Eunoia

.

Aku seketika teringat dengan ucapan seorang atheist dalam suatu acara

Ia mengutuki para pelaku perang yang mengatasnamakan agama

Dengan lantang ia bilang:

"Jika ada yang bilang kalau kita sedang dalam perang Tuhan dan Iblis,

Maka sebenarnya, kita sedang dalam perang antara dua Iblis."

Dan kurasa itu sedikit mengubah hidupku.

.

.

Arc I [Chapter X: Berapa Kalipun Dipikir Uzumaki Naruto Memang Sangat Menjijikkan]

.

Part 9.1

.

.

Sejauh ini, hidupku memang selalu dipenuhi kesialan tanpa batas yang sepertinya sangat hobi menguntitku. Walau aku memang sudah busuk, tapi mungkin jika saja aku tidak diberkati dengan adik semanis Naruko, entah sudah jadi apa diriku ini. Saat TK dan awal masuk SD mungkin aku sedikit banyak bisa bersosialisasi dengan orang lain, bahkan aku sempat punya teman 'dekat' perempuan kala itu. Tapi sejak kelas tiga SD, perubahan fisikku mulai membuat masalah. Banyak anak SD lain yang salah mengartikan tatapan dan raut wajahku. Dan hingga lulus SMP kemarin, aku tak tahu sudah berapa kali aku berantem gara-gara alasan konyol itu.

Bahkan saking seringnya bikin masalah, orang tuaku sampai ogah membawaku pergi ke mana-mana. Mereka takut kalau bukannya bikin bangga, aku malah bikin masalah dengan anak teman mereka.

Tapi, untungnya, aku sudah terbiasa dengan itu semua.

Jadi, ketika Bu Rossweisse bilang kalau aku harus melakukan sesuatu jika rencana 'bertanding' basket melawan orang-paling-jago-main-basket-sejepang ini berantakan, aku sudah sangat siap menghadapi segala kesialan yang jelas akan mengekor setelah itu.

"Aku sering dengar, kata-kata keren yang cuma pas buat dikatakan di film-film, Naruto. Seperti: 'terkadang hidup tidak memberi kita pilihan, maka satu-satunya cara untuk memilih adalah terus melaju tanpa batas.', atau 'memikirkan cara untuk terus hidup adalah apa yang dilakukan orang bodoh, karena, sebagai pria sejati, aku yang akan membuat hidup memikirkanku.'. Pada awalnya itu semua kupikir hanyalah motivasi tak berguna yang digunakan hanya untuk menambah word pada sebuah cerita." Uchiha menatapku, dengan mata sayu. "tapi saat ini, kurasa memang hidup terkadang tak memberi pilihan."

"Jika kaupikir begitu, maka kurasa bukan hidup yang tidak memberimu pilihan. Hanya saja pilihan yang diberikan hidup terkadang tak ada yang enak."

"Hmm, kupikir begitu."

Uchiha, dan aku sedang terdiam di bangku panjang samping pintu masuk gimnasium. Seperti yang dijanjikan kemarin, setelah sepulang sekolah seluruh anggota Klub Penelitian Ilmu Gaib harus berkumpuk di gimnasium untuk menantang Klub Basket. Tapi entah aku dan Uchiha yang terlalu awal datangnya atau Bu Rossweisse dan Sitri yang terlalu santai datangnya, mereka berdua belum juga nampak batang hidungnya. "Tapi, Naruto, apa kau merasa berdebar-debar?"

Musim dingin sudah di depan mata, dan hawa di luar sini benar-benar membuatku beku. "Mengapa kautiba-tiba bilang hal tak jelas seperti itu... Dan bisakah kauberhenti memanggil nama depanku, sumpah, mendengarnya saja membuatku jijik."

Jika saja Naruko, adikku yang paling manis sedunia, tidak menyiapkan mantel, dan syal baru tadi pagi, mungkin aku sudah mati kedinginan sekarang. Masalahnya, entah karena aku memang kesialanku yang menakjubkan atau apa, ketika kemarin aku berkunjung ke rumah Bu Rossweisse, anjing peliharan Bu Rossweisse salah mengira syal oren kesayanganku sebagai mainan dan menguburnya dengan sangat rapi di depan kandangnya. Dan hal itu mengajarkanku, kalau, ketika berkujung ke rumah Bu Rossweisse, jangan membawa syal warna oren. Yah, kecuali kaumau menemukan syal itu terkubur rapi di depan kandang anjng.

"Tidak bisa! Apa kauingat, kita ini telah terikat benang takdir! Lagipula, bukankah kau yang harus mulai memanggilku Sasuke?"

"Terimakasih atas sarannya, tapi aku sangat menolaknya. Memikirkan hal itu saja sudah membuatku mual-mual, apalagi benar-benar memanggilmu dengan panggilan itu. Setidaknya, aku tak mau diare seminggu penuh."

Aku pernah bilang kalau memanggil dengan nama depan adalah tindakan yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang sudah berhubungan dekat. Lalu, jika aku memanggil Uchiha tak berguna ini dengan nama depannya, bukankah itu berarti, aku sudah berhubungan sangat dekat dengannya? Tidak, tidak..., selain kiamat, dan Naruko mulai membenciku, dekat dengan manusia tulang lunak menjijikkan ini adalah hal yang paling tidak kuharapkan di hidupku. "Tunggu, Naruto, bukankah itu agak berlebihan!?"

Tidak, kupikir malah efek samping dari memanggil nama depanmu bisa membawa bencana yang lebih besar dari sekedar diare seminggu. "Oh, begitukah? Kalau begitu maaf, tapi Uchiha sekedar informasi, bagiku hanya diare seminggu masih dalam level paling ringan."

Mukanya menjadi masam dan sebentar kemudian ia menghela. Dia sepertinya menyerah memengaruhiku, dan sekarang menatap taman kecil yang mulai berwarna putih. "Entah bagaimana, aku sudah menduga kauakan bilang begitu." dan dia mengeratkan topi musim dinginnya.

Suara ramai di dalam ruangan terasa sangat hangat. Walau hampir semua yang kudengar hanya teriakan, tapi dalam perasaanku, setiap orang dalam ruangan itu telah terhubung. Sebuah ikatan persahabatan yang sering kubaca di manga shounen telah mengikat mereka. Ikatan palsu, yang mungkin terlihat kuat, tapi sebenarnya sangat rapuh dan bisa hancur dengan sangat mudah.

Segerombol wanita datang dengan wajah penuh tawa. Sama seperti manusia-manusia di dalam ruangan, dinginnya musim dingin sepertinya tak terasa untuk mereka. Mereka sepertinya akan masuk ke dalam gimnasium dan menonton pertandingan paling absurd Klub Penelitian Ilmu Gaib melawan Klub Basket sehabis ini. Langkah kaki mereka semakin dekat, dan itu membuatku agak tak nyaman. Bahkan Uchiha sudah menjadi batu.

Menjadi penyendiri itu, artinya memiliki kepekaan berlebihan dan sedikit kelewat khawatir. Apalagi, fakta kalau seorang penyendiri lelaki sedang ditatap oleh segerombolan cewek. Rasa gugup yang tak nyaman ini seolah ingin membunuhku. Jadi, aku memutuskan untuk menunduk dan menyembunyikan wajahku dalam hangatnya syal orenku. Selain untuk melindungi diri, aku tak mau disalahpahami oleh para bitch! sialan itu dan membuat mereka ketakutan.

Semua berjalan lancar, dan entah bagaimana, meskipun aku sedang menundukkan wajahku, aku masih bisa merasakan tatapan jijik yang sangat menusuk punggungku. Mungkin melihat dua orang pria yang bersikap tak jelas agak mengusik mereka. Apalagi, si Uchiha ini.

Lalu, ketika aku yakin semua cewek sialan itu sudah masuk dan suara pintu tertutup terdengar aku dan Uchiha spontan menghela napas lega. "Hah..." dan aku mendongak.

"Inilah yang sering kubilang, wanita 3D itu bangsat semua!"

"Kurasa aku tidak bisa tidak setuju denganmu kali ini."

Uchiha keluar dari mode batunya dan mengepalkan tangan. Namun, kemudian pria itu menatapku. "Hei, Naruto..." ekspresinya berubah. "tapi mungkin memang dalam sejarah hidupku, inilah pertama kalinya aku merasa sedikit berguna. Apalagi, fakta, kita akan menghadapi orang paling kubenci seumur hidup, para Riajuu! Makanya, aku merasa sangat berdebar di sini." dia tiba-tiba bilang begitu, sambil melakukan hal yang sungguh tak kuduga.

"Tunggu, Uchiha, apa yang kaulakukan?!" saat ini, ia meraih tanganku dan menempelkannya di dadanya. "Kau bisa merasa...- ugh! Jangan meninjuku seperti itu!"

"Ah, maaf, reflek."

Lagipula, apa maksudnya melakukan hal yang tak jelas seperti itu. Apa ia ingin atmosfir seperti manga shoujo, atau harem di mana ada kabut berwarna merah muda dan terasa begitu nyaman? Aku tahu, dia sudah lebih dari sering memainkan eroge, dan aku yakin ia terinsipirasi dari sana, tapi sumpah ini menjijikkan! Jadi, kupikir, reflekku yang secara spontan meninju perutnya yang kering kerontang itu bukanlah hal yang aneh.

Aku menarik tanganku dan memasukkannya ke dalam kedua saku mantelku. Aku belum sempat membeli sarung tangan, dan Naruko juga sepertinya kelupaan untuk membelinya. Jadi, ketika tanganku dikeluarkan paksa oleh si bego ini, hawa dingin merembet ke seluruh tubuhku.

"Yah, maafkan aku, kuakui kalau aku berlebihan. Tapi, memang sekarang apa yang kaurasakan?"

"Entahlah..." bicara soal perasaan, hal itu adalah hal yang paling tidak kuketahui. "mungkin sedikit gugup, dan agak... emosi?"

Lebih dari itu, bukankah Bu Rossweisse dan Sitri kelewat telat datangnya?!

.

.

9.2

.

.

Sesaat setelah Bu Rossweisse dan Sitri datang, aku dan tiga orang ini langsung membuka pintu gimnasium dan menatap, aku tak tahu pasti, ratusan penonton yang hampir bisa kubilang semuanya wanita. Aku tak tahu seperti apa Bu Rossweisse memromosikan pertandingan yang amat sangat absurd ini hingga sampai-sampai sepertinya seluruh murid kelas tiga telah datang ke sini. "Bu, sekedar mencari informasi, tapi, apaan maksud penonton sebanyak ini?"

Aku tahu kalau pertandingan ini pasti akan mendatangkan penonton. Tapi, kalau sampai sebanyak ini, aku tak tahu harus berbuat apa. Masalahnya, alasan mengapa aku memberikan peran penyerang pada wanita yang tengah membenarkan letak kacamata ini adalah untuk menghindari tekanan berlebih dari penonton. Lalu jika ada sebanyak ini, tekanan itu akan berlaku pada semua anggota klub, meski pada bagian pertahanan sekalipun. "Bukankah bagus?" wanita yang tingginya sama denganku itu tersenyum.

"Jika kita punya sebanyak ini penonton, kemungkinan Takayama menghianati dan menipu kita menjadi semakin kecil."

Tidak, tidak..., aku tak yakin Kak Takayama akan melakukan teknik licik pada orang-orang sesuram Klub Penelitian Ilmu Gaib. Malahan, jika ada yang melakukan kecurangan dan bermain tipun, itu adalah aku, Uchiha, dan Sitri. "Aku tak terlalu yakin itu akan terjadi, bahkan dengan tanpa penonton sekalipun. Tapi, jujur saja, situasi klub ini yang memang sudah kecempet, akan jadi tambah sulit sekarang." saat aku bilang begitu, Bu Rossweisse menepuk pundakku.

"Tenang saja, dan hadapi sekuat tenaga."

"Aku akan sangat bersyukur, jika yang perlu kulakukan hanya itu." masalahnya, aku sangat yakin kalau semua ini hanya dilalui dengan sekuat tenaga, pasti Klub Penelitian Ilmu Gaib akan langsung kalah telak. Yah, tenaga seorang penyendiri, manusia aneh, dan seorang cewek bermulut sepedas cabai tak bisa terlalu diandalkan. "Memang hanya itu, Uzumaki! Berpikir positif adalah apa yang paling penting dalam hidup, catat itu."

Aku mengeratkan tasku. Berbicara dengan manusia satu ini, mungkin akan menghabiskan waktu lama. Kepribadianku dan dia yang sama sekali terbalik membuat apapun yang kukatakan pasti ia bantah, dan begitu pula sebaliknya. Jadi, aku menghela napas, dan berusaha untuk tenang. Lalu menatap Uchiha, yang sekarang nampak lebih ekspresi wajahnya lebih mengerikan dibanding pasien yang didiagnosis akan mati esok. Tubuhnya sekaku pohon kelapa, dan wajahnya penuh kesakitan.

"Oi, Uchiha kau baik-baik saja... Ah, pasti tidak."

Aku merasa bodoh telah bertanya hal seperti itu. Walau aku tak mau menjadi dekat dengan manusia semenjijikkan pria ini, tapi setidaknya memang sudah lama aku mengenalnya. Hanya dilihat secara sekilas oleh wanita saja sudah membuatnya menjadi batu, apalagi ditatapi oleh ratusan wanita secara bersamaan. Mungkin perasaannya sama seperti aku saat ini. Ingin mati dan mengubur diri sendiri.

Pandanganku beralih pada Sitri. Dengan tampang masih penuh keangkuhan, dia membenarkan posisi kacamatanya. Saat aku mulai bertanya, mengapa dia bisa sepercayadiri itu, aku teringat kalau alasan mengapa dia masuk lembaga karantina berkedok Klub Penelitian Ilmu Gaib adalah karena dia telah membuat segerombol wanita menangis. Merasakan tekanan seperti ini, kurasa bukan masalah untuk cewek sadis sepertinya.

"Saa..., Uzumaki, daripada terus berpikir negatif seperti itu, setidaknya ambilah satu kebaikan dari ini semua. Anggap saja, ini salah satu latihan bersosialisasi, dan menyembuhkan penyakit akutmu itu."

"Tapi ini terlalu berat, bagaimanapun Bu! Ini seperti menyuruh pertualang level satu melawan Raja Iblis."

"Apa kaupernah dengar, apapun bisa terjadi pada suatu pertarungan. Bisa saja Raja Iblis sedang diare, dan petualang level satu itu sudah mendapat pedang suci legendaris yang hanya bisa dipegang orang tertentu. Tak ada yang tahu." dia menaikkan pundaknya dan menggeleng.

"Cara berpikir Ibu selalu membuatku kagum." lagipula, aku malah khawatir dengan nasib sial si Raja Iblis. Dikalahkan oleh petualang pemula saat diare jelas bukan impian Raja Iblis manapun.

Suara ribut anak-anak perempuan dan anak-anak basket yang tengah berlatih menyesakkan pendengaranku. Apalagi, sepertinya mereka sudah mulai sadar kalau aku, Sitri, Uchiha, dan Bu Rossweisse adalah pihak oponen yang akan dilawan Klub Basket hari ini. Aku hanya berharap kalau di antara anak basket itu tak ada yang satu SMP denganku dulu. Atau seseorang yang pernah berantem denganku.

Jika ada, maka akan jadi masalah kalau sampai mereka berteriak, 'Iblis Oren' sambil menunjuk-nunjuk mukaku.

"Selamat datang, Klub Penelitian Ilmu Gaib, Klub Basket menyambut kalian dengan senang hati." seorang wanita dengan rambut hitam sedada dengan tahi lalat di bawah bibirnya menatap Sitri, Uchiha dan Bu Rossweisse secara bergantian. Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi sepertinya ia ogah menatapku.

"Jangan buat dia takut dengan tatapan mesum dari mata mengerikanmu itu, Uzumaki-kun!"

Hah, dia salah paham. Dan bisakah si Sitri ini sedikit menjaga mulutnya?

"Aku tak pernah menatap siapapun dengan pandangan nista seperti yang kaupikirkan, Sitri!"

"Oh..., jika begitu, lalu disebut apa yang kaulakukan padaku setiap hari?"

"Tatapan mataku memang seperti itu. Jangan salahkan aku atas takdir Tuhan yang begitu kejam padaku ini!"

"Ma... ma, sudahlah! Tujuan klub kita ke sini bukanlah untuk berdebat, tapi untuk sesuatu yang lebih penting." Bu Rossweisse mencengkram kerah pundakku, dan Sitri. Dia lalu menatap cewek dari Klub Basket tadi dengan penuh sinar di matanya. "bisa bawa kami ke Takayama, Tanaka-kun?"

"Dengan senang hati." dia berbalik, dan mulai melangkah. "mari ikuti saya."

Bu Rossweisse lalu menyeretku dan Sitri mengikuti langkah wanita yang seperti kelas dua itu. Sementara Uchiha masih terpaku di tempatnya, Bu Rossweisse menendangnya. "Uchiha, mau sampai kapan kaumenjadi batu seperti itu?"

.

.

9.3

.

.

Aku sudah beberapa kali mengikuti kegiatan olahraga, yang artinya sudah lebih sekali juga aku datang ke gimnasium ini. Walau biasanya aku hanya duduk di pojokan karena tak ada teman yang bisa kuajak berkelompok, tapi aku tak pernah tahu kalau gimnasium bisa jadi seramai ini saat jam pulang sekolah. Padahal letaknya ada di pojok barat komplek gedung tua. Terisolasi dengan pohon-pohon rindang, sama seperti ruangan mewah Klub Penelitian Ilmu Gaib.

Walau tidak semua bangku terisi oleh penonton, tapi aku yakin ada lebih dari tiga ratus penonton yang duduk di sana. Semuanya perempuan, dan dari dasi mereka, kebanyakan anak kelas tiga. Dan itu kembali mengejutkanku, dengan mengetahui betapa populernya Kak Takayama di mata cewek-cewek bitch! sialan itu.

Sementara di bagian bawah, di mana aku berdiri menatap anggota Klub Basket, ada sekitar empat puluh orang cowok dan beberapa cewek yang mengenakan seragam olahraga. Dan hampir delapan puluh persen dari mereka memiliki tipe wajah ganteng yang membuat tanganku gatal untuk meninjunya. Lainnya berwajah sangar, dan sisanya cewek.

"Selamat datang, Klub Penelitian Ilmu Gaib." seorang cowok yang membuat mingguku yang berharga bersama Naruko kemarin menghilang sia-sia, menundukkan badan dengan sangat sopan di depanku, Uchiha, Sitri dan Bu Rossweisse.

Gremory juga berdiri di sana, dengan wajah memerah semerah rambut merahnya. Matanya yang membuatku pusing, karena warnanya yang sama sekali tak jelas, terlihat sayu dan agak sembab. "Terimakasih atas sambutannya yang begitu ramah ini, Klub Basket." Bu Rossweisse membalasnya dengan tersenyum.

Entah ini hanya perasaanku saja, tapi aku merasakan kalau ruangan ini menjadi agak gerah. Jaket dan perlengkapan musim dingin memang masih melekat di tubuhku, tapi aku yakin alasan kegerahanku adalah semangat tinggi para anggota Klub Basket yang sedang latihan sambil bercanda ria. Mungkin inilah yang benar-benar disebut kegiatan klub, bukan isolasi yang berkedok klub, seperti Klub Penelitian Ilmu Gaib.

Maksudku, apaan coba, klub yang isinya hanya dua orang yang kerjaannya cuma minum teh sambil lempar ejekkan?

"Dan Gremory, jangan pasang wajah sedih seperti itu. Kita semua sudah sepekat kalau ini adalah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah ini tempo hari 'kan?"

Mungkin ini yang Bu Rossweisse bilang kalau ia sudah bernegosiasi dengan Klub Basket. Aku memang tak terlalu akan apa yang sudah terjadi tempo hari, tapi, kupikir Bu Rossweisse benar-benar melakukan tugasnya sebagai pembimbing klub.

Manusia itu memiliki perasaan, dan hal itu yang membuat mereka berbeda dengan robot. Gremory adalah manusia, dan makanya, automatis dia pasti memiliki perasaan. Sebagai manusia, ia jelas memiliki perasaan untuk hidup bebas menentukan pilihan, dan praktik perebutan paksa seperti jelas melukai perasaanya. Tapi, masalahnya, meskipun Gremory nampak sayu, tak ada sedikitpun aura penolakan darinya atas pertandingan yang menjadikannya taruhan ini. Itu membuktikan kalau Bu Rossweisse telah berhasil meyakinkannya dengan suatu cara.

Dan mungkin, seperti yang manusia uban itu kemarin katakan, lebih baik aku tidak tahu caranya.

"Tenang saja, Rias-chan..., aku pasti akan melindungimu." Kak Takayama menggenggam tangan Gremory, lalu bilang itu dengan wajah yang biasa kulihat di film-film romantis picisan.

Dan saat melihat itu, aku, Sitri, bahkan Uchiha yang sendari tadi jadi batu spontan mengalihkan pandangan sambil memegang perut. "Aku mau muntah...!" mungkin ini pertama kalinya, aku dan mereka berdua melakukan hal yang sama dalam waktu yang sama secara spontan.

Lagipula, panggilan apaan dengan 'Rias-chan', apakah ia orang Amerika?

Tapi, sepertinya kejijikkan ini memang hanya berlaku untuk manusia-manusia tak jelas seperti aku, Sitri dan Uchiha. Pasalnya, Gremory malah jadi tersenyum dengan sikap cowok pirang sialan itu, dan bilang; "Hn, terimakasih, Kak Takate." wajahnya tambah memerah.

Kak Takayama hanya balas tersenyum dan kembali menatap hormat Bu Rossweisse. "Jadi, ini yang akan jadi lawan kami?"

Dia agak menekankan kalimat 'ini' saat bicara, dan aku merasa sedang direndahkan di sini. Hei, meskipun aku ini manusia paling tidak berguna dan sering bikin masalah, tapi setidaknya jangan gunakan kata ganti benda seperti itu. Hanya mendengarnya agak membuatku sakit 'lho! "Tepat seperti dugaanmu. Dan mari kukenalkan dengan mereka."

Bu Rossweisse meraih pundakku dan menepuk-nepuknya. "Ini Uzumaki Naruto, dia mungkin punya tatapan mengerikan yang sering bikin orang salah paham, tapi kadangan ia juga bisa berbuat baik 'kok." tunggu, apa maksud 'kadangan'-mu itu, Bu? Aku ini selalu berbuat baik 'lho. Tapi cuma pada Naruko. "tugasnya adalah pemain belakang."

"Dan ini Sona Sitri. Walau ucapannya kadang bikin sakit hati, tapi ia selalu jujur." sekarang ia berganti pada Sitri. Yah, kejujuran Sitri memang selalu membawa rasa sakit 'sih. "posisi, penyerang."

"Lalu, ini Uchiha Sasuke. Teman Uzumaki-kun, yang rela membantu kami, meskipun ia bukan anggota klub." sudah kubilang, ia bukan temanku, aku tak mau jadi sedekat itu dengan cowok bertulang lunak yang tak berguna sepertinya ini! "pemain tengah."

Kak Takayama mengangguk. Dan sekarang ia memanggil dua orang bertubuh tinggi dan berwajah sama-sama bikin emosi, ke hadapanku. "Tsuyouda-kun, Maketsu-kun!" lalu yang orang-orang yang dipanggol itu dengan cepat berlari.

"Ini Takeda Tsuyouda-kun. Dia punya ketetapan hati yang kuat, dan kandidat paling mumpuni untuk jadi penggantiku tahun depan." cowok pirang yang membuatku terlibat dalam masalah merepotkan itu mencengram pundak cowok bertubuh tegap dan berkuli cokelat dengan mantap. Wajahnya seperti seorang veteran perang yang sudah ratusan kali bertempur di medan juang. "dia pemain tengah, Sasuke-kun, berhatilah-hatilah dengannya."

"Mohon kerjasamanya!" dia menunduk.

"Sssa-ssa-sasuke-kun?" dan di sampingku, Uchiha nampak mau pingsan sekarang. Yah, aku tak kaget mengetahui reaksinya, dipanggil nama depan oleh orang lain, apalagi riajuu! yang merupakan eksistensi paling dibenci oleh makhluk anti-sosial sepertinya jelas mengagetkan. Malahan, aku sekarang hampir yakin kalau Kak Takayama bukan orang Jepang.

"Dan ini, Sorata Maketsu-kun. Dia masih kelas satu, sama seperti kalian. Tapi, di bidang pertahanan, tak ada yang bisa mengalahkannya. Jadi, Sona-chan, semangat!" cowok yang ditunjuk olehnya adalah pria berambut perak dengan mata bewarna hijau. Wajahnya sama menyebalkannya dengab Kak Takayama.

"Mohon bantuannya!" dia menaruh tangan kanan di dada, dan merendahkan tubuh. Seperti yang biasa kulihat di butler-butler anime zaman Victoria.

"Sona-chan, katamu?" wanita yang selalu meyakiti hatiku itu nampak begitu emosi. Bahkan tangannya terkepal sangat erat sekarang. Tapi, untuk pertama kalinya, sepertinya ia sekarang sedang menahan itu semua. Mungkin ia tahu, bicara dengan ruajuu! sialan ini tentang adab, bukanlah hal yang berguna.

"Dan terakhir, diriku sediri, Takayama Takate. Tahun ketiga dan kebetulan menjadi ketua klub ini. Posisiku sebagai penyerang, dan aku sangat menantikan bermain bersamamu, Uzumaki-kun..."

Tunggu, apa aku didiskrimasi di sini?

.

.

9.4

.

.

Setelah berkenalan tadi, aku dan dua orang ini segera bergegas berganti baju. Dan setelah selesai, Bu Rossweisse menyuruhku dan mereka berkumpul untuk membicarakan peraturan yang relah disepakati tempo hari. "Pertama, pertandingan dilakukan dalam tempo dua kali tiga puluh menit. Yang artinya, kalian akan bertanding dalam waktu enam puluh menit dengan sekali istirahat." Bu Rossweisse merangkulku dan Uchiha. Aku, Uchiha, Sitri serta Bu Rossweisse sedang dalam posisi yang biasa dilakukan oleh atlet olahraga sebelum bermain di lapangan. Membentuk lingkaran dan saling merangkul.

"Kedua, segala bentuk kecurangan akan diganjar dengan hukuman." oh, jadi mengapa ia bilang tadi kalau semakin banyak penonton semakin bagus. "jika sekali ketahuan, maka skor dikurangi sepuluh, dua kali maka dua puluh skor kita berkurang. Lalu jika tiga kali, maka automatis didiskualifikasi, dan dinyatakan kalah."

"Ketiga, keputusan mutlak di tangan wasit."

"Untuk yang keempat, aku pertama harus minta maaf padamu, Uzumaki. Tapi, jika aku tak menyetujui ini, maka pertandingan ini tak akan disetujui oleh Klub Basket."

"Eh, apaan tuh Bu?"

"Mereka setuju kalau mereka kalah, kita bisa mengambil Gremory. Dan membuat siapapun dari Klub Basket tidak bisa mendekatinya." itulah tujuan Klub Penelitian Ilmu Gaib mau repot-repot seperti ini. Tapi, tunggu sebentar, kalau tidak salah, ada hal yang selalu lupa untuk kutanyakan sejak kemarin. "Lalu apa yang terjadi jika mereka menang?"

"Itulah, Uzumaki! Mereka memintamu untuk menjadi kacung mereka selama satu bulan."

"Heh, apaaan tadi?"

"Jadi kacung satu bulan."

"I-ibu bercanda 'kan?"

"Sialnya, aku sudah tidak bisa bercanda dalam situasi seperti ini."

"T-tung..., kenapa Ibu tidak bilang sejak kemarin?"

"Pch! Sudahlah Uzunaki-kun, kauhanya akan jadi kacung mereka satu bulan. Lagipula, apalagi yang bisa Bu Rossweisse lakukan? Jika ia memberitahumu, kaujelas akan menolak. Dan pertandingan ini takkan pernah dilangsungkan."

"Ini masalah hidupku sebulan ke depan, bitch! kampret!" lagipula, seberapa bencinya wanita ini kepadaku 'sih. Sampai ia menganggap hidupku sesepele itu.

Tapi, ketika kupikir lebih dalam, apa yang ia katakan ada benarnya. "Boleh aku tahu, Bu..., apakah Kak Takayama berasal dari SMP yang sama denganku?"

"Hn, benar. Jadi bagaimana? Kauterima?"

Aku maksud sekarang. Apa keinginan Kak Takayama, dan mengapa ia mau memertaruhakan Gremory. "Tak ada lagi yang bisa kulakukan, 'kan Bu, selain menerimanya."

"Benarkah?"

"Iya."

"Baguslah kalau begitu, terimakasih, Uzumaki-kun." wanita yang jauh lebih tua dariku itu tersenyum penuh kelegaan. "Dan yang kelima, berjuanglah meski kalian tahu ini mustahil!"

Dengan ucapannya yang semangat itu, dia melepas rangkulannya dan menyuruh Sitri segera menuju tengah lapangan. Lemparan bola pertama akan segera dilakukan. Dan Bu Rossweisse sepertinya langsung asal tunjuk cewek berkaca mata itu sebagai ketua tim. Sementara itu, Uchiha mengajakku melakukan tinjuan ringan. "Semoga berhasil."

"Yah, meski mustahil, tapi, semoga berhasil." dan bersama aku dan dia berjalan menuju posisi masing-masing.

Semua pemain sudah berada di posisi. Dan beberapa detik sebelum peluit dibunyikan, ada jeda keheningan yang agak mencekam. Perhatian seluruh penonton terpaku pada manusia-manusia berbaju olahraga yang tengah bertanding satu sama lain. Angggota Klub Bakset yang lain sudah berhenti latihan dan sekarang ikutan duduk menonton pertandingan yang bagaimanapun sudah jelas arahnya ini.

Bunyi peluit yang nyaring terdengar bersamaan dengan bola yang memantul tinggi.

Lalu, kejadian berlangsung begitu cepat bagiku. Kak Takayama berhasil mengambil bola itu dengan lompatan dan tangannya yang setinggi tiang jemuran ibuku itu. Ia berlari melewati Sitri dengan sangat mudah, dan melakukan pivot di depan Uchiha. Ketika ia ada di depanku ia tersenyum, tangannya sibuk memainkan bola. Dan wajahnya menatapku. "Selamat datang, Orenjiyasha-dono!" dia melakukan crossover, lalu melempar bola dari luar bundaran pinalti.

Peluir berbunyi. "Tiga lawan kosong!"

Sialan, ini akan jadi merepotkan, pastinya.

.

.

Dalam statistik, aku yakin, kemenangan Klub Penelitian Ilmu Gaib adalah nol koma sextriliun satu persen, yang artinya bahkan mungkin Tuhan sekalipun tak dapat menurunkan mukjizat untuk menolong manusia-manusia tak berguna ini. Jujur saja, dari awal aku selalu mencoba untuk menolak ide ini. Dalam pandanganku, melakukan hal yang sia-sia seperti ini, sama saja meminta untuk dipermalukan.

Tapi, entah bagaimana, Bu Rossweisse dan Sitri tetap optimis bahwa rencana kali ini pasti berhasil. Bahkan aku kasihan dengan Uchiha yang sepertinya sama sekali dianggap, kendatipun ia memiliki peran penting.

"Enam puluh lawan sepuluh!"

Setelah serangan tiba-tiba tiga angka tadi, Klub Basket sama sekali tak mengendurkan serangannya. Bahkan dalam dua puluh menit ini, Bu Rosswesse sudah menggunakan beberapa kali time out, untuk memotong momentum Klub Basket. Tapi hasilnya sama saja. Klub Basket berulang kali, dengan mudah mencetak tiga angka.

Aku mengambil bola basket yang baru saja masuk ke dalam ring yang kujaga. Tekanan yang kualami, hampir membuatku berpikir bunuh diri bukanlah yang buruk. Tatapan para penonton dengan sangat jelas kalau mereka menghina kebodohan Klub Penelitian Ilmu Gaib. Walau biasanya aku akan dengan mudah mengabaikan berbagai tatapan intimidasi dari siapapun, tapi untuk kali ini, dengan sebanyak ini orangnya, bahkan untukku ini masih sangat sulit. Seolah, ada beban berat di punggungku.

"Uchiha...!" aku mendrabble sebentar bola itu untuk kemudian aku oper ke tangan Uchiha. Wajahnya sudah agak berbeda dari biasanya. Matanya sedikit menyala dan tampang begonya entah sudah hilang ke mana. "bawa bola ke dapan, melewati Kak Takayama, lalu, oper ke arahku. Aku menunggumu di garis tengah."

Tapi, dari itu semua, aku masih tidak ingin menjadi kacung Klub Basket selama seminggu! Jadi, meskipun aku tahu ini mustahil, tapi, aku belum ingin menyerah. Hah..., mungkin semangat Bu Rossweisse sedikit banyak sudah merusak hatiku.

"Aku mengerti."

Uchiha melakukan tepat seperti apa yang kuperitahkan. Dia sedikit memainkan bola basket ketika Kak Takayama berusaha merebut bola. Aku berlari ke tengah lapangan, dan entah bagaimana, seseorang dengan tinggi yang mengagumkan tengah menghadangku dengan muka tanpa ampun. Dia anak kelas dua, yang katanya, akan menjadi pengganti Kak Takayama setahun lagi. Kalau tidak salah, namanya, Takeda Tonobu, atau siapalah.

"Naruto!" saat Uchiha tiba-tiba berteriak namaku, aku spontan menghadap ke arahnya. Dia sepertinya kewalahan melewati Kak Takayama, jadi, dia memutuskan untuk melempar bolanya setinggi kepala padaku.

Walau aku akui keputusannya tepat. Tapi, untuk beberapa alasan, aku sedikit kewalahan di sini. Masalahnya, ketika ia melempar bola itu tinggi, cowok kelas dua ini langsung melompat untuk menangkap bola. Yang jika saja aku tak gesit mendahuluinya, mungkin bola ini sudah jatuh ke tangannya.

Aku memikirkan kemungkinan yang mungkin terjadi di sini. Sitri sudah ada di depan ring lawan, sementara Uchiha juga sudah berlari ke depan. Yang artinya, daerah pertahanan timku kosong. Jika saja bola ini direbut oleh cowok yang masih ngotot di depanku ini, aku yakin ia akan langsung memasukannya ke dalam ringku. Tapi bukan hanya itu, aku jelas tak bisa melakukan trik licikku, seperti mengintimidasinya dengan tatapan mengerikanku, atau sedikit menendang kakinya.

Kak Takayama sudah kembali ke pertahanan, dan sekarang sedang menjaga ketat Uchiha. Aku jelas tak bisa mengoper ke anak itu. Satu-satunya orang bisa kuoper adalah Sitri. Tapi meskipun ia jago menghindar, ia juga terlalu jauh dari sisiku. Satu-satunya cara untuk memberikan bola ini kepadanya adalah dengab melewati orang ini.

Jadi, aku menunggu waktu yang tepat sembari sedikit memancing emosinya. Saat mataku bertemu dengannya, aku menggunakan tatapan paling menyebalkan yang kupunya. Walau aku tahu itu tak berefek, tapi setidaknya, itu agak mengurangi ketenangannya. Dan karena itu, sedetik kemudian ia langsung menyergapku. Sudah kuduga, ia akan melakukan ini, jadi aku menyiapkan pijakan untuk memiringkan tubuhku. Lalu saat aku melakukan itu, ia terjatuh dengan muka duluan.

Dengan semua kecepatan yang kupunya, aku berlari ke pojok sisi kanan lapangan. Berlawanan dengan Sitri yang ada di sisi kiri. "Sitri melompatlah ke ring!"

Ia mengangguk.

Aku tak terlalu bagus dalam melempar tiga angka. Tapi jika aku memaksakan untuk mendekati bundaran pinalti lebih dari ini, semua orang dari Klub Basket akan langsung mengeroyokku. Jadi, aku melakukan sedikit percobaan. Lompatan Sitri jauh lebih tinggi dari yang kukira, dan tepat mengarah ke arah ring. Artinya, jika aku bisa melempar ke tangan Sitri, maka bola akan otomatis masuk ke ring.

Dan tepat setelah aku melakukan rencanaku, peluit wasit berbunyi. "Dua belas lawan enam puluh."

Aku menghela, dan Sitri menghampiriku. Tangannya menepuk punggungku. "Harus kuakui, tadi kerja bagus."

.

.

9.5

.

.

Waktu sudah menunjukkan kalau pertandingan akan segera berakhir dalam beberapa detik lagi. Dan ketika aku menyadari itu, aku sudah siap menerima dua hal. Pertama, aku gagal dalam misi penyelamatan absurd ini, kedua, aku akan gagal dalam melindungi diri dari menjadi kacung Klub Basket. Masalahnya, bukannya menipiskan skor sejak aku melakukan aksi keren bersama Sitri tadi, malah sejak itu, Klub Basket semakin gencar melakukan penyerangan, dan memerkuat pertahanan.

Skor yang tertera di papan pengumuman, terlihat sangat menyakitkan. 98 lawan 12.

Bahkan, sekarang, bola itu masih berada di tangan Kak Takayama dan dia nampaknya masih haus untuk terus lebih memecundangiku, Sitri dan Uchiha. Bangku penonton yang hampir penuh di awal pertandingan, sekarang sudah berkurang banyak. Jelas, itu terjadi karena pertandingan ini sangat membosankan.

Aku masih menahan laju Kak Takayama, dan dia seperti tak terkendali. Berulang kali ia melakukan crossover dan wajahnya dengan sangat jelas mengejekku. Aku menghempaskan tanganku untuk mengambil bola dari tangannya sekuat tenaga, tapi dengan sigap ia melakukan pivot untuk kemudian berlari menuju ring. Dan, dengan lompatan, dia mengehempaskan bola itu bersama dirinya.

"Seratus lawan dua belas."

Pertandingan selesai. Dan skor sudah sangat jelas. Klub Penelitian Ilmu Gaib telah dengan sangat malu dipermalukan oleh Klub Basket. Jadi, ketika wasit meniup peluit tanda pertandingan berakhir, aku sudah hampir tidak terkejut sama sekali.

Ini bukan pertarungan sengit yang biasa kulihat di anime-anime sport, di mana tokoh utama terus berlatih hingga malam dan ketika ia bertanding, pertandingan menjadi sangat sengit. Tapi, ketika faktanya ia tetap kalah, seluruh stadion penuh dengan duka. Seluruh pemain tim tokoh utama menangis karena selisih jumlah skor mereka sangatlah tipis. Bukan, ceritaku bukanlah jenis cerita seperti itu.

Aku sudah sangat paham akan apa yang pasti terjadi saat ini. Yang membuatku kesal adalah, mengapa selalu aku yang jadi tumbal. Aku tahu maksud Klub Basket mengincarku, alasan mereka sangat jelas. Tapi, fakta Bu Rossweisse sama sekali tak pernah membicarakan hal itu, yang artinya juga ia tak meminta pendapatku, agak membuatku sakit hati. Yah, mungkin, ia benar-benar ingin aku melakukan hal itu.

Uchiha merangkulku, dan Sitri berjalan di sampingku. "Berhentilah memasang wajah mengerikan seperti itu, Uzumaki-kun. Jika aku ini bukanlah orang yang sabar, mungkin bola ini sudah sejak tadi menghantam wajahmu."

"Sitri, jangan buat aku emosi sekarang, banyak hal yang sedang kupikirkan sekarang."

"Ooh..., aku penasaran, hal apa yang kira-kira bisa dipikirkan kepala kosong sebesar biji cabai itu?" aku memilih diam. Cewek ini sepertinya benar-benar ingin memancing emosiku.

Jadi, aku fokus untuk berjalan menuju bangku tempat Bu Rossweisse sedang menunggu. Wanita yang masih jadi perawan tua iti, menatap kami dengan wajah penuh duka, khususnya kepadaku. Uchiha masih diam saja, tapi entah bagaimana, aku sedikit merasakan eksisitensi berubah hari ini. Biasanya ia akan bilang sesuatu yang menjijikkan dengan tubuh penuh keringat, namun kali ini aku seperti tak bisa menolaknya.

"Yo... kerja bagus."

Bu Rossweisse melemparkan satu botol Pocari kepadaku, begitu pula pada Uchiha dan Sitri. Aku membukanya, dan duduk di samping Bu Rossweisse sambil meminumnya. Uchiha mengikutiku dan duduk di sampingku, sementara Sitri, ia ada di samping Bu Rossweisse. "Jadi, bagaimana, semuanya sudah berantakan."

Bu Rossweisse tersenyum sendu. Aroma kayu manis yang menguar dari tubuhnya measuk ke dalam hidungku. Mengingatkanku pada aroma orang paling menyebalkan yang hidup bersamaku, ibuku.

Semua ototku terasa kaku saat ini, dan energi yang tersisa dalam jiwaku sekarang rasanya benar-benar dalam mode kritis. Malah, di sampingku, Uchiha hanya bisa meyandarkan bahu pada sandaran kursi tanpa bisa melakukan apapun. Yah, sekali lagi, meski bagaimanapun, aku dan dia hanyalah penyendiri. Dan penyendiri yang melakukan hal heroik seperti apa yang sedang aku lakukan jelas sekali menyalahi kodrat.

"Kurasa alih-alih berantakan, bukankah ini yang memang kita rencanakan, Uzumaki?'

Wanita itu menatapku. Dan dari tatapannya, itu menjelaskan semuanya.

Kak Takayama datang bersama dua orang yang tadi ikutan bermain basket bersamanya. Dengan Gremory yang terus-terusan tersenyum dengan tangan yang menggenggam ujung baju Kak Takayama, ia mendekatiku. Walau aku tak terlalu paham akan perasaan bahagia orang lain, tapi entah bagimana, aku bisa merasakan aura merah muda yang keluar dan berhamburan dari wanita berambut merah itu. Ia jelas lega. Aku yakin begitu. Orang-orang bego yang mau memisahkan cinta sucinya sudah dikalahkan dengan telak oleh sang pangeran.

"Pertama, aku dan kawan-kawanku berterimakasih atas permainan jujur yang telah bersama kita lakukan..." Kak Takayama tersenyum. Wajahnya sama sekali tak memerlihatkan rasa capai sedikitpun, berbeda jauh denganku, Uchiha dan Sitri yang hanya bisa duduk sambil menenggak Pocari. "meski kami sangat menyayangkan hasil ini."

"Tapi perjanjian, tetaplah perjanjian..., Rias-chan harus tetap bersamaku, dan Uzumaki-kun harus melaksakan tugasnya. Seperti apa yang dijanjikan."

"Aku akan menerima hukuman itu."

Sudah berulang kali aku bilang, aku sejak tadi sudah paham akan jadi apa akhirnya. Alasan mengapa Kak Takayama mau menerima pertandingan yang sama sekali hanya merepotkannya ini, dan mengapa harus aki yang menjadi tumbal. Ditambah fakta kalau ia sama SMP denganku, menjelaskan semuanya.

Ah, jadi inilah mengapa Bu Rossweisse optimis sekali, meskipun ia tahu Klub Penelitian Ilmu Gaib takkan pernah menang melawan Klub Basket. Apalagi, jika benar deskripsi Kak Takayama sama dengan apa yang kudengar daei Sitri saat berunding beberapa hari lalu, maka semuanya jadi benar.

Aku adalah sang Iblis Oren, hampir bisa dibilang aku adalah orang paling ditakuti oleh anak SMP, sekalipun SMA dalam urusan perkelahian. Bahkan aku hampir tak punya orang yang bisa diajak biacara kecuali otaku menjijikkan yang ada di sampingku sekarang ini saat SMP dulu. Walau aku sudah membuang nama itu ketika aku lulus SMP dengan bersekolah di Aademi Kuoh, yang notabene jauh dari rumahku, tapi sepertinya masih banyak orang yang mengincar nama itu. Apalagi, orang-orang dari SMP yang sama denganku.

Aku yakin, sekali atau dua kali, aku pernah berurusan dengan Kak Takayama. Jadi, ketika Bu Rossweisse datang kepadanya dan bilang kalau aku, Iblis Oren akan menantangnya dalam memerebutkan Gremory, maka tak ada yang bisa dilakukan Kak Takayama selain menerimanya dengan senang hati. Apalagi, aku pernah memermalukan adik kelasnya dulu di Klub Basket SMP.

Jika aku kalah dan menjadi pesuruhnya, seperti saat ini, semua harapan Kak Takayama harusnya terpenuhi. Tak lama lagi, ia pasti akan langsung terkenal, karena berhasil menakhlukkan sang pembuat onar yang telah menagalahkan semua sekolah di Tokyo. Kepopulerannya yang sudah tinggi, akan jadi tambah tinggi.

Makanya, untuk sejenak, aku berpikir. Apapun yang terjadi, aku akan sial. Jika aku mengikuti permainan Kak Takayama, meski hanya sebulan aku jadi kacungnya, tapi setelah itu, pasti orang-orang akan mengetahui keberadaanku, dan mulai membuat masalah lagi denganku. Tapi, jika aku mengikuti apa yang telah direncanakan oleh aku, Sitri, dan Bu Rossweisse..., maka semua benar-benar akan membenciku.

Jika aku menantang ulang Kak Takayama dalam pertarungan fisik, pasti orang-orang akan beranggapan kalau aku adalah berandalan tak tahu malu yang bermuka tembok. Apalagi, hampir semua orang yang menonton adalah perempuan dan penggemar beratnya Kak Takayama. Meskipun aku berhasil menang nanti, kendati aku berhasil membawa Gremory, tiga tahunku di sekolah ini pasti akan suram.

Ayo, Naruto! Berpikir! Hidup penuh masalah dengan berkelahi, atau dibenci aatu sekolah selama tiga tahun?!

Tapi, tunggu, aku teringat sesuatu. Bukankah dari awal aku memang tercipta untuk dibenci orang lain? Maksudku, aku hanyalah penyendiri dengan mata mengerikan dan suka bikin onar 'kan?

Jadi, aku berdiri, dan menatap Kak Takayama. "Mohon maaf Kak... tapi, aku ingin meminta pertandingan sekali lagi. Pertarungan fisik." dan aku membisikkan sesuatu ke kuping Kak Takayama. "Kakak tahu 'kan, kalau aku Iblis Oren?"

Dia tersentak, dan menatapku sinis. "O... Tentu saja." aku tak tahu jawaban itu untuk yang pertama atau kedua.

"Eh, t-tunggu, bukankah kausudah kalah? Mengapa kau ingin sekali me...-" Gremory nampaknya mau protes, tapi, jari tangan Kak Takayama yang menempel di bibirnya membuatnya berhenti. "Ssst, aku pasti akan melindungimu."

"Gremory-san benar, Ketua! Tak ada alasan lagi Ketua mau menerima tantangannya."

"Diamlah! Semuanya akan baik-baik saja!" pria berambut pirang itu menatapku. "jadi, apa yang kautawarkan?"

"Jika kau menang, aku akan menyerahkan diriku selama tiga tahun untuk Klub Basket, dan kaubebas menggunakanku untuk kepentinganmu." dengan begitu, ia bebas menggunakanku sebagai anjing suruhan utuk melawan musuh-musuhnya. Tentu saja itu akan merepotkanku, tapi, jika tak kuberikan hal sepenting itu, maka ini takkan berlanjut. "jika aku menang, maka, jangan bilang siapapun tentang diriku, dan tentu saja..."

Dari reaksinya, sepertinya, memang hanya Kak Takayama yang tahu identasku.

"Gremory akan jadi milikku sepenuhnya!"

Dan semua orang tersentak kaget. Bahkan Gremory langsung pingsan.

.

.

A/N: Cepet banget! Sumpah, saya nulis ini memang rasanya alurnya lebih cepet dari kereta listrik kebanggaan Jepang. Saya kembali diingatkan, kalau kemampuan menulis saya dalam genre yang perlu kecepatan alur memang sangat jelek. Entah itu Sport, Action atau apapun yang di mana lebih banyak gerak tubuh dibanding gerak otak. Lihatlah, pas saya nulis pertandingan basket saja, ancurnya gak kekira.

Tapi, ini mungkin Chapter terpanjang Eunoia yang saya selesaikan dalam sehari setengah. Jadi banyak kekurangan sana sini. Alasannya sederhana, karena untuk beberapa alasan saya membuat blunder dengan pada seseorang dan sialnya saya harus ganti rugi. Dan karena saya adalah NEET yang lagi nganggur, satu-satunya cara mengganti rugi hanyalah dengan menjual Tablet saya ini. Makanya, sebelum itu, setidaknya saya akan mengupdate satu Chap Eunoia.

Untuk jaga-jaga hingga beberapa bulan ke depan, sampai masuk kuliah, kalau-kalau saya tidak punya alat tulis. Bahkan saya mungkin akan men-suspend 30 Hari. Saya tidak bisa menepati janji saya.

Di bagian terkakhir, saya sumpah senyum sendiri. Kok Naruto jadi orang kayak gini? Tapi, biarlah... Dan chapter ini agaknya terinspirasi dari hidup saya sendiri. Saya nggak mungkin bikin Klub Penelitian Ilmu Gaib menagn melawan master basket Takayama Takate dan kroni-kroninya. Naruto bukan Ikki Kurogane yang dijuluki Worst One tapi menang lawan siapapun. Uzumaki Naruto terlebih Uchiha Sasuke adalah memang Worst One tanpa keraguan.

Saya bersama teman-teman satu jurusan pernah melawan anak kelas satu dalam bermain voli ketika class meeting. Anak kelas satu itu adalah anak yang paling sering latihan voli di sekolah, dan kami, hanya modal suka pada voli. Di waktu itu, saya benar-benar jadi Naruto yang dikelilingi banyak penonton yang mengejek saya. Tatapan mereka saya masih ingat. Dan kami kalah, tentu saja, 25 lawan 3.

Dan terakhir, mohon bimbingan dan review-nya. Semoga besok Arc ini akan segera berakhir! Dan Arc II di mana Akeno akan muncul sgera terwujud.

.

.

.

.

Moga Untung Luganda, out.