya yang membuatnya tampak manis seperti peri musim semi yang imut. Ini dimana? Bisakah ia menarik Luhan masuk ke dalam tirai lagi dan menghadiahkan gadis itu ciuman manis tanpa henti? Ia benar-benar jatuh dalam pesona Luhan.
"Sehun, apa aku buruk?" Tanya Luhan yang langsung membuyarkan imajinasi indah Sehun akan Luhan. Ia kemudian berjalan menuju gadis itu dengan senyum yang manis terpaut di wajahnya dan kemudian menarik Luhan dalam satu tarikan hingga mereka terlihat seperti berpelukan, "Kau sempurna." Jangan tanyakan bagaimana wajah Luhan saat itu apalagi kalau bukan bersemu malu. Ia bahkan tak sadar jika ia sudah membiarkan Sehun melingkarkan tangannya pada pingganya dan menariknya semakin dekat. Sekuat tenaga menahan perasaannya pada Sehun, meyakinkan dirinya jika ia dan Sehun tidak seharusnya bersama meskipun sama-sama mengerti perasaan masing-masing. Walau demikian, ia tidak bisa menolak rasa bahagia begitu pria itu memujinya, memandangi dirinya dengan tatapan memuja dan penuh cinta.
"Terima kasih."
Sehun tidak bisa tidak tersenyum begitu mendapati Luhan yang bersemu malu akibat ulahnya. Ia harus terus membuat Luhan membuka lagi hati dan perasaannya agar perjalanan cinta mereka bisa dilanjutkan. Kisah mereka belum berakhir dan Sehun akan berusaha sampai akhir untuk membuat kisah mereka tidak pernah berakhir. Ia semakin menarik Luhan mendekat dan berdoa dalam hati agar gadis itu tidak meronta saat ia membawa Luhan dalam pelukannya. Ia melabuhkan kepalanya di pundak Luhan, sedikit mengecupnya membuat gadis itu sedikit menahan nafasnya.
"Lu,"
"Iya Sehun?" Suara Luhan terdengar begitu lirih karena gadis itu berusaha agar nafasnya tetap tenang menghadapi perilaku Sehun barusan. Perlakuan tidak mengenakkan masa lalu tentu saja membuatnya agak trauma dengan sentuhan yang terlalu intim seperti yang sedang Sehun lakukan. Meskipun berusaha sekuat tenaga agar tetap bernafas sempurna namun tubuh si mungil tidak berbohong. Sehun dapat merasakan ketika ia mengecup pundaknya tubuh Luhan tersentak menengang kaku walau tidak menolaknya.
"Ini aku Lu," Sehun semakin menarik Luhan ke dalam pelukannya membuat gadis itu sadar siapa yang sedang merengkuhnya sekarang. Perlahan Luhan mulai menenangkan dirinya sehingga dapat Sehun rasakan tubuhnya tidak lagi sekaku barusan.
"Sehun,"
"Ini aku Lu." Luhan menarik nafasnya panjang sebelum akhirnya membiarkan dirinya membalas pelukan Sehun atas dirinya. Tangannya bergerak perlahan melingkari punggung pria itu, menyamankan dirinya dalam keposesifan Sehun padanya. Luhan menutup matanya menikmati kenyaman yang datang begitu ia bisa dengan sempurna merengkuh Sehun dengan kedua tangannya. Kesadarannya perlahan menghilang digantikan dengan perasaan bahagia tak terduga.
"Lu," Luhan memang hanya bergumam membalas panggilannya namun perlakuan Luhan padanya membuat Sehun semakin yakin atas jalannya untuk membuka cinta mereka kembali. Ia memang harus berusaha lebih kuat dari sebelumnya, lebih lembut dan tenang dari yang sudah-sudah dan semoga saja ini adalah waktu yang tepat untuk menyatakan semuanya pada gadis itu.
"Aku," Sehun mengendurkan pelukannya, "Menunggu," membuat Luhan mendongakkan wajahnya dengan usapan halus pada dagu gadis itu, "Saat kau menggunakan gaun pengantin pada pernikahan kita nanti." Kemudian keberanian itu muncul begitu saja ketika Luhan membiarkan Sehun menciumnya tepat dibibirnya. Pria itu perlahan menggerakkan bibirnya menyalurkan semuanya pada Luhan dan secara perlahan mendapatkan balasan yang setimpal atas perasaannya. Gadis itu membalas dengan gerakan lembut atas perasaan Sehun padanya. Mungkin sudah saatnya ia benar-benar membuka hatinya lagi untuk Sehun, berdamai dengan masa lalunya dan mengukir kisah mereka kembali. Sekuat apapun ia mengelak toh Tuhan sudah menggariskan takdirnya bersama dengan Sehun.
.
.
.
TBC
HALO! Maapin aku yang sloooooooooow update abis haha. Udah update lama, pendek pula hehe._. maapin yak maapin. Terima kasih kalian sudah menunggu kelanjutannya yak hehe~ Sepertinya beberapa chapter lagi bakalan END deh gak TBC lagi yeyeyelalala.
Balasan reviewnya nanti saja yak diakhir cerita ini alias pas tamat gituuu.
Selamat membacaaaa.
