LeChi's project proudly presents
.
.
.
CAFEIN for AFED 2016 : Kotak Drabble
.
.
.
Kuroko no Basuke (c) Fujimaki Tadatoshi
Kuroko no Basket milik Fujimaki Tadatoshi. Kami tidak mengeruk keuntungan materil atau komersil sama sekali dalam membuat fanfiksi bersama ini.
Kotak Drabble:
.
.
Hi Aidi
.
.
.
Warning: OOC, typo, AU, shounen-ai/Boys Love.
''Kamu, sini jalan denganku.''
Itu kalimat perintah yang terlontar begitu saja dan begitu santainya dari mulut seorang presiden siswa Teikou Chugakou. Daru mulut yang berbisa dan penuh kelicikan itu.
Furihata berjengit, menunduk makin dalam lalu memekik ketika tubuhnya ditarik dan dibuat jalan sejajar dengan Akashi Seijuurou.
Lima hari setelah penembakan-yang sebenarnya pemaksaan-sepihak dari seorang Akashi Seijuurou. Maka, mulai hari itu pulalah hidup Furihata Kouki, gadis yang selama ini menjalani hidupnya secara biasa saja...kini menghadapi hidup 180 derajat terbalik dari sebelumnya.
Katakan saja dirinya memang not common people meski pada kenyataannya fisiknya dan hidupnya biasa saja. Tapi berpikir menjadi gadisnya seorang presiden siswa, kapten basket, pemain shogi nasional, anaknya konglomerat-satu-satunya pula-ditambah dengan wajah adonisnya. Maka Furihata akan mengatakan dengan sangat keras tidak.
Iya, pemuda itu memang terlalu sempurna sampai tidak ada cela jika dikurangi aura intimidasinya yang membuat orang melumer seperti jelly dan jangan lupakan intimidasi dari para fansnya yang, YA TUHAN ITU BENAR PARA FANGIRLS HANYA DARI SATU SEKOLAH?!
Bagaimana Furihata mau menjalaninya, mimpi buruk itu terlalu mengerikan.
Tapi karena pernyataan cintanya pada Furihata sendiri lalu di depan publik kemudian membuat apa yang dihindarinya menjadi kenyataan.
Gadis itu ada di sana, dengan surai lepek karena keringat habis lari-lari dan juga ketakutan setengah mati. Ia hanya bisa memandang takut gadis-gadis kelaparan samsak tinju yang sepertinya memandangnya dengan terlalu berminat. Dan kejadian seperti di dorama pun terjadi.
''Kamu ya, tampang begini mendekati Akashi-sama.''
''Kamu terlalu bisa untuk dia.''
''Kamu!''
Kalau bisa Furihata mau kok menyerahkan cinta Akashi padanya, sumpah bukan dia yang memohon jadi pacar Akashi disini!
Tapi hal itu malah membuat mereka semakin menjadi, pandangan berlinangan air matanya malah equivalen dengan amukan yang membumbung tinggi. Sebelum itu terjadi ada sebuah suara menyapa.
''Kalian sedang apa?''
Mulut-mulut terbuka, mata berbinar cerah dan pipi merona. Skakmat terpesona.
''Ka-kaichou.''
Pun suara mendadak tergagap, Furihata merasa mereka menjadi mirip dengannya walau berbeda dalam beberapa alasan.
''Ya. Kalian sedang apa?''
Pertanyaan lagi, mata berkilat. Entah kenapa Furihata merasa selamat, Akashi akan menyelamatkannya kan?
''A-ah etto. Sedang berbincang dengan Furihata-chan.''
Keringat dingin, Furihata rasanya ingin menaikkan bibir tapi itu terkesan jahat.
''Ah, bagus. Baik-baiklah dengannya kalau begitu.''
Apa?! Akashi hanya bilang begitu? Tidak menolongnya dan jadi pangeran berkuda putih? Air mata kembali menganak sungai, Akashi jahat. Bukankah dia mau jadi pacarku?
''Kalau begitu.'' Matanya kembali mengerling, jenaka juga menantang.'' Aku pergi dulu.''
Dan dia serius pergi? Hanya begini? Furihata tak pernah menyangka tapi dia tidak mau berada di sini.
Satu langkah.
Furihata ketar-ketir, kesempatannya hanya satu.
''Se-sei.''
Langkah terhenti padahal tadi ia yakin suara sepelan semut. Dan ia mendengar langkah mendekat, tangannya digenggam.
''Ya, Kouki.''
Kouki hanya diam, tak menjawab karena terlalu terkejut. Tubuhnya ditarik mendekatpun ia tidak tahu merespon apa.
''Ah, maaf. Sepertinya pacarku ingin jalan berdua. Tidak masalah kan?''
Pelukannya mengerat, senyum semanis fruktosa yang menyembunyikan siksaan luar biasa. Dan tubuhnya dibawa menjauh masih dalam dekapan.
''Shhh, sudah tidak apa-apa.''
Furihata terisak, meremas serat kain kemeja abu-abu yang kini basah akan air matanya.
''Ja-jahat.''
''Kenapa aku jahat?''
Furihata merengut, walau tahu tidak akan kelihatan.
''Ka-karena tidak menolongku.''
''Kau tidak minta tolong.''
''Ta-tapi-
''Hmm, ternyata diam-diam ada orang yang mengharapkanku.''
''A-aku tidak-
''Aku mau lho melindungimu, asalkan dengan syarat.''
Kouki mendongak, tadinya dia hampir berharap dan lupa jika Akashi itu licik, sangat licik rajanya licik.
''Pilih mana, dikejar-kejar mereka atau,'' Seringai lebar tercetak, dan Kouki merasa terjebak-
''Berkencan denganku?''
-dan tidak bisa keluar lagi.
.
~Fin~
Special thanks: Hi Aidi.
Readers and Reviewers, mind to give review? ;)
