Kedua mata Jongin terbuka begitu saja, padahal alaram jamnya sama sekali belum berbunyi. Sekilas Jongin melirik jam dindingnya. Ini masih jam empat pagi dan langit masih gelap. Jongin kembali menutup mata, menarik selimutnya dan memposisikan dirinya senyaman mungkin. Mencoba kembali mengarungi dunia mimpi, tapi tidak bisa.

Jantungnya berdetak begitu kencang, rasa senang menyelimuti dirinya. Apa rasa bahagianya belum menghilang?

Mungkin saja, rasanya ia ingin cepat-cepat bertemu dengan Kris!

Tu-tunggu dulu!

Jongin memukul dahinya pelan. Merasa bodoh karena ia tidak meminta nomor handphone gege blasterannya itu. Bagaimana ia bisa mengabari Kris kalau begini caranya!

Tangannya meraih benda persegi panjang yang ada di meja nakasnya. Membuka pattern lock dan mencari kontak Baekhyun, mungkin saja ia masih punya kontak Kris. Tapi sepertinya tidak mungkin, karena sudah lama sekali mereka tidak saling berhubungan.

Jongin menghembuskan nafas panjang. Kenapa ia tidak memikirkan hal seperti itu! Hah rasanya menyesal sekali ia tidak saling bertukar kontak.

Pabo, pabo, pabo runtuk Jongin dengan wajah cemberutnya.

.

.

.

"Kenapa cemberut?" tanya Kyungsoo melihat Jongin menekukkan wajahnya dari tadi, terkadang ia juga tidak sengaja mendapati Jongin menghembuskan nafas. "Kau kerasukan setan apa sih? Tumben sekali kau seperti ini."

Jongin melirik Kyungsoo malas. Menidurkan kepalanya di tumpukan buku cetak miliknya. Menatap lekat Kyungsoo yang tengah risih ditatap seperti itu.

"Bisa tidak kau tidak melihatku seperti itu!" sebuah buku melayang di atas kepala Jongin pelan.

"Hah~" satu hembusan nafas pendek yang terdengar tidak semangat itu kembali keluar dari mulut Jongin, lalu ia meregangkan tubuhnya.

"Dasar aneh!" ejek Kyungsoo dengan memutar bola matanya kesal. "Hari ini aku bawa bekal kimbab." Suara Kyungsoo kembali terdengar.

"Aku tidak lapar." Masih pada posisi yang sama, Jongin merasa tidak tertarik dengan ucapan Kyungsoo tadi.

"Kau menolak masakanku!" pekik Kyungsoo keras membuat seisi kelas menatapnya.

"Bukan menolak mata bulat! Aku sedang tidak minat makan!" kini giliran Jongin yang berteriak.

"Demi apapun, kau hari ini berbeda sekali Jongin! Kau tidak seperti biasanya, lalu kau juga menolak masakanku!"

Jongin menghembuskan nafas panjang lagi. "Bukan Kyungsoo, hanya saja... hah~" ucap Jongin yang diahkiri dengan nafas panjang.

Kyungsoo menatapnya aneh, "Sebenarnya ada apa? Kau punya masalah?"

"Iya. Masalah besar!" Jongin begitu semangat.

"Masalah besar apa?"

Dan Jongin pun mulai menceritakan kejadian kemarin. Kyungsoo hanya ber-oh ria begitu mendengar cerita Jongin.

"Itu bukan masalah besar." Simpul Kyungsoo kembali membaca bukunya.

"Itu masalah besar Kyung~! Bagaimana aku bisa lupa meminta nomor handphonenya!"

"Tenang saja." Kyungsoo menutup bukunya. "Sepertinya dia akan datang kesini."

Kerutan di dahi Jongin terbentuk. "Kenapa kau begitu yakin?"

Kyungsoo mengendikkan bahunya. "feeling?"

Jongin menatapnya penuh selidik. "Jangan-jangan kau cenayang ya?" tanya Jongin membuat Kyungsoo— "Lalu selama ini buku yang kau baca itu pasti buku ramalan!" dongkol.

"Terserah!" ucap Kyungsoo sedikit kesal.

"Jangan marah, aku hanya bercanda." Jongin menyangga kepalanya dengan tangan kirinya. "Tapi..." Jongin menggantungkan kalimatnya, memaninkan pensil kuning itu dengan memutarnya cepat. "Apa yang kau katakan sepertinya benar."

"Maksudmu?"

"Pembicaraan kita waktu itu. Tentang kebahagiaan."

"Memangnya kenapa?" Kyungsoo merasa bingung.

"Sepertinya aku sudah menemukan kebahagiaanku." Ucap Jongin yakin.

"Yakin?"

Jongin mengangguk. "Tentu. Karena aku sedang bahagia."

"Hanya itu? Maksudku hanya karena kau merasa bahagia kau sudah menemukan kebahagiaanmu?"

"Kurasa sudah. Semoga saja."

.

.

.

Kini Jongin berada di ruang dance seperti yang tertera di jadwalnya. Ruangan itu masih sepi, belum ada anggota dance yang masuk. Jongin mengendikkan bahunya acuh, meletakkan tasnya di dekat pintu dan segera mengganti seragamnya dengan pakaian santainya.

Badannya yang lentur itu ia liukkan sesuai dengan irama musik yang keluar dari handphonennya. Kembali melatih tariannya sambil menunggu anggota lain datang. Mulutnya terus mengatakan angka satu dua dalam gerakannya.

KLEK

Bunyi suara pintu membuat gerakan Jongin terhenti, kepalanya ia putar menghadap pintu. Menatap seseorang yang jarang ia temui sekarang.

"Sehun?"

Sehun tersenyum, masuk kedalam ruangan dan pergi menuju loker yang ada di sana. Membuka laci nomor empat setelah memasukkan kunci yang Jongin tau itu milik Zelo teman sekelas Sehun.

"Maaf aku mengganggumu ya?" tanya Sehun setelah mengambil beberapa barang dari laci tersebut. Jongin menggeleng, kembali menggerakkan tubuhnya hingga pintu tersebut tertutup.

Gerakannya kembali terhenti. Menatap dirinya lewat pantulan cermin besar dan sebuah senyuman kecut tercipta di wajahnya. Ada rasa sakit yang menjalar ke dadanya. Rasa sakit dan kesedihan menambah bebannya.

Ia berjalan membelakangi cermin, mengambil tas beserta handphonenya dan meninggalkan ruang tersebut. Merasa malas untuk melanjutkan kegiatannya.

"Jongin!" pekikan yang Jongin yakini milik Kyungsoo membuatnya menoleh. Menatap penasaran temannya yang tengah berlari kearahnya dengan semangat.

"Ada apa?" tanyanya ketika Kyungsoo berusaha merangkulnya.

Ujung bibirnya terangkat, menampakkan sebuah senyum di bibir love shapenya. "Tidak," ucapnya dengan nada ringan. "Tidak ada apa-apa~"

"Sepertinya kau gembira sekali."

"Ya, bisa dibilang begitu~"

"Terserah lah kalau kau tidak mau menceritakannya padaku."

"Hehehe, kau tau saja Jongin. Ini masih rahasia~"

"Rahasia wajan anti lengketmu itu!" kesal Jongin.

Kyungsoo yang masih dalam mode gembiranya tidak peduli dengan wajah Jongin yang bertambah jelek sekarang. Senandungan lagu dari Kyungsoo menjadi soundtrack perjalanan mereka.

"Eh, tunggu dulu!" tiba-tiba Kyungsoo menghentikan langkahnya. "Kau tidak latihan dance?" tanya Kyungsoo yang langsung ditatapi tidak suka oleh Jongin.

"Kenapa?" tanyanya seolah tanpa rasa salah.

Jongin menggelengkan kepalanya pelan, kembali melangkahkan kakinya.

"Hari ini kau memang aneh ya? Sepertinya Kris itu memiliki pengaruh yang kuat dalam mengubah moodmu."

Jongin berdecak, menatapnya tidak suka. "Oh ya saat Sehun datang ke rumah, apa dia tau aku sakit?" tanyanya membuat dahi Kyungsoo berkerut. Mencoba mengingat sebentar kejadian waktu itu.

"Sepertinya tau. Kenapa?"

Jongin menggeleng. "Tidak ada apa-apa." Sekarang giliranya yang mengatakan itu. "Bagaimana reaksinya?"

"Hem... biasa saja. Hanya kata oh yang ia berikan padaku. Kau masih suka dengannya ya?" tanya Kyungsoo membuatnya kembali menghentikan langkah kakinya.

"Molla, aku malas membahasnya."

"Jongin."

"Hem."

"Aku penasaran."

"Penasaran apa?"

"Kenapa kau berusaha keras belajar." Kyungsoo menatap heran Jongin. "Dilihat dari wajahmu saja kau terlihat seperti anak pemalas."

"Apa itu masalah untukmu?"

Kyungsoo tersenyum meringis mendapat tanggapan seperti itu. "Tidak. Aku hanya penasaran saja."

Jongin menatap lapangan hijau sekolahannya dari jendela. Melihat kumpulan murid-murid bermain bola di sana. Saling merebut benda bulat itu hingga membuat mereka bercucuran keringat.

"Supaya kedua orang tuaku mau melihatku." Suara Jongin terdengar lirih.

Kyungsoo menatap sedih teman kecilnya itu. "Apa itu membuatmu bahagia?"

.

.

.

Suara ketukan pintu membuat Sehun melepas earphonenya. Melangkahkan kakinya untuk membuka pintu kamar dan mendapati sosok ibunya tersenyum manis dengan nampan yang ia bawa. Sehun tersenyum, membuka lebar pintu itu mempersilahkannya masuk.

"Kau terlihat lelah sekali, jadi eomma buatkan kau teh. Mau minum bersama?"

"Tentu saja," ia mengangguk, menyilangkan kedua kakinya. "Sudah lama kita tidak minum teh bersama."

Eommanya mengangguk setuju, menuangkan teh berwarna hitam ke masing-masing cangkir berwarna cream.

"Bagai mana kencanmu tadi?" tanya eommanya meniup uap black teanya. "Menyenangkan?"

Punggung tegaknya sedikit ia bungkukkan, menampakkan raut malasnya hingga suara kekehan terdengar. "Kenapa? Sepertinya kau tidak suka?"

"Ya seperti itu lah."

"Luhan itu anak yang baik." Dan satu tegukan membasahi kerongkongannya. "Dan manis." Tambahnya. "Jadi apa yang salah? Bukannya selama ini kau menunggunya? Eomma kira kau menyukai Jongin selama ini, ternyata..."

"Aku hanya lelah." Dengan malas, Sehun memutar-mutar cangkirnya. "Lelah menunggu."

"Maksudmu?"

Sehun mengendikkan bahunya, "Eomma masih ingat waktu itu? Jongin menyukaiku sebagai sahabat. Tidak lebih."

"Jadi Luhan itu—

"Pelarian? Mungkin. Aku asal menerimanya karena lelah menunggu Jongin untuk menyukaiku."

"Apa kau masih mencintainya?" tanya namja cantik itu setelah meletakkan cangkirnya.

"Entah lah." Jawab Sehun ragu. "Sudah lama aku tidak bersamanya. Lagi pula aku sudah memiliki Luhan dan aku mencintainya."

"Kau ragu."

"Maksud eomma?"

"Kau benar-benar mencintai Luhan? Apa kau masih menyukai Jongin? Dari jawabanmu tadi kau terlihat ragu."

"Sepertinya." Sehun menatap sendu cangkirnya, menggoyang-goyangkan isi cangkir itu tanpa menumpahkannya.

"Kau akan menyakiti mereka kalau begitu." Tangan halus itu mengambil camilan buatannya. Sehun menautkan kedua alisnya, menatap eommanya yang tengah memakan kue manis tersebut.

"Menyakiti mereka berdua? Maksudnya?"

"Menurutmu?"

.

.

.

"Ya hitam! Pergi kemana kau? Seluruh anggota mencarimu ke seluruh sekolah!"

Pesan singkat itu membuat Jongin menghela nafas panjang. Sudah dua jam pesan itu belum ia balas. Mungkin ia harus meminta maaf dengan mentraktir mereka.

"Maaf aku merasa tidak fit untuk latihan hari ini dan aku lupa mengirim pesan kepadamu supaya tidaak mencariku kemana-mana."

Meletakkannya kembali di samping bukunya, Jongin kembali membaca bukunya. Menggaris bawahi kata-kata yang penting untuk dihafalnya. Namun gerakan tangannya terhenti. Perkataan Kyungsoo sepulang sekolah membuatnya ragu.

Apa dia bahagia belajar keras seperti ini supaya kembali di lihat oleh orang tuanya lagi?

Jongin berharap lebih dengan cara itu. Tapi setelah mengingat kembali apa yang dialaminya ia sama sekali tidak mendapat ucapan selamat dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah orang tuanya.

Mereka tetap sama seperti dulu. Hanya memasang muka datar tanpa ekspresi dan saling sibuk satu sama lain. Mengacuhkannya seakan mereka tidak melihat dan mengetahui keberadaan Jongin sendiri. Padahal Jongin sangat menunggu reaksi mereka seperti apa.

Tapi kenapa reaksi mereka berbeda sekali dengan Luhan?

Kenapa mereka tersenyum lebar, memeluk, memuji dan mereka berdua mengelus puncak rambutnya dengan lembut?

Tangannya mengepal erat pensil yang digunakannya. Melampiaskan gejolak rasa emosi dalam dirinya. Ia tidak tau kenapa Luhan begitu membawa banyak pengaruh pada diri dan orang tuanya . Jongin saja tidak tau kalau ia memiliki sepupu seperti Luhan. Dan Jongin tidak tau ada hubungan apa dengan kedua orang tuanya selain menjadi orang tua asuhnya.

Jongin menidurkan kepalanya, menatap jam pasir hadiah dari Baekhyun di ulang tahun ke lima belasnya. Memutar letak jam itu hingga pasir coklat itu turun ke tempat kosong, memenuhinya dengan cepat.

Apa ia akan bahagia seperti ini?

Jongin juga berharap dengan kerja kerasnya seperti ini ia akan mendapatkan kembali apa yang seharusnya ia terima.

Tapi selama ini dia tidak pernah menyuarakan apa yang ia inginkan. Apa karena ini semuanya menjadi seperti ini?

Jongin tidak tahu, tapi ia tetap berusaha keras. Kalau cara ini tidak berhasil ia akan mencari jalan lain untuk mendapatkannya. Tapi jika tetap tidak berhasil? Mungkin ia akan meninggalkannya atau—

Tetap bertahan?

Tenggorokannya terasa kering. Ia ingin sekali turun ke dapur untuk minum, tapi begitu melihat jam ia mengurungkannya. Karena jam delapan adalah waktunya mereka berkumpul bersama. Melupakannya yang lebih memilih mendekam sendiri di dalam kamar.

Nekad, Jongin membuka pintunya pelan. Berjalan menuju tangga dan menuruninya satu persatu. Tapi dalam hitungan ke empat belas, langkahnya terhenti. Suara tawa dan keceriaan yang ada di sana membuatnya menyesal turun. Meski ia tidak melihat mereka karena tangga rumahnya berbelok ia tau kalau mereka sedang bersenang-senang.

Tidak mau merusak moment mereka, Jongin kembali ke kamarnya. Menghabiskan waktu dengan kesendiriannya. Merasa bosan ia memilih duduk di balkon kamarnya. Memeluk kedua kakinya dengan ditemani langit yang mendung. Merasakan dinginnya malam yang menusuk hingga tulangnya.

"K-Kris ge!" pekik Jongin melihat orang yang tidak diundang datang dengan memanjat rumahnya.

Yang diteriaki hanya tersenyum, melangkahkan kakinya untuk memeluk teddy bear kesayangannya itu.

"Uh~ teddy bear I really really miss you!" ucapnya dengan mengeratkan pelukannya.

"Gege sesak!" rengek Jongin dengan senyuman manisnya. "Kenapa gege kemari? Ini sudah malam tau!"

Kris masih tersenyum, mencubit hidung Jongin pelan. "Sudah kubilang aku merindukanmu."

Jongin terkekeh pelan, mengajak gegenya ini duduk. "Maaf ya ge aku tidak bisa menyuguhkanmu apa-apa."

Kedua alis Kris bertautan, namun segera menunjukkan wajah gembiranya. "Tidak masalah, lagi pula aku sudah puas melihat wajahmu ini.

"Hentikan ge."

"Aku tidak mengganggumu belajar?"

Jongin menggeleng, kembali memeluk kedua kakinya. "Aku sudah selesai belajar."

"Sudah makan?"

"Sudah."

Bohong! Kau belum makan apa-apa dari tadi sore Kim Jong In!

Kris mengangguk, merasa bingung harus berbicara apa lagi. Efek karena sudah lama tidak bertemu?

"Kenapa kau tidak berkumpul dengan keluargamu?"

"Aku malas, lagi pula mereka asik sendiri." Jongin semakin mengeratkan pelukannya pada kakinya. "Jadi lebih baik aku di kamar saja."

"Jongin," Jongin menoleh, Kris menatapnya lekat. "Apa semuanya berubah?"

TBC


Entah kenapa aku nggak dapet feel sama sekali... rasanya aneh banget? Apa ada daddy Kris ya? Kalo gitu cepet-cepet di singkirin aja lah hehehe #durhaka

Aduh gimana sama chap ini?

Ow iya ada yang bingung mau panggil aku apa? Aku juga bingung mau di panggi apa, masalahnya namaku cukup unik(?), langka(?) dan bikin orang salah paham(?). Hem... kalian bisa panggil aku saeng, eonnie, kakak. adik dan teman temannya. Ngomong-ngomong aku aku line 98 (berasa tua banget!)

A, sebelum lupa buat ren-chan : ada kok yang namanya johnny. johnnynya sm rookies. Tapi kasian Jongin kalo dipasangin sama dia, aneh gimana gitu.

Sebenernya aku mau banget bales satu persatu review kalian tapi waktu mepet banget! Kalian bisa PM aku kok (tapi lama balesnya) #kebiasaan!

Buat readers baru, yang ngefollow/favor annyeong! terimakasih ya sudah mau mampir baca dan review ^^

Big Thanks For You~

Xinger XXI | NN | xikei | kimkai88 | nabilapermatahati | mintseujeyii27 | VampireDPS | Hun94Kai88 | ariska | aliyya | ren chan | jonginisa | Guest | Puji Haruharu | myungricho | SecretVin137 | Vioolyt | Seo'jinkim| novisaputri09 | mira-ah| Nadia| alv | cute | | enchris.727 | Nam Jung | yuvikimm97 | winter park chanchan | sayakanoicinoe | bubbleosh | ericomizaki13 | jjong86 |

Pai-pai~