HOPE
Genre : Angst ; Romance ; Highschool life
Rating : PG
Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Choi Siwon of Super Junior. Some artist as Cameo later. Hyukhae ; Slight!SiHae
Summary : Hyukjae dan Donghae yang harus menikah karena perjanjian orang tuanya. Tapi,bagaimana dengan Donghae yang ternyata benar-benar Menyukai Hyukjae?
Warning : Typo and stuff ; Yaoi ; BL ; Shounen-Ai ; Alur berantakan ; Cerita pasaran
Disclaimer : All of them belong to themselves and GOD. I own only the plot.
Don't like ? Don't Read please
-Fujoshi97-
-Chapter10-
Author POV
Donghae menggeliat kecil di tempat tidurnya. I-ini dimana? Batin Donghae bingung. "Ini kamarku, bukan?" gumam Donghae pelan. Donghae mengangkat tangannya dan mengusap kedua matanya pelan. Ini benar-benar kamarku!? Ta-tapi, bukankah aku seharusnya berada di mobil Siwon saat ini!? pikir Donghae yang semakin bingung.
Donghae mengangkat kepalanya pelan sambil melihat jam dinding di ruangan itu. "Jam 3 sore?" gumam Donghae. Itu berarti aku hanya tidur 1-2 jam saja, bukan? Tapi, kenapa terasa begitu lama? Dan, kalau aku ketiduran.. Siapa yang membawaku kekamarku? Ja-jangan bilang kalau! Batin Donghae dengan wajah yang memerah.
"Donghae-ah? Kau disana?" Tanya eomma Donghae. "N-ne, eomma!" jawab Donghae masih dengan suaranya yang sedikit parau. "Kau sudah bangun? Bisakah kau turun sekarang? Kau belum makan siang 'kan? Turun dan makan, ne!" panggil sang eomma. "Ne, arraseo eomma!" balas Donghae.
Melihat jam yang belum terlalu sore, Donghae memutuskan untuk hanya mencuci wajahnya saja. "Ah, kau sudah turun? Makanlah!" ajak yeoja itu. Donghae tersenyum kecil dan mengambil tempat duduk di hadapan eommanya. "Nah, ini!" Donghae menatap eommanya bingung, tidak biasanya eomma-nya ini menyiapkan semua makanan seperti ini. Biasanya, justru eomma-nya akan memarahi dia kalau ia tidak mau menyiapkan makanannya seperti ini.
"Eomma?" panggil Donghae. "Ye?" Tanya yeoja itu. "Ada apa? Eomma aneh sekali hari ini?" Tanya Donghae sambil mulai menyuapkan nasi kemulutnya. "Ah~ kau memperhatikan juga ya? Tidak ada apa-apa. Hanya saja, tadi eomma Hyukjae menelepon dan mengabari eomma kalau Hyukjae bilang kalian sudah semakin dekat!" cerita yeoja itu dengan wajah yang berbinar-binar.
Mendengar cerita eomma-nya, membuat wajah Donghae langsung memerah. "D-dekat?" ulangnya. "Ya. Apa ada yang aneh?" Tanya yeoja itu dengan raut wajah khawatir. Melihat hal itu, Donghae langsung menutupinya. "A-ani, eomma! Hanya saja, aku tidak mengira kalau Hyukjae-ssi—maksudku, Hyukjae-ah akan memberitahukan tentang itu kepada eomma-nya. Itu saja!" jelas Donghae sambil berusaha memasang 'wajah' untuk menyakinkan eomma-nya.
"Ah! Eomma rasa Hyukjae tipe namja yang jujur dengan perasaannya sendiri. Mungkin karena itulah ia menceritakan ini pada eomma-nya. Kau juga harus lebih terbuka soal perjodohan ini kepada eomma. Arraseo?" jelas yeoja itu.
"Ne, eomma." Jawab Donghae singkat, kemudian kembali melanjutkan acara makannya. Donghae tidak menyadari bagaimana eomma-nya menatapnya dengan penuh kekhawatiran, keraguan dan rasa takut di matanya. "Dan, Donghae-ah.." lanjut yeoja itu. "Ye, eomma?"
"Jangan lupa untuk istirahat, ne? eomma ingin mengajakmu ke suatu tempat besok siang. Jadi, jangan tidur terlalu malam ya?" jelas eomma. Donghae hanya mengangguk walau saat ini banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan.
Hyukjae POV
"Eomma! Apa yang baru saja eomma katakan!?" teriakku dengan wajah frustasi. "Eomma bilang, tadi eomma baru menelepon eomma Donghae kalau kau mengatakan hubungan kalian semakin dekat." Ulang yeoja itu dengan wajah datarnya.
"Aku bahkan tidak pernah bilang seperti itu, eomma! Kenapa kau melakukan 'penipuan' seperti itu!?" protesku pada eomma. Bagaimana bisa eomma menfitnah anaknya sendiri!? Dan, Donghae bisa saja salah paham bukan!? Bagaimana kalau namja itu mulai berfikir kalau aku menyukainya! Eomma ini selalu saja seenaknya!
"Berhentilah protes! Eomma hanya mencoba membantumu!" jelas eomma yang hampir membuatku tertawa. Membantu katanya? Bagaimana bisa hal itu membantu!? "Itu tidak membantu apapun, eomma!" protesku lagi. "Dengar ini semua demi kebaikanmu sendiri, arrseo? Ah, eomma masih ada keperluan di tempat lain. Istirahatlah, besok eomma datang mengundang Donghae dan eomma-nya untuk makan siang bersama."
Aku terdiam mendengar eomma. Makan siang bersama? Ja-jadi, eomma sudah lebih dulu mengenal eomma Donghae? Bukan hanya kakek saja yang mengenalnya? Tapi, kenapa eomma Donghae tidak pernah menanyakan kabar eomma ataupun mengunjunginya? Aku cukup yakin ini pertama kalinya aku melihat eomma Donghae. Aku yakin aku bisa mengenalinya kalau aku memang pernah bertemu dengannya.
Aish, sudahlah memikirkannya malah membuatku pusing sendiri! Ah! bagaimana kalau aku menghubungi Donghae saja? Tapi, aku bahkan tidak punya nomor ponselnya. Tidak masalah, aku punya nomor rumah Donghae sama saja bukan?
Aku langsung berjalan masuk ke kamarku dan mengambil ponselku. Aku juga memutuskan untuk melakukan panggilan di kamarku untuk privacy.
….
…
"Yeoboseyo? Kediaman Lee. Ada yang bisa dibantu?"
"Ah, ini Hyukjae-ssi ahjumma."
"Hyukjae? Ah, ada apa? Apa kau ingin bicara dengan Donghae?"
"Iya, kalau itu tidak merepotkan ahjumma."
"Ne, tentu saja! Tunggulah sebentar, ne?" samar-samar aku bisa mendengar eomma Donghae memanggilnya untuk menerima telepon. Tak berapa lama terdengarlah suara Donghae.
"Yeoboseyo?"
"Donghae?"
"Hyukjae-ssi!? Ma..maksudku, Hyukjae-ah! Ada apa?" kenapa namja itu terkesan gugup?
"Ani, aku meneleponmu hanya untuk menanyakan nomor ponselmu."
"Nomor ponselku?"
"Iya."
"Ah, bisa kau tunggu sebentar aku meninggalkan ponselku di atas."
"arraseo."
"Ah, Hyukjae-ah, kau masih disana?"
"Menurutmu? Cepatlah, kau menghabiskan waktuku!"
"Mi-mianhae.. Ini nomor ponselku 08734xxxx"
"Arraseo. Jangan letakkan ponselmu jauh-jauh, arraseo? Aku perlu bicara denganmu lewat telepon genggammu. Dan, kalau bisa pastikan eomma-mu tidak mendengar." Kenapa aku jadi berlebihan seperti ini!?
"Ah~ Arraseo!"
"Baiklah, sampai nanti."
"Ne, an—"
Aku tahu aku memutuskan panggilan secara sepihak, tapi siapa yang perduli? Aku harus segera menelepon namja ini dan membicarakan soal acara makan yang diadakan eomma ini. Ini benar-benar mengesalkan! Selama ini hari Sabtu dan Minggu sudah seharusnya menjadi hari bebasku, tapi kenapa aku harus ikut acara makan siang yang tidak jelas seperti ini!
Donghae POV
"Ne, an—"
Tut.. Tut..
Sudah terputus? Aish, dia seenaknya sekali! Tapi, biarpun begitu aku merasa benar-benar senang saat ini, ini pertama kalinya dia menghubungiku. Tapi, ini membuatku khawatir sebenarnya ada apa? Apa terjadi sesuatu?
Ah, ponselku! Aku hampir lupa Hyukjae menyuruhku untuk tidak jauh-jauh dari ponselku. Eh, dimana ku letakkan ponselku, ya? "Eomma! Apa eomma lihat ponselku?" tanyaku pada eomma.
"Bukankah kau selalu meletakkannya di tasmu?" tebak eomma. Ah! Benar juga! "Arraeseo, biar kulihat dulu ne?" jawabku. Aku langsung berlari kecil ke kamarku, ah benar ada disini.
"Eh, dia sudah menghubungiku? Cepat sekali!" gumamku. Tak berapa lama aku merasakan getaran di tanganku, aku langsung menerimanya.
"Ne?" jawabku.
"Kau seharusnya menjawab Yeoboseyo bodoh.."
"Mwo? Apa maksudmu?"
"Sudahlah lupakan.. Donghae-ah, apa eomma mu sudah memberitahumu soal rencana makan siang besok?
"Makan siang? Ani.. wae?"
"Besok eomma berniat mengundangmu dan eomma-mu untuk makan siang disini."
"J-jinjja!?"
"Hm.. Apa kau bisa tidak datang?"
"…"
"Hae?"
"Ye?"
"Apa kau mendengarku? Apa kau bisa tidak datang? Aku benar-benar ingin istirahat Sabtu besok."
"Tapi, kau bisa istirahat hari Minggu, bukan?"
"Aku ada urusan lain hari Minggu nanti."
"Arra."
"Apa?"
"Akan ku usahakan untuk tidak datang."
"Great. Ok, sampai nanti."
"Ne, sam—"
Sudah dimatikan. Lagi-lagi dia memutuskan panggilan secara sepihak. Kalau dia menghubungiku hanya untuk mengatakan itu, lebih baik dia tidak usah menghubungiku. "Hah.." aku menghela nafas dalam. Aku benar-benar kecewa. Sebenarnya, aku sudah merasa sangat senang begitu mengetahui eomma Hyukjae tertarik untuk mengundang aku dan eomma makan siang.
Tapi, ternyata Hyukjae justru ingin aku membatalkannya. Aku juga tidak tahu pasti alasannya, tapi yang pasti permintaan Hyukjae tadi benar-benar membuatku kecewa. Namun, apa yang bisa kulakukan? Sekarang, yang harus kulakukan adalah mencari alasan untuk membatalkan acara makan siang besok.
Aku melangkah turun kembali ke ruang makan. "Kau kemana saja, Hae?" Tanya eomma bingung. Wajar saja eomma khawatir, aku langsung naik ke kamar begitu selesai dengan panggilan dari Hyukjae. Mungkin eomma pikir aku ada masalah dengan Hyukjae. "Aku dari kamarku, eomma." Jawabku.
"Apa ada masalah? Kenapa tadi kau buru-buru sekali kesana?" lanjut eomma. Aku menggeleng pelan, "Ani, eomma. Tidak ada apa-apa. Hanya saja, tadi ada hal yang harus kubicarakan dengan Hyukjae secara 'tertutup'." Jelasku. "Tertutup?" Tanya eomma sambil menaikkan alisnya.
"Ne. sudahlah, eomma. Kita lanjutkan makan saja ya?" ajakku berusaha mengalihkan perhatiaan eomma. Eomma ini, memang sudah sikapnya untuk selalu ingin tahu. Tapi, aku tidak pernah mengira sikap eomma semenyebalkan ini~
Eomma terus menatapku aneh sepanjang makan siang ini, benar-benar membuatku risih. "Eomma, berhentilah menatapku seperti itu. membuatku risih." Keluhku, aku ingin makan disini, tapi eomma malah membuatku tidak nafsu makan. "Mianhae, eomma tidak bermaksud seperti itu. tapi, sikapmu tadi benar-benar membuat eomma khawatir." Jelas eomma sambil tersenyum tipis.
Melihat senyum eomma, tentu aku tidak bisa marah terlalu lama dengan eomma. "Gwaechanna,eomma. Tapi, sungguh aku tidak apa-apa. Hu-hubunganku dengan Hyukjae-ah baik-baik saja,kok." Jelasku berusaha meyakinkan eomma. Semoga eomma tidak menyadari keraguan di suaraku tadi. Eomma tersenyum tipis.
"Baiklah, ah! Eomma hampir lupa Sabtu besok eomma Hyukjae mengundang kita untuk makan siang di rumah mereka, kau tidak ada acara 'kan?" Tanya eomma semangat. Ingin sekali rasanya aku berteriak, 'Ne, tidak ada! Ayo,kita kesana!' Tapi, aku tidak bisa. Hyukjae sudah memintaku, dan.. Aku tidak ingin mengecewakannya.
"Hae? Kau tidak ada acara,'kan?" Tanya eomma lagi. "Mianhae, eomma. Tapi, a-aku sudah membuat janji dengan Sungmin." Jawabku pelan. mianhae, Sungmin-ah, aku harus memakaimu sebagai alasan.. "Sungmin? Sungmin, yang kau maksud itu Sungmin yang sering datang berkunjung ke sini, bukan?" Tanya eomma memastikan. Aku mengganguk. Wae?
"Ne." jawab Donghae ragu. "Kalau Sungmin itu yang kau maksud, eomma rasa eomma bisa membantumu untuk membatalkan janjimu itu." usul eomma. Aku membelalakkan mataku kaget, "Eh? Kenapa dibatalkan!?" Eomma menatapku bingung. "Kenapa? Tentu saja karena kita harus menghadiri undangan makan siang keluarga Hyukjae, Hae." Jelas eomma sambil memutar bola matanya. "Ak-aku tahu, hanya saja.. Ah! Tidak sopan untuk membatalkan janji begitu saja, eomma!" belaku.
"Eomma akan buktikan kalau Sungmin tidak keberatan membatalkan acaramu demi eomma." Lanjut eomma lalu bangkit dari kursinya. Demi eomma? Apa maksudnya? Aku memutuskan untuk mengikuti eomma yang pergi ke ruang tengah.
"Eomma, apa yang mau eomma lakukan?" tanyaku penasaran. Eomma tetap bungkam dan berjalan kearah meja telepon. "Berapa nomor telepon Sungmin?" Tanya eomma. "Ponselnya." Lanjut eomma. Nada tegas yang eomma gunakan sontak membuatku langsung menurut dan menyebutkan nomor ponsel Sungmin yang sudah kuhafal di luar kepala.
"Tunggu disana dan dengar." Perintah eomma. Aku hanya mengangguk pelan.
"Yoboseyo?" Tanya eomma.
…
"Ne, ini eomma Donghae, Sungmin-ah." Lanjut eomma, sementara aku tetap terdiam mendengar percakapan eomma.
…
"Saat ini, ahjumma.. uhukk.. uhukk.. sedang tidak enak badan, jadi apa acaramu dengan Donghae besok bisa dibatalkan?" Tanya eomma sambil terbatuk-batuk pelan. bukankah eomma baik-baik saja tadi? Kenapa tiba-tiba dia jadi terbatuk-batuk begitu? Ja-jangan-jangan, eomma sedang berpura-pura lagi!? D-dan, gawat! Aku bahkan belum memberi tahu soal acara ini dengan Sungmin, dia pasti bingung!
"Ah, ne! Gomawo atas pengertiannya Sungmin-ah! Ne, sampai nanti, ne ahjumma akan sampaikan salammu." Lanjut eomma dengan nada suara yang begitu semangat.
Dengan senyum lebar, eomma kembali meletakkan telepon itu ke tempatnya. "Nah, sekarang kau tidak perlu lagi pergi ke acaramu dengan Sungmin, Hae. Dia bilang kau bisa mengganti acara itu kapan pun kau mau." Jelas eomma dengan senyum penuh kemenangan. Aku menatap eomma dengan mata terbelalak, bagaimana eomma bisa melakukannya? D-dan! Sungmin-ah, bagaimana bisa dia tidak merasa bingung dengan pertanyaan eomma? Apa Sungmin sudah tahu kalau aku menggunakan namanya untuk berbohong?
"Hae? Kau baik-baik saja?" Tanya eomma khawatir. Apa aku melamun begitu lama? "N-ne, gwaechanna. Bisa aku ke kamarku sekarang, eomma? Aku lelah." Ijinku. Eomma mengangguk sebelum menambahkan, "Istirahatlah! Besok eomma ingin mengajakmu ke tempat lain dulu. Siapkan energimu, arra?" jelas eomma. Aku hanya mengangguk lemah. Apa yang akan ku katakan pada Hyukjae?
Author POV
Donghae melangkahkan kakinya lemas menuju kamarnya. Apa yang harus kukatakan pada Hyukjae? Dia pasti marah dan kecewa kalau dia tahu aku akan tetap datang ke acara makan siang itu? apa aku jujur saja padanya sekarang atau menunggu besok? Kalau aku memberitahunya sekarang, apa alasan yang harus kupakai? Aku tidak yakin dia akan percaya dengan apapun yang kukatakan. Eoteokkhe?
Donghae menghela nafas pelan. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Hyukjae, ia tidak ingin mengecewakan Hyukjae. Tapi, di sisi lain ia juga tidak ingin membuat eomma nya curiga. Kalau sampai eomma tahu semua rencana Hyukjae, maka eomma pasti akan membatalkan perjodohan ini. dan.. itu berarti membuat Hyukjae juga kecewa. Ia bingung setiap keputusan yang ia ambil, tetap berakhir pada Hyukjae yang kecewa.
"Sudahlah, apa pun yang terjadi, terjadilah.." gumam Donghae, dia langsung berjalan kearah kasurnya menidurkan dirinya di atas kasur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Dia sudah terlalu lelah memikirkan semuanya. Dia tidak perduli lagi, dia ingin istirahat untuk saat ini.
Hyukjae' s side
Hyukjae baru saja akan memasuki mobilnya saat suara eommanya terdengar, "Hyukjae-ah, kau mau kemana?" Tanya yeoja itu sambil membenarkan letak gaun tidurnya. Hyukjae berbalik dan menatap yeoja itu datar, "Aku akan pergi ke Hyoyeon party." Jawabnya singkat.
"Hyoyeon? Mantanmu itu?" Tanya yeoja itu sambil mengangkat sebelah alisnya. "Ne." jawab Hyukjae singkat, "Wae?" dia mulai tidak sabar dengan semua pertanyaan eomma nya ini, bukankah Hyukjae memang selalu pergi di malam Sabtu dan Minggu? Dan, bukankah yeoja ini sudah biasa? Bahkan, dia tidak pernah bertanya sekalipun Hyukjae tidak pulang ke rumah.
"Apa kau akan kembali menginap di rumah temanmu?" Tanya yeoja itu. Hyukjae menggeleng pelan, "Ani." Jawabnya. "Untuk malam ini saja, bisakah kau tidak pergi ke party itu? kau lupa besok eomma dan appa mengundang keluarga Donghae kesini? Kau tidak bisa bangun siang dan tampil berantakan di depan eomma Donghae, arra? Kembalilah ke kamarmu dan istirahat." Tegas yeoja itu, setelahnya Hyukjae bisa melihat ia memainkan ponselnya itu sudah cukup menunjukkan kalau Hyukjae tidak akan bisa pergi ke luar rumah. "Shit!" gumam Hyukjae kesal.
Hyukjae membanting pintu kamarnya kesal. Semua hal perjodohan membuat ia hampir gila! Semua kebebasan yang dulu ia miliki, kini tidak ada lagi. Yang ada hanya ocehan-ocehan dari eomma dan appanya, soal Donghae ini, Donghae itu. For God sake! Mereka bahkan tidak mempunyai hubungan apa-apa! Dan, Donghae itu namja! Entah bagaimana eomma dan appanya yang tradisional itu menerima pernikahan dengan namja itu biasa saja!?
Saturday, 09:00 a.m KST
"Yah! Lee Donghae! Bangun!" teriak eomma Donghae dari belakang pintu namja yang masih asik dengan tidurnya. Donghae menggeliat kecil di kasurnya, sambil bergumam, "10 menit lgi~" dan kembali menutup dirinya dengan selimutnya.
Eomma Donghae yang tidak mendengar gumaman Donghae menggeram kesal, "Aish, anak itu! dia benar-benar mirip dengan appanya." Ujar yeoja itu dengan senyum tipis. Yeoja itu pun tidak kehabisan akal, dengan pelan ia meninggalkan kamar Donghae dan menuju kamarnya sendiri. Dia mengambil sesuatu dari lacinya dan kembali menuju kamar Donghae.
Dia mencoba memutar pegangan pintu kamar Donghae, dan benar saja kamar itu terkunci. "Dasar anak ini!" gumamnya. Dia pun mengeluarkan sesuatu yang dia ambil dari kamarnya, kunci kamar Donghae. Entah Donghae yang babo, atau ia memang lupa kalau ia tidak mungkin bisa kembali tidur, dengan eommanya yang memegang seluruh duplikat kunci setiap ruangan di rumahnya. Poor Donghae.
Dengan langkah pelan, ia berjalan pelan mendekati Donghae yang masih asik tertidur di tempat tidurnya. Jika bukan karena ia harus membangunkan Donghae tentu ia sudah mengabadikan moment ini dengan mengambil banyak gambar dari Donghae yang tertidur. Dia benar-benar, semua namja atau yeoja yang memilikinya, harus merasa beruntung. Bukankah begitu yeobo? Aku harap Hyukjae berpikiran yang sama. Pikir yeoja itu dengan senyum mirisnya.
"Donghae, bangun!" teriak yeoja itu tepat di depan telinga Donghae. Donghae langsung terlonjak bangun begitu mendengar teriakan seorang yeoja tepat di telinganya. "AW!" teriaknya. "Eomma!? Apa yang eomma lakukan!?" protes Donghae sambil mengelus-elus terlinganya dan memanyunkan bibirnya kesal. "Dan.. Dan, bagaimana bisa eomma masuk ke kamarku!?" kesal Donghae.
Yeoja itu tertawa pelan melihat tingkah anaknya, "Aish, kau ini bagaimana, eomma 'kan punya semua duplikat kunci ruangan di rumah ini~" Donghae membelalakkan matanya mendengar penjelasan eommanya, bagaimana bisa ia lupa!? Dengan kesal, ia memutar kepalanya untuk melihat jam, "Eh, ini baru jam 9?" gumamnya. Yeoja itu mengangguk, "Memang." Jawabnya singkat. "La-lalu, untuk apa eomma membangunkanku?" bingung Donghae.
"Tentu saja untuk Make-over kau untuk kedua kalinya!" teriak yeoja itu semangat. "MWO!? Andweee!"
To Be Continue
Author 's Note
Chapter 10 update!
Semoga tidak mengecawakan readers sekalian, ne? ^^
Dan, Jeongmal gomawoo bagi semua reviews yang diberikann! Gomawo~ #Hug #Kiss
Gomawo juga sudah menunggu update-an Author yang super duper lamaaaaa.. /
So, Read n Review?
XOXO
