.

Trouble Maker

Naruto © Masasshi kisimoto

High School DxD © Ichie Ishibumi

WARNING : AU, OOC, OC, Typo (yang selalu ngikut), Semi-Canon, dan sebagainya.

Pair : [ Naruto Uzumaki X Sona Sitri or Lilith Bristol ]

.

Chapter 10 : Penyergapan

.

"Kau.."

Alis Naruto berkedut kesal. Apalagi ditambah dengan senyum manis yang ditunjukan oleh sosok di depannya itu. Seakan tidak memiliki rasa bersalah apapun pada sang tuan rumah yang kini tengah mematung.

"..Siapa?"

Lilith langsung terjatuh saat mendengar pertanyaan Naruto barusan, padahal dia sudah yakin jika Naruto pasti akan terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba, tapi kini laki-laki itu masih saja berlagak hilang ingatan. Dan itu sedikit membuat perasaannya terluka.

"Mou.. apa aku begitu cepat dilupain sih,meskipun begini aku aku juga bisa sakit hati tahu," ujar Lilith pelan pada akhir kalimatnya. "Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Naruto. Dia memang bisa mendengar apa yang di ucapkan awalnya tapi pada bagian terakhir tadi hanya berupa bisikan lirih yang bahkan kalah dengan suara jangkrik yang mewarnai malam.

"Bukan apa-apa,"

"Jadi, sebenarnya ada urusan apa kau kemari, dan lagi dari mana kau tahu alamat rumahku?" Ujar Naruto meyelidik. Meskipun dia tahu jika perempuan itu adalah anggota CIA tapi dia tidak harus repot-repot mengadakan penyelidikan hanya untuk mencari alamat dari orang asing yang dia temui di pesawat begitu saja.

"Awalnya aku hanya ingin mampir, tapi saat aku cari di sekolahan kau sudah tidak ada, dan aku juga tidak tahu alamat rumahmu, jadi aku putuskan untuk bertanya-tanya di sekitar Kuoh. Eh tahu-tahu sudah malam, dan kereta terakhir sudah berangkat 3 jam yang lalu, saat mau memanggil taxi ternyata dompetku tidak ada, terus-,"

"Oke cukup entah kenapa aku tahu kemana arah pembicaraan ini, jadi intinya kamu ketinggalan kereta dan juga kehilangan dompetmu, dan biar aku tebak kau kesini pasti mau bilang agar kau kuijinkan menginap di sini, bukan?" Tebak Naruto.

"Tidak, sebenarnya aku hanya ingin meminjam uangmu untuk membayar ongkos taxi, tapi kurasa menginap boleh juga," ujar Lilith dengan sebuah senyum cerah sambil menyabet lengan Naruto. Menghiraukan Naruto yang kini membentur-benturkan kepalanya sambil membekap mulutnya rapat-rapat.

'Mulut bodoh, kenapa juga aku bilang begitu, bodoh, tolol, tidak berotak, hanya terdiri dari 50% kejahatan serta 50% gas panas... tunggu yang terakhir itu sudah ngaco parah,'

"Hooy... Naruto sepertinya kami semua mau pa...mit." Sona yang awalnya berniat pamit langsung merubah ekspresinya dengan seketika saat melihat siapa yang kini tengah merangkul lengan Naruto. Seorang cewek bule bermata biru safir yang indah dan ditambah lagi dua aset yang memiliki ukuran dua kali miliknya.

Sementara Lilith juga melihat Sona dengan pancaran aura permusuhan yang sangat ketara bahkan Naruto yakin jika dia barusan melihat kilatan petir yang saling sambar dari mereka berdua. Dan tak ayal hal itu membuat Naruto semakin bertambah bercucuran keringat dingin yang entah kenapa dia yakin bahwa malam ini akan berlangsung dengan saaangat panjang.

"Nee... jadi siapa chichi-Onna itu?" Ujar Sona yang masih memancarkan aura permusuhannya. "Siapa yang kau maksud chichi-onna, dasar Mata empat!" Lilith membalas seakan tidak mau kalah dengan perempuan berkacamata didepannya itu.

Memang pada awalnya hanya saling lempar ejekan seperti perempuan normal namun lama-kelamaan Sona kini sudah mengeluarkan aura kebiruan dari tubuhnya sedangkan Lilith juga sama mengeluarkan aura kebiruan tipis dari tubuhnya.

Buruk. Naruto yakin jika dibiarkan terlalu lama hal ini akan menjadi sangat buruk, dengan niat melerai pertengkaran tidak jelas antara kedua perempuan itu Naruto mencoba maju kedepan.

"Yos..yos.. perkelahiannya cukup sampai di-,"

"KAU PIKIR KAMI BERTENGKAR KARENA SIAPA!?"

Naruto hanya bisa mengangkat tangannya dengan keringat bercucuran dari kepalanya. Bagaimana tidak, dia kini tengah ditodong dengan sebuah revolver hitam legam dengan aksen jilatan api biru pada moncongnya oleh Lilith serta sebuah tombak es yang telah siap melubangi kepalanya dari Sona.

Sementara beberapa iblis peerage Sona hanya dapat mengintip dari balik pintu kedua dengan menongolkan kepalanya dimulai dari Saji yang berada paling bawah hingga Tsubaki yang berada paling atas.

"Eto.. Lilith..san, kalau boleh tahu benda apa itu?" Tunjuk Naruto pada revolver yang dipegang oleh Lilith. Bahkan Sona pun terkejut saat sekilas dia melihat sebuah api yang berkobar dari tangan perempuan asing itu dan langsung digantikan oleh sebuah senapan aneh.

"Oh ini, ini adalah Blaze,"

"Blaze?"

"Iya, Blaze kenapa kau terkejut? Bukannya kau juga punya?"

"Hah? tidak, tidak, tidak... aku sama sekali tidak memiliki Bla-apalah itu,"

"Tidak mungkin.. padahal meskipun samar aku dapat merasakannya dari dalam dirimu," meskipun samar Lilith memang merasakan sebuah kekuatan yang mirip dengan miliknya. Dan itu juga merupakan salah satu alasan kenapa dia tertarik pada pemuda itu, karena dia berpikir bahwa mereka itu sama.

"Tapi sungguh aku tidak memiliki kekuatan seperti itu, meskipun aku memiliki juga memiliki kekuatan yang agak menyebalkan sih,"

"Hoo... jadi kau memiiki semacam kekuatan aneh, huh?" Ujar Sona dengan nada mengejek. Namun ditanggapi Lilith dengan sebuah deathglare."Bukankah sebaiknya kau berkaca sendiri, kau juga memiliki kekuatan aneh,"

"Tentu saja dia punya kekuatan aneh, karena dia memang aneh...err maksudku dia itu iblis," Naruto langsung merubah sebutannya saat melihat glare Sona yang di tunjukan padanya."Iblis? bukannya aku meragukan perkataanmu, tapi bukannya kau itu sudah terlalu tua untuk mempercayai tahayul?"

"Hoi.." Mengabaikan protes Naruto barussan Lilith kembali melanjutkan perkataannya. Dan tentu sajs masih dengan nada mengejeknya."Tapi aku masih tidak percaya jika kalian itu benar-benar iblis,"

"Itu sih terserah kamu sendiri, dan tidak ada pengaruhnya padaku," balas Sona acuh, pasalnya dia sudah terbiasa dengan itu. Karena pemuda pirang itu bahkan setelah semua yang telah terjadi masih belum mau mengakuinya sebagai iblis. Tunggu.. barusan bukankah dia tadi yang memberitahu perempuan tak tahu diri itu bahwa dia itu adalah seorang iblis. Dengan kata lain penantiannya selama ini telah terbayar.

"Oi.. naruto sebenarnya dia itu kenapa," tanya lilith pada naruto sambil menunjuk sona yang kegirangan seperti habis memenangkan sebuah undian berhadian Presiden Obama. Tunggu memangnya apa yang menguntungkan jika mendapatka Obama.

"Entahlah mungkin sirkuitnya sedang konslet," jawab Naruto acuh.

Dengan ekspresi yang sudah kembali datar seperti semula Sona memandang Naruto dengan alis mengerucur dan mata menyipit. "Jadi bisa jelaskan sebenarnya siapa perempuan ini?"

"Eto.. dia Lilith Bristol murid pindahan yang masuk di kelasku,"

"Jadi murid pindahan heh. Tapi kenapa perasaan dia seperti sangat lengket dengan orang yang baru dia temui?" Tekan Sona. "Yah.. entah kebetulan atau apa aku kenal dengannya waktu aku di amerika, lebih tepatnya di pesawat," jelas Naruto.

Mendengus pelan Sona menyilangkan tangannya didepan dada, dan terus memandang Lilith dengan tatapan yang sulit diartikan. "Cotto... Naruto sebenarnya siapa sih perempuan minus sok ngatur itu?"

"Mi-minus," alis Sona berkedut kesal mendengar julukan barusan. Memang sih kalau matanya minus tapi tidak usah di ucapkan kenapa. Menatap naruto dengan tatapan berkaca-kaca seperti seorang anak kecil yang kalah dalam ejekan. 'Oi... jangan katakan kau mau nangis Cuma karena ejekannya tepat... oke-oke.. tidak perlu nangis segala kali,'

"Dia Sona Sitri ketua OSIS Kuoh akademi sekaligus orang yang bertugas sebagai pengawasku bulan ini," ujar naruto dengan desahan pelan pada kalimat terakhir, seolah sangat sulit mengucapkan hal itu.

"Pengawas?"

"Aku sedang tidak ingin membahasnya sekarang dan mereka..." tunjuk naruto pada sekumpulan kepala yang nongol dari balik pintu. "... Adalah sekumpulan maling yang mengaku sebagai anggota OSIS,"

"Oy!"

Setelah beberapa waktu yang tidak penting berlalu akhirnya Sona juga memutuskan untuk tinggal akibat tidak dapat meninggalkan dua orang remaja puber tinggal dalam satu atap.

"Kaichou... kalau begitu kami pulang duluan," ujar Tsubaki. "Ya.. jangan lupa besok kita ada rapat saat jam istirahat pertama," mengangguk pelan tanda mengerti Tsubaki langsung mengangkat tangannya keatas dan diikuti sebuah lingkaran sihir putih yang membawa seluruh anggota peerage Sona pergi.

"Ohh.. jadi itu yang namanya sihir dari iblis, hm... cukup menarik juga, kalau begitu saatnya tidur, ayo Naruto," ujar riang Lilith sembari menyabet lengan Naruto dan berniat menariknya kearah kamar terdekat.

"Oi.. apa maksudmu hah?" Sungut Sona yang merasa diabaikan, menoleh pelan dengan wajah polos Lilith menjawab. "Apa? tentu saja tidur,"

"Berdua?" Sona memastikan.

"Memang... ada masalah?"

"Tentu saja bodoh, seorang remaja dalam puber seperti kalian dilarang tidur di kamar yang sama, apa lagi kalian tidak ada hubungan apapun,"

"Hoo... jadi jika aku ada hubungan dengan Naruto aku bisa melakukan apapun dengan Naruto dong?"

"I-itu.."

"Kalau begitu..." menghadap kearah Naruto dengan tatapan serius yang membuat Naruto menelan ludahnya sendiri merasakan atmosfir aneh yang menguar dari tubuh Lilith. Tanpa dia sadari Naruto mengambil langkah mundur, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya takut-takut bila ketakutannya menjadi kenyataan.

"Naruto..."

"Ha-hai?"

"Henikahlah denganku!"

"HOY... aku tidak pernah memiliki cita-cita untuk dilamar oleh perempuan tahu... dan kau pikir hal itu akan menyelesaikan masalah," yang dimaksud Naruto kali ini adalah sosok iblis betina yang kini sudah mengeluarkan aura dingin yang membuat beberapa perabot Naruto menjadi balok es.

"Hmm.. jadi begitu caramu hah," Sona dengan aura keputihan dari tubuhnya mulai membuat sebuah bola es di tangan kanannya yang berposisi seperti menggenggam sesuatu. "Kau punya masalah?" Lilith yang seakan tidak mau kalah juga mengeluarkan revolvernya kembali dan menodongkannya kearah Sona.

Alis Naruto berkedut dengan keras, giginya gemertak kesal, cukup. Sepertinya Naruto sudah berada di ambang batas kesabaran menghadapi kedua makhluk tidak tahu tata krama manusia yang bertamu di rumah orang lain.

Dengan sekejap seluruh kekuatan di ruangan itu menghilang tak bersisa, selain meninggalkan rasa terkejut dan juga tanya di benak mereka berdua, lalu dia menoleh kearah Naruto yang berjalan pelan kearah mereka berdua dengan sebuah tali dan juga lak ban hitam.

Dan pada akhirnya malam itu di akhiri dengan teriakan dua orang perempuan yang harus berakhir dengan terikat pada sebuah kursi di salah satu kamar tamu di rumah itu, sementara Naruto sang pelaku tengah bermimpi indah di kamarnya sendiri yang berada di lantai dua.

...

Naruto terbangun dari tidurnya akibat tangan kanannya yang tiba-tiba mati rasa akibat sebuah tekanan yang dalam mimpinya digambarkan oleh seekor kudanil yang tanpa rasa bersalah menggunakannya sebagai alas duduk, sedangkan tangan kirinya yang diremas oleh seekor gorila.

Namun matanya dipaksa hampir copot saat melihat apa yang membuatnya bermimpi seperti itu.

'Oi..oi.. apa kalian berencana membunuhku, hah? Apa salahku pada kalian coba,' Naruto tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, seingatnya tadi malam dia mendapati rumahnya dimasuki oleh iblis yang beralih profesi sebagai maling, lalu kedatangan seorang polisi tukang numpang, dan pada akhirnya dua orang itu memutuskan untuk menginap dirumahnya.

Meskipun terjadi sedikit perang dingin diantara mereka, yang jelas-jelas mengelikan dimata Naruto. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah kenapa kedua makhluk 'mematikan' seperti mereka berada di kamarnya, dan yang lebih penting dalam keadaan telanjang.

Entah karena cahaya bulan yang menerobos melewati celah gorden atau karena mata Naruto sudah beralih ke mode inflamerah hingga kegelapan ruangan itu serasa tidak berarti. Bukannya Naruto tidak menyukai pemandangan seperti ini, dia juga remaja normal yang harus berjuang keras menahan hormon masa mudanya. Tapi jika seperti ini bukannya menikmati dia malah merasa tersiksa.

Lilith dengan keadaan tanpa busana kini meringkuk tepat disampingn kananya dan menggunakan lengannya sebagai bantal sedangkan Sona yang berada di kirinya dengan keadaan tidak jauh beda dengan Lilith sedang memeluk lengannya dengan kuat dan menenggelamkan lengannya pada kedua asetnya yang membuat Naruto kembang kempis tak karuan.

"...nngggghh"

'Hoi... berhenti mendesah seperti itu..' tidak mungkin juga dia dapat mengatakan itu pada makhluk yang sedang tidur itu. Dengan gerakan pelan Naruto menarik tangannya dari apitan aset Sona, dan tentu saja dengan seribu satu doa semoga gorila betina itu tidak bangun.

Setelah mendapatkan kembali lengan kirinya dia beralih ke lengan kanan yang dengan se enak udelnya digunakan sebagai bantalan oleh kudanil pirang itu. Matanya dengan liar mencari sebuah benda untuk menggantikan tempat lengannya itu dan langsung saja bantal yang tadi dia gunakan.

Dengan kecepatan yang bahkan membuat ninja sekelas Hattori tercengang Naruto mengganti lengan kanannya dengan antal yang dia ambil barusan.

"Hmm... aroma Naruto.." Lilith mengigau sambil menggosok-gosokan wajahnya pada bantal Naruto. Sementara Naruto yang melihat kejadian itu langsung merinding. 'Jangan mengendus bantal orang... hentai,'

Berdiri dengan pelan agar tidak membangunkan kedua beruang yang tengah ber hibernasi itu.

"Sepertinya latihan sebentar tidak ada salahnya," Naruto bergumam pelan lalu meninggalkan neraka berwujud surga itu dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan kedua iblis paling mengerikan yang ada di rumahnya.

Suasana sepi dari halaman rumah akibat hari yang memang sudah sangat larut sama sekali tidak mengganggu Naruto, karena seperti halnya prinsip yang selalu dia anut bahwa hantu dan sejenisnya itu hanyalah mitos. Meskipun tiap hari dia harus bertemu dengan sekumpulan iblis.

Naruto berhenti berjalan saat dia telah berdiri tepat didepan sebuah pintu dari dojo tempat dimana dia sering dilatih dengan sangat keras oleh ayahnya. Ada sedikit perasaan ragu saat dia memegang gagang pintu dojo itu.

Menggeser pelan melihat ruangan dojo yang agaknya atau dapat dikatakan sudah sangat berdebu akibat sudah sangat lama tidak ada yang menggunakan. "Kalau tidak salah ada beberapa alat pembersih disekitar sini...ah ketemu," Naruto mencari sebuah kain pel yang berada tepat dipojok ruangan.

"Saa te.. iko kah.."

...

Tak berselang lama ruangan dojo itu sudah kembali mengkilat seperti apa yang ada di ingatan Naruto yang sudah berkarat. Memang terlihat sama dengan dojo-dojo pada umumnya jika dilihat sekilas. Namun nyatanya dojo itu sangatlah berbeda jika beberapa orang lebih teliti dalam memperhatikan.

"System login ID : Naruto, password : Nothing to say," Naruto berucap entah pada siapa, namun sesuatu yang ganjil tiba-tiba terjadi dalam ruangan itu, seperti beberapa lampu yang menyala di setiap pojok ruangan, dan juga dengungan seperti sebuah mesin yang baru menyala.

[Initialing system...]

[ID check...OK]

[Password check...OK]

[Account Confirmed...Account Number 01543]

[Namikaze Naruto]

Suara mekanik yang keluar itu keluar dari sebuah speaker yang ada di salah satu sudut ruangan, serta awal dari perubahan dari ruangan itu.

Ziiiinnggg! Cessss!

Sebuah meja metalik tiba-tiba muncul tepat didepan Naruto. Tidak lama kemudian meja itu terbuka seperti terbelah menjadi dua dan menunjukan berbagai jenis senjata seperti tombak, pedang dua tangan, pisau kembar, tongkat, katana, dan pedang.

Mengambil sebuah tombak yang berada di paling pinggir meja itu lalu memutar-mutarnya sebentar, mencoba apakah dia masih ingat cara menggunakan senjata yang sudah begitu lama tidak dia gunakan.

"Hm. Kurasa masih bisa... System Command Training mode Stage 1!" teriak Naruto sebuah perintah khusus untuk mengaktifkan sistem latihan yang dibuat khusus oleh kakaknya.

[Training Mode Stage 1 Start!]

Sebuah dummy latihan dari jerami langsung bermunculan dari lantai dan bergerak dengan cepat kearah Naruto yang telah siap dengan tombaknya. Dummy-dummy itu bergerak lincah mengikuti alur yang memenuhi setiap ruangan, saling bersilang guna mengecoh Naruto.

Dakk!

Dakk!

Dakk!

Dakk!

Seluruh boneka dummy itu tidak berdaya menghadapi Naruto yang langsung memutar tombaknya searah jarum jam hingga membatalkan setiap jalur yang dimiliki oleh dummy itu. Terlalu mudah, padahal dia yakin jika dulu dia pernah dibuat tidak dapat berdiri hanya karena tubrukan dari boneka-boneka dummy itu. Mungkin itu karena faktor pengalaman yang membuatnya mempelajari dan memprediksi jalur mana yang kiranya akan diambil oleh boneka dummy itu.

[Stage 1 Cleared... Continue to Stage 2]

Setelah bunyi itu dengan perlahan lantai yang berada sepuluh langkah dari Naruto terbelah dan memunculkan sebuah boneka dummy yang terlihat menyerupai manusia, jika dilihat dari struktur sesainnya. Walaupun sebenarnya itu hanyalah sebuah robot latihan dengan sistem kecerdasan buatan yang tertanam didalamnya.

Robot itu memegang sebuah pedang berjenis longsword berwarna merah terang, dan yang jelas itu terbuat dari besi asli dan bukannya sebuah plastik maupun pedang kayu. Stage 2 adalah tingkatan dimana dia harus melawan sebuah AI yang dapat menyesuaikan level lawannya. Dengan kata lain kekuatan dari robot itu setara dengan Naruto saat ini. Dan terlebih lagi dia memakai sebuah pedang.

Ada sedikit perasaan aneh pada diri Naruto saat membayangkan dirinya yang memegang pedang itu.

Dengan gerakan yang amat cepat robot itu bergerak menerjang Naruto dengan kedua kakinya, memegang tombak ditangannya dengan erat Naruto menangkis setiap tebasan yang dilancarkan oleh robot itu.

Dentingan besi yang terdengar akibat tabrakan kedua senjata itu terus terdengar setiap kali bentrokan terjadi.

Naruto dapat melihat dirinya sendiri dalam robot itu, sebuah mesin perang yang hanya diperuntukan untuk bertarung, ganas, tak berperasaan, dan juga hanya mengikuti perintah. Menggertakan giginya dengan keras Naruto membaas serangan robot itu dengan tusukan serta pukulan. Dia tidak ingin jika dikalahkan oleh dirinya sendiri, terlebih robot itu mengingatkan dirinya pada orang yang dulu memusnahkan klannya sendiri.

"Apa yang kau lakukan malam-malam begini, hah?"

Dengan gerakan patah-patah Naruto menengok pada sosok yang berkata barusan, yah walaupun dia sudah tahu siapa yang melontarkan pertanyaan dengan nada seperti itu sih.

"Y-yo, Ohayou.."

"Ohayou jidatmu, kau pikir tindakanmu ini tidak menggangu tetangga, hah?" Naruto tidak tahu harus menanggapi bagaimana pertanyaan retoris yang Sona lontarkan. Namun dia sadar jika ini sepenuhnya adalah salahnya. Kenapa dia bisa lupa untuk menutup pintu dojo hingga mengakibatkan suara dentingan besi tadi terdengar hingga keluar.

"Sepertinya aku lupa menutup pintu ya... ,"

"Bukan sepertinya tapi memang, kau tahu kau-,"

"Woooww... tak kusangka jika ruangan yang terlihat tradisional seperti ini dipenuhi dengan peralatan modern yang mustahil didapatkan, bahkan departemen tempatku bekerja.." Sona tidak sempat melanjutkan omelannya akibat sosok Lilith yang sudah menerobos kedalam dojo.

Mata perempuan itu terus bergerak melihat seisi ruangan dojo yang menurutnya lebih mirip sebagai laboratorium ini. Bahkan Sona sendiri terkejut bukan main dengan interior ruangan itu. Dibilang dojo tapi penuh dengan alat elektronik super canggih, mau dibilang laboratorium tapi memiliki sebuah arena yang cukup uas untuk bertarung pada tengah ruangan.

"Naruto... sebenarnya apa ini?"

"Inilah tempat dimana aku dilatih dulu, dan semuanya adalah alat buatan kakaku.." menundukan kepalanya saat mengucapkan hal itu. Dia jadi teringat setiap kenangan yang dia lalui di dojo itu. Kenangan buruk akibat latihan neraka yang dilakukannya dengan ayahnya serta kenangan indah saat dia dan kakaknya berlatih dan bertanding.

"Sepertinya latihan kali ini sudah cukup, kalian kembalilah kekamar kalian, dan jangan coba-coba untuk masuk kekamarku lagi. Kalian hampir membuatku terkena serangan jantung karena melihat adegan 18+ itu,"

"Tapi kau suka kan?" Ejek Lilith dengan menaikan alisnya tiga kali.

"aku tidak dapat menolak sih.." Naruto dengan cengiran gugupnya sambil menggaru-garuk pipinya dengan jari telunjuk. Sementara sona hanya mampu memutar mata bosan melihatnya. "Tambah lagi orang mesum di sekitarku,"

.

-o0o-

.

Pagi itu Lilith dan Sona langsung pergi dari rumah Naruto dengan damai, dalam artian lain akibat Naruto yang melempar mereka keluar. Bagaimana tidak, Lilith yang seenak udelnya masuk kedalam kamar mandi saat Naruto masih didalam, dan Sona yang sudah emosi langsung membekukan kamar mandi tanpa pikir panjang dan membuatnya menjadi patung es dadakan yang dia yakin jika dimasukan dalam kontes seni pahatan es akan langsung tereliminasi karena tanpa sensor sedikitpun.

Naruto tidak mengerti, hari ini memang terlihat begitu cerah bahkan dia hampir tidak melihat awan sama sekali di langit, tapi entah mengapa perasaannya mengatakan jika hari ini akan berakhir dengan buruk atau setidaknya sesuatu yang buruk akan terjadi.

Mengelengkan kepalannya kuat-kuat, Naruto lebih memilih untuk membuang pemikiran itu jauh-jauh. Hari ini dia memutuskan untuk datang kekelas hari ini, dia berpikir setidaknya dia harus mengisi daftar hadir siswa walaupun Cuma satu kali dalam seminggu.

"Eh, apa kau bilang Kiba-kun tidak masuk?"

"Iya, aku dengar sendiri dari sahabatku yang satu kelas dengannya, dia bilang bahwa hari ini Kiba-kun absen,"

"Eeh... sayang sekali,"

Naruto sebenarnya tidak ingin menggubris percakapan dari sekumpulan iblis tukang gosip yang dikategorikan sebagai manusia bergender perempuan itu. Namun dia merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres, tidak biasanya knight gremory itu absen. Padahal setahunya pemuda itu adalah orang paling jaim yang pernah dia ketahui, jadi jika dia tidak masuk sudah dapat dipastikan jika sesuatu yang tidak beres pasti terjadi.

"Tidak ada gunanya memkirkan sesuatu yang belum pasti, lebih baik bertanya langsung pada yang lebih tahu," bergumam pelan, dia lalu berdiri dari bangkunya dan memilih meninggalkan sebuah penjara kebodohan yang disebut kelas itu.

Melihat sosok uzumaki yang berdiri membuat seluruh kelas terdiam, seperti biasa. Meskipun pemuda itu sudah lebih melunak ketimbang dulu tapi tetap saja gelar tak terkalahkan belum bergeser sama sekali dari tangan pemuda itu. Jadi lebih baik menghindari masalah yang pasti tidak menguntungkan seperti terlibat dengan pemuda itu. Mungkin itulah yang kini memenuhi kepala dari hampir seluruh penghuni kelas.

Tapi Naruto mengacuhkan segala tatapan yang ditujukan padanya dan lebih memilih untuk berjalan keluar kelas dengan sebuah siulan pelan. Dia sudah sangat terbiasa dengan itu semua, karena semua itu sudah menjadi resiko yang harus diambilnya saat dia memutuskan jadi apa dia sekarang ini.

Saat berada di mulut pintu matanya langsung mendapati sosok trio mesum yang tengah membicarakan sesuatu yang sama sekali tidak ingin Naruto ketahui di koridor, dan tentunya lengkap dengan senyum mesum mereka.

Bersandar pada dinding yang berada tak jauh dari pintu ruang kelasnya, dia menunggu kelompok mesum itu dengan mata tertutup. "Issei, bisa bicara sebentar," ujar Naruto pelan masih dengan mata terpejam. Meski yang dipanggil biasa-biasa saja, namun tidak dengan kedua temannya yang kini sudah diliputi dengan rasa takut serta keringat dingin yang membasahi seluruh tubuh mereka.

"Ada apa, Naruto?"

Membuka kedua matanya lalu menatap kedua teman Issei itu dengan tatapan yang menurutnya normal. Tapi bagi matsuda dan motohama lebih mirip sebagai tatapan intimidasi. "Yo.. Issei kurasa sebaiknya duluan dan... semoga kau diterima di sisinya_," ujar Motohama yang sudah langsung berlari bersama sohibnya meninggalkan mereka berdua.

Sementara Naruto hanya mendengus pelan, tanpa mengidahkan ucapan dari motohama barusan. Sementara Issei hanya dapat tersenyum kaku melihat kedua temannya yang sudah lari terbirit-birit.

"Jadi?"

"Kudengar si banci itu tidak masuk?"

"Banci?_ oh, maksudmu Kiba."

"Hm.. apa terjadi sesuatu?" Naruto memastikan. "Entahlah, namun akhir-akhir ini Kiba memang agak aneh. Bahkan tadi malam dia membuat kesalahan saat berburu iblis liar hingga buchou menamparnya, dan selebihnya aku tidak tahu," jelas Issei. Melihat Naruto yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu membuatnya menarik kesimpulan bahwa Naruto pasti tahu sesuatu.

"Naruto, jangan katakan bahwa kau mengetahui sesuatu?" Issei memastikan.

"Entahlah tapi sepertinya akan terjadi sesuatu yang buruk, walaupun itu hanya perasaanku saja tapi entah kenapa hari ini terasa sangat aneh bagiku," ujar Naruto masih dalam posisi bersandarnya. Menarik nafas sejenak, lalu membuka matanya. "Issei, nanti sepulang sekolah datanglah ke sungai dekat jembatan pinggir kota, ada sesuatu yang ingin kau lakukan untuku." Mendengar hal itu membuat Issei menaikan sebelah alis bingung, namun tidak ada alasan untuk menolak ajakannya.

"Baiklah,"

.

-o0o-

.

Issei tidak tahu mau bilang apa tapi dia benar-benar tidak menyangka jika ajakan yang Naruto utarakan tadi akan berakhir menjadi sebuah misi penyergapan yang sudah sering dia tonton dalam film-film laga dirumahnya, selain film dewasa sih.

"Tapi aku tetap tak habis pikir jika kau memiliki kenalan seperti itu, tapi apa kau yakin kita dapat mempercayainya begitu saja. Kau harusnya tahu dari mana dia berasal bukan?"

Naruto tidak dapat membantah dengan apa yang dikatakan Issei barusan, tapi dia tidak memiliki pilihan lain selain mempercaai orang itu, selain dia mengetahui rahasia milik Naruto, dia juga memiliki sebuah bahan negosiasi yang dapat membuat Naruto bergerak apapun yang terjadi.

"Yah.. banyak hal yang terjadi sih, dan yang jelas aku tidak ingin membicarakannya sekarang," bergumam malas Naruto menyandarkan badannya pada batang pohon di belakangnya. Dengan tangan tersilang didada dia memandang Issei yang masih terus mengawasi sebuah jalan kecil yang tak jauh dari hutan di pinggir kota.

Bukannya tanpa alasan mereka datang ke sana. Itu semua dimulai dari anehnya sangknight Gremory itu ditambah orang gerereja aneh yang datang menyerang tempo hari serta perasaan tidak enak yang Naruto rasakan hari ini.

"...!"

"Issei, sepertinya sudah dimulai. Sesuai rencana kita berpencar mulai dari sini kita berpencar, dan saat kuberi tanda kau lakukan tugasmu," mengangguk paham atas perkataan Naruto barusan Issei langsung menunduk di balik semak-semak tanpa mengalihkan pandangannya sedetikpun pada objek yang kini tengah saling berbicara itu.

Dia melihat sosok yang dia kenal sebagai Irina shidou yang kini tengah mengacungkan pedang sucinya itu pada sosok malaikat jatuh yang melayang dengan tatapan merendahkan serta sebuah bibir terangkat seolah mengatakan bahwa dia berada di tingkat yang jauh melebihi gadis itu.

Tangan Issei mengeras saat melihat sosok Irina yang tidak berdaya melawan malaikat jatuh itu. Kakinya bergetar, giginya gemertak, hidung membesar akibat nafas yang kini semakin cepat. Marah? Tentusaja. Siapa yang tidak marah saat melihat kejadian seperti itu didepan matamu. Ingin rasanya dia melompatlangsung kesana dan menolong teman semasa kecilnya itu, tapi... sekali lagi tindakan itu hanya akan menambah masalah yang sudah pelik ini menjadi semakin rumit.

Satu-satunya hal yang dia percaya kali ini hanyalah strategi yang sudah dibuat oleh Naruto dan melaksanakannya sebaik mungkin. Dari sisi hutan satunya dia melihat sosok pemuda yang paling dia benci seumur hidupnya, sosok yang dulu memanfaatkan asia, Freed Shelzen.

Dengan tanpa rasa bersalah sedikitpun dia mengambil Excalibur Mimic yang tergeletak seperti seonggok sampah tak berguna di samping tuannya yang tak sadarkan diri. Namun tak lama kemudia dia melihat kedua orang atau lebih tepatnya satu manusia dan satu malaikat jatuh itu bertingkah aneh dan menghilang dalam sebuah lingkaran sihir.

Meninggalkan sosok Freed yang kini bersembunyi dibalik sebuah pohon, yang berada beberapa meter didepan Issei. 'Jika ingin mencari tempat sembunyi, setidaknya cari yang lebih kreatif sedikit napa... bersembunyi dibalik pohon itu sudah terlalu mainstream tahu?' Batin Issei berteriak melihat kelakuan musuh besarnya itu.

Tak berselang lama terlihat sebuah lingkaran sihir merah yang sangat amat familiar baginya. Apa lagi kalau bukan lingkaran sihir dari keluarganya, keluarga gremory. Dari sana langsung muncul satu set anggota yang dikurangi dirinya serta Kiba yang masih belum kembali. Diikuti oleh lingkaran sihir putih yang memunculkan seluruh anggota OSIS yang tergabung dalam keluarga sitri.

Freed keluar dari persembunyiannya saat asia tengah mengobati Irina yang terluka, Issei sedikit memiringkan kepalanya karena dia sama sekali tidak dapat mendengar sepatah katapun dari sana, tapi ide buruk jika dia memutuskan untuk mendekat. Karena mereka pasti akan segera merasakan hawa keberadaannya.

Dan tugasnya kali ini adalah mencegah kokabiel melaksanakan rencananya di Kuoh akademi, apapun yang terjadi, dan sisanya akan diurus oleh Naruto. Tidak ada waktu gundah, tidak ada waktu untuk ragu. Kesempatan hanya satu kali, satu buah tembakan yang dapat menghentikan kokabiel meski hanya lima detik.

Tanpa perintah Boosted Gear miliknya langsung menampakan wujudnya. Bersinar pelan tanpa mengeluarkan suara.

Tubuh Issei langsung menegang saat secara tiba-tiba dia telah berada dalam kukungan sebuah kekkai berwarna hitam pekat nan mencekam. Bukan Cuma dirinya, dia menatap semua iblis disana serta satu sosok lagi yang muncul dan tidak lain dan tidak bukan adalah kokabiel itu sendiri.

Rasa terkejutnya bertambah gila saat kokabiel menembaki teman-temannya dengan tombak cahaya kuning yang memiliki cincin putih diantara ujungnya.

Sebuah sengatan listrik tiba-tiba terasa pada leher Issei. 'Inilah tandanya,' dengan yakin dia langsung melompat keatas pohon dan mengumpulkan seluruh energinya ketangan kirinya. Dengan konsentrasi tingkat tinggi dia menekan kekuatan itu hingga sebesar kelereng dan menembakannya dalam diam kearah Kokabiel yang berniat terbang pergi.

Kokabiel terkejut bukan main saat dia berniat terbang langsung kearah Kuoh akademi, dia langsung dihadang oleh sebuah tembakan energi berwarna merah, namun tembakan itu hanya melewatinya dan menghantam batasan berwarna biru muda transparan yang terbentuk dengan cepat hingga menutupi mereka semua hingga radius hampir sama dengan ukuran Kuoh akademi.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Bingung, penasaran, serta rasa was was menghantui setiap benak iblis muda itu, bagaimana tidak. Mereka baru saja mendapat deklarasi perang dari seorang jendral malaikat jatuh, serta mendapatkan hadiah berupa hujaman dari tombak cahaya, lalu kini... mereka harus terkurung dalam sebuah kekkai berwarna biru trasparan yang terlihat begitu kuat, begitu kokoh, jauh berbeda dari kekkai pada umumnya.

"Sayang sekali rencanamu itu harus berjalan di sini, gagak," sebuah suara terdengar dari sela-sela pepohonan, sebuah siluet seseorang terlihat dengan jelas tengah berjalan tanpa suara kearah mereka semua. Tapi karena keheningan yang berlangsung itu membuat setiap langkah dari siluet itu terdengar dengan jelas.

"Naruto?"

"Sesuai rencana bukan, Issei?" semua iblis disana langsung terheran saat Naruto berkata demikian. "Ya.. tak kusangka bahwa kita akan dapat tangkapan yang besar," kali ini pandangan semua orang harus dipaksa menghadap pada sosok yang tengah berdiri di atas batang pohon dengan tangan bersilang didada.

"Yare-yare.. tidak ku sangka jika aku akan masuk dalam jebakan tikus seperti ini,"

"Oh, begitukah? Berarti secara tidak langsung kau mengakui jika kau itu adalah seekor tikus, bukan?"

"Sepertinya kau memiliki cukup nyali untuk berbicara seperti itu padaku, manusia.." ujar Kokabiel saat melihat wujud dari orang yang menghinanya itu dengan sebuah senyum miring "Tapi, aku jadi ingin tahu apa kau memiliki cukup banyak nyawa untuk mendukung omong besarmu itu,"

Kokabiel melempar tombak cahaya kuning yang sudah berada ditangannya kearah Naruto yang kini sudah berada didepan seluruh anggota penelitian ilmu gaib dan juga OSIS. Namun seperti halnya apa yang seharusnya terjadi, tombak cahaya itu menghilang saat mencapai radius satu meter dari Naruto.

"Hoho... tak kusangka jika kau adalah bocah imagine breaker yang dibicarakan itu?"

"Aku tidak tahu jika aku seterkenal itu di kalangan kalian,"

"Heh.. kau bukannya terkenal tapi kau adalah eksistensi yang ditakuti oleh seluruh kaum supranatural, karena kekuatanmu itu membuat kaum seperti kami tidak ada bedanya dengan manusia rendahan sepertimu,"

"Hoo.. itu berarti kau juga takut denganku, heh?"

"Takut? Jangan bercanda... aku Kokabiel yang agung ini takut pada seorang manusia? Itu merupakan penghinaan terbesar dalam hidupku, bocah,"

"Jadi... bagaimana jika kita mulai saja? Asal kau tahu kekkai ini tidak akan pernah bisa dihancurkan dari dalam sekuat apapun dirimu, namun rapuh jika diserang dari luar... tapi untung saja aku memiliki sebuah asuransi khusus yang dapat mencegah anak buahmu menghancurkan kekkai ini dari luar, jadi kau harus puas memulai perangmu itu di sini,"

"Sepertinya aku memang perlu membungkam mulutmu itu bocah,"

Dengan seketika dia langsung melemparkan dua buah tombak cahaya itu kearah Naruto, namun alih-alih menghindar ataupun menyiapkan Imagine Breakernya Naruto lebih memilih melipat kedua tangannya didepan dada serta mengangkat kedua sudut bibirnya.

Trangg! Trangg!

Kedua tombak cahaya itu ditangis oleh seorang remaja pirang yang tengah memegang sebuah longsword hitam dan seorang perempuan berpakaian hitam serta ramut biru yang memegang broadsword berwarna emas.

"Maaf saja tapi kami menang jumlah,"

.

To be continue...

.

.

Hay hay apa kabar semua? Akhirnya saya bisa kembali... setelah terlepas dari "Great War kemarin entah kenapa saya langsung terkena penyakit malas yang membuatku tidak menyentuh program MsWord lagi, padahal sudah lewat dua minggu pasca "GW" dan setelah saya berpikir, berpikir, dan berpikir... akhirnya niat menulis saya kembali, meskipun masih belum sepenuhnya.

Sepertinya di sini masih banyak yang salah paham ya? Hanya karena aku memasukan Lilith di sini jadi banyak yang mengira bahwa fic ini akan masuk dalam rute harem. Padahal sebuah fic yang mengusung genre romance akan terasa kurang jika adaya pesaing bukan? Tapi setelah aku memasukan saingannya malah dikira harem (-_-").

Pokoknya sesuai dengan apa yang aku utarakan di chapter-chapter awal jika fic ini tetap pada rute single pair yang entah itu sona atau lilith nantinya yang akan dipilih itu adalah keputusan naruto sendiri(yang diperankan oleh author :v)

Jawaban untuk guest...

DAMAR WULAN : memang jika dilihat sekilas naruto seperti memihak pada kubu iblis, namun sebenarnya tidak, dan akan terjawab di chapter-chapter depan.

Dxd : Entah, kita lihat aja nanti.. :v

Sou : Sangkyu atas reviewnya

Cika : Oke... pasti akan lanjut, and Sangkyu atas reviewnya

Namenarurinne : oke, adegan romancenya nyusul.. :v Sangkyu atas reviewnya

Ryall: Sangkyu atas reviewnya

Guest : haha.. emang udah ketebak dengan sekali lihat, dan sepertinya bukannya merasa tersisih malah merasa tersaingi. Haha... berarti kita sama-sama bururk dalam IPS :v. Btw Sangkyu atas reviewnya

Guest : karena rasanya itu pas dan cocok buat di sisipi tulisan TBC :v. Btw Sangkyu atas reviewnya

Dimas uzumaki : oke and Sangkyu atas reviewnya

Guest : tenang aja nanti pasti akan muncul, mungkin. And Sangkyu atas reviewnya

Sdf : oke and Sangkyu atas reviewnya

Pendy : siap untuk fic the emperor madih ane kerjain jadi tunggu aja and Sangkyu atas reviewnya

Andre : karena itulah yang saya incar, rasa penasaran kalian :v . dan untuk kakak naruto masih saya rahasiakan hingga kemunculannya nanti and Sangkyu atas reviewnya

uzuki2309: haha... aku pikir juga begitu, waktu saya terpikir kata itu aku juga sempet tertawa gak karuan sampai-sampai orang di sampingku geleng-geleng gak jelas, pasalnya saat terbesit ide itu adalah saat sedang menyetir di lampu merah. Btw thanks atas reviewnya.

Mul : oke.. thanks atas reviewnya.

Ren asbhel : thanks, tapi sayang saya udah niat single pair dari awal. And thanks atas reviewnya.

PrendX : betul sekali, and makasih dah review (y)

Mahdi dragnee : haha... lihat aja pasti tahu sendiri, :v

raizel : saya senang jika komedinya menghibur, dan akan aku usahakan untuk memperbaiki kekurangan di chapter kemarin maupun chapter ini hingga dapat memuaskan pembaca, thanks atas reviewnya.

Aaaku : haha... bukannya banci kaleng melainkan kaleng cap banci :v. Maaf jika ber-typo semoga chapter ini lebih baik. Oke thanks atas reviewnya.

Ima : iyap... tanpa saingan pasti tidak akan terasa seru, btw thanks atas reviewnya.

Tsuki No Tsuki : oke. Kagak bisa jadwalin sih, soalnya saya update jikalau satu chapter sudah selesai. Dan itupun tergantung mood. And thanks atas reviewnya.

Guest : sip.. akan saya usahakan, thanks atas reviewnya.

anak baik : bukan pertarungan antara harem, tapi lebih tepat disebut pertarungan antar rival, dan untuk update akan saya update sekarang :v . Thanks atas reviewnya.

Dy : saya senang jika anda menyukainya, dan akan saya usahakan update secepat yang saya bisa dan thanks atas reviewnya.

ardi123 : karena saya lagi ujian T.T . jika tidak pasti saya update kok. Btw thanks atas reviewnya.

Hito :oke, dan tenang ini bukan fic harem kok. btw thanks atas reviewnya.

saktihi: Thank you, dan terimakasih dah review.

hina cchan : siap.. dan setelah membaca AN diatas pasti dah tahu sendiri kan, ane capek dah nulis hal yang sama. Btw thanks atas reviewnya.

Kurasa cukup di sini saja saya ngoceh kagak jelasnya, jadi jangan lupa tinggalkan jejak berisi apapun yang ada di pikiranmu tentang chapter ini.

Dan sampai jumpa kapan-kapan :v...

..

.