Disclaimer : All characters belong to Masashi Kishimoto
The Heiress & The Bartender
.
.
Chapter 10
I'll be back for you
.
Ino terbangun di kamar tidur yang dia tidak kenal. Badannya sakit tapi hatinya lebih sakit. Kejadian kemarin seolah sebuah memori yang jauh dan begitu surealis. Ino mencoba memunguti kepingan ingatannya dan hal yang terakhir dia ingat adalah pergi ke apartemen Itachi.
Ino baru sadar tubuhnya telanjang di balik selimut. Apa yang terjadi? Dia bingung dan kemudian memandang ke sekeliling kamar yang luas dan maskulin. Di sofa yang terletak tak jauh dari ranjang Itachi tertidur pulas.
Ino menarik dan melilitkan selimut di tubuhnya. Memikirkan apa yang akan dia lakukan sekarang. Dia tidak mungkin pergi begitu saja dari tempat ini tanpa pakaiannya. Suara ranjang yang berderit ketika Ino turun membangunkan Itachi. Pria itu mengerjap lalu mengucek matanya. Setelah benar-benar sadar dia baru melihat Ino telah bangun dan berdiri di tengah ruangan tampak bingung. "Ino, Kau tidak apa-apa" Dia memandang wanita itu penuh perhatian.
"Apa yang terjadi di mana pakaianku, Mengapa aku telanjang?" Wanita itu menuntut penjelasan.
"Tenang, Aku tidak melakukan apa-apa. Semalam kau pingsan dan basah kuyup di depan pintu apartemenku. Jadi aku membuka pakaianmu. Aku tak ingin kau sakit. Pakaianmu masih di keringkan bila tak keberatan kau bisa memakai ini dulu" Itachi menyerahkan T-shirt dan celana pendek yang dia ambil dari lemari pada Ino.
Ino heran menemukan Itachi sedikit simpatik tapi tidak mengurangi kemarahannya pada putra sulung Fugaku itu.
Itachi meninggalkan Ino sendirian di kamar memberikan wanita itu sedikit privasi untuk berganti pakaian. Dia menyalakan mesin kopinya dan membuat sarapan. Mungkin wanita itu lapar.
Itachi mulai merasa khawatir ketika Ino belum muncul-muncul juga. Apa jangan-jangan Ino melakukan hal yang bodoh? Dia melangkahkan kaki hendak memeriksanya tapi Ino sudah berdiri di ambang pintu. Wajahnya begitu masam dan bila tatapan mata bisa membunuh mungkin saat ini dia sudah terkapar bersimbah darah di lantai.
"Apa yang kau dan ayahku lakukan pada Sai?"Ino berdiri di hadapan pria arogan itu. Menuntut penjelasan.
"Aku hanya memberinya sedikit pelajaran"
"Sedikit? Aku tidak yakin sedikit adalah kata yang pantas sebab Sai tidak akan sebegitu marahnya hanya dengan gangguan kecil. Katakan sejujurnya apa yang kau lakukan!"
"Sepertinya kau mengenal pria itu dengan baik Ino" ucapnya dengan sarkastis, "Ok kau mau dengar. Aku memastikan tidak seorang pun di Konoha akan memperkerjakannya dan aku membayar preman untuk memberinya pelajaran"
"Kau brengsek! Kau benar-benar berniat melukai dan menghancurkan hidupnya. Aku tak menyangka kau bisa jadi serendah itu" Ino menampar Itachi dengan keras
Itachi menyentuh pipinya yang memerah " Apa kau sudah puas? Apa kau tahu siapa Sai Shimura itu? Dia hanya anak pelacur yang besar di jalan dan menjual diri untuk hidup"
"Lalu mengapa? Sikapnya jauh lebih baik dari dirimu"
"Jadi mengapa kau kemari Ino. Hanya untuk membela Sai Shimura dan bertengkar dengganku?" Itachi merasa terusik dan cemburu. Ino selalu saja berhasil memancing emosinya dan membuat dia bersikap buruk.
"Kau sudah dengar semalam. Aku setuju menikah denganmu" Ucap Ino dengan dingin.
"Kalau memang begitu. Bersikaplah selayaknya seorang tunangan"
"Tidak akan, aku hanya setuju untuk menikah. Bukan berarti aku setuju jadi marionette-mu"
Itachi mencengkeram bahu wanita itu. Dia tidak percaya wanita itu masih saja keras kepala."Jangan menguji kesabaranku Ino. Aku hanya memintamu berhenti menentangku setiap saat. Apalagi bila kau sudah menjadi istriku" pintanya frustrasi.
Ino tidak menggubris permintaan Itachi. Wanita berambut pirang itu menatap penuh kebencian. Amarah tercurah dalam tiap kata yang dia ucapkan. "Mungkin kau menang kali ini dengan cara kotormu tapi aku berjanji akan membuat hidupmu menjadi sulit. Aku akan menjadi kejatuhanmu Itachi"
"Bencilah aku dan rencanakan kejatuhanku. Maka kau dan aku tidak akan ada bedanya. Bila hubungan macam ini yang kau inginkan, aku pastikan saat aku jatuh aku akan membawamu bersamaku. We'll burn in hell together"
Itachi melangkah ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras. Ia perlu mendinginkan kepalanya dan membiarkan Ino meresapi ancaman yang baru saja dia katakan. Itachi tertunduk. Kedua tangannya terkepal memegang sisi wastafel. Dia menarik nafas perlahan mencoba menyingkirkan kemarahan yang membutakan akalnya. Ino telah menjadi kelemahannya. Seharusnya dia adalah master bagi emosinya tapi dia malah membiarkan Ino mempengaruhinya. Ini sama sekali bukan hal yang baik.
Dia menatap dirinya di cermin. Tidak pernah dia merasa begitu bercabang dan bimbang. Itachi selalu yakin pada diri dan tindakannya tapi tidak untuk masalah Ino. Pandangan marah dan sakit hati wanita itu melukai dirinya dan bagaimana dia bisa menjadi dekat dengan wanita itu bila setiap saat dia harus mengancamnya haruskah dia berlutut dan memohon pada wanita itu untuk memaafkannya. Memberikan dirinya kesempatan?. He hates him self now.
Itachi merasa begitu lemah karena dia bahkan tidak bisa mengontrol perasaannya sendiri. Dengan satu pukulan dia memecahkan cermin di hadapannya berkeping-keping. Darah menetes dari kulit yang terbuka akibat tersayat kaca tapi dia tidak peduli. Karena itu bukan apa-apa di bandingkan hatinya yang terluka. Itachi tidak pernah menduga ternyata dia bisa jatuh cinta dan lebih buruknya lagi pada wanita yang membencinya.
Pria itu melangkahkan kakinya ke shower, menyalakan air dingin dan membasuh dirinya. Dia harus ke kantor hari ini. Masalahnya dengan Ino tidak boleh mempengaruhi kinerjanya. Cukup wanita itu mempengaruhinya secara emosional pekerjaannya tetap menjadi fokus utama.
Itachi pergi ke ruang tamu dan menemukan Ino tak lagi di sana. Dia berharap tak seorang pun melihat Ino keluar dari apartemennya terlihat berantakan dan pakaian yang tak layak. Dia tidak butuh rumor menodai reputasinya.
.
.
Ino tiba di rumahnya. Seolah menyeret tubuhnya ia melangkah menuju kamar tidur. Dengan lelah Ino menghempaskan badannya yang terasa berat di kasur dan menangis. Apa yang telah dia lakukan? Dia menyeret Sai dalam masalah dan secara tidak langsung ikut menghancurkan hidupnya. Mengapa Dia begitu egois dan bodoh dengan ide buruknya. Itachi sudah menujukan dia bukan pria untuk ditentang.
Ino mencoba menghubungi Sai berkali-kali tetapi ponsel pria itu tidak bisa di hubungi. Dia bisa memberikan Sai pekerjaan dan dia ingin minta maaf dan memperbaiki segalanya tapi mereka tidak akan bisa bersama meskipun perasaan mereka saling terbalas. Ino ingin melindungi Sai karena itu Ino setuju menikahi Itachi. Agar putra sulung Fugaku itu berhenti menganggu Sai.
Ponselnya bergetar tapi Ino tidak meraihnya. Ayahnya berkali-kali mencoba menelepon tapi Ino tidak ingin menjawab. Baru pertama kalinya Ino melihat sang ayah menyinggung seseorang. Dia akan bicara pada ayahnya bila kepalanya sudah dingin. Saat ini dia tidak ingin bertemu siapa-siapa. Biarkan dia menangisi pria yang dengan berat hati harus dia tinggalkan.
.
.
Sai berbaring di ranjang rumah sakit. Matanya menatap langit-langit ruangan. Eternit berwarna putih itu tidak menawarkan jawaban bagi masalahnya. Dia benar-benar berada dalam posisi yang sulit. Menjadi tuna wisma tidak akan membuat dirinya mampu bersaing dengan Itachi Uchiha.
Satu-satunya pilihan hanya kembali ke keluarga Shimura, tapi akankah anak buah Danzo mengenalinya? Adakah orang yang akan mengingatnya? Dia ragu bila Danzo pernah mencarinya dan berharap dia akan kembali, tapi hanya dengan menjadi kepala keluarga Shimura dia bisa melindungi dirinya sendiri dan menolong Ino keluar dari perjodohan ini. Ino adalah miliknya dan dia rela pergi ke neraka agar wanita itu bisa selalu bersamanya. Dia sudah sendirian terlalu lama dan dia tidak bisa kehilangan Ino.
Sai memejamkan matanya membayangkan wajah satu-satunya orang yang pernah menyatakan mencintainya. Ino yang temperamental dan angkuh tapi bisa tersenyum dengan tulus. Wanita yang membuatnya merasakan musim semi dan hangatnya mentari saat dia berdiri di dekatnya, tapi dia malah menyakiti wanita itu dan membuatnya menangis dengan membiarkan amarah dan kebenciannya menguasainya. Bila suatu saat nanti dia telah menjadi pria yang layak dia akan menemui Ino untuk minta maaf dan dia berharap perasaan Ino padanya tidak akan berubah.
Sai teringat Nyonya Tsunade. Begitu dia keluar dari rumah sakit dia akan menghubunginya. Wanita itu akan pasti akan dengan senang hati membantunya. Dia tidak bisa melakukan ini sendiri. Nyonya Tsunade punya banyak kontak barangkali wanita itu bisa menemukan di mana pengacara keluarga Shimura berada.
.
.
Seminggu berlalu. Ino menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Dia tidak ingin terlalu memikirkan Sai. Ino datang ke apartemennya tapi lelaki itu tidak ada. Tetangganya bilang Sai pindah entah ke mana. Nomor ponselnya pun tidak aktif. Pria itu telah meninggalkan kehidupan Ino. Mungkin memang ini yang terbaik.
Kadang Ino mencoba menghibur diri menganggap perasaannya untuk pria itu hanya sekedar fantasi belaka seperti halnya waktu yang mereka habiskan berdua, tapi kesedihan ini nyata.
Sebelum dia bertemu Sai dia merasakan kehampaan, tapi begitu pria itu pergi kehampaan itu kian menyesakkan seakan dia tertelan didalam-Nya. Ino merindukan Sai tapi dia tidak bisa lagi berharap. Dia telah membuat pilihannya. Menikahi Itachi dan melaksanakan kewajibannya sebagai putri tunggal keluarga Yamanaka.
Inoichi masuk ke kantor putrinya. Ino tidak mau bicara padanya semenjak kejadian dengan Sai Shimura.
"Ino sampai kapan kau akan merajuk dan tidak mau bicara pada ayah? Apa yang terjadi padamu?" Inoichi merasa sedih putrinya yang dari kecil selalu dekat dengan dirinya tiba-tiba membuat jarak dan memusuhinya hanya karena perbedaan pendapat mereka tentang seorang lelaki.
Ino memalingkan wajah dari dokumen yang sedang dia baca. Memberi seluruh perhatiannya pada sang ayah. "Apa yang terjadi padaku? Aku yang harusnya bertanya mengapa ayah bersikap sangat tidak sopan pada Sai. Apa yang sebenarnya ayah katakan padanya?"
"Ino apa ayah salah ingin melindungimu? Aku hanya ingin hal terbaik untukmu. Mengingat pilihan-pilihan burukmu dimasa lalu dengan lelaki aku merasa harus mengurus masalah ini sendiri dan pria yang kau bawa pulang, Apa kau tahu dia siapa dan apa latar belakangnya? Aku tidak bisa membiarkan pria seperti itu berada di dekat putriku. Jadi aku hanya memberitahunya kalau dia tidak pantas bersanding denganmu"
"Aku tidak mengerti lagi ayah. Mengapa kau menjadi orang yang munafik. Kau mengajarkan aku untuk melihat seseorang dari perbuatannya bukan dari asal-usulnya dan kau tidak memberikan Sai kesempatan. Selama ini dia tidak pernah berlaku buruk"
"Jangan naif Ino, berapa lama kau mengenal pria itu? Sebulan? Itu tidak cukup untuk membuktikan apa-apa. Apa kau yakin dirimu bisa memberikan penilaian objektif. Jangan lupa cinta itu membutakan"
"Lupakan urusan Sai ayah, Dia telah pergi. Sai tidak layak mendapatkan penghinaanmu karena dia hanya seseorang yang aku minta pura-pura jadi pacarku. Sekarang aku sudah setuju untuk menikahi Itachi. Apa kau senang? Karena aku tidak" ucap Ino ironis.
"Ino, Apakah kau tidak bisa mencoba menyukai Itachi? Aku ingin kau bahagia Ino. Tapi aku juga tidak bisa melepaskan tanggung jawabku melanjutkan keberlangsungan nama Yamanka untuk generasi berikutnya"
"Bagaimana aku bisa menyukai orang yang mampu menghancurkan hidup orang lain dengan segala cara demi keinginannya? dan apa kau lupa bila aku dan Itachi punya anak mereka akan bermarga Uciha. Nama Yamanaka berakhir pada diriku. Kecuali kau punya anak laki-laki sebagai pewaris" ucapnya sinis. Ternyata ayahnya masih peduli dengan nilai-nilai tradisional. Nama keluarga, bibit, bebet dan bobot. Apa Ayahnya pernah menyesal karena dia terlahir sebagai wanita?
"Tak usah menjadi begitu kasar Ino, Kau masih bicara pada ayahmu" Inoichi mengingatkan putrinya.
"Tidak ada yang bisa kita bicarakan lagi ayah, masalah pesta pertunangan kalian saja yang memutuskan. Aku tidak akan ikut ambil bagian" Ino membuang nafas panjang dan melanjutkan pekerjaannya. Mengabaikan sang ayah yang masih berdiri di tengah kantornya.
.
.
Sai berdiri di depan Kantor pengacara keluarga Shimura. Jaringan sosial Nyonya Tsunade sangat berguna. Dia mendapatkan informasi semua urusan hukum keluarga Shimura di tangani oleh Pengacara senior Yamato yang bekerja di Biro Hukum terbesar di Konoha. Firma hukum Nara.
Dia menyisir rambutnya dengan jari dan sedikit nervous. Bagaimana bila Danzo tak mengakuinya sebagai ahli waris?. Pak tua itu membencinya dan mungkin saja dia lebih memilih mewariskan hartanya pada orang lain daripada satu-satunya cucunya. Bila itu terjadi dia tak lagi punya harapan.
Sai melangkah memasuki gedung berlantai lima belas itu menuju resepsionis. Seorang wanita muda berambut coklat menyapanya dengan ramah "Selamat pagi tuan. Selamat datang di firma hukum Nara. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin bertemu dengan Pengacara Yamato"
"Maaf, Apa anda sudah membuat janji sebelumnya?"
"Belum, tapi bisakah anda memberitahunya Sai Shimura ingin bertemu"
"Maaf tuan, tidak bisa. Tuan Yamato sangat sibuk"
"Nona, tolong bantu saya. Informasikan saja cucu Danzo Shimura berada di sini"
Wanita itu menatap Sai curiga. Semua orang tahu Danzo Shimura tidak punya cucu. Putra tunggalnya meninggal dalam kecelakaan tanpa meninggalkan keturunan.
"Apakah anda membawa identitas diri?"
Sai kehilangan ketenangannya. Dia tidak punya bukti apa pun yang menunjukkan dia adalah seorang Shimura. Dia bahkan tidak punya kartu identitas diri. "Aku tidak punya, tapi aku mohon Nona cobalah memberitahu tuan Yamato aku disini. Bila dia tidak mau menemuiku aku akan pergi" ucapnya memohon.
Merasa kasihan dengan pria tampan di depannya wanita itu mengontak sekretaris tuan Yamato.
"Nona Kurenai. Seseorang yang mengaku sebagai cucu almarhum tuan Danzo ingin menemui tuan Yamato"
Kurenai terkejut mendengar berita itu. Dia sudah bekerja lama sekali pada Yamato jadi dia mendengar isu kalau tuan Danzo memiliki cucu dan pergi dari rumah. "Aku akan memberitahu tuan Yamato. Tolong tahan teleponnya sebentar"
Kurenai mengetuk kantor Yamato
" Ada apa Kurenai?"
"Tuan, Seseorang yang mengaku cucu tuan Danzo datang"
Yamato meletakan berkas yang dia baca di atas meja "Tolong persilahkan dia masuk dan batalkan semua janjiku dengan klien lain untuk beberapa jam ke depan"
Kurenai mengangguk "Baik" Wanita itu kembali ke mejanya dan meminta resepsionis mengantar Sai menuju ruangan Pengacara Yamato.
Sai merasa lega. Lift naik menuju lantai dua belas di mana kantor para pengacara elite dan senior berada. Pegawai resepsionis yang menemaninya memberikan tatapan aneh pada pria itu tapi Sai mengabaikannya. Pintu lift terbuka dan Sai tersenyum mengucapkan terima kasihpada sang resepsionis.
Sai disambut oleh seorang wanita cantik yang terlihat modis "Tuan Shimura. Atasan saya telah menunggu, Mari ikuti saya"
Sai berjalan beberapa langkah di belakang mengikuti wanita itu menuju ruangan sang atasan. Di sana seorang pria berusia empat puluhan dan berwajah ramah menantinya. Sai terkejut Pengacara kakeknya ternyata masih muda.
"Selamat datang tuan Shimura, Silakan duduk"
"Mengapa Anda tidak tampak terkejut dengan kedatangan saya?" Sai bingung dengan reaksi sang pengacara yang langsung begitu saja mempercayai identitasnya.
"Karena saya punya semua data tentang anda"
"Mengapa?"
" Tuan Danzo telah melakukan penyelidikan untuk menemukan Anda. Beliau tahu Anda masih hidup"
"Tapi mengapa dia tidak menemuiku?"
"Tuan Danzo tidak ingin memaksa Anda kembali pada keluarga Shimura. Beliau menyadari kesalahan yang beliau buat. Tuan Danzo meninggalkan surat untuk anda"
Yamato mengambil sebuah amplop dari file cabinet yang terletak di belakang meja kerjanya dan menyerahkannya pada Sai.
"Anda bisa membacanya. Saya senang Anda kembali tepat waktu karena dalam isi wasiatnya tuan Danzo berpesan bila Anda tidak kembali dalam lima tahun sesudah kematiannya maka aset keluarga Shimura akan di sumbangkan pada Yayasan sosial dan di bagikan pada kerabat jauh"
Sai membaca surat terakhir dari Danzo Shimura, tulisannya tidak rapi seolah ditulis dengan tangan yang gemetar. Sai tidak bisa membayangkan pria keras dan kejam yang menghantui masa kanak-kanaknya menjadi sosok kakek tua yang tidak berdaya.
Sai, Bila kau membaca surat ini maka aku ingin mengingatkanmu kau adalah keturunan Shimura terakhir dan kebesaran nama keluarga kita tersandar di bahumu. Mungkin untukmu Shimura hanya sekedar nama yang tidak berarti apa-apa tapi bagiku menjaga reputasi yang dibuat dengan pengorbanan dan kerja keras selama beberapa generasi adalah teramat penting. Aku tidak ingin memaksamu untuk melanjutkan tanggung jawab ini karena aku paham keluarga Shimura tidak pernah memberikanmu apa-apa selain cemoohan dan siksaan dan penghinaan. Tapi bila kau memilih sendiri untuk kembali aku harap kau bisa menjalankan tugasmu sebagai kepala keluarga Shimura dengan baik.
Aku minta maaf dan menyesal dengan sikapku yang kasar dan keras padamu. Aku hanya tidak ingin kau gagal seperti hanya ayahmu. Aku menganggapmu aib keluarga karena putraku yang menjadi harapanku tidak menjalankan hidup sesuai dengan nilai-nilai yang aku tanamkan dia menolak semua tanggung jawab dan beban sebagai seorang Shimura dan aku melampiaskan kekecewaanku padamu, tapi pada akhirnya aku mengerti saat aku menjadi tua dan sakit-sakitan tanpa ada seorang pun di sampingku. Harta dan martabat tidaklah berarti di bandingkan keluarga dan cinta. Aku telah gagal sebagai seorang ayah dan kakek dan aku sangat menyesalinya.
Aku sempat mencarimu dan senang menemukan kau masih hidup meskipun menjalani hidup yang keras. Aku bangga kau bisa bertahan tanpa bantuan siapapun.Aku tidak memintamu kembali karena aku tidak bisa menawarkan apa pun padamu selain beban untuk melanjutkan perusahaan sementara yang kau inginkan adalah kebebasan. Kau tidak akan mendapatkannya bila kau menjadi tuan muda keluarga Shimura.
Aku ingin kau memaafkan pria tua yang akan mati ini dan aku berharapkau memiliki hidup yang bahagia.
Semua warisan keluarga aku serahkan padamu. Manfaatkan sebaik mungkin.
Danzo Shimura.
.
Sai menatap surat itu dengan tidak percaya. Danzo yang menjadi mimpi buruknya minta maaf dan dia bisa memiliki aset keluarga Shimura.
"Aku tidak percaya"
"Manusia bisa berubah dan tuan Danzo dalam kesendiriannya menyadari apa yang dia lakukan itu salah. Ambisinya telah mengorbankan anak dan cucunya"
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Kau punya dua pilihan, Mengemban tanggung jawabmu sebagai kepala keluarga Shimura dan melanjutkan kepemimpinan perusahaan atau kau bisaambil sejumlah uang dan hidup bebas lalu sejarah keluarga Shimura berakhir disini"
Sai mempertimbangkan pilihannya. Sudah jelas bila ia ingin mendapatkan Ino dan menyaingi Itachi dia harus maju memimpin Shimura group tapi Sai tidak yakin dia punya kemampuan untuk menjalankan bisnis besar seperti ini. "Tuan Yamato. Aku ingin mengambil posisiku sebagai kepala keluarga Shimura, tapi aku tidak punya kemampuan untuk menjalakan perusahaan. Aku tidak dididik untuk itu"
"Tenang Sai, akan ada banyak orang yang akan membantumu termasuk aku. Sejujurnya perusahaan sedang dalam kondisi buruk. Terjadi konflik internal di antara orang-orang yang diserahi tanggung jawab untuk menjalankan perusahaan oleh Danzo, tapi semenjak Danzo meninggal mereka merasa Shimura grup milik mereka. Kau harus mengawasinya karena perusahaan ini sekarang adalah milikmu"
"Aku mengerti dan aku punya permintaan. Untuk sementara tolong rahasiakan kemunculanku dari publik. Aku ingin mereka mengenaliku bila aku siap"
"Baiklah, Aku perlu kau membaca dan menandatangani beberapa dokumen dan menjalankan tes DNA sebagai lampiran bukti kau memang cucu Danzo. Karena aku yakin akan banyak pihak yang bertanya"
"Tidak masalah. Bagaimana dengan rumah keluarga Shimura?"
"Kosong, Sekarang rumah itu milikmu. Aku tetap memperkerjakan pelayan untuk merawat rumah itu"
"Terima kasih tuan Yamato, Saat ini aku tidak punya tempat tinggal jadi aku akan tinggal di sana"
"Baguslah, Aku akan memberitahu para pelayan mengenai kedatanganmu"
"Maaf, Sudah merepotkanmu tuan Yamato"
"Tidak apa-apa. Kakekmu menitipkanmu padaku. Aku sendiri berhutang banyak pada pak tua itu"
"Mengapa?"
"Aku hanya anak pelayan, Tuan Danzo melihat potensiku dan membiayai pendidikanku dengan syarat aku bekerja untuknya. Tanpa bantuan pak tua itu aku tidak akan bisa meniti karier di tempat bergengsi ini. Aku akan mencoba membantumu Sai"
Sai merasa lega. Sekarang dia punya dua orang yang membantunya menjalani kehidupan barunya di antara para elitist.
.
.
Ino menatap bayangan wajahnya di cermin dengan pandangan kosong sementara para profesional sedang menata rambutnya dalam gelungan yang elegan. Ino sama sekali tidak terlihat antusias dan peduli dengan pesta ini. Bahkan dia tidak memilih gaunnya sendiri.
Pelayan membawakan gaun ungu dari satin dan membantu Ino mengenakannya. Itachi memilih gaun ini untuknya hanya karena dia menolak untuk memilih. Pria itu juga menghadiahkan satu set perhiasan dengan batu ametis untuk melengkapinya. Bila Ino tidak terlanjur membencinya mungkin Ino akan terenyuh dengan semua perhatian yang pria itu curahkan padanya.
Ino sadar Itachi berusaha untuk bersikap baik dan tiap kali Ino melontarkan kata-kata jahatnya. Pria itu tampak terlihat kecewa dan frustrasi. Itachi tidak mencoba mengancamnya lagi. Pria itu lebih memilih mengabaikan dirinya dari pada berdebat dengannya.
Jika Ino harus mengesampingkan rasa tidak sukanya. Itachi bisa menjadi suami yang baik. Dia menghabiskan banyak waktu dengan pria itu selama dua bulan ini. Mereka bekerja sama mengurusi proyek Uchiha-Yamanaka dan bekerja dengan pria itu sangat mudah. Dia memperlakukan Ino dengan setara dan selalu mempertimbangkan masukannya dalam pekerjaan. Tidak peduli dia hanya seorang wanita. Itachi juga berusaha membuat kencan-kencan mereka menyenangkan meskipun Ino selalu membuat ulah untuk mengacaukannya tapi pria itu tetap sabar.
Dia tidak mengerti mengapa Itachi Uchiha sedikit berubah. Arogansi dan egoisme pria itu di hadapannya seolah menguap. Mungkin dia merasa cukup puas memilikinya seperti ini. Lambat laun Ino jadi terlalu malas untuk mencoba mengantagonisnya setiap saat karena Itachi tidak pernah lagi menjawab kata-kata pedas Ino dengan amarah, tapi tentu saja Ino masih tidak memaafkannya. Di dalam hati wanita berambut pirang itu hanya ada tempat untuk Sai Shimura. Tetapi semakin lama Ino berpikir saran Itachi terdengar semakin masuk akal. Lebih baik dia menjalani hubungannya dengan damai dan bekerja sama bila ia ingin hidup tenang. Lagipula Itachi tidak selalu bersikap buruk. Pelan-pelan Ino mulai mentolerasi keberadaan pria itu di sekitarnya. Mungkin sudah saatnya Move-on Sai sudah menghilang dari hidupnya dan tak akan pernah kembali. Ino tak boleh berharap.
Terdengar ketukan di pintu kamarnya. Inoichi datang untuk menjemputnya.
"Apa kau sudah siap Ino?"
"Sudah ayah" Wanita itu melangkahkan kakinya ke pintu.
"Kau terlihat sangat cantik putriku, Ayo pergi para tamu sudah menunggumu"
Ino hanya memberikan senyum lemah. Bagaimanapun dia masih tidak rela kebebasannya untuk menentukan pilihan di rebut begitu saja. Ino menggandeng tangan ayahnya menuruni tanggamenuju hall tempat pesta berlangsung.
Itachi tengah bercakap-cakap dengan salah seorang tamu. Seketika perhatiannya teralihkan ketika Ino memasuki ruangan. Nafasnya tercekat memandang kecantikan wanita itu. Mungkinkah dia menyukai Ino sejak dulu? Dia tidak pernah mencampuri urusan adiknya kecuali saat Sasuke mengencani Ino. Dia merasa terganggu melihat Ino kecentilan membuntuti Sasuke kemana-mana tapi saat bersamaan juga memberi Itachi tatapan yang dia tidak mengerti. Saat itu pun keberadaan Ino sudah mengusiknya.
Itachi menyapa Inoichi dan mengecup pipi Ino. Wanita itu tidak menolak."Kau sangat cantik Ino. Bagaimana bila sekarang kita menyapa para tamu?"
Ino menganguk, Pria berambut hitam itu kemudian menggandeng Ino berkeliling untuk berbasa-basi dengan para undangan. Itachi membuat pesta ini se-private mungkin. Dia hanya mengundang kerabat, teman dan partner bisnis.
"Pesta yang indah"
"Sayang sekali kau tidak mau membantu"
"Mengapa pula aku harus membantumu? Bukan aku yang menginginkan pertunangan ini"
Itachi menghela nafas "Jangan merusak suasana Ino"
"Dan kau jangan memancingku. Bersyukur saja aku muncul di pesta ini dan tidak mencoba mempermalukanmu"
Ino melihat Sakura dan Sasuke dan hendak bergabung dengan mereka. "Itachi be a gentleman dan ambilkan aku minuman"
Itachi tersenyum dan membungkuk, "Baiklah, Princess"
Ino mendengus melihat kelakukan Itachi, Mendengar pria itu memanggilnya princess membuat Ino tidak enak hati karena Sai selalu memanggilnya seperti itu.
"Sepertinya kau berhasil menyingkirkan kakakku" Sasuke berdiri di sebelah Sakura. Pria itu terlihat mengesankan dalam setelan jas malamnya. Tentu saja pria-pria Uchiha secara alami memang tampak selalu keren.
Ino mengacakkan pinggang, "Hanya untuk sementara"
"Aku tak percaya Itachi selalu mengikutimu seperti anak anjing yang tersesat. Dia tidak seperti dirinya sendiri. Belakangan ini Itachi jadi sedikit mellow. Semua orang di kantor menyadarinya dan senang Itachi tak lagi menjadi atasan yang dingin dan kejam"
"Bukan salahku bila dia akhirnya terpesona padaku" ujarnya acuh.
"Apa kau akan baik-baik saja. Pig" Sakura tampak khawatir. Dia mengerti perasaan Ino dan betapa tidak inginnya Ino terikat. Tapi tak seorang pun tahu perasaan Ino pada Sai dan apa yang dilakukan Itachi pada pria itu. Ino tak pernah menceritakannya pada siapapun kecuali Deidara. Ino menjadi sangat dekat dengan pria yang menjadi sahabat Itachi itu. Mereka berdua sering menyumpahi Itachi di balik punggung pria itu. Hanya Ino dan Deidara yang tahu sifat asli pria itu di balik topeng dan Ino senang menemukan seseorang untuk berbagi sentiment yang sama.
"Kalian tahukan aku tidak punya pilihan selain menjalaninya. Beruntunglah kalian bisa bersama karena cinta"
Sakura memeluk Ino memberi dukungan. "Suatu hari Ino, kau akan merasakannya juga"
"Ino, Aku berharap kau bersabar dan memberi kakakku kesempatan. Aku tahu dia bukan lelaki yang mudah dan menyenangkan tapi dia selalu mencoba menjadi yang terbaik. Itachi tidak memiliki kelonggaran seperti yang aku rasakan. Dari awal dia dibesarkan dan dididik dengan keras untuk menjadi sempurna karena dia putra sulung. Ino kau pikir bila aku menjadi kepala keluarga Uchiha ayahku akan mengizinkanku menikah dengan Sakura? Aku akan memikul beban yang sama seperti kalian"
"Aku mengerti Sasuke. Aku memutuskan untuk berdamai saja dengan Itachi. Bila kami akan terikat seumur hidup. Lebih baik kami mencoba berteman daripada menjadi musuh"
Itachi datang membawa dua buah gelas champagne. Ia menyerahkan satu pada Ino dan menyesap gelasnya sendiri "Hm.. biar kutebak kalian membicarakanku"
"Kau salah, kami sedang membicarakan rencana pernikahan Sakura" jawab Ino singkat
"Mengapa kau tidak membicarakan rencana pernikahan kita enam bulan lagi?"
"Karena aku tidak menanti-nanti saat itu tiba. Izinkan aku untuk menikmati kebebasanku yang semakin hari semakin sedikit ini"
"Ino, tolong jangan sinis begitu bukankah kita sepakat untuk menjalani ini semua dengan damai"
"Aku setuju, tapi ingat aku belum memaafkanmu"
"Jadi suatu hari nanti kau mungkin akan memaafkanku Ino?" Itachi menatap wanita itu penuh harap
Pandangan mata Itachi pada wanita itu tak luput dari perhatian Sasuke. Sepertinya Itachi pun tidak immune dengan racun yang bernama Ino Yamanka.
"Mungkin" Ucapnya berbisik nyaris tisak terdengar. "Sasuke, Sakura aku permisi dulu. Sepertinya aku butuh sedikit angin segar" Ino melangkah ke luar dan Itachi mengikutinya.
Wanita itu berdiri di balkon. Menjauh dari pesta hanya untuk menatap langit malam. Dinginnya angin membuat Ino merangkul dirinya. Apa yang harus dia lakukan? Dia masih berharap untuk bertemu dengan Sai, tapi apa yang mereka berdua bisa lakukan. Itachi dan Ayahnya tidak akan membiarkan mereka hidup tenang dan apa mungkin cinta saja cukup untuk mengatasi perbedaan mereka?
Memang lebih realistis bila dia menikahi Itachi. Mereka dibesarkan di lingkungan yang sama. Paham tugas dan beban mereka. Perbedaan di antara mereka hanya Itachi selalu mencoba memenuhi standar yang orang harapkan darinya. Sementara Ino tidak pedulian dan melawan arus. Sifat buruk Itachi yang tidak bisa dia toleransi hanya pria itu tidak bisa menerima kekalahan dan dia rela menghalakan segala cara untuk menang. Mungkinkah pria itu bisa berubah?
Itachi melihat Ino sedikit gemetar, pria itu melepaskan jasnya dan menyampirkannya di bahu Ino yang telanjang.
"terima kasih" bisik wanita itu.
"Kita tidak bisa bersembunyi di sini terlalu lama. Sebentar lagi mereka akan membuat pengumuman"
"Biarkan aku di sini sejenak. Aku merasa benar-benar terperangkap"
Itachi meraih tangan Ino dan menggenggamnya. Ino terkejut dan memandang pria itu penuh tanda tanya. Semenjak hari kencan berantakan mereka Itachi tidak pernah mencoba melakukan kontak fisik dengannya "Aku benar-benar minta maaf bila membuatmu merasa terperangkap. Tapi aku benar-benar tidak bisa melepaskanmu Ino"
"Mengapa?"
Itachi Uchiha berlutut di hadapan Ino masih menggenggam tangan wanita itu "Karena aku jatuh cinta padamu, menikahlah denganku?"
Ino tak tahu harus tertawa atau menangis. Cara Itachi melamarnya sungguh ironis "Bagaimana aku bisa berkata tidak, kau mencoba untuk menghancurkan orang yang aku cintai jadi jawabanku sudah jelas"
"Ino, Aku mohon beri aku kesempatan dan jangan selalu memandangku dengan kaca mata negatif"
"Itachi, Aku tidak bisa berjanji untuk mencintaimu. Tapi aku setidaknya akan berusaha untuk bersikap sopan padamu dengan catatan kau tidak lagi memaksakan kehendakmu padaku"
"Aku berjanji Ino. Memaksamu untuk menerima pertunangan Ini adalah hal yang terakhir aku lakukan tapi jangan gunakan kebebasan ini untuk sengaja bersikap buruk hanya untuk mempermalukanku dan balas dendam"
"Aku tidak akan melakukan hal bodoh Itachi"
Pria itu berdiri menyelipkan cincin berlian berhiaskan batu aqua marine di jari manis Ino.
"Ternyata kalian berdua-an di sini, Cepat masuk semua orang mencarimu" Deidara muncul memergoki mereka.
"Ok- Dei chan, Kami hanya mencari angin sebentar" Ino mengandeng Itachi masuk kedalam. Keduanya terlalu sibuk untuk memperhatikan pandangan marah dan putus asa di mata biru pria berambut pirang itu.
.
.
Ke esokan harinya Sai Shimura berjalan mondar-mandir di ruang tamunya dengan gelisah. Majalah, koran dan sobekan kertas tercecer di lantai. Dia marah melihat berita pertunangan Ino dan Itachi di mana-mana. Sai mengambil salah satu koran yang belum dia baca dari atas meja dan menatap photo pasangan paling hot yang menjadi head-line di semua media. Apa Ino sudah melupakannya begitu saja? Dia terlihat bahagia dalam rangkulan Itachi. Dengan marah Sai merobek dan melempar koran itu ke lantai dan menghempaskan dirinya dengan frustasi di sofa.
Sai duduk tertunduk. Kedua tangannya terkepal di pangkuannya. Dia tidak bisa menyerah sekarang. Bila Ino melupakannya dia akan membuat wanita itu mengingatnya. Dia hanya butuh waktu untuk membuat dirinya di terima di kalangan ini dan membuat sebuah kejutan besar. Dia tidak bisa muncul sekarang.
Sai tersenyum penuh determinasi. Itachi Uchiha tidak akan menyukainya. Sai akan kembali dan pria itu tak akan punya cukup kekuatan untuk menghalanginya lagi. Dia akan merebut Ino kembal karena dari awal Ino adalah miliknya
