Hi, everyone!

Anne datang lagi dan kali ini Anne post pendek banget, loh. Hanya untuk menunjukkan tulisan Ginny yang dimuat di Daily Prophet seperti yang dijelaskan di chapter sebelumnya. Nah, walaupun sedikit semoga bisa menjawab penasaran bagi kalian yang mau tahu apa yang diungkapkan Ginny dengan tulisannya!

Anne balas review dulu!

Ninismsafitri : Rita sebuah bencana.. nggak ada dia nggak asik, hehehe :)

BlaZe Velvet : Hahaha.. bener, kan, Rita itu biang keseruan! :P

NrHikmah20 : owww.. peluk sini kalo kangen! :)

Zielavienaz96 : hahaha aku juga ngerasa kamu yang kejam kalo begitu *ditabok* :)

Alicia keynes : wow, kejam! Lily harusnya mati? Hem! :)

AMAZING : ini lagi minta Lily mati.. hadehhh kejam-kejam, ya, readers! Hehehe makasih ya doanya, chapter ini bakal tahu apa yang ditulis Ginny :)

Amerina Hamada : ayo siap siaga dengan datangnya Rita! :)

Ulilil Olala : lagi-lagi ada yang mita Lily dibunuh aja.. kasihan banget ya sih Lily didoain jelek mulu, hehehe.. lihat saja lah :)

Afadh : Ilvermorny itu loh sekolah sihir yang ada di Amerika, cek Pottermore deh sudah ada seleksi buat masuk asramanya juga. Wah, sebenarnya nih ya, setiap nulis soal Rita aku juga negbayanginnya sama presenter acara yang kamu maksud. Namanya kan sama-sama berawalan huruf R. Kepo banget jadi orang dia itu, hehehe.. jadi kamu udah bener bayangin si kak R itu aja buat Rita. Kalau penyakir Lily bukan glukoma, ya. Glukoma memang penyakit keturunan, tapi untuk Lily ini beda lagi, tapi aku lupa namanya, hahaha.. :)

Rovvxhyo80 : author tahu tapi kadang reader mulai penasaran ingin tahu, hehehe :)

Mrs. X : lanjut! :)

Dande Liona : Hi, nangisnya diem-diem, ya? Hehehe berharap Rita melakukan yang terbaik ya, emmmm bisa nggak ya? Hehehe *tiba-tiba hopeless* yeeee :)

Langsung saja, deh!

Happy reading!


HATI TAHU KAPAN IA HARUS SETIA

oleh Ginevra Potter

Bertemankan selembar kertas dan pena bulu, saya menghabiskan setiap malam di meja tunggal dalam kamar utama rumah besar kami. Kata pertama yang wajib akan saya tulis adalah setia. Selalu setiap malamnya, tertulis dengan dada yang sesak hanya untuk satu orang. Terserah anda menyebut ia siapa. Namun bagi saya, ia tetap suami saya. Ya, sederhana dalam sebuah kata. Setia. Saya setia pada suami yang menghilang di saat saya mengharapkannya untuk pulang. Kami saling memahami tentang masalah ini. Paling tidak anda memegang kata-kata saya.

Sejak saat itu, saya hanyalah seorang wanita dengan hati tanpa cinta.

Kali ini, tolong pahami hati saya.

Ketika janji itu terucap, setia dalam suka maupun duka, saya memilih pesan 'suka' untuk satu malam itu. Kami, saya dan dia, akan menambah satu anggota keluarga baru. Semua akan spesial jika dia adalah orang pertama yang tahu tentang keberadaan cabang arus darahnya yang baru dalam tubuh saya. Gumpalan darah di tubuh saya ikut menanti ayahnya pulang.

Hingga berita itu datang, seketika seluruh kastil Hogwarts serasa berubah laksana pasir. Saya berdiri tepat di tengah-tengah. Tertibun gunungan pasir hingga memenuhi seluruh rongga napas saya.

Saya mati. Suami saya mati.

Tapi, tolong pahami lagi hati saya.

Saya hanyalah seorang wanita yang tercipta untuk mencintai cinta. Cinta pada satu hati namun berada di tubuh yang berbeda. Pria ini tiba-tiba menghilang. Betapa hancurnya saya ketika jejak kecil debu di sepatunya saja tak ditemukan untuk saya, untuk anak-anaknya. Raib ditelan bumi. Saksi hancurnya tebing di tepi lautan membuat saya berpikir, apakah cinta saya benar-benar telah mati?

Nyatanya, hati saya mengatakan tidak. Hati saya telah terbagi dengannya. Kami tahu kapan hati harus setia. Dalam suka maupun duka, dan kali ini saya akhirnya memilih pesan 'duka' untuk detik itu juga. Takdir membiarkan saya harus sendiri, meskipun sebenarnya ia menitipkan saya dua harta berharga dirinya. Saya tersadarkan, saya tak pernah sendiri. Keyakinan bahwa ia tetap hidup bersama mereka, buah hati kami, dimana suatu saat ia akan tahu betapa kami akan menunggunya pulang.

Selalu.

Terkadang, keinginan untuk memintanya pulang sangat besar datang begitu saja. Sama halnya ketika rindu itu memuncak tatkala ia kembali. Saya tekankan di sini, cinta saya kembali. Saya bersyukur, saat itu kabar tentang kepulangannya tak sampai tersebar luas seperti tulisan saya ini. Mungkin, kami memang ditakdirkan untuk bahagia hanya sebentar saja. Sesuatu yang tak pantas untuk dibanggakan. Kesetiaan saya sedang diuji tepat di hadapannya.

Tolong pahami hati saya!

Dia adalah suami saya, cinta pertama saya, dan.. nyawa hidup saya. Tapi apakah orang lain peduli dengan ini? Apakah dia peduli?Oh, jika benar biarkan saya mati dengan cinta. Apa balasan untuk hati saya? Baik dan buruknya telah saya berikan pada hati yang kini memilih hati yang lain. Saya tak lagi memiliki cinta darinya, untuknya. Hanya tanya untuk siapa.

Bertahun-tahun itu serasa percuma bagi saya. Saya merasa bersalah telah membesarkan dua pangeran kecil saya dengan harapan palsu Mengapa takdir selalu tak adil? Tunjukkan pada saya siapa yang harus saya percaya. Setia dalam suka maupun duka. Itu semua percuma! Wahai, sang pemilik cinta, siksaan paling menyakitkan apalagi selain kesetiaan harus hancur dengan sebuah penghianatan?

Saya tak menyalahkan hati, hanya cinta terlalu sulit untuk dimengerti. Mengapa cinta seperti ini bisa tumbuh di hati begitu kuat? Kapan saya harus kembali setia?

- TBC -


#

Pendek? Memang iya. Anne cuma nulis beberapa menit saja. Paling tidak ini bisa menjawab pensaran apa yang Ginny tulis untuk mengungkapkan perasaannya kepada Harry. Ginny hanya ingin coba bercerita meski ia tidak ingin menceritakannya secara gamblang. Anne sih mikir begini bahwa Ginny itu kan suka nulis puisi jadi paling enggak di tulisannya ini bisa sedikit memberikan gambaran perasaannya dengan narasi yang berbeda. Bagaimana? Chapter mendatang akan kembali lagi dengan kisah mereka, jadi jangan sampai kelewatan.

Maaf kalau masih ada typo dan pendek. Anne tunggu review kalian, ya! Sampai jumpa!

Thanks,

Anne xoxo