My Attempts to Get You
Chapter
Genre! Romance, Friendship, and many more..
Rating! T
Warning! Yaoi, Plot pasaran, Typo(s), bad!Luhan, banyak flashback jadi berhati-hatilah karena tidak saya beri tanda.
KAISOO/HUNHAN/CHANBAEK
.
Happy Reading
.
Dari kejauhan, terlihat kota Busan yang basah. Masih tetap akan terus basah karena hujan turun tanpa mengenal waktu. Dari jendela, Kyungsoo melihat pemandangan yang kabur memutih, seakan ada gula kapas halus menyelimuti kota sibuk itu.
Kyungsoo menghela napas. Musim gugur kali ini terlalu banyak hujan, udara menjadi sangat lembab dan itu membuat Kkamongnya sering terbatuk. Meski Kyungsoo bisa mengatasinya dengan mudah, kerena dia seorang dokter, tapi tetap saja menyedihkan melihat anakmu terbatuk-batuk setiap saat.
Bubur yang sedang dimasaknya meletup-letup. Mengundang sang peramu untuk mencobanya barang seujung sendok. Setelah merasa cukup, Kyungsoo mematikan kompor lalu menuangkan buburnya ke tiga mangkuk kecil.
Tok… tok… tok…
"Kkamong kau sudah siap?"
Usai meletakkan sarapan di atas meja, Kyungsoo bergegas menuju kamar anaknya.
"Eomma, panggil aku Khansa."
Seorang anak kecil berusia 9 tahun keluar dari balik pintu yang diketuk Kyungsoo. Wajahnya pucat, dan tidak menampilkan ekspresi apapun. Meskipun begitu ia terlihat cantik sekaligus imut di balik balutan kemeja polos warna kuning dengan rok kotak-kotak pendek.
"Kkamong terdengar lebih manis. Jja, kemarikan tasmu dan tolong panggil Jong In."
Tanpa mengatakan apapun, Khansa berlalu menuju pintu keluar apartemennya. Menuju apartemen sebelah yang ditinggali oleh seseorang yang selalu dipanggil ibunya dengan nama Jong In. Tapi Khansa lebih suka memanggilnya Appa.
Sepeninggal Khansa, Kyungsoo menghela napas panjang. Bayi mungilnya sudah tumbuh semakin besar dengan kepribadian yang bisa dibilang unik. Pendiam namun berbakat sebagai pemimpin, sedikit keras kepala, egois, terkadang juga melankolis. Jika dilihat lagi, maka sifat Jong In mendominasi kepribadian Khansa dibandingkan dengannya.
"Bubur?" Jong In tiba-tiba sudah duduk di kursinya. Begitu pula Khansa.
"Kkamong kurang sehat jadi makan bubur."
Kyungsoo melepaskan apronnya lalu bergabung dengan keluarga kecilnya di ruang makan.
Jong In mengernyitkan dahinya. "Aku juga harus makan ini? Yang sakit kan Khansa."
"Sudahlah appa. Makan saja."
Kyungsoo melihat wajah Jong In sedikit masam. Namun laki-laki 37 tahun itu tetap memakan bubur yang ada dihadapannya.
9 tahun 'menikah' tidak membuat semua berjalan mulus. Dalam artian hubungan mereka tidak kunjung membaik dibandingkan sebelum mereka menikah. Bahkan Kyungsoo mulai merasa bahwa Jong In sudah bosan. Sangat bosan dengannya yang tidak kunjung melunak. Tapi namja bermata bulat itu tidak bisa mengeluh, karena memang ia yang memulai semua ketidaknyamanan ini.
Selama beberapa tahun awal pernikahan mereka, semua berjalan lancar. Perhatian mereka hanya tertuju pada Khansa yang saat itu sedikit terlambat tumbuh dan sakit-sakitan. Mereka berusaha menjaga dan memberikan kasih sayang terbaik pada anak yang akhirnya dapat mereka adopsi secara resmi itu. Namun semakin berjalannya waktu…
Kyungsoo merasa sesak di dalam hatinya. Tiba-tiba air mata mengalir dari matanya tanpa bisa ditahan. Namun cepat-cepat ia menyekanya karena tidak ingin Khansa dan Jong In menyadari apa yang dia pikirkan.
Tanpa sadar, ia sudah terlambat. Kedua pasang mata itu terlanjur tertuju padanya. Namun secepat kilat mereka mengalihkan pandangan sesaat sebelum Kyungsoo mengangkat wajahnya.
"Dasimu tidak rapi." Ucap Kyungsoo saat matanya menemukan dasi yang menggantung di leher Jong In berantakan.
"Tidak apa-apa. Akan kuminta sekretarisku untuk membenarkannya nanti."
Deg. Berasa seperti ada sebuah batu besar yang menghantam perasaannya ketika mendengar ucapan Jong In itu. Padahal, ia bisa saja meminta tolong Kyungsoo yang sudah resmi menjadi istrinya. Khansa juga terdiam dan membiarkan sumpitnya terdiam di udara. Beberapa saat kemudian ia meletakkan alat makan itu begitu saja.
"Eomma aku minta obatku."
"Kau mau berangkat sekarang? Sarapanmu…"
"Aku sudah kenyang."
Khansa memang gadis yang tidak pandai mengekspresikan sesuatu, juga pendiam. Tapi Kyungsoo mengerti betul bagaimana perubahan gerak-gerik anaknya saat merasa sedih, senang, atapun kesal seperti saat ini.
Kyungsoo mengantarkan Khansa hingga lobi apartemen. Dia sudah terbiasa berjalan sendiri ke sekolah yang hanya berjarak 500 meter dari rumah. Jadi Kyungsoo hanya bisa memandang punggung kecil anaknya yang menghilang di persimpangan.
"Kau mau berangkat sekarang?"
Kyungsoo kembali ke apartemennya saat Jong In keluar dari apartemennya sendiri dengan penampilan yang sudah sangat rapi.
"Ya."
Kyungsoo mengangguk. Tak berniat untuk bertanya lagi. Tapi namja itu masih tetap di sana. Berdiri didepan apartemen Jong In.
Jong In memandangnya sekilas. "Eomma ingin kita makan malam bersama. Kapan kau punya waktu kosong?"
Sedikit terkejut, Kyungsoo berusaha menormalkan raut wajahnya. Sudah sangat lama sejak Nyonya Kim mengajak makan malam. Dan saat itu, ia meminta sesuatu yang sepertinya sangat mustahil untuk mereka dapatkan-kabulkan-. Seorang anak. Berhubungan badan saja rasanya tidak pernah, apa lagi mencoba untuk mendapatkan anak. Kali ini apa lagi yang beliau inginkan?
.
Luhan tersenyum menatap kalendernya. Youngwoon yang melihat senyum itu pun hanya bisa ikut senang.
"Besok kau sudah boleh keluar dari tempat ini." Youngwon menepuk pundak Luhan. Seakan memberikan namja itu kekuatan lebih untuk menghadapi loncatan elektron berlebihan di sarafnya.
"Penantianku."
"Kamu benar-benar bocah beruntung. Lihat berapa banyak orang yang terancam membusuk di penjara sementara kamu mendapat banyak sekali potongan masa tahanan. Cih."
Luhan terdiam. Ucapan salah satu penghuni sel yang sama dengannya itu sudah terlampau sering ia dengar. Bukan hanya dari bibir-bibir sesama tahanan tapi juga penjaga penjara. Mungkin jika tidak ada Youngwoon di sampingnya, ia akan jadi korban bully selama ini.
"Jaga mulutmu!"
Luhan segera mencegah Youngwoon yang sejatinya ingin menghajar laki-laki itu. Di hari-hari terakhirnya, Luhan tidak ingin buat masalah.
"Aku akan menjengukmu sering-sering." Namja bermata rusa itu segera mengganti topik pembicaraan.
"Tidak usah juga tidak apa-apa. Aku punya banyak anak buah disini, jadi kalau kau pergi tidak ada artinya buatku."
Luhan terkekeh pelan. "Aku akan tetap kemari."
"Jadi bagaimana dengan laki-laki itu? Kau akan pergi ketempatnya?"
Kekosongan mengisi pandangan mata Luhan. Kegelisahan menderanya tak menentu. "Mungkin tidak."
.
Pergi tanpa tujuan. Kaki melangkah tanpa arah. Hati tak berpunya, tak tau mau kemana.
Seminggu lalu Kyungsoo mengunjunginya. Namja bermata bulat itu mengajak serta seorang gadis kecil bersamanya. Dia bilang rumah keluarga kecilnya terbuka untunya saat ia bebas nanti. Tapi apakah itu benar? Keraguan yang besar membuat Luhan tidak berani ketempat itu. Ia hanya berputar-putar di kota selama lebih dari setengah hari ini.
Tak dihiraukannya pandangan aneh orang-orang terhadapnya yang berjalan dengan kaos kumal dan menenteng tas besar keliling kota. Dia tidak mau ambil pusing. Kini tempat tujuan adalah satu-satunya hal yang harus dia pikirkan.
Tapi semua pikirannya berujung pada jalan buntu. Dia tidak punya siapapun. Siapapun.
Awan berarak mendekatinya. Mengejeknya yang tak berumah, tak beratap. Gerimis mulai turun, perlahan semakin deras dan Luhan tidak mempersiapkan hal untuk menghadapinya.
Gejolak pikiran kembali terjadi di otaknya. Ia harus bersiap-siap jika organ itu konslet nantinya.
Hasil dari pikirannya hanya satu. Keputusan untuk kembali melangkah berbalik arah. Menuju sebuah apartemen sederhana yang menjulang tinggi.
"Astaga. Lu Han."
Seorang yang membukakan pintu adalah orang yang sama dengan namja yang ia sakiti 9 tahun yang lalu. Rasa malu merebak ke permukaan.
Sementara itu Kyungsoo memandang terkejut tubuh Luhan yang basah kuyup dengan rambut yang jatuh ke wajah. Ia bahkan nyaris tidak mengenal namja di hadapannya itu.
"Aku datang, Kyungsoo-ah."
.
Malam menjelang. Ruang makan menjadi lebih sepi dibanding sebelum-sebelumnya. Memang, selama ini selalu sepi tanpa suara namun kali ini ditambah dengan suasana dingin yang tercipta diantara tiga pria dewasa yang duduk disana. Khansa yang biasanya diam tidak protes kini bergerak-gerak gelisah.
"Paman ini kalau jenggotnya dicukur cantik sekali ya." Tanpa memandang Luhan, Khansa berkata.
Kyungsoo dan Jong In terdiam di tempat. Mata mereka bertemu seketika namun berpaling lagi sedetik kemudian. Keheningan kembali tercipta.
Kyungsoo memainkan garpunya di atas piring. Dia tidak tahu harus berkata apa untuk menimpali pendapat Khansa yang diluar perkiraannya. Dia pikir gadis manisnya akan diam dan tidak protes dengan keadaan canggung diantara mereka malam ini. Tapi probabilitas ternyata masih berlaku bagi gadis itu.
"Gomawo Khansa-ya. Kau juga sangat manis."
Tidak ingin memperkeruh suasana, Luhan membalas Khansa seadanya. Perasaan tidak enak dan membebani masih dia rasakan.
"Kau tinggallah di apartemenku. Tapi, hari ini tidurlah dengan Kyungsoo. Aku akan pindah kemari mulai besok."
"Apa?"
Seruan terkejut Kyungsoo membuat kening Luhan berkerut. Ia memandang Jong In yang ikut terkejut namun setelah itu berusaha bersikap normal. Lalu mata doe itu memandang anak kecil di hadapannya. Yang ia dapatkan sama saja. Gadis itu diam seakan-akan apa yang ia dengar sudah biasa terjadi.
Kecurigaan muncul di benak Luhan. Apakah kehidupan mereka baik-baik saja? Atau selama ini semua yang ia lihat dari balik kaca ruang kunjung hanyalah permainan peran picisan?
.
Sehun tidak mengerti kenapa Namsan Tower yang dia lihat dari laman Google lebih menarik dari Menara Eiffel di hadapannya. Pasangan-pasangan yang mengumbar kemesraan terlihat bagai duri. Aroma makanan yang menguar dari balik tembok-tembok restoran sepanjang jalan tidak lagi menggugah rasa penasarannya. Ia kehilangan sesuatu yang membuat 'Sehunnya' ikut hilang.
Bukan ia tidak tahu apa yang dia butuhkan saat ini. Kejenuhan terhadap panasnya dapur dan kepulan asap membuatnya jenuh. Ia butuh refreshing. Dan Korea memenuhi pikirannya akhir-akhir ini. Rumah yang dia rindukan.
Bagaimana rasa udara di sana? Apakah masih sama?
Di Eropa, udara tidaklah terlalu enak dihirup. Benua industri, polutif. Tapi dia tidak juga menyebut Korea negara yang bersih. Hanya saja di sana masih ada sedikit kehangatan dari cerobong-cerobong asap rumah milik keluarga yang bahagia.
"Waeyo, Sehunnie?"
"Weeyo Cehunnii."
Sehun membalikkan badannya seketika. Didapatinya seorang wanita cantik tengah menggendong gadis kecil berumur 3 tahun. Wanita itu menatapnya dengan mata bercahaya yang penasaran. Sementara gadis kecil itu seperti beo. Sedang dalam masa menirukan ini dan itu.
"Aigoo Hani mulai banyak bicara ya."
Sehun mendekati mereka lalu mengambil alih anak kecil yang sejak tadi tertawa-tawa melihat ayahnya.
"Kita benar-benar akan pulang?"
Sehun tidak menjawab. Ia malah menatap wanita itu lekat-lekat.
Benarkah apa yang sudah dia putuskan? Apakah ia tidak akan menyesal menjalani keputusan ini? Ah, namun untuk apa dia menyesal. Dia memulainya dengan hal yang orang lain sebut cinta. Jantung berdebar dengan mata lebar lekat menatap. Wanita itu jauh dari kata buruk. Ia memilih wanita yang tepat. Wanita yang dia cintai dengan sangat tepat.
"Kita harus segera meresmikan pernikahan kita, demi Hani."
.
The yang mengepulkan asap dari cangkir yang baru saja pramusaji letakkan di atas meja mengisi kekosongan waktu yang bergulir tanpa arti. Keheningan yang sarat rasa canggung tak bisa dibendung. Walau namja tercerewet di Korea duduk menjadi salah satunya.
"Ah… lama tidak bertemu, Luhan."
Baekhyun meringis. Mendapati kata-kata yang keluar dari bibirnya adalah sesuatu yang menggelikan untuk diucapkan. Pasalnya mereka sudah bertemu kemarin. Tepat saat Luhan datang ke rumah Kyungsoo, sang pemilik rumah langsung menghubunginya dan memintanya untuk datang.
"Sudahlah jangan memaksakan diri begitu. Aku oke kok kalau kalian diam saja."
Senyuman terpaksa kentara terlihat di wajah Luhan. Baekhyun menjadi merasa tidak enak hati.
"Akhir-akhir ini turun hujan terus. Khansa jadi sering batuk."
Tiba-tiba Kyungsoo berkata sembari mengaduk cangkir berisi the miliknya. Ia tidak peduli apakah ucapannya itu akan menciptakan percakapan yang asik atau tidak.
"Iya. Kemarin Seojun juga demam. Anak nakal itu benar-benar…" Baekhyun ikut menggerutu. Menerawang pada sosok Seojun.
"Seojun?"
"Ah! Luhan belum tahu ya? Baekhyun menjalani operasi penanaman rahim. Dia berhasil dan sekarang punya anak. Namanya Park Seojun."
"Kyungsoo-ya! Dia itu anakku kenapa kau yang memperkenalkannya?!"
"Wae? Aku kan juga mau menunjukkan padanya kalau aku juga dekat dengan Seojun. Memang hanya kamu yang bisa dekat dengan Khansa! Aku juga bisa dekat dengan Seojun!"
Lalu terjadilah pertengkarang lokal. Luhan hanya berperan sebagai penonton yang baik. Kadang tertawa terbahak-bahak karena tingkah teman lamanya itu. Kejadian di hadapannya membuat ia menenang kembali masa sekolah mereka.
"Ngomong-ngomong, Soo. Khansa sering batuk, dia kenapa?" tanya Luhan.
"Pneumonia. Memang kondisinya sudah stabil tapi terkadang masih batuk." Jawab Kyungsoo.
"Untunglah dia punya ibu seorang dokter yang hebat." Lanjut Baekhyun. Matanya menatap Luhan. "Dan mungkin seorang paman yang merupakan dokter juga. Yah… hebat sekali hidupnya."
Luhan mengerti arti dari perkataan dan tatapan Baekhyun barusan. Pipinya merona. Ia bertanya-tanya. Apakah dia pantas disebut sebagai pamannya Khansa. Setelah apa yang dia lakukan untuk kedua orang tuanya.
"Apa yang kau pikirkan, Luhan?" Seakan dapat membaca pikiran Luhan, Kyungsoo menatapnya penuh selidik.
"Tidak, Soo. Bukan apa-apa."
Tangan lentik itu menggenggam cangkir di tangannya dengan memberikan sedikit gerakan-gerakan kecil pada benda itu. Matanya memandang dua orang di hadapannya yang kini saling melempar tatapan hangat. Pemandangan yang sudah sangat lama sekali tidak ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Mungkin sudah lebih dari 15 tahun.
Matahari mulai condong ke barat. Kyungsoo beberapa kali melirik arlojinya gusar. Jarinya mengetuk-ngetuk meja yang menandakan kegusarannya itu semakin menjadi-jadi.
"Kenapa?" tanya Luhan saat melihat gelagat Kyungsoo.
Kyungsoo lantas sadar bahwa dia bertingkah aneh sekarang. Ia menepuk dahinya, "Oh iya kau tidak tahu ya. Hari ini Jong in, Khansa dan aku akan pergi ke Seoul untuk mengunjungi eomma. Kau tidak apa-apa kan kutinggal?"
"Tentu saja tidak apa-apa. Aku bukan anak kecil, Soo."
Beberapa saat kemudian lonceng yang menempel pada pintu masuk café bergemerincing. Namja dengan setelan jas lengkap masuk kedalam tempat itu bersama dengan seorang gadis 9 tahun yang menggenggam tangannya. Mata sayu itu memandang kesekeliling hingga menemukan tiga orang yang sangat ia kenal tengah berkumpul di salah satu meja. Salah seorang dari mereka tanpa sengaja bertemu pandang dengannya.
"Hai," Jong In menyapa Baekhyun yang balas memberikan cengiran lebar. "Kyungsoo kita harus pergi sekarang."
Tak membuang waktu, namja itu segera berdiri. Ia memandang lurus pada Luhan sebentar. Namja itu hanya tersenyum sangat tipis.
"Baekhyun samchon, Luhan samchon. Kami berangkat dulu." Salam Khansa seraya menggandeng kedua tangan orang tuanya.
Keluarga kecil itu pergi dari café layaknya keluarga bahagia pada umumnya.
.
Kali ini bukan hanya sebuah permohonan. Melainkan perintah lengkap dengan ancamannya. Untuk beberapa saat ia melupakan eksistensi mertuanya yang merupakan bos besar perusahaan dimana mereka berbakat memerintahkan orang. Ia terlalu terlena pada kebaikan mereka selama ini sampai tidak sadar bahwa mereka juga mengharapkan sesuatu darinya. Dari pernikahannya dengan anak mereka.
Kyungsoo duduk tegak di depan meja rias dalam kamar yang orang tua Jong In siapkan untuk keluarga kecilnya. Khansa sudah tidur sementara Jong In masih membersihkan dirinya. Ia sendiri sekarang. Merangkai berbagai peristiwa yang ia ingat dengan sebuah konklusi yang membingungkannya.
"Keluarga ini bukan hanya punya kita, tapi juga banyak orang yang bekerja di bawahnya. Kita menanggung banyak tanggung jawab putraku. Pikirkan tentang kelangsungan hidup dan kesejahteraan mereka jika kau saja tidak sanggup memberikan kepastian."
Tuan Kim menekankan setiap kata yang keluar dari bibirnya seraya menatap tajam Jong In yang duduk dengan tenang sembari mendengarkannya dengan seksama. Pria paruh baya itu mengalihkan pandangan ke arah Kyungsoo yang duduk di samping suaminya. Jelas ia merasa gugup.
"Aku benci mengatakan ini Kyungsoo, tapi kami sudah cukup bersabar. Ini hampir tahun ke 10 dan kamu tidak pernah mengerti keadaan keluarga kami sebenarnya. Kau mengacuhkan permintaan yang hampir setiap pertemuan kami minta padamu."
Kini Kyungsoo benar-benar tidak bisa melihat ke depan lagi. Ia menunduk dengan rasa bersalah yang terasa memukul tengkuknya.
Tangan nyonya Kim masih setia mengelus tangan suaminya. Berusaha membuat pria itu sedikit lebih tenang dan bersabar pada anak serta menantunya. Bagaimanapun juga ia sangat menyayangi kedua orang itu.
"Jika kamu memang tidak sanggup memberikan keturunan bagi keluarga Kim, kami terpaksa menikahkan Jong In pada wanita lain."
Tes…
Tanpa sadar Kyungsoo menangis saat mengingat betapa kejam ayah mertuanya. Kejam? Lucu sekali. Padahal keluarga kecilnya itu hanya kamuflase. Jika Jong In menikah dengan wanita lain seharusnya Kyungsoo merasa biasa saja, tidak harus merasa sesakit ini.
Tapi perasaan tidak bisa berbohong. Ia bisa dengan lugas memandang suaminya seakan memandang orang asing namun jantungnya berdebar kencang setiap itu terjadi. Bisa saja ia bersikap tidak peduli saat gosip miring tentang Jong In yang berselingkuh dengan sekretarisnya akhirnya sampai di telinganya tapi ia menangis sendirian semalam penuh. Kyungsoo masih sangat mencintai dan menggilai laki-laki bernama Kim Jong In itu.
"Belum tidur?"
Cepat-cepat Kyungsoo menghapus air matanya. Jong In tahu-tahu sudah berdiri di belakangnya dengan pakaian lengkap. Sejak kapan ia berdiri di sana?
"Aku sedang memikirkan sesuatu." Jawab Kyungsoo. Ia membalikkan posisi duduknya hingga kini menghadap Jong In. "Duduklah dulu."
Seperti biasanya. Suasana canggung dan dingin selalu datang diantara mereka sejak… sejak 9 tahun yang lalu. Bahkan setelah sikap Jong In berubah dari hangat menjadi dingin lagi seperti ini dan Kyungsoo yang dulunya dingin menjadi menghangat, tidak pernah ada yang berubah. Mereka tetap tidak pernah bisa…
"Memikirkan perkataan abojie?" Ranjang king size itu berdecit saat Jong In mendudukinya. "Aku akan memikirkan permintaan beliau. Besok, akan kutemui wanita yang dimaksud abojie."
"Kenapa?!"
Tanpa sadar pertanyaan itu terucap dari bibirnya. Mata Kyungsoo melebar karena terkejut dengan apa yang baru saja diserukannya. Begitu juga Jong In.
"Karena-"
"Kau membuat keputusan yang tepat. Kita menikah demi Khansa, 'kan? Sekarang yang penting dia punya keluarga di akta kelahirannya. Juga bisa berobat tanpa ada masalah. Tujuan dari pernikahan kita sudah tercapai sejak awal. Dan memiliki anak…" Kyungsoo menggantungkan kalimatnya. "Bukan tujuan kita."
Detik-detik berlalu. Kyungsoo masih menunggu tanggapan Jong In. Jantungnya berpacu. Takut mendengar jawaban yang tidak sesuai dengan keinginannya.
"Iya." Sebuah jawaban singkat namun dapat menohok tepat perasaan Kyungsoo.
"Sudah malam. Ayo tidur." Kyungsoo beranjak dari meja rias. Menyamankan dirinya di samping Khansa.
Jong In berjalan menuju saklar lampu lalu mematikannya. Dalam remang ia memandang tubuh Kyungsoo yang tidur memunggungi Khansa yang otomatis akan memunggunginya juga.
Karena…
.
Busan semakin ramai sejak 9 tahun yang lalu. Pembangunan terjadi dimana-mana hingga Luhan merasa penasaran dengan kota pesisir itu. Malam-malam ia keluar untuk menghirup udara Busan sekaligus membuang sepi. Keluarga kecil Kim bilang baru akan pulang besok sore. Dia kesepian.
Sebuah restoran italia menarik perhatiannya. Sejenak ia mengingat laki-laki yang pernah memberikannya harapan tentang hubungan yang dilandasi dengan kepedulian serta perhatian.
Sebuah kertas yang menempel di kaca restoran itu membuat mata Luhan melebar. Sesaat kemudian senyuman mengembang di bibirnya.
Cling…
"Maaf, apa lowongan kerja yang kalian pasang itu masih berlaku?"
.
Suara lembut petugas bandara menggema mengumumkan landing pesawat yang datang dari daratan Eropa. Suara bising mesin pesawat kembali mendengung untuk kesekian kalinya di bandara itu hari ini.
Hari sudah berganti malam saat Sehun turun dari pesawat beserta Hana dan putrinya, Hani. Namja itu mendorong trolly yang penuh dengan koper mereka sementara membiarkan Hana menggendong Hani yang ketakutan di antara banyak orang asing.
Udara di bandara itu membuatnya tenang. Mungkin karena sejak kecil ia terbiasa dengan udara Korea hingga sangat merindukan rumahnya itu setelah bertahun-tahun mengelilingi Eropa.
"D-daddy.. daddy…"
Suara kecil Hani terdengar lebih keras bagi Sehun dibandingkan pengumuman bandara yang sejak tadi tidak berhenti. Mungkin karena ikatan batin antara ayah dengan anaknya. Sehun hanya tersenyum saat gadis itu berusaha menggapai-gapai dirinya dalam gendongan Hana. Masih dengan air mata yang meleleh di pipi.
Sehun sangat menyayangi Hani. Dia segala untuknya sekarang. Apapun akan di lakukan untuk gadis kecil itu meski harus menyakiti hatinya sendiri. Perasaannya bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan tawa Hani.
Sehun sudah menyiapkan dirinya. Pertama dia harus menemui Kyungsoo dan Jong In yang telah banyak membantu saat kepergiannya dulu. Lalu menemui keluarganya dan Hana untuk meminta restu atas pernikahan mereka. Selanjutnya ia akan mengurus kelegalan pernikahan mereka serta merayakan hari bahagia itu dengan teman-teman lamanya. Dan terakhir, mereka akan kembali ke Eropa.
Rencana yang sempurna. Sehun berharap Tuhan mendengar doanya untuk kelancaran rencananya itu. Ia tidak menginginkan satupun terlewat maupun satu hal pun menambahi rencananya. Tidak.
.
Senandung kecil terlantun dari bibirnya. Ia memandang langit hitam di balik pintu balkonnya dengan mata yang memancarkan bintangnya sendiri. Ia bahagia tanpa alasan. Dia merasa begitu hidup di kesendiriannya kali ini. Bukan di batasi oleh tembok kokoh dan dikelilingi pria berbadan tegas, yang ada di hadapannya sekarang adalah dunia. Dimana dia bebas bergerak kemanapun, menyapa siapapun, melihat apapun, berteman, menjalin cinta… ah! Cinta. Di usianya yang sudah hampir kepala 4, haruskah dia memikirkan itu?
Yang pasti kebebasan menyambutnya hangat. Meski nama dan wajah itu masih terpenjara di dalam benaknya. Sekeras apapun dia berusaha melupakan dia, melupakan harapan akan kedatangannya, Luhan tidak pernah bisa. Karena ia yang ada untuknya saat ia terpuruk. Karena Sehun menawarkan rasa manis dari sebuah perasaan samar yang hingga saat ini masih menjadi misteri buatnya. Luhan takut menerka. Takut salah.
Sepucuk surat yang kusam ia pandang sedalam mungkin.
"Sudah 9 tahun berlalu, Sehun-ah…"
.
Sudah seminggu Luhan tinggal di apartemen yang katanya milik Jong In. Apartemen yang letaknya tepat di sebelah apartemen keluarga kecil Kim. Meski begitu, mereka selalu sarapan bersama-sama layaknya keluarga. Kecanggungan mulai berkurang karena Khansa mulai dekat dengannya. Entah apa yang membuat gadis itu merasa nyaman di dekat Luhan. Padahal dia sudah tahu bahwa yang selama ini selalu makan pagi bersama keluarganya itu adalah mantan istri ayahnya.
Selama itu pula ia merasakan sesuatu yang aneh. Tidak ada foto pernikahan, tidak ada cincin nikah yang tersemat diantara jari Kyungsoo maupun Jong In, lalu juga fakta bahwa sebelum dia datang, mereka tinggal di apartemen yang berbeda. Semua itu membuat Luhan merasa curiga. Tapi karena merasa tidak pantas namja cantik itu tidak berani bertanya.
Hari ini ia berangkat bekerja ke restoran italia bersama dengan Khansa sebelum Kyungsoo dan Jong In berangkat bekerja. Saat itu ia juga merasakan ada yang ganjil dengan mereka.
Bekerja di restoran ternyata lumayan merepotkan. Beberapa kali ia nyaris terjatuh karena terburu-buru. Pelanggan di restoran itu benar-benar banyak. Tapi untungnya pekerja di sana selalu mendapatkan satu setengah jam istirahat makan siang. Luhan memanfaatkan hal itu dengan baik. Ia ingin pulang ke apartemen sebentar untuk mengambil barang yang ketinggalan.
Bus yang ditumpangi Luhan berhenti di Halte sekolah Khansa. Sekolah itu relatif sepi karena belum jam pulang. Namun seseorang yang berjalan keluar dari gerbang sekolah menarik perhatian Luhan.
"Khansa!"
.
"Minumlah dulu."
"Khamsahamnida Luhan samcheon."
Luhan duduk di ayunan sebelah Khansa. Mereka berdua terdiam. Luhan mengayunkan dirinya pelan-pelan sambil menunggu Khansa selesai minum.
Tadi saat Luhan memangilnya, Khansa terlihat terkejut. Gadis itu bilang bahwa dia kurang enak badan jadi meminta ijin untuk pulang lebih cepat. Tapi Luhan hampir 4 tahun mengenyam pendidikan dokter. Meski sudah lama berlalu dia masih ingat betul bagaimana ciri-ciri orang yang sedang sakit. Saat melihat Khansa, Luhan tidak melihat tanda-tanda sakit di tubuh Khansa namun ia melihat beban yang berat di mata gadis kecil itu. Maka disinilah mereka. Taman bermain kecil dekat apartemen mereka.
"Kamu tidak apa-apa 'kan?"
Khansa mengangguk. Mungkin tidak tahu harus menjawab bagaimana lagi.
"Kau terlihat murung. Kenapa?" Kali ini Khansa menggeleng. Luhan memutar otaknya. Mencoba menerka. "Baiklah kalau kau tidak mau cerita. Tapi masalah itu tidak boleh dipendam loh… nanti Khansa semakin sakit."
"Benarkah?"
Luhan mengangguk antusias seperti anak kecil. "Tentu saja. Nanti masalahnya akan menumpuk disini." Ia menunjuk jantung Khansa dengan telunjuknya. "Terus menyebar ke seluruh tubuh. Pasti sakit sekali…"
"Aku tidak mau sakit. Nanti eomma repot lagi."
Terkesiap. Mendengar kata-kata Khansa, bibir Luhan tertutup rapat. Ia tidak tahu dari mana anak berusia 9 tahun mengerti hal-hal yang seperti itu. Seharusnya ia menjawab tidak mau sakit karena menyakitkan. Tapi di usia mudanya dia sudah memikirkan ibunya.
"Appa juga pasti akan meninggalkan pekerjaannya. Ah! Tapi kalau aku sakit appa dan eomma pasti sama-sama merawatku. Mereka berdua akan menjagaku dengan baik. Dan saat itu aku bisa melihat mereka bersama-sama. Appa dan eomma itu jarang sekali akur. Bukan seperti Tom and Jerry tapi mereka sama-sama pendiam. Tidak pernah ngobrol dan bercanda bersama. Kadang-kadang aku merasa kesepian. Punya keluarga tapi hampa."
Luhan kehabisan kata. Beginikah keluarga Kim sebenarnya.
"Lalu kemarin, hiks! Luhan samcheon, aku harus bagaimana? Aku bingung sekali." Seperti anak kecil lainnya, Khansa mulai menangis. Luhan segera mendekatinya lalu merengkuh tubuh kecil dan ringkih itu. "A-Appa… akan menikah dengan wanita lain. Harabojie bilang appa membutuhkan anak. Lalu aku ini siapa? Hiks… samcheon, aku tahu aku bukan anak kandung appa tapi kenapa mereka tidak melihatku? Lalu eomma bagaimana? Selama ini eomma selalu menangis diam-diam. Aku juga lelah berpura-pura tidak tahu. Aku tidak ingin appa menikah lagi. Aku ingin appa dan eomma bersatu. Hueeee!"
"Kha-Khansa, bukan seperti itu. Mereka sayang Khansa kok."
"Kalau mereka sayang Khansa, kenapa mereka tidak mengerti perasaan Khansa yang ingin melihat orang tuanya saling mencintai!"
Jong In, Kyungsoo apa yang kalian lakukan pada anak kalian? Dia tumbuh terlalu cepat.
Ini sudah yang kedua kali Jong In pergi menemui perempuan pilihan ayahnya. Dia wanita dewasa yang lembut. Memiliki eyes smile yang cantik serta rambut kecoklatan yang bergelombang.
Berbeda dengan Kyungsoo, Jong In merasakan perbedaan pada diri yeoja itu. Mungkin gender memang mempengaruhi sifat dan sikap seseorang. Untuknya yang selama ini hanya berkutat dengan sesama namja, ia merasakan sesuatu yang baru. Kejutan-kejutan kecil yang membuatnya sadar bahwa wanita itu memang sangat berbeda dengan laki-laki. Bagaimana mereka bicara, tertawa, menawarkan perasaan nyaman dan sebagainya.
Dia Jung Soojung. Dewasa, mandiri, berpenghasilan besar dan pernah menikah. Sampai sekarang Jong In tidak berani bertanya mengapa ia bisa berpisah dengan suaminya. Merasa belum pantas saja.
"Jadi dengan penghasilan yang sebegitu banyak, kau pasti bisa menghidupi dirimu sendiri dengan baik. Kenapa ingin menikah? Bukankah itu merepotkan?" Jong In sebenarnya tidak suka pertanyaan itu. Ia melontarkannya seakan-akan sedang mewawancarai calon karyawannya.
Soojung membalasnya dengan kekehan pelan sambil menutup mulutnya dengan tangan. Benar-benar wanita anggun. "Hidup sendirian itu tidak menyenangkan Jong In-sshi. Bukankah kau juga berfikir begitu? Bahkan sekarang kau sudah menikah namun ingin menikah lagi."
"Aku tidak membunyai niat seperti itu. Situasiku memaksaku begini."
"Aku mengerti."
Ponsel Jong In bergetar. Namja itu segera meraih benda persegi itu dari atas meja. Keningnya berkerut saat membaca pesan yang dikirimkan Kyungsoo padanya.
"Do Kyungsoo?" tanya Soojung.
"Iya." Jong In meletakkan kembali ponselnya ke atas meja. Beralih meraih cangkir kopi yang isinya sidah susah payah di buat Soojung. Ya mereka ada di rumah Soojung.
"Tidak membalasnya?" Jong In menggeleng pelan. Dia tidak suka saat-saat seperti ini. Dihadapannya ada seorang wanita cantik tapi pikirannya selalu melayang ke seorang namja yang hidup satu atap dengannya. Belum lagi pesan barusan membuat dia benar-benar hanya memikirkan Kyungsoo. "Kamu harus membalasnya."
"Dia menanyakan apakah aku bisa pulang untuk makan malam hari ini."
Soojung terdiam. Mereka berdua mempunyai rencana untuk melakukan hal yang sama sebentar lagi.
"Pergilah. Aku akan bilang pada paman Kim bahwa kita sudah dinner."
Wanita juga tidak gampang ditebak. Untuk yang satu ini, Kyungsoo memilikinya. Sangat memilikinya.
.
"Hari ini Khansa menginap di tempat Seojun. Tadi siang Baekhyun menculiknya karena sejak kemarin anaknya uring-uringan merindukan Khansa."
Luhan datang setelah pekerjaan di restoran selesai. Melihat Kyungsoo yang sedang menyiapkan makan malam, namja itu segera menggulung lengan kemejanya dan ikut membantu.
"Ne. Nenek sihir itu juga sudah memberi tahuku, Han." Kedua namja itu terkekeh beberapa saat.
"Bagaimana pekerjaanmu di rumah sakit?"
"Tidak buruk. Aku juga bekerja hanya untuk mengisi waktu saja."
"Wow… dokter ini sombong sekali ya."
"Aku mempelajarinya dari calon dokter yang sudah sombong sebelum waktunya hanya karena dia bersekolah di Universitas Seoul."
Keduanya berhenti melakukan kegiatan masing-masing lalu saling memandang tajam. Kebencian… tidak ada di sana.
"Hahaha! Bodoh sekali kita saat itu, Lu."
"Mwo? Aku tidak bodoh. Kamu saja yang gampang terpancing."
"Iya-iya tuan pintar. Tapi nyatanya aku yang dokter di sini."
"Tapi aku lebih pintar darimu. Kalau aku benar-benar jadi dokter kau pasti sudah kalah. Aku kan sengaja mengalah untukmu."
"Kau dokter gagal yang pintar dan aku dokter bodoh yang benar-benar dokter. Saling melengkapi."
"Kenapa kita tidak buat klinik sama-sama saja ya? Hahaha…."
Luhan kembali memotong sayuran untuk sup kimchi mereka. Saat sudah selesai dengan motong-memotong, ia menyodorkan sayurannya pada Kyungsoo yang menatapnya penuh arti. "Waeyo?"
.
Kyungsoo sendirian di apartemennya. Luhan sedang pulang untuk membersihkan diri dan sebentar lagi akan kembali. Namja bermata bulat itu menatap layar ponselnya sekali lagi. Memastikan apakah ada pesan yang masuk dari suaminya. Sudah 1 jam dia mengirimi pesan padanya namun tidak kunjung dibalas. Spekulasi-spekulasi mulai bermunculan di benak Kyungsoo. Dia tahu dimana Jong In saat ini. Pikirannya semakin kalut walau wajahnya tetap setenang air.
"Masih belum dibalas?"
Luhan muncul tiba-tiba di balik punggungnya. Dengan cepat Kyungsoo meletakkan ponselnya di atas meja makan.
"Kamu sudah kembali. Ayo kita mulai makan."
"Lebih baik kita menunggu Jong In dulu." Ucap Luhan sambil duduk di seberang Kyungsoo.
Namun Kyungsoo menggeleng. Ia mengambilkan Luhan semangkuk nasi lalu menyuruhnya untuk cepat makan. Setelah itu dia baru mengambil nasi untuknya sendiri.
Tepat sebelum Kyungsoo menyuapkan nasinya, suara pintu yang diikuti oleh langkah kaki menghentikannya. Ia maupun Luhan menoleh bersama dan mendapati Jong In sudah pulang.
"Kau datang tepat waktu. Duduklah." Ucap Kyungsoo yang segera menepuk kursi di sebelahnya. "Hari ini sup kimchi. Musim gugur semakin dingin saja."
Jong In duduk dengan tenang. Sesaat ia bertemu pandangan dengan Luhan namun sedetik kemudian mereka mengalihkan pandangannya.
Kyungsoo meletakkan semangkuk nasi di hadapan Jong In. "Makanlah yang banyak." Tak melupakan sebuah senyuman tipis.
Mereka bertiga makan dengan tenang. Luhan melirik kedua namja di depannya. Berusaha mencari moment yang tepat untuk bicara. "Tadi siang aku bertemu Khansa. Dia pulang lebih cepat karena merasa tidak enak badan."
Seketika Kyungsoo dan Jong In berhenti makan. Kedua orang tua itu terlihat sangat khawatir.
"Apa dia batuk-batuk? Mungkin kedinginan ya? Atau kenapa?"
"Kyungsoo tenanglah."
"Khansa bilang hanya pusing. Aku juga sudah memberikannya obat kok. Kalian tenang saja."
Kyungsoo menghela napas panjang. Ia meletakkan sumpitnya begitu saja saat merasa nafsu makannya sudah hilang. Mata bulat itu menatap tajam pada Luhan seakan meminta penjelasan. Dan benar saja, "Kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi?"
Merasakan sedikit ketegangan dan kemarahan dalam diri Kyungsoo, Jong In segera memanggil nama istrinya itu. Namun yang dipanggil tidak mempedulikannya.
"Momen yang tepat baru saja datang. Aku ingin bilang saat ada Jong In agar dia juga tahu bagaimana kondisi Khansa. Bukan begitu Jong In?"
"Iya. Luhan benar. Niatnya sudah baik, Soo."
"Aku mengerti. Maaf…"
Luhan merasa kecanggungan mulai menggerogoti. Sup yang ada di hadapannya pun jadi korban.
"Khansa gadis yang cukup menyenangkan. Dia bercerita banyak padaku tadi siang." Untuk sesaat Luhan menjeda kalimatnya untuk melihat respon Kyungsoo dan Jong In. Mereka berdua hanya menggangguk mengiyakan. "Kalian tidak tanya padaku apa yang dia ceritakan?"
"Mungkin tentang sekolahnya. Atau Seojun yang sebenarnya dia sukai diam-diam." Jawab Jong In. karena itu adalah hal yang paling sering Khansa bicarakan dengannya.
"Iya. Dia juga bilang sangat menderita hidup bersama kalian berdua."
Sendok yang dipegang Jong In jatuh ke dalam mangkuk. Matanya membulat tak percaya. Sementara itu Kyungsoo hanya diam dengan tatapan kosong seakan-akan nyawanya hilang.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Gadis itu benar-benar berantakan di usianya yang masih kecil. Apa saja sih yang dilakukan kalian selama ini! Bukankah kalian menikah untuknya? Tapi lihat apa yang terjadi sekarang!"
"Luhan ini bukan urusanmu!" Jong In menaikkan nada bicaranya. Dia lelah dan Luhan menambah beban pikirannya.
"Lalu urusan siapa?! Kalian? Bahkan kau akan menikah lagi kan Kim Jong In? Kau mencari wanita untuk mendapatkan keturunan kan? Kyungsoo juga dilihat Khansa sebagai sosok yang dingin pada appanya. Keluarga macam apa yang rumah saja terpisah!"
Bahu Kyungsoo bergetar. Untuk ukuran laki-laki, dia terlalu sering menangis akhir-akhir ini. Tapi malam ini adalah yang terhebat. Bahkan dia berani menangis di depan Jong In tanpa mempedulikan harga dirinya lagi.
"Anak itu tidak baik-baik saja. Kyungsoo kau sudah tahu 'kan? Dia tumbuh lebih dewasa dari anak-anak seusianya. Dia juga mendapat banyak tekanan karena hubunganmu dengan Jong In yang buruk. Dia korban sesungguhnya sekarang. Semua akan baik-baik saja jika ini terjadi 9 tahun yang lalu dimana dia tidak ada. Aku tidak peduli kalian akan saling menghancurkan atau bahkan membunuh satu sama lain. Tapi sekarang status kalian sudah berubah. Kalian adalah orang tua sekarang. Kalian punya anak yang harusnya kalian jaga dan lindungi. Mau sampai kapan mempertahankan ego, hah?"
Luhan menarik napas banyak-banyak setelah mengatakan semua kekesalannya. Ia semakin kesal saat melihat Kyungsoo dan Jong In yang seakan tidak berdaya dan tidak punya usaha untuk melakukan sesuatu.
"Terima kasih makan malamnya. Aku bicara disini bukan sebagai orang asing tapi sebagai temannya Khansa sekaligus teman kalian. Pikirkan lagi apa yang aku katakan ini."
Sesaat kemudian Luhan pergi kembali ke apartemennya.
.
Hanya lampu temaram yang menerangi ruang keluarga itu. Namja yang masih terjaga duduk diam sembari berpikir-menerawang jauh kedepan- tentang apa yang baru saja 'tetangganya' katakan. Dia tidak menyangka akan menjadi seperti ini akhirnya. Apakah ini termasuk kedalam kesuraman pernikahan yang sejak dulu dipikirkannya? Tidak! Dia tidak berpikir pernikahan ini akan menyulitkan Khansa, atau bahkan menyeret serta Luhan. Dia bahkan tidak memikirkan permintaan –sialan- kedua orang tuanya untuk segera diberi cucu. Pening sekali kepalanya.
Jong In menujukan matanya ke sebuah pintu. Pintu kamar Kyungsoo, yang sejak dulu memang dipakainya. Sementara kamarnya sudah dipakai untuk kamar Khansa. Selama mereka menikah 9 tahun ini, Jong In tidak pernah menginjakkan kakinya di kamar namja bermata bulat itu. Bahkan setelah seminggu tinggal bersama, dia hanya tidur di sofa.
Tapi malam ini berbeda. Entah mendapatkan keberanian dari mana hingga ia berjalan menuju kamar itu. Saat memutar kenop pintunya, ia merasa sangat lega. Pintu itu terbuka mulus. Ternyata selama ini pemiliknya tidak menguncinya. Ia membuka lebih lebar pintu itu pelan-pelan sekaligus melihat keadaan kamar yang gelap gulita itu. Gundukan selimut terlihat di atas ranjang. Ternyata sudah tidur.
"Jong In?"
Tepat sebelum Jong In menutup pintu, gundukan itu bergerak. Kyungsoo menyamankan dirinya ke posisi duduk sambil menatap Jong In yang salah tingkah. Tiba-tiba kecanggungan yang biasa terjadi muncul lagi.
"Kenapa belum tidur?"
"Kau membuka pintu kamarku. Jadi apa alasanku untuk tetap berbaring?"
Jong In merutuki kebodohannya. Tentu saja Kyungsoo bangun karena dia.
"Bukannya harusnya aku yang tanya padamu? Angin apa yang membawamu datang kemari?"
"A-Aku… hanya memastikan kau tidur dengan baik."
"Begitu…"
Jong In menunggu perintah Kyungsoo untuk pergi. Namun harapannya itu tak kunjung terwujud.
"Aku penasaran, apa Khansa tidur nyenyak sekarang bersama Seojun? Apa dia tidur lebih nyaman di sana ketimbang di rumahnya sendiri. Aku benar-benar penasaran." Kyungsoo malah membuka lembar dialog yang entah kapan akan berakhir. Karena Jong In tertarik.
"Dia lebih nyaman di rumah. Aku yakin."
"Dengan keluarga yang tidak bisa disebut rumah? Hah… apartemen ini mungkin Cuma benda kotak buatnya."
Miris, ternyata sejak tadi mereka memikirkan hal yang sama sampai tidak bisa tidur. Jong In sampai tanpa sadar masuk ke dalam kamar Kyungsoo.
"Kupikir kita sudah melakukan yang terbaik." Jong In berkata sambil pelan-pelan menutup pintu di belakangnya.
"Kau menutup pintu." Ucap Kyungsoo entah apa maknanya. Apakah sebuah pertanyaan atau peringatan.
Bahkan kesunyian diantara mereka dapat menghantarkan suara selimut yang di genggam orang.
"Kau masih takut?" Jong In tidak berjalan seincipun sejak kelimat terakhir Kyungsoo. "Bukankah sudah hampir 10 tahun berlalu? Apa kau masih takut padaku yang saat itu?"
"Tidak." Jawab Kyungsoo singkat yang tanpa sadar membuat Jong In kembali berjalan menujunya. "Heran saja, ini pertama kalinya kau masuk kesini setelah 16 tahun."
Jong In duduk di pinggir ranjang. Di sebelah Kyungsoo yang duduk dengan selimut di kaki.
"Cukup berbasa-basi. Sekarang kita bicarakan Khansa."
"Kkamong-ku, sekarang ternyata sudah besar."
"Dia anak kita, Soo!"
"Kau Cuma ayahnya di atas kertas. Selebihnya tidak."
Meski gelap, Jong In bisa lihat seberapa kelam mata Kyungsoo menatapnya saat ini. Seakan-akan ingin menelannya hidup-hidup dalam kesuraman.
"Lalu apa?" Jong In melontarkan pertanyaan itu. Sebenarnya dia tidak ingin, karena pertanyaan itu akan membawanya pada sakit hati. Tapi, saat ini dia lelah sekali. "Suami di atas kertas, orang asing yang tinggal serumah, atau lebih parahnya aku ini hanya Kim Jong In yang tidak ingin kamu kenal. Begitu?"
Bibir itu terkunci rapat. Namun matanya masih menatap.
"Sembilan tahun apa itu tidak cukup untukmu untuk sadar?" Jong In tidak ingin kehilangan momennya untuk bicara. Dia ingin bicara.
"Sadar apa? Sadar bahwa suatu saat nanti aku harus membayar semua kebaikanmu pada Khansa-ku? Aku selalu memikirkannya. Apa yang kau mau? Kau juga sudah ingin lepas kan? Cepat katakan hingga aku tidak harus dihantui pikiran itu setiap kali melihatmu."
Kyungsoo tidak ingin mengakui bahwa pandangannya memudar. Ia juga tidak ingin mengiyakan bahwa beberapa tetas air telah meluncur dari kedua matanya.
"Sebenarnya apa yang kau lihat dariku,Soo? Sebenarnya apa alasan yang membuatku ada di sini? Tidakkah kau mengerti, atau kau memang tidak berniat untuk mengerti."
Jong In beranjak. "Aku lelah. Jika kau berfikir aku ingin lepas, kau saja yang lepaskan aku. Pernikahan kita kan memang hanya diatas kertas 'kan?"
Brak!
.
Terguncang. Kyungsoo masih diam sejak 2 jam lalu Jong In meninggalkannya dengan suara debaman pintu. Ia tidak tahu pasti apa yang sedang terjadi. Dia tidak tahu apa yang sudah dia katakan. Dia… dia…
"AAAARGHH!"
Dan untuk yang pertama kalinya Kyungsoo depresi. Terjatuh di lembahnya yang paling dalam, tepat bersama dengan teriakan yang keluar begitu saja dari bibirnya yang bergetar. Tidak pernah ia merasa sehancur ini. Sebingung ini.
Wajah Jong In yang menyiratkan kekecewaan terus berputar dalam pikirannya. Namja yang masih sangat dicintainya itu, telah kecewa. Dan menyerah.
.
Sakit. Melankolis saat mengatakan dada kirimu sakit tak terkira dengan air mata yang berjatuhan. Tapi Jong In bukan remaja yang gampang jatuh dan bangkit, bukan manusia labil lagi, bukan yang melupakan cintanya dengan mudah. Saat dia merasakan sakit, maka itu adalah saat dimana dia benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Dan entah kapan bisa bangkit.
Dia meninggalkan rumah. Tidak tahan harus menghirup udara yang sama dengan Kyungsoo. Beracun, terlalu menyesakkan.
Apalah yang kurang dari dirinya selama ini. Sudah terlalu lama dia menunggu sesuatu yang tidak pasti. Manusia bukannya punya batasan, tapi kesadaran untuk tahu mana ekspektasi mana realita. Saat mereka sadar, sebuah keputusan untuk lanjut atapun berhenti ada di tangan mereka.
Untuk Jong In, Kyungsoo adalah… harapan. Tidak tercapai karena hanya sebuah harapan.
Jong In tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk menunjukkan bahwa selama ini dia jatuh cinta. Dan tidak pernah lelah untuk terus jatuh cinta pada orang yang sama. Dia tidak putus asa. Tapi sekali lagi, sang harapan mematahkan ekspektasi ceritanya.
Jong In mengambil ranting di tanah. Ia menulis di atas tanah yang kering dengan ranting itu.
Kim Khansa…
Do Kyungsoo…
Kim Jong In…
"Hanya mereka Ya Tuhan. Kumohon,"
.
TBC
.
.
