Si Bungsu Gin
Disclaimer: Bleach beserta karakternya bukan milik saya.
Summary :
Kira si kucing kembali datang, hanya kemudian untuk pergi selamanya. Sebagai gantinya, Gin menemukan seorang remaja yang mirip dengan kucing itu. AU.
Warning: Cerita ini AU, jadi selamat membaca cerita ini sebagaimana adanya.
Chapter 10
.-.-.
"Gin, jangan sedih terus-terusan dong! Tidak enak dilihat, tahu!" tegur Byakuya entah untuk yang keberapa kali sejak Kira mati.
Gin hanya menghela napas, ogah-ogahan. Sudah seminggu lebih sejak kucing kecil pirang itu meninggalkannya selamanya, tapi Gin masih diliputi kesedihan. Kira sudah dianggapnya seperti adik, teman dan...hewan peliharaan. Kehilangan binatang imut itu membuatnya benar-benar muram.
"Ke kantin, yuk!" ajak Byakuya, mulai putus asa melihat temannya yang biasanya periang kini terduduk lesu di bangkunya.
"Tidak lapar," balas Gin singkat.
"Waktu istirahat hampir habis, lho."
Gin mengangkat bahu.
Byakuya mengerutkan kening, memikirkan cara lain agar sahabatnya yang kadang menyebalkan itu mau tersenyum lagi. Yah, sebenarnya senyuman atau seringai Gin menakutkan sih, tapi melihatnya berwajah suram seperti ini jauh lebih menakutkan.
"Gimana kalau kubelikan roti?" tawar Byakuya akhirnya.
"Kau mentraktirku?" tanya Gin, mendongak kemudian memandang Byakuya yang berdiri di samping mejanya.
"Pakai uangmu dong!" ujar Byakuya santai. "Kau kan kaya."
"Huh! Dasar tidak ikhlas," komentar Gin manyun.
Kakak Rukia itu menarik-narik lengan Gin. Rupanya upayanya tidak membuahkan hasil. Boleh saja penampilan bocah rubah itu kurus kerontang, namun Byakuya gagal menyeretnya. Dengan tak acuh Gin mengamati pemandangan dari jendela kaca kelasnya. Banyak siswa yang lalu lalang di koridor. Ada yang tertawa dan tersenyum genit. Ada yang berambut pirang, hitam dan...
Byakuya nyaris terjengkang ketika tiba-tiba saja Gin melompat dan menyentak lengannya. Cepat-cepat remaja bermata sipit itu berlari keluar kelas. Cemas, Byakuya mengikutinya.
"Kira!" jeritan Gin membahana di seantero koridor.
Byakuya hampir menubruk kepala Gin, tidak mengira sahabatnya itu bakal berhenti mendadak setelah sebelumnya melesat bagai anak panah ke luar kelas.
"Kira!" seru Gin lagi.
Mata hitam-kelabu Byakuya mencari sosok kucing pirang kecil, namun hasilnya nihil. Heran, Byakuya mengikuti pandangan Gin.
"Iya, namaku Kira."
Olala, di depan mereka Shuuhei sedang ngobrol sambil berjalan dengan seorang cowok berambut pirang. Akhirnya Byakuya paham bahwa yang dimaksud Gin barusan bukanlah mendiang kucingnya.
"Wah, betul-betul mirip. Seakan Kira lahir kembali," seru Gin riang. Wajahnya yang muram mendadak berbinar. Dia sudah mendekati Shuuhei dan temannya ketika tangan Byakuya terulur menahannya.
"Kau mau apa?" tanya Byakuya curiga.
"Harusnya aku yang tanya begitu!" balas Gin.
Shuuhei kebingungan. "Ya, ini temanku Kira. Tetanggaku, sih. Kau kenal?" tanyanya pada Gin.
Byakuya lagi-lagi dibuat pusing oleh ulah Gin. Sedetik yang lalu teman kurusnya itu ceria, detik berikutnya sudah menguarkan aura suram.
"Dia...mirip kucingku yang sudah mati," ujar Gin lirih.
Shuuhei dan temannya terbelalak. Byakuya nyaris menepuk dahinya. Tapi karena dia seorang Kuchiki, hal itu tidak sampai terjadi.
"Jangan pedulikan omongan Rubah ini, ya," pintanya agak malu. Gin memang aneh, Byakuya sadar itu. Tapi menyamakan orang dengan kucing? Wah wah, sungguh sangat keterlaluan!
Berteman dengan penjual minyak wangi bakal kecipratan aroma harumnya. Berteman dengan anak senormal Gin? Tidak, Byakuya tidak rela ketularan apapun dari bocah rubah itu!
"Bener kok, dia mirip Kira," sanggah Gin keras kepala. Kali ini telunjuk kurusnya menunjuk pemuda pirang itu. "Lihat, rambutnya pirang! Kucingku juga. Matanya biru."
"Kebetulan sekali, mata temanku juga biru," tambah Shuuhei keheranan.
"Namanya Kira," sambung Gin mulai kelihatan ceria kembali.
"Namaku memang Kira," ujar Kira. Wajah kecilnya disapu keheranan. "Tapi Kira memang nama yang umum. Omong-omong, turunkan telunjukmu dari wajahku," ujarnya risih.
Kira nyengir. "Mau ke kantin? Bareng, yuk!"
Byakuya jengkel. Berteman dengan Gin sungguh tidak baik untuk jantung maupun tekanan darah. Tadi dibujuk-bujuk supaya tidak sedih, eh, sekarang malah seenaknya menunjuk seorang siswa dan berkata dia mirip almarhum peliharaannya.
.-.-.
Izuru Kira pemuda yang manis, ditilik dari rupa maupun attitudenya. Rambutnya pirang emas, matanya sebiru langit. Pembawaannya ceria, tipe happy-go-lucky-boy. Byakuya berdoa supaya Gin meniru sifat Kira. Siapa yang tidak senang punya teman baik hati dan suka menolong seperti Kira? Malangnya, beberapa hari kemudian remaja pirang itu berubah gloomy.
Kira memang jenis orang yang akan kau pilih sebagai teman tanpa perlu pikir panjang. Rupanya hal itu jugalah yang jadi kelemahannya. Gin menganggapnya sebagai pengganti Kira si Kucing. Dilimpahi 'kasih sayang' oleh Gin secara ekstrim membuatnya kalut. Suatu siang saat istirahat kedua, Gin menghampiri kelas Kira dan menghujaninya dengan kesemek yang telah dikeringkan.
"Nih, buat kamu semua. Rasanya enak, lho," cerocos Gin seraya memberikan kardus berukuran sedang.
Kira terbelalak mendapati perutnya tertohok si kardus. "Buatku? Banyak sekali!" seru Kira takjub. Dia tak akan sanggup menghabiskannya sendiri. Selain itu, memberi informasi bahwa dia tak suka kesemek pada sang bocah kurus kerontang di hadapannya tidak sesuai dengan hati Kira. Remaja pirang itu tak ingin menyinggung perasaan Gin.
Gin nyengir. "Heeh. Itu dari pohon yang kutanam sendiri," ujarnya bangga. Si rubah itu tertawa terkekeh.
Lama-lama Kira si Baik Hati jadi frustasi. Jika Gin hanya menyapa dan ngobrol dengannya, hal itu tak jadi masalah. Lain cerita bila bocah jangkung dan kurus itu jadi sering memberinya kesemek kering, abon dan onigiri berisi ikan.
Byakuya sampai risih.
"Hei Kira, mau tidak ikut mancing bersama kakakku?" ajak Gin.
Kira menggeleng. "Aku tidak suka mancing," sergahnya. "Membosankan."
"Eh, Starrk senang, tuh," urai Gin, mengingat-ingat ekspresi Starrk ketika dia duduk di pinggir danau.
"Bikin ngantuk," lanjut Kira jujur.
"Nanti ikannya boleh dibawa pulang, kok. Gratis!"
"Gin, aku bukan kucing!"
.-.-.
"Beneran, lho, dia mirip banget dengan Kira," cerita Gin semangat.
Sousuke hanya melirik dari balik kacamatanya. "Tidak baik menyamakan manusia dengan seekor kucing," komentarnya datar. Dia membalik lagi koran yang tak sempat dibacanya tadi pagi.
Mata Gin semakin menyipit. "Aku tidak menyamakannya, kok," sanggah sang adik cepat. "Aku cuma bilang mirip."
Sousuke menghela napas. Daripada Gin, Starrk jauh lebih mudah diurus. Sousuke dan Starrk hanya terpaut empat tahun. Sewaktu masih sangat kecil, Sousuke menjaga Starrk dan mengajaknya bermain. Si Kriwil itu tidak banyak tingkah. Starrk tidak suka membuat onar. Bahkan dia lebih banyak nurut dan tidur. Permintaan Starrk juga tak pernah aneh. Dia sudah gembira mendapat bantal bulu angsa dan selimut berserat halus. Sejauh yang bisa diingat Sousuke, Starrk kecil, remaja dan dewasa awal tidak pernah membuatnya pusing seperti Gin.
Fyuuh!
"Kira Manusia marah tidak sewaktu kau bilang dia mirip kucingmu?" tanya Sousuke.
Gin tercenung. "Erm.."
"Ambil positifnya saja kalau begitu," ujar Sousuke, membuat Gin mendongak. Si bungsu itu tiduran di karpet empuk buatan Starrk.
"Maksudmu?" tanyanya tak mengerti.
Sousuke tersenyum kecil. "Yah, paling tidak temanmu sekarang bertambah."
.-.-.
TBC
A/N: Happy New Year! Semoga di tahun ini banyak hal bagus terjadi.
