[Jeno: Move On]

Rate: T for normalization of same sex relationship

Disclaimer: NCT Dream belongs to SMEnt.

Chapter 9

Sudah seminggu kelompok belajar itu tidak melaksanakan kegiatan rutin mingguannya lantaran sang guru sakit. Katanya sih hanya kelelahan. Dia juga sempat bilang, dia masih cukup kuat kalau sekadar mengajar, tapi kelima muridnya itu jelas menolak. Mereka tidak ingin sang guru, Taeil hyung nya itu memaksakan diri.

Sebenarnya, dalam hati mereka juga senang karena... yah, siapa sih yang tidak senang kalau jadwal les nya terganggu? Bukan berarti mereka tidak suka belajar diajari Taeil, tapi memang kodratnya anak seumur mereka tidak senang pada kegiatan belajar itu sendiri, jadi mau bagaimana lagi?

Akibatnya, Jaemin sekarang malah jadi sering mengeluh gara-gara ingin berkumpul-kumpul lagi bersama keempat temannya. Keluhannya kali ini juga lebih parah karena kelas 11 sedang kunjungan darmawisata selama 4 hari ke Taiwan. Wah, baik juga sekolahnya.

"Kangen Mark hyung..." Jaemin mengerang ketika melihat tidak ada notifikasi chat dari hyung nya itu. Mark sebenarnya sudah bilang padanya kalau mungkin dia akan kesusahan membalas chatnya karena rundown acaranya yang padat jadi Jaemin tidak bisa menyalahkan. Tapi ya... kalau kangen, ya kangen!

Jeno mengintip layar hape Jaemin. "Masih lihat-lihat instagram Mark hyung? Tidak bosan-bosan juga ya?"

Ngestalk instagram Mark yang belum ada update apapun itu menjadi kegiatan yang kerap dilakukan Jaemin sejak kemarin. Yang dia harapkan sebenarnya adalah agar aktivitasnya itu bisa meredakan kangennya, tapi ternyata itu malah memperparah.

"Masih mending daripada lihat mukamu doang seharian."

Jeno tertawa pelan sambil menepuk kepala Jaemin, yang dibalas dengan sungutan. Tak lama, guru kimia mereka masuk, membuat seluruhnya yang ada di kelas segera bersiap-siap mengikuti pelajaran. Jeno juga dengan buru-buru mengeluarkan bukunya dari dalam tas, sebelum kemudian dia menyadari hapenya bergetar. Hape Jaemin malah sampai mengeluarkan nada dering gara-gara belum di-silent.

"Hehe. Maaf ya pak. Ini saya silent sekarang." Jaemin menggaruk kepalanya sambil cengengesan lantaran dipelototi gurunya. Tidak marah kok. Hanya pelotot-pelotot-bercanda.

Ada pesan di grup chat kelompok belajar mereka. Tapi yang ini, minus Taeil.

Renjun
[Donghyuck tidak masuk sekolah. Apa dia sakit?]

"Kenapa dia malah bertanya pada kita ya? Yang sekelas kan dia." Jeno menyuarakan kebingungannya.

"Entahlah." Jaemin kemudian mengetikkan balasan.

Jaemin
[Kami tidak tahu~]
[Donghyuck tidak bilang apa-apa pada kami.]

Renjun
[Hmm.]
[Aku bingung harus mengatakan apa kalau nanti diabsen. Teman-teman pasti akan menanyakan padaku:( kubilang sakit saja kali?]

Jeno
[Katakan saja dia bolos]
[Aku tidak merasa dia bisa sakit haha]

Jaemin baru saja mau menimpali lagi, tapi suara dehaman langsung menyadarkan mereka kalau mereka masih berada di dalam kelas, yang gurunya sedari tadi sudah berbaik hati menunggu mereka menyelesaikan urusannya. "Hape kalian ramai sekali sepertinya."

Glek. Jeno dan Jaemin refleks menyimpan hape masing-masing, tanpa menunggu balasan dari Renjun. Maaf ya, Renjun! Mereka pasti akan membalas setelah pelajaran selesai!

Maunya begitu, tapi ternyata tidak ada balasan sama sekali dari Renjun ketika mereka melihat group chatnya saat istirahat. Apa karena Donghyuck sudah membalas chatnya, jadi dia tidak merasa harus membalas lagi?

Donghyuck
[Yow baru bangun]
[Aku sakit]
[Tertular hyung. Salahkan hyung ya.]
[Dan Jeno. Sialan kau.]

Jeno
[Hyung? Hyung siapa?]

Jaemin
[Taeil hyung?]

Donghyuck
[Siapa lagi?-_-]
[Apanya yang cuma kelelahan. Dia flu.]
[Dasar]

Jaemin dan Jeno saling tatap. "Donghyuck menjenguk hyung?" Mereka tidak menyangka temannya ternyata sedekat itu dengan gurunya yang terbaring sakit. Padahal yang mereka tahu memang hanya soal Taeil kelelahan, tapi Donghyuck sampai tahu kalau sebenarnya dia sedang flu.

Flu bukan penyakit yang gawat-gawat sekali sih tapi... bagaimana ya? Itu penyakit yang paling menyebalkan. Tidak cukup sakit untuk mengambil hari libur, tapi juga tidak cukup sehat untuk melakukan kegiatan keseharian.

Jaemin
[Cepat sembuh, Dongie~]
[Nanti kami menjenguk kok]
[Suguhkan makanan ya haha]

"Apaan sih kan harusnya kita yang membawakan makanan." Jeno menyikut Jaemin, tapi dia juga terlihat menikmati.

Jaemin tertawa. "Bercanda!" Mereka lalu membicarakan apa yang harus mereka bawa untuk menjenguk Donghyuck sebagai buah tangan, tapi ketua kelasnya yang baru saja menyembulkan kepalanya dari celah pintu memanggil Jaemin. "Ada apa?" Jaemin menyahut.

"Cepat ke ruang guru. Guru Park mencarimu."

Wah, Jaemin melakukan apa lagi nih sampai disuruh ke ruang guru. Jaemin sudah mulai mereka ulang kejadian-kejadian beberapa minggu terakhir. Dia tidak merasa telah melakukan sesuatu yang bisa menyebabkan dia dipanggil ke ruang guru.

Dan ya memang dia tidak melakukan pelanggaran apapun karena ternyata dia dikumpulkan bersama beberapa murid kelas lain untuk diikutkan olimpiade fisika tingkat kota.

Jaemin tidak tahu harus senang atau apa mengenai itu. Ditunjuk sebagai perwakilan sekolah adalah hal yang patut dibanggakan, tapi dia juga tahu dia akan menetap di sekolah selama 2 jam setelah bel pulang berbunyi untuk beberapa minggu ke depan untuk persiapan. Dan ia tahu, itu tidak menyenangkan.

Jeno
[Jaemin tidak bisa menjenguk. Dia ikut pelatihan olimpiade.]

Donghyuck
[Mantap]
[Tapi memang sebaiknya jangan menjengukku. Kalian bisa tertular]

Jeno
[So sweet]

Donghyuck
[Anjir lah]

Jeno menyunggingkan senyum sambil mematikan layar hapenya. Donghyuck memang sudah melarangnya datang, tapi ya ampun. Donghyuck, sahabatnya yang sudah sering menawarkan diri jadi keranjang curhatnya itu sedang sakit! Apa dia jadi batal menjenguk hanya gara-gara takut tertular?

Sunggingan senyum itu juga lah yang menyambut Donghyuck di ambang pintu kamarnya. Donghyuck berkacak pinggang. "Sudah kubilang jangan datang."

"Aku bawa masker kok." Jeno memperlihatkan kantong plastik dari minimarket. Di dalamnya ada sebungkus masker medis dan dua botol sport drink.

Donghyuck tidak menyangka ibunya akan mempersilakan Jeno masuk, padahal bisa saja Jeno nanti tertular. Tapi mungkin karena Jeno sudah kelewat sering berkunjung, sampai-sampai ibunya salah mengira Jeno sebagai anaknya sendiri yang baru pulang sekolah.

Donghyuck mempersilakan Jeno masuk ke kamarnya, dengan peringatan untuk tidak mengomentari kamarnya yang berantakan karena tisu yang berserakan.

"Habis buang ingus ya tisunya dibuang dong. Jorok." Jeno menyingkirkan tisu-tisu itu dari meja belajar Donghyuck agar dia bisa meletakkan minuman yang dia beli. Donghyuck tidak memusingkan itu, toh, dia sudah bilang agar tidak berkomentar. Tapi memang dasarnya manusia jadi lebih ingin melakukan ketika dibilang jangan, jadi ya sudahlah.

Donghyuck menyamankan diri dengan duduk bersila di atas tempat tidurnya. Punggungnya bersandar pada dinding. Jeno tentu menjaga jarak dengan Donghyuck. Dia duduk di kursi belajar yang sudah ditarik menjauh dari mejanya.

Mereka sempat mengobrol tentang hal yang mendasar seperti menanyakan bagaimana kondisinya sekarang? Apa sudah membaik? Sudah minum obat apa saja?

Jeno merasa canggung saja dengan Donghyuck yang sakit. Dia memang terlihat seperti biasanya, tapi juga jelas terlihat ada yang berbeda dengannya. Matanya terlihat lebih nanar dari biasanya.

"Jaemin seharian ini mengeluh bosan. Aku capek mendengarnya." Jeno memulai topik baru. "Kangen Mark hyung katanya."

"Oh iya. Hyung ke Taiwan, kan? Kok sekolah bisa-bisa aja ya bikin kunjungan ke luar negeri kayak begitu. Awas saja kalau angkatan kita dibedakan." Donghyuck melipat tangannya di depan dada. "Tapi hyung tidak kelihatan sama sekali di group chat."

"Iya. Makanya Jaemin begitu," kata Jeno. Tangannya memainkan hapenya. Dia membuka instagram dan langsung mengetikkan nama akun Mark. "Tidak tahu saja dia kalau teman-teman hyung yang lain men-tag hyung di foto-foto mereka. Lihat, ada hyung di sini."

Jeno memberi lihat section tagged photos di akun instagram Mark pada Donghyuck. Ada banyak foto kegiatan mereka di sana. Memang dasar kegantengan si Mark itu, jadi teman-temannya banyak yang mengambil fotonya dan sampai repot-repot men-tag akunnya.

Donghyuck terkekeh sambil mengatai Jaemin yang kurang update itu. Mau sesibuk apapun acara, pasti dari sebanyak itu orang seangkatan, akan ada yang menyempatkan diri upload foto di media sosial. Sesibuk apapun!

Ada rasa lega yang Donghyuck rasakan ketika menyadari saja kalau Jeno sekarang sudah menganggap Mark sebagai kakak kelas yang dihormati dan juga sebagai teman yang bisa dibanggakan. Dia turut senang. Usahanya dulu mempertemukan mereka berbuah manis. Tapi dia tidak menyangka Jeno sudah merasa senyaman itu dengan Mark bahkan sampai mengcapture foto-fotonya di instagram. Wow.

"Kamu ngapain?" Donghyuck akhirnya bertanya.

Jeno menyahut tanpa melirik. "Mau kukirim ke Jaemin. Biar semangat pelatihannya."

Aduh. Masih saja Jaemin, Jaemin, Jaemin, dan Jaemin. Kamu pikir ini sudah chapter berapa, Jeno? Apa fanfic ini perlu ganti judul?

Tidak, sepertinya tidak perlu, karena Donghyuck merasa ada yang berbeda pada kelakuan Jeno sekarang.

"Kamu masih suka Jaemin?" tanyanya pada akhirnya.

Donghyuck ingat dia pernah bertanya hal yang sama pada Jeno, di ruangan itu juga, beberapa waktu lalu. Dia ingat, dia bertanya begitu karena mulai menyadari ada yang tidak biasa dari Jeno. Selain itu, dia juga ingat bagaimana reaksi Jeno saat itu.

Dalam hati, Donghyuck menebak-nebak jawaban apa yang akan didapatnya dari Jeno. Masih sama seperti dulu kah? Atau malah sudah berbeda?

Tapi Jeno hanya tersenyum miring. "Menurutmu?" Jeno balik bertanya.

Donghyuck mengedikkan bahu. "Tidak tahu. Makanya aku bertanya." Sebenarnya walaupun begitu, Donghyuck merasa sudah bisa menebak jawabannya dari senyum Jeno. Itu senyum lega. Benar-benar berbeda dengan saat pertama kali Donghyuck menanyainya kemarin-kemarin.

"Masih. Aku masih menyukainya."

"Hah?" Donghyuck menganga. "Masih?"

Jeno mengangguk. Donghyuck langsung menangkup wajahnya sendiri dengan satu tangan. Dia tidak habis pikir. Kenapa Jeno bisa setahan banting itu sih?!

"Pft."

Donghyuck mengangkat pandangannya ketika mendengar Jeno malah tertawa. "Apa yang lucu?"

"Maaf, aku tadi bercanda." Jeno memperbaiki duduknya. Tangannya masih memegang hapenya walaupun tidak dipakai lagi. "Bukan bercanda juga sih. Hmm, bilangnya bagaimana ya? Aku masih suka dia, tapi sebagai teman."

Donghyuck melemparkan pandangan meragukan Jeno. Ini Jeno bicara serius atau ngeles saja? Soalnya Donghyuck tipe-tipe yang tidak percaya pada yang namanya suka hanya sebatas teman.

Jeno sepertinya bisa mengartikan tatapan Donghyuck. "Yah, aku mengerti sih kalau kamu susah percaya. Walaupun aku dulu sudah bilang akan menyerah soal Jaemin dari... –entahlah. Sejak aku bicara berdua saja dengan Mark hyung di kantin sepertinya? Iya, padahal aku bilang aku merasa benar-benar kalah darinya mengenai Jaemin, tapi tetap saja aku plin-plan. Ditelepon sedikit saja aku langsung ragu lagi." Jeno menjelaskan panjang lebar.

Jeno ingat jelas apa yang dirasakannya ketika Jaemin meneleponnya malam-malam. Suara Jaemin yang kebingungan akan perubahan pada sikap Mark terhadapnya masih bisa dibayangkannya dengan jelas. Yang memukul Jeno dengan sangat keras sampai membekas adalah ketika dia sadar bahwa dialah yang membujuk Jaemin untuk minta maaf. Fakta bahwa dialah yang berperan dari kembali rujuknya mereka sudah tidak bisa dibantah lagi.

Kenapa dari semua orang, harus dialah yang membantu agar mereka rujuk lagi? Tak adakah orang lain? Dia merasa begitu menyedihkan.

Tapi tetap saja ada kata-kata yang Jaemin katakan padanya yang paling mengganggunya.

"Jaemin bilang padaku untuk tidak menyerah," tuturnya lagi. Pandangannya tertanam pada jemarinya yang terkulai lemas. Dia tidak akan pernah lupa pada hari saat dia pulang bersama Jaemin dan juga pada kata-katanya.

Jangan menyerah dong!

Kamu sahabatku. Aku bisa menjamin, orang sebaik kamu pasti juga bisa mendapatkan orang yang sama baiknya.

Seakan itu baru saja terjadi kemarin, Jeno bisa mendengar kata-kata itu dalam suara Jaemin, persis sama.

Jeno ingin saja menurut, tapi ada yang baru dia sadari akhir-akhir ini. "Tapi kadang, untuk melangkah maju itu... aku harus mengakui apa yang tidak bisa kuperjuangkan lagi."

Maka dari itu, Jeno memutuskan untuk menyerah –membantah kata-kata Jaemin yang melarangnya demikian. Entah bagaimana reaksi Jaemin, jika saja Jeno menjelaskan padanya kalau dia pada akhirnya memutuskan untuk menuruti kata-katanya untuk tidak menyerah, itu berarti Jeno akan selalu siap merusak hubungan Jaemin dengan Mark.

Apa Jeno menyesal? Entahlah, tapi Jeno tidak pernah merasa selega ini sebelumnya. Rasanya seperti beban yang selama ini ada di pundaknya lenyap begitu saja.

Donghyuck yang daritadi menyimak tanpa menyela, sekarang menepukkan tangannya lambat-lambat. "Keren. Aku yakin ini yang terbaik, Jen." Dibalas dengan senyuman oleh Jeno. "Jadi... apa kamu masih ingin tahu siapa orang yang kumaksud waktu itu?"

Donghyuck begitu bersikeras untuk tidak memberitahukan nama orang itu karena Jeno dulu masih tidak merasa jelas dengan perasaannya sendiri, tapi sekarang karena Jeno sudah menata rapi cara pikirnya, Donghyuck jadi memberikan kartu pass untuk Jeno mengetahui namanya. Begitukah?

Donghyuck menumpukan dagu pada satu tangannya. "Tapi menurutku... kamu sudah tidak butuh lagi kan?"

Jeno terkekeh. Benar. Dia sudah tidak butuh lagi diberitahu Donghyuck. "Aku masih belum tahu siapa yang kaumaksud, tapi... kau tahu? Aku yakin, aku sangat menyukai Jaemin, dulu," kata Jeno, menatap Donghyuck lamat-lamat. Donghyuck tidak merespon, menunggu apa yang akan dipaparkan Jeno selanjutnya. "Tapi kalau kamu sampai sempat mengira aku sudah tidak menyukainya hanya gara-gara aku memerhatikan orang lain, kurasa memang aku sebegitunya memerhatikan orang itu. Aku ingin mengikuti alurnya, jadi aku akan mencari tahu identitas orang ini sendiri."

Jeno yakin dia bisa bertemu dengannya dengan usahanya sendiri, lalu tanpa memerlukan perantara, mereka akan saling berkenalan. Jeno akan mendengar namanya langsung dari orangnya.

Donghyuck mengangguk mengerti. Dia tidak menyangka Jeno akan punya pemikiran seperti itu.

Seolah pembicaraan bertopik sensitif tadi tidak pernah terjadi, mereka kemudian lanjut mengobrol soal bagaimana Jaemin akan bereaksi ketika melihat foto-foto yang dikirim Jeno padanya. Mungkin dia akan langsung izin ke toilet di tengah pelatihan untuk sekadar melihat Instagram Mark. Di tengah keasikan mereka, ibu Donghyuck memanggil dari luar kamar. "Ada temanmu lagi nih!"

"Hah? Siapa lagi?" mungkinkah Jaemin? Ah, tidak mungkin. Masa' dia bisa senekad itu hanya untuk meneriaki Jeno yang tidak memberitahunya soal adanya fitur tagged photos di Instagram?

Donghyuck segera memenuhi panggilan ibunya. Ibunya langsung mengarahkannya ke pintu depan, di mana temannya itu menunggu.

"Renjun?" dia spontan menyebutkan nama orang yang dia lihat sedang berdiri di depan pintu rumahnya. "Ada apa?"

Renjun memperlihatkan selembar kertas. "Surat konfirmasi. Harus dikumpulkan dua hari lagi, dan karena tidak ada yang tahu kira-kira besok kamu masuk atau tidak, teman-teman langsung menyuruhku mengantarkan."

Diterimanya kertas itu oleh Donghyuck, sambil membaca sekilas isinya. Ah, tidak penting. Tukasnya dalam hati.

"Ajak masuk dong temannya, Hyuck…." Suara ibu Donghyuck terdengar dari dalam.

Donghyuck mencibir mendengar ibunya yang tiba-tiba menyambar. "Nanti kalau dia tertular, aku yang disalahkan! –eh, tapi Jeno tadi baru beli masker. Ya sudah, masuk yuk."

Wajah Renjun tiba-tiba terlihat kaku. "…ada Jeno?" katanya, pelan, supaya tidak terdengar orang yang ada di dalam rumah Donghyuck. "Oh, iya. Tadi dia bilang mau menjenguk ya di chat… kukira tidak jadi."

Donghyuck mengerutkan kening. Ada banyak kejadian akhir-akhir ini sampai dia lupa kalau… ah, rahasia.

Setelah terlihat berpikir, Renjun langsung memalingkan muka."Maaf ya, aku buru-buru. Cepat sembuh."

Baru saja Donghyuck akan membalas pamitnya Renjun, ada saja orang di belakangnya yang sudah bosan menunggu di kamar Donghyuck, yang lalu akhirnya memutuskan untuk menyusul. "Oh, Renjun ya. Kamu juga menjenguk?"

Ah, terlambat.

Renjun mengukir senyum kikuk. Pelan-pelan dia menolehkan kepala pada yang mengajaknya bicara. "…tidak, aku hanya mengantar titipan."

"Hmm… tidak mau masuk dulu?"

Renjun menggeleng cepat. "Aku masih ada urusan." Dia langsung melambaikan tangan pada keduanya dan berbalik badan, berjalan menjauh. Pandangannya tertuju pada tanah yang berlalu cepat karena langkahnya yang ia ambil dengan buru-buru. Dia harus pergi dari sana secepat mungkin.

Ketika dia sudah melalui beberapa belokan, dia mendengar sebuah langkah kaki di belakangnya. Langkah kaki yang suaranya semakin keras, tanda akan segera menyusul karena langkahnya yang lebar. Renjun dengan perasaan campur aduk menolehkan kepala ke belakang begitu dia mendengar namanya dipanggil oleh si pemilik langkah kaki.

Jeno.

"K-Kenapa…?" Renjun kaget dan bingung melihat Jeno sekarang berjalan ke arahnya.

"Aku baru ingat aku juga harus pulang." Jeno tersenyum begitu dia berhasil menyamakan langkah kaki dengan Renjun yang sebenarnya sudah berhenti berjalan. Seakan tidak menyadari ekspresi kebingungan Renjun, Jeno mengajaknya kembali berjalan. "Boleh bareng?"

Renjun menelan ludah sebelum menjawab. "…boleh."

.

.

TBC

a/n. ini kapan selesainya bujud. Hehe. Abis ini chapter terakhir kok. Mungkin.

Btw. Hanya mengingatkan jangan gampang percaya rumor okey okey.

"lu kan udah mau UN kok masih update". Hmhm gimana ya. Minggu depan gak update kok wkwk abis kemaren-kemaren udah kelamaan gak update, jadi bingung juga saya pas pada bilang udah lupa sama ceritanya;;; yaudah kalo lupa baca ulang saja hahahaha. Naikin jumlah views fic ini yehehe.

[[nanti saya mau publish drabble noren yang ada markren dikit-dikit. Baca yow hhh. Tapi belom kepikiran judul hmhm]]