Di sebuah bangunan tertinggi yang berada di pusat Grigory, terlihat dua orang figur yang berada di sana. Satu terlihat berumur dua puluhan yang akan menginjak umur kepala tiga dan seorang lagi tampak berumur masih remaja yang terlihat seumuran atau lebih tua sedikit daripada Naruto.

"Aku tak pernah menyangka Kokabiel akan berbuat seperti itu." tukas figur yang berumur dua puluhan tersebut dengan nada trenyuh dan sedih disana. "Diantara kami para malaikat yan jatuh sekalipun, dia masih begitu memperhatikan ras manusia yang ditinggalkan Ayah bahkan sampai berniat membuat perang sebesar itu hanya untuk membuat manusia berjaya?"

"Yah itu karena rasa cintanya yang terlalu besar bukan pada ras lemah itu… Dan aku mengakuinya bahwa dia mati adalah sesuatu yang sama sekali tak terduga. Padahal dia termasuk kuat." balas remaja tersebut dengan nada yang terdengar hormat. "Dia terlebih adalah salah satu dari para pemimpin di Grigory yang bahkan bisa memaksaku menggunakan Juggernaut Drive dan bahkan mungkin saja tetap keluar sebagai pemenangnya."

"Dan hanya itu yang ingin kau katakan tentangnya Vali?"

"Kau berharap apa memangnya? Apa aku harus menangis juga dengan kematiannya? Dia mati secara terhormat mempertahankan apa yang dia percayai hingga akhir dan aku menghormati itu. Hell…, aku bahkan menghormatinya lebih dari pada para pemimpin lain yang malas-malasan sepertimu, Azazel…" tukas Vali pada Azazel yang membuat Azazel hanya terdiam dan memandang ke depan.

"Tapi tetap saja...Dia mati di tangan seorang manusia. Hal itu benar-benar merupakan kejutan untukku." tukas Azazel dengan masih memandang ke depan.

Ya…

Azazel sangat terkejut akan hal itu ketika dia diberitahu Maou berambut merah yang memberitahunya bahwa Kokabiel dan pasukannya tewas di tangan seorang manusia. Hell! bahkan lebih tepatnya seorang pemuda yang bahkan tak sampai berumur 20 tahun dan juga dia tak menggunakan sacred gear atau apapun melainkan kekuatan misterius yang seperti kekuatan cahaya.

Sulit untuk mempercayai hal tersebut pada awalnya bagi Azazel. Kokabiel adalah salah satu petarung teratas di antara Cadre yang memimpin Grigory. Dan tak seperti para pemimpin Grigory yang lain yang tenggelam dalam penyesalan ataupun berkutat dengan kemalasan, Kokabiel justru tidaklah menurun kualitas bertarungnya.

Kokabiel sendirian jika tetap hidup, dia bisa membantai pasukan satu batalion iblis yang terdiri dari para kelas Ultimate dan keluar sebagai pemenang. Bahkan Azazel tak akan meragukan jika Kokabiel dapat bertarung satu lawan satu secara seimbang melawan salah satu Youndai Maou.

Tapi seorang bocah yang masih berumur kisaran belasan tahun membunuhnya? Heck…! Mau bagaimanapun dilihat ini adalah sesuatu yang sulit dipercayai. Dan Azazel berpikir bahwa yang membunuh Kokabiel berhak masuk ke dalam rekor di dunia supernatural sebagai pembunuh sang Malaikat Jatuh yang sangat ditakuti di antara tiga fraksi selain dua iblis Mutasi yang jadi Maou sekarang.

"Pemuda ini sangat menarik, Azazel…" tukas Vali dengan nada senang yang tergambar di sana. Di tangannya terdapat sebuah foto dan informasi tentang Naruto. "Dia tak punya sacred gear dan sepanjang ini yang kita ketahui dia hanyalah seorang orphan yang dibesarkan di panti asuhan. Heh…., mungkin aku nanti bisa sedikit sparring dengannya…"

"Vali…, jangan bertindak bodoh…" tukas Azazel membalas kata-kata dari Vali dengan memandangnya tajam. "Kita nanti menemuinya hanya untuk bicara…"

"...Dan juga mungkin kita bisa mencoba merekrutnya nanti. Meski aku ragu dia akan menerima tawaran kita, tapi tak ada salahnya mencoba bukan? Jika dia menerima perekrutan kita, kau bisa sparring denganya tiap hari."

"Oh...jika dia tak mau, kita tinggal paksa saja. Apa sulitnya?" balas Vali santai

Azazel yang memandang Vali kemudian mengarahkan pandangan lagi kedepan. Melihat pemandangan wilayah Grigory yang dia pimpin dengan wajah datar. "Kita tak akan bisa memaksanya. Entah mengapa aku merasa jika kita memaksanya, maka kitalah yang justru akan sangat dirugikan." tukas Azazel yang terdiam kemudian. "Arah angin perubahan mulai kembali berhembus, Vali. Entah kemana arah angin tersebut berhembus, aku tak tahu, menuju kebaikan ataukah kehancuran, aku sama sekali tak tahu dan kurasa bocah yang mengalahkan Kokabiel itulah yang akan menjadi pusat dari hembusan angin itu."

"Heh…, jadi kau berpikir bocah yang mengalahkan Kokabiel itu ditakdirkan untuk sesuatu yang besar?" tanya Vali kemudian. "Bagaimana kau bisa berkata seperti itu?"

"Hanya insting dari ribuan tahun hidup dalam pengalaman yang membuatku berkata seperti itu" tukas Azazel yang kemudian berbalik dan mulai berjalan meninggalkan tempatnya berdiri tadi dan berkata kembali

"Ayo pergi… Kita akan menemuinya…"

Written by Sora&Shiro

All the characters that come out in this story belong to respectable owners who make them. I just borrowed the characters they made to fill my desire to make a fanfiction story. And my fanfiction story is just for fun alone. So for the readers who read this story, if you do not like it, please flame like you guys always did on bad fanfiction

Kekuatan yang keluar disini sebagian terinspirasi dari One piece, Date a Live, dan masih banyak lagi.

Alternate Reality: OOC Naruto, strong to godlike Naruto, Human Naruto,...,

. . .

Summary: Re-write fic the Last Adventure. Uzumaki Naruto harus memulai semua dari awal dengan berbagai pertanyaan di dalam benaknya tentang siapa sebenarnya dirinya. Ingatan samar yang selalu muncul dalam mimpinya adalah kunci jawaban yang selama ini dia cari. Roda takdir telah berputar untuknya dan Naruto akan membuktikan bagaimana derajat manusia lebih tinggi dibanding makhluk supernatural

"So…, Aku dipanggil kemari lagi untuk apa?" tukasku pada iblis berambut merah yang memiliki paras layaknya versi laki-laki daripada Rias Gremory. Dia tampak berumur antara kisaran kepala dua akhir yang akan menginjak kepala tiga dan instingku sangat meneriakkan betapa pria berambut merah yang ada dihadapanku ini sangatlah berbahaya dan aku harus menjauh darinya.

Dibelakang pria berambut merah yang duduk di sofa di depanku dengan santai ini, aku kembali melihat maid yang kulihat saat adegan drama antara Rias dan tunangannya berlangsung. Belum lagi para iblis lain yang juga ada di ruangan klub ORC ini tampak membuatku seperti terjepit diantara para ras iblis karena hanya aku yang manusia disini.

"Oh…, bukan apa-apa, Uzumaki-san…" tukas pria berambut merah mulai berbicara. "Aku hanya ingin mengucapkan rasa terima kasih karena kau telah menyelamatkan adikku dan semua iblis yang berhadapan dengan Kokabiel kemarin. Oh ya dan perkenalkan, namaku adalah Sirzech. Sirzech Gremory lebih tepatnya."

"Adik? Maksudmu adik itu, Gremory-san kan?" tanyaku padanya yang membuat dia tersenyum dan mengganggukkan kepalanya. Aku yang melihat anggukan kepalanya kemudian berkata kembali. "Jadi anda adalah Maou? Karena yang kutahu kakak dari Gremory-san adalah seorang Maou."

"Kau benar, Uzumaki-san. Aku adalah Maou. Lebih tepatnya Maou Lucifer"

"Souka…" jawabku dengan kini memandang ke arah "Jadi apa hanya ucapan terima kasih saja yang ingin kau katakan, Maou Lucifer?"

"Sebenarnya mungkin bukan hanya itu." ucap Sirzech padaku dengan senyumannya yang tak hilang. "Katakan padaku Uzumaki-san… Apa kau seorang penyihir?"

Pertanyaan dari Sirzech membuatku menaikkan alis. "Kenapa kau ingin tahu hal itu?" tanyaku penasaran padanya.

"Oh tentu saja, jika kau itu seorang penyihir, maka itu akan memudahkan bagiku untuk menawarkan sesuatu untukmu sebagai tanda terima kasihku karena kau telah menyelamatkan Rias, Sona dan para iblis lainnya bukan?"

"Aku tak berniat menyelamatkan mereka." tukasku dengan nada netral yang membuat senyum diwajahnya menurun menjadi sebuah garis lurus datar di wajahnya. "Aku tak berniat menyelamatkan para iblis atau para utusan gereja. Aku datang kesana hanya untuk mencegah Kokabiel membuat perang yang mengancam para manusia. Tak lebih dan tak kurang dari itu. Dan bukan. Aku bukanlah penyihir."

Aku menjawab dengan jujur apa motifku menghentikan Kokabiel. Itu semata-mata untuk para manusia. Bukan untuk para iblis atau gadis gereja yang ada disana. Mungkin aku kala itu berpikir juga untuk menyelamatkan Jeanne karena dia sahabat kecilku. Tapi selain itu, aku sama sekali tak peduli dengan para iblis atau gadis gereja.

"Tapi tetap saja seandainya kau tak ada disana, maka adikku dan yang lainnya akan tewas. Sekalipun alasanmu berkata bahwa kau ingin menyelamatkan manusia, tapi tak bisa dipungkiri kau juga menyelamatkan adikku bukan?" ujarnya kini tanpa senyuman yang membuatku hanya memandangnya heran atas analogi ucapannya barusan. "Dan kau berkata bahwa kau bukan penyihir. Lalu darimana kekuatanmu berasal Uzumaki-san? Karena dari yang dikatakan adikku, kau sama sekali tak punya sacred gear..."

"Kekuatanku sebaiknya hanya aku bukan yang berhak mengetahuinya, Sirzech-san..." balasku santai yang membuatnya menaikkan satu alisnya. "After all… jika kalian tak tahu apapun tentangku, bukankah itu bisa jadi kartu As milikku? Kurasa jika kau jadi aku, kau akan tahu bukan maksudku? Lagipula kau punya lebih banyak pengalaman harusnya mengingat kau sudah hidup ratusan tahun."

Sirzech hanya mendecih pelan sebelum kemudian tertawa kecil. "Astaga kurasa kau benar, Uzumaki-san…" tukasnya dengan senyum kembali di wajahnya. "Aku tahu benar maksud perkataanmu. Kau tak akan memberitahu apapun tentangmu meski kau dipaksa sekalipun bukan?"

Aku hanya menganggukkan kepalaku menanggapi ucapannya.

"Baiklah kembali ke topik awal. Aku langsung akan menuju bahasan saja." ujarnya dengan nada serius yang terdengar di sana. "Aku menawarkan kontrak di antara para Maou kepadamu, Uzumaki-san"

Dan selepas aku mendengar Sirzech mengatakan ucapannya. Akan bisa mendengar nada terkejut yang kutangkap dari para iblis muda yang berada di belakang.

Hal ini tentu saja membuatku bingung. "Kontrak? Kau tak mengatakan kontrak antara manusia dan iblis dimana yang melakukan kontrak harus membayar sesuatu kepada yang memberikan kontrak tersebut seperti yang kalian lakukan? Dan mengingat aku mendengar bahwa kalian tak lagi meminta bayaran jiwa, maka apa yang kalian minta dariku untuk kubayar?"

"Aku tak meminta apapun." balasnya kemudian. "Yang kuminta hanyalah kerjasama diantara diantara kita nantinya jika kau setuju. Lagipula kita nanti bisa bertukar pengetahuan. Juga untukmu ketahui, Uzumaki-san…" tukas Sirzech menjeda sejenak ucapannya dan menatap langsung ke arah mataku yang memandang ke arahnya. "Kami para Maou tak sembarangan memberikan kontrak kepada siapapun. Karena jika kami memberikan sebuah kontrak maka nantinya sang penerima kontrak tersebut akan dipandang sederajat dengan kami, para Maou…"

Dan otakku kemudian bekerja cepat menyimpulkan perkataannya dan kemudian aku tersenyum kecil di wajahku. "Wow… Kau menawarkan sesuatu yan sangat menarik, Sirzech-san." tukasku kemudian. "Kupikir kau akan menawarkan sesuatu seperti kekayaan ataupun pernikahan dengan salah satu dari klan pillar kalian."

Mendengar ucapanku membuat Sirzech tertawa kecil lagi. "Yah...awalnya para ketua menyarankan hal tersebut." jawabnya dengan nada santai. "Mereka bahkan menyarankan agar aku mengajukan pernikahan dengan adikku, Sona atau bahkan Ravel disini untukmu."

Aku yang mendengar ucapannya kemudian juga ikut tertawa kecil. Aku bahkan bisa melihat wajah Rias, Sona dan Ravel sedikit memerah disana.

"Tapi mengingat kau tak akan bisa dibujuk hanya dengan tawaran seperti itu apalagi kau mengatakan bahwa akan terus menjadi manusia. Jadi kupikir aku bisa menaikkan tawaran kami nantinya jika kami menawarkan ini padamu." ujar Sirzech lagi padaku.

"Tidakkah itu terlalu banyak?" tanyaku kemudian.

"Kurasa tidak mengingat bagaimana kau bisa membunuh salah satu dari Cadre pemimpin Grigory yang sangat berbahaya." balasnya lagi. "Kokabiel bisa kubilang yang paling berbahaya dibanding yang lainnya Uzumaki-san. Kau tahu alasannya kenapa?"

Aku yang mendengar ucapan Sirzech kemudian tertarik. "Kenapa?"

"Karena di antara pemimpin yang lain. Kokabiel tidaklah berkarat." tukas Sirzech pelan. "Diantara pemimpin Grigory lainnya, dialah yang paling tak menurun kualitas bertarungnya. Ditambah dengan pikiran liciknya dan kemampuan strategi dalam bertarung yang begitu mengagumkan darinya, dia mungkin adalah salah satu Cadre selain Gubernur malaikat jatuh saat ini, Azazel, yang bisa bertarung seimbang dengan kami para Youndai Maou dan mungkin saja keluar sebagai pemenangnya."

Dan informasi ini membuatku kaget. Aku tahu Kokabiel sangat kuat. Sial ! Bahkan di malam kemarin saat aku bertarung dengannya, aku tahu betul betapa dia sangat menahan dirinya.

Perbedaan kekuatanku dengan Kokabiel masihlah sangat jauh dalam hal kekuatan pengendalian cahaya. Aku tahu betul akan hal itu. Aku tahu serangan terakhir miliknya itu juga bukanlah serangan terkuatnya dan dia bisa menghindar dari seranganku.

"Akan kuceritakan sebuah kisah kecil padamu saat Great War berlangsung saat Kokabiel masihlah menjadi malaikat." ujar Sirzech kemudian. "Saat itu aku masihlah cukup muda. Jadi aku mendengar kisah ini dari orang tuaku. Saat itu di peperangan, dua batalion pasukan bersiap menyerang satu batalion pasukan malaikat.

Saat itu satu batalion malaikat tersebut sangat terdesak. Apalagi itu hanya berisi para malaikat kelas rendah saja dan beberapa malaikat kelas tengah juga seorang malaikat kelas tinggi dimana saat itu Kokabiel belum masuk dalam jajaran Seraph.

Dua batalion pasukan iblis yang berisi iblis kelas menengah, lima ratus iblis kelas tinggi sebagai jendral dan 100 iblis kelas Ultimate sebagai pemimpin dua batalion tersebut harusnya menang bukan? Tapi kenyataanya sangat berbanding terbalik.

Pasukan kamilah yang justru dibabat habis…"

Terkejut.

Hanya itulah yang bisa kuungkapkan saat itu. Aku bahkan tak hanya sendirian. Para iblis muda lain yang ada di ruangan ini juga sama terkejutnya denganku.

"Tentu saja kemenangan mereka tak dibayar tanpa pengorbanan mengingat jumlah malaikat yang tersisa sehabis pertempuran hanyalah tinggal 10 persen saja. Tapi tetap saja itu membuat rasa terkejut untukku juga saat mendengar cerita tersebut dari orang tuaku. Aku bahkan juga sempat tak percaya akan hal tersebut dan berkata. "Kenapa hal itu bisa terjadi". Dan jawaban orang tuaku kala itu hanya berkata bahwa Kokabiel lah penyebabnya. Dia, menurut satu iblis yang berhasil lolos kala itu berkata bahwa dia melihat sebuah lingkaran besar sihir cahaya yang memuntahkan ratusan ribu tombak cahaya yang jatuh dengan kecepatan gila tanpa henti ke arah pasukan iblis.

Dan ditambah dengan formasi gilanya yang sangat absurd yang melindungi dirinya di tengah layaknya sebuah benteng dan setiap serangan kami yang mengarah padanya ditahan oleh tubuh para malaikat kelas rendah yang rela mati demi untuknya agar dia punya cukup waktu untuk memulai sihir skala besar miliknya itu."

"Dan kau bisa mengalahkannya beserta pasukannya yang sangat mengerikan itu. Seharusnya itu sudah lebih dari cukup bagimu untuk dihadiahi posisi Jendral perang atau iblis setingkat Satan di dalam sistem kami."

Aku terdiam mendengar cerita Sirzech. Aku memang menang tapi itu hanyalah keberuntungan semata. Tak lebih tak kurang. Aku menang hanya karena elemen kejutan saja melawan pasukan Kokabiel dan aku menang melawan Kokabiel hanya karena Kokabiel tidaklah serius juga melawanku. Walau aku masihlah tetap bisa menang jika dari awal menggunakan kekuatanku yang satunya.

"Oleh karena itu Uzumaki-san. Aku menawarkan hal ini padamu. Aku tak memintamu untuk jadi iblis atau masuk ke dalam jajaran peerage manapun. Melainkan aku menawarkan agar kau bisa bersanding sama dengan para Maou. Dan saat kau dipandang sepadan dengan kami, kau akan dapat kehormatan, kekayaan dan bahkan kejayaan."

Aku hanya tersenyum saja mendengarnya. "Aku menhargai tawaranmu, Sirzech-san…" tukasku. "Apa yang kau tawarkan akan sangat menggiurkan. Bahkan jika aku menerimanya. Jelas aku akan dapat dukungan yang sangat besar. Hanya orang idiot saja yang menolaknya bukan?"

"Itu benar sekali, Uzumaki-san" tukasnya dengan senyuman di wajahnya.

"Dan sayangnya aku masuk ke jajaran orang idiot tersebut." tukasku sangat santai yang mana membuat senyum di wajah sang Maou kembali turun. "Aku sangat menghargai tawaranmu itu, Sirzech-san. Sangat menghargai. Tapi aku sudah berulangkali memberitahu kepada adikmu atau bahkan para iblis muda di belakangmu bahwa aku sama sekali tak berniat menjalin kerjasama dengan pihak manapun bukan? Harusnya kau sudah mendengar hal tersebut mengingat seharusnya adikmu itu melaporkannya padamu. Lagipula aku kini mengemban mimpi dari paman tua yang meninggalkan mimpinya padaku selepas dia seenaknya mati terbunuh seranganku. Ada kalanya, entah kapan itu terjadi, jalan pikiran yang kita ambil berbeda dan aku bisa saja menjadi musuh bukan?"

Aku bisa melihat Sirzech yang terdiam mendengar jawabanku. Mungkin jawabanku adalah sesuatu yang tak akan pernah dia sangka sebelumnya. Tapi aku tak peduli. Lagipula jalanku kini sudah jelas mana yang kuambil. Jadi tak ada keraguan sedikitpun saat aku menolak penawaran Sirzech.

Maou tersebut terdiam cukup lama. Entah apa yang dia pikirkan aku tak tahu hingga senyumnya kembali terpasang di sana dan dia kemudian bicara.

"Baiklah…. Aku menghormati keputusanmu Uzumaki-san. Mengingat sepertinya kau tak akan bisa dipaksa dan aku paham akan hal tersebut." ujar Sirzech padaku dengan nada netral didalamnya meskipun senyumnya tak hilang. "Tapi seandainya kau berubah pikiran, kau bisa memberitahuku lewat perantara adikku atau Sona maupun Ravel."

"Jadi… pembicaraan ini sudah berakhir?" tanyaku. "Jika sudah berakhir, bisakah aku meminta izin pergi? Aku harus pergi ke perpustakaan sekolah untuk mengembalikan buku-buku yang kupinjam."

"Ya." jawab Sirzech "Pembicaraan ini sudah berakhir mengingat kau sudah menolak penawaran kami. Kau bisa pergi, Uzumaki-san" tukas Sirzech lagi.

Aku yang mendengar ucapan Sirzech hanya menganggukkan kepala dan berdiri sebelum kemudian memberikan hormat lalu keluar dari ruangan klub ORC berjalan tanpa berniat menoleh ke belakang sama sekali.

...

Selepas kepergian Naruto. Semua masih terdiam. Tak ada yang menyangka sama sekali bahwa Uzumaki Naruto akan bicara seperti itu.

Bahkan para iblis muda juga diliputi rasa syok yang teramat sangat begitu pemuda yang barusan keluar tersebut menolak tawaran kontrak yang diajukan seorang Maou!

"Dia berbeda bukan Grayfia…" ujar Sirzech memecah keheningan.

"Ya, Sirzech-sama…" tukas maid yang berdiri di belakang Sirzech yang merupakan istri sekaligus ratu dalam peerage milik Sirzech itu sendiri. "Dia mampu berpikir sangat baik dan sikap tenangnya dalam berbicara dengan anda membuatku ragu dia manusia normal"

"Dia tak normal begitu dia bicara menolak tawaranku." ujar Sirzech tersenyum tipis. "Orang sepertinya tak akan ditemui dalam selang waktu seratus tahun terakhir. Aku tak menyangka orang seperti itu bisa lolos dari genggaman kita selama ini mengingat dia tinggal disini sejak kecil."

"Oni-sama…" panggil Rias kemudian pada Sirzech pelan. "Apa ini artinya kita harus mulai menjauh darinya?"

"Tentu saja tidak, Rias-tan…" tukas Sirzech membalas perkataan adiknya dengan juga menyebutkan panggilan siscon miliknya pada Rias yang membuat Rias menggerutu sebal dan membuat Sirzech hanya tertawa kecil. "Apa kita para iblis semudah itu menyerah hanya karena satu tawaran kita dipatahkan dengan mudah? Mungkin kita berbeda dengan iblis dahulu yang sangat kejam sekali. Kita sekarang hidup cukup damai di jaman sekarang. Tapi itu tak membuat sifat 7 dosa besar hilang dari diri kita bukan?" tambah lagi Sirzech dengan nada senang disana. "Kalian bisa mendekatinya lagi dan terus mencoba menariknya agar dia bisa terikat dengan fraksi kita. Coba saja terus dan mungkin dia akan berubah pikirannya lalu beraliansi dengan salah satu dari kalian. Lagipula…"

Sirzech menjeda ucapannya dan memandang ke arah pintu tempat Naruto tadi keluar. Dia berpikir juga kejadian pembicaraan barusan. Dan saat Naruti menolak tawarannya dan juga berkata yang mana dia bisa menjadi musuhnya suatu saat nanti, benar-benar membuatnya sangat tertarik untuk membuat Naruto masuk ke fraksi miliknya meskipun itu memakan waktu lama. Dan dia siap untuk menunggu dengan sabar akan hal itu. Lagipula bagi makhluk supernatural yang mempunyai masa hidup teramat sangat lama, waktu akan berlalu dengan sangat cepat.

"Aku ingin melihat bagaimana dia nantinya dikuasai salah satu dari 7 dosa yang berasal dari kita karena mau bagaimana pun sempurnanya dia. Akan ada saatnya dia menyerah dan tenggelam dalam salah satu dosa bukan? Mengingat dia adalah manusia sama seperti manusia lainnya yang punya hasrat dan keinginan."

xxx

"Mama…" ucap pelan Jeanne ketika dia menelepon Griselda yang saat ini masih berada di Vatikan.

"Iya sayang? Bagaimana kabarmu dan misimu? Aku dengar laporan dari Irina bahwa misi kalian sukses" ujar Griselda dari telepon kepada Jeanne.

"Seperti yang mama dengar dari Irina. Misi kami sukses dan kabarku baik. Walau kami awalnya terpojok karena ternyata lawan kami adalah Kokabiel dan pasukannya juga kupastikan mama tahu kelanjutannya bukan dari Irina?"

"Aku tahu sayang…" balas Griselda sambil menjeda ucapannya di telepon. "Mama tahu juga akan teman masa kecilmu itu saat di pantilah yang menolongmu dan juga para juniormu. Mama juga sudah melaporkan ini pada pihak gereja dan mama akan berangkat besok ke Kuoh sana untuk menemuinya. Ada yang harus mama bicarakan dengannya sayang."

"Mama akan pergi kemari?!" tanya Jeanne dengan terkejut. "Dan apa yang ingin mama bicarakan dengan Naruto?"

"Itu adalah sesuatu yang harus dia tahu sendiri dari mama. Dan itu pesan rahasia dari gereja untuknya, sayang"

"Apa intinya berhubungan untuk merekrut Naruto?" tanya Jeanne lagi.

"Kurang lebih seperti itu" balas Griselda yang membuat Jeanne sedikit marah tapi dia tahan.

Benar apa yang dikatakan Naruto. Dia akan dicoba direkrut oleh banyak pihak yang tertarik akan kekuatannya dan mulai mengincarnya saat ini. Dan dia tak akan terkejut bila sudah ada salah satu pihak yan bergerak cepat untuk merekrut Naruto meski dia yakin bahwa Naruto jelas akan menolaknya.

"Jika mama kemari, aku juga ingin bicara sesuatu, oke…"

"Dan apa itu sayang? Tidak bisakah kau katakan langsung di sini?"

"Tidak mama…" balas Jeanne pelan. "Hal yang kubicarakan ini penting dan hanya bisa kukatakan secara langsung. Jadi aku akan menunggu hingga mama sampai disini saja."

"Begitukah?..., Baiklah mama akan mendengarkannya nanti. Sekarang kau berada di mana?"

"Aku berada di penginapan tempat kami menginap, mama." jawab Jeanne lagi.

"Apa kau tahu alamat temanmu kecilmu itu? Jika kau tahu nanti bisa kau antarkan mama menemuinya? Dan bisa tolong awasi temanmu sejenak sampai mama tiba disana untuk berunding dengannya?"

"Aku tahu alamatnya karena aku sudah menemuinya, mama. Nanti akan kukatakan padanya bahwa mama ingin bertemu dengannya dan aku akan membawa mama menemuinya juga."

"Oh…, baguslah kalau begitu sayang." jawab Griselda dengan nada lega di sana. "Baiklah mama tutup dulu ya teleponnya? Mama harus mengurus sesuatu dahulu di gereja."

"Ah… iya mama." tukas Jeanne membalas Griselda. "Aku sayang padamu, ma"

"Aku juga sayang padamu, sayang…" balas Griselda. "Mama tutup ya teleponnya."

"Iya mama…" ucap Jeanne. Lalu Jeanne bisa mendengar nada suara telepon ditutup yang membuat Jeanne memandang ke arah layar ponsel miliknya sejenak sebelum memasukkannya ke kantong dan berjalan ke arah apartemen Naruto.

Naruto kini tengah berada di sebuah padang rumput kecil di pinggiran kota Kuoh. Memandang ke arah atas sejenak, dia bisa melihat awan bergerak akibat tertiup angin.

Merasakan hembusan angin dengan menutup matanya sejenak, dia merasakan kedamaian.

Dan kemudian dia membuka matanya secara perlahan dan terlihat hologram jam berwarna emas yang terlihat di mata kanannya sebelum kemudian dia bergumam kecil.

[Clockspace : Authority of space…]

Dan setelah dia menggumamkan kata-kata yang dia ucapkan. Dunia disekitarnya tiba-tiba mengalami distorsi dan berubah secara perlahan menjadi sebuah hamparan padang rumput luas sejauh mata memandang.

Ya. Naruto mendistorsi ruang dan waktu untuk membuat dunianya yang dia inginkan. Sebuah dunia dimana dia bisa berlatih untuk menjadi lebih kuat tanpa terlalu tergantung dengan kemampuan ruang dan waktu yang menjadi kartu As yang dia miliki. Sebuah dunia yang juga mengalami distorsi waktu yang melambat dan berbeda dengan waktu di dunia karena di sini dia bisa mengatur waktunya selama yang dia inginkan.

Kemampuan ruang dan waktu miliknya merupakan kemampuannya yang sebenarnya. Tak seperti pengendalian akan cahaya miliknya yang masih perlu diasah dan menimbulkan efek samping yang menguras tenaga tubuh. Kemampuan ruang dan waktu miliknya dapat dia gunakan sesuka hatinya. Namun tetap saja ada imbalan untuk setiap penggunaan dalam setiap kekuatan. Kekuatan ini akan mengurangi jatah hidupnya setiap dia menggunakannya. Namun dia berhasil mengatasinya dengan mengambil jatah hidup dari setiap tumbuhan yang ada dan dia sentuh hingga dia tak harus mengambil jatah hidup dari manusia. Dia tak pernah mencoba mengambil jatah hidup dari makhluk supernatural, tapi itu bisa dia pertimbangkan nantinya. Baginya, kekuatan ini adalah kekuatan yang seharusnya menjadi milik dewa namun malah jatuh padanya dan dia tahu betul bahwa kekuatan ini diperuntukkan agar dirinya bisa melindungi umat manusia.

Jarum jam di mata kanan Naruto mulai bergerak dan sebuah bayangan jam emas terbentuk di belakang Naruto yang ikut bergerak dan berhenti di angka 3, dia akan memulai latihannya kembali.

Sebenarnya, jika Naruto menggunakan kemampuan waktu dan ruang miliknya, dia bisa menang mudah melawan Kokabiel. Namun dia lebih memilih menggunakan kemampuan pengendalian cahaya karena dia pikir itu sudah lebih dari cukup dan ternyata dia salah dalam perhitungan. Kemampuan pengendalian akan cahaya miliknya masih terlalu rendah dan dia kini akan melatihnya lagi agar menjadi lebih kuat. Lagipula dia belum ingin menunjukkan kekuatan ruang waktunya yang sebenarnya pada siapapun. Dia hanya akan berniat dahulu tergantung pada kekuatan cahaya yang dia punya.

Perlahan di depannya, lima lingkaran emas seperti air bermunculan di padang rumput tempatnya berada dan mengeluarkan dirinya yang lain dari masa lalu yang hidup di dunia ini yang tersenyum juga padanya. Hanya wajah mereka saja yang mirip sedangkan fisik maupun hal yang lainnya sangat berbeda.

"Hoo… kau memanggil kami kembali…" tukas salah satu dari lima 'Naruto' yang ada di hadapan Naruto yang asli. "Apa kau perlu lagi bantuan kami untuk berlatih dengan kekuatan cahayamu itu, Bos?"

"Ya…" tukas Naruto kemudian lagi dengan nada serius. "Bantu aku melatih kekuatan cahayaku lagi. Paksa aku hingga batas kekuatanku dan buat aku meningkat lagi. Gunakan segala kemampuan kalian dalam kemampuan cahaya padaku."

"Itu artinya All out bukan?" jawab lagi salah satu 'Naruto' yang berbeda dengan yang pertama dengan cengiran lebar. "Kau satu-satunya diantara kami semua yang punya kekuatan waktu dan ruang. Kami semua yang ada di sini hanya punya kemampuan cahaya yang kau warisi dari kami. Kami di masa lalu kami telah gagal dalam melindungi manusia. Jadi kuharap kau tak gagal kali ini, Bos"

"Karena itulah paksa aku hingga batas tertinggi." tukas Naruto asli dengan nada serius dengan memanggil kekuatan cahayanya dan dirinya mulai terselimuti cahaya yang berkobar layaknya api yang bewarna emas menandakan dia memasuki mode Limit Break.

Berbeda dengan ketika dia memakai kekuatan cahaya saja, dimana dia tak bisa menggunakan kekuatan waktu dan ruangnya. Ketika dia menggunakan kekuatan waktu dan ruang, dia justru malah bisa menggunakan kemampuan cahayanya secara bersamaan.

"Baiklah…" jawab lagi salah satu 'Naruto' yang ada di sana sembari masuk ke dalam mode yang hampir sama dengan mode Naruto asli namun lebih kuat lagi. "Kami semua yang berasal dari waktu di masa lalumu yang hidup di dunia ini sebelum kau terlahir akan melatihmu hingga batas terkuatmu. Kau akan menangis dan kesakitan juga menderita dengan latihan ini. Tapi laluilah ini..."

Dan lima 'Naruto' yang berasal dari masa lalu itu kemudian memasuki mode terkuat mereka masing-masing pada saat kejayaan mereka di masa lalu. Semua hampir sama seperti Naruto asli namun bedanya ada yang memiliki duah buah sayap bahkan ada yang punya 4 sayap!

"Saa…," ujar salah satu 'Naruto' yang berada di depan Naruto asli. "Mari kita mulai…" tambahnya yang kemudian melesat ke arah Naruto asli dengan dibarengi yang lainnya…

Tokyo

"Jadi… Dia terlahir kembali ya?" Ujar seorang wanita dengan rambut hitam panjang miliknya serta memakai kimono putih tengah duduk di sebuah singgasana. Dihadapannya tengah berlutut seorang wanita yang memiliki sepasang telinga rubah dan sembilan ekor yang melambai-lambai di belakangnya.

"Iya…"

"Dan dia bahkan sampai bisa mengalahkan Kokabiel? Hummm… sangat menarik. Tak kukira renkarnasi darinya yang hidup dan bersanding dengan pecahan diriku saat aku menjadi Tamamo no mae sebelum Great War bisa sekuat ini padahal dia masih seorang pemuda…"

"Dewi… apa kau akan menemuinya?"

"Apakah salah jika aku menemuinya? Dia adalah renkarnasi dari seseorang yang dicintai oleh pecahan diriku dahulu. Lihatlah! Wajahnya sangat persis dan dari yang ingatan yang kuingat dari Tamamo no mae. Kemampuannya juga sama persis dengan yang dideskripsikan di laporanmu ini."

"Tapi dewi… Salah satu dari Youndai Maou, Sirzech Lucifer telah menemuinya. Dan mungkin dia sudah memberikan penawaran padanya yang membuat pemuda itu tertarik."

"Lalu?..."

"Bukankah lebih baik bila kita menungg-..."

"Katakan padaku siapa sebenarnya penguasa tanah Jepang, Yasaka?" sela sang dewi

Sang wanita bertelinga rubah tersebut terdiam dan memandang kearah sang dewi yang memandang dengan bosan ke arahnya.

"Kita, dewi…" tukas wanita rubah bernama Yasaka tersebut kemudian yang membuat sang dewi terdengar puas.

"Ya…, Kitalah penguasa tanah Jepang. Mitologi Shinto dan kalian para youkai yang kami beri perintah adalah penanggung jawab sebenarnya tanah Jepang." tukas sang dewi dengan nada puas yang juga terdapat di setiap kata-kata yang dia ucapkan. "Para makhluk supernatural dari fraksi Injil itu tak lain hanyalah penyusup yang tak tahu aturan apalagi fraksi iblis yang sampai meng-klaim kota yang bukan miliknya seenaknya sendiri tanpa meminta ijin terlebih dahulu dariku." tambah sang dewi dengan nada sinis kemudian. "Lagipula melihat dia sekilas, aku tahu dia tak akan pernah menerima tawaran iblis itu"

"Kenapa dewi berkata seperti itu? Apakah dewi yakin?"

"Aku yakin dan anggap saja keyakinan ku hanyalah karena hatiku yang bilang begitu…" tukas sang dewi dengan tertawa kecil. "Lagipula aku juga bosan terus di sini. Jadi aku ingin mengunjungi renkarnasi pemuda yang dicintai pecahan diriku itu untuk tahu lebih lanjut tentangnya… fufufu~"

Yasaka hanya terdiam saja kembali dengan memandang ke arah sang dewi dan dia tahu betul keinginan sang dewi tersebut. Jadi, tanpa di perintah, Yasaka kemudian berkata. "Aku akan mengurus pengawal untuk menemani anda nantinya ke sana, dewi…"

"Oh… kau selalu tahu apa yang kuinginkan, Yasaka. Itulah yang kusukai darimu." ucap sang dewi lagi. "Hmmm… sekarang kau boleh pergi. Aku akan kembali ke Takama-ga-hara untuk memberitahu saudari dan saudaraku tentang ini."

"Ha'i dewi Amaterasu-sama…" tukas Yasaka yang kemudian berdiri dan memberi hormat sebelum kemudian keluar dari ruangan tersebut.

Dewi Amaterasu kemudian memandang foto Naruto yang ada di laporan yang diberikan Yasaka padanya dan berkata lagi sendirian. "Fufufu~... Setelah sekian lama semenjak perang Great War berakhir tak kusangka kau juga berenkarnasi akhirnya, Naruto-kun… Bahkan setelah berenkarnasi kau tetap saja memakai nama yang sama dengan namamu dahulu saat kau bersanding dengan pecahan diriku. Oh… aku jadi ingin tahu apakah kau mengingatku atau tidak nantinya. Dan jika kau tak mengingatku nantinya, aku akan menghajarmu sampai kau ingat aku, lalu selepas kau ingat, aku baru akan memberimu kasih sayang dan cintaku…fufufufu~"

xxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Huah… ceritaku jelek atau bagus sih menurut para reader?

Dan kekuatan waktu Naruto telah muncul satu lagi dimana dia mampu membuat ruang atau dunia miliknya sendiri dan juga mengatur waktunya. Yah mungkin terlihat godlike ya…

Naruto mampu memanggil dirinya yang hidup di dunia dxd jauh sebelum fraksi Injil ada dan great war pecah yang artinya mitologi lain masih jaya-jayanya kayak Olympus, Shinto, atau Vahalla dan kemudian dia tak terlahir lagi di dunia dxd melainkan di dunia shinobi sebelum kemudian dia mati dan baru terlahir lagi di dunia dxd. Jadi buat yang baca mungkin ada yang bingung dengan fic ini aku jelaskan disini.

Itu diatas tadi adalah penjelasanku dan juga karena Naruto tak direnkarnasikan saat fraksi Injil baru ada dan sebelum great war pecah, maka data tentang kekuatan Naruto juga tak ada tentunya di kalangan fraksi injil selama ini.

Dewi Amaterasu pernah memecah dirinya dan terlahir menjadi Tamamo no mae. Aku membuatnya hampir sama kayak di Nasu-verse. Bahkan nantinya sifat Tamamo no mae akan berpengaruh pada sang dewi.

Lalu tentang Limit Break ada yang salah paham dimana itu katanya kuambil dari dragon ball. Ah aku tak mengambil Limit Break dari Dragon ball senpai~ melainkan dari game final fantasy. Lebih tepatnya final fantasy 7. Dan karena di final fantasy limit break itu serangan, aku justru mengubahnya menjadi mode kekuatan layaknya hachimon tonkou… Aku penggemar seri final fantasy jadi mungkin aku akan memasukkan beberapa variasi jurus dari final fantasy untuk digunakan di variasi jurus-jurus Naruto.

Dan… apakah ini fic jadi harem? Entahlah aku juga tak tahu. Yang jelas aku hanya membiarkan imajinasiku mengalir saja dan menulisnya.

Seperti biasa, flame me if fic that's I wrote for you is bad senpai~. Dan berikan review dan saran jika kalian masih tertarik akan kelanjutan cerita fic ini. Arigatou dan Jaa nee… sampai jumpa chapter depan… :v