Surrender To Love (REMAKE)

KaiSoo Version

.

.

Original Story by. R.K Tirta

.

.

Cast :

Jongin

Kyungsoo (GS)

Other Cast (Temukan sendiri ^^)

.

.

Genre :

Romance, Mature

.

.

Bab 13

.

.++

Angin berdesir lirih, membawa serta daun-daun sewarna senja yang masih saja berguguran disekelilingnya, berserakan menutup tanah di bawah kaki Kyungsoo. Angin dingin di awal November, di musim gugur yang indah di Tuscany.

Wanita itu memejamkan matanya, menikmati aroma daun anggur yang mulai mengering, angin berhembus dari bukit, di mana perkebunan anggur keluarga Do membentang sejauh lebih dari 400 hektar. Lahan beserta pabrik pengolahan anggur dan gudang anggur bawah tanah, berada pula di dalamnya.

Rumahnya berada di puncak yang lebih tinggi, bergaya arsitektur lama namun anggun dan kokoh. Sebuah rumah induk dengan banyak kamar di dalamnya. Di sekelilingnya berjajar beberapa bangunan terpisah, menyerupai paviliun, yang difungsikan sebagai tempat tinggal pegawai setia keluarga Do.

Mereka adalah bagian tak terpisahkan dari tempat ini, dengan alasan itulah Kyungsoo merasa tenang meninggalkan ibunya di sini. Setidaknya ia tahu, ibunya dikelilingi orang-orang yang bekerja dengan hati dan cinta kepada keluarganya.

Sebuah bangunan panjang dibangun tak jauh dari rumah. Itu adalah sebuah istal dengan beberapa kuda. Selain sebagai hewan peliharaan, kuda berfungsi sebagai alat transportasi di daerah mereka.

Keluarga Do pada sepuluh tahun yang lalu, telah membuka perkebunan anggur mereka, menjadi salah satu agrowisata yang cukup diminati di daerahnya.

Kyungsoo tersenyum sendu di atas kursi goyang kayu di beranda rumahnya, senja akan segera menjelang. Inilah saat-saat pemandangan alam begitu indah di perkebunan miliknya. Hatinya begitu tenang, merasa optimis bahwa ia dan keluarganya akan mampu memasarkan hasil anggur terbaik mereka tahun ini.

Ia membelai permukaan perutnya yang mulai besar dan menonjol. Bayinya berkedut tenang di dalam buaian rahimnya. Tak lama berselang sebuah tangan besar dan kokoh, menyentuh bahunya. Chanyeol, tiba-tiba saja telah berada dibelakang Kyungsoo, dan memijat bahunya lembut. Menghilangkan kepenatan setelah sehari penuh mendampingi Ibunya di pabrik.

"Hmm...Nikmat sekali Chan." Desahnya, memejamkan mata, semakin menikmati pijatan Chanyeol, yang kini tak hanya di bahu, namun merambah ke tulang belikatnya.

"Basement anggur bawah tanah kita benar-benar overload, dan hanya ada dua pilihan. Menjual sebagian anggur tua, atau membangun basement baru." Kata Chanyeol memulai percakapan.

Kyungsoo termenung, berpikir. "Aku akan membicarakan itu pada Mama."

"Dan kuharap itu tidak menunggu terlalu lama." Chanyeol berhenti dengan kegiatan memijatnya. "Angin berhembus cukup kencang, sebaiknya kau segera masuk ke rumah." Nasehatnya pada Kyungsoo.

"Ya, sebentar lagi. Aku sedang ingin di sini." Jawab Kyungsoo berkeras untuk tetap tinggal. Pria itu mengangkat bahu pasrah, ia bahkan tidak pernah bisa melawan sifat keras kepala Kyungsoo, dulu ataupun sekarang.

"Baiklah jika itu maumu." Putusnya mengalah. Menyapukan kecupan singkat di puncak kepala Kyungsoo.

Untuk beberapa saat Kyungsoo masih belum beranjak dari tempatnya semula. Tangannya terulur untuk meraih keranjang kecil berisi jarum dan benang rajut yang tergeletak di bawah kakinya. Kyungsoo berencana membuat beberapa pasang sepatu mungil buatan tangannya sendiri, untuk calon bayinya nanti.

Ia meraba ke bagian dasar keranjang, mengeluarkan sebuah benda berkilau dari dalamnya. Sebuah cincin berlian dengan bentuknya yang rumit, kini berada di telapak tangannya. Lagi-lagi tak dapat menghindar dari perasaan sakit dan teriris, setiap kali Kyungsoo memandang benda itu.

Ulasan peristiwa menyakitkan yang ia saksikan dengan mata dan kepalanya sendiri, perlahan kembali menghampiri.

"Aku sudah di sini." Sepotong percakapan yang sempat Kyungsoo dengar, antara wanita itu kepada seseorang di telepon. kemudian wanita itu kembali melangkah anggun, berlalu dari hadapan Kyungsoo, menuju pintu kamar Jongin. Kyungsoo sempat mengira wanita itu mungkin salah pintu. Dugaannya ternyata keliru. Jongin keluar, membukakan pintu untuk wanita itu, dan apa yang Kyungsoo saksikan selanjutnya, membuat bumi di bawah kakinya mendadak runtuh, membawa serta dirinya ke dalam ruang hampa yang menyesakkan dada. Menyisakan trauma mendalam bagi hati dan jiwanya.

Apakah saat ini Jongin masih mengingatnya? Sepertinya tidak. Kyungsoo tak lebih dari sebaris nama dari sederet wanita yang pernah menjadi penghuni tempat tidurnya.

Setelah semua peristiwa menyakitkan itu, hanya raganya yang berjalan menuntaskan semua bagian yang terburai dari hidupnya, Membawa Kyungsoo kembali ke Tuscany, bangkit dari keterpurukan, Kyungsoo mulai sadar air matanya terlalu berharga untuk terbuang percuma, terlebih hanya untuk menangisi pria brengsek yang sama sekali tak pernah peduli pada perasaannya.

Sayangnya, pada kehidupannya kini, yang begitu damai ini, Kyungsoo masih tak memungkiri bahwa dirinya belum sepenuhnya mampu menghalau kenangan pahit, berikut pria itu dari benak dan hatinya. Kemudian Setetes air mata mulai menetes di sudut mata Kyungsoo.

.

.

.++

Sementara itu di tempat lain, seorang pria dan wanita tengah berpeluk mesra, mengelilingi setiap sudut ruang di dalam apartment baru mereka di pusat Kota. Apartment impian Luhan, hasil kerja keras Sehun. Benar-benar hasil jerih payahnya tanpa campur tangan ALK, ataupun nama besar pamannya.

Sehun berhasil mendapatkan proyek pembangunan Hotel di Selatan London. Walaupun tidak terlalu besar, tapi cukuplah berarti bagi beberapa orang muda seperti Sehun dan kawan-kawannya.

"Aku bangga padamu. Begitupula keluargamu jika mereka mengetahui keberhasilanmu ini." Bisik Luhan di lekuk leher Sehun, masih merasa takjub, pada kejutan istimewa yang ia terima dari kekasihnya.

"Ini mungkin, tak ada artinya bagi Jongin Tua." Keluhnya.

"Mendengar cerita Kyungsoo, kukira dia bukan pria seperti itu. Walaupun keras, tapi sesungguhnya Jongin adalah pria yang baik. Ingatlah Tris, hanya Jongin yang kau miliki, mengapa kau tak mencoba berdamai dengannya?" Sehun tersenyum samar. Bukannya menjawab, ia malah balik bertanya.

"Kyungsoo, di mana saudarimu itu kini? Apakah mereka masih bersama?" Tanya Sehun seraya merengkuh bahu Luhan untuk duduk bersamanya di salah satu sofa malas yang ada di sana.

"Um.. Mereka sudah berakhir. Mungkin, yang aku tahu Kyungsoo berhenti dari pekerjaannya, dan kembali ke Italia. Sepertinya ia tengah menghindar dari sesuatu, tapi entahlah, itu hanya prasangkaku. Atau mungkin memang karena Ibu yang terus-menerus meminta Kyungsoo untuk pulang."

"Kukira Jongin memang benar-benar tertarik pada adikmu. Karena yang aku tahu, Jongin tak pernah cukup dekat dengan wanita mana pun seumur hidupnya. Jongin selalu memandang cinta sebagai bentuk perbudakan manusia. Hahaha...!" Sehun terbahak-bahak pada kalimat terakhir yang dibuatnya, dan itu sebenarnya berlebihan. Namun, tetap saja membuat Luhan ikut tertawa mendengar kata kiasan Sehun dalam menggambarkan pamannya tersebut.

"Mmm...Ngomong- ngomong, kuharap kau tak mengatakan apapun pada Jongin, tentang keberadaan Kyungsoo."

.

.

.++

Beberapa bulan, dalam pencarian buta, dan tak menemukan hasil. Jongin mulai tak yakin Kyungsoo masih berada di London. Informasi terakhir masih sama, Kyungsoo belum berhenti dari firma hukum tempat ia bekerja, tapi wanita itu juga tak pernah menampakkan batang hidungnya di sana.

Berbanding terbalik dari kehidupan percintaannya yang carut-marut.

Cinta? Itu terdengar sedikit asing di telinganya.

Bisnisnya berkembang pesat seperti yang dia harapkan. Tak terkecuali kabar baik tentang Sehun "The Trouble Maker? Kim. Keponakannya itu tampaknya telah mulai berjalan di lorong yang benar.

Bahkan diam-diam membangun bisnisnya sendiri bersama beberapa orang kawannya. Sehun mulai terjun dibidang yang sama dengan dua pendahulunya. Walaupun Sehun juga belum menyatakan berhenti dari posisinya di ALK, Sehun memang masih memiliki sebagian kecil saham Ibunya di perusahaan.

Jongin merasa sangat kejam, karena sempat mencurigai Sehun dan juga Kangin beberpa waktu yang lalu. Penyesalan selalu datang dibelakang bukan? Tapi tak ada salahnya memulai segalanya dari awal, tak ada kata terlambat untuk meminta maaf dan memperbaikinya.

Jongin menekan beberapa tuts pada pesawat teleponnya, mencoba menghubungi Sehun. Terakhir mereka berkomunikasi adalah beberapa bulan yang lalu, ketika Kyungsoo masih bersamanya.

"Hai Kid..." Sapanya, canggung.

"Jongin?" Tanya Sehun tak yakin, bahkan perlu melihat kembali pada layar ponselnya, memastikan sederet nomor, yang ternyata adalah benar, salah satu nomor telepon di kantor Jongin.

"Apa kabarmu?"

"Oh. Aku baik. Bagaimana denganmu?" Tanya Sehun kembali.

"Aku juga baik. Terima kasih." Hening. "Kangin merindukakanmu. Dia terus menanyakan kabarmu." Dustanya, mencari alasan.

"Oh ya? Padahal baru beberapa jam yang lalu aku menelponnya. Dia malah menceritakan tentang kegalauanmu belakangan ini." Jawab Sehun santai.

Skak Mat! Jongin terdiam, menyadari telah salah memilih kata bualan kepada Sehun. Mengapa begitu sulit mengatakan jika sebenarnya ia peduli pada Sehun. Pada apapun yang pria kecil-nya itu lakukan.

"Sedikit masalah perusahaan. Kau mungkin juga mendengar hal buruk yang aku katakan pada Kangin. Maaf tentang hal itu, aku hanya waspada, siapapun bisa menjadi musuh di saat kita lengah."

"Satu pelajaran bisnis dari maha guru. Oke, aku akan mengingat itu." Olok Sehun, namun dalam hati membenarkan ucapan pamannya.

"Ngomomg-ngomomg aku belum mengucapkan selamat untuk keberhasilanmu. Selamat Kid." Hening. "Aku bangga padamu." Akhirnya sebuah pujian keluar dari mulut Jongin.

Sesuatu yang teramat berharga bagi Sehun. Bagai api yang menyulut semangatnya, hanya itu yang ia butuhkan dari sosok yang diam-diam sangat ia kagumi ini. Sebuah pengakuan. Hanya itu.

"Terima kasih Paman." Jawab Sehun pelan, hampir tak terdengar. Cukup lama mereka saling membisu, menikmati setiap jengkal waktu yang bergerak. Sungguh tak menyangka, momen sederhana ini, terasa begitu istimewa.

"Bagaimana kabar kekasihmu, Luhan? Ku dengar kalian masih bersama." Tanya Jongin lagi, lebih santai. Dan bagi Sehun itu sebuah pertanda, bahwa Jongin sebenarnya telah merestui hubungannya dengan Luhan.

"Kami baik, dan sepertinya Luhan tegah mengandung cucumu." Sebuah pengakuan lagi, dan itu memang sedikit mengejutkan Jongin. Cukup lama Jongin tak menjawab, dan Sehun mulai sedikit takut kalau-kalau Jongin tak akan menyukai berita tersebut.

"Wow! Jujur itu sedikit mengejutkanku. Aku hanya berharap kalian berdua telah siap menanggung semua konsekuensinya. Anak adalah sebuah tanggung jawab yang besar Trist." Tuturnya, menguliahi.

"Ya. Aku tahu. Aku akan melakukan apapun yang terbaik untuk hidupku dan anakku kelak, ini janji seorang Kim." Jawab Sehun penuh tekad. Kontak kalimat itu mengurai seringai lebar Jongin di seberang sana. Ia merasa sangat senang sekaligus yakin bahwa Sehun memang telah berubah.

"Kadang kala aku merasa kau bahkan lebih tua dan berpengalaman daripadaku untuk urusan hati dan cinta." Jongin terkekeh. Lebih terdengar seperti sedang menertawakan diri sendiri.

"Kau hanya perlu mencoba Jongin. Oh ya, bagaimana dengan Kyungsoo? Dari cerita Luhan sepertinya Kyungsoo tertarik padamu. Dan menurutku kalian cocok. Kyungsoo wanita yang baik." Percakapan itu terdengar ringan, namun sebaliknya terasa menghantam dada Jongin dengan keras. Mengingat lagi semua kesalahan yang telah ia perbuat kepada Kyungsoo.

"Yeah. Kyungsoo adalah wanita yang baik, dan aku adalah pria yang buruk, aku juga menyakitinya. Tapi, tenang saja aku telah menerima karmaku."

"Maksudmu?" Tanya Sehun tak mengerti.

"Kau tahu, di saat aku mulai terbiasa dengannya, Kyungsoo meninggalkan aku. Kyungsoo benar-benar telah berlalu pergi dari kehidupanku."

Sehun bahkan tertegun mendengar penuturan Jongin. Betapa Jongin terdengar terluka ketika menceritakan hal itu kepadanya. Ada kepahitan yang tak dapat ia sembunyikan di dalam suaranya.

"Kau serius tentang itu Jongin?" Jongin tak menjawab, hanya desah nafas putus asa yang terdengar. Itu saja sudah cukup menggambarkan apa yang sedang Jongin rasakan. "Dia kembali ke Italia." Ucap Sehun singkat, membagi secuil informasi penting untuk Jongin, mematahkan semua kerja keras orang-orang Jongin di lapangan.

"Sial! Tentu saja! Dia berasal dari sana bukan? Bahkan Kyungsoo pernah mengatakan padaku ingin membantu ibunya mengurus perkebunan keluarganya. Kenapa tak terpikir sedikitpun olehku? Aku bahkan telah mengaduk seisi London untuk menemukannya, kukira dia hanya sedang bersembunyi dariku, karena hingga kini, Kyungsoo belum berhenti dari pekerjaannya. Sial! Aku telah membuang banyak waktu Trist." Jongin mengumpat kebodohannya selama ini.

"Bukankah beberapa bulan terakhir kau pergi ke Volterra?" Tambah Sehun, ia telah mendengar kabar itu kabar dari Kangin, tentang Jongin yang berencana membeli sebidang tanah di daerah Volterra, Italia setelah kunjungannya ke makam Yoona, Ibunya.

Insting bisnis yang menggerakkannya, ataukah Jongin memang sengaja menempatkan salah satu properti dan investasinya di daerah itu, demi mengenang orang tua Sehun. Entahlah, yang jelas Sehun sempat merasa terharu ketika mendengar kabar tersebut.

"Dapatkah kau membantuku mendapatkan informasi alamat lengkap rumah mereka, kepada Luhan?"

"Kurasa kau tidak bisa mengharapkanku mengenai hal ini Jongin. Besar kemungkinan Kyungsoo meminta Luhan untuk merahasiakan hal ini. Terlebih darimu."

"Kukira juga begitu. Baiklah itu mungkin juga tak terlalu sulit untukku. Thanks Kid, sampaikan salamku juga untuk Luhan."

Semangat Jongin tak terbendung, betapa senang hatinya, sampai-sampai hal itu membuat dirinya tertegun cukup lama, menopang kepala dengan rambut kusut di antara jari yang terbuka. Kemudian meraih interkom cepat. Setelah kesadarannya kembali pulih.

"Jongdae, kapan jadwal kunjunganku ke Volterra?"

"Itu minggu depan."

"Arrghh...Terlalu lama. Pesan Tiket untukku malam ini."

"Kenapa tiba-tiba? Besok kau terjadwal mengunjungi hotel di Bournemouth." Protes Jongdae, terkejut pada perubahan jadwal Jongin yang tiba-tiba.

"Jangan banyak tanya bodoh! Hubungi Sehun untuk menggantikan tugasku. Dan satu lagi dapatkan semua alamat keluarga dengan nama belakang Do, yang tinggal di Italia, terutama pemilik perkebunan anggur."

"Hah? Kau serius?"

"Bastard. Lakukan saja!"

.

.

.++

Secangkir Espresso dan setangkup Cornetto dengan olesan krim coklat di dalamnya bahkan tak mampu menggugah selera makannya yang bertambah buruk beberapa bulan belakangan ini.

Bahkan aroma pastry lezat itu mendadak membuatnya merasa penuh di perut, kenyang hanya dengan mencium aromanya, dan itu semakin buruk dengan adanya selembar kertas fax, yang di kirim Jongdae pagi ini. Sederet nama Do terpampang di atas kertas, dan beberapa puluh nama Do sebagai pemilik perkebunan anggur di Italia.

Itu akan menjadi pekerjaan yang sulit untuknya. Butuh waktu lama untuk menelusuri setiap perkebunan dengan pemilik bermarga Do. Seseorang harus melakukan itu untuknya, apapun caranya, cepat ataupun lambat Jongin akan bersabar menunggu kali ini.

Ponselnya bergetar.

Jongdae melakukan sambungan Internasioanal sepagi ini. Semoga itu menyangkut hal yang penting. Jika tidak, Arrrghh...Awas saja!

"Ada apa?"

"Kau masih di Hotel tempat kau menginap?" Tanya Jongdae langsung, terdengar serius.

"Ya. Ada apa?" Jongin mengulang pertanyaannya lagi.

"Bisakah kau pergi segera ke Volterra siang ini? Ada hal yang penting untuk kau tangani disana."

"Apa lagi? Jangan hari ini." Tolak Jongin.

"Ayolah...Tak akan lama jika kau yang menanganinya. Urusan Cinta masih bisa menunggu, Boy, percaya padaku." Dia mulai lagi dengan gayanya yang sok tua. Gerutu Jongin di dalam hati.

"Jangan berlagak menasehatiku. Brengsek!"

Jongdae terkekeh. "Tidak. Ini memang penting, aku mendengar dari orang kita di sana, bahwa sekelompok warga berencana melakukan demonstrasi, menolak pembangunan hotel kita."

"Apa alasan mereka?" Tanya Jongin semakin gusar.

"Kabarnya soal air sungai yang tiba-tiba tak dapat mengalir dengan baik ke desa mereka. Mungkin kau perlu menganalisa ulang tata letak pada design kita. Gorong-gorong yang kita bangun sebagai pembuangan limbah hotel. Itu bisa saja mencemari sungai dan tidak ramah lingkungan Jongin." Tutur Jongdae, memberi gambaran pada sahabatnya.

"Kita telah membuat sebuah sistem pengolahan limbah yang sesuai standar ramah lingkungan. Tak ada yang salah. Ku rasa bukan itu penyebabnya." Gumam Jongin, mencoba menganalisa.

"Dua buah sumur sumur Bor Artesis dengan kedalaman lebih dari seratus lima puluh meter telah kita buat beberapa minggu yang lalu. Dan itu jaraknya memang hanya beberapa puluh meter dari sungai utama yang mengaliri desa. Menurutku. Kemungkinan sebagian air mengalir turun ke sumur kita karena kedalaman sumur jauh lebih rendah. Akibatnya aliran sungai menjadi semakin kecil, terlebih di musim seperti ini. Aku akan menyelesaikannya."

.

.

.++

Jongin mengemudikan sendiri SUV sewaannya dari hotel tempatnya menginap di Kota Pisa – Tuscany, menuju Volterra, yang berjarak kurang lebih empat puluh empat km. Tak sampai satu jam perjalanan mobil, dan setelah belokan tajam ke arah kanan di Via di Porta Selci, Jongin akhirnya melihat papan slogan selamat datang di Volterra.

Ia melintasi bukit rendah, dan jalanan pedesaan, barulah ia sampai di hotel barunya yang masih dalam proses menuju finishing. Jongin sedikit terobsesi pada hasil akhir hotelnya kali ini. Ia bahkan telah memberlakukan sistem shift siang dan malam. Menyewa tenaga-tenaga yang berkompeten dibidangnya. Berharap pengerjaan hotel tersebut rampung dengan segera, sesuai harapannya.

"Volterra." Gumam Jongin. Merasa ada ikatan tersendiri antara dirinya dan kota itu. Apakah karena di daerah perbukitan itulah Yoona dan suaminya di makamkan? Seperti pesan terakhir pada surat wasiat Yoona. Ia tahu saudarinya telah jatuh cinta pada tempat itu, seperti juga dirinya. Yang langsung terpikat ingin memiliki sebuah properti ataupun sebentuk investasi di tempat ini. Sesungguhnya, itu adalah ambisinya nyaris sejak dua puluh tahun yang lalu. Dan baru terwujud pertengahan tahun kemarin.

Volterra terletak di tengah-tengah wilayah bukit dan lembah yang merupakan bukti nyata keindahan alam Tuscany. Dikelilingi oleh pemandangan kebun-kebun anggur, ladang, pohon-pohon Cedar dan hutan Traktat.

Volterra adalah surga bagi siap saja yang memandangnya. Membuat siapapun betah menghabiskan waktu di kota kecil perbukitan tersebut, dan melupakan sejenak segala penat setelah beraktivitas di tempat yang sibuk.

Hampir tengah hari ketika Jongin menjejakkan kakinya di area hotel. Sedikit Muram menyaksikan banyaknya pendemo yang tampaknya telah menunggu dirinya.

Emosinya mulai tersulut oleh teriakan-teriakan kasar yang di tujukkan kepadanya. Mereka menggunakan bahasa keseharian mereka, tapi buruknya Jongin cukup menguasai Bahasa Itali. Seandainya tidak, Jongin tak perlu merasa tersinggung seperti ini.

Desmon, pelaksana proyeknya tergopoh mendampingi langkah Jongin menuju tangga di bagian depan Hotel. Di sanalah ia akan bicara kepada mereka semua. Dengan posisi yang lebih tinggi ornag-orang itu akan lebih memperhatikan apa yang Jongin ucapkan.

"Jujur, saya merasa malu karena kita harus mengalami peristiwa seperti ini saudaraku sekalian." Ucap Jongin membuka pembicaraan. "Banyak cara yang lebih terhormat dari pada berteriak dan memaki. Datang dan bicaralah baik-baik. Kami pasti mendengarkan apa yang kalian inginkan? Dan tolong tunjukkan dimana letak kesalahan kami?" Papar Jongin, berusaha memberi pengertian pada segenap warga yang kini hanya berdengung saling membisisk satu sama lain, tapi setidaknya, mereka sudah berhenti berteriak.

Tampaknya aura dominasi dan karisma Jongin mampu mempengaruhi banyak kepala yang ada di sana. Jongin mengedarkan pandangnya. Menatap setiap wajah asing dihadapannya dengan kedua mata kelamnya yang mampu membuat siapa saja menunduk terintimidasi.

Hingga akhirnya ketika matanya menangkap sepasang mata hazel, dengan rambut sewarna tembaga yang tergulung longgar di atas kepala seorang wanita, ia hanya mampu ternganga.

Sosok itu terlihat lelah dan tengah bersandar pada Range Rover hijau Army di belakang punggungnya.

Dunianya seakan berhenti berputar. Suara-suara, diorama dihadapannya mendadak menghilang. Hanya sebuah sinar yang begitu terang yang mampu Jongin lihat saat ini.

Di sana, pada sosok wanita yang tengah terbelalak memandang ngeri dan terluka kepadanya.

Do Kyungsoo.

.

.

.++

TBC

.

.

WAH,, GILA HEHEHE

Review Chapter sebelumnya kompak hehehe

:D

.

.

Maaf ya kalau masih pendek, tapi ini lebih panjang lho dari yang kemarin ixixix

.

Jangan Lupa Review ya :D

.

Makasih

Nesyarera