Lovely Nightmares


Author's Note: I'm baaaack minna! I'm terribly proud to present this to you all my dear lovely readers, reviewers, and maybe since this chappie I will always put the not the above, okay,

I never own HxH, cause if I do, Kurapika will be a girl, not a guy.

Don't forget to leave your review, and for those who asked, I'll tell you, Haruki is my OC, but he is uncredited, cause I only need him for this one fic, while the other OC that credited on my profile, I'm may gonna used them in another story too.

Okay, enough babbling, just enjoy this fic

Happy Reading!

Kaoru


Nineth: Drama Play continues! and a fire has thrown from this other survivor!


Chapter 9: Fire and Play


"Raja! Raja! Utusan dari kerajaan seberang datang dan meminta agar anda mengizinkan Lady Kiara untuk menemui raja mereka!", seorang pengawal tiba-tiba berlari kearah Raja Dante dan memberitahukan berita mengejutkan tersebut, raja angkuh nan sombong itu lalu mengangkat sebelah alisnya,

"Kiara? Apa mereka tidak salah?", tanyanya pada pengawal itu, seingatnya teman dekatnya itu tidak pernah berurusan dengan kerajaan seberang, kecuali dia telah merayu rajanya, ya, kecuali itu.

"Baiklah, pengawal, panggil Kiara kesini, aku ingin bicara!", perintah sang raja dengan tangan yang ditaruh dipinggangnya, ia sangat penasaran kenapa kerajaan seberang ingin bertemu dengan Kiara.

Beberapa menit kemudian datanglah sang gadis ditemani oleh pelayan setianya Lolita, Kiara membuka kipas tangannya, lalu memberi hormat pada sang raja yang juga teman dekatnya itu, lalu ia berujar,

"Ada perlu apa Paduka sampai memanggilku untuk segera menuju kesini?", Dante terdiam sebentar, lalu ia berujar,

"Ada baiknya jika masalah ini kita bicarakan diruanganku, mari", ia mempersilahkan gadis itu berjalan menuju ruangannya, ketika mereka sampai disana, sang raja memerintahkan pengawalnya untuk berjaga diluar dan membawa serta Lolita, lalu keduanya duduk ditemani dua cangkir teh cammomile,

"Kiara, aku mendapat kabar bahwa seorang utusan dari kerajaan seberang telah dikirim untuk memintaku mengizinkanmu menemui raja mereka, katakan padaku, apa yang telah membuat raja itu ingin menemui?", tanya Raja Stefan halus, Kiara hanya menghela nafas pelan, lalu tersenyum,

"Sungguh aku hanya menolong seorang anak di dekat pohon Willow kemarin, dan aku berani bersumpah tak ada lagi yang kulakukan selain itu diluar wilayah kerajaan", paparnya tenang, gadis itu menyeruput tehnya dengan gestur elegan, ia lalu menatap langsung pada mata sang raja,

"Adakah hal lain yang membuatmu gusar sahabatku?", tanya gadis itu lembut, Raja Dante hanya menggeleng pelan, lalu menggenggam tangan sahabatnya itu,

"Baiklah, aku akan menyampaikan izinku pada mereka, kalau hanya itu yang kau lakukan", Dante menghabiskan tehnya lalu beranjak dari sana,

"Kau boleh kembali", ujarnya singkat, Kiara menghela nafas dan bangkit dari kursinya, ia kembali membuka kipas tangannya dan berjalan keluar dari ruangan dengan menaikkan dagunya, kesal karena ternyata ia tetap hanya dianggap sahabat oleh raja yang dikaguminya ini, sejujurnya ia tak punya niatan lain kecuali agar bisa mendampingi sahabat kesayangannya ini selamanya, tapi nampaknya sampai kapanpun ia akan terus dilihat sebagai lady yang tidak sepadan secara status dengan seorang raja.

Kiara mempercepat langkahnya agar ia segera menaiki kereta kudanya dan pulang secepatnya, baginya tak ada hal lain yang lebih menjengkelkan ketimbang hari ini, setelah hari sebelumnya ketika Dante mengatakan ia hanya akan menikah dengan seorang putri, bukan seorang lady.


Sementara itu dikerajaan Blax, nampaklah seorang pria yang sedang duduk seorang diri di roof garden kastilnya, dia adalah Raja Stefan, pewaris tahta seusai pertarungan maut antara kerajaannya dengan kerajaan seberang bertahun-tahun yang lalu ketika ia masih kecil, sudah lama ia mempersiapkan rencana untuk menyelesaikan pertarungan yang telah dimulai oleh kedua orangtuanya dan bertarung dengan Raja Dante, tapi dengan adanya seorang lady dari kerajaan seberang yang telah menolong adiknya, ia merasa berkewajiban untuk setidaknya menyisakan gadis itu sebagai pembalasan hutang nyawa atas adik kecilnya, Tommy.

Seorang gadis berjalan pelan dari belakang Raja muda itu, ia berjingkat-jingkat agar tidak ketahuan siapa dirinya,

"Coba tebak siapa?", sebuah suara terdengar pelan, Stefan tersenyum,

"Lucy, aku tahu itu pasti kau", ujarnya sambil menarik tangan Putri Lucy, gadis itu tertawa kecil,

"Kau ini, selalu saja, duduk sendiri disini dan memandangi tamanmu yang indah itu, tapi kau tidak terlihat bahagia, ada apa?", tanya Lucy sendu, ia dan Stefan sudah bertunangan sejak mereka masih kecil karena orangtua mereka saling kenal, tapi banyak hal yang ia rasa telah disembunyikan calon suaminya itu, terutama beberapa tahun terakhir ini, Stefan terlihat lebih dingin dan pandangannya menjauh, seakan-akan sedang mencari sesuatu yang jauh, dan intuisinya mengatakan kalau sesuatu itu akan membuat dirinya tersingkir dari sisi Raja muda ini.

"Tidak, bukan apa-apa", Stefan berkata tegas, sebenarnya ia hanya tidak ingin Lucy ikut pusing dalam urusan semacam ini, ia sudah menganggap gadis itu seperti saudaranya sendiri, tapi ia tidak tahu kalau Lucy tidak menganggapnya hanya sebatas saudara.

"Stefan...", ujar Lucy sambil memegang pipi tunangannya itu, ia bermaksud mencium pria itu, tapi momen mereka diganggu oleh Tommy dan tentu saja, Justin,

"Kakak! Kakak! Kata paman Alex sudah ada izin!", serunya senang, Justin yang sadar momen apa yang baru terusik hanya mampu menutup wajah dengan telapak tangannya, meski dalam hati ia nyaris tertawa,

"Izin apa Stefan?", tanya Lucy penasaran,

"Izin untuk mengundang penyelamat nyawa Tommy kesini, aku sudah memberitahumu soal itu kan?", sahut Stefan sambil melontarkan senyumnya pada Lucy,

"Kak Lucy mau ikut juga?", tanya Tommy polos, Lucy segera menguasai diri dan berkata,

"Tidak Tommy, aku harus segera kembali, atau Ibuku akan khawatir", ia tersenyum manis meski ada sesuatu yang mengusik hatinya, sebuah firasat buruk.


Stefan sudah mengatur semua rencananya dengan sangat rapi, hari ini, ia akan mengadakan jamuan makan malam dengan penyelamat nyawa adiknya, dan disaat yang sama serangan akan diluncurkan ke kerajaan Scarlet, demi berakhirnya pertarungan yang telah merenggut nyawa kedua orangtuanya beberapa tahun yang lalu.

"Yang Mulia, gadis itu telah berada disini", ujar salah satu pengawal,

"Kalau begitu, suruh semua pasukan yang berada disana untuk segera menghancurkan kerajaan Scarlet", perintahnya tegas, dengan nada dingin yang datar.

"Selamat datang di kerajaan Blax, Lady Kiara", ucap Stefan sambil menyambut tamunya, gadis itu berjalan sambil menunduk sedikit karena tengah merapikan roknya, ketika ia mengangkat kepalanya, mata birunya bertemu dengan mata hitam Stefan, pria itu sedikit terkejut mendapati penolong sang adik sebagai seorang lady yang begitu cantik, rambutnya bagai helaian emas yang sehalus benang-benang sutra, kulit wajahnya putih bersih bagai terbuat dari porselen, dan bola mata birunya sangat indah, seolah ia sedang menatap sepasang kristal biru, bukan bola mata.

Kiara memberi hormat dengan sangat anggun,

"Terima kasih, Paduka", sahut gadis itu lembut, tidak lama kemudian Tommy datang dan menghampiri gadis itu,

"Kak Kiara, aku punya hadiah untuk Kakak!", ia berseru riang, Stefan hanya menghela nafas melihat kelakuan adiknya, selalu saja bersemangat, terlalu bersemangat mungkin, tapi, tetap saja ia tidak pernah melarangnya.

"Apa itu, kalau aku boleh tahu?", ujar Kiara lembut, ia sepertinya akan menyukai anak ini,

"Ini, aku tadi meminta Marion membantuku membuatnya, kuharap kau menyukainya", Tommy menyerahkan sebuah mahkota yang terbuat dari untaian bunga-bunga berwarna biru, Lady Kiara tersenyum lembut,

"Tentu saja aku menyukainya, dari semua hadiah yang pernah kudapatkan, baru kali ini aku diberi sebuah mahkota bunga, terima kasih, ya", Kiara memakai mahkota itu dikepalanya, yang nampak begitu serasi dengan gaun yang dikenakannya saat ini.


"Pertama-tama aku ingin menyampaikan bahwa jamuan makan malam hari ini adalah untuk menunjukkan rasa terima kasih dari kami, Kerajaan Blax, kepada Lady Kiara yang telah berbaik hati menyelamatkan adikku, Thomas J. Blax", ucap Raja Stefan dalam sambutan sebelum makan malam, ia sedikitnya ingin mengulur waktu agar gadis itu tetap berada disini sampai serangan ia tarik kembali.

Makan malam itu berlangsung begitu formal, namun Stefan sepertinya harus menyesali pertemuannya dengan seorang gadis secantik Kiara malam itu, gadis yang lalu memenuhi benaknya selama beberapa hari setelah jamuan itu.


Malam itu Kiara kembali ke kerajaan Scarlet dengan sedikit rona dipipinya, ia merasakan sesuatu yang berbeda dari raja itu, dia pria yang lebih ramah dari Dante dan tatapan mata hitamnya sangat dalam, membuat gadis cantik ini merasa terhipnotis dalam tatapan tenang Stefan,

apa aku menyukainya?, bisik Kiara dalam hati, iapun akhirnya sampai ke gerbang kerajaan dan mata birunya berubah menjadi merah dan berkilat saat melihat keadaan Kerajaan Scarlet yang nyaris luluh lantak, semuanya berantakan, iapun segera turun dari kereta kudanya dan bergegas menuju istana, sebab betapapun ia membenci Dante yang menolaknya, ia tetap menyayangi sahabatnya itu, dan jika kehancuran sudah sampai seperti ini, bagaimana dengan keadaan sahabatnya itu?

Ia tidak peduli dengan gaunnya yang rusak karena tergores benda-benda tajam disekitar tangga istana, pikirannya saat ini hanya satu: mencari Dante dan menolongnya.

Tetapi ia tidak dapat menemukan pria itu dimanapun sedang saat itu api nyaris telah menghabisi istana itu, maka dengan hati yang hancur, Kiara meninggalkan kerajaan Scarlet, sebelum ia kelelahan dan jatuh tertidur dibawah Willow.


Singkat cerita, beberapa tahun berlalu sejak saat itu, dan Kiara yang manis telah siap dengan rencana balas dendamnya pada kerajaan yang dahulu menjamunya dengan maksud itu.

Awalnya ia menyamar menjadi pelayan pribadi Putri Lucy dan ia segera menyekap Putri Lucy agar bisa mencapai Kerajaan Blax tanpa dikenali, tapi ia memiliki satu kendala: yakni matanya yang dahulu memerah tidak bisa kembali menjadi biru, iapun memutar akalnya dan terpikirkan caranya.

Maka dengan seluruh rencana yang begitu rapi, Kiara berhasil memalsukan sang putri yang sebenarnya akan melangsungkan pernikahannya dengan Stefan itu, tentu saja Kiara tidak tahu soal itu.

Ia mengenakan gaun putih dan cadar menutupi wajahnya,

sempurna, pikirnya, ia juga telah menyiapkan sebuah pisau kecil untuk membunuh Raja itu saat mereka bertemu nanti.

Sayangnya, saat Kiara hendak mengeluarkan pisaunya, tiba-tiba saja Dante muncul kembali, dan tentu saja, pertarungan pun tak terelakkan diantara kedua raja itu.

Pertarungan itu berlangsung sangat seru sampai saat Dante terjatuh dan kehilangan kesadaran, Stefan tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan segera mengangkat pedangnya hendak menusuk Dante, melihat hal ini Kiara pun tanpa pikir panjang langsung saja berdiri diantara keduanya dan saat itulah, penyamarannya terbongkar bersamaan dengan pedang Stefan yang menusuknya.

Sejenak semua hening, tapi tiba-tiba saja Stefan menahan tubuh Kiara yang terjatuh, darah mengalir dari lukanya,

"Ste..fan..sepertinya..aku..sumpah tadi..", ucap Kiara pelan, semua hadirin hanya menatap kejadian itu dengan tercengang, Stefan menyaksikan sendiri bagaimana bola mata merah itu berangsur-angsur kembali ke warna asalnya, sepasang kristal biru yang selalu hadir dalam mimpinya sejak pertemuan malam itu, kemudian mata itu menutup, dan ia mengarahkan pandangannya pada pedangnya yang ternodai dengan darah milik gadis yang tanpa sadar telah dicintainya itu, dipeluknya tubuh lemah gadis itu,

"Aku..mencintaimu..Kiara..kumohon, bukalah matamu", ia berujar pelan sambil memeluk jasad gadis itu, ia sungguh tidak menyesali pernikahan tanpa sengaja ini, yang telah menikahkan dirinya dengan gadis yang sebenarnya telah dicintainya sejak malam itu, tapi takdir berkata lain, gadis itu terbunuh ditangannya sendiri, dengan pedangnya sendiri, di hari yang seharusnya indah bagi keduanya itu.

Raja Dante tiba-tiba terbangun dan melihat apa yang terjadi dihadapannya, ia merasakan lututnya lemas dan ia jatuh diatas lututnya,

"Kia..ra..", ucapnya pelan, ia tahu benar siapa gadis dalam pelukan musuhnya ini, dan duka menyelimuti ruangan itu.

Perdamaian pun berlangsung diantara dua kerajaan itu, Kerajaan Blax bahkan membantu rekonstruksi Kerajaan Scarlet, dan sebagai tanda perdamaian, patung seorang wanita dibangun di dekat pohon Willow tersebut, sebagai penghormatan pada seorang gadis yang menjadi sebab perdamaian kedua kerajaan tersebut.

Mengenai Putri Lucy? Dia akhirnya menikah dengan pangeran dari negeri lain setelah Stefan memutuskan untuk tetap menjadi raja tunggal di kerajaannya sejak kematian Kiara.


Riuh tepuk tangan mengiringi berakhirnya pentas itu, tapi sebuah suara merusak suasana akhir pentas itu,

"Ayo bertarung, Kuroro Lucilfer", ujar pria berambut pirang sebahu itu, mata merahnya berkilat-kilat.


Next: Here comes the fighting! will it be like the drama play? or it could ends better way?