Disclaimer : Bangtan bukan milik saia, mereka milik Bighit dan orang tua mereka.

Warning : ini gaje, abal, typo sebagian dari hidup

N

。。

"Jimin, kau tidak perlu melakukan ini sayang."

"Ckckck... ini harus ku lakukan hyung, jika tidak kau akan memulai semuanya tanpaku."

Seorang namja berambut orange menatap puas maha karyanya. Misinya berhasil, ia mengikat kedua tangan namja mint dengan dasi kesayangannya. Untung saja Yoongi tertidur seperti orang mati. Jika tidak, dia yang di posisi Yoongi sekarang.

"Jim-" Jimin meletakkan telunjuknya di bibir Yoongi.

"Sshhh... hyung, aku tidak mau kau bermain curang."

"Untuk apa aku bermain curang? sekarang, lepaskan ikatannya. Bagaimana jika kurir yang mengirim barangnya datang?" jelasnya panjang lebar membuat Jimin menatapnya datar.

"Hmm... iya juga ya, tapi ada aku kan hyung?" Jimin tersenyum manis ke arahnya.

"Jimin, cepat lepaskan atau kuserang kau." ancam Yoongi.

"Aku tidak mendengarmu." Elaknya dengan menutup kedua telinganya.

"Memancing rupanya." Yoongi bergumam pelan.

"Apa hyung?" ulangnya, dan Yoongi mengangkat tangannya.

"Nanti, aku mau mandi dulu. Oh ya, jangan coba untuk memotong dasi itu hyung, Love you~" Jimin memberikan flying kiss dan menghilang dibalik pintu kamar mandi, meninggalkan Yoongi yang menatap datar kedua tangannya. Bukannya bersikap normal, Jimin malah semakin hyper dibulan ke-9 kehamilannya.

"Apa semua orang yang sedang mengandung bertingkah seperti ini?" gumamnya disela usahanya melepas ikatan kedua tangannya.

"Ck... aku merasa kasihan pada mereka yang bernasib sama sepertiku." lanjutnya setelah sukses melepas ikatan di tangannya. Tanpa aba-aba sebuah ide melintas di otaknya, ia tersenyum miring sebelum melepas kaos hitamnya, dan berjalan menuju kamar mandi.

"Kau akan menyesal sayang."

Y

"Tuan... Min?"

Tatapan aneh dilemparkan begitu saja oleh sang kurir. Ia melihat Yoongi dari atas ke bawah. Penampilan yang sedikit kacau dengan bekas gigitan di lehernya. Apa tuan ini sedang 'bermain' dan aku mengganggunya? pikirnya.

"Eemm... tuan maaf jik-"

"Tidak, kau tidak menganggu apapun." jawabnya datar.

"Ah, baiklah maaf. Kami mengirim paket pesanan anda tuan, dimana kami harus meletakkannya?" tanya si kurir dengan menyodorkan tanda terima pada Yoongi.

"setelah menaiki tangga, belok kanan, dan kalian akan menemukan pintu bercat putih, dengan sticker mobil pemadam kebakaran." Yoongi memberikan arahan kepada kurir yang akan mengangkat barang pesanannya.

"Oh satu lagi, jangan membuat kontak mata dengan boneka di sofa. Jika kalian tetap ingin hidup damai. Hindari atau, kalian menyesal." meski kedua kurir itu bingung, mereka tetap mengangguk dan melanjutkan langkah mereka.

"Apa anda juga menginginkan kami untuk menyusunnya tuan?"

"Tidak, akan ku susun sendiri" jawabnya dengan memberikan kertas yang telah di tanda tangani.

Kedua kurir itu berjalan dengan damai, hingga mereka sampai pada tempat yang terlihat seperti ruang keluarga, dimana ada teve dan sofa nyaman. Disana jugalah mereka merasakan sebuah pandangan intens dan mematikan, bukan dalam artian tatapan laser Super Yoon. Tapi ini lebih seperti tatapan Jiggly puff? Anak kucing hilang? ya mungkin begitu.

Langkah yang awalnya damaipun menjadi seperti di kejar ribuan anak kecil, dengan tergesa, mereka pergi keruangan yang di tunjuk Yoongi.

"K-kami sudah meletakkannya di tempat yang anda inginkan tuan." lapor salah seorang kurir dengan ekspresi gugup.

"Ah cepat sekali. Kalian meletakkannya dengan benar?" Yoongi menyerahkan beberapa lembar uang pada mereka.

"I-ya tuan. Terimakasih tuan, kami permisi. Semoga hari anda menyenangkan." ujarnya terbata.

Setelah pintu bercat putih itu tertutup, kedua kurir itu menghela napas lega.

"Sepertinya kita menganggu mereka."

"Mungkin, bonekanya terikat tadi."

"Soal boneka, kurasa itu istrinya.."

I

Yoongi tahu jika Jimin mengamatinya sedari awal ketiga kurir itu datang, dan ia juga sadar bahwa Jimin sengaja menirukan koreo dan part lagu bagian itu.

"Neomuhae! neomuhae!"

"Hey, nyonya Min. Berhenti mengejekku, atau ku gigit pipimu." sindirnya membuat Jimin semakin mengerucutkan bibirnya

"Jangan ge-er hyung. Aku suka part itu, jika lapar makan yang lain sana!" protesnya.

"Aku lebih memilih pipimu dan meninggalkan bekas gigitan." Yoongi memeluk Jimin dari belakang, menjajarkan kepalanya dengan Jimin dan mulai mengigiti pipinya.

"Minggiiirrr... kau menggangguku dan mochimchim, lihat dia bergerak tidak nyaman!" Jimin mendorong kepala Yoongi menjauh darinya, dan mengusap sayang perutnya.

"Maafkan appamu sayang. Appamu memang menyebalkan."

"Ini salahmu chim, kau membuat mereka berpikir telah menganggu 'permainan' kita" bisiknya dengan suara husky, membuat usaha Jimin semakin jelas gagal.

"Bagaimana jika kita lanjutkan? Ku gigit pipimu, dan kita seri" tawarnya.

"Mesum. Mochimchim terganggu oleh mu, hush..." usirnya, membuat Yoongi menirukan gerakan tarian yang baru saja di praktekkan Jimin.

"neomuhae neomuhae" nada aneh, dan gerakan lucu Yoongi, membuat kedua mata Jimin tenggelam. Ia begitu semangat tertawa dan melupakan acara balas dendamnya, namun sayang-

"akh- Hyung!" tawa nyaring nan bahagia milik Jimin harus terputus begitu saja, ketika sebuah gigitan menyapa lehernya.

"oops!"

"Ekspresi polos tidak pantas untukmu hyung. Tidak ada makan malam untukmu." sindir Jimin.

"Hm... setahuku semua menu makanan aku yang buat." imbuh Yoongi.

"Oh astaga mochimchim, menyebalkan sekali appamu ini." keluh Jimin.

"Oh astaga mochimchim, imutnya eommamu ini." tiru Yoongi.

"Hyung, lepaskan ikatanya." mohon Jimin

"Aku mengikat kakimu chim, bukan tanganmu." ujar Yoongi dengan mengambil remote teve.

"Jika aku bisa melepaskannya, akan ku lakukan sejak awal hyung. Menggapai kakiku saja tak sanggup." Jimin memutar matanya, lelah akan jawaban Yoongi.

"Aku hanya ingin membantu mendekorasi kamar mochimchim, tidak lebih." lirih Jimin, yang menghasilkan tatapan datar dari Yoongi.

"Satu syarat." ucap Yoongi membuat Jimin memandang Yoongi antusias, akhirnya, aktingnya berhasil.

"Beri aku kecupan tiap anak tangga yang kita lewati. Setuju?" hanya bibir mengerucut Jimin yang menjadi jawabannya.

"Ku anggap itu tidak. Nikmati acaramu-"

"Iya iya, aku mau." Jimin mengiyakan dengan berat hati. Senyum kecil terpatri di bibir Yoongi sebelum menggendong bayi besarnya.

"Lepaskan dulu ikatannya!"

"Nanti sayang, nanti. Sekarang berikan kecupannya."

"Menyebalkan!"

Cup.

"Ayo jalan." perintahnya, baru selangkah dan Yoongi sudah berhenti.

"Kenapa berhenti?" tanya Jimin.

"Tiap anak tangga Chim." Jimin menggeram antara gemas dan kesal.

"Jika begini aku menyesal menyetujuinya. Untung saja aku mencintaimu hyung, jika tidak aku menolak lamaranmu." Jimin mulai mengomel, biasa pekerjaan yeoja eh salah orang hamil yang sensitif.

"Akan ku culik, jika kau menolakku. Ku ikat diatas tempat tidur, sampai kau mengatakan 'iya'." Jimin memutar matanya malas. Sudah kebal dia dengan perkataan Yoongi.

"Berikan bayaranku juga. Aku mau kue stroberi yang besar setelah ini. Ayo cepat!"

"Iya nyonya Min. Cer-"

Cup.

Dengan elitnya ia memotong perkataan Yoongi, membuatnya gagal protes. Hal itu terus berulang, hingga panggutan cukup lama menjadi akhir kegiatan menaiki tangga mereka.

J

Gumaman nada yang mengalun, menghiasi kamar bercat putih, dengan beragam bentuk not balok, dan kumamon yang sedang di lukis Jimin. Lirikan kecil terus ia lemparkan. Secara bergantian, ia melirik Yoongi dan tangga kecil di sampingnya.

Perlahan tapi pasti, ia mendekati tangga kecil itu, menaikkan kakinya di anak tangga pertama, dan... aman. Ia melanjutkan langkahnya, anak tangga ke dua, dan ti-

"Jimin berhenti disana, dan turun dari tangga yang kau naiki." titah Yoongi tajam tanpa menoleh kearah Jimin.

"Hyung, tangganya tidak tinggi. Aku bisa melakukannya." Jimin memandang kesal ke arah Yoongi, dan box bayi yang sedang ia susun.

"Kau berjanji akan mengecat yang bisa kau jangkau. Turun." titahnya lagi.

"Tidak mau!"

"Jimin." peringatnya.

"Biarkan aku membantumu hyung! Mochimchim juga anakku. Aku... aku juga ingin menjadi eomma yang baik untuknya! Hyung, menyebalkan!" Jimin mengusap matanya yang memanas dan perih.

"Aku takut, jika aku tidak melakukan apapun untuknya, dia akan menolakku menjadi eommanya, b-ba-gaimana jika dia membenciku? d-da-" helaan napas pasrah kembali terdengar, kenapa keraguan tak pernah meninggalkan Jimin? Selalu ada saja keraguan baru di pikirannya.

"Kau berlebihan sayang. Dia akan sangat senang memiliki eomma sepertimu, bukankah dia bersamamu setiap saat?" Ia menghampiri Jimin, dan menghapus air yang meluncur pelan dari mata indahnya.

"Kita akan melakukannya bersama Chim. Aku appa, dan kau eommanya. Dia pasti sangat menyayangimu. Berhentilah menangis, apa kau lupa? Dia bisa datang kapanpun?" Yoongi membungkukan sedikit badannya, mendengarkan pergerakan si kecil, sebelum mencium perut Jimin.

Ketika ia menegakkan tubuhnya, ia tidak bertemu senyum manis Jimin, melainkan mata yang berkaca-kaca dan bibir yang melengkung kebawah. Yoongi mode apa yang tidak panik ketika Jiminnya, dilanda gejala menangis? Yoongi mode layar teve datar saja panik.

"Hyung~ kau membuatku semakin menangis. Ini salahmu." Jimin kembali menyalahkan Yoongi, membuat pihak yang salah hanya bisa menghela napas lelah.

"Berhenti menyalahkanku." Setelah menuntun Jimin menuju sofa, ia mengabil segelas susu yang telah ia siapkan untuk Jimin.

"Ge-er." sinisnya dengan mengambil segelas susu yang dibawa Yoongi.

"Terserah." ujarnya sebelum kembali sibuk dengan benda yang ia susun.

"Oh! Hyung! hyung!"

"Hm?" Ia berbalik, melihat ke arah Jimin yang sibuk membuka lemari pakaian milik mochimchim.

"Ta-da!" Jimin mengangkat sebuah onesie kumamon di tangan kirinya.

"Kemarin, aku membelinya bersama eomma. Kami berdebat banyak, tapi saat aku mengangkat kumamon dan bergumam padanya, Mochimchim merespon hyung! Dia juga suka kumamon sepertimu." deklarasinya, membuat Yoongi tersenyum.

"Aku sudah tidak sabar menunggunya datang." imbuhnya dengan mata berbinar.

"Apa kau sudah me-"

Ding Dong

"Hyung, sepertinya kueku sudah datang. Cepat hyung!" binar matanya semakin terang dengan berbunyinya bel rumah mereka.

"Akan ku ambil. Tunggu disini, jangan ikut turun." setelah mendapat anggukan, ia keluar dan meninggalkan Jimin.

N

Sepeninggal Yoongi, ia kembali memasukkan baju kumamon yang ia keluarkan. Menata kembali beberapa baju dan sepatu milik mochimchim, sampai matanya melihat sebuah sepatu kecil berwarna biru yang begitu ia kenal.

"Sepatu ini, mirip seperti milikku dan Yoongi. Aku tidak ingat jika aku membeli ini." Ia mengamati sepatu itu dengan teliti.

"Ini dari appa? Atau da-akh.."

Ia merasa sakit di sekujur tubuhya, kepala dan lehernya terasa di tarik. Rasa sakit itu seperti berjalan dari perut hingga tulang belakangnya. Seingatnya masih ada beberapa hari sebelum Mochimchim datang. Tapi sepertinya mochi kecilnya sudah lelah berada di dalam.

"M-moc-chim.. Y-yoon-ngi!"

CLASH!

O

CLASH!

Tangan Yoongi yang hendak mengambil kue itu terdiam, matanya melebar mendengar suara aneh dari kamar yang akan menjadi milik anaknya. Segera ia berbalik dan berlari menuju tangga.

"Tuan Min?!"

DRAP!

DRAP!

DRAP!

BRAK!

"JIMIN!" teriaknya melihat ekspresi kesakitan milik Jimin, tangan kanan mencekram pada lemari baju dan tangan kiri yang memegang perutnya, sedangkan gelas susu berubah menjadi serpihan.

"Mo-mochi! Pp-palliiii!"

Refkek ia menggendong Jimin, dan mengambil tas berisi baju yang telah ia siapkan jauh hari.

"P-pal-lli hyung." Jimin mengeratkan tangannya yang melingkar di leher Yoongi.

Rasa tergesa dan khawatir bercampur seketika, ia menuruni tangga dengan cepat namun tetap menjaga langkahnya. Di pintu utama, tukang pengantar kue itu terkejut melihat pandangan di depannya. Ia berjalan mundur memberikan jalan untuk pasangan dihadapannya, tidak salah jika ia panik.

"Yah kau! Cepat ambilkan kunci mobilku di meja!" titah Yoongi pada sang kurir yang mematung.

"B-baik tuan!" sang kurir itu segera melaksanakan perintah Yoongi, meski ia agak canggung untuk masuk dalam rumah mewah nan minimalis yang pas untuk keluarga kecil.

Setelah mendapat kunci yang dimaksud Yoongi, ia segera membuka pintu dibelakang kemudi agar Yoongi bisa mendudukan Jimin.

"Tuan Min kue..." belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Yoongi menyela dengan elit.

"Kau bisa mengemudi kan?"

"Eh? I-itu a-"

"Cepat jawab bodoh! Bisa tidak?! Jika iya langsung kemudikan mobilnya!" titah Yoongi yang sedang menggenggam tangan Jimin.

"S-siap pak!" Kurir itu langsung mendudukan dirinya di kursi kemudi, dan segera melajukan mobil milik Yoongi.

Sungguh mimpi apa ia semalam? Jangankan menikah, punya calon saja belum, tapi sudah dihadapkan orang yang hendak melahirkan, dan entah berapa kecepatan yang mereka gunakan. Hanya Tuhan, dan mereka berempat saja yang tahu.

O

Entah sudah berapa banyak baju yang ia setrika, dan entah keberapa kalinya ia mendapat teguran karena hampir memabrak suster yang berjalan. Pasalnya Min Yoongi yang swag itu berubah menjadi manusia setrikaan. Ia begitu tidak tenang, bahkan kopi tak sanggup menolongnya.

Sudah satu jam sepeninggal kurir tadi, dan genap dua jam dokter menangani Jiminnya. Namun belum kunjung selesai. Tidak tahukah mereka bahwa dia sudah greget (?).

"Tuan Min Yoongi."

Merasa namanya dipanggil, dengan secepat cahaya ia berjalan mendekati dokter yang memanggilnya.

"Bagaimana Jimin?! Apa mereka baik-baik saja? Katakan padaku!" dengan tidak sabaran seluruh pertanyaan ia keluarkan begitu saja, anehnya dokter tersebut hanya diam seribu bahasa. Ibarat jeda yang cukup panjang, hingga satu kata penentu segalanya terucap.

"Sebenarnya..."

Ji

"Yoongi!"

Namja cantik itu memanggil Yoongi, ketika matanya menangkap rambut mint mencolok itu.

"Bagaimana Jimin dan cucuku? Katakan nak." tanya Baekhyun khawatir, yang hanya mendapat tatapan datar dari Yoongi.

"Yoongi-ah, apa sesuatu yang buruk terjadi?" tanya Chanyeol, perlahan Yoongi menggeleng. Mereka melihat mata Yoongi yang sedikit berkaca-kaca.

"Katakan Yoongi! Jangan membuat kami bingung." pinta Baekhyun yang siap memeluk Yoongi jika sesuatu terjadi.

"Jimin... uhm.. maksud ku mereka- uhm.."

"Yoongi-"

"Maaf, tuan Min, anda sudah diperbolehkan untuk masuk." ucap salah seorang suster yang membuat kedua mata Yoongi kembali berbinar.

"Sungguh?!" tanyany berbinar.

"Iya tuan."

"Eomma, appa tolong bayar seluruhnya." Yoongi memberikan dompetnya pada Baekhyun dan berlari ke arah ruangan yang di tunjukkan oleh sang suster.

"Yak! Yoongi!"

"Kurasa Yoongi tetaplah Yoongi." senyuman maklum tercipta di bibir Chanyeol.

"Huh?" heran Baekhyun namun hanya dibalas senyuman lembut.

"Tipikal appa baru." singkat Chanyeol.

"Apa kau juga begitu saat Jiminie lahir?" Baekhyun memandang Chanyeol.

"Aku? Tentu saja lebih parah darinya. Seluruh dunia sampai tahu jika anakku lahir." tawanya teringat kejadian serupa.

"Kau berlebihan."

"Asalkan itu berhubungan denganmu, bukan masalah untukku."

"Baiklah, kita tunggu Chullie dan Hangeng hyung. Lalu kita menyusul mereka."

"As your wish."

Yoon

Suara pintu yang terbuka, disusul sebuah kepala dengan rambut mint, membuat bulan sabit dan senyuman matahari bersinar terang. Ia memanggil namja mint agar mendekat dengannya.

"Lihat hyung, mochi kita datang." ucapnya lembut, dangan menimang bayi dalam gendongan tangannya.

"Kau tahu mochi, kau sebuah perjuangan besar." imbuhnya, membuat Yoongi mengecup pucuk kepala Jimin, dan menghapus air mata di pipi Jimin.

"Kau menakutiku Jimin. Bagaimana jika aku kehilanganmu? apa yang harus ku sampaikan pada mochimchim nanti." usapan lembut yang dirasakannya semakin membuatnya menangis.

"Dokter itu berlebihan. Aku masih kuat Yoongi! Lihat aku baik-baik saja kan?" balas Jimin dengan membawa satu tangan Yoongi menyentuh hidung bayi kecil mereka.

"Lihat pipinya seperti mochi." tawa kecil Jimin membuat bayi itu menggeliat pelan.

"Selamat datang di dunia Mochimchim." ucap mereka bersamaan.

"Ini perasaanku saja atau dia mirip denganmu?" komen Yoongi setelah menatap lekat anaknya.

"Sudah ku bilang, dia akan mirip denganku." Jimin dan kesombongannya datang.

"Ya ya terserah." ia kembali memandang bayi kecil itu dengan penuh takjub, seakan gemas dengan pandangan didepannya.

"Kau ingin menggendongnya hyung?" tawar Jimin, Yoongi menggeleng.

"Nanti saja saat di rumah."

"Eomma dan appa dimana?" Jimin menatap Yoongi yang sibuk memandang bayi kecil mereka.

"Aku meminta tolong appa dan eommamu untuk mengurus administrasi, dengan dompetku bersama mereka. Sedangkan appa dan eommaku dalam perjalanan kemari." balasnya disela kegitan-mari mencubit hidung kecil anaknya.

"Chim! Lihat matanya terbuka!" tawa Jimin meluncur ketika melihat senyuman heboh luntur dari wajah Yoongi.

"Saat bangun nanti, kau boleh mengajaknya bermain hyung. Tapi tidak dalam waktu dekat ini." Jimin tersenyum kearah Yoongi.

"Terimakasih Jimin. Kau menambah kebahagiaan baru untuk keluarga kecil kita" Yoongi mengecup pucuk kepala Jimin dan berganti pada mochi kecil mereka.

"Owie.. Yoongiku menjadi semanis Suga dimata Army." Jimin membawa tangan kanannya meraih pipi Yoongi dan mengusapnya pelan.

"Aku juga mencintaimu Yoongi." Ia menarik Yoongi menipiskan jarak lebar, berniat memadukan bibir mereka, sebelum-

"Jiminieeee! Yoongiiii! Cucu baruku!"

Satu teriakan heboh yang tidak lain berasal dari Min Heecul membuat jarak tipis menjadi lebar. Namun sepertinya, kedatangan sang eomma sosialita itu tidak sendirian. Banyak teman mereka menyusul dibelakangnya.

...

"Yoonji itu nama anak perempuan." - Hangeng.

"PCY?" - Chanyeol.

"Itu singkatan namamu Yeol." - Baekhyun.

"J-Dope? J-Hoe? Jack?" - Hoseok

"Itu tidak keren hyung! Jeon Jungkook terdengar lebih wow." - Jungkook.

"Itu namamu kookie." - Seokjin.

"Berikan saja nama Taehyung. Dia akan tampan sepertiku." - Taehyung.

"Dia bukan anakmu Tae." - Namjoon.

"Cukup! Kalian tidak membantu! Yoonji nama yang bagus. Itu nama unisex!" omel Heecul mendengar segala ide namanya ditolak, sedangkan sang suster hanya memandang mereka bingung.

"Chullie, kenapa kau yang heboh? Lihat kedua anak kita masih sibuk meminumkan susu untuk anak mereka." Hangeng menunjuk kearah Yoongi yang sibuk memegang botol susu milik anaknya, sedangkan Jimin menimang bayi kecil mereka.

"Itu tandanya mereka menyerahkan namanya padaku!" Heecul dengan pendirian kokohnya, hingga sebuah nama terlontar begitu keras.

"Jihyoon!" Sontak seluruh kepala mengarah pada satu-satunya balita disana, sebut saja Jaehyun. Anak dari pasangan Namjin. Balita itu berlari kearah Yoongi dan menarik ujung bajunya.

"Yoon appa! Yoon appa! adik Jaehyun. Jihyoon." tunjuknya pada bayi kecil dalam gendongan Jimin.

"Wae? Jae-ie ingin memberinya nama Jihyoon?" tanya Jimin, membuat balita itu mengangguk antusias, hingga ia takut jika kepala mungil itu lepas.

"Jaehyun. Jihyoon. Hyunie. Hyoonie. Sama-sama hyunie." setelah menunjuk dirinya sendiri, ia kembali menunjuk mochi kecil Yoonmin.

"Baiklah, kita beri nama Jihyoon. Bagaimana hyung?" ucap Jimin diangguki Yoongi.

"Min Jihyoon. Nama yang bagus, tolong catat nama itu. Kau suka nama itu boy?" ujarnya pada sang suster dengan menggendong Jaehyun yang berseru semangat karena Yoongi memilih usulan namanya.

"Baik tuan. Anda bisa mengambil dokumen anak anda di ruangan dokter Lee. Terimakasih." Yoongi mengangguk menandakan ia mengerti.

"Chim eomma, Jaehyun mau megang botol susunya." pinta sang balita pada Jimin, membuat Yoongi mendekatkan balita itu pada Jimin, sehingga ia bisa memegang botol susu itu.

Penonton dibelakang hanya bisa melihat dengan senyuman. Setidaknya pertengahan tahun kedua pernikahan mereka akan menjadi awal yang baru, dengan kehadiran member baru pelengkap keluarga kecil mereka.

。。

END

。。。。。。

A.N :

Hey ho! Minna-sama.

Terimakasih untuk semua yang sudah menunggu ff ini update ^^. Gomawo telah memberi review, follow, dan favorite cerita ini ^^ *deepbow*.

Mian atas keterlambatan updateannya *deepbow*. Hehehe, sebenarnya mau saia update secepatnya, tapi berhubung banyak hal terjadi, ya begini hehehe. Ditambah data awal chapter 10 ff ini hilang, saia lupa ceritanya dan walla ini akhirnya. Maaf jika tak sesuai harapan, semoga suka updateannya ^^.

Balasan Review :

Guest #1

Thankyou atas reviewnya ^^. semoga masih menunggu updatean ff ini, dan semoga suka ch 10 ini ^^ thankyou ^^.

haneunseok

Hehehe gomawo reviewnya ^^. Kapan sih bibir jimin nggak menggoda? Wkwkwkw semoga suka chapter barunya^^

yoonminsara

Thankyouuu ^^. Gomawo atas reviewnya ^^ di buat panjang ya? Ini sudah panjang belum? Semoga suka updateannya ^^.

jungkookcabe

Terimakasih reviewnya ^^, ini sudah lanjut meski lama updatenya, semoga suka chapter barunya :)

Guest #2

Thankyou reviewnya :), maaf updatenya super lelet *deepbow* semoga suka chaptee barunya ^^

Guest #3

Terimakasih untuk reviewnya ^^ Thankyou sudah mau menunggu untuk updatean super lama ini *deepbow*. Semoga suka chapter barunya ^^

joah

Yang menghayati pasti lupa hehehe, thankyou reviewnya ^^ semoga suka chapter barunya :)