Disclaimer : Bleach bukan milikku… Karena itulah aku nggak akan bisa membuat Ulquiorra jadi milikku pribadi. Hiks...T.T

Rate : T

Warning : AU, OOC, abal, gaje, typo(s) dan banyak keanehan yang akan ditemukan dalam fic ini.

A/N : Huaahhh… Maafkan atas keterlambatan update chap 9 kemaren, readers. Dua minggu nggak update? Ya ampuuunnn. Penyakit cacar menyebabkan aku nggak bisa ke warnet buat update. Hiks, malangnya nasib seorang author yang gak punya modem.*lebay/plakkk*

Udah gitu, temenku si 'beside you' pake 2x gak bisa ngapdetin. Bolak-balik ke warnet gagal juga. Di warnet ketiga, di hari ketiga, baru berhasil. Argghh, bener2 dah. Akhirnya ngaret parah dah. Yah, sekali lagi relya schiffer mohon maaf sebesar-besarnya…*nunduk dalem2*

Okeh, saya mau bales ripyu dulu.

Arisa-Yuki-Kyutsa : Nee, Arisa-san, iya masa lalu ulqui memang tragis bgt. Err, kalo soal mimisan itu, itu karena―*dibekep ulqui*

me : GAAHHH! Ulqui, apaan, sih? Kamu pengen aku mati, ya?

ulqui : jangan ngebocorin alur. Jadi author gimana, sih? Ntar jadi spoiler dan gak seru lagi.

me : *manyun* tapi jangan bekep2 gituh, tuh. Bisa mati, nieh. Kalu aku mati, fic ini nggak ada yang ngelanjutin, tau!*sewot*

Okeh, abaikan obrolan gaje di atas.

Nah, arisa-san, kita doakan saja semoga ulqui nggak kenapa2, ya.*evil grin*

Ah, arigatou untuk doanya, dan juga ripyunya…^^

Pearl 1717 : Yoo, Pe. Aih, salam kenal dariku. Kamu newbie? Cobalah bikin fic, kamu akan ngerasain gimana serunya jadi penentu takdir buat semua chara yang kamu libatkan. Hehehe.*sok tua! dikemplang*

U-uapa? F-fave? Aih, makasih, honey. Aku sangat senang sekali. Err, pembunuhan? Yup, kamu benar. Aku lebih seneng maenin mental. Gimana si grimm, nel, soi, ggio, and hime masing2 punya problem yang menyebabkan tekanan mental buat mereka. Tapi aku juga punya rencana bikin fic yang mengandung unsur pembunuhan beneran. Real. Tinggal tunggu waktu ngetiknya aja. Hehehe.

Nee, makasih atas kunjungannya di fic ini, dan juga ripyumu…^^

Scarlett Yukarin : Konbanwa mo, Yuka-chan…

Hiks, iya nih. Anak balita dari sensei di tempatku ngajar kena cacar, dan karena aku main sama dia terus, kayaknya aku jadi ketularan. Udah seminggu lebih gak kemana2. UTS-ku, hiks… Bakalan susulan lima mata kuliah, nih. Aih…*kok malah curcol?*

Aah, syukurlah chap ini nggak buruk2 amat. Padahal ngetiknya dalam sikon bête gara2 lama nunggu. Hehehe. Iya, Tia udah berani muncul. Err, ulqui, ya?*ngomong ke ulqui : gara2 mimisan, kau mencuri perhatian reader, Ulqui. Hohoho*. Yah, kita doakan saja semoga Ulqui gpp.*smirked*

Weits, intuisimu tajam juga, ya. Dan akan terbukti di chap ini. Hehehe.

Okeh, makasih atas doanya, dan makasih juga atas ripyunya…^^

Karin Fuuka : Yohaa, Karin-chan…

Ups, terlalu tragis, ya? Haduh padahal agak susah juga gimana nentuin kematian lily supaya gak terlalu kejam.

Yuhuu, lagi2 ulqui diperhatikan. Tuh, kalong. Kamu harus bersyukur, para readers nanyain nasibmu. Enaknya ulqui diapain, ya? hime akan terjawab di chap ini. Haduh, emang kedikitan ya? Padahal sama kayak chap2 sebelumnya loh. Kan aku pasang standar 15 lembar per chapter.*udah kayak jualan aja*

Terima kasih bersedia nunggu, Karin-chan. Makasih juga atas doa dan ripyunya…^^

Kazurin Ishihara : Hai, salam kenal, kazu. Makasih atas waktunya main ke fic gajeku ini. Hehehe. Yosh, gpp kok baru ripyu. Yang penting kamu udah baca dari awal, dan ngerti jalan ceritanya.

E-eh? F-fave? Huwaaa…. Hontouni arigatou. Aku tersanjung. Hiks, hiks. Sroooottt*lap ingus*

Jiahaha, masih kurang panjang, ya? Apa perlu aku tambahin jumlah lembarannya? Padahal begini aja udah 15 lembar loh. Hehehe.

Yups, konflik berantai nggak putus2. Tuh, Ulqui udah mulai stress sendiri. Penyakitnya kumat deh. Ups!*lagi-lagi ngebocoron alur. Gpp deh, dikit*. Nah, biar ulqui gpp, kita doain bareng2 aja, ya.

Yak, berdoa dimulai.*hening selama semenit*.

Berdoa selesai.*senyum gaje, ditakol meja*

Ke mana si hime pergi akan terjawab di chap ini. Silahkan di-chek. Nee, makasih atas doanya, juga ripyunya, kazu-san…^^

Chai Mol : Ararara, ada chai-san…*senyum manis, gaje, dihajar*

Lama tak melihat fic dari dirimu. Sibukkah? Semoga kesibukkan chai-san cepet selesai dan muncul lagi di jagad per-fbi-an*apa pula itu?*, hehehe.

Yosh, konflik menjadi perhatian utamaku.*halah*. Nee, makasih atas doanya juga ripyunya, chai-san. Semoga chap ini nggak mengecewakan…^^

Marianne der Marionettenspieler : Yoo, rinne-sama. Anne-san lagi nggak fit gara2 flu, Anda jadi sering muncul, ya. Hehehe.

Olala, Tia Cuma 'ngisengin' Grimm aja kok. Kan udah saatnya berhenti main kucing-kucingan. Tujuan hime ada di chap ini, Rinne-sama. Iya, grimm itu sayaaaaannngggg bgt sama Nel. Jadi kalo Nel dibawa-bawa, dia jadi sensi duluan.

Aih, sabar, Rinne-sama. Jangan maenan dukun. Takut aku jadinya. Sabar ya, sabaaarrr…

Hiks, ulqui-chanmu bukan sakit leukemia kok. Dia emang sakit, tapi aku nggak akan jadi author kejam dengan bikin dia menderita sakit yang sama. Secara, di 'Apartemen Putih' dia udah sakit leukemia berduaan sama hime.

Dan, ah.. Iya, benar. Insiden Lily itu kecelakaan. Kita harus bantuin ulqui agar nggak menyesali diri lagi.

Hahahaha, ulqui mau dipakein baju cewek lagi? Aahh, malang nian nasibmu, kalong tampan. Khu khu khu.

Okeh, makasih atas ripyu dan doanya, Rinne-sama. Saya doakan semoga anne-san juga cepet sembuh…^^

Galathea Dertov Reffertlark : Yoo, Gala-san. Aih, Anda nggak telat ripyu kok. Fic ini diupdate hari minggu, dan Anda ripyu hari rabu. Jadi aku kira nggak telat, kok.*senyum manis, gala-san muntah2*

Oh, yeah. Ternyata psikopatnya Tia nggak tanggung2 ya. Yah, begitulah aku, KEJAM! Yang jahat kubikin jahaaattt banget. Yang menderita kubikin menderitaaa banget. Dan yang nasibnya buruk kubikin ngeneeesss banget. Huahahahaha.*ketawa setan, dilemparin batu*

Hm, teka-teki Orihime ada di chap ini. Selamat menikmati (?). Iya, aku juga setuju, Ulqui nggak salah. Ulqui nggak salaaaahhhhh!*disumpel kaen pel*

What? Errr, sinetron apa itu, ya? Jadi penasaran. Padahal ideku ini orisinil loh. Nasib Ulqui kita lihat saja perkembangannya. Kita doakan semoga dia baik2 saya, ya. hehehe. Konflik dengan stark pun semoga cepet selesai.*loh? kok malah ikut berdoa? kau itu sedang ditanya, dasar Lya eror!*

Hyah, Gpp kok banyak tanya, Gala-san. Komunikasi itu dua arah, kan? Anda nanya, aku jawab. Simpel, toh? hehehe…

Nee, makasih atas doa dan ripyunya. Aku jadi semakin semangat untuk sembuh dan ngelanjutin fic ini…^^

Koizumi Nanaho : wahh, ada zumi...*senyum gaje, ditonjok zumi*

Huehehe, pair baru yang menjanjikan, ya? Grimm-Tia..*dicero Nel*

Olala, pendek ya? Aih, kayaknya emang yang kemaren kependekan. Soi-ggio istirahat dulu. Mereka lagi syuting di fic soi-ggio one shot-ku yang lagi dalam proses pembuatan. Hahaha..

Err, yah, begitulah kematian Lily. Kejam bgt ya diriku? Anak sekecil itu harus mati (meninggal woy! dikata ayam apa?) dengan cara yang tragis. Hiks, poor you, Lily..*ngelap air mata pake kaen pel*

Aih, makasih atas doanya, dan makasih juga atas ripyunya...^^

Beside You : Hei, nggak ninggalin ripyu loe, ye? Siapa suruh sms, hah? Hahaha..

Say, makasih banget ya atas yang kemaren, meskipun loe harus bolak-balik ke warnet dan gagal terus. Dasar norak! Hahaha..*dicekek beside you*

Nee, udah fall in love loe sama ulqui-kun? Ahaha, akhirnya… Rasakanlah penderitaan karena pada kenyataannya ulqui telah meninggalkan kita semua. Yuk, kita protes ke tite kubo-san bareng2. Yuk!*provokator mode : on*

Yah, nikmatin (?) aja chap ini dah ye, ulqui-kun gak kenapa2 kok.*smirked*

.

.

Wokehhh, terima kasih atas kesediaan para readers yang telah mengunjungi fic ini. Makasih untuk yang udah ripyu maupun yang masih jadi silent reader. Spesial thanks, ya ampun, makasih atas doanya. Berkat doa para readers, aku jadi semangat. Yang pertama diperluin buat ngelawan sakit itu, semangat dari penderitanya sendiri, kan? Seringan apa pun sakit yang kita derita, pasti akan terasa berat kalo kita nggak bersemangat untuk sembuh. Begitu pun sebaliknya.*loh kok jadi ceramah? Woooyyy, mau bikin fic apa mau ngadain seminar gaje dadakan? Aaah, eror-nya parah bgt!*

Dan karena ke-eror-an diriku semakin nambah, langsung saja. This is the tenth chapter. Enjoy, and happy reading, minna-san…^^


Where Ever You Are

by

Relya Schiffer

.

.

.

Chapter 10

Orihime terus berlari. Menembus kegelapan malam, menerjang deretan pepohonan. Sinar bulan sabit jatuh menimpa rerimbunan, menimbulkan banyak bayangan aneh. Dan gemerisik angin yang bertiup membuat dedaunan tampak bergerak-gerak, seperti tangan-tangan yang siap menyergap kapan pun.

Ketakutan terasa meluap, tapi Orihime tak menanggapinya. Beberapa kali bayangan hitam dan putih berkelebat, seakan menyertai setiap langkahnya. Ini pun tak mampu menipiskan niat gadis manis itu untuk berbalik. Dia terus berlari. Rambut senjanya berkibar seumpama leret orange di waktu fajar.

Tak lama kemudian Orihime tiba di sebuah tempat yang gelap dan masih di kelilingi pepohonan. Dia terengah, berusaha mengumpulkan nafas yang nyaris habis lantaran terus berlari. Mata kelabunya yang biasa menyorot sendu kini menajam, menyipit aneh. Ia melangkah pelan, di antara gundukan yang tersebar di areal tersebut.

Semilir angin membuat rambut halus di belakang tengkuk Orihime meremang, tapi ia tak peduli. Ia tahu, bahwa tidak hanya dirinya yang ada di tempat itu sekarang. Sejak tadi, sejak pertama kali langkahnya terhenti, ia telah merasakan berpasang-pasang mata menatapnya. Mata yang berasal dari dimensi berbeda. Karena di sinilah mereka berkuasa. Ini daerah mereka. Daerah hunian bagi orang-orang yang sudah mati : makam!

Beberapa ekor kelelawar yang tiba-tiba melintas membuat langkah Orihime terhambat. Jantungnya berdegup keras lantaran terkejut. Seekor burung hantu dengan mata besar yang benderang mengamatinya dari atas pohon. Tarikan nafas Orihime mulai tak beraturan, namun ketajaman matanya sama sekali tak berkurang. Dengan ketetapan hati yang tak goyah, ia melangkah lagi.

Berjalan di antara makam―terlebih di tengah malam―bukan hal yang wajar bagi seorang gadis belia. Di saat remaja lain menikmati mimpi indah di bawah selimut yang hangat, ia harus menakhlukan ketakutan yang tak terperi. Semua ini demi satu tujuan. Ia harus melakukannya. Ia harus mengakhiri semua mimpi buruk ini.

Seekor gagak hitam yang bertengger pada nisan menatap kedatangan seorang manusia. Gagak itu mencengkeram kayu bertuliskan huruf kanji 'Rangiku Ichimaru' di antara kukunya yang panjang. Mata binatang malam itu terasa menusuk permata kelabu yang menatapnya, mempertanyakan maksud kedatangan makhluk yang tak seharusnya berada di tempat itu saat ini.

Keringat dingin mulai membasahi genggaman tangan Orihime. Setelah bertatapan dengan gagak hitam itu sejenak, seolah meminta izin untuk melakukan sesuatu terhadap makam yang dijaganya, burung malam perlambang kematian itu mengepakkan sayapnya dan hilang.

Kini mata kelabu Orihime menatap makam di hadapannya. Tanpa pikir panjang, ia melakukan hal paling gila yang pernah terlintas di sepanjang hidupnya.

Menggali makam itu.


Mata emerald Ulquiorra terus berkeliaran ke kanan dan ke kiri sepanjang jalan yang ditelusuri Escudo hitamnya. Pemuda itu merasa was-was dan bersalah. Dia terlalu lelah hingga tertidur, akibatnya Orihime hilang tanpa jejak. Grimmjow bisa mencincang tubuhnya jika pemilik rambut biru itu mengetahui kejadian ini. Dan alasan utama Ulquiorra cemas bukan hanya soal pertanggungjawaban.

Untuk ke sekian kalinya tangan pemuda pucat itu meraih tisu yang teronggok di atas dash board dan mengusapkan lembaran putih itu ke hidungnya, berusaha menghapus jejak kemerahan di sana yang belum juga berhenti.

"Sial!"

Untuk pertama kalinya, mungkin selama hampir 21 tahun, kata umpatan itulah yang diucapkan Ulquiorra dengan jelas. Ketenangan yang selama ini menjadi ciri khasnya melebur seketika. Wajah tampan pemuda itu tidak lagi datar lantaran telah dihiasi ekspresi cemas. Sebuah kekhawatiran yang tak terkira. Sorotan lampu mobil yang sesekali terpantul cukup menyilaukan, tapi Ulquiorra tetap bertahan. Dia harus menemukan Orihime. Ia harus menemukannya.

Dering ponsel menyita perhatian mata emerald yang terus mencari. Tanpa mengalihkan tatapannya, Ulquiorra menjawab panggilan tersebut. Dia tak biasa mengucapkan salam lebih dulu. Namun suara khas yang masuk ke telinganya membuat fokus pemuda berambut hitam itu terpecah.

Bukaan sapaan, hanya suara tawa. Penuh ejekan. Namun telah cukup untuk didefinisikan dalam satu nama.

"Yo, Ulquiorra."

Genggaman tangan pucat yang bertengger di kemudi mobil itu menguat. Sepasang mata hijaunya menyorot dingin.

"Nnoitra."

Lagi-lagi suara tawa yang terdengar.

"Rupanya kau masih mengenaliku, eh? Sedang apa kau, Tuan Schiffer? Sudah berkunjung ke Las Noches?"

Nama Las Noches mengingatkan Ulquiorra pada Ggio. Dan teringat tentang penyebab sahabatnya yang ceria berakhir di tempat suram itu membuat Ulquiorra mengatupkan rahangnya kuat-kuat.

"Apa maumu, Nnoitra?"

Di seberang sana, Nnoitra terbahak puas. Dia senang menerima desisan amarah yang baru saja didengarnya.

"Tenanglah, Ulquiorra. Kau kan terkenal sebagai siswa paling tenang dan pendiam waktu kita SMA dulu."

Ulquiorra benar-benar harus mengendalikan emosinya yang nyaris meledak. Terpaksa ia harus menghentikan laju Escudo hitam andalannya saat mata emerald-nya terpejam demi menenangkan diri.

"Katakan apa maumu, Nnoitra Jiruga."

Pengulangan kalimat dengan nada perintah mengukir seringai di wajah Nnoitra. Mata pria berambut hitam itu menyipit berbahaya. Umpan yang ditebar telah menuai hasil. Buruan sudah masuk perangkap.

"Kau."

Hening.

"Hanya kau. Kita bertemu. Jelas, bukan? Dan kurasa itu mudah."

Masih hening. Terdengar tawa kecil Nnoitra yang melengking.

"Haa, tentu saja. Aku tidak pernah menyusahkan kalian."

"Baik. Kita bertemu." tanpa pikir panjang, Ulquiorra langsung setuju. Mungkin tindakannya ini akan dinilai sebagai suatu kecerobohan oleh Grimmjow. Atau akan mengundang omelan tak setuju dari Soifon. Tapi Ulquiorra tak punya pilihan. Lagi pula, dia memang punya urusan yang harus diselesaikan dengan mantan sahabatnya itu.

"Kau tau di mana harus menemuiku, Ulquiorra. Dan kau boleh datang kapan pun kau mau. Sebagai tanda mata, akan kuberikan satu-satunya benda yang bisa membuat Ggio Ishida bahagia."

Nnoitra kembali tertawa, lalu sambungan terputus. Ulquiorra meletakkan ponselnya sembarangan. Ia mengusap wajahnya seraya mendesah panjang. Tak butuh waktu lama hingga kepalanya jatuh menelungkup di atas kemudi. Dia lelah. Benar-benar lelah dengan semua ini. Problematika tak kunjung berhenti, selalu datang silih berganti. Tak memberinya kesempatan untuk bernafas lega sebentar saja.

Erangan samar terdengar dari sosok tampan berwajah pucat itu. Kalau saja ia bisa menyerah. Menghantamkan diri bersama Escudo hitam ini ke jurang pasti bukan hal yang sulit. Sayangnya ia belum ingin berakhir dengan cara memalukan seperti itu.

Ya, memalukan. Karena sebagai manusia berakal sehat ia sadar, bahwa masalah ada untuk di hadapi. Masalah sekecil apa pun tak akan pernah selesai jika terus dihindari. Pelan, bibirnya berbisik lirih. Berusaha bicara pada sebagian dirinya yang hendak berhenti sampai di sini.

"You can do it, Ulquiorra! You can do it! Don't ever let it to destroy you so easily."

.

.

.

.

.

Sementara itu, di lokasi yang jauh dari keramaian, Nnoitra masih cekikikan setelah menyudahi pembicaraan singkatnya. Pria jangkung itu tampak sangat puas dan senang. Dia menatap pria berambut coklat yang berada tak jauh dari tempatnya duduk manis dengan segelas brendi di tangan.

"Sudah kupenuhi keinginanmu." ucapnya lalu menenggak minumannya sampai habis.

Wanita berambut kuning yang berada di ruangan itu tersenyum. Tangannya masih bersedekap saat mata hijau terangnya menatap si pria berambut coklat yang sedang membuka-tutup sebuah pisau lipat.

"Kau tak perlu mencarinya, Starrk. Dia yang akan datang padamu."

"Hei, Tia, apa saja isi dari kulkasmu, eh? Tak adakah yang lebih seru dari brendi?" protes Nnoitra meracau. Rupanya dia sudah setengah mabuk.

"Beruntung aku masih berbaik hati mau menyediakan minuman itu untukmu. Dasar pemabuk!"

"Cih, Nona Sihir."

Nnoitra bangkit. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju ruangan lain di apartemen itu. Tia tak mempedulikannya. Dia kembali mengarahkan tatapannya pada sosok yang masih terdiam.

"Starrk, apa kau―"

Kata-kata itu tak sempat selesai saat pisau lipat yang tadi masih dimainkan langsung melesat dan menancap di dinding. Tia tidak kelihatan kaget atau pun terkejut. Dia justru tampak senang.

"Terima kasih atas bantuanmu. Sisanya akan aku selesaikan."

Usai mengucapkan dua kalimat itu, Starrk langsung bangkit dari duduknya dan berlalu. Tia hanya tersenyum kecil atas sikap pria itu. Wanita berkulit kecoklatan itu berdiri dan menuju dinding tempat pisau menancap. Mata hijaunya menatap secarik foto lusuh yang―rupanya―menjadi sasaran utama lemparan Starrk. Foto seorang remaja belia sekitar 17 tahun, berwajah tampan, berambut hitam dan bermata emerald.

Senyuman aneh muncul di wajah cantik Tia.

"Maaf, Grimmjow… Aku tidak bermaksud membuat sahabatmu celaka."


Gadis berambut senja itu terpaku di tempat. Tangan dan seluruh pakaiannya telah ternodai tanah yang kecoklatan. Wajahnya pucat, nafasnya seolah berhenti. Tatapan dan perhatiannya tertuju pada sosok pucat membiru yang terbujur kaku. Tampak tertidur dalam peti mati yang tutupnya telah dibuka dengan paksa. Tampak tertidur, hanya menunggu waktu untuk bangun.

Aneh. Tak banyak berubah sejak dua bulan yang lalu. Tetap utuh, tak berbau. Rambutnya tetap blonde kecoklatan. Panjang. Tubuhnya dibalut terusan putih panjang yang warnanya sedikit memudar kekuningan. Kulit pucat, bibir membiru. Balutan perban lusuh di bagian leher, penutup luka yang memutuskan tali kehidupannya. Kelopak mata tertutup. Apakah sebentar lagi akan terbuka?

Orihime gemetar hebat. Di hadapannya kini terdapat sosok ibunya. Ya, ibunya. Yang sangat menyayanginya dan kakaknya, selalu membuatkan bekal untuk mereka sekolah, selalu menyambut kepulangan mereka dengan senyum cerah, dan selalu punya dongeng baru untuk dibacakan sebelum tidur.

Sosok ini juga ibunya yang sama. Yang telah menghabisi nyawa ayahnya, lalu bunuh diri. Yang terus menghantuinya dalam khayalan dan kenyataan. Tak juga melepaskannya sekalipun mereka telah berada dalam ruang dan dimensi waktu yang berbeda. Hingga malam ini membuat Orihime nekat ingin mengakhirinya.

Luapan perasaan Orihime mulai berontak dari kekangan. Jerit gagak berkoak mengiringi tangan gadis manis itu yang mulai menuangkan bensin di seluruh liang makam. Dengan gerakan cepat yang sedikit kacau. Tanpa sadar ia menangis. Hatinya mengatakan bahwa ini pembunuhan. Tapi ini adalah harapan terakhirnya agar terbebas dari bayangan-bayangan itu.

Isakan Orihime semakin jelas. Ia menyalakan pemantik dan menggenggamnya lemah. Gadis itu tampak ragu. Air mata bening yang menganak sungai di pipi pualam itu adalah bukti yang tak terbantahkan.

Lalu sekonyong-konyong,seperti fatamorgana padang pasir, tangan jasad kaku itu bergerak. Orihime terbelalak, terpaku. Di susul oleh kelopak mata yang benar-benar terbuka. Kelabu hidup bertemu dengan kelabu mati. Lengan yang seharusnya tak bisa bergerak lagi pun terangkat, berusaha menggapai. Seiring dengan suara datar yang memperdengarkan panggilan dari kubur.

"Hime…chan…"

Orihime menjerit.

"Tidaaakkkkk!"

TAK!

Pemantik itu jatuh ketika Orihime terjerembab ke belakang. Api jingga langsung menyambar dengan cepat. Melumat apa pun yang telah berlumur bensin. Kain, kayu, peti dan jasad. Tariannya meradiasikan panas yang cukup menyengat. Membuat burung hantu yang masih mengamati memalingkan wajahnya.

Masih dengan tubuh yang gemetar hebat, Orihime segera meninggalkan lokasi pemakaman. Tangisannya belum berhenti. Langkahnya yang kacau membuatnya beberapa kali terjatuh hingga kaki dan tangannya luka-luka. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa diikuti. Mungkinkah para penghuni lain yang merasa terganggu dengan ulahnya marah dan hendak melayangkan protes?

Tak berani menatap ke belakang. Orihime memilih lari dengan menutup mata. Ini jelas memperburuk kondisinya sendiri. Ia bahkan tak sadar bahwa dirinya telah jauh dari areal makam. Namun ia tak juga mengurangi kecepatannya. Gadis berambut panjang itu baru berhenti berlari ketika dari sebelah kanan menyorot sinar yang sangat terang. Tak sanggup mengendalikan diri, Orihime hanya bisa menyilangkankan tangan di depan wajahnya.

Yang terdengar kemudian hanya jeritan kecilnya, tenggelam dalam decitan keras rem yang diinjak mendadak.

Orihime terjatuh. Tubuhnya sudah sangat lemah, tapi telinganya masih bisa mendengar suara mesin mobil yang berhenti tak jauh dari tempatnya tergolek. Lalu pintu mobil terbuka dan tertutup dengan keras, di susul suara langkah berderap cepat. Oh, manusia. Syukurlah. Hantu tak mungkin mengendarai mobil, bukan?

Sepasang lengan mengangkat kepala Orihime ketika sebuah panggilan terdengar.

"Orihime! Bangun, Orihime!"

Suara ini, Orihime merasa mengenalnya. Tangan yang merengkuhnya juga. Lalu wangi ini…

Grimm-nii?

Bukan. Wangi Grimmjow terlalu maskulin. Sedangkan wangi ini seperti hutan pinus. Atau mint? Entahlah, yang jelas sangat menenangkan.

Perlahan, kelopak mata gadis belia itu terbuka. Mata kelabunya mampu menangkap siluet yang begitu familiar. Wajah tampan, pucat, rambut hitam, mata emerald. Hanya ada satu nama…

Ia tak mengira, bahwa sosok inilah yang akan menemukannya.

"Ulqui―orra―kun…"

Hanya sebatas itulah Orihime mampu bicara. Detik berikutnya kegelapan mengambil alih seluruh kesadarannya. Mata kelabu pemiik rambut orange panjang itu kembali menutup, mengirimnya ke alam bawah sadar yang bersifat pribadi. Individual.


Matahari pagi bersinar cerah. Cahayanya yang benderang menyibak kabut malam yang menyimpan misteri. Dewi malam mulai tergantikan bola besar berwarna kuning keemasan, menjadi raja langit selama belasan jam ke depan.

Neliel membuka tirai gorden serta kaca jendelanya. Nyanyian burung yang bersarang di pohon akasia terdengar merdu. Pohon akasia itu, jika malam memang menjadi momok yang menakutkan. Namun jika pagi, akan menjadi tempat orkestra fajar dimulai.

Seulas senyum tipis melengkung di bibir perempuan berambut hijau itu. Di belakangnya tampak Soifon yang sedang membawa dua gelas sereal hangat. Uap putih mengepul dari gelas tersebut. Tangan mungil Soifon meletakkan satu gelas di meja. Ia sendiri duduk di sofa dan menatap Neliel yang masih berdiri di dekat jendela.

"Kau ada rencana hari ini, Soi?"

Aktivitas Soifon―yang sedang meniup-niup uap serealnya, terhenti sejenak.

"Pulang ke rumah mungkin," jawabnya seraya menghirup sedikit sereal hangat berwarna coklat itu, "sudah beberapa hari aku tidak pulang."

"Pulang, ya?" terdengar nada kecewa dalam suara Nel.

"Memang kau mau ke mana?" Soifon balik bertanya.

Nel mengangkat bahu dan menggeleng pelan. Dia membalikkan badan dan berjalan ke arah sofa. Perempuan cantik itu duduk di sebelah sahabatnya, mulai ikut menikmati sereal yang telah dibuatkan Soifon.

"Aku ingin mengajakmu ke Las Noches. Yah, mungkin kau bosan karena baru saja ke sana kemarin."

"Tidak mengajak Grimmjow?"

"Tidak hanya Grimmjow, tapi juga Ulquiorra."

"Kalau begitu kita berangkat."

Nel tersenyum. Disenggolnya Soifon sambil berkata, " Sudah kangen lagi, ya?"

Beruntung cairan sereal yang telah berada dalam mulut Soifon tidak menyembur ke luar. Perempuan berkepang itu hanya terbatuk-batuk pelan. Neliel cekikikan sambil menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu pelan.

"Kau mau aku mati ya, Nel?" sergah Soifon dengan tatapan tajam setelah batuknya reda.

"Kau mirip Ulquiorra kalau sedang menatap tajam begitu." cengiran aneh muncul di wajah manis Nel.

Soifon cemberut. Neliel tertawa lagi dan menyeruput serealnya. Hangat. Pagi ini pun terasa hangat. Semoga saja ini adalah pertanda bahwa hari ini akan berlalu dengan baik-baik saja.

"Hei, apa yang kau bicarakan dengan Ulquiorra kemarin?" Nel membuka suara setelah beberapa saat keduanya terdiam.

"Kemarin kapan?" Soifon mengalihkan tatapannya, hanya memperbesar kecurigaan Nel.

"Kau tahu kau tak bisa bohong, Soi." cecar Nel, memutar sedikit tubuhnya hingga Soifon tak bisa lari dari tatapannya.

Soifon tak langsung menjawab. Ia menghela nafas dan meletakkan gelasnya di meja. Wajah serius perempuan berkepang itu memberi sinyal bahwa yang akan dibicarakannya bukanlah hal yang baik. Dan Neliel bisa menangkap sinyal itu dengan baik.

.

.

.

.

.

"Kau mau kubuatkan apa, Ulqui? Kau yakin kau baik-baik saja? Wajahmu pucat dan darah itu… Hei, kau kan bisa panggil dokter keluarga Schiffer untuk memeriksamu. Kau tak mau menelepon orang tuamu, hah?"

Ceracauan Grimmjow hanya dibalas oleh tatapan aneh Ulquiorra. Sambil membereskan tisu dan kapas yang berserakan di meja―telah berubah warna di beberapa bagian menjadi merah, pemuda berambut hitam itu melemparkan tatapan tajamnya pada sahabatnya yang tengah menatapnya cemas itu. Tanpa mempedulikan reaksi Grimmjow, Ulquiorra memberi jawaban di luar perkiraan.

"Aku belum mau mati. Jadi jangan bersikap seperti aku sedang sekarat begitu."

Tanpa pikir panjang, Grimmjow langsung melemparkan apa sajayang mampu diraihnya ke arah sahabatnya itu. Dia menggeram kesal saat Ulquiorra dengan lincahnya bisa mengelak. Padahal Grimmjow berharap ada satu saja benda yang sukses mengenai kepala si stoic itu. Agar otaknya bisa sedikit berpikir. Pantaskah perhatian dibalas dengan jawaban tidak berperasaan seperti itu?

Untung Grimmjow bukan Soifon. Karena jika Soifon yang berada dalam posisinya, pasti Ulquiorra sudah mendapatkan bogem mentah dari si mungil yang kuat itu.

"Kau mau membunuhku, Grimmjow?" protes Ulquiorra setelah Grimmjow berhenti melemparinya.

"Kau beruntung bukan sofa yang kulemparkan padamu." sergah Grimmjow. "Sial! Baru kali ini ada orang yang diperhatikan tapi malah―ARRRGGGHHH!" entah kenapa pemuda berambut biru itu frustasi sendiri.

"Harusnya aku tahu kau tak penting untuk diperhatikan. Harusnya aku tahu kau itu lebih baik dicuekin saja. Sial, kenapa juga aku seperti orang bodoh, mau-maunya cemas dan perhatian padamu. Sial!"

Ulquiorra tak menyahut. Padahal seseorang di dalam dirinya sedang tertawa melihat sahabatnya itu kesal. Cukup sebagai balasan karena beberapa kalli mengejekku, pikirnya.

"Berhentilah bersikap berlebihan. Aku baik-baik saja. Adikmu membutuhkanmu sekarang." Ulquiorra berdiri di depan pintu, menatap langit cerah yang dihiasi gumpalan awan putih. Bergerak bebas searah.

"Apanya yang membutuhkanku?" sengat Grimmjow. "Dia? Orang yang sedang memasak sambil bersenandung itu yang kau bilang membutuhkanku? Hahahaha, jangan bercanda, Ulqui-chan…"

BUK!

Kali ini bantal sofa mendarat di wajah Grimmjow yang kurang beruntung―tidak memiliki refleks sebagus Ulquiorra.

"Namaku Ulquiorra."

Grimmjow menyingkirkan bantal di wajahnya sambil tertawa. Dia berdiri dan menghampiri sosok sahabatnya yang sekarang sedang duduk di teras. Keberadaan laki-laki setampan Ulquiorra membuat beberapa anak gadis dari para ibu tetangga Grimmjow―yang kebetulan lewat―tersipu sendiri. Kening Ulquiorra berkerut bingung melihat tingkah mereka, sedangkan Grimmjow menyeringai kecil.

"Hei, Ulquiorra, sepertinya dua malam bersamamu Orihime jadi lebih baik. Aku tidak tahu metode apa yang kau terapkan padanya, tapi aku ingin mengucapkan terima kasih padamu."

Ulquiorra menoleh. Dia sudah siap menerima senyuman mengejek dari sahabatnya itu, namun kali ini ia tidak mendapatkannya. Ketulusan. Hanya itu yang terbaca di wajah Grimmjow. Pemuda pucat yang pendiam itu pun memalingkan pandangannya lagi.

"Aku tidak melakukan apa-apa. Ketakutan itu… Orihime sendiri yang berhasil mengatasinya."

"Ketakutan?" ulang Grimmjow.

"Ya. Trauma besar yang diderita adikmu bisa memicu ketakutan yang berlebihan. Dan semua itu akan selesai jika adikmu bisa mengatasinya."

"Mudah sekali kau membicarakan trauma dan ketakutan. Apa itu syarat menjadi psikiater?"

"Tidak ada hubungannya, Grimmjow."

"Ya, ya, ya."

Belum sempat ada yang berbicara, suara panggilan Orihime membuat dua pemuda itu saling berpandangan.

"Grimm-nii… Ulquiorra-kuunn… Makanannya sudah siaapp. Ayo kita makan sama-samaa…"

"Nah, berdoalah semoga Orihime tidak salah memasukkan gula ketika dia bermaksud menambahkan garam." Grimmjow tertawa kecil.

Ulquiorra hanya tersenyum kecil menanggapinya.

"Jika kau tak mau makan, aku saja yang makan."

Sementara Ulquiorra sudah bangkit menuju ruang makan, Grimmjow menggeleng-gelengkan kepala perlahan sambil tersenyum kecil.

"Kurasa dia benar-benar tidak sadar bahwa dia sudah jatuh cinta pada Hime-chan. Malang benar nasibmu, Ulquiorra…"


"Eh? Sudah pulang?"

Neliel dan Soifon berpandangan. Sikap dua perempuan ini membuat Grimmjow mengerutkan kening heran. Baru lima menit mereka berdua tiba, dan yang menjadi fokus keduanya adalah Ulquiorra Schiffer? Ada apa ini?

"Iya, Ulquiorra sudah pulang. Mungkin dua jam yang lalu. Dia kan sudah tidak pulang ke rumahnya selama dua malam. Para 'pengasuh'nya bisa cemas kalau Tuan Muda tidak pulang lagi, bukan?"

Nada ejekan dalam kata-kata Grimmjow membuat Neliel terkikik. Soifon menatap teh hangat yang baru saja dibuatkan Orihime. Aroma chamomile yang harum menguar dari dalam cangkir. Aroma yang menenangkan.

"Orihime tampak lebih baik dari pada saat terakhir kami bertemu dengannya, Grimm," komentar Soifon. Dia menatap Grimmjow yang bersedekap dan bersandar pada pintu yang terbuka.

"Begitulah. Mungkin tak salah aku memilihkan Ulquiorra untuk menjadi pendampingnya."

"Ahaa… rasanya aku mengerti kenapa kau berani meninggalkan Orihime pada Ulquiorra. Terlepas bahwa kau memepercayainya lantaran dia sahabatmu." cetus Nel.

Seringai tipis menghiasi wajah tampan Grimmjow, " You know who I am, Neliel Tu Oderschvank."

"Yes, very well, Grimmjow Ichimaru." balas Nel penuh arti.

Soifon tampak tak tertarik pada apa yang sedang dibahas Grimmjow dan Neliel. Ia tertegun, sibuk dengan pemikirannya sendiri. Wajah seriusnya menarik perhatian si rambut biru untuk segera bertanya.

"Ada masalah, Soi?"

"Ya, ada sedikit. Dan aku tak bisa menyembunyikannya lagi." jawab Soifon.

"Tentang apa?" kejar Grimmjow penasaran. Ia tak menyadari perubahan ekspresi Nel yang telah mengetahui perkara yang akan dibicarakan Soifon.

Tatapan mata kelabu Soifon terarah pada mata biru Grimmjow. Mereka bertatapan serius.

"Tentang Tia, dan Ulquiorra…"

.

.

.

.

.

Escudo hitam Ulquiorra terus melaju sebatas kecepatan minimum melintasi jalan raya kota Karakura. Rumahnya berada beberapa kilo meter lagi. Dan rasa pusing yang sejak semalam mendera membuat Ulquiorra hanya berani menjalankan mobilnya dengan kecepatan sekitar 40 km/jam.

Sekarang ini, Escudo hitam itu sedang berhenti di sebuah persimpangan jalan. Lampu pejalan kaki sedang menyala hijau. Dan segerombolan pejalan yang hendak menyebrang mulai melintas. Sambil menanti lampu lalu lintas berganti warna, Ulquiorra meraih ponselnya. Ia mengamati benda itu sejenak. Pantas saja sejak tadi benda itu mengadakan aksi 'tutup mulut', rupanyanya baterainya habis. Tak tertarik lagi, Ulquiorra pun menghempaskan ponsel hitam itu ke kursi di sebelahnya.

Tepat ketika tatapan Ulquiorra kembali teralih ke depan, seorang pejalan kaki melintas. Seorang pria―mungkin―berusia sekitar tiga puluh tahunan. Dia memakai pakaian serba hitam. Rambutnya berwarna coklat, agak ikal, dan jatuh sebatas bahu. Pria itu tampak sengaja melintas dengan perlahan di depan Escudo hitam yang berhenti―seperti ingin keberadaannya disadari.

Dan ia berhasil. Keberadaannya disadari oleh si pengemudi.

Ketika pria itu menoleh, menghujamkan tatapannya yang dingin dan datar, sepasang mata hijau yang balik menatapnya tampak terbelalak. Tak percaya. Ekspresi di wajah tampan pemuda itu sungguh tak bisa digambarkan. Seperti melihat hantu, musuh lama, atau―entahlah. Yang jelas, fakta bahwa pemuda itu masih mengingatnya membuat pria bermata kelabu itu menyungginggkan senyum kecil yang berbahaya.

Cukupkah ini menandakan bahwa ia telah kembali?


"Kau mau jadi apa?"

Pemuda bermata keemasan itu menoleh ke arah perempuan yang duduk di sampingnya. Tak menatapnya tapi mereka saling memusatkan perhatian masing-masing.

"Huh?"

"Apa tujuanmu dengan memilih jurusan akutansi di Universitas Karakura? Ayolah, Ggio, kau bisa jadi dokter yang hebat seperti ayahmu dan kedua kakakmu. Iya, kan?"

Pemuda itu tersenyum kecil. Ia kembali menatap langit cerah. Ilalang di sekitar mereka bergoyang diterpa angin yang bertiup. Bukit ilalang ini memang tempat yang cocok sebagai pelarian dari hingar bingar hidup, yah untuk sementara tak apa. Seperti yang dilakukan pemuda dan perempuan mungil itu.

"Tujuanku? Entahlah. Aku hanya memilih apa yang dikatakan hatiku. Setidaknya tak ada yang memaksaku dan aku menjalani pilihanku dengan senang hati."

"Tapi kau jadi sering mendapat tekanan dari ayahmu, kan?" perempuan berambut pendek itu menoleh, menatap sosok di sebelahnya. Mata kelabunya memancarkan kecemasan.

Pemuda itu tertawa. Dia mencabut batang ilalang yang semula sedang digigit-gigitnya, dan merebahkan diri. Membuat sosoknya tenggelam dalam serpihan bunga ilalang yang beterbangan. Berputar-putar dengan ringan searah tiupan angin. Ditatapnya sosok sahabatnya yang―diam-diam―telah menempati tempat tersendiri di hatinya itu.

"Kau peduli padaku? Haa, sejak kapan seorang Ggio beruntung mendapat perhatian dari seorang Soifon, eh?"

Perempuan itu tampak tidak suka dengan kata-kata yang baru saja didengarnya. Dia memukul pemuda itu, main-main. Yang dipukul hanya tertawa.

"Kau menyebalkan, Ggio! Sangat-sangat menyebalkan. Ugh!"

"Hahaha, manis sekali!"

"Jangan meledekku!"

Pemuda itu kembali tertawa melihat sahabatnya mulai berwajah kesal. Tanpa banyak bicara, ditariknya tangan mungil itu hingga pemiliknya jatuh di atas tubuhnya. Pemuda berambut hitam itu menyeringai kecil saat menyadari semburat merah mulai merambati pipi putih perempuan mungil itu, akibat dari ulahnya.

"Lepaskan, Ggio! Kau apa-apaan, sih?"

"Bagaimana kalau aku tidak mau? Toh, tak ada orang yang lihat."

"Ggio Ishida, kau minta dipukul, ya?"

"Kalau dipukul dengan bibirmu aku tidak keberatan."

"GGIO!"

Tawa keras terdengar dari bibir si pemuda berambut hitam. Seringai kecilnya berubah menjadi senyuman tulus. Ditatapnya mata kelabu itu dengan tatapan lembut. Membuat gadis berwajah merah padam itu terdiam, tenggelam dalam warna emas yang begitu memukau.

"Aku mengikutimu, kurasa kau pun tahu. Sejak awal aku mengikutimu. Tekanan apa pun dari ayahku sama sekali tak berpengaruh, tak akan mengubah pendirianku. Kau yang membuatku seperti ini, Shaolin Fon."

Hening. Hanya suara gemerisik ilalang yang terdengar. Serpihan bunga ilalang bergerak semakin bebas, seiring dengan intensitas tiupan angin yang semakin mengeras. Rambut hitam dan biru tersibak pelan.

"Jika kau peduli padaku, maka kau harus tetap mendampingiku. Lebih baik kau menuruti saja, karena jika kau tak mau, aku kan memaksamu."

Wajah tampan itu kembali dihiasi seringai kecil. Membuat gadis berkepang tak mampu menjawab, tersihir oleh makna dari kata-kata yang baru saja didengarnya.

Orang ini… pemuda ini… selalu punya cara untuk membuatnya kehilangan kemampuan untuk bicara…

Tiba-tiba saja visualisasi bukit ilalang itu memudar. Semuanya berganti menjadi putih, lalu berubah hitam. Seiring dengan rasa sakit yang perlahan menjalar, mengambil alih setiap jengkal kesadaran yang tersisa. Ratusan ribu belati mulai menyayat, cairan panas seperti menggantikan setiap tetes darah yang mengalir di pembuluh nadi. Belum lagi sebuah tangan raksasa terasa mencengkeram erat paru-paru, menancapkan kuku-kuku tajamnya di sana, menyumbat jalan masuk udara yang berakibat menyesakkan nafas. Bersamaan dengan puluhan palu godam yang terasa memukul-mukul kepala dengan keras. Bayangan indah itu pun langsung terputus dengan cara yang sangat tragis, oleh rasa sakit.

"Aaaarrrrrgggghhhhh…"

Suara teriakan keras sosok yang mulai bergerak tanpa kendali tertangkap kamera pengawas yang sengaja di pasang untuk mengamati. Seorang dokter berjas putih dan berambut orange segera bergegas ke luar dari ruangannya. Matanya yang berwarna coklat musim gugur memancarkan keseriusan.

"Dokter Kurosaki, pasien Ggio kambuh kembali." seorang perawat memberi laporan terkini. Tertulis nama 'Apache' pada name tag yang tertempel di seragam putihnya.

"Aku tahu, kita ke kamarnya sekarang. Bawa perlengkapan yang diperlukan." titah sang dokter sambil terus melangkah, bahkan setengah berlari.

Ketika dokter dan dua perawat itu tiba di ruangan yang dituju, ternyata di sana sudah ada beberapa perawat sedang bersikeras menangani pasien. Dua laki-laki dan satu perempuan. Shinji Hirako, Hanatarou Yamada, dan Rukia Kuchiki.

"Dokter Kurosaki," ucap Rukia pelan.

Ichigo Kurosaki, dokter yang menangani Ggio, mengangguk pelan. Dia segera menghampiri sosok yang meraung-raung dan sedang dipegangi Shinji serta Hanatarou. Keringat membanjiri kening pemuda berusia 20 tahun itu. Tangannya mengepal kuat dan rahangnya yang bergemeratuk telah cukup menjadi bukti bahwa ia berusaha mengendalikan semua rasa sakit yang sedang merejam, Ichigo tahu itu. Bahkan mata keemasan yang tampak lelah itu, sama sekali tak lagi menyorotkan keputusasaan. Hanya kelelahan, melawan panggilan hasrat akan sesuatu abstrak yang telah menyatu dalam setiap aliran darahnya. Racun dunia bernama narkotika. Siksaan ini akan terus berlanjut.

Tangan besar Ichigo menggenggam tangan pasiennya yang masih menggeram, namun tidak lagi mengeluarkan umpatan dan cacian. Dia berucap pelan. Lebih berbicara pada mata keemasan yang menatap mata coklatnya.

"Kau harus melawannya, Ggio! Kau tak boleh membiarkan keinginan itu mengambil alih dirimu. Kau harus menang!"

Tak ada sahutan selain raungan yang semakin keras. Ichigo melirik Rukia yang sudah bersiap dengan jarum suntik dan obat penenang di tangan.

"Kurangi dosisnya, Rukia," ucap pria muda itu tegas. Kemudian ia kembali menatap pemuda yang kini menggenggam erat tangannya hingga memerah, dan berkata lagi,

"Ggio Ishida, akan melawan ketergantungan ini dengan usahanya sendiri, dan sedikit bantuan dari kita."

Rukia mengangguk tanda mengerti. Detik berikutnya adalah sebuah kepastian yang sudah biasa terjadi di semua rumah sakit karantina bagi orang-orang yang mengalami ketergantungan terhadap zat-zat psiko-tropika. Semua rasa dikebaskan oleh cairan penenang sesuai dosis yang merangsek masuk melalui jarum kecil ke dalam pembuluh nadi.

.

.

.

.

.

#TBC#


Yahaaa… chapter kali ini ditutup dengan scene di Las Noches. Uh, maaf ya Ggio-kun, aku bikin kamu menderita banget di sini. Abisnya, kamu juga sih, deket-deket sama Nnoitra. Sabar ya, Ggio-kun…

Halah, chapter apa ini? Isinya nggak jelas gini? Oh, iya, maaf kalu mistery-nya yang di awal gak terlalu serem. Hehehe, nggak pinter bikin mistery.*terus kenapa fic ini genrenya mistery, hah? Dasar author eror!*

Ah, maaf kalo lagi2 chapter ini kependekan dan kurang memuaskan readers. Hehehe.

Okeh, langsung saja. Lemparkan keluhan, protes dan semua caci maki lewat tombol biru di bawah ini.

Ripyu?^^