"Apa kau punya tujuan hidup?"
Jake memandang mata biru yang sedang menatapnya lekat-lekat, Sherry berada di dalam pelukannya. Dia menghela napas, dagunya bertumpu pada rambut pirang Sherry Birkin sementara tangan kanannya merangkul tubuh mungil wanita itu. Pertanyaan pertama yang diajukan pasangannya setelah beberapa jam yang lalu mereka tidak berkomunikasi lewat kata-kata, dan dari sekian ratus pertanyaan ringan… Tujuan hidup? Pria ini berpikir sejenak dan mengingat-ingat.
"Apa itu penting? Karena aku tidak tahu pasti," Jake mengacuhkan pandangan heran wanita itu dan tersenyum, "Sebenarnya pernah ada, tujuanku saat itu adalah uang untuk pengobatan ibuku. Bagaimana denganmu, Sherry?"
Kali ini Sherry mencoba melepaskan tubuhnya dari Jake, kepalanya bergeser ke atas hingga menyentuh bantal dan tatapannya kini sejajar dengan Jake Muller. Wanita ini akhirnya memilih mengalihkan pandangannya ke langit-langit kamar, menghela napas dan matanya seakan menerawang jauh.
"Lupakan, Jake… Kau pasti tertawa mendengarnya."
"Hei… Kurasa aku bisa menerimanya, supergirl." Jake masih mencoba mengorek visi hidup Sherry Birkin, "Selama bukan hal klise seperti perdamaian dunia atau keselamatan umat manusia…"
Wanita itu tertawa kecil, "Memang bukan. Eh, apa kau masih teringat pada ibumu, Jake?"
Pria di sampingnya ini hanya mengangguk kecil dan menunggunya melanjutkan cerita.
.
"Karena aku yatim piatu sejak kecil, ingatan tentang ayah dan ibuku adalah ilmuwan yang terus menerus bekerja tanpa kenal waktu. Sepertinya penelitian adalah anak kandung mereka, bukan aku. Aku tidak dicintai, seperti itu perasaanku saat anak-anak sampai tragedi Racoon City yang menewaskan mereka berdua." Sherry menghela napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Leon mengatakan anti-G yang kudapatkan adalah hadiah terakhir dari ibuku, bukti cintanya sebagai seorang ibu… Saat itu aku hanya bisa menangis, semuanya sudah terlambat. Mereka telah tiada dan aku sebatang kara."
"Setelah memiliki kekebalan G-virus dan selamat, hidupku terkurung layaknya hewan percobaan dalam perlindungan pemerintah. Kekuatanku saat itu hanyalah dukungan Claire dan Leon. Mereka sudah menjadi orang tua baru bagiku, dan aku benar-benar mencintai mereka berdua. Meskipun tetap saja ada satu hal yang terasa kurang… Kadang rasanya begitu kosong." Dia berkata lagi.
Jake melihat genangan airmata di sudut mata wanita itu, dia segera menghapusnya menggunakan jari. Sherry tertawa hampa karena dia sendiri tidak menyadari matanya mulai berkaca-kaca ketika bercerita tentang masa lalu. Mencoba berempati pada Sherry meski nasib Jake pun sesungguhnya penuh dengan derita dan kecemasan pada kesehatan ibunya, pria ini berusaha menyelami perasaan wanita di hadapannya. Sherry Birkin menarik napas dalam-dalam lalu berpaling dari langit-langit menuju Jake.
Menemukan letak mata pria itu, menatapnya.
"Keluarga," kata Sherry Birkin sambil tersenyum, "Tujuan hidupku sederhana… Aku ingin memiliki keluarga dan merasakan kehangatan cinta yang tulus dari sebuah keluarga inti."
.
.
.
BLACK INVITATION
CHAPTER 10 : THE CHASER
.
.
January 3st, 2014 – Canzoni Bay, Amozi – 04.50 AM
Matahari masih terlihat enggan menerangi sudut-sudut kota Amozi, sinarnya menimbulkan bias warna dari pantulan air di Canzoni Bay. Di pinggir dermaga itu muncul seorang pria tinggi kekar dengan tubuh basah kuyup. Dia mencoba berjalan dan membiarkan rembesan air yang menetes dari pakaiannya mengalir membasahi lantai yang kering. Jake Muller mencoba bernapas teratur setelah sekian lama berada di kedalaman air, ketika hanya memiliki sepersekian detik mengisi paru-parunya dengan oksigen lalu harus kembali menyelam dan berenang sekitar 300 meter untuk menghindari kawanan pengejarnya di sekitar lokasi.
Begitu menyentuh daratan, pria ini langsung mengecek barang bawaan. Mendapati ponsel dan 909 masih menemaninya, paspor dan beberapa lembaran uang Amozi yang aman pada sebuah plastik tahan air. Ketika merogoh kantong kiri, jari-jarinya menemukan benda lain… Chip data yang didapatkan Sherry dari informan. Jake teringat Sherry menitipkan chip data tersebut sebelum masuk ke Raito Inn, dan pria ini belum sempat mengembalikannya. Chip yang disimpan pada sebuah kotak kecil bermaterial khusus berlogo D.S.O itu ia masukkan lagi pada kantong kirinya. Dia menggerutu ketika membuka sepatu dan berusaha mengeluarkan air yang tertinggal di dalamnya. Langkah-langkahnya terasa basah dan lengket akibat air asin, sebuah sensasi yang ia benci.
Merasa pakaian basah tidak membantunya menahan rasa dingin di pagi hari, ia melepaskan lalu melempar pakaiannya begitu saja masuk ke dalam tempat sampah. Pria ini bertelanjang dada dan membiarkan angin pagi menerpa kulitnya, dia terus berjalan menyusuri pinggiran menuju lokasi Sherry akan menemuinya satu jam kemudian. Dia berharap partnernya itu selamat, berdoa Sherry Birkin cukup pintar untuk melarikan diri. Tidak, dia sadar wanita itu memang pintar… Hanya saja jumlah pengejarnya terlalu banyak. Ini sudah hampir melewati waktu yang ditentukan dan seharusnya para pengejar telah pergi karena para petugas sudah mulai berdatangan.
Jake berjalan menuju sebuah ruangan staf yang terbuka dan menemukan beberapa tumpukan pakaian yang disimpan di sebuah lemari. Semua pakaian tersebut adalah milik para staf yang bertugas karena mereka harus mengenakan pakaian dinas lengkap. Tanpa pikir panjang ia mengambil pakaian tersebut lalu menukarkan semua pakaiannya yang basah ke dalam salah satu lemari. Setelah nyaman berganti pakaian, Jake segera melanjutkan perjalanan menuju pintu depan dockland atau dermaga dimana sebelumnya mereka telah sepakat untuk bertemu. Selama sepuluh menit ia mondar-mandir disana, tidak ada tanda-tanda sedikit pun mengenai keberadaan wanita berambut pirang yang menjadi partnernya. Jake berlari kecil memutar sisi dermaga ke tempat ia menaruh kendaraan untuk memastikan keberadaan Sherry.
.
.
Beberapa meter sebelum ia mencapai pagar pembatas dermaga tersebut, ia melihat jalur kuning telah disematkan oleh polisi. Yellow line yang mengindikasikan bahwa polisi telah mencium ada tindak kriminal dan membuat Jake Muller tidak dapat masuk ke dalam. Tiba-tiba seorang petugas menepuk pundaknya, ia melihat Jake yang berpakaian setelan kemeja layaknya pegawai kantoran. Jake menoleh dan melihat salah seorang polisi masih sibuk menatapnya dari atas kepala hingga ujung kaki.
"Hei, apa yang kau lakukan disini?" polisi itu bertanya dengan bahasa lokal.
"Ah itu… Aku berniat mencari pekerjaan, tapi sepertinya aku datang di saat yang kurang tepat." Jake menjawab dengan fasih menggunakan bahasa lokal yang sukses mengaburkan identitasnya sebagai turis, "Kenapa ada garis polisi disini? Apa yang terjadi, Pak?"
Polisi tersebut berdeham dan memikirkan jawaban yang paling pas untuk menghindari pertanyaan berikutnya dari masyarakat awam, "Ada yang terbunuh dan sebuah pistol berperedam suara milik militer tertinggal di dalam… Polisi masih menyelidikinya. Kau datang di saat yang kurang beruntung, Nak."
"Apa korbannya wanita?" Jake berusaha sebisa mungkin mengurangi nada gusar dalam suaranya, terutama setelah mendengar pistol yang tertinggal adalah Browning Hi-Power yang menyerupai senjata Black Spider. Sekaligus yang dibawa Sherry Birkin dan sidik jarinya pasti menempel disana.
"No, No… Keduanya petugas pria! Pistol itu terjatuh di daerah kargo, sudah sebaiknya kau pulang dan mencari tempat lain untuk bekerja. Jangan pikirkan masalah yang bukan urusanmu!" petugas polisi itu pun menyuruh Jake segera pergi meninggalkan lokasi dermaga, dengan demikian Jake pun tidak dapat mengambil kembali motor curiannya.
Hati Jake Muller terasa gamang, terlebih ketika menyadari kemungkinan terbesar dari keberadaan Sherry adalah ; partner wanitanya itu tidak berhasil menuju tempat yang mereka janjikan. Seharusnya dia tidak berpencar dengan wanita itu, seharusnya dia tetap ada di sisinya. Seharusnya dan seharusnya, semua amukan batin Jake tidak dapat mengubah satu kondisi apa pun. Dia hanya dapat menghela napas dan mengepalkan tinjunya akibat rasa menyesal.
Sial, Sherry Birkin tertangkap…
.
Jake segera menyalakan ponselnya, beruntung telepon genggam tersebut dirancang tahan air seperti halnya produk perlengkapan militer. Pria ini meninggalkan lokasi dermaga dan berlari-lari kecil menuju jalan raya. Berharap ada bus umum atau taksi yang melintas sekaligus mencoba menelepon Leon. Dia kembali mengumpat setelah nomor agen D.S.O itu tidak aktif. Beberapa petugas yang datang untuk bekerja satu per satu dilewatinya dan tanpa sadar kini ia berada di sebuah trotoar pemberhentian bus umum. Pria yang gusar karena terburu-buru ini belum juga menemukan kendaraan umum setelah sepuluh menit berada di halte. Akhirnya dengan terpaksa ia memberhentikan salah satu motor karyawan dermaga yang melintas.
"Hei, Pak… Apa kau berniat mengantarkan aku ke suatu tempat? Uang ini lebih dari cukup untuk membayarnya." Jake mulai berbicara menggunakan bahasa lokal sambil mengeluarkan semua uang yang tersisa.
.
.
.
Unknown Place, Amozi
Suara langkah kaki adalah satu-satunya suara yang dapat didengarnya dengan jelas. Wanita itu merasa silau ketika penutup kepalanya dibuka. Dia memincingkan mata, penglihatannya harus beradaptasi pada secercah cahaya yang menyorotnya di ruangan gelap dan lembab itu. Sherry Birkin akhirnya mendapati tubuhnya berada di sebuah ruangan menyerupai gudang tua, dengan posisi tangan terangkat, diikat dengan rantai pada sebuah tuas besi. Kakinya yang juga terikat berada sekitar dua puluh sentimeter dari tanah, tubuhnya terasa kebas dan beberapa ototnya kram. Ruangan remang itu hanya diterangi sebuah lampu panjang, di sebelahnya terdapat baling-baling kipas angin berukuran besar di langit-langit.
Cahaya matahari yang menembus dari celah jendela menghasilkan bayangan dari setiap benda yang disinarinya. Setelah beberapa detik berusaha meneliti tempat ia disekap, penglihatan Sherry Birkin telah beradaptasi dengan sempurna. Ternyata wanita itu tidak sendirian. Di hadapannya telah berjejer para kawanan jubah hitam yang tampak seperti malaikat pencabut nyawa dengan senjata laras panjang, dan hanya ada satu orang yang duduk manis di sebuah kursi. Pria bersetelan hitam itu duduk dengan tenang di tengah-tengah barisan si jubah hitam sambil melipat kedua tangannya, di antara sela bibirnya terselip sebuah cerutu. Sherry berusaha menangkap wajah orang itu meski dengan pencahayaan yang terbatas, tapi dia sama sekali tidak mengenalnya.
Pria ini menyadari agen pemerintah itu sedang mengamatinya, ia tersenyum dingin sambil merentangkan kedua tangannya seperti menyambut seorang tamu kehormatan.
"Selamat datang di kediamanku, Agen Birkin…" dengan suara beratnya pria itu menyapa, "Perkenalkan, namaku Allan Groves, pemilik semua yang ada dalam organisasi Black Spider. Suatu kehormatan bertemu langsung denganmu Nona… Hmm, supergirl? Kupikir panggilan itu cocok untukmu?"
.
Sherry Birkin berusaha tetap tenang, tidak menunjukkan emosi saat pemimpin Black Spider itu memanggilnya dengan sebutan yang sama dengan Jake Muller. Dia meneliti wajah pria berusia sekitar lima puluh tahunan itu, tampak berwibawa sekaligus berbahaya dibalik perangainya yang tenang. Groves identik dengan cerutu yang tidak pernah terlepas dari selipan bibirnya, dia menghela napas dan asap pun membumbung keluar dari mulut pria itu. Groves akhirnya berdiri dan berjalan perlahan menghampiri agen rahasia Amerika Serikat di hadapannya, sambil menyunggingkan sedikit senyum ia berhadap-hadapan dengan Sherry. Wanita ini memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan waspada.
"Kau pasti tahu kau diincar untuk dieliminasi sejak awal jika saja J-025 tidak berkhianat? Ya… J-025 adalah kode partner pria yang bersamamu, mantan anak buahku. Tujuanku adalah chip data yang ada padamu, jadi bekerjasamalah maka semua akan menjadi lebih mudah. Dimana chip data itu, Nona?" Groves bertanya.
Sherry mencemooh dan membuang muka, "Maaf, aku tidak bernegosiasi dengan teroris."
Jawaban berani agen wanita itu kontan membuat Groves tertawa. Gelak tawanya terdengar mengerikan, menggema di seluruh ruangan luas itu sebelum keadaan kembali hening.
"Jawaban yang bagus dari budak pemerintah, Nona… Supergirl. Aku tahu partnermu akan datang untuk menyelamatkanmu sambil membawa chip datanya. Sampai saat itu kau bisa terus hidup untuk memohon pengampunan dosa, tapi kurasa doamu tidak akan memakan banyak waktu." Allan Groves menatap Sherry dalam-dalam lalu mendekatkan wajahnya ke arah telinga wanita itu, melanjutkan perkataannya setengah berbisik, "Jadi selama kita menunggu pangeran berkuda putih-mu datang, bagaimana jika kita… Sedikit bermain-main?"
Tangan kanan Groves menggapai tubuh tawanannya, jemarinya mulai menjelajahi bentuk rambut, lekuk wajah juga bibir Sherry Birkin. Dari bibir yang ranum itu jari-jari Groves turun ke daerah dagu lalu menuju lehernya sementara mata Groves terus menatap bola mata biru wanita itu. Merasa dirinya dilecehkan dan jijik pada pria yang sedang menyentuhnya, wanita ini meronta seolah-olah siap meludahi wajah Allan Groves. Tindakannya gagal pada gerakan kilat Groves yang lebih dulu menutup mulut Sherry dengan tangan kiri sementara tangan kanannya masih berada pada leher wanita itu. Dia terkekeh melihat respon tawanannya. Kuku pimpinan Black Spider ini menggores kulit Sherry layaknya pisau tajam, seketika menimbulkan luka dan meneteskan darah.
Sherry mengerang kesakitan dan tidak berdaya, sementara G-Virus langsung beregenerasi untuk menyembuhkan luka. Kali ini ia menyadari orang di hadapannya memiliki kekuatan di luar batas manusia normal. Groves tertawa kecil melihat lawannya yang juga memiliki kekuatan super tampak sedikit ketakutan. Sherry Birkin tanpa sadar masih terbelalak pada apa yang baru saja terjadi.
Bagaimana mungkin sebuah goresan kecil kuku langsung membuatnya berdarah?
.
"Kau tidak perlu meludahiku, Nona. Aku tidak tertarik pada pelecehan jasmani seperti yang kau pikirkan…" dengan jari telunjuknya ia menyapu tetesan darah di leher Sherry lalu menjilatnya.
Sapuan itu membuat Groves melihat bekas luka yang telah menutup sempurna akibat reaksi G-Virus, dia tersenyum lebar seperti menemukan harta karun. Data informasi yang didapatnya ternyata benar, Sherry Birkin adalah salah satu survivor dari Racoon City yang terinfeksi oleh G-Virus dan berhasil selamat. Bukan hanya sekedar selamat, virus itu menyatu dengan sistem tubuhnya sehingga menimbulkan kekuatan baru. Penyembuhan, dan dia melihatnya dengan mata kepala sendiri. Seringai pria paruh baya ini benar-benar terkesan dingin dan membuat bulu kuduk Sherry berdiri, tanda bahaya.
"Aku lebih tertarik pada kekuatan yang kau miliki..."
.
.
.
Amozi International Airport, Republic of Amozi – 06.30 AM
"Ladies and gentlemen, welcome to Amozi International Airport, local time is 06.30 AM. For your safety and comfort, we ask that you please remain seated with your seat belt fastened until the Captain turns off the Fasten Seat Belt sign. This will indicate that we have parked at the gate and that it's safe for you to move about. On behalf of Fasto America Airlines and the entire crew, I'd like to thank you for joining us on this trip and we are looking forward to seeing you on board again in the near future. Have a nice day."
Kalimat terakhir berbahasa Inggris dari speaker kabin pesawat membuat Leon benar-benar terjaga dari tidurnya setelah menempuh sekitar empat belas jam perjalanan menuju Amozi, akhirnya ia tiba di negara tujuan. Tanpa sadar agen Amerika ini menguap sambil meregangkan otot-otot tangannya. Setelah pesawat benar-benar berhenti ia melepas sabuk pengaman dan bangkit mengambil satu-satunya tas ransel yang ia bawa dari bagasi kabin. Sambil menunggu satu per satu penumpang turun, dia mengeluarkan paspor untuk mempercepat proses imigrasi. Dengan senyum kecil ia membalas senyuman hangat dari pramugari cantik yang berada di depan pintu, Leon merogoh saku dan menyalakan ponsel.
Tidak butuh waktu lama bagi Leon untuk mendapatkan cap dari imigrasi sebagai turis dan bersamaan dengan itu Hunnigan telah berada di line telepon. Agen F.O.S itu dengan setia lembur larut malam di kantor ditemani setumpuk data-data dan informasi penting yang ia dapatkan ketika Leon Kennedy terlelap di pesawat. Dari pembicaraan mereka, Leon mendapat kabar bahwa ponsel Sherry tidak dapat terlacak oleh Hunnigan. Lalu dari data-data Bernard Hills yang telah diselidiki, tidak terlihat kejanggalan apapun mengenai beliau. Pria ini bahkan pernah mendapatkan skors demi melindungi agen lapangannya, dia tidak terlihat seperti seorang pengkhianat di mata Leon dan Hunnigan.
Mengalami kebuntuan, Leon merasa tidak punya alternatif lain selain membocorkan tentang kehadiran pihak lain yang membantu Sherry selama berada di Amozi, dia memberikan nomor Jake Muller pada Hunnigan untuk dilacak.
.
"Hunnigan, aku harus mengatakan ini padamu… Agen Birkin saat ini berada bersama Jake Muller, partnernya di Lanshiang. Dia ada di pihak kita," Leon mulai membeberkan yang ia ketahui, "Ini rahasia karena anak itu tidak ingin dilacak, Mr. Hills pun tidak tahu tentang keberadaan bocah ini. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Lacak keberadaan pria itu dari sistem GPS agar kita juga mendapatkan lokasi Birkin."
"Maksudmu… Jake Muller anak Albert Wesker?! Ke-kenapa dia bisa…" Hunnigan tampak menghentikan ucapannya ketika menerima kiriman nomor kontak dari Leon, "Baru sepuluh menit menghubungimu dan sepertinya aku sudah harus menambah kadar kafein. Great, Leon…"
"Aku akan mentraktirmu sebagai balas budi, Hunnigan." Leon tersenyum geli mendengar omelan agen FOS itu, "Selagi menunggu giliran taksi, tolong sambungkan aku dengan Muller sehingga kau bisa melacaknya."
.
.
.
The Seventh Building, Amozi – 07.30 AM
Motor itu berhenti di sebuah gedung modern bertingkat tujuh seperti rumah susun, dengan cat berwarna kombinasi krem dan oranye, juga teralis putih pada tiap beranda tingkat tiga hingga teratas. Dua lantai pertama digunakan sebagai fasilitas umum dimana terdapat pusat kebugaran, minimarket, juga kios makanan. Gedung itu tampak lebih bersih dan terawat dibandingkan hotel yang ditinggalinya bersama Sherry, Jake Muller turun dari tumpangan dan memberikan sejumlah uang pada si pengemudi yang tak lain salah satu petugas di dermaga. Ia bergegas memasuki sebuah pusat kebugaran di lantai dasar gedung, suasana ruangan yang berisi alat-alat berat itu masih terlihat sepi. Jake menyapa satu-satunya petugas di ruangan tersebut lalu ia berjalan ke belakang dimana terdapat kamar mandi dan deretan loker.
"Huh, tidak ada ruginya aku membayar uang sewa untuk satu loker ini," Jake menggumam seorang diri ketika ia mengatur nomor kombinasi dari sebuah gembok yang mengunci salah satu loker disana.
Selama dua bulan tinggal dan bekerja di Amozi, Jake sering mengunjungi tempat fitness ini ketika memiliki waktu luang. Pria ini juga sengaja membayar satu loker khusus untuk menaruh barang-barang pribadinya, dan si petugas lugu itu tidak tahu sama sekali pada apa yang ia simpan disana. Loker tersebut berhasil terbuka, Jake mengambil sepasang sarung tangan kulit yang ia gunakan dalam setiap misi, juga menanggalkan pakaian kantoran dan menggantinya dengan baju khusus yang telah ia simpan. Setelah memakai sepatu outdoor dan memasang perlengkapan ala mercenary, Jake menyisipkan pisau jenis survival knife dan 909-nya pada holster. Dari dalam lemari itu ia mengambil senter, dua buah magazine yang berisi peluru kaliber 9mm, juga sebuah jaket kulit cadangan.
Loker itu ditutup dan kembali dikunci, semua senjata yang ia bawa tertutupi oleh jaket. Penampilannya saat ini mirip seperti pakaian yang ia kenakan sebagai seorang mercs di Edonia, tentunya tanpa plakat berlogo Edonia Liberation Army. Kini persiapannya lengkap sebagai seorang mercenary, Jake Muller bermaksud pergi ke sarang Black Spider untuk menyelamatkan Sherry Birkin. Ruangan ganti itu tidak dilengkapi CCTV maupun alat pendeteksi metal, ditambah lagi si petugas yang cukup akrab dengan Jake tidak pernah mencurigai bawaannya. Dia keluar dari tempat itu ketika menyadari ponselnya berdering dari sebuah nomor private, sambil mendengus geli tangannya menekan tombol terima. Ia hanya diam dan menunggu suara si penelepon.
.
"Halo, apakah ini Jake Muller? Perkenalkan, saya Ingrid Hunnigan dari F.O.S - Amerika Serikat dan mendapat nomor ini dari Leon Kennedy. Sebelumnya saya me-"
"Yeah yeah yeah simpan basa-basimu, lady. Katakan apa maumu setelah berhasil mendapat nomor ini?" Jake dengan nada sarkastik memotong pembicaraan Hunnigan.
Pembicaraannya dengan agen wanita itu tidak berlanjut, beberapa detik hanya berisi keheningan dan jeda waktu tersebut digunakan Jake untuk memanggil sebuah taksi. Dia telah duduk di jok belakang ketika suara pria berambut boyband yang dikenalnya itu mulai bicara, Leon telah tersambung dengan Jake melalui akses Hunnigan.
"The Hell… Kau sudah melacakku dari satelit, Om blonde?!" Jake berdecak kesal, "Dan nomorku ini kini dengan sukses tersebar di data agensimu melalui wanita tadi, ugh… Sh*t."
"Kalau tidak keberatan aku juga berniat mencantumkan profilmu di Facebook dan Twitter," Leon dengan candaan khasnya menanggapi bocah berusia hampir dua puluh dua tahun itu, "Jangan khawatir karena nomormu akan tetap jadi rahasia, Jake. Ngomong-ngomong saat ini aku ada di Amozi untuk membantu kalian. Apa Sherry ada bersamamu? Aku tidak bisa menghubunginya."
Jake terdiam ketika mendengar Leon juga berada di Amozi, dan bibirnya lebih terkatup lagi ketika pria itu menanyakan posisi partner wanitanya… Yang tertangkap oleh Black Spider. Butuh waktu sampai dia berani menjawab pertanyaan itu.
"Sherry… Dibawa oleh mereka. Sorry..." kata maaf itu terdengar lemah, sifat Jake yang tidak terbiasa mengucapkan maaf membuat harga dirinya seakan jatuh, namun kali ini kata maaf itu lebih berasal dari rasa bersalahnya.
"APA?!"
Jake sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya ketika Leon menaikkan nada suara karena terkejut. Pria ini berusaha menjelaskan situasi ketika mereka berpencar dan sepertinya agen Amerika itu tertangkap ketika berusaha menyeberang via air. Dia kesulitan mencari kata-kata pengganti untuk menceritakan kronologis agar tidak terdengar mencurigakan di hadapan supir taksi yang mengantarnya. Leon tampak masih terkejut pada perkembangan selama ia tidak dapat dihubungi, pria ini berniat segera bertemu dengan Jake untuk menyelamatkan nyawa Sherry Birkin.
.
"Jarak dari bandara sedikit memakan waktu. Suruh teman wanitamu melacak posisiku karena aku tidak ada waktu membuat peta apalagi menunggu kedatanganmu di cafe." Jake memberi instruksi pada agen senior itu.
"Aku harus terus berkomunikasi untuk mendapatkan lokasimu, oh dan kuharap kau menyisakan sedikit 'pesta' pada tamu yang datang terlambat ini, kiddo."
Jake Muller telah mengganti sarana komunikasi dengan sebuah wireless headset yang terpasang di telinga kirinya, dengan demikian dia tidak perlu repot memegang ponsel ketika harus bereuni dengan para laba-laba. Baik Leon maupun Jake memilih untuk diam meskipun ponsel mereka tersambung satu sama lain. Tidak terpikir pembicaraan lain dari dua orang pria yang hubungannya hanya tersambung oleh seorang wanita, begitu pikir Jake. Kira-kira setelah menempuh dua puluh menit perjalanan, taksi berhenti di sebuah kawasan pinggir kota yang didominasi oleh bangunan industri, mobil itu dikelilingi gedung-gedung menyerupai pabrik dan gudang besar.
Sebelum menerima bayaran, si supir taksi meyakinkan penumpangnya pada tempat tujuan Jake, menyangka pria itu salah alamat. Kawasan ini tampak tidak berpenghuni lagi akibat kebakaran besar-besaran yang menghabiskan beberapa perusahaan, kerusakan parah membuat pemerintah Amozi memindahkan aktivitas kawasan industri ke daerah lain. Kini daerah ini dianggap mati dan hanya digunakan sebagai tempat penyimpanan oleh beberapa perusahaan kecil. Daerah sepi ini juga terkenal akan tingkat kriminalitas yang tinggi. Jake Muller turun dari taksi setelah menyerahkan uang, ia menunggu sampai kendaraan umum tersebut benar-benar meninggalkan lokasi. Dia menghela napas lalu berjalan menyusuri gudang-gudang tak berpenghuni, menuju kawasan yang lebih dalam.
.
"Aku sudah sampai di lokasi, kurasa komunikasi di dalam akan sedikit sulit jadi catat posisi ini baik-baik." Jake berbicara sambil memincingkan mata ke sekelilingnya, "Hnn… Dan mengingat bangunan di sekitarnya serupa, aku akan meninggalkan petunjuk pada tempat pesta yang seharusnya kau datangi."
Sepertinya Leon memastikan pada Hunnigan tentang lokasi Jake sebelum ia menjawab, "Oke, aku sudah menandai posisimu. Kita bisa memutuskan komunikasi sekarang, berhati-hatilah Jake."
Setelah mengatakan itu Leon menutup pembicaraannya, Jake memandang sekitar dan menghirup napas dalam-dalam. Lokasi itu langsung membangkitkan memorinya pada tempat dimana ia pernah bekerja, sarang para Black Spider. Dia tahu para mercenaries yang tersisa masih berjumlah banyak dan bagi sebagian orang datang kesini adalah jalan termudah menuju kematian. Jake Muller mengambil 909 dari holster, dia yang masih menghafal bekas markasnya berhasil menghindari sebuah CCTV tersembunyi dan berjalan mengendap-ngendap mendekati sebuah bangunan luas dengan tampak seperti gudang tak terpakai. Dinding-dinding yang mengelupas bekas terbakar, seng bangunan dengan cat hitam itu sudah berkarat dan beberapa bagiannya menganga. Tidak salah lagi, ini memang tempat yang ia cari.
.
Dia telah sampai di markas Black Spider.
.
Jake melihat papan kayu bertuliskan 'WELCOME' milik perusahaan terdahulu sebelum mereka pindah karena insiden kebakaran. Dia mengambil papan yang sudah sedikit usang tersebut, kemudian Jake menancapkan pisaunya hingga papan dan pisau itu menempel bersamaan tepat di dinding gudang sebagai tanda untuk Leon. Dengan hati-hati ia mendorong gerbang depan berwarna hijau tua yang tidak terkunci dan memasuki lorong gelap mencekam yang dulu selalu dilewatinya. Dia diam sejenak ketika semua memorinya tentang misi bersama Black Spider berputar di dalam kepala seperti rangkaian flashback, kesan déjà vu di otaknya membuat Jake Muller berdecak.
"Home sweet home…" lontaran sarkastik keluar dari mulut Jake ketika mengokang senjatanya, "Saatnya pesta reuni dengan para teman lama."
.
.
.
Bersambung
.
.
Author's Note :
Yeah Chapter sepuluh selesai!
Sedikit sisipan tentang Jake x Sherry 'pillow talk', Jake punya loker khusus di tempat langganannya, dan Leon yang niat sebarin profil Jake di Facebook plus Twitter, hehehe. Saya pastikan ini sudah memasuki klimaks cerita Black Invitation dan setelah bertapa akhirnya diputuskan cerita ini tidak lebih dari 15 CHAPTER.
Di chapter ini memang banyak potongan situasi per tokoh karena keadaan mereka yang berbeda satu sama lain dan kayaknya perlu diceritain. Saya harap nggak bikin pusing dan terkesan bertele-tele, di chapter depan saya usahakan full action jadi doakan ceritanya bisa lebih menarik dan semoga jangan bosan buat baca lanjutannya ya :)
Saya berterima kasih buat semua pembaca yang nongkrongin cerita ini, kaget juga lihat jumlah views Black Invitation… saya nggak nyangka yang baca RE fanfic bahasa Indonesia BANYAK BANGET. (O_O)b
.
Balasan review chapter 9 :
RedApple790 : sudah dipastikan setelah kening berkerut-kerut muncul psikopat mode-on yang hobi mencekik, hmm... *kabur dari senpai, takut dicekik*.
Foetida : Baunya sampai terciumkah? Hahaha tikusnya yang itu atau yang itu? Nanti ada penjelasan lebih detilnya kok.
Zenobia : Thank you buat reviewnya! Iya kaburnya pakai sprei, kalau pakai sarung bantal kependekan gan *ditabok*. Rating M biar aman nulisnya…
Saika Tsuruhime : Hehehe sengaja Allan Groves saya bikin nggak segitu gampangnya dapet kekuatan, sama kayak Sherry... Dia nggak pernah minta superpower, cuma tiap orang bisa gunain kekuatannya dalam skala & keperluan yang beda-beda. Jadi jahat / baik kan pilihan tiap orang xD
Fika : Thank you sist buat reviewnya dan maaf jadi sedikit repot karena option ratingnya harus diubah dulu. Supaya gampang ratingnya diubah jadi ALL aja :D
Vanbrugman89 & guest : yang mukul Allan nggak tau siapa pokoknya dia pingsan dan ditangkap. Thank you buat reviewnya :D
Roquezen : ehm mulut Jake memang pada dasarnya kasar kan sist, nggak aneh juga kalau dia bilang gitu ke Sherry hahaha. Groves ibaratnya jatuh tertimpa tangga tapi dapet durian runtuh! Arthur… Liat di chapter-chapter berikutnya ya :D
Ray : Thank you gan reviewnya. Yup Sherry tertangkap, dan di chapter ini adalah persiapan Leon-Jake + bantuan Hunnigan buat selametin doi. Soal baju sih saya nggak ambil patokan dari game, semua serba imajinatif aja gimana readers yang baca. Kalau untuk penampilan Jake di chapter ini sampai akhir, saya rasa bisa dibayangkan mirip yang pakai jaket panjang (tanpa embel-embel logo Edonia Liberation Army). Penampilan Leon juga mirip yang pertama- baju biru pakai jaket kulit kecuali celananya warna hitam, pakaian Sherry gimana agan aja *asal jangan dibayangkan yang aneh-aneh lho hahaha*
.
Baiklah, seperti biasa saya tunggu komentarnya untuk chapter kali ini, segala bentuk review, (syukur kalo follow dan fave), atau ide, kritik, etc. Terima kasih SEKALI LAGI kepada tiap pembaca yang mau meluangkan waktu untuk baca dan me-review cerita ini.
Sampai jumpa di chapter berikutnya!
-jitan88-
