Hell-o minna-sannn! Mumpung banyak libur ayo tuntaskan utang fic *joget

Makasi yah sudah nunggu kelanjutan fi c abal-abal ini :') MysteryPT & Ea Kazuki makasi banyak untuk reviewnyaa!3

Nggak usah banyak bacot karena gatau mau ngomong apa lagi, langsung cus~

.

.

Some Stories at 07-Ghost Academy

Disclamer : Amemiya Yuki & Ichino Yukihara's

Warning:ada OC (Namikaze Shizuka is mine:p) OOC, gaje, shounen-ai, and (maybe) typos, bahasa non baku (nggak,gak,udah,dll)

.

.

Chapter 10: Stradivarius Violin & Hints

.

Sebulan berlalu semenjak kejadian Teito menguping pembicaraan Ilyusha dan Xing Lu tentang guru baru mereka. Ia masih kebingungan, apa yang dimaksud kakaknya itu, apa hubungannya? Dan.. Kenapa? Jujur ia masih tidak percaya apa yang dikatakan oleh Ilyusha. Teito otomatis menjadi murung atau lebih tepat, pandangannya selalu menyelidik setiap bertemu Ayanami-sensei. Suatu ketika, Frau dan Shizuka memergokinya memandangi Ayanami agak sinis, langsung menepuk bahunya.

"Hoi kuso-gaki/Teito-kun!" mereka berdua mengagetkan Teito. "Kenapa sih kamu selalu memandangi Ayanami-sensei sesinis itu? Memang dia ada salah sama kamu?" Shizuka blak-blakan bertanya pada Teito dengan volume yang bisa dibilang jauh dari kata kecil, menyebabkan Teito dan Frau harus menyeretnya ke tempat sepi.

"Stt! Shizuka kau terlalu berisik! Nanti kalau dianya dengar gimana?!" hardik Teito agak keras sementara Frau geleng-geleng dan Shizuka cengengesan sambil berkata maaf. "Tapi yang dikatakan cewek Namikaze ini beneran lo kuso gaki, kau sepertinya ingin menyelidiki sesuatu gitu deh ke Ayanami sensei, memang ada apa?"

"Yah.. Daripada di pendam sendiri mending cerita aja Teito-kun, iya nggak Frau-senpai?" Shizuka diam-diam mengacungkan jempol ke arah Frau yang tersenyum iblis. Teito yang lagi kalut tidak menyadarinya dan langsung nyeroscos cerita tentang apa yang ia dengar dari Ilyusha beberapa hari yang lalu. Seketika, cengiran Frau dan Shizuka hilang.

"Itu… yang kau katakan beneran kuso-gaki?" Frau bertanya dengan nada serius, nada yang sangat jarang ia gunakan. Shizuka pun hanya cengo mendengar cerita Teito. Anggukan Teito menjawab pertanyaan Frau. Tiba-tiba ponsel Frau bergetar, ternyata ada email dari Ilyusha.

'Frau bisa kesini sebentar? Aku di ruang osis sama Xing-Lu dan Razette."

Frau langsung menuju ruang osis tanpa mengucapkan sepatah kata pada Teito. Shizuka langsung mengajak Teito latihan untuk melupakan pikirannya.

Sesampainya di ruang osis, terlihat Xing Lu, Ilyusha, dan Razette duduk saling berhadapan. Frau langsung mengambil tempat kosong di sebelah Ilyusha. "Kenapa kalian memanggilku kesini?" tanya Frau menyamankan posisinya di kursi, "Hei! Razette itu penerusmu sebagai wakil ketua yang baru, bantu dia dong ini lho event yang kalian kerjakan bersama," kata Ilyusha agak jengkel tapi tidak menoleh pada Frau, matanya tetap focus pada setumpuk proposal di yang perlu ia cek kelengkapannya dan di rekap.

"Iya-iya maaf deh, maunya tadi aku kesini tapi ya seperti biasa, bocah Namikaze itu minta tolong aku nyariin kuso-gaki, pas ketemu dianya lagi galau, katanya lagi bingung tentang sesuatu yang ia tidak sengaja curi dengar dari seseorang tuh," Frau berkata sambil melirik Ilyusha. Xing-Lu menghentikan obrolannya dengan Razette, langsung memandang Frau dengan pandangan heran dan Ilyusha menghentikan pekerjaannya. Ilyusha langsung menatap Frau dan Xing-Lu dengan pandangan kaget, Xing-Lu yang mengerti arti pandangan itu langsung menyuruh Razette pulang,

"Uhm, Razette-chan pulanglah duluan, sepertinya nii-chan masih ada urusan dengan dua orang ini. Takutnya kelamaan. Kau bisa pulang sendiri kan?" Razette mengangguk pelan lalu Xing Lu tersenyum dan menyerahkan kunci mobil ke Razette, "Nanti nii-chan pulang sama Ilyusha saja," sambung Xing Lu lalu mengacak rambut Razette pelan. Razette langsung ngeloyor keluar.

"Lanjutkan perkataanmu Frau," kata Ilyusha agak dingin. Frau melanjutkan cerita yang ia dengar dari Teito, firasat Ilyusha tentang Teito yang mengetahui omongannya waktu itu ternyata benar. Ilyusha hanya bisa menghela nafas begitu cerita Frau selesai. Setelah Frau selesai bercerita, giliran Xing-Lu yang nyeletuk,

"Ne, aku baru ingat. Tadi Razette cerita padaku katanya dia sering lihat Eve dan Ayanami-sensei berduaan, dan—"

"Cukup. Aku tidak mau dengar lagi," potong Ilyusha dengan nada sedikit menyentak, membuat Xing-Lu dan Frau kaget. Tumben-tumbennya Ilyusha berkata dengan nada kasar seperti itu,

"Sudahlah Ilyusha, jangan terlalu dipikirkan. Pikirkan saja mereka seperti itu karena sedang ada kerjaan, mereka seperti itu karena memang ada keperluan," Xing-Lu menenangkan Ilyusha dengan mengelus punggungnya. Entah sejak kapan Xing-Lu menyeret kursinya ke sebelah Ilyusha,

"Tapi… Cepat atau lambat suatu saat kamu harus memberitahunya, dear…" kata Xing-Lu dengan suara kecil, nyaris berbisik. Ilyusha diam sejenak, Frau memandang Ilyusha dengan tatapan penasaran, menunggu jawaban.

"Ya… Aku tau itu Xing Lu…"

Di tempat lain, Eve dan Ayanami sedang mendiskusikan sesuatu tentang kelengkapan festival sekolah, apakah ada instansi yang ingin membuka stand di sekolah ini sudah diurus semua ijinnya, berapa banyak, dan lain-lain,

"Bagus, sepertinya persiapanmu sudah matang, proposal bagaimana?"

"Sudah, tapi kan proposal ini masih masuk ke agenda OSIS angkatan Ilyusha-nii, jadi sekarang ia rekap, katanya sih untuk Laporan Pertanggung Jawaban,"

"Tapi sudah benar dan lengkap kan? Ingat jangan sembarangan menaruh nomor suratnya,"

"Sudah, Hiroshi-kun sudah menyelesaikan proposal dengan baik,"

"Bagus,"

Suasana kembali hening, baik Eve maupun Ayanami terlalu larut dengan pekerjaan masing-masing. Sepertinya tidak ada yang berniat membuka percakapan, sampai tibia-tiba Ayanami memanggil Eve.

"Eve-san," Eve mendongak heran, tumben ini guru manggil dia duluan. "Ikut aku sebentar..."

Eve langsung diajak Ayanami ke suatu ruangan asing di lantai empat. Ruangan dengan pintu bercat coklat dengan ukiran elegan. Ayanami mengeluarkan kunci dari kantong jasnya lalu memutar kunci untuk membuka pintu. Setelah dibuka, mata Eve menangkap pemandangan berbagai alat music dan foto-foto orang tampil. Diantaranya ia melihat foto Frau dan Ilyusha tampil, serta foto enam belas besar OSIS.

"Ini bisa dibilang seperti museum pribadi sekolah, hanya sedikit yang tahu tentang ini. Tidak, tepatnya ini memang tidak dibuka oleh umum. Hanya enam belas besar OSIS dan guru yang bisa memasuki ruangan ini dengan leluasa." Jelas Ayanami, Eve memiringkan kepalanya sambil bertanya dalam hati, kenapa hanya sedikit orang yang bisa mengakses ke ruangan ini.

"Ruangan ini menyimpan berbagai alat music tersohor dari berbagai belahan dunia, foto-foto siswa peraih nilai tertinggi akademis & praktek juga disini, enam belas besar OSIS. Sebenarnya foto-foto itu tidak terlalu penting, yang penting itu adalah alat musiknya. Kalau siswa lain bisa seenaknya masuk kesini dan memainkan alat music secara kasar kan nanti cepat rusak," Eve mengangguk mengerti penjelasan Ayanami, ia lalu pergi melihat-lihat foto enam belas besar OSIS dan matanya menangkap sosok Ayanami duduk di tengah-tengah foto.

"Ayanami-sensei… Dulu ketua OSIS disini?" tanya Eve ragu sambil menunjuk foto Ayanami dan OSIS angkatannya, "Hmm… Iya," Eve lanjut melihat-lihat ke sekeliling ruangan. Matanya kemudian berhenti di sebuah biola. Entah.. Biola itu seperti menarik Eve untuk kesana, ada yang misterius dari biola itu…

"Biola itu namanya Stradivarius, konon itu adalah biola termahal dan hanya ada seratus buah di dunia. Biola itu katanya punya misteri tersendiri, katanya kalau ada yang memainkan lagu sedih di biola itu yang mendengarkan bisa benar-benar merasakan emosinya dan katanya pernah ada yang sampai bunuh diri," jelas Ayanami sambil mengambil biola itu dari lemari kaca tempat ia disimpan.

"Anda serius, Ayanami-sensei?", "Serius, mau coba kumainkan? Tapi jangan bunuh diri ya," goda Ayanami sambil tersenyum kecil membuat serabutan merah tipis muncul di wajah Eve,

"Ih! Iyaiya sensei aku tidak akan bunuh diri cepat sana mainkan,"

Pertama-tama Ayanami memainkan lagu Hungarian Dance no.5 ciptaan Johanne . Lagu ini merupakan lagu yang ceria, Eve benar-benar menikmati permainan Ayanami. Ia sampai ikut menggumamkan nada demi nada di lagu tersebut dan menggoyangkan badannya mengikuti irama, Ayanami tersenyum tipis melihat Eve.

Lagu kedua yang dimainkan Ayanami adalah Moonlight Sonata. Lagu yang sendu yang menyimpan makna mendalam. Jika ada orang yang memainkan dengan sepenuh hatinya, perasaan sedih akan tercurahkan melalui lagu ini. Sedangkan Ayanami, ia memainkan lagu ini dengan biola Stradivarius, biola misterius di dunia. Saat mendengarkan, Eve serasa ikut merasakan perasaan yang tercurahkan melalui permainan Ayanami. Eve merasa… Hampa… Seperti ditinggalkan, dibuang, masa lalu yang kelam ia lalu sebagai anak-anak. Tanpa sadar Eve meneteskan air matanya, terlalu terhanyut dengan permainan Ayanami yang kian lama kian menyayat hati.

Setelah selesai, Ayanami menaruh biola itu pada tempatnya dan menghampiri Eve. Eve merasa sebuah tangan besar hangat memegang wajahnya dan menghapus air matanya. Lengan Ayanami langsung merengkuhnya ke dalam sebuah pelukan. Eve yang masih terisak hanya bisa diam menerima pelukan itu dan menangis di dada Ayanami.

"Kenapa kau menangis?" tanya Ayanami lembut sambil mengelus rambut Eve. Eve tetap terisak dalam diam, Ayanami melanjutkan perkataannya,

"Biola itu… Disumbangkan oleh seseorang yang sangat berharga bagiku. Katanya dulu sih, karena ia bangga padaku bisa menjadi ketua OSIS di sekolah ini. Maklum dulu seleksinya jauh lebih ketat daripada sekarang. Aku sangat menyayangi biola itu," Eve terdiam sebentar lalu bertanya,"Tapi… Kalau orang itu bangga dengan sensei bisa menjadi ketua OSIS di sekolah ini… Kenapa ia menyumbangnya ke sekolah? Kenapa bukan langsung kepada sensei yang menerima jabatan itu, seperti.. Hadiah langsung pada sensei dulu?" tanya Eve, masih dalam rengkuhan Ayanami.

"Itu karena… Ia tidak diijinkan untuk memberikannya padaku secara langsung…"

Teito, yang lagi-lagi berkeluyuran tidak jelas di sekolah menunggu Eve setelah latihan sorenya dengan Shizuka, kebetulan berjalan di dekat ruang tempat Eve dan Ayanami berada. Dan lagi-lagi, ia tidak sengaja mencuri dengar percakapan kakaknya.

"Kenapa beliau tidak diijinkan memberikan kepada anda secara langsung, sensei?"

"Karena… "

"Aku adalah anak haram yang tidak diinginkan oleh ayahbeliau… Kakekku sendiri..."

Teito langsung membelakkan matanya, ia tau siapa yang memberikan biola itu pada sekolah. Dan orang itu adalah…

'Tidak mungkin!' batin Teito dalam hati, 'Tidak mungkin!' Teito langsung berlari keluar sekolah dan kebetulan bertemu Frau, Teito dengan seenaknya ikut naik ke motor Frau dan minta diantarkan kerumah lantaran suatu urusan penting yang tidak bisa diganggu gugat.

Ditengah perjalanan, ia meng email Eve agar kakaknya tidak khawatir ia sudah pulang duluan dengan Frau. Setelah itu, ia meng email Ilyusha untuk menyuruhnya pergi ke rumah Teito sekarang juga.

Ilyusha yang kala itu sedang di jalan pulang bersama Xing-Lu hanya mengkerutkan keningnya heran begitu Xing-Lu membacakan e-mail masuk di hpnya. Maklum saat itu Ilyusha sedang menyetir dan tidak bisa membaca e-mail.

'Apa lagi yang diinginkan anak itu dariku..' Ilyusha membatin sebari tetap focus pada jalanan di depannya.

Teito yang sedang di bonceng Frau saat itu melamunkan ucapan Ayanami yang ia curi dengar tadi.

'Apa benar yang waktu itu dikatakan Ilyusha-nii? Ah sudahlah! Nanti juga aku akan mengetahuinya sendiri. Yang penting Ilyusha-nii nanti datang ke rumahku dan akan kuajak dia ke tempat itu untuk menguak fakta ini, karena… Sepertinya aku sudah mendapat hints-nya…'

'Karena… Orang yang menyumbangkan biola Stradivarius untuk 07-Ghost Academy adalah….'

.

.

.

T

B

C

.

.

.

Nahlooo! Siapa yang nyumbangin biolanya hayo~~~

Sepertinya di chapter ini hintsnya mulai keluar semua yaa~~~

Di chapter depan misteri semuanya bakal terkuak muahahaha!

Gimana moment AyanamixEve nya?:3 sudah unyu kah? *ditabok readers*

Ouka jarang banget dapet bagian, karena mereka gak ada hubungannya~ *ditendang HakuOuka*

Untuk chapter selanjutnya~ Ini bocorannya cyin~(?)

"Ilyusha-nii aku mau bertanya sesuatu, tolong jawab jujur,"

"Sial.. Tidak ada buku yang memuat tentang itu.. Ini hanya sekilas,"

"Sepertinya memang kita harus mencaritahu dengan bertanya langsung"

"Kenapa kau tega membuangku seperti ini? Padahal aku adalah darah dagingmu sendiri,"

"Ayah… Kenapa biola Stradivarius ayah sumbangkan untuk sekolah itu? Padahal kita sudah tidak ada hubungannya dengan sekolah itu?"