Ish: part 2! Disclaimer dan warningnya sama kayak sebelumnya, jadi Ish ga usah nulis lagi yah~ lagi ga mood... T___T

Teru: Enjoy the story!~


Kyoya berdiri di depan pintu besar bertuliskan 'Gate 13 Jungle Labyrinth'. Ia bersandar pada tembok sambil menyilangkan kedua tangannya. Sudah beberapa menit ia berdiri disitu sambil menunggu instruksi selanjutnya. Sebentar kemudian, ia mendengar suara mirip sirine yang sepertinya merupakan tanda kalau para peserta diperbolehkan masuk ke dalam. Tanpa tunggu lama lagi, Kyoya pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam.

Seketika melangkah masuk, Kyoya sudah dikejutkan oleh seekor oleh python yang melintas di dekat kakinya--nyaris saja terinjak karena Kyoya tidak bisa melihat dengan jelas tanpa kacamatanya.

Baiklah, ini tidak lucu. Baru awal saja aku sudah disambut oleh seekor ular, walaupun tidak beracun tapi tetap saja yang namanya ular kan tetap berbahaya! Apa sih yang ada di kepala panitia penyelenggara lomba ini? batin Kyoya tidak habis pikir.

Meski sambil sesekali menggerutu di dalam hati, Kyoya tetap melangkah masuk lebih dalam ke dalam Jungle Labyrinth. Sungguh, di dalam labirin ini benar-benar terasa seperti di dalam hutan. Suara burung yang berkicau dan suara serangga bisa terdengar jelas di telinga Kyoya.

Benar-benar deh... Aku heran kenapa di taman main rakyat jelata bisa ada wahana dengan konsep sebagus ini. Mungkin aku harus belajar banyak mengenai taman bermain rakyat jelata. batin Kyoya yang mulai kembali terlihat seperti pebisinis muda.

Ketika sang wakil ketua host club itu sedang melangkahkan kakinya sembari mengamati sekeliling--atau lebih tepatnya mengumpulkan data untuk proyek Ootori group berikutnya dari Jungle Labyrinth ini, mendadak ia mendengar suara dari arah belakang.

Kyoya langsung berbalik dengan sikap waspada.

Suara apa itu tadi? Suara peserta lain? Atau jangan-jangan... suara hewan buas? batin Kyoya masih terlihat waspada. Sebenarnya sih Kyoya ingin mengintai dari jauh saja, namun sayangnya saat ini pandangannya yang kabur tidak memungkinkan untuk melakukan hal itu. Terpaksa ia melangkahkan kakinya mendekati sumber suara itu.

Dengan hati-hati Kyoya menyingkap dedaunan panjang dimana ternyata ada sosok seseorang yang bersembunyi. Alis Kyoya terangkat kaget begitu melihat sosok orang itu, namun sekejap kemudian senyum sinis ala raja iblis mengembang di wajahnya.

"Senang sekali bertemu denganmu disini, nona manis."


Jenuh, jenuh. Kaoru merasa jenuh.

Ia menghela nafas sambil memandangi sekeliling. Alam liar membentang di hadapannya, namun ia sama sekali tidak bisa menikmatinya sama sekali. Ia sudah terlanjur berjanji pada Kyoya untuk tetap berada di tempat sampai Kyoya datang menjemputnya.

Sekali lagi Kaoru menghela nafas. Aku bosan berada disini terus. Apa tidak ada yang bisa kulakukan disini sambil menunggu Kyoya-senpai ya? pikir Kaoru sambil celingukan kesana-kemari. Matanya membelalak lebar begitu menemukan sekelompok monyet yang sedang bermain di dekat pepohonan. Dengan antuiasme tinggi Kaoru langsung menghampiri kumpulan monyet liar itu.

Ia mengelus bulu monyet-monyet liar itu sambil nyengir lebar. Hikaru pasti akan ngiri setengah mati kalau tahu aku bermain bersama monyet liar. Keren! batin Kaoru puas.

Namun sayangnya karena asik bermain dengan para monyet liar itu, Kaoru sama sekali tidak menyadari akan kehadiran seseorang yang sebenarnya sudah mengintainya dari tadi.


Senyum sinis nan menawan masih belum bisa lepas dari wajah Kyoya. Mendadak aura hitamnya terasa begitu mengintimidasi hingga sang 'nona manis' alias anak gorila B itu hanya bisa berkeringat dingin tanpa bisa bergerak satu langkah pun.

"Aku sama sekali tidak memperhitungkan bisa bertemu denganmu disini." ungkap Kyoya masih sambil tersenyum sinis. Ternyata ramalan tentang nasib buruk itu memang hanya omong kosong belaka. Kalau memang aku bernasib sial, mana mungkin aku bertemu dengannya?

Anak gorila B itu pun memandangi Kyoya ngeri. Saking takutnya, ia sampai tidak bisa berkata apa pun. Tubuhnya gemetaran, bereaksi pada hawa hitam di sekeliling Kyoya yang terasa mengintimidasi.

Kyoya masih tersenyum sinis; namun entah kenapa senyuman Kyoya itu justru membuat anak gorila B tambah ngeri. Wakil ketua host club itu mengulurkan tangannya lalu berkata pelan, "Nah, sekarang, bisa serahkan kalungmu?"

"E-Eh?"

"Kau mau menyerahkan kalungmu secara damai atau aku harus merebutnya dengan paksa, nona manis?" sindir Kyoya sambil masih tersenyum sinis.

Anak gorila B itu memandangi Kyoya dengan ngeri. Ba-Ba-Ba-Bagaimana ini?! Aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan padaku kalau aku menolak. ...Tapi bos pasti akan menghukumku kalau aku sampai memberikan kalung itu padanya. Apa yang harus kulakukan!? batin si anak gorila B itu stress.

Kyoya masih mengulurkan tangannya, menunggu. "Nah, bagaimana? Apa aku harus mengambilnya paksa?" tanya Kyoya sekali lagi. Namun kali ini senyum di wajahnya sudah menguap. Mendadak udara di sekitar anak gorila B itu terasa dingin--tentu saja karena intimidasi dari Kyoya.

Bagaimana ini?! Apa yang harus kulakukan?! jerit anak gorila B itu dalam hati.

Kyoya tidak suka dibuat menunggu. Hal itu sangat berkebalikan dengan prinsipnya. Ingat, waktu adalah uang. Tak mau menunggu lebih lama lagi, Kyoya pun mengambil kalung dari si anak gorila B dengan paksa. Yang bersangkutan tidak bisa melawan karena takut dengan hawa hitam di sekeliling sang raja iblis.

Anak laki-laki ketiga keluarga Ootori itu tersenyum sinis. "Terima kasih atas kesediaanmu memberikan kalung ini dengan cuma-cuma ya, nona manis."

Sekejap kemudian Kyoya sudah melempar kalung itu jauh-jauh, entah kemana.

Wajah anak gorila B itu langsung berubah pucat pasi. Bos... pasti membunuhku. batinnya ngeri. Ah, rasanya ia sudah bisa membayangkan akhir dari hidupnya.

Dengan ini satu masalah sudah selesai, sekarang aku harus mencari Kaoru. batin Kyoya sambil menoleh ke sekeliling. Tapi aku harus kemana ya?

Ketika itu, mendadak Kyoya mendengar suara yang sudah sangat familier di telinganya, suara Kaoru.

"TIDAAAAAAAAAAAK!"

Mata Kyoya spontan membelalak lebar begitu melihat jeritan itu. Otaknya sudah tidak bisa berfikir lagi, ia langsung saja berlari mengikuti sumber suara itu. Kaoru!


Kaoru melangkah mundur selangkah demi selangkah. Dari bola matanya terpantul sosok laki-laki gorila alias Momotarou yang semakin mendekat ke arahnya.

"Dimana kakak kelasmu itu, bocah sialan?" tanya Momotarou sambil menyeringai. "Kau tidak mau berteriak dan minta tolong padanya? Ah, tapi percuma saja. Meskipun dia mendengar, saat ia sampai kesini semuanya sudah terlambat."

"Tidak! Jangan mendekat!"

"HAHAHAHA! Kau terlihat seperti perempuan saat ketakutan seperti ini." ledek Momotarou sambil tertawa terbahak-bahak. "Tenang saja, aku tidak akan macam-macam padamu kalau kau memberikanku kalung itu. Bagaimana?"

"Aku tidak akan memberikannya padamu!"

Mendengar jawaban dari Kaoru, Momotarou langsung melotot dengan garang. "Apa kau bilang?! Kau menolak tawaranku?! Huh! Kalau begitu akan kurebut paksa!"

Laki-laki gorila itu berlari ke arah Kaoru, hendak merebut secara paksa. Namun saat ia melangkah, tanpa sengaja ia menginjak ekor dari salah satu monyet liar yang berada di sekitar situ.

"UKI!" jerit monyet itu. Sebentar kemudian monyet itu pun melempari Momotarou dengan buah-buahan, tak lama kemudian monyet-monyet yang lain pun menyusul.

"Aduh! Aduh! Berhenti dasar monyet-monyet brengsek! Aku bilang berhenti!"

Sementara para monyet itu menahan Momotarou, Kaoru mengambil kesempatan ini untuk kabur. "Sangkyu monyet-monyet!" serunya. Sebelum kabur, sempat-sempatnya ia menjulurkan lidah pada Momotarou.

"Brengsek! Kembali kesini kau bocah brengsek!" geram Momotarou. Ia berniat mengejar, namun sayangnya para monyet itu masih terus melemparinya dengan buah-buahan.

Kaoru sudah berlari cukup jauh dari laki-laki gorila itu. Nafasnya mulai tersengal-sengal, keringat pun bercucuran membasahi seluruh lekuk wajahnya. Apa aku sudah cukup jauh darinya? pikir Kaoru sambil kembali melihat ke belakang. Di belakangnya sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan orang, namun entahlah, laki-laki gorila itu kan pandai menyatu dengan alam. Yah, namanya juga gorila!

Kaoru memutuskan untuk terus melangkah, untuk berjaga-jaga kalau ternyata laki-laki gorila alias Momotarou itu mengejarnya. Namun ketika ia melangkah, Kaoru tidak begitu memperhatikan pijakannya, alhasil mendadak kakinya kena perangkap.

"Huwaaaa!"

Kaoru berakhir tergantung terbalik dengan kaki terikat di salah satu pohon. "Ugh, ini tidak keren." keluh Kaoru. Ia berusaha melepaskan diri, namun sayangnya lilitan di kakinya kuat sekali.

Ketika masih sedang berusaha melepaskan ikatan yang melilit kakinya itu, Kaoru mendengar suara Kyoya dari kejauhan.

"Kaoru! Dimana kau?! Jawab aku! Kaoru!!!" teriak Kyoya yang entah ada dimana.

Mendengar suara Kyoya, spontan Kaoru berteriak menjawab. "Senpai! Aku ada disini!! Kyoya-senpai!"

"Kaoru!!"

"Senpai! Disini!"

Beberapa saat setelahnya, Kaoru mendengar suara langkah kaki mendekat. Tentu saja spontan ia meneriakan nama kakak kelasnya itu. "Kyoya-senpai!"

Namun sayangnya yang ada di hadapannya bukanlah sosok Kyoya, melainkan sosok Momotarou yang sekarang kotor oleh buah-buahan. Laki-laki gorila itu menyeringai lebar pada Kaoru. "Dasar bocah bodoh... kalau berteriak sekencang itu, bahkan dari jarak jauh pun aku bisa mendengar suaramu." katanya sambil berjalan mendekat. "Nah, sekarang, aku akan mengambil kalungmu."

"Tidak! Aku tidak akan menyerahkannya!"

"Serahkan!"

"Tidak akan!"

Kaoru terus berusaha memberontak ketika Momotarou hendak merebut paksa kalung yang terpasang di lehernya. Ketika itu, tanpa sengaja Kaoru menampik wajah Momotarou. Laki-laki gorila itu langsung menggeram emosi.

"Kau... Beraninya kau menampar wajahku!" geramnya. Sedetik kemudian ia balas menampar Kaoru. Anak bungsu keluarga Hitachiin itu meringis kesakitan. Tak puas memukul Kaoru, Momotarou kembali menarik kalung itu paksa. Akhirnya kali ini ia berhasil mendapatkannya.

Sambil tersenyum puas, Momotarou melempar kalung itu jauh ke dalam hutan, entah dimana. Sebentar kemudian ia menoleh ke arah Kaoru sambil menyeringai. "Nah, sekarang aku harus pergi mencari pacarku. Kalau kau sudah bertemu dengan kakak kelasmu, sampaikan salamku padanya, HAHAHAHAHAHA!"

Momotarou pun melangkah masuk ke dalam hutan meninggalkan Kaoru sendiri yang masih terperangkap oleh jebakan.


"Kaoru!" panggil Kyoya panik. "Kau baik-baik saja, Kaoru!?"

Kaoru mengedip-ngedipkan matanya, mencari sumber suara yang memanggil namanya. Suara ini... Kyoya-senpai... batin Kaoru.

"Sen...pai...?" panggil Kaoru lemah. Sudah hampir setengah jam ia tergantung terbalik di dengan kaki terikat di pohon, tak heran sekarang kepalanya pusing lantaran seluruh darah dalam tubuhnya mengalir terbalik menuju kepala.

"Tunggu sebentar, aku akan segera menurunkanmu dari situ!" seru Kyoya. Ia pun berusaha mencari benda tajam untuk memotong tali yang mengikat sebelah kaki adik kelasnya itu. Beruntung ia menemukan batu lancip yang sepertinya cukup tajam.

Tak tunggu lama, Kyoya buru-buru mengesekkan batu itu pada tali yang mengikat kaki Kaoru. Sebentar kemudian adik kembar Hikaru itu pun terlepas dari perangkap yang menyiksanya itu.

"Kau tidak apa-apa Kaoru?" tanya Kyoya cemas.

"Aku baik-baik saja... tapi kalungnya..." Kaoru menundukkan kepalanya menyesal. "Laki-laki gorila itu berhasil mengambil kalungnya. Maafkan aku." sesal Kaoru.

Kyoya mengusap kepala Kaoru dengan lembut. "Tidak apa, jangan dipikirkan. Kita bisa mencarinya, masih ada cukup waktu."

"Tapi bagaimana kalau laki-laki gorila itu berhasil menemukan pasangannya sementara kita masih mencari?"

Kyoya tersenyum sinis. "Tenang saja, kebetulan tadi aku juga sudah mengambil cincin pasangan laki-laki gorila itu dan membuangnya." jelas Kyoya. "Kau bisa berdiri? Mungkin lebih baik kau bercerita sambil mencari."

Kaoru mengangguk pelan. Sambil dibantu oleh Kyoya, ia pun beranjak bangun. Setelah itu, keduanya pun bersama-sama mencari kalung Kaoru yang hilang di hutan rimba dalam Jungle Labyrinth.


"Senpai! Itu dia!" seru Kaoru riang bukan main begitu ia menemukan sebuah kalung yang menyangkut di ranting di tengah rawa buatan di dalam Jungle Labyrinth.

"Dimana?"

"Disitu! Menyangkut di ranting di tengah rawa!"

Kyoya berusaha mencari ranting yang dimaksud Kaoru, namun sayangnya, tanpa kacamata ia tidak bisa melihat dengan jelas. Ia mengerutkan alisnya. "Aku tidak melihat apa pun, Kaoru."

Kaoru memandangi kakak kelasnya jengkel. "Tentu saja tidak lihat, senpai kan tidak memakai kacamata! Aku heran senpai bisa menemukanku padahal kan senpai sedang tidak bisa melihat dengan jelas."

Kyoya tidak lagi berkomentar, sudahlah, ia percaya saja pada adik kelasnya itu. Lagipula benar kata Kaoru, sekarang ini kan ia memang sedang tidak bisa melihat dengan jelas. Bisa menemukan Kaoru saja sebenarnya sudah untung.

"Jadi ranting itu ada di tengah rawa?" tanya Kyoya memastikan. Ia memicingkan matanya dengan harapan bisa melihat lebih jelas, walaupun nyatanya tidak banyak berpengaruh.

"Iya, biar aku ambil!" seru Kaoru sambil melangkahkan kakinya. Namun sebelum sempat melangkah lebih jauh, tangan Kyoya menahannya.

"Tidak, kita tidak tahu apa yang ada di dalam rawa itu. Biar aku saja yang mengambilnya."

Kaoru merengutkan wajahnya. "Senpai... Senpai mau sampai kapan sih memanjakanku begini? Aku bisa mengambilnya! Setidaknya kan aku bisa melihat lebih baik daripada senpai!"

JLEB! Perkataan Kaoru barusan menancap bagai panah di hati Kyoya.

"Lagipula, ini semua kan salahku, jadi harus aku yang bertanggung jawab!" ujar Kaoru serius. Meski Kyoya tidak bisa melihat dengan jelas raut wajah adik kelasnya itu, dari suaranya saja Kyoya sudah bisa tahu betapa seriusnya Kaoru.

"Kaoru..."

"Kumohon senpai, kali ini dengarkan aku."

Kyoya terdiam sejenak. "Baiklah." Akhirnya ia pun menyanggupi, meski terdengar jelas dari suaranya kalau sebenarnya ia masih keberatan. Mendengar persetujuan Kyoya, Kaoru langsung memasang wajah sumringan.

"Tapi berjanjilah satu hal padaku... kau tidak boleh ceroboh, dan kalau ada sesuatu yang membahayakanmu, kau harus segera pergi dan melupakan kalung itu. Kau mengerti?"

Kaoru mengangguk bersemangat. "Iya, aku mengerti."

Akhirnya dengan berat hati Kyoya pun membiarkan Kaoru mencebur ke dalam rawa. Sambil mengawasi dengan cemas di pinggir rawa buatan itu, sesekali Kyoya memanggil Kaoru untuk memastikan kalau adik kelasnya itu baik-baik saja, maklum, Kyoya kan tidak bisa melihat jarak jauh dengan jelas.

"Kaoru, kau baik-baik saja?"

"Iya, aku baik-baik saja. Ini aku sudah mendapatkan kalungnya!" seru Kaoru senang.

"Baguslah kalau begitu, cepat kembali kesini."

Kaoru tersenyum simpul sambil mengamati kakak kelasnya itu dari kejauhan. "Iya, iya, aku akan segera kem--" perkataan Kaoru terhenti begitu ia menyadari ada sesuatu yang aneh pada air di rawa itu. Ketika Kaoru menoleh ke belakang, ia melihat pusaran air yang semakin mendekat ke arahnya. Mata Kaoru membelalak lebar.

Kyoya menyadari Kaoru tidak melanjutkan perkataannya barusan, dan mendadak ia merasa mendapat firasat buruk. "Kaoru! Kau baik-baik saja!? Apa terjadi sesuatu disana?"

"Senpai... di belakangku ada pusaran air." jawab Kaoru yang entah kenapa malah diam memandangi pusaran air yang semakin mendekat ke arahnya itu, bukannya malah kabur.

"A-Apa?"

"Pusaran air."

"Kaoru! Cepat ke daratan!" teriak Kyoya dari pinggir rawa. "Ayo cepat, Kaoru!"

Seketika mendengar teriakan Kyoya, barulah Kaoru bereaksi. Ia buru-buru berenang ke daratan. Tidak susah untuk menghindari pusaran air itu, rawanya kan tidak besar, jadi tidak butuh waktu lama untuk sampai ke daratan.

Namun saat sedang berenang, tanpa sengaja Kaoru menjatuhkan kalungnya. Ketika sadar, kalung itu sudah berada cukup dalam. Kaoru menoleh ke belakang, melihat sampai dimana pusaran air itu kemudian menoleh ke arah Kyoya.

"Senpai, barusan aku menjatuhkan kalungnya, tapi tidak usah khawatir! Aku akan mengambilnya dan segera kembali!"

"Tu-Tunggu Kaoru! Jangan!"

Terlambat, Kaoru sudah menyelam ke dalam untuk mengambil kalungnya yang terjatuh. Mendapati tidak ada jawaban dari Kaoru, Kyoya berasumsi kalau adik kelasnya itu sudah menyelam. Ia kembali meneriakan nama Kaoru.

"Kaoru! Kau sudah berjanji padaku untuk tidak bertindak ceroboh!"

Masih tidak ada jawaban dari Kaoru. Tidak tahan lagi, Kyoya pun menyebur ke air dan berenang tanpa arah sembari meneriakan nama adik kelasnya itu.

"KAORU!!!"

"Aku disini senpai!" sahut Kaoru. Akhirnya ia kembali ke permukaan juga. Begitu melihat sosok Kyoya di dalam air, mata Kaoru langsung membelalak lebar. Masalahnya Kyoya justru berada lebih dekat dengan pusaran air itu ketimbang dirinya.

"Senpai! Di belakangmu!"

Sesaat setelah Kaoru berteriak, Kyoya sadar kalau sekarang justru sekarang ia yang terjebak di dalam pusaran air itu. Dan ketika berputar dalam pusaran air itu, sialnya kepala Kyoya terantuk batu hingga ia tak sadarkan diri.


"Senpai... Kyoya-senpai!" teriak Kaoru.

Kyoya membuka kelopak matanya, samar-samar ia melihat sosok Kaoru. "Kao...ru?"

"Senpai! Akhirnya senpai sadar juga!" seru Kaoru lega. Ia membantu kakak kelasnya itu duduk. "Tadi kepala senpai terbentur batu, jadi senpai tidak sadarkan diri." jelas Kaoru sambil memeriksa luka di kepala Kyoya. "Hm, kurasa lukanya tidak serius."

"Kau sendiri... apa kau tidak terluka?"

"Aku tidak terluka sama sekali. Seharusnya senpai tidak usah ikut menceburkan diri dan berusaha menolongku."

"Bagaimana bisa aku berdiam diri sementara aku tidak tahu keadaanmu?"

"Tapi lihat, akhirnya justru senpai yang celaka kan?"

JLEB! Kyoya langsung bungkam seribu kata.

"Sudahlah senpai, tidak usah berdebat lagi. Lebih baik kita segera keluar dari labirin ini, kurasa sebentar lagi batas waktunya habis."

Menyetujui Kaoru, Kyoya pun beranjak bangun. "Saat ini sudah selesai nanti, aku bersumpah akan memberikan pelajaran pada Tamaki." sumpah Kyoya dengan mata yang memancarkan dendam. Kaoru hanya tertawa mendengarnya, tapi sebenarnya dalam hati ia ngeri juga membayangkan pembalas dendaman Kyoya.

Kini keduanya pun melangkah pergi keluar dari Jungle Labyrinth. Mungkin mereka berdua pikir ini semua sudah selesai, sayangnya pikiran itu salah. Masih ada masalah baru yang menanti mereka nanti.


Ish: Selesai. Ah, akhirnya... tapi, tapi... kok Ish ngerasa cerita di chapter ini agak aneh ya? Iya ga sih? Apa karena Ish bikinnya setengah tidur?

Teru: Yah, kalau itu sih tanya aja ke reader... Nah, reader semua, kalau tidak keberatan, silahkan tulis pendapat kalian semua lewat review biar master tahu apa ceritanya aneh ato ga...

Ish: Ah iya! itu ide bagus! Yoroshiku~

Teru: Yoroshiku onegaishimasu...