Warning: Always Typo maybe, padat merayap dan sebagainya dan beberapa chara yang OOC! Tidak berniat membashing.
Segenap tindakanmu sudah tertangkap basah.
Segenap titah kepercayaan itu lagi-lagi berada di ujung tanduk.
Sumber cahayamu meresapi kekecewaan.
Akankah ada pengampunan akan harapan untukmu?
DIAMOND IN THE ROUGH
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Romance/Humor
Pairing: MinaNaru, Slight ItaSasu, KyuuGaa
Rating: T
Story by: Viero Eclipse
-Chapter 10-
Kecewa.
Sudah pasti perasaan itu melebur ke dalam diri Namikaze Minato. Kedua cobaltnya tampak menerawang di saat diamond kepercayaannya itu lagi-lagi melanggar. Melanggar segenap larangan dan menyia-nyiakan kepercayaannya lagi. Naruto, seorang anak yang ia harapkan untuk menjadi tumpuan kebanggaannya telah berani cabut di tengah jam materi kuliah.
Ia sungguh tak tahu lagi harus bertindak seperti apa untuk menyikapi pemuda berambut emas itu.
Jujur, ia lelah.
Lain halnya dengan itu...
Naruto lagi-lagi membisu. Tertunduk diam menyembunyikan rasa cemasnya. Ini buruk. Sangat buruk. Minato telah tahu mengenai apa yang sudah ia lakukan. Lagi-lagi ia melakukan kesalahan fatal. Dari awal, ia sudah menduga bahwa hal ini bukanlah sebuah ide yang bagus. Dan yang membuatnya kaget adalah...
Bagaimana bisa Minato tahu akan tindakannya di kampus?
Ini sungguh buruk. Ia tak akan bisa lepas dari pengawasan Minato. Dan penjaganya itu tampak menatapnya dengan sangat datar. Seakan Minato tahu mengenai isi pikiran Naruto itu sendiri.
"Sarutobi-sama menelponku tadi. Ia sudah memberitahuku semuanya. Mengenai tindakanmu yang cabut dari kampus bersama mahasiswa berandal bernama Kyuubi."
DEG!
Pernyataan itu seakan menjadi tombak yang menusuk nalar Naruto. Mantan pemuda jalanan itu lekas menelan ludahnya sendiri. Jadi begitu. Ternyata Headmaster Universitas Konoha itu yang sudah melaporkan segala tindakannya secara langsung pada Minato selama di kampus. Ini buruk.
Ia sudah kepalang basah.
"Dan mengenai game center... Sarutobi-sama bilang bahwa kebiasaan buruk dari mahasiswa yang bernama Kyuubi tadi adalah mencari komplotan untuk diajaknya pergi ke game center Konoha. Dan ternyata yang ia katakan benar. Tak sia-sia aku meminta ijin pada bosku untuk menunda pekerjaanku di kantor hanya untuk... melihatmu." getir. Nada itu terlontar dengan begitu getir dan tegas. Kedua cobalt sang Yellow Flash sudah menatap tajam pada Naruto.
Dan replikanya itu tampak pucat.
Rasa bersalah semakin mengguyur Naruto. Penjaganya itu sampai rela ijin dari kantor hanya untuk memastikan keadaannya? Ya Tuhan. Sungguh besar perhatian pria itu padanya. Selama ini, Minato memang menempatkan dirinya dalam skala prioritas paling utama.
Uzumaki Naruto adalah prioritas utama Minato.
Mantan anak jalanan itu lekas menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya terkepal erat. Ia sungguh merasa seperti orang brengsek karena telah menyalah gunakan kepercayaan yang sudah diberikan oleh orang baik macam Minato.
Sungguh sial!
Kenapa semuanya bisa kacau seperti ini?
"Chikusoo!"
Braakk!
Sebuah pukulan terlayang keras pada dinding apartemen Minato. Kepalan tangan Naruto tampak gemetar. Ia sudah meninju hamparan dinding itu dengan sekuat tenaganya. Rasa sakit yang terasa tidaklah sebanding dengan segenap rasa penyesalannya. Ia tak bisa mengucapkan maaf. Sungguh percuma.
Sungguh percuma jika kata maaf terucap namun kesalahan tetap terjadi.
Ia tak mampu mengucapkan janji kosong kepada Minato.
Dan Minato paham akan hal itu. Ada pergulatan emosi di dalam benak replikanya. Ia tak akan memaksa replikanya itu untuk berubah total. Karena ia tahu bahwa untuk berubah, selalu saja membutuhkan sebuah proses.
"Emosimu masih labil. Kali ini kau kumaafkan, Naruto. Aku harap, kau tak mengulangi kesalahan ini lagi. Aku selalu bisa mengawasi gerak-gerikmu, meskipun aku tidak bersamamu secara langsung." pegawai itu lantas beranjak dari sofanya dan menyodorkan sebuah buku pada Naruto. Subyek yang disodorkan tampak menautkan kedua alisnya.
"Ini...?"
"Ini adalah materi yang kau lewatkan tadi. Aku sudah meminta salinannya dari Dosenmu." buku itupun berpindah tangan. Minato lekas membalikkan badannya dan mulai berlalu meninggalkan Naruto. Pesan terakhirnya tersemat lekat di telinga Naruto.
"Pelajari materimu dengan baik, Naruto. Karena menjadi seorang mahasiswa... tidaklah mudah."
Esoknya, pagi pun berkoar pada dunia.
Kusut.
Tiba di kampus, Naruto sudah tampak kusut dan bermood jelek. Semalam, ia sudah memaksakan kedua cobaltnya untuk mencerna kalimat demi kalimat yang ada dalam buku salinan materinya itu. Meski ada beberapa istilah yang tidak ia pahami, ia tetap berusaha mempelajari buku salinan itu. Mungkin, ini adalah cerminan penyesalannya pada Minato.
Ia sedikit merutuk diri.
Sesekali ia melirik sinis ke arah Kyuubi. Mahasiswa berandal itu sungguh tampak santai dan tak merasa bersalah sama sekali. Meski Kyuubi sudah bersalah karena telah meracuki nalar Naruto, tapi tetap saja kesalahan terbesar terletak pada dirinya sendiri. Karena tak seharusnya ia menerima ajakan Kyuubi dari awal. Karena tak seharusnya ia menuruti egonya seperti itu.
Dan sekarang, ia hanya dapat melipat kedua tangannya seraya menunggu kedatangan Dosen. Semoga hari ini, mahasiswa berandal itu tidak meracuki otaknya lagi.
"Minggir kalian semua! Fans pink sejati akan lewat!"
Sebuah pemandangan fantastis lantas melanda kelas jurusan sosial politik. Seorang figur kini sudah melangkah masuk ke dalam kelas Naruto dengan begitu percaya diri. Segenap penghuni kelas tampak menganga dan melotot syok. Meski pemandangan aneh ini sudah biasa, tetap saja penampilan dari figur itu selalu sensasional.
"Kenapa kalian semua melihatku seperti itu?" pernyataan itu digemakan dengan begitu datarnya dari mulut seorang Sai. Mahasiswa yang tergolong penghuni kelas jurusan sospol itu sungguh tak menampakkan ekspresi apapun. Ia sudah berdiri tepat di depan podium. Berdiri dengan begitu percaya diri sekali. Dan segenap kawan-kawannya pun tak mengedipkan mata mereka sedetik pun.
"Demi Jashin, Sai... a-apa yang kau pakai itu? Meski aku juga suka dengan warna pink tapi... aku juga tak akan berlebihan se-sepertimu." Sakura pucat. Gadis bermata emerald itu memandang horor. Kali ini Sai memang benar-benar sudah berlebihan.
Lihat saja...
Pemuda non ekspresif itu sudah membalut tubuhnya dengan busana yang lagi-lagi berwarna pink. Kali ini kostumnya memiliki motif totol-totol ala macan berwarna pink. Tak lupa juga dengan gumpalan bulu-bulu pink di bagian kerahnya. Ia juga sudah memakai sebuah kacamata berwarna pink. Sebuah celana ketat pink. Dan memakai wig kribo ukuran besar berwarna pink. Sebuah kain selendang pink tampak berkobar di belakang punggung Sai. Pemuda itu lantas menghentakkan satu kakinya di atas podium dan mengepalkan tangannya ke atas.
"Pink... IS MY LIFE!" ia berkoar mengenai prinsipnya. Setiap hari, ritual ini akan selalu dilakukan Sai. Semua hanya dapat memandang aneh pada pemuda penggila pink itu. Bahkan Naruto juga tampak syok menatap hal itu.
"Dia... gila ya?"
"Hahaha! Setiap hari, ia akan selalu mempermalukan diri di depan podium seperti itu. Ritual orasi bertemakan pinknya itu sudah biasa di sini." Kyuubi menggemakan tawa liciknya. Sebulir keringat mengalir di kening Naruto. Ini sungguh aneh.
Kelasnya benar-benar TERLALU aneh.
"Ayolah, Sasuke. Maafkan aku. Aku berjanji tak akan mengulangi hal ini lagi! Kumohon, kembalilah pada-"
"Berhentilah mengangguku, Neji! Aku tak mau memberimu kesempatan kedua. Hatiku hanya milik aniki seorang! Begitu pula sebaliknya! Aniki is mine!"
Kedua cobalt Naruto lekas terarahkan pada pintu kelas. Sudah masuk dua figur lagi. Yang satu sudah jelas adalah Uchiha Sasuke, tetangga sebelah apartemennya dengan Minato. Dan figur yang kedua adalah seorang pemuda berambut panjang dan bermata putih. Sepertinya ia bukan penghuni kelas sosial politik.
"Sasuke, ayolah! Itachi adalah kakakmu sendiri. Kau tak mungkin menjalin hubungan dengan kakakmu!" Hyuuga Neji, mahasiswa jurusan teknik itu tampak bersikeras. Ia cengkram lengan kiri Sasuke yang notabene adalah mantan kekasihnya itu. Dan Uchiha muda itu lantas menepisnya.
"Aku tak peduli! Aku mencintai Itachi lebih dari siapapun! Aku sungguh bersyukur bisa putus darimu karena dengan begitu, aku bisa memahami perasaan yang dipendam aniki kepadaku! Ia sangat tulus padaku, Neji! Tidak sepertimu!" Sasuke emosi. Tak mempedulikan permohonan Neji, ia langsung terduduk di bangkunya dengan tangan bersila di dadanya. Neji hanya menikamnya dengan tatapan tajam.
"Aku akan merebutmu dari Itachi, Sasuke. Kau lihat saja nanti." dengan itu, pemuda bermata putih itu lekas meninggalkan kelas Sasuke. Uchiha muda itu hanya dapat menggelengkan kepalanya dengan begitu pasrah.
"Baka Neji..." rutuknya pelan.
"Ah... jadi dia mantannya ya?" sebelah alis Naruto tampak terangkat, penuh kurositas. Kyuubi mulai tertawa nista.
"Hyuuga Neji. Ia adalah mantan kekasih dari Sasuke. Mereka putus hanya karena Neji tergoda dengan Gaara, yang kini menjadi kekasihku. Kini ia sadar bahwa ia mencintai Sasuke dan ironisnya, mantannya itu justru terjerat asmara dengan kakak kandungnya sendiri. Tak akan ada yang bisa menghancurkan ikatan dua Uchiha itu. Perasaan mereka terlalu kuat satu sama lain."
"Kenapa kau bisa tahu mengenai kisah mereka?" Naruto skeptis. Kyuubi menyimpulkan senyuman sinis.
"Hah! Meskipun aku terlihat masa bodoh dengan apa yang terjadi di kelas ini, tapi jangan pernah menganggapku sebagai orang yang miskin informasi. Bahkan rumor-rumor yang beredar pun, aku pasti lebih tahu daripada kumpulan penggosip itu sendiri," pemuda berandal itu lekas menyangga pipinya dengan telapak tangannya. Kedua mata crimsonnya menatap Naruto lekat. "Kalau tidak salah, di hari pertama kau masuk di kelas ini, kau diantar oleh kerabatmu 'kan? Seorang pria berambut emas bermata cobalt yang sama sepertimu. Siapa dia? Apa dia kakakmu?"
Naruto lekas mendengus kesal. Mengingat kesalahan yang ia perbuat pada Minato sungguh sukses membuat moodnya menjadi jelek kembali. "Tentang siapa dia, itu bukan urusanmu."
"Hahahah... tenanglah. Tak perlu bersikap dingin begitu padaku," Kyuubi menyeringai. Ia kembali bersandar di hamparan kursinya. "Aku hanya menduga bahwa ia adalah kakakmu dan kau menjalin hubungan brother complex yang sama seperti hubungan Itachi dan Sasuke."
"A-Apa? Bro-Brother complex?" Naruto bertampang aneh. Membayangkan dirinya dan Minato dengan hubungan yang sama persis dengan hubungan Itachi dan Sasuke, sungguh membuat nalarnya terkoyak.
"Ya. Aku pikir pria itu juga merupakan kekasihmu. Kau tahu? Entah mengapa dari cara ia memandangmu, sepertinya ia terlalu peduli padamu, Namikaze," Kyuubi terkekeh. "Dan pasti akan sangat seru jika kau benar-benar menjalin cinta dengan kerabatmu itu. Sasuke pasti akan sentimen padamu karena menganggap bahwa kau adalah rival terberat yang harus ia kalahkan dalam hal brother complex. Sasuke tak akan terima jika ada pasangan brother complex yang lebih mesra dari hubungannya bersama Itachi."
"Na-Nani?" Naruto menganga syok. Sungguh tak mungkin ia menjalin kasih dengan Minato. Memikirkan hal semacam itu sungguh mampu membuat parasnya tercoreng akan serpihan rona merah. Ia gugup setengah mati. "A-Aku dan... Minato uhh... Ah, ia adalah ayahku! Tak mungkin kami menjalin hubungan incest seperti itu. Dasar kau mesum!"
"Mesum? Hei, aku hanya menebak saja, Namikaze. Dan lagi, kenapa kau tampak gugup begitu, eh?" lipatan sewot terbentuk di samping kening Kyuubi. Dilipatnya kedua tangannya itu di dada. "Dan ayah? Dia ayahmu? Aku tidak percaya. Ia masih kelihatan cukup muda untuk menjadi ayahmu. Ia lebih terlihat seperti seorang kakak dibandingkan sebagai ayah."
"Di-Dia ayahku! Aku ini putranya! Terserah jika kau tak percaya pada ucapanku!" Naruto masa bodoh. Persetan dengan persepsi mahasiswa berandal itu, ia sungguh tak peduli lagi.
Sepertinya ia harus lebih berhati-hati lagi mulai sekarang. Jangan sampai satu kelas curiga bahwa Minato dan dia hanya berpura-pura sebagai sepasang kerabat keluarga. Jika rahasianya terbongkar bahwa sebenarnya ia bukanlah anak dari Minato, maka tamatlah riwayat Naruto. Ia pasti dikeluarkan dari kampus elit itu.
Ia tak ingin menyusahkan Minato lagi.
'Ayolah, Naruto. Kau pasti bisa menyenangkan hati Minato...' kalimat itu ia sugestikan ke dalam benaknya. Ya. Ia harus berusaha keras mulai dari sekarang.
Saatnya serius!
"Selamat pagi, Anak-anak! Hari ini adalah hari yang begitu cerah untuk mengobarkan semangat masa muda kalian dalam menyerap materi yang kuberikan!" suara sang Maito Gai kini menggelegar di penjuru kelas. Dosen sospol itu selalu tampak bersemangat seperti biasanya. Ia sudah berdiri di depan podium. Sepuluh buku-buku tebal sudah ia letakkan di atas mejanya. Segenap mahasiswa tampak menghela napas mereka tanda pasrah. Kyuubi lantas menyeringai.
"Hei, Namikaze. Nanti kau mau 'kan menemaniku cabut lagi?" Naruto menghela napas mendengar itu. Disanggahnya dahi itu dengan telapak tangannya sendiri.
"Tidak. Aku tak akan mau lagi terjebak oleh aliran sesatmu itu. Aku sudah berjanji pada Mina- Ah, maksudku pada ayahku untuk tidak mengulangi kejadian kemarin. Aku ketahuan kemarin..."
"Ketahuan? Jadi kau ketahuan? Ah, pasti si tua Sarutobi itu lagi yang melaporkan aksi kita. Cih! Tua bangka itu menyusahkan saja!" Kyuubi berdengus kesal. Naruto hanya dapat menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah, jangan menghina orang seperti itu. Kau benar-benar tidak sopan..."
Pernyataan menohok Naruto membuat Kyuubi semakin cemberut. Mahasiswa berandal itu memilih untuk diam. Dan Maito Gai pun segera memulai materinya.
"Baiklah. Kemarin kita sudah membahas mengenai filosofi perpolitikan. Sekarang, kita akan lebih mendalami tentang..."
JEPREETT!
"HEI!"
Sebuah kilatan flash sebuah kamera menghantam Gai dan segenap ruang kelas. Dosen sospol itu lekas mengusap kedua matanya.
"Demi Jashin! Siapa yang sudah memotretku, hah?"
"YOSH! AKU BERHASIL MENDAPATKAN FOTO GAI-SENSEI DENGAN POSE TERKEREN SEPANJANG MASA!"
"Lee?" kedua mata Gai terbelalak dengan begitu lebarnya. Rock Lee, mahasiswa kesayangannya itu sudah nampak berdiri di depan pintu dengan sebuah kamera digital yang dikalungkan di lehernya. Pemuda berambut botok itu lekas mengacungkan ibu jarinya ke arah Gai.
"Meskipun Gai-sensei menolak untuk mengajar di kelasku, aku akan selalu memotret Gai-sensei setiap pagi! Akan kutunjukkan kerja keras dan pengabdianku, Gai-sensei! Kelak, kau pasti akan luluh padaku! Dan kau pasti akan kembali mengajar di kelasku lagi! Kelas kebudayaan!"
Ceplaass!
Lagi-lagi, sebuah gambaran deburan ombak dengan matahari terbenam menjadi sebuah latar background Lee. Air mata bercucuran dengan derasnya melebihi cucuran air terjun itu sendiri. Gai berbinar. Dan segenap mahasiswa jurusan sospol hanya dapat menggelengkan kepala mereka dengan tampang aneh.
Mulai lagi...
Jujur saja scene Gai dan Lee lebih mengerikan dari sebuah drama telenovela itu sendiri.
"Cih! Mereka berdua benar-benar norak! Aku jadi ingin menjahili Gai..." Kyuubi memaparkan seringai sinis. Naruto terbelalak mendengar itu.
"A-Apa kau bilang? Kau ingin menjahili Dosen Gai? Kau sudah gila ya, hah?" yang disindir melontarkan tawa. Naruto sungguh tak tahu bahwa Kyuubi tak pernah main-main dengan ucapannya.
"Aku serius, Namikaze. Jika kau tak ingin ikut cabut denganku, lebih baik kau bantu aku menjahili Gai sekarang~"
"Apa?" raut horor melanda paras Naruto. Tidak. Ini sungguh buruk.
Mahasiswa berandal itu sudah gila.
Kyuubi lekas berdiri dari bangkunya dan menatap lurus ke depan. Ia melangkah perlahan-lahan, meninggalkan Naruto dalam keadaan syok. Ia akan buktikan pada pemuda bermata cobalt itu bahwa ia sungguh serius dengan semua ini.
Sudah saatnya ia menunjukkan bukti nyata akan reputasinya...
Sebagai mahasiswa berandalan.
"Lihat aksiku ini, Namikaze..."
Ruang Intercom Kampus
Sebuah ruangan yang digunakan sebagai perantara untuk menyampaikan informasi ataupun pengumuman melalui speaker yang terpasang di setiap sudut ruangan kampus. Dengan berpusat pada perlengkapan intercom ini, maka beberapa pengawas kampus tak perlu lagi repot-repot berkeliling kelas hanya untuk memberitahukan sesuatu. Cukup dengan menggemakan untaian frase informasi mereka pada sebuah mic di ruangan itu, maka bereslah sudah. Informasi dan pengumuman apapun pasti akan tersampaikan dengan baik.
Dan ruangan itu sudah menjadi incaran utama Kyuubi.
Ini adalah sebuah tempat yang cukup sempurna untuk menjalankan aksinya. Sebuah aksi ekstrim untuk menjahili Gai. Sebenarnya cara ini sudah pernah ia lakukan untuk menjahili dosen-dosen sospol yang pernah mengajar di kelasnya terdahulu. Dan cara ini selalu saja berhasil membuat para mantan dosennya itu menjadi marah dan malu. Dan jika cara ini pernah sukses, lalu...
Apa salahnya jika dicoba lagi?
Sebuah senyum licik tersimpul di bibir Kyuubi tatkala kedua mata crimsonnya mengintip ke dalam ruangan itu. Kosong. Tak ada satupun pengawas yang berada di ruangan itu. Benaknya membumbung tinggi dalam euforia. Ini sungguh sangat sempurna. Ia bisa segera menjalankan aksinya tanpa rintangan. Karena jika ruangan itu dijaga oleh beberapa pengawas, maka peluangnya untuk menjahili Gai pasti akan menemui titik kegagalan. Ia sudah dikenal sebagai mahasiswa badung. Dengan sekali pandang saja, para pengawas itu pasti akan mengusirnya jika ia ketahuan mengendap masuk secara diam-diam ke dalam ruang intercom. Dan Kyuubi tak akan membiarkan hal itu terjadi.
Kedua kakinya pun ia hentakkan perlahan untuk masuk ke dalam ruangan. Ditutupnya pelan-pelan pintu ruangan itu dan jemarinya mulai memutar gagang pintu untuk mengunci pintu dari dalam. Dengan begitu, tak akan ada yang bisa menghentikan aksinya sampai ia selesai. Sebuah seringai licik kembali terpapar di paras tampannya.
Semua sungguh berjalan sesuai rencana.
"It's show time!"
"Tugas kalian hari ini adalah membuat sebuah laporan mengenai kinerja pemerintah dan jabarkan sudut pandang kalian mengenai ideologi yang mereka tegakkan. Gunakan referensi dari beberapa filosofi dan teori-teori yang kuterangkan kemarin. Deadline tugasnya adalah besok. Jadi sebaiknya, kalian kerjakan tugas itu mulai dari... sekarang."
Gai tampak memberikan komando. Beberapa kalimat keluhan mulai terdengar dari mulut beberapa mahasiswa didiknya di saat komando horornya itu menggema. Naruto terlihat sulit berkosentrasi. Ia sungguh cemas dengan apa yang akan dilakukan oleh Kyuubi.
'Kemana dia? Sudah lima belas menit berlalu, kenapa ia masih belum kembali juga ke dalam kelas? Apa jangan-jangan... ia cabut lagi?' beberapa spekulasi menghantam nalar pemuda bermata cobalt itu. Ia mulai bertanya-tanya. Beberapa saat yang lalu, mahasiswa berandal itu meminta ijin pada Gai untuk pergi ke kamar mandi dan sampai saat ini, ia belum kembali juga.
Sebenarnya...
Apa yang hendak ia lakukan?
Entah mengapa, Naruto memiliki firasat buruk mengenai ini.
"Gai-sensei, apa deadlinenya tak bisa diperpanjang lagi? Satu hari itu terlalu singkat, Pak..." Ino tampak mengeluh. Dan pendirian dosen sospol itu sungguh mutlak tak dapat diganggu gugat.
"Tidak bisa, Yamanaka. Menurutku, satu hari itu justru terlalu lama untuk tugas seperti ini. Dulu saat aku mengajar di kelas kebudayaan, setiap tugas yang kuberikan pada anak-anak didikku hanya kuberikan kompensasi deadline beberapa jam saja. Dan mereka selalu berhasil mengumpulkan tugas tepat waktu." pernyataan itu membuat Ino dan yang lainnya beraut horor. Mereka memutuskan untuk bungkam dan tak ingin berdebat dengan dosen itu lebih lama lagi. Membayang deadline tugas yang hanya dalam durasi beberapa jam saja sungguh mampu membuat nalar mereka kalut.
Gai tersenyum puas saat tak ada lagi tanda-tanda protes dari para mahasiswa didiknya itu. Ia tak berbohong mengenai durasi deadline yang ia berikan di kelas kebudayaan. Segenap anak didiknya di kelas itu selalu mengumpulkan tepat waktu. Terutama Lee. Hanya dalam waktu satu jam saja, mahasiswa kesayangannya itu sudah mampu membuat satu buah buku laporan dengan ketebalan di atas 150 lembar kertas HVS. Mahasiswanya yang satu itu benar-benar terlalu teladan.
Dan sekarang, ia ingin menorehkan kebanggaan itu lagi.
Ia ingin membuat kelas jurusan sosial politik menjadi sebuah kelas berisikan para mahasiswa teladan dan berskill tinggi.
Ini adalah sebuah tantangan terberat bagi Gai. Ia kenal betul dengan reputasi kelas sospol yang ia tempati itu. Kelas itu sudah mengalami pergantian dosen. Dan ia sengaja ditunjuk untuk mengajar kelas penuh tantangan itu karena hanya dirinyalah satu-satunya dosen dengan semangat yang begitu tinggi di Universitas Konoha. Meski berat karena tak lagi mengajar di kelas Lee, namun ia berusaha untuk berlapang dada dengan tugas barunya itu.
Kelas manapun sungguh tak masalah bagi Gai.
Ia yakin bahwa ia mampu untuk menaklukkannya.
Dan bicara soal takluk menakluk...
Ternyata tantangan yang ia bayangkan sudah terhampar di depan mata.
Segenap orang-orang mulai mematung saat kilas suara intercom mendadak mengintervensi.
Mimpi buruk telah dimulai.
"Halo, semuanya~ Apa kalian masih menggalau karena mendengarkan materi dosen dan mendapatkan tugas yang menggunung? Jangan khawatir, Kyuubi di sini... untuk menghibur kalian semua~ Kyuubi is in the house~"
"Hah?" segenap mahasiswa Universitas Konoha mulai gempar. Suara Kyuubi menggema di semua speaker yang terhubung pada ruang intercom. Naruto terbelalak syok. Untuk sesaat, nalarnya seakan berhenti untuk bekerja.
"Kali ini, aku akan menyanyikan sebuah lagu untuk kalian semua. Lagu ini terinspirasi dari seorang dosen baru yang mengajar di kelasku. Ini lagu spesial untuk Maito Gai-sensei~ Dosen baru di kelas sosial politik angkatan junior!"
"Apa?" Gai tampak kaget. Segenap penghuni kelas sospol mulai panik dan Sakura membuka suara.
"Si Baka Kyuubi mau apalagi, hah? Ia hanya akan membuat reputasi kelas kita semakin jelek!" gadis berambut pink itu mulai menutupi parasnya dengan telapak tangan, tanda berpasrah diri. Ino hanya dapat tertunduk miris.
"Kita terima saja, Sakura. Reputasi kelas kita dari awal memang sudah hancur. Sampai kapanpun, kelas ini tak akan bisa menjadi baik."
Naruto hanya terdiam mendengar itu. Ia harus segera menghentikan semua ini. Kawan berandalnya itu benar-benar sudah kelewatan. Dengan cepat, ia mulai berdiri dari bangkunya dan lekas berlari keluar kelas. Dan aksi itu tak lepas dari pengamatan Sasuke. Sang Uchiha muda itu mengerutkan dahinya tanda heran.
'Mau kemana si Dobe itu? Apa ia bersekongkol dengan Kyuubi?' benak Sasuke diwarnai akan rasa skeptis. Dan lagi-lagi, speaker ruangan kembali menggemakan suara Kyuubi.
"Lagu ini kuberi judul 'Protes Pahlawan Kebebasan'. Semoga kalian menyukai lagu ini. Here we go! Dum dum tas cika dum bum! Bruum! Cekidot yow~"
Segenap orang yang mendengar itu mendadak bertampang aneh dan tenggelam dalam dimensi melongo. Syok. Mulut menganga. Kedua mata terbelalak. Itulah fenomena yan terjadi saat ini. Dan kenistaan Kyuubi masihlah jauh dari kata akhir.
Mahasiswa berandal itupun mulai bernyanyi dengan nada rap dan hip hop.
"Suatu pagi, aku haruslah pergi ke suatu tempat. Tempat nista bernama kampus~ dengan para penghuni yang seperti tikus~ Aku mati kebosanan~ menatap para makhluk yang membosankan~ Hingga dosen baru pun masuk~ membuat amarah merasuk~ Houwoo~ yow yow yow~ houwoo~"
.
.
Horor.
Semua mematung dengan raut horor dan pucat. Ini sungguh mengerikan. Gai tampak membeku untuk sesaat. Membisu.
Harga dirinya sudah berada di ujung tanduk.
"Aku bertanya pada diri~ Mengapa ini semua terjadi~ Aku hanyalah seorang insan~ Pecinta kebebasan~ Segenap dosen sospol sudah kusingkirkan~ Kini muncul lagi dosen yang lebih mengerikan~ yow~ aw~ menyebalkan~ yow~ aw~ memuakkan~"
Sebulir keringat mengalir di samping kening Naruto. Ia hanya dapat bertampang aneh mendengar nyanyian tak jelas itu. Semakin lama, semua ini terdengar semakin mengerikan saja. Ia harus segera ke tempat dimana Kyuubi berada.
"Dosen baru itu bernama Maito Gai~ Tingkahnya sungguh lebay~ bagaikan seorang gay~ Setiap pagi, ia menjalankan ritual mencengangkan~ ia mengaku itu mengharukan~ layaknya telenovela murahan~ ouwou~ norak~ yow yow yow~ noraak coy~ bum~ cetas~ bum~ oh yeah~"
"Demi Jashin... Kasihan Guru Gai..." Naruto semakin mempercepat langkah kakinya. Ia terus berlari dan berlari hingga pada akhirnya, ia pun harus menghadapi sebuah permasalahan besar.
Sekarang, yang harus ia pikirkan adalah...
Dimana ruang intercom itu berada?
Ia hanyalah seorang mahasiswa baru yang tak tahu arah dan semakin tersesat di pojok lorong kampus.
Sungguh naas.
"CHIKUSOOO!"
"Gai pun menghadapi hari~ dengan segenap semangat tinggi~ akupun semakin terlarut~ dalam hati yang sangat kalut~ kemarin aku hampir saja mendapatkan teman~ tapi Headmaster tua bangka itu melaporkan~ calon temanku kini mulai tak percaya padaku~ hatiku pun menjadi semakin pilu~ Hiruzen Sarutobi, just you wait for my revenge~ I will make you die~ die~ and die again~ ouwoo~ yow yow yow~ ouwoo~"
.
.
Hening.
Segenap para staf dan beberapa dosen yang berada di ruang kerja Headmaster tampak memandang Sarutobi dengan raut syok. Yang dipandang hanya dapat membisu dan mengepalkan kedua tangannya dengan jengkel.
'Kyuubi... beraninya kau berbuat seperti ini!'
"Hehehe... tamatlah riwayatmu, Gai. Dan juga kau, Sarutobi..." gema tawa mulai terdengar dengan kerasnya di ruang intercom. Kyuubi benar-benar sudah puas sekarang. Ia tak peduli dengan konsekuensi dari aksinya itu. Ia sudah terbiasa mendapat hukuman.
DOKK! DOKK!
"Kyuubi! Buka pintunya!"
Kedua mata crimson milik Kyuubi lekas tersibak. Suara Naruto mulai terdengar dari luar ruangan.
"Namikaze?"
"Cepat kau buka pintu ini! Kau benar-benar sudah kelewatan!" jelas bahwa Naruto terdengar begitu marah. Dan tanpa ragu, Kyuubi membukakan pintu untuk pemuda bermata cobalt itu. Dan ia tak terkejut sama sekali saat menatap raut emosi yang tergambar di paras Naruto. Ia menghadapi hal itu dengan sangat santai sekali.
"Selamat datang dalam markasku, Namikaze. Apa kau sudah berubah pikiran dan mau untuk membantuku, eh?"
"Apa? Membantumu? Kau gila ya, hah! Aku tak akan pernah mau membantumu! Sebaiknya kau hentikan semua ini dan minta maaflah kepada Gai-sensei!"
"Minta maaf, eh? Lelucon macam apa itu? Hahahaha!" Kyuubi hanya dapat tertawa nista. Kedua tangan Naruto terkepal erat menatap respon remeh dari mahasiswa berandal itu. Kedua cobaltnya terpicing pada crimson.
"Kau benar-benar sudah terlalu kelewatan, Kyuubi..."
"Oh, jadi ini ulah kalian berdua ya, hah!"
Sumber suara baru seakan menjadi tombak yang menembus dada Naruto. Beberapa pengawas kini sudah berada di depan pintu intercom. Mereka kepergok. Tampang Naruto diwarnai akan rona horor.
"A-Aku Ti-Tidak ikut terlibat, Pak! Ini semua ulah Kyuubi-"
"Penjelasannya nanti saja, Nak. Lebih baik sekarang kalian berdua ikut kami menuju ruang konsultasi Headmaster."
Dan Naruto hanya bisa pasrah saat diseret keluar dan dikawal ketat oleh para pengawas. Ia menatap tajam ke arah Kyuubi yang sedari tadi tak tampak panik sedikitpun dan hanya bersikap santai.
"Ini gara-gara kau!" Kyuubi tertawa mendengar pernyataan menohok itu. Sebuah senyum licik tersimpul di mulutnya.
"Tenanglah, Namikaze. Kau tak perlu panik begitu. Fuhuhuhuh..."
Ruang Headmaster.
Tegang.
Panik.
Kedua cobalt kini sudah menikam tajam, menatap Naruto dalam diam. Mahasiswa berambut emas itu gelagapan dan mencoba meyakinkan penjaganya. Ia tak menyangka bahwa pria imitasinya itu sudah dipanggil kemari. Ini benar-benar buruk.
"Minato, percayalah padaku! Aku tidak melakukan semua ini! I-Ini semua ulah Kyuubi! Aku hanya mendatanginya saja dan memaksanya untuk segera menghentikan aksinya dan meminta maaf pada Gai-sensei! Ku-Kumohon, percayalah padaku, Minato..."
Minato menghela napasnya dengan lelah. Sarutobi memanggilnya secara tiba-tiba untuk segera mendatangi kampus. Dan ternyata, hal inilah yang harus ia hadapi. Replikanya itu tampak memohon-mohon padanya dan ia hanya dapat menatap lelah pada diamondnya itu.
"Naruto..."
"Yang dikatakan oleh putramu itu benar, Minato. Sepertinya ia tak terlibat dengan Kyuubi." Sarutobi membuka suara di tengah ketegangan itu. Ia pun lekas melirik tajam ke arah Kyuubi yang merupakan pelaku utama dari tindakan nista ini. Dan mahasiswa berandal itu hanya dapat berdiri dan bersandar di dinding dengan raut remeh yang terlukis pada parasnya. Kedua crimsonnya sudah terarah pada sosok Minato.
"Sebaiknya kau percaya pada ucapan putra Anda. Ia benar-benar tak terlibat dengan semua ini."
"Kyuubi..."
Naruto terkejut mendengar itu. Kedua cobalt Minato lekas tersibak. Pegawai itu melayangkan tatapan tajam pada sosok mahasiswa berandal bernama Kyuubi itu.
'Jadi dia berandal yang berpotensi memberikan pengaruh buruk pada Naruto?' kedua cobalt Minato semakin terpicing dengan tajamnya. Determinasinya terlahir.
Ia tak ingin diamond miliknya dekat-dekat dengan orang macam Kyuubi.
Dan ia pun kembali menatap serius pada Naruto. Replikanya itu masihlah tampak tercengang dengan pembelaan Kyuubi terhadapnya. Firasatnya sungguh tepat bahwa Kyuubi bukan sepenuhnya merupakan seorang pemuda yang buruk.
Ada potensi bagi berandalan itu untuk berubah.
"Maaf jika aku memanggilmu kemari hanya karena persoalan sepele seperti ini, Minato. Pekerjaanmu pasti terganggu." Sarutobi merasa tak enak. Minato hanya tersenyum dan melambaikan telapak tangannya.
"Tidak apa-apa, Sarutobi-sama. Aku sudah berpesan kepada Anda untuk melaporkan setiap gerak-gerik putraku di kampus ini. Naruto adalah prioritas utamaku. Sepele apapun permasalahannya, meskipun putraku tidak melakukan hal itu, aku berhak untuk tahu." pernyataan tegas itu membuat Naruto tertunduk. Ia benar-benar tak bisa lepas dari pengawasan Minato mulai dari sekarang.
Dan tanpa disadari...
Kedua crimson milik Kyuubi sudah berfokus memperhatikan kedua pemuda berambut emas itu dengan seksama. Yang tua benar-benar terlihat peduli sekali dengan yang muda. Dan tatapan cobalt mereka satu sama lain benar-benar tidak menyiratkan sebuah pandangan akan hubungan ayah dan anak. Kyuubi bisa merasakan makna yang lebih dari itu. Seorang ayah tak akan memandang putranya seperti itu.
Ada sesuatu yang lebih dari ini.
Dan sebuah senyum licik tersimpul di parasnya. Ia ingin membuktikan sesuatu. Ia sudah memiliki teori sendiri akan hubungan yang terjalin diantara Minato dan Naruto. Mereka bukanlah sepasang kerabat keluarga. Ia sudah yakin dari awal bahwa Minato dan Naruto bukanlah sepasang bapak dan anak. Ada yang disembunyikan oleh keduanya.
Dan ia... pasti akan segera membuktikan hal itu.
'Ini pasti akan menarik. Hehehe...'
TBC
A/N: Gomen jika updetnya lama. Karena banyak yang nagih, akhirnya saya kerjakan juga chapter ini. Terima kasih bagi yang sudah mereview dan saya tak janji kapan saya akan mengupdet fic ini lagi. Karena kesempatan untuk mengetik fic semakin lama semakin tipis buat saya. orz
Akhir kata, Review again if you don't mind. Thank you~ ^^
