Chapter 10 : Antara guru dan murid
Matahari sudah tenggelam, langit berwarna oranye ke hitaman mulai muncul. Sasuke dan Sakura kembali ke Konoha selepas misi mereka, rasa lega, lelah bercampur. Meraka telah sampai di depan pintu gerbang desa. Dari ke jauhan terlihat seseorang melambaikan tangan menyambut Sakura dan Sasuke pulang.
"Sarada?!" Ucap Sakura lalu Sarada langsung memeluk ibunya. "Kagen-kah?" Sarada hanya mengangguk. "Selama ibumu pergi kamu dititipin di mana?" tanya Sasuke.
"Tempat Bibi Hinata." Jawab Sarada.
"Tidak apa-apa?"(Sasuke)
"Aku baik, Bibi Hinata masakannya enak. Juga Naruto-san dan Himawari sangat baik. Soal Boruto, kami sama sekali tidak bertengkar selama di rumah." Jelas Sarada.
"Baguslah... Mengenai Boruto... Apa yang kau lakukan di sana?" tanya Sasuke melihat Boruto berdiri di atas gerbang desa yang bisa dibilang sangat tinggi.
Boruto turun dari atap gerbang dan menatap Sasuke serius. "Aku ingin menjadi muridmu lagi!" "Itu tidak bisa, kau sudah gagal!-"/ "Aku masih belum gagal. Selama masih ada waktu atau aku masih hidup, kata 'gagal' itu tidak akan ada." jawab Boruto dengan percaya diri.
"Kalau begitu... Coba saja kalahkan aku!" Tantang Sasuke.
"Aku terima. Malam ini pukul 12 datang ke tempat kita biasa latihan. Ayo bertarung." jawab Boruto. "Aku pulang dulu." "Dia sangat percaya diri." Sasuke melirik Sarada seolah bertanya 'apa ada yang terjadi?'. Namun Sarada justru mengalihkan pandangannya.
Skip Time...
Keluarga Uciha telah makan malam dan berbicara hal biasa. Sekarang pukul 10 malam, Sarada sudah mengantuk. Namun sebelum pergi ke kamaranya, Sarada melihat ayahnya memandangi halaman rumah dari pintu kaca. "Papa." panggil Sarada.
"Ada apa?" tanya sasuke.
"Mengenai Boruto... Papa pernah bilang padanya 'Jangan pernah ingin menjadi sepertiku. Jadilah dirimu sendiri!'. Bagaimana kalau Boruto benar-benar menjadi seperti papa secara tidak sengaja?" Jawab Sarada.
"Apa maksudmu?" Sasuke heran.
"Sulit menjelaskannya dari mana. Tapi dia bilang semenjak 6 bulan yang lalu, ia menyadari sesuatu. 'Beginikah dunia Shinobi yang sebenarnya... Orang yang bisa bertahan butuh tujuan bukan sekedar ambisi.' Mungkin dari luar saja tidak kelihatan tapi, Boruto sekarang bukan Boruto yang dulu..." Jelas Sarada.
"Begitu. Perubahan kemampuannya?" Tanya Sasuke.
"Soal itu, dia jadi lebih cerdik. Untuk selanjutnya papa hadapi saja, aku juga baru tahu sedikit." jawab Sarada. "Aku tidur dulu ya." Sarada pergi ke kamar.
'Berubah ya... 6 bulan yang lalu. Seharusnya aku langsung tahu tapi, kenapa aku tidak tahu?' pikir Sasuke.
Skip Time...
Jam 12 malam...
Kriiiikkk-Krriikkk-Kriiikkk...
Suara jangkrik mengiringi langkah Sasuke ke tempat latihan. Gelap dan sepi, Sasuke tidak merasakan keberadaan Boruto. Namun Sasuke mencium aroma yang aneh.
'Apa ini?'
"Oh Sudah sampai... Bagaimana aku tidak terlamabat lagi kan?" Sahut Boruto sambil memegang cangkir.
"Hn. Kau datang lebih awal. Apa yang kau minum?" Tanya Sasuke.
"Ini kopi, mau juga?" Tawar Boruto. Sasuke mengangguk dan ikut duduk di batu samping Boruto. "Kenapa kau butuh kopi?" Tanya Sasuke sambil meminum kopi.
"Remaja usia 13-16 tahun butuh tidur minimal 5 jam sehari. Untuk mencegah kantuk butuh cafein, itu ada di dalam kopi." Jelas Boruto.
'Penjelasannya masuk akal aja. Jadi ini maksudnya...' pikir Sasuke. "Selama aku pergi kau latihan sama siapa?" tanya Sasuke.
"Hmm-Hmm-Hmm... Banyak yang terjadi... Sangat panjang penjelasannya. Tapi, kalau aku membawa seorang pria berpangkat Jounin ke sini, jangan heran ya!" seru Boruto.
"Kau tidak mau cerita..." simpul Sasuke. "Hhhiii...Hhhiii..." Boruto tertawa Khas. 30 menit kemudian...
"Ayo mulai..." Boruto bangkit dari duduknya dan Sasuke ikut.
Boruto menggambil nafas panjang. Mengambil 2 kunai namun tangannya ia sembunyikan.
"Apa yang kau lakukan?"
"Sedikit peregangan... Aku punya sedikit kejutan juga." "Aku mulai..." Sasuke langsung maju dengan Sharingan 3 tomoe sedikit ilusi mengarahkan katananya ke tubuh Boruto.
'Ting!'
Pedang Sasuke ditahan oleh kunai Boruto. Pandangan Sasuke mulai serius sedangkan Boruto mulai menyergai. Boruto menjauh sekaligus melakukan perlawanan jarak dekat. 'Ting!' 'Ting!' 'Ting'
'Kalau paman Sasuke menggunakan Sharingan level 4, aku bisa kalah. Kalau begitu, aku pakai saja ini.' Mengeluarkan gulungan kecil, segel di dalam gulungan itu hilang dan keluar sebuah katana hitam yang pernah Boruto gunakan saat battle melawan Minato. Membuang sarung katana dan memegangnya dengan tangan kanan sementara kunai tangan kiri.
"Sejak kapan kau punya pedang sendiri?" "Ini hadiah 3 minggu yang lalu... Karena aku sudah jujur tentang diriku sekarang ini." jawab Boruto.
"Dari Naruto."
"Bukan! Ini dari Tou-chan. Kalau ingin tahu dari siapa hadapi aku dulu!"
Sasuke maju lalu menaikan level Sharingan jadi ke 4. Kecepatan dan kekuatan Sasuke meningkat, Boruto harus mengimbangi gerakannya. 'Ting!' 'Ting!' 'Ting!' 'Ting!'
Sasuke mundur sambil menyerang. "Katon Gyokakyo non jutsu!"
'Besar sekali! 5X lebih besar dari punya Sarada. Tidak ada pilihan lain.' Boruto memegang katananya dengan dua tangan dan ia majukan ke depan. 'Meskipun ini belum sempurna... Sekali saja!' "Raiton: Senpou Kaiten!" Bola api Sasuke terbelah melewati jutsu pelindung Boruto.
'...Mungkinkah dia sudah bisa mengeluarkan cakra dari seluruh tubuhnya? Dan 2 elemen secara bersamaan... Latihan seperti ini butuh waktu minimal 1 tahun. Tapi 2 minggu, bukan 6 bulan yang lalu... Jangan bilang setelah itu... Boruto dan Hyuga berkerja sama.' Sasuke melihat Boruto nafasnya tersengal-sengal. "Kau sebaiknya berhenti saja." Ucap Sasuke.
"Berisik! Aku ingin menjadi muridmu lagi! Ini tidak akan selesai sebelum, aku menunjukan semua jutsuku!" Boruto dan Sasuke kembali beradu pedang.
Mengambil 4 kunai spesial cabang tiga dan melemparkannya. "Syuriken Kage bunshin non jutsu!" 4 kunai tersebut menjadi banyak. Namun semuanya bisa dihindari Sasuke. Boruto melakukan teknik itu berulang ulang sampai seluruh arena dipenuhi oleh kunai dan Syuriken. "Hah...Hah...Hah..."
"Kau membuang senjatamu sendiri. juga tenagamu, sudah cukup sampai di sini saja..." Sasuke mengalirkan listrik pada pedangnya. Dan langsung menerjang.
"Kena Kau! Kage Bunshin non jutsu!" Tiba-tiba muncul 10 bushin mengelilingi Sasuke sambil membawa Rasengan.
Bbbooommm...!
Sasuke sudah membungkus tubuhnya dengan Susano'o level 2. dan Bushin Boruto menghilang. Sasuke menghantamkan pedang susano'o ke tanah dan pancaran energi menuju ke arah Boruto, Boruto mencoba menahannya kembali dengan Raiton: Senpou Kaiten namun gagal. Boruto terpental kearah pepohonan dan menghantam pohon. Kepala dan punggungnya terasa nyeri, terasa cairan merah mengalir keluar dari mulutnya.
"Kau benar-benar keras kepala Boruto..." Sasuke menonaktifkan Susano'o-nya dan menghampiri Boruto.
"Hii...hiii... Indra kau selalu serius ya!" Sasuke tidak asing dengan nada suara ini. Sasuke langsung bersiaga, ia berbicara dengan sisi buruk Boruto.
"kau juga ada di dalam sana?! Kenapa belum pergi juga?" geram Sasuke karena Zetsu tidak ada habisnya.
Boruto mulai berdiri dan memperlihatkan mata merahnya. "Indra tidak tahu soal ini?" ucap sosok yang merasuki Boruto, suaranya sudah berubah menjadi suara Boruto. "Akan aku jelaskan... Aku yang ada di dalam sini bukan Zetsu yang kalian segel waktu itu. Aku ada di sini karena garis keturunan..."
"Garis keturunan... Uzumaki dan Hyuga? Ashura dan Hamura dengan kata lain... Hagomoro dan Hamura." simpul Sasuke.
"Benar. Kalau 2 keturunan bersatu bisa jadi kekuatan yang besar. Itulah aku! Tapi, bisa jadi aku mengambil jiwa anak ini untukku. Punya tubuh sendiri enak juga kayaknya." Seru sisi buruk itu membuat Sasuke makin marah.
"Tidak akan ku maafkan!" Seru Sasuke.
"Tenang dulu Indra... Aku sebenarnya tidak perlu tubuh sendiri, kalau sudah membuat kontrak dengan 'anak ini'." ucap sosok itu.
"Caranya?"
"Bertarung. 'Anak ini' harus membuktikan kalau dia pantas menjadi tuanku. Selain itu antara cinta dan benci harus seimbang, karena anak ini sudah banyak belajar tentang dunia Shinobi rasa cintanya sudah sangat besar. Tapi, penyesalanya juga sangat besar dan dia menyadari tanggung jawabnya suatu hari nanti." jelas sosok itu.
"Dewasa sebelum waktunya? Seperti Itachi-nii." "Aku tidak ingin memakan jiwa anak ini. Karena itu, jangan buat dia seperti Itachi. Kau kurang memperhatikan matanya, itulah alasannya kau tidak tahu kalau dia berubah." Jelas sosok itu.
"Belakangan ini aku tidak ada waktu untuknya." Balas Sasuke.
"Anak ini bisa trik istimewa Uciha. Tapi, dia sedang bosan. Selain itu Indra juga tidak mengajarkan jutsu selain Chidori. Ditambah sikapmu yang cuek itu plus tidak pernah puas pada pekembangan anak ini... MEMBUATNYA KESAL!". Sosok itu mulai berkoar-koar marah.
"Hn..." "Indra mendengarkan ucapanku tidak sih?!" Sasuke hanya memberi tatapan seolah memperhatikan sebagai respon. "Padahal aku ada informasi soal Kajime..." Sasuke mulai tertarik.
"Apa yang kau ketahui?" Tanya Sasuke.
"Tapi sebagai gantinya! Berikan aku dan 'anak ini' pelatihan yang sepadan dengan harga informasi. Kkhhaa...! Kkhhaaa...!" Sosok itu tertawa Devil.
"Kalau begitu latihannya semakin sulit!" seru Sasuke.
"Boruto bisa!" "Dia bisa mati!" Balas Sasuke.
"Aku dan Boruto akan sering bertukar posisi!" "Kau sangat serius... Aku cuma mau tes." Jelas Sasuke.
"Habisnya, orang yang hidupnya Boruto jarang sekali... Aku ingin punya banyak teman! Tidak peduli harus mati berapa kali pun!" seru sosok itu. 'Yang seperti ini bahaya...' Batin Sasuke. "Apa boleh buat... Aku akan lebih mengawasi kalian berdua." Sasuke mengambil keputusan.
"Arigato... Indra!"
"Hentikan! memanggilku Indra... Seperti musuh."
"Kalau begitu... Sasuke-sama!" / "Tidak!"
"Sasuke-san."/ "seperti baru kenal."
"Sasuke-kun" /"Itu hanya untuk Istriku saja!"
"Sasuke sensei..." / Sasuke diam sejenak. "Tidak cocok."
"Haaahhh... Paman Sasuke..." / "Baru cocok."
"Aaarrgghh! Kenapa nggak dari tadi?" Sasuke tertawa dalam hati melihatnya. "Paman Sasuke... ngeslin..." Suaranya semakin mengecil.
'Lho? Sudah selesai-kah?' Sasuke mencoba menyentuh tubuh Boruto yang masih dalam posisi berdiri dengan wajah menunduk.
Tiba-tiba Boruto langsung menjauh. Boruto memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing, mencoba tetap sadar dan berdiri tegak. Sasuke tahu kesadaran Boruto sudah sepenuhnya kembali, namun butuh waktu agar bisa stabil.
"Sudah saja bertarungnya Boruto. Saraf otakmu bisa terganggu kalau berlebihan." seru Sasuke.
"Tadi Sensei bilang apa?" Boruto minta pengulangan.
"Mulai parah... Hah, aku bilang 'sudah saja bertarunganya. Saraf otakmu bisa terganggu kalau berlebihan'." jelas Sasuke.
"Kalau begitu aku yang menang..." ujar Boruto.
"Bagaimana bisa?" heran Sasuke.
"Pertarungan ini bukan untuk mengalahkan Paman Sasuke. Tapi, mengalahkan rasa ketidakpuasanmu dengan apa yang kucapai. Aku ingin Paman Sasuke... Bukan, Sensei melihat seperti apa aku sebenarnya. Jadi, apa aku gagal? Sensei?" tanya Boruto dengan semangat.
"Tidak, kau berhasil. Aku senang memiliki murid sepertimu. Maaf, aku tidak menyadarinya." "Kalau begitu paggilnya Paman Sasuke atau Sensei?"
"Terserah saja..."
"Sasuke-sensei!"
"Ayo pulang." ajak Sasuke. Boruto mulai pergi membawa tasnya. Sasuke memungut semua senjata yang berserakan dengan cepat. Saat memungut Sasuke menemukan kunai milik Hokage ke 4 sebanyak 4 buah di antara semua kunai dan syuriken. 'Ini... Milik Yondaime. Jadi Katana itu dari Yondaime juga. Apa kalian bertarung?' pikir Sasuke. Sasuke menyusul Boruto pulang ke rumahnya.
Skip Pleace...
Rumah kediaman Uciha... pukul 01.30 malam.
Sasuke membuka pintu dan melepas sepatunya. Tiba-tiba lampu menyala, Sakura tersenyum melihat Sasuke kembali. Sakura melihat Boruto sedikit sempoyongan mulai khawatir bagaimana hasil pertarungannya.
"Okainasai... Anata." Sakura menyambut.
"Tadaima. Tolong obati Boruto dulu, aku ingin mandi lagi." balas Sasuke.
"Baik, ayo Boruto." Boruto mengikuti Sakura ke kamar tamu.
Sakura menggambil kotak obat dan mulai memeriksa keadaan Boruto. Mengoleskan obat di bagian yang sakit atau berdarah, menutupnya dengan kapas dan perban. Terakhir memberi obat pemulih kesehatan.
"Untuk saat ini, istirahatlah selama 2 hari. Jangan latihan dulu. Sebenarnya butuh 4-5 hari untuk pulih."
"Apa boleh buat... Arigato Bibi Sakura." Sakura menggangguk melihat Boruto menurut. "Oyasumi Boruto." Sakura keluar dari kamar "Oyasumi." balas Boruto sebelum Sakura menutup pintu. Ada perasaan lega karena Boruto menurut tidak seperti Naruto yang keras kepala.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Sasuke.
"Lukanya cukup banyak. Pertarungannya benar-benar serius ya?" tanya Sakura.
"Hn, dia punya jutsu baru dan Kage bunshin + Rasengan bersamaan secara cepat." Jawab Sasuke "Lalu tindakanmu?" tanya Sakura "Susano'o level 2..."
"Memangnya Ao Dama Rasengan?"
"Apa kau lupa lemparan Rasengan sebesar bola kelereng saja bisa membuat batang pohon berlubang. Bagaimana jika 10 Rasengan?" tanya Sasuke.
"Benar juga..." setuju Sakura.
"Ayo tidur..." Sakura dan Sasuke akhirnya tidur.
Skip Time
Keesokan harinya
Matahari mulai muncul dari ufuk timur. Suara burung yang berkicau mulai terdengar beserta suara ayam jantan berkokok. Sekarang jam 06.30 belum ada orang yang keluar kamar. Ada yang masih berada di dunia mimpi (Boruto), ada yang setengah bangun (Sakura dan Sasuke), juga ada yang rapi-rapi untuk latihan hari ini (Sarada).
Sarada yang pertama turun sedikit heran melihat suasana yang masih sepi. Biasanya sudah ada bau masakan atau ayahnya yang minum teh, tapi hari ini tidak ada satupun. Sarada melihat ibunya sudah bangun sedikit senang.
"Mama ohayo." sapa Sarada.
"Ohayo, maaf ya Sarada, Mama ke siangan bangunnya." balas Sakura sambil sedikit menguap.
"Tak apa. Konohamaru-sensei baru akan pulang hari ini, latihannya dimulai besok."
"Iya juga ya... Bilang pada Konohamaru kalau Boruto tidak bisa latihan dulu sementara." "Papa benar-benar bertarung dengannya?" tanya Sarada.
"Sarada tidak percaya, pergi ke tempat latihan Uciha dan lihat saja bagaimana bekasnya." ucap Sakura sambil memasak.
"Aku percaya kok."
"Sarada tolong bagunkan Boruto." "Kenapa Boruto bisa di sini? Dan juga kenapa aku?"
"Boruto terluka lumayan parah. Tidak masalah bukan membangunkan dia, kalau dia macam-macam tinggal di pukul."
"Baiklah." Sarada pasrah.
Sarada membuka pintu kamar tamu. Ia melihat Boruto masih tidur dengan sedikit mendengkur selimut masih membalut tubuhnya rapat. "Boruto... Bangunlah ini sudah pagi! Ayo sarapan!" "Emm... Tunggu sebentar lagi... Aku butuh tidur 5 jam."
"Kau tidur jam berapa?"
"2.00 pagi."
"Aku beri waktu 30 menit. Awas kalau tidak bangun."
Sarada memutuskan untuk minum teh terlebih dahulu. Meninggalkan Boruto yang masih menutup matanya. Boruto tidak bisa kembali tidur begitu diajak bicara, Ia langsung mengambil handuk dan pakaian ganti di tasnya. Beberapa menit kemudian, Boruto keluar dari kamar mandi. Ia sudah mengenakan celana training hitamnya handuk di atas kepalanya, tubuhnya bertelanjang dada dengan perban yang melilit bagian perut, dan tangan. 'Kelihatannya aku sudah tidak berdarah lagi di perutku. Tapi, biarkan saja nanti bibi Sakura marah.' 'Ceklek...!' Tiba-tiba pintu kamar dibuka, wajah Sarada langsung memerah sepenuhnya. Boruto yang masih tidak pakai kaus atau jaket, hanya berharap Sarada tidak berteriak.
"Aaaakkkhhh...Khm-" Boruto melempari wajah Sarada dengan bantal.
"Jangan berisik!" Boruto langsung menggunakan kaos berwarna hitam dan jaket hitamnya.
"Boruto!" Sarada melihat Boruto tidak membalas hanya ber-dehem "Ayo sarapan."
Boruto menyusul ke bawah dan melihat bibi Sakura dan Sasuke menunggu untuk sarapan bersama.
"Itadakimasu." Boruto mengambil telor ceplok setelah bibi Sakura. Sakura yang melihat ekspresi Sarada hanya mengangkat bahu dan mengabaikannya. "Uhhukk-uhhuukk! Maaf, aku tidak tahu kalau telur ini panas." Boruto menutup mulutnya menahan rasa telur yang amat asin.
"Yah kelihatannya itu terlalu banyak minyak, aku lupa meniriskannya." jelas Sakura. Boruto melanjutkan makan meskipun itu membuat lidahnya terluka. Berpura-pura tidak merasa aneh dengan telur ceplok tersebut.
Waktu sarapan telah berakhir. Boruto pamit pulang...
"Latihannya lain kali saja ya, Boruto. Sekarang aku sedang ada urusan Naruto." ucap Sasuke.
"Tidak apa... Ngomong-ngomong, misimu selama 3 minggu lebih ke mana?" tanya Boruto.
"Amegakure." jawab Sasuke.
"Begitu, aku akan pulang..." sebelum melangkah pergi Boruto berbalik menatap Sasuke. "Sebenarnya ada hal ingin kusampaikan. Jika aku lupa pergi latihan denganmu, cari saja di Mision Hyuga, atau perpustakaan atau tempat latihan yang ada di bukit." "Di bukit, di mana tepatnya?" tanya Sasuke.
"Tanya saja pada Sarada, dia tahu. Sampai jumpa..." Boruto pergi dari pekarangan rumah Uciha.
Boruto mengurungkan niatnya untuk pulang dan memutuskan untuk mampir ke perpustakaan. Membuka pintu lalu menyapa pustakawan yang selalu melayani-nya. Menghampiri 1 deret rak buku besar yang berisi dunia Shinobi, memilah milah buku untuk refrensi Ujian Chunin sebulan lagi. Sebelum menghampiri rak buku tentang ilmu pengetahuan, Boruto sedikit penasaran mengenai desa yag menjadi tujuan misi Sasuke. Mencari buku berisi informasi tentang Amegakure, ada sekitar 5 buku, membaca judul per-Bab sekilas lalu mengambil 2 buku yang paling lengkap. Setelah selesai dengan buku Ninja, Boruto mengambil buku pengetahuan : IPA dan Matematika, buku yang ia pinjam kali ini ada 7. 5 buku ninja, 2 buku pengetahuan.
Boruto menumpuk buku-buku yang ia akan pinjam di atas meja pustakawan. Sang pustakawan laki-laki itu tersenyum melihat pelangan setia perpustakaannya selama 1/2 tahun terakhir. Memberikan cap pada masing-masing buku dan memberi tanggal pada lembar buku belakang.
"Kelihatannya Ujian Chunin kali ini akan sangat seru... Kau benar-benar belajar dengan giat." ucap sang pustakawan lalu menerahkan buku-buku tersebut.
"Benar, aku sedikit khawatir. Ada rumor katanya standar ujian kali ini menggunakan metode lama, meskipun tidak ada bunuh-bunuhan, tapi setiap anggota tim akan mengerjakan soal sendiri-sendiri." jawab Boruto.
"Jadi begitu. Tempatnya di Sunagakure, padang pasir sangat panas bagi orang-orang yang tidak terbiasa. Selain itu, ada hewan beracun, pasir hisap, dan badai pasir. Semua rintangan benar-benar lengkap kali ini." ucap pustakawan.
"Begitulah, aku pulang dulu. Dah..." Boruto pergi dari perpustakaan.
Sementara itu...
Sasuke berada di kantor hokage membahas tentang informasi rahasia yang diberikan Yukiko dan Megumi pada Naruto dan Shikamaru.
"Ini semakin merepotkan... Kenapa tidak lakukan semenjak awal Naruto memerintah atau Kakashi-sensei?" tanya Shikamaru disertai keluhan.
"Aku tidak memperkirakan akan seperti ini... Tebbayo! Selain itu... Semua dokumen ini tidak ada habisnya." jawab Naruto.
"Pantas saja Boruto suka keluyuran tanpa latihan selama aku pergi..." ucap Sasuke.
"Diam kau Sasuke! Jangan sangkut pautkan Boruto dengan masalah ini." balas Naruto.
"Ini ada hubungannya..." sambung Sasuke dengan raut wajah serius.
"Apa maksudmu?" tanya Shikamaru.
"Sekarang aku berfikir kalau Boruto bisa menjadi rencana cadangan untuk menyelesaikan konflik ini. Tapi, setelah kupikir kembali. Boruto bisa menjadi senjata pamungkas kita untuk mempertahankan Konoha." jelas Sasuke.
"Jadi bisa jelaskan kenapa kau berpikir begitu? Dan apa rencana-mu?" Shikamaru memincingkan matanya.
To be Continue...
Review Please...
