Jung Hoseok dibuat bingung oleh sikap Jimin hari itu. Mereka bertemu di perpustakaan dan dia sering melihat anak itu melamun. Setiap ditanya ada apa, dia hanya menggeleng kemudian tersenyum samar, "I'm definitely fine, hyung…" begitu selalu dia menjawab. Namun Jung Hoseok tahu bahwa he's definitely not fine. Sang senior tidak mencoba mengorek apapun, karena dia paham semua orang punya privasi. Jadi dia meneruskan melakukan apa yang sedari tadi menyibukkannya dengan sesekali memastikan junior satu jurusannya itu baik-baik saja.

"Ngomong-ngomong, Jim…" Hoseok berkata, membuat Jimin mendongak dari buku grammarnya (Hoseok bingung kenapa Jimin membaca buku grammar), "latihan dance crew hari ini dibatalkan. Beberapa anggota kita harus meeting dengan mentor mereka sore ini, jadi kupikir…"

"…Ah," Jimin memotong kata-kata seniornya, "kita juga harus meeting di kelas design II pukul empat."

"Kita?"

Park Jimin mengangguk, "ya… aku, kau dan Yoongi sunbae. Kita dimasukkan dalam tim yang sama tahun ini, Taeyeon saem dan Jiyong saem yang akan mementorinya."

Hoseok sejenak tak bereaksi apapun, dia terlihat berpikir kemudian bergumam, "tak ada satupun guru dance dalam mentor-team, jadi mungkin project kita tidak akan begitu konsentrasi pada performance panggung, tapi mereka merekrut dua murid dancer…" Hoseok berpikir lagi, "…dan seorang konduktor, Min Yoongi…" Hoseok kemudian mengangkat wajah, menatap Jimin yang sedari tadi memperhatikannya, "apa menurutmu kita akan dipaksa menyanyi? Maksudku, mentor kita seorang guru vocal dan seorang designer."

"Entahlah, hyung…" Jimin menggaruk kepalanya, kentara sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan seniornya sedari tadi, "aku sama sekali gak pernah melihat project akhir semester sekolah ini."

"Gak pernah?" Hoseok mengangkat keningnya heran, "pementasan project akhir semester selalu dibuka untuk umum."

Jimin menggeleng, "gak pernah…" kemudian nyengir.

Hoseok hanya tertawa pelan. Dia menghela napas satu kali kemudian mulai mengemasi barang-barangnya, "baiklah. aku ada kelas setengah jam lagi. kau?"

"Kelas Element of performing, pukul satu."

Hoseok menengok jam analog di atas rak, "kau kepagian." Gumamnya yang langsung disambut satu anggukan tak bersemangat oleh juniornya, "aku duluan. Jangan bunuh diri."

"Ey… apa maksudmu, hyung?!"

Hoseok hanya tertawa setelah menggoda Jimin, dia mengangkut semua barang-barangnya kemudian meninggalkan lantai tiga perpustakaan sekolah mereka.

Jimin setuju dengan semua orang bahwa ujian tengah semester memang cukup merepotkan, melihat begitu banyak kaset dan buku yang akan dipinjam Jung Hoseok dari perpustakaan.

Apa Jimin harus meminjam beberapa juga? Ada begitu banyak tugas yang menunggu untuk dikerjakan di rumah nanti.

.

.

Pukul empat tepat, senyum sumringah langsung menghiasi wajah lesu Park Jimin saat melihat Min Yoongi baru saja muncul di tangga. Mereka berpapasan di depan ruang kelas Design II di lantai satu.

"Sudah lama?" tanya Yoongi.

Jimin menggeleng, "baru sampai. Kurasa baru kita berdua yang datang, hyung."

Mereka masuk ke dalam ruang kelas yang sepertinya sengaja ditinggalkan tak terkunci. Seperti kebanyakan ruang kelas design, ada sofa panjang di dalam sana, beberapa kursi berlengan yang nyaman, juga meja besar dan mannequin. Jimin sempat bergumam wuah saat melihat koleksi topi bulu yang di design oleh siswa-siswa jurusan itu terpajang rapi di dinding, berwarna-warni dan berbulu. Disamping jendela ada sebuah bingkai besar warna emas yang didalamnya terpajang potongan-potongan segiempat dari berbagai macam jenis kain, lengkap dengan nama dan penjelasannya yang diketik dengan font kecil-kecil.

"Ini pertama kalinya aku masuk ruang design." Kata Jimin saat mengikuti Yoongi yang langsung duduk di sofa.

"Ruangan ini tidak terpakai," kata Yoongi sembari bersandar di lengan sofa yang empuk, "ruang kelas yang biasa dipakai oleh kru merancang akan lebih menakjubkan –didalamnya ada sepatu, tas, majalah dan juga serat kain dimana-mana. Aku bukannya gak suka anak design, tapi mereka adalah tipe orang yang suka sekali merepotkan diri mereka sendiri. Dan aku gak nyaman dengan orang-orang seperti itu –maksudku, untuk apa mereka mencabuti hiasan sepatu hak tinggi yang sudah jadi, kemudian menggantinya dengan bulu-bulu ayam warna-warni? Lalu sepanjang minggu mereka akan mengeluh tentang banyak kerjaan."

Jimin tertawa, sadar bahwa mungkin ini pertama kali dia mendengar Yoongi uummm… mengomel.

"Kurasa kau gak punya teman dari jurusan ini…" tebak Jimin.

"Gak juga…" Yoongi bergerak melepaskan sepatunya, "aku lumayan dekat dengan Jin."

"Jin Kim?" ulang Jimin dan Yoongi mengangguk.

Sejenak Jimin teringat Kim Taehyung yang bercerita dengan sangat bersemangat tentang seniornya, Jin Kim, diawal semester mereka. Dulu, Jimin tak pernah membayangkan akan membenci sahabatnya itu suatu hari nanti, dan tak pernah menyangka suatu hari itu adalah hari ini.

"Kau oke?" tanya Yoongi ketika melihat Jimin melamun.

Juniornya itu langsung tersenyum lagi, "Totally." Jawabnya tanpa ragu.

Yoongi mengangguk saja, sangat yakin bahwa Park Jimin telah mengenakan topeng I'm okay sepanjang hari ini jadi sang senior berencana mengajak Jimin makan eskrim setelah pertemuan, dengan harapan makanan manis yang dingin itu akan membuat perasaan si junior lebih baik.

Yoongi tahu Park Jimin bertingkah lesu sepanjang hari bukan karena Jeon Jungkook, namun karena Kim Taehyung. Selama ini, Min Yoongi mungkin menjaga jarak dengan semua orang –selain Jungkook, sehingga dia tidak memiliki teman yang benar-benar dekat. Jadi Yoongi tak tahu rasanya kehilangan seorang teman baik. Tapi melihat tingkah Jimin hari ini, Yoongi menebak rasanya pasti benar-benar menyakitkan.

Kim Taeyeon dan Kwon Jiyong tiba beberapa menit kemudian, disusul Jung Hoseok tepat di belakang mereka yang langsung duduk di samping Jimin setelah melakukan high five ringan dengan Yoongi. Kedua guru itu menatap anak didik mereka satu persatu, lalu saling menatap pada satu sama lain kemudian menghela napas berat.

"Sepertinya siswa-siswa lebih sibuk dari kita para guru." Kwon Jiyong bergumam sambil menarik satu kursi berlengan untuk Taeyeon kemudian dia sendiri duduk di atas meja dengan kaki menggantung. "Kita cek dulu siapa yang sudah hadir…"

Tepat setelah guru laki-laki itu mengucapkan kalimatnya, perhatian mereka tiba-tiba tersita oleh suara ribut-ribut di pintu yang membuat mereka semua menoleh. Seorang murid laki-laki tinggi baru saja melongokkan kepala masuk ke dalam ruangan, sambil nyengir.

"Aku terlambat. Maaf." kata murid itu tak enak.

Kwon Jiyong berdecak, "kau akan menambah daftar barang-barang yang kau rusak di sekolah ini, Namjoon haksaeng."

Murid itu, Kim Namjoon, menggaruk kepalanya panik, "a-aku terburu-buru datang dan menabrak pintu, saem. Maafkan aku."

Kim Taeyeon satu-satunya yang tertawa dengan kejadian itu. "Sudahlah. Have a sit, kita segera mulai." Katanya.

Kim Namjoon duduk di sofa dekat Jung Hoseok membuat mereka berempat duduk berdempetan di satu sofa panjang. Hoseok sempat protes dan menyuruh Namjoon duduk di kursi lainnya, tapi Namjoon hanya nyengir dan bilang, "itu tempat duduk untuk Jin hyung."

"Jin?" Tanya Hoseok dan Yoongi serentak memastikan.

Tepat setelah namanya disebut, Jin Kim datang mengetuk pintu yang setengah terbuka.

"Maaf terlambat. Kelasku baru saja selesai." Ujar senior kelas tiga itu kepada dua guru.

Keduanya hanya mengangguk maklum sembari memberikan gesture kepada Jin untuk duduk.

Jin Kim duduk di salah satu sofa berlengan yang disediakan Namjoon untuknya, membuat Hoseok dan Yoongi mengerutkan kening heran kepada mereka berdua. Tumben sekali tidak ada perang terjadi saat dua orang itu bertemu. Mereka malah saling tersenyum dan bertegur sapa, menanyakan pertanyaan basa-basi pada satu sama lain, misalnya "sudah datang, hyung?" dan juga, "bagaimana kelasmu?"

Hoseok batuk kuat-kuat membuat dua siswa yang sibuk dengan dunia mereka terkejut kemudian tersenyum canggung pada semua orang.

"Hampir lengkap, kurasa…" Kwong Jiyong bersuara sambil meneliti layar ponsel pintarnya sambil menggumamkan nama siswa-siswa yang terdaftar dalam tim project mereka, "Kim Seokjin, oke. Min Yoongi, oke. Jung Hoseok, Kim Namjoon, oke. Park… um…" Jiyong memalingkan pandangan pada semua siswanya, "Kau Park Jimin? (Jimin mengangguk) dance? (Jimine mengangguk lagi) kelas satu? (mengangguk lagi) Maaf, aku harus memastikan karena banyak nama Park Jimin di sekolah ini." Jiyong memberikan ponselnya pada Taeyeon untuk diperiksa sekali lagi, dan dia sendiri menggosok-gosokkan kedua tangannya. "Tinggal menunggu dua orang lagi

–ah, ini mereka."

Park Jimin yang sempat tertawa pelan karena tingkah guru laki-lakinya itu tersedak tawanya sendiri melihat siapa yang berdiri di depan pintu. Dua orang siswa yang sepertinya juga terkejut melihat Jimin disana. Mereka sempat bertatapan sejenak, sebelum suara Kwon Jiyong menyadarkan mereka.

"Kim Taehyung? Jeon Jungkook? Benar?"

Kedua siswa itu mengangguk ragu-ragu. Melihat tatapan tajam Park Jimin pada mereka berdua membuat keduanya berpikir untuk mengatakan bahwa mereka bukan Kim Taehyung dan Jeon Jungkook, dan hanya salah masuk kelas saja. Lalu mereka berdua bisa pergi dari sana.

Namun Kim Taeyeon sudah lebih dulu bersuara, "Ayo masuk. Kalian menunggu apa? Petasan selamat datang?"

Jeon Jungkook memutuskan untuk tak menatap Jimin lagi, dia beradu pandang dengan Yoongi, bertanya tanpa suara apakah dia boleh duduk disampingnya namun Min Yoongi hanya mengerutkan hidung sambil melirik Jimin yang semakin mendekat padanya sejak dua orang itu masuk.

Melihat tak ada tempat duduk lagi, Jung Hoseok memutuskan menyorong meja ke pinggir dan duduk di atas karpet di lantai. Kim Taehyung yang masih sesekali mencuri pandang pada Jimin bergerak canggung duduk di sebelah Hoseok, sedangkan Jungkook yang tak akan bisa duduk di samping Min Yoongi cemberut lalu mengikuti Taehyung duduk di lantai.

"Sudah semua?" Kim Taeyeon meneliti lagi nama-nama di ponsel rekan gurunya kemudian tersenyum lebar. "Sepertinya sudah semua."

"Bagus!" Kwon Jiyong menepuk tangannya sekali sembari mengambil ponselnya yang disodorkan Taeyeon. "Dua pemusik, dua designer, dua dancer dan seorang aktor –aku menginginkan dua aktor tapi sepertinya ini saja cukup. Seperti yang biasa kita lakukan setiap tahun, kalian akan membuat sebuah pementasan –entah fashion show, atau konser menyanyi atau sebuah paduan suara –terserah. Kalian sendiri yang akan memikirkannya, dan kami sebagai mentor yang akan membimbing kalian. Ini adalah cara sekolah untuk mengasah bakat sekaligus merangsang kreatifitas kalian dan juga memberikan kalian tanggung–"

Kim Taeyeon berdehem menginterupsi ," –terlalu banyak basa-basi." Gumamnya membuat Jiyong terperangah sebentar lalu berkata, "kau benar."

"Kita persingkat." Jiyong menepuk tangan lagi, "berembuklah kalian semua. Aku dan Tae akan menunggu ide-ide brilian kalian. Ingat, jangan sampai kalah dengan team lain. Buatlah sebuah pementasan yang akan membekas di ingatan orang-orang dan jadilah legenda!" Jiyong menambahkan dua kata terakhir dengan suara mendramatisir dan sebuah gerakan dua tangan di udara seakan dia adalah seorang aktor drama musikal.

Kim Taehyung yang sedari tadi mendengarkan dengan khidmat refleks mengikuti gaya gurunya kemudian bertepuk tangan dengan keras, hingga kemudian sadar dia adalah satu-satunya yang melakukan itu.

Jin sempat ingin tepuk tangan juga, namun Namjoon, Yoongi dan Jimin terlanjur memergokinya jadi Jin hanya memegangi tangannya sok cool.

Taehyung nyengir pada mereka semua, dan ketika tatapannya sampai pada Jimin, cengirannya hilang melihat sahabatnya itu sama sekali tidak bereaksi –bahkan tidak menatapnya. Padahal Park Jimin adalah satu-satunya orang yang selalu tertawa atas semua aksi konyolnya entah itu lucu atau malah memalukan.

Dan Jeon Jungkook menggigit bibir cemburu melihat Min Yoongi berbisik , "sepertinya semua anak design mengidolakan guru mereka ya?" pada Park Jimin yang membuat keduanya cekikikan pelan.

Pertemuan itu berlangsung hampir sekitar satu jam hanya untuk mendengarkan rencana-rencana Kwon Jiyong dan Kim Taeyeon tentang project mereka. Katanya mereka nanti akan mencari sebuah nama untuk tim itu. Min Yoongi sempat memberi ide untuk mengusung musik hip hop dan beberapa di antara mereka setuju –selain Jin dan Jungkook, Jimin diam bukan karena setuju tapi dia tak ingin bicara banyak. Dan karena ide itu, Jiyong meneriakkan sebuah nama aneh yang kemudian membuat Taeyeon mengambil alih perhatian dan menyuruh mereka pulang.

"Bangtan! Bulletproof.! Melambangkan bahwa kalian adalah anak muda yang siap menangkis peluru apapun agar bisa sukses. Bagaimana? Ha?" Taehung masih ingat Jiyong meneriakkan nama itu dengan bangga, dan untuk pertama kalinya Kim Taehyung merasa malu atas gurunya sendiri.

Mereka segera bubar tanpa memberikan respon apapun untuk saran memalukan Kwon Jiyong. Rekan gurunya, Kim Taeyeon juga melakukan hal yang sama.

.

.

Ketujuh siswa itu berjalan beriringan hingga ke koridor, mengambil arah berlawanan dengan kedua guru mereka. Jung Hoseok, Kim Namjoon, dan Min Yoongi sedang menertawakan nama yang di sarankan Jiyong pada mereka (Namjoon memeragakan seseorang yang sedang menembak, dan Jung Hoseok pura-pura kesakitan). Jin di belakang mereka sedang bicara dengan Jungkook tentang jadi model ("Kau masih model untuk kru Taehyung kan? model itu gak perlu tinggi kok, asal jangan terlalu pendek juga.") dan Kim Taehyung satu-satunya yang berjalan di belakang, sedang menatap punggung Park Jimin yang –walaupun tidak ikut dalam pembicaraan Yoongi, Hoseok dan Namjoon– selalu berdiri disamping senior jurusan musik Min Yoongi. Jimin hanya tertawa sesekali, selebihnya anak itu hanya berjalan tanpa semangat. Melihat itu Kim Taehyung merasakan rasa bersalah mengaduk-ngaduk perutnya. Dia tidak menyangka akan berada dalam masalah seperti ini dengan sahabatnya sendiri.

Mereka berpisah di lapangan. Jin Kim dan Namjoon dengan sangat canggung berkata bahwa mereka akan pulang berdua. Hoseok menengok arlojinya dan memaki pelan pada jam analog yang berkedip disana. "A-aku terlambat. Duluan ya!" katanya kemudian berlari terburu-buru keluar gerbang. Meninggalkan empat –ani, tiga orang yang tak bisa menatap wajah satu sama lain.

"H-hyung…" Jungkook bersuara lebih dulu. Dia menatap Yoongi, "pulang bersama?"

"Um…" Min Yoongi melirik Jimin yang menggaruk kepalanya mendengar ajakan Jungkook pada satu-satunya penyelamatnya.

"Aku pulang duluan, hyung." Jimin langsung mengambil keputusan untuk pergi dari sana secepatnya, tak menghiraukan Kim Taehyung yang dari tadi mencoba kontak mata dengannya.

Park Jimin berbalik pergi, namun Min Yoongi menahan tas ranselnya.

"Maaf Kookie…" ujar Yoongi tidak enak, "aku ada janji dengan Jimin."

Jimin tidak tahu janji mana yang Yoongi sebutkan barusan. Dan dia juga tidak tahu harus senang karena Yoongi memilihnya, atau merasa gelisah karena tepat setelah Yoongi menyatakan kata-katanya, Jeon Jungkook segera menghadiahinya tatapan kesal dan sedih diwaktu yang bersamaan.

"Taehyung, kau bisa mengantar Jungkook pulang kan?" tanya Yoongi pada Taehyung, sembari tangannya menarik Jimin lebih dekat padanya untuk kemudian dirangkul di bahu. "Aku harus menepati janjiku pada si tukang ngambek ini."

Jimin berdecak kesal mendengar julukan yang diberikan Yoongi untuknya –ayolah, sejak kapan Park Jimin ngambek?– dia menyikut Yoongi dan membuat sang senior tertawa pelan. Dan sekaligus membuat Jungkook, mungkin, akan sangat membencinya.

"Kami duluan…" kata Yoongi akhirnya, menarik Jimin pergi, "jaga dirimu, Kook!"

Dalam perjalanan, Jimin berbisik, "apa yang kau lakukan, hyung?" sambil mencoba melepaskan gandengan Yoongi di bahunya, namun seniornya itu selalu kembali meletakkan tangan disana.

"Aku juga gak tau apa yang kulakukan." Jawab Yoongi terkekeh, "aku hanya ingin sekali membuatmu tersenyum."

Jimin mendengus geli mendengarnya, "aku sudah tersenyum, hyung." Katanya sambil menahan tawa.

"Palsu." Cibir Yoongi main-main.

Mereka saling menatap sejenak…

Kemudian tertawa keras-keras di trotoar. Park Jimin bahkan sempat mendorong Yoongi di tengah tawanya, yang membuat keduanya semakin tertawa.

"Menjijikkan." Bisik Jimin setelah menyeka sudut matanya yang basah.

Yah, Jimin akui… setelah seharian, mungkin itu pertama kali dia tertawa karena benar-benar ingin tertawa, bukan karena harus menyembunyikan suasana hatinya yang buruk.

"Aku setuju." Ujar Yoongi terbatuk, "jadi? Ice cream?"

"Big cup. Rasa vanilla."

"Call…"

.

.


Jung Hoseok berlari memasuki lorong dekat kedai ice cream di depan sekolah. Ada sanggar tari di belakang sana, namun jelas bukan tempat itu yang dia tuju. Dia berlari sedikit lebih jauh hingga menemukan sebuah taman kecil dengan pohon apel besar yang menaunginya.

Jung Hoseok punya janji dengan seseorang di dekat sana. Sekitar pukul lima, tapi sekarang ini sudah hampir pukul setengah enam. Pemuda itu memperhatikan kesana kemari dengan napas terengah, mencari sosok yang menyuruhnya datang kesana.

Seorang gadis. Kelas satu jurusan musik.

Kim Hyo in.

Gadis tomboy yang mengubah penampilannya agar dapat menarik perhatian seorang Jung Hoseok. Gadis yang telah berulang kali mengiriminya surat cinta namun tak pernah mendapat balasan. Gadis yang akhirnya memberanikan diri meminta waktu berdua dengan Jung Hoseok agar dapat mengutarakan perasaannya.

"S-sunbae nim…" sebuah suara di dekat pohon apel menyadarkan Hoseok bahwa gadis itu rela berdiri disana lebih lama, masih menunggunya.

"Hyo in-ah…" Hoseok menghela napas lega, "maaf, aku terlambat. Aku harus ikut pertemuan project akhir semester."

Hyo in, yang saat itu menggerai rambut panjangnya, menggeleng pelan, "gak apa-apa, sunbae."

Jung Hoseok menghampirinya sambil menggaruk leher. Semakin Hoseok mendekat, semakin merah wajah gadis itu sehingga membuat yang lelaki merasa tidak enak, berpikir apa dia harus berdiri sedikit lebih jauh.

"Kau oke?" Hoseok menunduk, mengintip wajah Hyo in yang menunduk malu.

Gadis itu menciut mundur setiap kali Hoseok mendekatkan wajahnya. Matanya tertutup rapat, jantungnya berdegup kencang.

"Yah," Hoseok berbisik dengan suara beratnya, "jangan begini. Orang akan mengira aku sedang menindasmu."

Hyo in mengambil keputusan. Dia segera membuka mata, mendapati Jung Hoseok tepat di depan wajahnya. Dia mendekati sang senior, berjinjit sedikit dan memberikan sebuah ciuman ringan di sudut bibir Jung Hoseok.

Yang lelaki terdiam di tempat, tak menyangka akan mendapat serangan seperti ini. Yang perempuan, telah berlari meninggalkan korban-nya tanpa ingin mendengar satu katapun tentang yang dipikirkan sang senior soal ciumannya yang tiba-tiba.

Kemudian, hari itu berlalu begitu saja. Matahari yang menjadi saksi kejadian sore itu telah terbenam, menutup diri dari gelapnya malam, bersembunyi di balik ufuk bersama cerita rahasia dua anak muda.

.

Keesokan harinya, Kim Namjoon, Min Yoongi dan Jung Hoseok yang telah berjanji akan membicarakan tentang project mereka berkumpul di studio Min Yoongi. Namjoon sempat mengangguk tak kentara, diam-diam mengagumi cara Min Yoongi meletakkan barang-barangnya –sangat praktis, menunjukkan kepribadiannya yang tak ingin repot.

Dan hampir sepanjang pagi hanya Yoongi dan Namjoon yang bicara. Jung Hoseok duduk melamun di sofa dengan pena dan note kecil di kedua tangan. Raganya memang telah berada di hari kamis pagi, namun pikirannya masih berputar-putar di rabu sore –senja itu, di bawah pohon apel. Yang benar saja.

Kesadarannya kembali ketika Kim Namjoon memukuli kepalanya dengan botol plastik kosong bekas minuman rasa jeruk. Dia mendapati Min Yoongi sedang menggeleng sambil menggaruk kepala atas sikapnya, sedangkan Kim Namjoon menatapnya jengkel.

"Kau kenapa sih?" tanya Namjoon dengan suara keras, "kau belum menuliskan satu idepun dan belum memikirkan satu lagu pun. Dari tadi hanya duduk seperti orang bego."

"Maaf." ujarnya lesu, sambil membetulkan duduknya, "aku…sedang banyak pikiran." Hoseok berdehem tidak enak. Dia mencoba kembali fokus pada teman-temannya, "jadi, bagaimana dengan lagu yang aku dan Yoongi kerjakan? Kau tertarik?"

Namjoon menepuk dahinya dengan keras, "sudah kudengarkan lebih dari lima kali. Dan aku juga sudah bilang padamu kalau aku gak begitu bisa hiphouse. Aku dan Yoongi sudah setuju akan konsultasi dengan Junho saem. Demi tuhan, Jung Hoseok!"

Hoseok mengusap wajahnya mendengar itu, "sori. Aku melamun…"

"Kau melamun seharian." Tambah Yoongi, yang walaupun sama kesalnya, tetap lebih tenang dari Namjoon. "Kau boleh pulang kalau memang gak enak badan."

"Aku baik-baik saja." jawab Hoseok sambil berdehem lagi.

"Apa sih yang kau pikirkan?" tanya Namjoon, masih jengkel. "Kau bilang kemarin Hyo in mengajakmu bertemu?"

Yoongi mengangkat wajahnya dari laptop, menatap Hoseok heran, "Hyo in? siapa?"

"Cewek yang naksir Hoseok. Junior kita, kelas satu." Jawab Namjoon membuat sahabatnya garuk-garuk kepala. Hoseok tidak berencana membuat semua orang tahu tentang Kim Hyo in.

"Apa kau melamun seharian ini karena bertemu dengannya kemarin?" tanya Namjoon, kali ini lebih lembut –atau lebih tepatnya, dia sedang penasaran jadi dia lupa kalau sedang marah-marah.

"Diam saja kau!" jawab Hoseok mendorong wajah Namjoon sembari melirik Yoongi yang mengangkat kening padanya, ingin tahu.

"Ayolahh~~" kata Namjoon lagi. "Kau mau menyembunyikan sesuatu dari ku? –Yoongi?" namjoon melirik Yoongi juga, teman seangkatannya itu balik menatapnya, "Cuma Yoongi. Dia gak akan ember pada siapapun. Iya kan?" Yoongi mengangguk ragu-ragu, bingung apakah dia harus membantu Namjoon membuat Hoseok bercerita soal kisah cintanya, atau menjadi gentleman dengan pergi dari sana dan memberi privasi untuk dua sahabat itu agar Hoseok bisa curhat.

"Baiklah!" sahut Hoseok akhirnya. Sambil menutupi wajahnya dengan dua tangan, Hoseok berkata, "dia menciumku!"

Namjoon terperangah susah bernapas, "apa?! Kenapa?" teriaknya membuat Hoseok semakin menutupi wajahnya.

Sekarang Yoongi berpikir bahwa seharusnya tadi dia menjadi gentleman.

"Kenapa dia yang menciummu?" Namjoon menambahkan dengan suara terkejut yang dibuat-buat, "harusnya kau yang menciumnya duluan. Kau kan cowok!"

Hoseok melepaskan kedua tangan dari wajahnya dan mendorong kepala Namjoon kuat-kuat sampai sahabatnya itu terantuk sofa. Bukannya meringis kesakitan, Kim Namjoon malah tertawa keras-keras.

"Jadi, kau sedang jatuh cinta?" Yoongi mengambil kesimpulan. Samar-samar dia mendengar ketukan di pintu.

"Bukan begitu…" ujar Hoseok, kembali mengusap wajahnya dengan tangan sambil bernapas berat, "aku gak mungkin jatuh cinta pada cewek gak tau malu seperti Hyo in."

Hoseok tak mendengar apapun setelah dia mengucapkan kata-kata terakhirnya. Mungkin Namjoon dan Yoongi sudah tak tahu harus merespon apa pada kisahnya.

Sedetik kemudian, Hoseok segera sadar apa yang terjadi. Suara familiar seorang gadis membuatnya gigit jari. Suara itu gemetar. Dan ketika Hoseok mengangkat wajahnya perlahan, Kim Hyo in sedang berdiri di ambang pintu sambil memegangi grendel kuat-kuat.

"M-min Yoongi sunbaenim…" katanya, melirik Hoseok satu kali dan matanya berkaca-kaca, "Taeyeon saem memintamu datang ke kantornya sekarang."

Setelah itu, Hyo in pergi tanpa menutup pintu.

Hoseok mendesiskan kata, "astaga~~" yang terdengar sangat putus asa, sedangkan Yoongi berbisik, "itu yang namanya Kim Hyo in?"

Dan Kim Namjoon menepuk punggung sahabatnya, "mati kau, Jung Hoseok!"

.

.

To be continued

.

.

Author's Note

Ucapan terima kasih ku kirimkan (eyaakk) kepada pasangan tukang teror, Sugasugababy dan Gantosci, yang hampir setiap minggu ngode apdet HSLO, yang kode-nya gak bisa kuabaikan. Etdah…

Terima kasih juga untuk kalian yang masih setia menunggu HSLO, yang baru nemu FF ini juga selamat datang. Maafkan kalo FF ini lama apdet. Aku punya banyak utang. Hehe.

Nah, enjoy!

.

Deep bow, Red Casper