YOU PLAY ME BUT I WAS IN LOVE WITH YOU

By Wid-Wid

Disclaimer : Naruto hanya milik om Masashi Kishimoto

Genre : Romance & Friendship

Rated : T

Hollah minna-san, lama tak jumpa,,, gomenne baru update,,, wid tersesat dijalan yang bernama kehidupan terus ketemu Kakashi sensei jadinya ngobrol dulu deh...

Langsung saja...happy reading... ^.^


...

Khawatir dan gelisah perasaan itu berkecamuk didalam setiap fikiran para remaja yang kini bersitegang menunggu kabar baik di balik ruang operasi.

Yah, setelah insiden penusukan itu, Shikamaru bergerak cepat mamanggil ambulans, Sasuke bahkan membentak keras para perawat yang telat lima menit untuk menjembut sahabatnya Naruto.

Para berandal yang menyerang mereka kabur, tapi Sasuke, Shikamaru, Gaara dan Kiba bersumpah untuk menemukan dan memenjarakan kalau perlu pemuda yang menusuk Naruto.

Hinata tidak berhenti menangis, ia tidak memperdulikan tangan dan lengan baju nya yang berlumur darah Naruto. Ino dan Karin terus memeluk Hinata untuk menenangkan gadis Indigo itu.

"Ino, ini semua salahku, kalau saja aku tidak lengah, Naruto senpai tidak akan...tertusuk... kenapa bukan aku saja Ino" Hinata masih menangis dalam dekapan Ino dan Karin.

Ino membelai punggung Hinata dengan lembut "berhentilah menyalahkan dirimu Hinata, kita do'akan saja semoga Naruto senpai berhasil menjalani operasinya"

Karin hanya diam dengan raut wajah sendu, sambil sesekali mengelus rambut indigo Hinata berharap hal itu bisa sedikit menenangkan hatinya, Karin merasa bahwa yang paling patut disalahkan adalah dirinya, kalau saja dirinya tidak bermain-main dengan para berandal itu pasti semuanya tidak akan terjadi.

Dilubuk hatinya yang terdalam Karin merasa amat bersalah pada Hinata, padahal beberapa hari yang lalu dirinya sempat menyakiti Hinata, ia tau dengan segala kemampuan Hinata yang dilihatnya hari ini, sudah pasti Hinata bisa melawan, tapi yang dilakukan Hinata hanya diam menerima perlakuan jahat darinya.

Bahkan Hinata masih mau menolong dan melindunginya, Karin merasa sangat bersalah juga malu sekarang.

Sasuke masih sibuk berjalan mondar mandir di depan ruang operasi yang menangani sahabatnya itu. bagi Sasuke, Naruto adalah sahabat yang paling berharga, Naruto telah berusaha keras menerobos memasuki kehidupan Sasuke yang begitu kelam dan menyakitkan. orang tua Sasuke sering bertengkar hebat, ibunya bunuh diri dan ayahnya sering membawa pelacur kedalam rumahnya.

Kehidupan Sasuke begitu menyesakkan dan menyakitkan, sampai Naruto datang dikehidupannya, menerobos masuk kedalam pertahanan dingin yang dibangunnya, membawa kembali Sasuke pada keceriaan dan hidup yang lebih berwarna.

Gaara menyenderkan punggungnya pada tembok bercat putih, disamping pintu masuk ruang operasi. ia memejamkan matanya berusaha menetralkan fikirannya agar tenang dan tidak kehilangan kontrol emosinya, meski Naruto adalah rival baginya untuk mendapatkan Hinata, tapi Naruto tetaplah sahabatnya, teman pertama baginya yang dimiliki di dunia ini.

Shikamaru diam tanpa membiarkan sedikit pun matanya mengantuk seperti biasa, ia begitu was-was menunggu hasil operasi itu. Meski Naruto tampak seperti orang bodoh tapi Naruto memiliki sisi lain yang selalu menjadi kekaguman tersendiri bagi pemuda Nara itu.

Kiba duduk tak jauh disamping Hinata, Ino dan Karin. Kiba menjambak rambutnya frustasi. Naruto adalah rival baginya, Juga teman yang berharga baginya. Sesekali kiba mengusap kasar matanya yang memerah karna menahan tangis. Ia begitu khawatir dengan keadaan Naruto melihat bagaimana tadi banyak sekali pendarahan yang dialami Naruto dipunggungnya.

Kushina dan Minato berlari di koridor rumah sakit, setelah mendapat kabar dari Shikamaru Kushina membawa mobil dan menjemput langsung suaminya yang sedang rapat penting di kantor. Tentu saja Naruto lebih penting daripada rapat itu, Minato pun lebih memilih mendatangi rumah sakit secepatnya dari pada harus melanjutkan rapat penting itu.

Para remaja yang menunggu dengan resah di depan ruang operasi itu sontak mengalihkan perhatiannya, melihat dua orang suami istri yang tak lain adalah orang tua Naruto.

"bagaimana keadaan Naruto?" Kushina bertanya dengan mata yang sudah merah dan sembap menangis disepanjang perjalanan

Sasuke menggeleng lemah "belum ada kabar oba-san, Naruto masih menjalani operasi sudah 2 jam berlalu sejak operasi dimulai"

Kushina membekap mulutnya sendiri berusaha meredam isakan yang keluar dari mulutnya, Minato merangkul Kushina dan mengajaknya duduk bersama teman-teman Naruto yang lain

Hinata mengalihkan pandangannya pada wanita dewasa yang cantik juga pria dewasa yang mirip dengan Naruto 'jadi mereka orangtua Naruto senpai' batinnya. Hinata merasa sangat bersalah sekarang, karna dirinya anak mereka tersakiti

Dengan agak ragu dan takut, Hinata melepas rangkulan Ino juga Karin, ia berdiri berjalan perlahan mendekati Kushina juga Minato

Hinata berdiri didepan Kushina dan Minato membuat keduanya melihat Hinata, mereka berdua masih melihat dengan jelas baju Hinata yang agak kusut juga kotor tak lupa bercak merah disepanjang pergelangan tangannya,

Hinata menunduk ia meremas ujung bajunya, kemudia Hinata membungkukkan tubuhnya dalam-dalam "maaf, maafkan aku, semuanya gara-gara aku, Na-naruto senpai terluka karnaku, maaf oba-san, oji-san" Hinata tak kuasa lagi membendung airmata yang kini sudah membasahi kembali wajahnya

Kushina tersenyum, ia mengulurkan tangannya meraih tangan Hinata membuat Hinata menegakkan kembali tubuhnya "siapa namamu?"

Hinata mengusap matanya, masih dengan sesenggukan ia menjawab "Hi-hinata Hyuuga"

'Hinata? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu?' batin Kushina

Kushina kembali memandangi wajah gadis remaja didepannya, 'manis sekali gadis ini' batinnya

Kushina mengangkan tangannya menuju wajah Hinata yang masih menangis, dengan lembut Kushina mengusap air mata itu dengan ibu jarinya "jangan menangis lagi yah Hinata-chan, aku sama sekali tidak menyalahkanmu, lebih baik sekarang kita berdo'a untuk kesembukan Naru-kun"

Hinata cukup terkejut dengan perlakuan lembut yang diterimanya, ia memandang takjub wanita dewasa berparas sangat cantik di depannya, Hinata mengangguk lemah berusaha menampikan senyum diwajahnya "uhm, arigatou oba-san"

'ctik'

lampu merah diatas ruang operasi itu meredup, tak lama seorang dokter yang masih memakai masker lengkap dengan baju hijau keluar dari pintu itu, sontak semua orang yang menunggu Naruto menghampiri dokter itu "bagaimana keadaan anakku?" ucap Minato

Dokter berambut hitam berkulit putih pucat itu tampak muda, meski sebagian wajahnya tertutupi masker "syukurlah operasinya berjalan lancar, orgam dalam pasien tidak terluka terlalu parah jadi kami bisa menanganinya, saat ini pasien masih dalam pengaruh obat tidur, jika mau melihat kondisi pasien, kalian bisa melakukannya bergiliran sesuai waktu yang ditentukan"

"terimakasih dokter" ucap mereka semua serempak, kelegaan luar biasa menjadi angin sejuk bagi mereka yang sejak tadi menunggu operasi Naruto. Untunglah semua berjalan lancar.

"baiklah sama-sama" dan dokter itu pun melenggang pergi.

Kushina dan Minato menjadi orang pertama yang melihat kondisi Naruto, setelah itu disusul Sasuke, Shikamaru, Kiba dan Gaara.

Hinata terlihat resah ditempatnya duduk, Hinata menarik ujung baju Ino "Ino kita pulang saja yah, hari sudah malam, aku takut ayah marah, lagi pula aku...aku...belum siap menemui Naruto senpai"

Ino tersenyum lembut, "baiklah, besok kita bisa menjenguknya lagi"

...


Kabar Naruto yang dirawat dirumah sakit menyebar cepat bagai asap di sekolah, teman sekelas Naruto bergulir menjenguk Naruto di rumah sakit. Bahkan para fansgirlnya pun tampat antusias menjenguk Naruto dirumah sakit.

Hubungan Karin dan Hinata membaik, Karin sudah mengajak teman-temannya untuk berdamai dengan Hinata. Meski begitu Karin tetap tidak akan memberikan dengan mudah restu bagi Hinata untuk berdekatan dengan Naruto.

Sudah tiga Hari Naruto dirumah sakit, selama itu Sakura tak pernah absen untuk menemaninya.

Meski kondisi Naruto sudah lebih baik, hatinya tidak begitu, hatinya resah dan rindu, sudah tiga hari ia dirumah sakit tapi belum juga melihat Hinata menjenguknya.

"kenapa dia tidak datang?" gumamnya sambil melihat keluar jendela, dimana langit sudah berwarna jingga, dan matahari yang hampir tenggelam dalam peraduannya

Sebenarnya Hinata selalu ingin menjenguk Naruto, tapi rasa takut menyelimuti hatinya, rasa bersalah begitu besar membuatnya enggan untuk sekedar menjenguknya.

Tapi hari minggu ini Hinata sudah membulatkan tekad, ia akan menjenguk Naruto meski saat ini ayah Hinata melarangnya keluar rumah.

Hari minggu dari pukul 8 pagi sampai jam 3 biasanya sang ayah Hiashi pergi bermain golf atau memancing mengisi hari liburnya. Dan kesempatan itu akan digunakan Hinata untuk menemui Naruto

Hinata membuka pintu kamar orangtuanya, dilihatnya Hyuuga Hikari sang ibu sedang bersantai sambil merajut sebuah syal, Hinata memeluk leher ibunya dari belakang "okaa-san, seharian ini Hinata akan belajar, jadi jangan mengganggu yah, pintu kamar akan Hinata kunci, tadi Hinata juga sudah menyiapkan makanan"

Hikari tersenyum lalu mengusap dengan lembut tangan Hinata yang melingkari lehernya "uhm, jangan terlalu memaksakan diri yah Hina-chan, ibu tidak mau nanti kamu sakit"

Hinata mencium pipi sang ibu "uhm" Hinata berlari kecil menuju kamarnya.

Hinata membuka lemari pakaiannya, mencari pakaian untuk penyamarannya, ia memakai jeans hitam selutut, t-shirt berwarna abu-abu berlengan pendek, jaket hitam besarnya juga topi hitam berlambang rokkie di depannya.

Hinata membuka pintu jendelanya, setelah sampai di balkon dengan hati-hati ia melihat situasi, lalu mengikat tali di balkon dan turun menggunakan tali itu. Hinata meraih ujung tali lalu melemparkan seluruh tali itu ke atas balkon, supaya tidak ada penjaga yang melihatnya nanti.

Hinata berjalan perlahan sambil menjinjitkan kakinya, "kenapa aku seperti maling dirumahku sendiri?... gomenne oka-chan Hina terpaksa berbohong, ini semua demi menjenguk Naruto senpai, gomenne Hina jadi anak nakal..tapi nanti hina memang akan belajar kok" Hinata bergumam sendiri,

Setelah berhasil memanjat gerbang bagian belakang Hinata pun bergegas menuju rumah sakit.

Setelah sampai dirumah sakit, Hinata berdiam diri beberapa saat didepan pintu kamar vip dimana Naruto dirawat. Ia mengangkat tangannya meraih knop pintu, 'Hinata, kau harus menemui Naruto-senpai, ingat perjuanganmu sampai kesini' batin Hinata, Hinata menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan, dan ia pun menggeser pintu ruangan itu.

Dilihatnya ruangan mewah itu, banyak fasilitas didalam kamar rawat vip itu, Hinata mendekati ranjang dimana ia melihat Naruto sedang berbaring memejamkan matanya 'sepertinya senpai tidur' fikirnya,

Hinata duduk dikursi putih samping tempat Naruto tertidur, Hinata memperhatikan wajah Naruto yang terlihat lebih pucat dari biasanya, Hinata tak memungkiri meski terlihat pucat tapi wajah polos Naruto ketika tidur membuatnya terlihat 'kawaiii' fikir Hinata

"gomenne senpai, aku...ka-karna aku...senpai terluka...maafkan aku...aku sudah ceroboh sampai membuat senpai terluka...maaf...mungkin senpai marah kepadaku" Hinata menundukkan kepalanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca

"ya aku marah padamu"

Suara baritone khas Naruto menyapa indera pendengaran Hinata, sontak membuat Hinata mendongkakan kepalanya, Hinata agak terkejut melihat Naruto yang sudah membuka matanya dan memperhatikannya

Sedari tadi sebenarnya Naruto tidak tidur, ia hanya memejamkan matanya saja, jadi Naruto menyadari kedatangan Hinata, hatinya begitu senang mendapati Hinata yang kini menjenguknya

"aku marah padamu,, kenapa baru datang sekarang,,kau tidak peduli padaku ya?" ucap Naruto sambil mendudukan diri bersila dan memutar posisinya jadi berhadapan dengan Hinata

Hinata menggeleng cepat "tidak,,,aku hanya takut saja senpai tidak mau menemuiku"

"dasar bodoh"

"maafkan aku senpai"

Naruto menyeringai, tiba-tiba saja ide cemerlang melintas di otaknya

"tidak semudah itu aku memaafkanmu, kau harus bertanggung jawab"

Hinata menatap Naruto dengan mata bulannya yang membulat "ta-tanggung jawab, ta-tapi Hinata masih terlalu muda untuk mendekam dipenjara" ucapnya

Naruto melongo menatap tak percaya kohainya itu "haaa? Dasar bodoh, otak mu tertinggal dimana Hinata?"

Hinata memiringkan kepalanya bingung "hhmm kalau aku melepaskan otakku, aku bisa mati senpai"

Naruto menepuk jidatnya sendiri "ya ampun kau ini... benar-benar...sudahlah kenapa aku harus memenjarakanmu yang harusnya dipenjara itu berandal yang menusukku"

"jadi,, tanggung jawabnya apa?" tanya Hinata

Naruto menyilangkan tangannya di dada "setiap hari kau harus menjengukku, kau harus menemani dan merawatku sampai sembuh, kau harus menuruti permintaanku sampai sembuh"

Hinata mengerjapkan matanya masih memproses ucapan Naruto "heeeeehhhhh, ke-kenapa harus begitu?"

Naruto menganggukkan kepalanya "kau harus melakukannya Hinata, aku sudah bersusah payah berjuang melawan maut karna berusaha menyelamatkanmu, jadi kau harus bertanggung jawab"

Hinata menunduk lesu "baiklah"

Naruto bersorak senang dalam hati, dengan begini dia bisa lebih sering bertemu Hinata dan tentu saja ini kesempatan baginya untuk bermanja-manja pada Hinata, sepertinya Naruto bersyukur ditusuk oleh berandal itu

"ehem" Naruto berdehem "sekarang aku mau makan apel itu, kupaskan, dan suapi aku"

Wajah Hinata memanas "su-suapkan, ke-kenapa tidak makan sendiri saja"

"aku ini masih lemas Hinata, kau harus menyuapiku"

"baiklah" Hinata pun mengupas apel yang ada di lemari kecil disebelah kasur tempat Naruto berbaring, setelah apel dikupas ia memotongnya

dengan tangan bergetar, dan jantung yang bertalu-talu Hinata menyuapkan apel itu ke mulut Naruto, Naruto tersenyum senang mendapat suapan apel itu. Sampai beberapa suapan apel itu sudah habis

Naruto merebahkan kembali dirinya "hhmmm bernyanyi lah Hinata"

"jangan menyuruhku bernyanyi senpai, aku tidak bisa"

"sudah menyanyi saja"

"baiklah"

Hinata membuka suaranya "llembayungg senjaaa membuka suaraaaaa"

Mendengar Hinata bernyanyi Naruto segera menutup telinganya rapat-rapat, bagaimana tidak sudah fales, cempreng pula "be-berhenti Hinata"

Hinata menghentikan nyanyiannya "kenapa senpai?"

Naruto melepas pegangangan di telinganya, pandangannya memicing melihat Hinata "suaramu bagus, tapi lebih bagus kalau kau diam saja. Hahh kau mau membuat gendang telingaku pecah yah? Suaramu itu..." Naruto tak melanjutkan kata-katanya ia hanya menggeleng-gelenggkan kepalanya

Hinata tertunduk lesu "gomen" yah memang Hinata sama sekali tak punya bakat dalam menyanyi, bahkan Tayuya pernah dengan tega memasukkan kepalanya ke dalam kantung plastik hitam karna mendengarnya bernyanyi

Naruto menggeser tubuhnya memberikan ruang kosong disebelah kiri tubuhnya, Naruto menepuk-nepuk ruang kosong di kasur itu "duduklah disini" ucapnya kemudian

"ta-tapi?"

"sudah turuti saja"

Dengan gerakan kaku Hinata duduk menyamping dikasur itu, Naruto mengangkat kepalanya dan membaringkannya tepat di atas paha Hinata. Tentu Hinata sangat terkejut dengan perbuatan senpainya itu, jangan lupa jantungnya kini yang semakin bertalu-talu

"se-se-senpaii" cicit Hinata

Naruto meraih tangan Hinata dan meletakkannya diatas kepalanya sendiri "Hinata, usap rambutku, aku ngantuk sekali"

Dengan agak ragu, Hinata mulai mengelus dengan pelan dan rembut,

'ternyata rambut Naruto senpai lembut sekali, padahal kelihatannya berantakan susah di atur ternyata sangat lembut, halus, rambutnya juga wangi' batin Hinata, bibir Hinata terangkat membentuk sebuah senyuman,

Naruto terus tersenyum senang didalam hati 'ya ampun tangan Hinata lembut sekali, begitu nyaman seperti ini. Kalau begini sih ditusuk ratusan pisau pun aku rela, asalkan masih hidup untuk bisa bermanja-manja pada Hinata seperti ini' batinnya


...

Kushina dan Minato baru saja selesai menemui dokter, ia bergegas kembali ke kamar Naruto karna tadi Naruto ditinggal sendiri olehnya dan Minato,

Kushina menggeser pintu ruangan VIP itu "Naruto ini ibu bawakan—" Kushina begitu terkejut melihat pemandangan didepannya,

Naruto tertidur lelap di atas pangkuan seorang gadis bertopi berambut panjang yang juga ikut terlelap bersamanya.

Kushina membekap mulutnya tak percaya, Minato menyusul mendekati Kushina dari belakang "ada apa sayang?" ucapnya

Kushina segera meletakkan jari telunjuknya dibibir Minato "ssttt jangan berisik anata, lihat Naruto" ucap Kushina sambil menunjuk Naruto

Minato cukup terkejut juga melihatnya "apa gadis itu pacar Naruto?"

Entah kenapa Kushina menitikan air matanya "a-aku tak menyangka Minato-kun, anak kita...anak kita menyukai perempuan... kufikir dia homo" ucap kushina yang sekarang memandang binar anaknya itu

Minato terkekeh mendengar ucapan istrinya itu "haha, kau ada-ada saja, tentu saja Naruto pasti menyukai perempuan"

Kushina berubah antusias ia mengulurkan tangannya pada Minato "sayang keluarkan handphonemu"

Minato mengerutkan dahinya, tapi ia segera memberikan handphone itu pada tangan istrinya "untuk apa?"

"untuk ini" Kushina pun mendekati Naruto dan Hinata

'klik' ...'klik'...'klik'

Kushina berkali-kali memotret adegan itu dengan antusias, Minato hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya itu.

Kushina memicingkan matanya mengamati gadis didepannya yang tertidur pulas bersama Naruto, berfikir sejenak sambil memegang dagunya kemudian Kushina menjentikkan jarinya "aah, dia Hinata-chan, karna memakai topi dan rambutnya yang digerai aku jadi sulit mengenalinya"

"Hinata yang waktu itu ikut mengantar Naruto kerumah sakit?" tanya Minato

Kushina mengangguk antusias "betul, aah sekarang aku ingat, waktu itu saat tak sengaja aku menguping Naruto yang sedang menelfon seseorang, aku mendengar Naruto memanggil orang yang ditelfon dengan nama Hinata, pantas saja aku merasa pernah mendengar nama Hinata, ya ampunnn Minato-kun kita akan segera punya menantu dan cucu"

"ya ampun sayang mereka masih sekolah, masa mau membuatkan kita cucu" Minato kembali tertawa, Kushina mengerucutkan bibirnya kesal,

"sudahlah lebih baik kita keluar saja nanti kita mengganggu momen mesra mereka" Kushina menggandengan tangan suaminya untuk keluar dari ruangan VIP itu


...

"ngghh" lenguhan kecil terdengar dari Hinata yang kini mulai membuka matanya perlahan

"kau sudah bangun" ucap Naruto yang kini duduk bersandar bersama Hinata

"ehh, aku tertidur yah?" Hinata mengusap-usap matanya yang maish terasa berat

"yah, kau malah tertidur jauuuuhh lebih lama daripada aku"

"eh, gomenne"

Naruto menunduk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Hinata. Naruto mengulurkan tangannya kewajah Hinata, ia mengusap keringat dipipi kiri Hinata dengan punggung tangannya "wajahmu berkeringat, kalau gerah lepas saja topi itu"

Hinata merasakan sengatan listrik ketika tangan Naruto mengusap lembut keningnya "se-senpaii"

Naruto memandang heran wajah Hinata yang bersemu merah "kenapa wajahmu merah? Kau demam?" Naruto meletakkan punggung tangannya dikening Hinata

Hinata sudah tidak tahan lagi, jantungnya seperti mau meledak saja. Wajahnya sudah panas dan merah sempurna segera saja ia tepis dengan lembut tangan Naruto dikeningnya "ti-tidak senpai, a-aku ke kamar mandi dulu untuk cuci muka" Hinata berlari kecil menuju kamar mandi yang ada di ruangan itu

"kenapa dengannya?" Naruto memandang heran Hinata


'sreekk'

pintu ruangan itu bergeser Naruto mengalihkan pandangannya melihat pintu kamar rawatnya yang terbuka "permisi" suara lembut terdengar dari balik pintu itu

"Sakura-chan" Naruto berseru setelah tau bahwa yang berkunjung adalah Sakura,

Hari ini Sakura terlihat manis, ia memakai dress selutut berwarna pink dengan motif bunga Sakura di sekitar pinggangnya, rambutnya diberi hiasan penjepit rambut benbentuk buah chery

"bagaimana kabarmu Naruto-kun?" Sakura segera mendekat dan duduk di kursi samping ranjang Naruto

Naruto tersenyum lembut menyambut kedatangan Sakura "jauh lebih baik, apa kau tidak kerepotan Sakura-chan setiap hari menjengukku"

Sakura menggeleng kecil "tentu saja tidak, aku sangat khawatir terhadapmu Naruto-kun, jadi aku akan terus mengunjungimu sampai kau benar-benar sembuh"

Sementara itu dikamar mandi

"haahhh kenpaa panaas sekali,,, ya ampun berhentilah berdegup kencang" ucap Hinata sambil mengusap-usap dadanya

Hinata membuka jaketnya, mengikat bagian tangan jaketnya dipinggangnya, Hinata membalik kebelakang posisi depan topinya. Tanpa menatap tampilannya dicermin Hinata langsung saja melenggang pergi dari kamar mandi

"bagaimana suhu tubuhmu Naruto-kun" ucap Sakura yang sekarang meletakkan punggung tangannya pada kening Naruto

Naruto yang mendapat perlakuan itu menggaruk tengkuknya, canggung juga diperlakukan seperti ini oleh Sakura. Sakura hanya tersenyum melihat Naruto yang sepertinya salah tingkah

"Sakura –senpai" suara seseorang mengintrupsi kegiatan Sakura, Sakura membalikkan badannya agak terkejut sebenarnya melihat siapa yang memanggil tapi Sakura berusaha menutupi kekagetannya "Hinata-chan, kau menjenguk Naruto juga?"

Hinata berjalan mendekati mereka "uhm, Sakura-senpai kapan datang?"

"baru saja kok"

Hinata memperhatikan sakura dari atas sampai bawah 'Sakura-senpai sangat cantik dan manis' batinnya

Hinata kemudian melihat tampilannya sendiri 'ya ampun, aku seperti gadis tomboy berandal, benar juga haruskah aku tampil manis kalau mengunjungi teman dirumah sakit?' gumamnya dalam hati

Sementara itu Naruto tak berkedip memandang Hinata, tak sadarkah Hinata kalau t-shirt berlengan pendek miliknya memiliki ukuran yang sangat-sangat pas ditubuhnya, memperlihatkan bagaimana lekuk asli tubuh milik Hinata yang selama ini selalu disembunyikan, lekuk tubuh indah proposional yang pasti diidamkan oleh setiap wanita, lihat saja ukuran dadanya yang diatas rata-rata tercetak jelas, perut langsingnya, kaki jenjangnya. satu kesimpulan yang ditarik Naruto melihat penampilan Hinata saat ini 'Tomboy dan Seksi'

Naruto segera menggeleng keras 'kenapa disaat seperti ini aku malah berfikiran mesum' fikirnya

"kau kenapa Naruto? Kepalamu pusing?" Sakura khawatir melihat Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya

"uhm sepertinya" ucap Naruto

"kalau begitu berbaring saja" Sakura membantu membaringkan tubuh Naruto,

Hati Hinata mencelos, panas, sesak melihat adegan itu, Sakura begitu perhatian pada Naruto, mereka terlihat seperti pasangan yang serasi

Entah kenapa melihatnya Naruto yang tersenyum lembut pada Sakura membuatnya menjadi sangat kesal.

"Naruto-senpai, Sakura-senpai aku pulang dulu yah hari sudah sore" ucap Hinata dengan wajah cemberutnya

"eh kenapa cepat sekali?" ucap Sakura

Naruto memegang pergelangan tangan Hinata "pulangnya nanti malam saja Hinata"

"tidak bisa aku harus pulang sebelum ayah pulang" Hinata menarik tangannya dari genggaman Naruto

Ia segera melangkah pergi menuju pintu keluar "Hinata?" Naruto memanggil

Hinata membalikkan badannya "ada apa?" ucapnya singkat

"pakai jaketmu, diluar dingin"

"hn" dan Hinata pun melenggang pergi meninggalkan Naruto yang sangat terheran-heran dengan sikap Hinata kepadanya

'apa salahku? dia marah padaku?' ucap Naruto dalam hatinya

Hinata berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya dikoridor rumah sakit "Naruto senpai bakka" ucapnya sambil menggembungkan pipinya kesal

Tidak tahukah bahwa Hinata memiliki sifat pencemburu berat turunan dari ayahnya...

TBC...

...

Selesai juga, gomen ne klo lanjutan ceritanya kurang menarik

Sepertinya fic ini selsai kira-kira sampai chapter 16'an deh...mungkin...

Wid sebenernya gemes banget pengen cepet-cepet nyelesaiin fic ini.

Oh yah, Ino gak cemburu kok melihat Naruhina, kan di chapter dua Ino sudah move on dan rasa sukanya menguap begitu saja pada Naruto. Tenang saja nanti Ino wid kasih pasangan kok.

Chapter depan interaksi Naruhinagara wid munculin lagi... gomen...sekian

Please review fav dn folw