—RE=SET—
If the rules are annoying you,
just go ahead and break 'em
Delapan: Shika to Cho*
Teluk Momoko (perbatasan negara Ame dan kepulauan Kiri)
Kapal komersil Lintas Momoko
Naruto menyandarkan bagian atas tubuhnya di pagar pengaman dek teratas. Sepasang mata birunya mengamati riak ombak yang terpecah di selusur lambung kapal, tapi dia tampaknya tidak menikmati pemandangan ini.
Berangkat dari stasiun umum di Sumi pagi-pagi tadi tanpa memberitahu siapapun—termasuk Tou-jin, satu-satunya yang tahu jalur perjalanannya—Naruto melakukan estafet menuju pelabuhan setelah mencapai stasiun Ame menggunakan bus setempat. Merasa sangat beruntung karena ternyata kapal menuju Kiri hanya dijadwalkan tiga kali sehari, dan mendapatkan tiket pada sore hari pada jam keberangkatan hanya setengah jam setelah dia tiba.
Disinilah dia sekarang, diatas kapal penumpang yang selama tiga-setengah jam akan membawanya lebih dekat ke tempat Sai, dimanapun dia berada.
Naruto hanya menginginkan penjelasan. Bukan konflik.
Karena itulah dia memilih untuk menguntit Sai daripada mengikuti anjurannya untuk mendapatkan info di Konoha.
'Tidak', Naruto membatin sambil menggeleng kuat-kuat, '…aku bukannya menghindari Konoha kok! Semua 'kan dimulai dari Sai! Jadi ya larinya ke Sai!'
Dia juga menyampaikan pesan Sai pada Sarutobi-sensei mereka melalui e-mail yayasan. Samasekali tidak menangkap maksud Sai yang menyuruhnya ke Konoha.
'Untuk apa Sai menyuruhku ke Konoha? Tidak mungkin hanya disuruh menyampaikan kabar 'kan? Pasti ada apa-apanya! Sasuke juga pasti bilang….'
Naruto menepuk keningnya secara tiba-tiba dan bergumam,
"Sasuke 'kan katanya ke Konoha ya? Ah, sial… aku lupa!"
Kabin kendaraan
Tempat parkir di dek terbawah
"Shikamaru~ ayo cari cemilan di dek atas!"
Pemuda yang dipanggil, Shikamaru, hanya ber-'hn' tak sabar dari tempat duduk penumpang di samping supir dalam mobil boks hitam pekat.
"Kotetsu, mau titip apa?"
Si sopir yang baru saja membersihkan dasbor dari tumpahan jus kalengan, menyampirkan lap handuk di pundak dan melepas topinya sebelum berkata, "Apa sajalah."
"Apa Kau saja yang ikut Chouji? Biar aku jaga di sini!" Shikamaru menawari si sopir sambil membenarkan tali sepatunya.
"Aku mau tidur sebentar. Kecuali Kau mau menggantikanku menyetir sampai Kirigakure."
"Aku cari makanan," Shikamaru langsung menyahut dan melompat keluar dari mobil, "… Chouji!"
Pemuda lain bertubuh gempal dengan rambut merah panjang acak-acakan, menoleh dari bawah tangga yang menuju ke atas. Dia mengangguk dan menunggu rekannya sampai, baru kemudian berjalan nyaris sejajar untuk menaiki tangga.
Mereka sampai di dek tengah hanya untuk bertukar pandang karena jelas tidak banyak variasi makanan atau cemilan di daerah itu. Hanya berisi sekelompok orangtua yang mengobrol, dan segerombolan anak kecil yang bermain petak umpet.
"Irin-chan! Jangan berlarian! Jatuh ke laut, mati Kamu!"
"Iya, Maa~."
Shikamaru mengangkat bahu pada Chouji ketika Irin-chan yang dimaksud masih tetap melanjutkan aktivitas larinya sementara sang ibu telah beralih pada kelompok gosipnya.
"Dek atas lagi."
Chouji mengangguk dan mengikuti dari belakang.
"Irin-neesan. Aku mau eskrim!"
Naruto menoleh dari lamunannya untuk melihat pada tiga anak kecil yang sedang berdebat mengenai jajanan. Dia baru mau membuka mulut untuk memperingatkan, saat salah satu dari bocah itu berlari tanpa melihat arah dan sebagai akibatnya menubruk pinggang seseorang yang bertubuh gempal. Seharusnya orang itu cukup kokoh untuk menahan dirinya agar tidak jatuh (ditambah fakta yang menabraknya hanya seorang anak kecil) namun mungkin karena bersamaan dengan saat itu kapal bermanuver tajam untuk menghindari pusaran air... yang jelas orang itu jatuh di kedua lututnya dalam posisi bersimpuh.
"Maaf, Kak!" anak yang menabraknya tidak jatuh tapi tampak takut saat obyek tabrakannya bangkit sambil memunguti beberapa bungkus cemilan yang terlempar dari kantung plastik bawaannya.
"Sudahlah. Bantu kakakmu bawa eskrim saja sana… Hati-hati, jangan berlarian lagi ya!"
Si anak tersenyum dan mengangguk lalu pergi menuju konter eskrim. Tapi Naruto masih mengawasi. Dia merasa familiar dengan perawakan, juga mengenai bungkusan cemilan itu….
"AH! Akimichi-san!"
Beberapa orang menoleh.
"Siapa—?"
Naruto tertawa hambar, "Bukan ya~," dia menggaruk belakang kepala dengan gugup, "… mirip sekali dengan orang yang kukenal…."
"Namaku memang Akimichi."
Naruto ber-'Oh' bingung, "… tapi kok kelihatannya Anda agak kurusan, juga agak lebih pendek ya?"
"Mungkin Kau salah mengenali sebagai ayahku?" Chouji memasukkan bungkusan terakhir di kantung plastiknya lalu mendekati Naruto untuk mengulurkan tangan, "Namaku Akimichi Chouji ngomong-ngomong,"
"Uzumaki Naruto," Naruto membalas uluran tangannya, "… iya, ya… dia memang bilang punya anak."
Shikamaru yang sejak tadi mengawasi dari kedai bento, sejak adegan Chouji ditabrak, langsung menyambar pesanannya lalu melangkah menuju dua orang yang sekarang sudah melepaskan tangan masing-masing.
"Chouji, siapa?"
Shikamaru mengawasi Naruto yang entah kenapa menatap tangannya yang baru saja menjabat tangan Chouji dengan ekspresi tertarik, seolah tumbuh jari keenam di antara jempol dan telunjuknya.
"Uzumaki Naruto. Entahlah, orang yang mengenal ayahku."
Mata Naruto meninggalkan tangannya dengan enggan untuk menyapa Shikamaru; pemuda bertampang malas dengan rambut hitam yang dikucir tinggi.
"Oh, halo,"
"Temanku, Shikamaru—erm, Nara," Chouji berkata menengahi sambil mengawasi Shikamaru yang mengangguk, "… maaf, tapi… apa hubunganmu dengan ayahku?"
"Uhm. Aku hanya pernah mengobrol sekali dengannya kok. Kukira tadi benar-benar Akimichi-san…," Naruto menambahkan dalam hati, '… kukira Kau tadi polisi yang kemarin dulu menangkap Sai, dan sekarang mau menguntitKU!'
"Apa Kau sendirian di sini?"
Shikamaru berharap Chouji tidak akan berbasa-basi lebih dari ini.
"Iya."
"Kami mau makan siang… eh, makan sore. Mau ikut?"
Menurut Shikamaru, basa-basi Chouji kali ini sungguh di luar kebiasaan. Tapi mengingat Uzumaki Naruto adalah 'kenalan' Akimichi Chouza, mungkin tidaklah berlebihan.
"Ah, itu…."
"Ada bento berlebih kok," Shikamaru menambahkan sambil mempertegas pernyataannya dengan mengangkat bawaannya lebih tinggi lagi.
"Kalau tidak keberatan ayo makan di parkiran. Teman kami menunggu di sana, soalnya…."
Naruto tidak tahu harus melakukan apa kecuali mengikuti dua orang ini. Setidaknya lebih baik daripada melamun sendirian di antara hembusan dingin angin laut.
"—Kotetsu."
Naruto mengangguk pada laki-laki di depannya. Usianya mungkin tak lebih dari tigapuluh—memakai kaus tanpa lengan dengan handuk kecil disampirkan serampangan di sekeliling lehernya, memakai topi (cap) yang dipakai terbalik.
Kemudian matanya beralih menelusuri mobil box hitam pekat, tempat darimana Kotetsu ini keluar dan menyambut mereka dengan wajah mengantuk.
"Takoyaki—," Chouji bergumam sambil melangkah ke ruang kemudi untuk mencabut kunci dari balik setiran.
"Huh?" Naruto mengangkat alis tak mengerti.
"Aku dan Shikamaru mau buka kios Takoyaki di Kirigakure. Kotetsu ini membantu kami mengangkut gerobak dan keperluan lainnya," Naruto menerima uluran terpal yang dikeluarkan Chouji dari dalam mobil, "… tolong rentangkan saja di bagian belakang mobil sini. Nah, begitu."
Mereka baru bertemu kurang dari limabelas menit lalu, tapi Naruto sudah diajak piknik bersama di tengah tempat parkir. Tapi dia tidak menyesal karena setidaknya mendapat tumpangan gratis hingga Kirigakure.
-ii-
Banyak hal yang memicu seseorang untuk bertingkah percaya diri lebih dari seharusnya; dalam hal ini Naruto mengandalkan keberuntungan sebagai pemicu.
Dia sudah sering menyelesaikan masalah dengan aksi tak terduga walaupun nyaris hanya dengan keberuntungan (bukan hal yang patut dibanggakan), tapi sekarang sebaliknya; dia mengalami aksi tak terduga yang membuatnya kena masalah. Dan karenanya Naruto memutuskan; keberuntungan di satu waktu hanya akan membawamu menuju masalah baru.
"Bagaimana Kau tahu?"
Dia balik menatap sepasang mata hitam Nara Shikamaru dengan putus asa, belum bisa memberikan jawaban tepat. Mungkin seharusnya dia tidak usah terlalu akrab dengan seseorang yang beberapa jam lalu memberinya makanan? Yah, itu karena dia terlalu terlena dengan nasib untung.
Tidak mendapat apapun selain tatapan menghindar, Shikamaru memberi gerakan pada Kotetsu di depannya untuk menghentikan laju mobil box mereka.
"… berhenti di sini,"
"…'ke, Capt!" Kotetsu membalas dan menambahkan sambil bersiul, "Apapun perintahmu…," kemudian membanting setir ke kanan dengan mendadak saat moncong mobil nyaris menyeruak ke semak terdekat, "… hei hei, MINGGIR! Mau mati ya? LAKUKAN hal seperti itu di kamar hotel! Jangan di pinggir JALAN!"
"… terutama di depan bujang homo," Chouji mengangguk ramah pada pasangan pemuda yang menyingkir dari persembunyian mereka setelah memasang tampang kesal, "Maafkan kakak ini. Dia baru P-M-S, plus udah lama pisah sama pasangan homo-nya."
"Jangan menanamkan persepsi aneh-aneh!"
"Ehm," Shikamaru menunjuk Naruto, "… bukankah kita seharusnya menginterogasi orang ini? Jangan melakukan obrolan merepotkan begitu."
Kotetsu menurunkan batang rem lalu menoleh pada Naruto yang duduk diam di bangku belakang di samping Shikamaru, "Oke Boss, SPIT IT OUT!"
"Kecilkan suaramu, merepotkan."
"Sudah, sudah Shikamaru—"
Naruto bergeming, tidak tahu harus mulai bicara dari mana.
"Apa maksudnya bagaimana?"
"… kalau aku tadi nggak salah dengar," Chouji berkata sebelum Kotetsu sempat membuka mulut, "Kau seakan-akan tahu sesuatu mengenai kami?"
"Secara tersirat," Shikamaru menambahkan.
"Itu sesuatu mengenai apa? Kok nggak nyambung ya?"
Chouji, Shikamaru, dan Kotetsu saling berpandangan sejenak sebelum Shikamaru kembali berkata, "Seolah tahu kalau kami ini… yah, untuk praktisnya; berbeda."
Naruto membentuk mulutnya menjadi 'o' besar lalu menggeleng lemah,
"Aku benar-benar nggak ngerti. Dan kalaupun kuceritakan apa kalian juga mau percaya?"
"Menurutmu dia sedang ngeles?" Kotetsu menunjuk.
"Entah," Chouji mengangkat bahu sementara Shikamaru menguap.
"Ceritakan saja!"
Naruto menyedekapkan tangan dan mengambil keputusan.
"… dimulai dari temanku, Sai…."
-ii-
"Apa-apaan nama 'Sai' itu?"
Shikamaru memberi lirikan 'berisik' pada Kotetsu, "Pertanyaanmu itu salah. Dan—nggak penting. Oke, jadi Kau bertemu ayahnya Chouji yang, erm, menangkap si Sai itu. Lalu Kau bermaksud menyusulnya setelah dia dibebaskan, begitu?"
Naruto mengangguk.
"… itu belum menjelaskan bagaimana Kau bisa tahu soal kemampuan kami!"
Chouji menyela Shikamaru, "Apa Kau tahu dari ayahku?"
Naruto menggeleng.
"Lalu?"
"Hei, apa kalian berdua pernah—dengan ceroboh—memperlihatkan keanehan kalian di depan anak ini?" Kotetsu menunjuk lagi, tampak agak jengkel.
"Nggak. Chouji?"
Chouji mengernyit dan mengangkat bahu, "Hanya kalian yang pernah melihatku dalam wujud begitu."
Mereka diam selama beberapa saat, tiga pasang mata menatap Naruto lurus-lurus hingga akhirnya si pirang ini bicara pelan, "… mungkin karena aku sama dengan kalian."
-ii-
*Shika to Chou = Deer ano Butterfly
