Title :: You
Cast :: TVXQ members and others
Disclaimer :: They belong to themselves.
Warnings :: setiap chapter semakin gaje.. disarankan untuk menarik nafas panjang terlebih dahulu sebelum membaca setiap chapter.. ^^
.
.
Happy reading! Enjoy! ^.^
.
"Mwoya? Bagaimana bisa ia menghilang begitu saja?" bentak Junsu dengan raut wajah tidak terima. Yoochun dibelakangnya berusaha menahan tubuh kekasihnya yang sewaktu-waktu bisa saja semakin maju dan malah memukul dokter muda yang gemetaran itu.
"Hyungku itu masih sakit! SAKIT! Tidak mungkin ia kabur begitu saja sementara aku tahu dengan jelas bahwa tubuhnya masih lemah!" maki Junsu lagi, sementara Yoochun berusaha memeluknya.
"Sudah, sudah, Su! Hentikan dulu bentakanmu.. Dokter itu pasti tidak tahu—"
"Tidak tahu apa maksudmu, Chun?" Junsu berbalik memandang Yoochun dengan marah. "Tidak mungkin dia tidak tahu! Dia berada di rumah sakit sepanjang hari, Chun! Tidak mungkin dia—"
"CUKUP, JUNSU!"
Junsu langsung terdiam dengan kaget ketika Yoochun membentaknya dengan cukup keras. Kedua matanya membulat dengan shock ketika Yoochun kemudian merengkuhnya dalam pelukannya. Dan perlahan, pria lumba-lumba itu mulai terisak ketika Yoochun membelai rambutnya dengan lembut.
"Sorry, Su-ie.." bisik Yoochun di telinga Junsu yang masih menangis, "Aku tidak bermaksud membentakmu tadi.. Maafkan aku."
"Hiks.. Hiks.. Chuu..uun~" isak Junsu keras, "Aku...takut terjadi apa-apa dengan Jae-hyung... Hiks... Jeongmal mianhaeee~"
"Gwaenchana.." Yoochun memeluk Junsu semakin erat, membiarkan airmata sang pria lumba-lumba mengalir deras membasahi jaketnya.
"Tidak apa-apa," bujuk Yoochun. "Kita akan mencari Jae-hyung sampai ketemu. Bersabarlah, baby Su."
.
.
"Hero?"
Jaejoong menelengkan kepalanya dengan bingung ketika U-Know menyebut nama Hero. U-Know mengangguk saat melihat Jaejoong menelengkan kepalanya. Imut. Itulah hal pertama yang mampir di pikiran U-Know.
"Dia...kekasihku."
"Kekasihmu?" tanya Jaejoong sambil duduk mendekat kearah U-Know. Pembicaraan ini mulai terasa menarik baginya.
"Bagaimana rupanya? Apa dia cantik? Tampan? Apakah dia baik? Dia—"
"Dia sangat mirip denganmu, Jae." Potong U-Know sebelum Jaejoong bahkan menyelesaikan pertanyaannya. Dan jawaban U-Know seketika membungkam Jaejoong.
"Mirip...denganku?" ulang Jaejoong yang dijawab dengan anggukan U-Know.
"Yeah." U-Know tertawa kecil. "Sangat mirip. Kau bagaikan saudara kembar Hero yang hilang."
"Dan kau...entah kenapa sangat mirip dengan Yunnie." Balas Jaejoong sambil melihat kearah lantai. Entah apa yang dilihatnya.
U-Know mengangguk. Sesekali diliriknya sosok Jaejoong yang tiba-tiba saja melamun.
Mata doe-nya yang menatap kosong kearah lantai.
Tangannya yang masih sibuk meremas-remas ujung bajunya sendiri.
Jemari kakinya yang bergerak-gerak gelisah.
Damn, Kim Jaejoong. Semua kebiasaannya sangat mencerminkan Hero!
"Jaejoong-ah," panggil U-Know tiba-tiba yang otomatis memecah keheningan. Jaejoong perlahan menolehkan kepalanya kearah U-Know. Doe eyesnya melebar sedikit meminta penjelasan.
"Aku tahu ini mustahil, tapi..." U-Know menelan ludahnya. "Bolehkah aku memanggilmu dengan nama 'Hero'?"
Hening.
Entah kenapa Jaejoong terus menatap kearah U-Know. Pria bertubuh kekar itu secepat kilat menunduk. Tidak berani berlama-lama menatap Jaejoong, takut wajahnya sendiri akan merona.
"Ta-tapi kalau tidak mau tidak apa-apa sih," lanjut U-Know cepat-cepat. "Aku tidak memak—"
"Boleh, asalkan aku juga boleh memanggilmu 'Yunho'."
Satu kalimat jawaban dari Jaejoong membuat mata U-Know terbelalak. U-Know langsung mengangkat wajahnya menatap Jaejoong, yang dibalas dengan senyum oleh namja bermarga Kim itu.
"B-Benar?"
Jaejoong mengangguk. "Aku tidak keberatan. Lagipula nama Hero itu adalah nama yang keren. Aku suka."
Seulas senyum langsung terulas di bibir hati U-Know. Tubuhnya bergerak maju, kemudian memeluk Jaejoong tiba-tiba. Sementara Jaejoong mendadak tersipu sendiri.
Hangat ini... hangat Yunho yang memeluknya dulu.
"Saranghae..." gumam U-Know ditengah pelukannya. "Saranghae, Hero-ah."
"Nado." Balas Jaejoong, mencengkeram erat bagian punggung jaket U-Know. "Nado saranghae, Yunho-ah.."
.
.
Yoochun mendesah keras melihat Junsu yang masih terbaring pingsan di salah satu ranjang rumah sakit. Yoochun baru saja memasangkan infus ke tubuh kekasihnya. Wajah imut Junsu pucat pasi. Matanya bengkak akibat terlalu banyak menangis. Tangannya masih bergetar akibat terlalu erat mencengkeram pakaian Yoochun.
Yoochun meraih tangan Junsu, kemudian diremasnya pelan.
"Cepat sembuh, baby Su." Gumam Yoochun. "Cepatlah sembuh. Aku tidak suka melihatmu sakit.."
Tidak ada balasan, tentu saja. Hanya terdengar nafas Junsu yang terdengar sedikit berat namun teratur. Kedua mata yang berbentuk seperti butiran air itu masih terpejam erat, menyembunyikan sepasang bola mata berwarna coklat susu dibaliknya.
"Kau ingin menghukumku ya?" tanya Yoochun lemah. "Kau ingin menghukumku karena membiarkan Jae-hyung hilang ya? Kau jahat sekali~" Yoochun memanyunkan bibirnya, dan mengelus tangan Junsu yang sudah tidak bergetar.
"Kumohon, Su-ie..." Yoochun mencium tangan Junsu. "Aku janji akan menemukan Jae-hyung lagi. Aku janji akan—"
"Dokter Park!" seorang perawat menerobos masuk ke ruang rawat Junsu, langsung memotong kalimat Yoochun.
"Perawat Jang!" tegur Yoochun tegas. "Tidakkah kau punya sopan santun? Pintu yang ditutup itu artinya tidak semua—"
"Jeosonghamnida, seonsaengnim.. Tapi ada keadaan gawat di bawah." Perawat Jang mengatur nafasnya sejenak. "Ada pria asing meminta Perawat Im menunjukkan semua nama-nama pasien yang masuk selama seminggu ini."
"Tunjukkan saja." Jawab Yoochun santai, benar-benar tak ingin diganggu. Yoochun masih ingin menjaga Junsu. "Suruh Perawat Im menunjukkan—"
"Masalahnya, pria ini membawa pistol, seonsaengnim.."
"Mwo?"
.
"Kubilang tunjukkan padaku!" Kangta menodongkan pistolnya kearah Perawat Im yang sudah menjerit-jerit ketakutan. Tangan kiri Kangta dengan kasar mengobrak-abrik seluruh barang yang ada di meja resepsionis, tempat Perawat Im bertugas.
Barang-barang berjatuhan. Vas bunga, telepon, kertas-kertas baik yang penting maupun tidak, jadwal dokter-dokter...
"Tunjukkan padaku daftar pasien yang masuk dan keluar selama seminggu ini!" bentak Kangta sekali lagi sambil menodongkan pistolnya kearah pelipis Perawat Im. "Tunjukkan padaku atau—"
"Maaf, Tuan." Dokter Park atau Park Yoochun melangkah masuk ke lobi dengan langkah lebar dan tegas, menguatkan auranya sebagai dokter kepala di rumah sakit ini.
"Maaf Tuan, senjata dilarang di rumah sakit." Tegur Yoochun pada Kangta yang sebenarnya merupakan suatu kesalahan tindakan. "Selain itu tidak seharusnya kau berteriak pada wanita."
"Diam kau, Nak!" bentak Kangta. "Apa yang kau tahu, heo? Cukup tutup mulut lebarmu itu dan biarkan aku. Aku tidak meminta banyak. Berikan padaku daftar pasien yang masuk dan keluar, kemudian setelah aku menyelesaikan urusanku, aku pergi."
"Maaf, kami tidak bisa." Kata Yoochun, memasang wajah datarnya. "Semua ini adalah privasi pasien—"
"Fuck with privacy!" Kangta menonjok rahang kanan Yoochun. "Berikan padaku, kubilang!"
Yoochun oleng ke belakang, nyaris terjatuh. Tonjokan Kangta benar-benar tidak main-main. Rahangnya terasa ngilu sekali.
"Aku sudah bilang aku tidak bisa." Yoochun bersikeras, mengusap darah yang mengalir dari bibirnya yang sobek. "Itu semua—"
" Yea, privacy. I know that, kid." Kangta menodongkan pistolnya kearah Yoochun. "Just gimme the damn list or I'll break your brain into pieces."
"I've told you I can't." Yoochun tertawa kecil. "You're gonna shoot me? Okay dude, shoot me if you dare."
"You give me no choice, kid." Kangta menyiapkan telunjuknya di pelatuk pistolnya, mengarahkannya pada Yoochun.
"Bye."
KLIK.
Yoochun menutup matanya rapat. Sedikit berharap Kangta tidak serius.
"Andwaaaaae!"
DOR.
"Junsu-sshi!"
"Junsu-ssi!"
"Bangunlah, Junsu-sshi!"
Junsu?
Yoochun membuka matanya dan hal pertama yang dilihatnya adalah pemandangan kekasihnya yang terbaring tengkurap di lantai, bersimbah darah. Sementara Kangta nampak kaget. Tangan pria itu gemetar sambil menatap Junsu tidak percaya.
'J...Jun..." Yoochun tergagap sejenak sebelum berlari kearah kekasihnya.
"Junsu-ya!"
-oo-
TBC
-oo-
Okay, did I make Jae looked like a bastard here? ._. maaf semua, lama banget yah ini updatenya.. hahaha.. chapter ini didedikasikan spesial untuk hyung(?) saya '-')/ dia udh nagih fic ini dari sebelum saya UN, dia bilang saya kudu lanjut habis UN. Hehehe UN-nya saya mah udh selesai lama, tp malah baru update skrg ._.
Ini ditulis tengah malam buta(?) dimana saya kena insom lagi :3 alhasil saya menyelesaikan satu gambar dan satu chapter '-')/
Sebenernya ini chapter lebih panjang sih, tapi menurut saya lebih pas dipotong disini ^^
Sooooo...maaf banyak bacot, tapi kalo ngga keberatan, review please? ^^
N.B : maaf blm bisa bales review )/ udah lama ga dibuka soalnya ;_;
