Disclaimer: Anything related to Persona 3 belongs to ATLUS. Shadow the Hedgehog belongs to Sonic Team and SEGA. Every IPB campus belongs to Direktorat IPB. All of my friends belongs to me! *slapped* I mean, belongs to themselves.
Chapter 10 Dwelling on the Past
Kamis, 7 Mei 2009
Dark Hour
Tartarus BS Basement ke-13
"Okay!! Home, here we come!!" teriakku semangat. Kami berempat segera berjalan menuju transporter, sementara Shadow sudah kembali ke pikiranku. "Nggak mau nerusin lagi nih?" ajakku melihat ke arah tangga di sebelah kiri persimpangan jalan. "Nggak ah, aku udah capek! Yang lain pasti juga sama." tolak Nana. "Iya ya, 'kan hari ini kalian yang paling lama di dalam Tartarus. Maaf deh, ku lupa kalo kalian udah capek." kataku minta maaf. 'Hm?! This feeling....'. 'What's up, Dow?' tanyaku penasaran. 'No way! It can't be!!' kata Shadow tidak percaya.
"Teman-teman!! Aku merasakan sebuah shadows yang sangat kuat! Bahkan melebihi powerful shadows yang pernah kita lawan!!" kata Feby tiba-tiba. "Apaa?!!" teriak kami kaget. Tiba-tiba terdengar suara rantai dari belakang kami. Saat kami menoleh ke belakang, sebuah rantai langsung menyambut kami. "Awas!!" teriak Hadi. Untungnya kami semua berhasil menghindarinya *dhuuaaarr*. "Hei, ledakan apa itu?!" tanya Hari. Kami menoleh ke arah ledakan tersebut. "Gawat, transporternya hancur terkena serangan rantai tadi!!" kata Hadi panik.
Perhatian kami kembali tertuju ke rantai yang ditarik ke arah pemiliknya. Sebuah shadows berbentuk manusia dengan pistol di kedua tangannya dan rantai ditubuhnya, hanya saja dia melayang karena kakinya tidak terlihat. "shadows macam apa itu?! Aku belum pernah melihatnya!" kata Hari kaget. "Nama shadows itu the Reaper, Arcananya Death!! Statusnya sama dengan shadows yang barusan kalian lawan. Kalian tidak mungkin bisa melawannya! Cepat lari!!" teriak Feby kuatir.
"Ngomong sih gampang! Tapi bagaimana caranya kita bisa kabur?! Transporternya udah ancur tau! Dan nggak mungkin kita ke tangga, karena jalan ke sana ada di belakang makhluk itu!" jelas Hari panik. "Biar ku yang menarik perhatiannya, kalian siap-siap kabur aja! Arcana Weapon!!" perintahku sambil mengeluarkan Dual Sword. "Tapi Gir....". "Nggak usah kuatir, saat ini cuma ku sama Shadow yang masih fit. Jadi kita nggak akan kenapa-kenapa kok! (I hope so)" jelasku bohong. Tapi, belum sempat aku menyerang, shadows itu sudah menembakkan pelurunya ke udara.
"Cih, semuanya cepat menghindar!!" teriak Hadi. Sayangnya, terlalu banyak peluru yang ditembakkan, sehingga kami terkena serangannya. 'Untung ku sempat menangkis dengan senjataku.' pikirku lega. Tapi saat kulihat teman-temanku, mereka semua terluka parah karena tidak bisa menghindar akibat kelelahan. "Teman-teman!!" teriakku kuatir. "Kami tidak apa-apa kok!" kata Hadi berusaha bangkit. Aku tahu dia bohong, dari caranya berdiri terlihat jelas kalau mereka terluka parah.
Aku kembali fokus ke musuh di depanku. "Kau sudah melukai teman-temanku! You will pay for this!! Shadow, come!!*praaangg*" teriakku memanggil Shadow sambil berlari. Aku langsung menyerang makhluk itu ditambah serangan Zio dari Shadow. Kami melakukan serangan gabungan itu lagi. Sayangnya shadows itu tidak terluka parah meski terkena serangan kami. Kemudian makhluk itu balas menyerang kami dengan serangan yang serupa. Sebuah petir besar menyambar dan menggetarkan lantai. "Uuuaaghh!!" teriakku kesakitan. 'No way!! Padahal saat ini ku kuat terhadap serangan listrik. Tapi kenapa ku masih kesakitan?!' pikirku bingung.
"Serangan apa itu?! Aku belum pernah melihat serangan sebesar itu! Bahkan kelihatannya lebih kuat dari Zionga milikku!" kata Hadi takjub. 'Apa yang harus ku lakukan?! Bukannya menolong teman-teman, ku malah jadi yang harus ditolong. Damn it!!' pikirku kesal. 'Kalo begini terus kita bisa hancur berkeping-keping karena serangannya!! Eh, berkeping-keping....? Ah!!'. "Hadi, cepat pecahkan bola kaca yang tadi kita temukan!!" teriakku ke Hadi. "Oh iya, benar juga!!" Hadi langsung mengeluarkan bola itu lalu melemparnya ke lantai. Tiba-tiba muncul cahaya menyilaukan dari bola itu, bahkan aku tidak bisa melihat apa-apa.
Tidak lama kemudian, cahaya itu menghilang. Anehnya, teman-temanku dan shadows tadi juga menghilang. "Lho?! Teman-teman!!" teriakku mencari mereka. Kemudian aku melihat secarik kertas di lantai tempat bola tadi pecah. "Trafuri Gem, pecahkan saat darurat." Lalu aku melihat tulisan dibaliknya. "Benda ini akan menteleportasi orang-orang disekitarnya keluar Tartarus. Juga dapat menjauhkan musuh disekitarnya.".
"Tapi kenapa ku masih di sini?!" kataku bingung. "Read more!" kata Shadow, aku melihat ada tulisan kecil di bagian ujung kiri. "Hanya bisa memindahkan orang-orang yang berada dalam radius 3 meter.". Aku langsung berjalan dari tempat kertas itu berada ke tempat aku semula berdiri saat melawan shadows.
"Hm.... kalo tiap ubin ukurannya 30x30 cm, dan jarak ku dari sana adalah 11 lantai, berarti....jarakku 3,3 meter dari tempat ledakan." kataku menghitung jarak. Shadow hanya sweatdropped melihatku. "Uuugghh!! KENAPA TANGGUNG BANGET SIH??!! Cuma gara-gara beda 0,3 meter aja ku jadi tertinggal di sini!!" teriakku histeris sambil mengambil kertas tadi dan merobeknya hingga sekecil-kecilnya. "Benda penolong macam apa ini?!! Masa jaraknya cuma 3 meter?!!" teriakku kesal.
"Anggir, kamu tidak apa-apa? Kenapa kamu masih di dalam? Padahal yang lain sudah di gerbang!" kata Feby menanyakan keadaanku. "Ini gara-gara benda nggak berguna yang tadi Hadi lempar!" jawabku kesal. "Save your comment for later. We got a company, and it's not good!" kata Shadow bersiap-siap. "Damn it! Kenapa dia harus datang lagi sih?!" kataku makin kesal melihat the Reaper kembali muncul. Aku dan Shadow segera melakukan posisi bertarung.
*Teng* Tiba-tiba terdengar suara lonceng dari atas. Kemudian lantai ruangan mulai bergetar. "Wha-what happening here?!" kataku berusaha untuk tidak terjatuh. "Anggir, cepat keluar dari sana!! Dark Hour hampir selesai!!" teriak Feby kuatir. "What?!! Gimana caranya, transporternya 'kan udah ancur!!" teriakku panik. Untungnya musuh di depan kami juga kesulitan untuk berdiri, sehingga kami bisa kabur. *teng* "Anggir, the stairs!! If we fast, maybe we will find another transporter!" jelas Shadow. Kami langsung berlari menuju tangga, tetapi getarannya makin kuat, sehingga menjatuhkan kami berdua.
(POV Third Person)
Tartarus BS Ruang ke-66
"Feby, gimana keadaan Anggir sama Shadow?!" tanya Adipta kuatir. "Mereka masih di basement ke-13. Karena guncangan yang terlalu besar, mereka jadi sulit bergerak. Bagaimana nih?!" jawab Feby bingung. *teng* Tiba-tiba ruangan itu juga bergetar. "Gawat, sudah tidak ada waktu lagi!! Kita harus keluar sekarang, sebelum lonceng ke-12 berbunyi!" kata Adipta. "Tapi bagaimana dengan mereka berdua?!" tanya Feby kuatir.
"Kita hanya bisa berharap mereka berhasil keluar dari sana. Lebih baik kita menunggu mereka di gerbang bersama yang lainnya." jelas Adipta. "Iya sih, tapi...." kata Feby ragu. *teng* "Udah jangan kelamaan mikir! Kalo kita nggak keluar sekarang, kita bisa terjebak di sini!!" perintah Adipta sambil menarik tangan Feby menuju transporter.
Gerbang Tartarus
*teng* "Gawat nih!! Anggir sama Shadow ketinggalan di dalam! Weton sama Feby juga masih di sana, gimana nih Gae?!" tanya Hari panik. "Nggak tau deh! Aku juga bingung tau!! Harusnya kita semua tadi keluar barengan pas aku lempar bola tadi, tapi kenapa cuma kita yang keluar?!" kata Hadi juga panik. "Mungkin karena mereka berdua terlalu jauh dari kita, makanya mereka nggak ikut keluar!" kata Nana berspekulasi. *teng* Tiba-tiba Adipta dan Feby muncul dari dalam Tartarus.
"Weton, Feby!! Mana Anggir sama Shadow?! Mereka nggak sama kalian?!" tanya Hadi. "Maaf, mereka masih di dalam. Mereka tidak bisa bergerak akibat guncangan di sana terlalu keras." jelas Feby sambil menundukkan kepalanya. "Apaa?! Lalu kenapa kalian diam saja?! Kenapa kalian tidak menolongnya sih?! Ternyata kalian tidak peduli dengan Anggir ya?! Terserah deh, yang jelas aku akan menolong mereka sekarang!!" kata Hadi marah sambil berlari menuju Tartarus.
"Hadi, jangan masuk!!" teriak Adipta berlari menghentikan Hadi. *teng* "Bukannya aku nggak peduli, bahkan aku juga kuatir, tapi Dark Hour hampir selesai!! Kalo kita masih di dalam Tartarus sampai Dark Hour selesai, kita bisa terjebak di dalamnya!!" jelas Adipta. "Tapi aku nggak bisa diam begini aja! Aku harus menolongnya!!" kata Hadi kembali berlari.
*Dhuuk* tiba-tiba Adipta memukul kepala Hadi hingga dia terjatuh, yang lain kaget melihat perbuatan Adipta. "Jangan melakukan hal bodoh!! Bukan cuma kamu yang kuatir tau!! Kita juga maunya menolong Anggir, tapi kalo kita semua terjebak di sana, siapa yang bisa menolong kita semua?!" jelas Adipta. Hadi langsung diam setelah mendengar perkataannya. *teng* "Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah berharap Anggir bisa keluar dari sana sebelum Dark Hour selesai." kata Adipta mengangkat Hadi.
"Baiklah, aku akan menunggunya." kata Hadi akhirnya tenang. "Tapi kalo Anggir belum keluar juga pas Dark Hour selesai gimana?!" tanya Hari. *Bletak* Kali ini kepala Hari yang dipukul Nana. "Bisa diam nggak sih?! Jangan ngomong sesuatu yang bisa membuat Hadi panik!!" kata Nana berbisik ke Hari. "Aduuuhh.... iya maaf deh!! Tapi nggak usah mukul dong!" kata Hari kesakitan. "Kita harus percaya kalo Anggir pasti bisa." harap Feby.
(POV Anggir)
Tartarus BS Basement ke-13
Akhirnya kami bisa berdiri setelah guncangannya berkurang. "Come on, we don't have time to waste!!" perintah Shadow menarikku. Kulihat musuh di belakang kami juga sudah bangkit dan mengejar kami. *teng* sudah sembilan kali aku mendengar dentangan lonceng, entah kapan lonceng itu akan berhenti berdentang. Yang jelas kami harus segera keluar sebelum lonceng itu berhenti.
"There it is!! We almost made it!!" teriakku melihat tangga. Sayangnya shadows di belakang kami menyerang sebelum kami sampai ke tangga. "Uaaahh!!" teriakku kesakitan terkena tiga tembakannya. "Anggir!! Chaos Spear!!" teriak Shadow membalas serangannya. Beberapa cahaya muncul dan menyerang musuh kami. Makhuk itu terkena telak dan terluka, sehingga dia mundur. *teng* "Here, you can use my shoulder." kata Shadow membopongku. Kami berusaha berlari secepat mungkin menuju tangga.
Tiba-tiba suhu di sekitar kami turun drastis, bahkan kaki kami mulai membeku. Kami menoleh ke belakang dan melihat the Reaper melakukan serangan es yang lebih kuat dari serangan Bufula Yukina, Persona Nana. "Shoot!! What should we do?!" kataku panik. "If only we have Fire attack. Wait, maybe I can use another attack! Chaos Crush!!" kata Shadow. Sebuah meteor muncul dan mengarah ke.... kami?! "Shadow, what are you thinking?! We can die!!" teriakku histeris. Untungnya meteor itu jatuh tepat di depan kami dan memecahkan es yang membeku di lantai dan kaki kami, sehingga kami bisa kembali berlari.
*teng* "Are you nuts?! We almost die!!" teriakku kesal di telinga Shadow. "I did't have another idea, but it works, right?!" jawab Shadow berlari sambil membopongku. "Next time you want to try some dare suicide attack again, do it to yourself! Don't involve me!!" kataku kesal. Akhirnya kami sudah berada di dekat tangga, kami langsung melompat untuk menuruni tangga itu. Tapi musuh di belakang kami tidak membiarkan kami lolos begitu saja. Dia langsung melemparkan rantai dan menarik kami menjauhi tangga hingga terjatuh.
"*sigh* It looks like our enemy doesn't want us to escape." kataku mengeluh. "Yeah, you're right. He really loves to kill us, doesn't he?!" kata Shadow setuju. *teng* dentang lonceng ke-12 terdengar. Tiba-tiba tangga di depan kami runtuh, begitu juga dengan dinding, atap, dan yang terparah.... lantai di sekitar kami. "It can't be worse than this, right?!" kataku panik. "Of course it can." jawab Shadow juga panik.
"I think you're right!" kataku melihat lantai. Lantai di bawah kami retak dan menjatuhkan kami. "AAAAaaaaahhh!!" teriak kami kaget. Musuh kami juga terjatuh lebih cepat hingga tidak terlihat. Sepertinya dia lebih berat dari kami berdua. "Now we really are gonna DIE!!" teriakku makin panik.
(POV Hadi)
Jumat, 8 Mei 2009
Dark Hour (tengah malam)
Gerbang Tartarus (Kampus GG)
"Anggir!!" teriakku melihat Tartarus menyusut kembali menjadi kampus GG, menandakan Dark Hour sudah berakhir. Lampu jalan menyala, kendaraan kembali bergerak, dan orang-orang yang tidak mengalami Dark Hour kembali muncul. "Tuh 'kan perkataanku be-" tiba-tiba mulut Hari langsung ditutup oleh tangan Nana. "Sial!! Kenapa dia harus terjebak di sana sih?!" kataku kesal sambil memukul tanah. "Hadi...." kata Feby menenangkanku.
"Sekarang lebih baik kita pulang dulu. Lagipula kita semua memang harus beristirahat." kata Adipta. "Apa kau bilang?! Kita enak-enakan istirahat sementara Anggir masih terjebak di sana!! Mana mungkin aku bisa tenang dan istirahat begitu aja!!" kataku menarik baju Adipta. "Udah jangan pada berantem!!" kata Nana melerai kami. "Lagian kalo kita mau menolong pun nggak bisa sekarang. Percuma, Tartarus hanya muncul saat Dark Hour. Jadi lebih baik kita pulang dan menyimpan tenaga sekaligus mencari cara menolong Anggir." jelas Nana.
"Huh!! Terserah deh! Yang jelas nanti malam kita harus balik lagi ke Tartarus untuk menolong Anggir. Tapi kalo kalian nggak mau juga nggak apa-apa, aku bisa sendiri kok!" kataku kesal sambil pergi meninggalkan mereka. "Gae, tungguin dong!!". "Jangan mengikutiku!!" teriakku menghentikan Hari. "Ya udahlah Har, biarin aja dia sendiri untuk sementara. Lagian kamu 'kan menginap di kost aku malam ini." kata Adipta menghibur Hari.
Tengah malam, 00.30
Kost Hadi
Sesampaiku di kost, aku langsung masuk kamar dan menjatuhkan diriku ke kasur. 'Kenapa cuma Anggir sama Shadow yang tertinggal? Kenapa mereka tidak kembali ke gerbang Tartarus? Yang paling parah, kenapa aku tidak bisa menolong mereka?!' pikirku kesal. 'Semoga saat ini mereka baik-baik saja. Yang jelas, nanti malam aku harus pergi ke Tartarus dan menolong mereka! Aku tidak akan pergi sebelum berhasil menolong mereka! Tekadku sudah bulat!!' pikirku yakin.
Pagi hari, 07.00
IPB Kampus CB
Pagi ini aku merasa sangat lelah, mungkin karena semalam aku tidak tidur. Yah, bagaimana mungkin aku bisa tidur tenang selama Anggir masih terjebak di Tartarus. Saat aku mau memasuki ruang kuliah, Goman dan Hari mendatangiku. "Hai Hadi!! Kok lemes sih? Ngapain kamu semalam? Bergadang ya?" tanya Goman penasaran. "Ah, iya nih Man! Soalnya semalam ada kejadian buruk." jawabku lemas. "Kejadian apaan?" tanya Goman bingung.
"He-hei Gae, kamu lagi ngigau ya? Jangan didengerin Man, dia 'kan lagi ngantuk. Makanya ngomongnya ngaco. Hari ini ada tugas nggak sih?" kata Hari ganti topik sambil memberi isyarat kepadaku agar tutup mulut. Aku lupa kalau masalah semalam merupakan hal yang sangat rahasia. Tapi rasanya menyakitkan jika tidak memberitahu Goman soal hilangnya Anggir, karena kami selalu terbuka satu sama lain."Eh, dosennya udah dateng tuh. Yuk masuk!" ajak Hari. Kami langsung masuk ke ruang kuliah dan memulai kuliah hari ini.
Satu setengah jam telah berlalu, tapi aku sama sekali tidak bisa fokus ke materi yang diberikan hari ini. Lalu saat istirahat tiba, aku keluar untuk membeli makanan kecil. Di kantin aku bertemu Aziz yang terlihat bingung. "Di, Anggir kok nggak masuk sih? Bukannya semalam dia nginep di kost kamu?" tanya Aziz. "Iya, semalam Anggir tiba-tiba sakit. Sepertinya dia kelelahan, makanya kusuruh istirahat." jawabku bohong.
"Sakit?! Sakit apaan Di?! Kalo gitu nanti siang aku ke sana deh!" kata Aziz kuatir. "Eh, jangan!! Maksudku....nggak usah, katanya pagi ini orang tuanya mau jemput dia. Makanya nanti siang dia udah nggak ada." kataku mencari alasan. "Emang dia sakit apaan Di? Sampe dijemput segala? Parah ya?!" tanya Aziz makin kuatir. "Yah....sejenis sakit demam, tapi kayaknya bukan demam berdarah kok! Yang jelas dia harus banyak istirahat. Nanti kamu bilang ke dosen dikelasmu kalo Anggir sakit ya! Soal surat udah aku urus kok. Jangan lupa bikin catatan buat dia, biar dia nggak ketinggalan pelajaran." jelasku.
"Oh, kalo soal catatan sih kayaknya nggak perlu. Dia 'kan tipe orang yang nggak suka nulis. Paling nanti dia aku kasih hand out materi hari ini." kata Aziz. "Heh, ternyata dia belum berubah juga ya. Males bikin catatan tapi bisa kerjain soal quiz atau ujian dengan modal mengingat ocehan dosen sama baca hand out dalam semalam. Bener-bener nggak bener tuh anak!!" kataku tersenyum. "Hahaha..." kami berdua tertawa memikirkan kemampuannya.
Setelah ngobrol dengan Aziz, aku langsung kembali ke ruang kuliah. Aku langsung memindahkan tempat dudukku agar bisa duduk berkelompok, karena setelah istirahat kuliah selalu diadakan tugas kelompok. Biasanya aku senang duduk berkelompok, tapi khusus hari ini aku merasa enggan. Karena kelompokku adalah orang-orang yang terlibat dengan masalah semalam.
"Kok, kayaknya hari ini muka kalian suram banget? Kenapa sih?!" tanya Goman memperhatikan kami berlima. "Oh, nggak apa-apa kok Man. Kita cuma lagi nggak mood aja." kata Hari. "Ya udah, nanti kita main poker aja biar stress kalian hilang. Anggir sama Aziz nanti juga diajak ya!" ajak Goman. Mendengar kata 'Anggir' membuat kami makin murung. "Lho, kok jadi makin suram? Apa aku salah ngomong ya?" kata Goman bingung.
Saat yang lain sedang sibuk mengerjakan tugas, Adipta menggeser kursinya mendekatiku. "Hei Di, aku minta maaf soal semalam. Yang lainnya juga merasa kehilangan kok. Jadi, nanti malam kami ikut kamu untuk menolong Anggir. Tenang aja, kita pasti bisa menemukannya!" kata Adipta meminta maaf. "Iya, aku juga minta maaf gara-gara aku marah semalam. Pokoknya nanti malam aku nggak akan keluar dari Tartarus sebelum berhasil menolongnya!" kataku yakin. Adipta pun mengangguk setuju, lalu kami kembali mengerjakan tugas.
(POV Anggir)
???
(Unknown place and time)
"Uuuhh….rasanya kepalaku pusing banget nih!" kataku memegang kepalaku. "Finally you awake. It's been 10 minutes since we fell from 13th basement." kata Shadow menyambutku. "Where are we?" tanyaku melihat ke berbagai arah. Tempat ini terlihat seperti koridor di kampus dengan lantai berwarna merah, hanya saja lebih panjang, juga tidak ada ruang kuliah sama sekali. "I don't know. Even I'm not sure if this place is Tartarus or not." jawab Shadow.
"Don't worry, we still inside Tartarus. This place called Monad. This is a special area that exist in Tartarus." tiba-tiba terdengar suara di belakangku. "Whoa!! Oh…it's you Pharos. Don't scared me like that! I almost hit you!" kataku kaget melihat Pharos yang tiba-tiba muncul. "Monad? What do you mean by 'special area'?" tanya Shadow. "Oh, people can only come here by fulfill a condition." jawab Pharos. "And what is it?" tanyaku pensaran.
"You can only enter here if you can defeat the strongest shadows inside Tartarus." jelasnya. "You mean, the Reaper?!" tebakku. "Exactly! When you defeat it, the door that leads to this place will appear." kata Pharos membenarkan tebakanku. "But we didn't defeat it! We the one who almost defeated." kata Shadow bingung. "Then you must be using special power to came here." kata Pharos. "Well, actually…. I used Chaos Control. I thought we gonna die, so I use it to teleported us to another place. But I didn't have time to think where to go, so….that's why we here." jelas Shadow.
"Wait, you mean we came here by accident?!" kataku tidak percaya. Shadow hanya mengangguk. "Great!! Now what we gonna do?! Pharos, do you know how to get out from here?" tanyaku mulai panik. "Of course not." jawab Pharos tersenyum. *bletak* "Don't be ridiculus!! How could you say that with smile?!" teriakku marah sambil memukul kepalanya. "Ouch, that hurt!!" kata Pharos memegang kepalanya.
"Pharos, are you sure you don't know how to get out from here? Like transporter or something?" tanya Shadow menyakinkan Pharos. "Well....I'm not sure, but there's one thing I know for sure!" kata Pharos sambil berpikir. "Yeah-yeah, what is it?! Come on, tell us already!!" kataku tidak sabar. "There's no transporter in here!! Hehehe...." jawabnya bangga. *bletak-bletak* Dua pukulan dariku dan Shadow langsung menyambutnya. "Huh, take that you idiotic child!!" kataku kesal. "Just let him be. Let's go, maybe we'll find an exit!" ajak Shadow mulai berjalan. Aku pun mengikutinya dan meninggalkan Pharos terkapar di lantai.
Kira-kira sudah lima menit kami berjalan. Dan tidak ada tanda-tanda adanya pintu keluar. Bahkan dari tadi kami hanya berjalan lurus, tidak ada persimpangan sama sekali. "Hey Shadow, I'm getting nervous. It looks like we just walking straight without any sign of exit or something else." kataku mulai panik. "Hm, you're right. So, do you have any idea?" tanya Shadow berhenti. "Why don't we use Chaos Control again? Maybe we'll transport to outside Tartarus." usulku. "I don't think so. In this place, my Chaos Control ability is out of control. Besides, I don't have much power left to use it." jelas Shadow.
"Then how we can get out from here?!" kataku menaikkan nada suaraku menandakan diriku makin panik. "Just shut up and think about it by yourself!! Don't just crying like a baby waiting for help!!" teriak Shadow kesal. "*ggrrr* Fine, I'll find it by myself!!" kataku kesal. Aku segera berlari dan meninggalkan Shadow. "Hey, don't be careless you idiot!!" teriak Shadow menyusulku.
Aku mengacuhkannya dan terus berlari. "Anggir, stop!! Or else...." perintah Shadow mengancamku. "Or else what, you stubborn?!" ejekku menoleh kepadanya. "Or else you will absorbed to that light!!". "What light?....Whooaaa!!" kataku melihat ke depan. Sebuah cahaya muncul lalu menarikku dan Shadow ke dalamnya.
??? (unknown time)
Somewhere on Pamulang
"Uuuhh....kepalaku pusing banget nih!! Eh, bukannya ini jalan menuju SMP ku ya? Kok ku bisa ada di sini sih?! Lho, kok siang sih? Perasaan Dark Hour baru lewat setengah jam." kataku melihat sekeliling. "Maybe we're in diffrent time now." tebak Shadow. "Lho Shadow, you here too?!" kataku kaget melihatnya disebelahku. "What, you expecting me to lost?! Don't forget, you can't do much without me." ejek Shadow. "Hmph, whatever!! I think I should get back to home for now." kataku mulai berjalan.
Baru beberapa langkah kami berjalan, tiba-tiba aku melihat sekumpulan preman sedang mengganggu seorang anak SMP. "Hm, look at those pathetic human. But I don't have time to help that kid." kata Shadow terus berjalan. "Hey, we can't ignored them like that! I'll help that boy!" kataku berlari ke arah mereka. Shadow hanya tersenyum sinis. "You still have those kind of feeling, aren't you?! Heh, do whatever you want!" kata Shadow. Lalu dia kembali ke pikiranku. 'But I'm glad you still had those feeling. Okay, let's help him!' kata Shadow.
"Heh, kumpulan makhluk nggak berguna!! Ngapain kalian gangguin anak kecil, nggak ada kerjaan lain apa?!" teriakku menantang para preman. Preman yang sedang menarik anak kecil itu langsung marah. "Apa-apaan nih bangsat?! Berani bener dia nantangin kita!! Hajar dia!!" perintahnya. Empat preman lainnya langsung mendekatiku. "Empat lawan satu?! Apa kalian nggak diajarin untuk berlaku adil, heh?! Ini sih sama aja kalian meremehkanku!!" kataku mengambil kuda-kuda.
'Kamu nggak pake senjatamu?' tanya Shadow. 'Huh, kalo cuma melawan sekumpulan preman begini sih nggak perlu!!' kataku percaya diri. Salah satu preman langsung menyerangku, aku langsung menepis pukulannya dengan tangan kiri dan tangan kananku langsung memukul perutnya hingga dia muntah. Dua preman lainnya langsung menyerangku dari dua arah. Aku melompat dan menendang mereka berdua sekaligus sampai terjatuh.
"Boleh juga nih bangsat!! Coba lo makan pisau gue!!" kata preman terakhir menyerangku berkali-kali dengan pisau. Aku menghindari serangannya dengan mudah. "Lemot amat!! Kalo cuma segitu anak kecil juga bisa menghindar!! Gantian ya!!" ejekku menangkap tangannya dan mengarahkan pisaunya ke lehernya. "Gimana, mau yang mana dulu nih yang ku tusuk?!" kataku tersenyum sinis. Preman itu langsung ketakutan sambil berusaha melawan agar tidak tertusuk. Tapi aku langsung menggores lehernya sedikit agar dia tersiksa. "Aaarrgh!!" teriak preman itu kesakitan.
Akhirnya aku melepaskannya. Dan mereka berempat langsung kabur. "Heh, bangsat!! Cepet serahin semua duit lo atau anak ini gue tembak!!" perintah preman yang menyekap anak itu dan menodongkan pistolnya ke kepala anak itu. 'Sial, ada yang bawa pistol lagi!!' pikirku panik. Tiba-tiba anak itu mengigit tangan preman itu dan mengambil pistolnya. "Nah, sekarang siapa yang anak kecil, hah?!" kata anak itu menodongkan pistol ke arah preman itu.
"De, jangan de! Gue tadi cuma bercanda kok, nih duitnya gue balikin!! Jangan tembak ya!!" kata preman itu ketakutan. 'Hebat juga anak ini!!' pikirku takjub. "Ya udah, kamu ku lepasin. Sekarang cepet pergi dari sini dan jangan sampe ku liat kamu lagi!! Kalo nggak, kamu akan merasakan akibatnya!!" perintah anak itu. Preman itu langsung meminta maaf dan kabur menyusul teman-temannya.
"*plok, plok, plok* WoW, berani juga kamu nak!!" kataku sambil tepuk tangan. "Ah, biasa aja kok om. Nih pistolnya om bawa aja, kasih ke polisi ya!" kata anak itu malu. 'Om?! Ku nggak setua itu!!' pikirku kesal. "Eh adik kecil, jangan panggil ku om ya. Panggil kakak aja, umurku masih 18 tahun kok." kataku sambil memegang kepalanya. "Oh maaf, tapi kakak juga jangan panggil ku adik kecil dong!" balasnya. Aku hanya tersenyum mendengarnya. 'Heh, lucu juga anak ini. Rasanya ku kenal deh, di mana ya?' pikirku mengingat wajah anak itu.
"Oh iya, ku lupa ngenalin diri! Namaku Anggir, nama kakak siapa?" katanya memperkenalkan diri. "Hah!! Anggir?! Nggak mungkin?!" teriakku kaget. Anak itu langsung bingung melihatku. 'Sepertinya kita benar-benar nyasar ke masa lalu.' kata Shadow. 'Jadi anak ini adalah diriku di masa lalu!!' pikirku tidak percaya. "Eh kak, nama kakak siapa? Kakak 'kan udah nolongin ku, jadi ku harus tau nama kakak dong!" kataku.... eh, anak itu.
"Eengg....namaku An-Andow!! Iya, itu namaku!!" kataku mencari-cari nama lain. "Andow? Nama yang aneh, tapi keren!!" kata anak itu senang. "Eh, kamu kelas berapa?" tanyaku penasaran. "Ku baru masuk SMP, kelas 1 di SMP Pamulang. Itu sekolahnya!" jawabnya sambil menunjuk jalan ke arah SMP. 'Berarti ini 6 tahun yang lalu dong.' pikirku.
"Kakak tinggal di mana?" tanya anak itu. "Eh, kakak tinggal di Bogor. Hari ini ku mau ketemu teman SMP." jawabku bohong. Mendengar jawabanku, anak itu langsung murung. "Eh, kok murung? Ku salah ngomong ya?" tanyaku kuatir. "Nggak, ku cuma mikir kapan ku bisa punya teman kayak di SD dulu." jawabnya. Aku baru ingat kalau dulu aku memang tidak punya teman saat masuk SMP.
"Tenang aja, kakak dulu juga sama kok! Yang penting kamu jangan sedih, coba deh kamu ngobrol sama teman sekelasmu. Pasti nanti ada yang jadi temanmu." saranku sambil menepuk pundaknya. "Tapi ku nggak tau mau ngobrol apa sama mereka.". "Yah, apa aja jadi kok. Bisa dari pelajaran, atau game kesukaanmu. Kayak Sonic atau lainnya." usulku.
"Kakak main game Sonic juga? Kok tau kalo ku suka game itu?!" tanyanya curiga. "Eh.... yah, bisa dibilang kita punya kesamaan. Buktinya kita sama-sama pake jam di tangan kanan. 'kan nggak semua orang kayak kita. Biasanya orang yang pake jam di tangan kanan punya keunikan lho!" kataku asal. "Oh....gitu ya! Ku baru tau, soalnya ku cuma ngikutin Bapakku sih." jawabnya polos. 'Emang ku cuma ngikutin kok.' pikirku sambil tersenyum.
"Nah, gimana kalo kamu sekarang pulang bareng anak itu? Siapa tau kalian bisa jadi sahabat!" kataku menunjuk ke seorang anak SMP gemuk yang berjalan ke arah kami. "Ah, dia 'kan teman sekelasku. Oke deh, ku akan berusaha untuk menjadi sahabatnya! Makasih ya kak!! Kalo udah gede nanti ku mau jadi kuat dan bersahabat kayak kakak!!" katanya sambil berlari. "Ya, berusahalah!!" teriakku menyemangatinya.
'Benar-benar masa lalu ya!' kata Shadow. 'Ya, ku baru ingat kalo dulu ku pernah ditolong seseorang. Eh ternyata dia adalah diriku sendiri!' jawabku. 'Yeah....nah, sekarang gimana cara kita kembali ke masa depan?' tanya Shadow. Aku langsung sweatdropped. "Eh.... ku lupa soal itu!!" teriakku baru sadar.
Tiba-tiba pistol yang diambil dari preman tadi bersinar. "Eh, kenapa tiba-tiba pistol ini bersinar?! He-hey, pistolnya menarik tanganku! Sepertinya benda ini ingin melakukan sesuatu." kataku kaget. Kemudian tanganku mengarahkan pistol itu ke atas dan menembak ke langit. Dari pistol itu keluar setitik cahaya. Lalu cahaya itu membesar dan bergelombang, dan menghisapku ke udara. "*sigh* Here we go again!!" keluhku merasakan 'deja vu'.
Waaahh!! Akhirnya setelah perjuangan menghadapi berbagai tugas kuliah yang mengesalkan, ku bisa menyelesaikan Chapter 10 ini!! *menangis bangga*
(Shadow: Hey, back to reallity, will you?!)*slapp Anggir*
Ouw!! Okay, ku udah sadar. Maaf ya kalo updatenya kelamaan, semester ini kebanyakan tugas sih!
Oh iya, kali ini ku sengaja menyambung bagian akhir chapter lalu. Biar ada efek suprise, hehehe... Abis kalo langsung pulang kayaknya terlalu biasa. Yang jelas ku sedang menjelajahi berbagai ruang-waktu di chapter ini.
Kira-kira seru nggak suprise-nya?! Dan soal humor, (dari Kirazu) ku emang nggak terlalu fokus ke humor. Ada humornya sih, tapi ku selalu liat keadaan dulu. Kayaknya nggak pas kalo ada humor pas keadaan serius. Dan salam kenal Frau!
(Shadow: Gimana rasanya jadi OC-nya Kirazu?)
Frau: Engg...gimana ya?
(Shadow: Setidaknya nggak separah authorku 'kan?!)
Frau: Hm.....kalo itu....susah juga, parahan mana ya?
*Shadow and Frau was killed by their author*
Ehm....soal battle, kayaknya di chapter ini daripada dibilang battle, lebih pas disebut run for your life. Abis nggak mungkin 'kan ku bisa lawan the Reaper dengan level segini (kira-kira Lv 15). Dan akhirnya ku bisa nyasar di Monad yang isinya shadows level tinggi semua (untungnya lagi nggak ada). Btw, kira-kira bener nggak sih efek Trafuri Gem-nya? Soalnya ku rada lupa, jarang make sih!
Nah, semoga kalian puas membaca chapter ini! Sudilah kiranya anda memberikan Review untuk chapter ini. (Shadow: Jangan sok formal deh!)
Oh, one more thing! Kira-kira ada yang bisa tebak nggak siapa anak SMP gemuk yang ku tunjuk pas ku nyasar ke masa lalu? Udah jadi Social Link kok. (Tapi makhluk yang bersangkutan pasti udah sadar)
Okay, terima kasih sudah membaca! Dan selamat hari raya lebaran bagi yang merayakannya!! Yang lagi mudik, hati-hati ya!!
PS dari Shadow untuk Mocca-san: Ku puasa kok, ku 'kan jadi bagian dari diri Anggir. Tapi yang paling ngeselin, ku nggak bisa menghajar anak idiot ini saat dia melakukan hal-hal idiot!!
(Anggir: Hey, jangan marah! Ntar batal lho puasanya. Enaknya ngapain lagi ya?? Hehehe....) *memikirkan ide-ide gila*
