Disclaimer :
Bleach © Tite Kubo
Please, Tell Me Something! © Riztichimaru
Title: Please, Tell Me Something!
Maaf Updatenya lama Buanget .
Cz author sibuk kuliah n buat proposal.
Tapi malah proposalnya di flame sm dosennya. Huah… menyesakkan!
Honto ni Arigatou gozaimashita yang udah RnR dari chp awal sampe sekarang.
Tolong Review lagi ya!
STOPP!
Don't Like Don't Read
Chapter 10 (Final) : Autum, We Love You
"TIDAK! GIN, KAMU TIDAK BOLEH MATI! " teriakku panik.
Tidak, aku tidak bisa melihatnya lagi. Matanya sudah menutup. Tunggu! Aku, aku tidak mungkin akan kehilanganan dia secepat ini, tidak! Tidak boleh!
"Gin, kumohon bukalah matamu, Gin!" pekikku keras dan kurasakan tubuhku panas, panas karena aku panik, takut, takut kehilangan orang yang kucintai. Tidak! Gin tidak boleh mati! Aku segera memeriksa denyut nadi ditanganya. Masih ada, masih ada denyut nadinya walaupun sangat lemah.
"Hey kalian, cepat tolong dia! Kalian tidak lihat dia akan mati, hah!" teriakku membabi buta kepada para pengawal Aizen.
Aizen hanya menatapku dengan tatapan mata tenang, namun aku tahu di dalam matanya terpancar kepanikan sama sepertiku. Pengawal Aizen yang menembak dada Gin tadi, hanya bisa terduduk didekat kaki Aizen, nampak digelagatnya menunjukan perasaan bersalah karena telah menembak Gin, teman sekaligus seseorang yang pernah ada hubungan dimasa lalu dengan majikannya. Pengawal tersebut tidak bisa berbicara apapun wajahnya tertunduk ke lantai sementara pistol yang digunakannya untuk menembak Gin, telah terlempar tidak jauh dari tubuhnya.
"Kalian tidak dengar, hah! Cepat panggil ambulan, bodoh!" teriakku lagi makin brutal.
Aku masih mendekap tubuh tak berdaya milik Gin. Tidak! Tidak boleh dia mati seperti ini, aku… aku tidak bisa hidup tanpanya. Tidak lagi, dia tidak boleh hilang dari hadapanku. Maaf Gin, waktu itu aku yang meninggalkanmu, tapi saat ini aku tidak mau kamu meninggalkanku untuk selama-lamanya. Aku tidak mau, Gin! Tolong cepatlah buka matamu, Gin!
Beberapa menit kemudian, datang perawat dan dokter yang segera mengangkat tubuh lemah Gin ke ambulan. Aku segera berlari mengikuti dokter yang sedang menggotong tubuhnya. Aizen tampak masih tertegun dan tidak berbuat apa-apa, sementara para pengawalnya juga tidak ada yang bergerak, mematung seperti hewan peliharaan yang menunggu perintah majikannya.
Huh! Benar-benar memuakkan, dan kukira selama ini aku juga adalah salah satu hewan peliharaannya yang tidak akan menyangkal apapun yang diperbuat Aizen padaku. Tapi tidak sekarang dan tidak lagi! Aku tidak ingin mengikutinya dan mengikuti apapun keinginannya dan… dan apakah aku juga tidak akan memasukkan rasa cintanya dihatiku? Apakah aku salah jika aku tidak menanggapi dan bahkan menolak rasa itu.
Sesampainya aku dirumah sakit, Gin langsung dibawa ke instalasi gawat darurat dan akan segera dioperasi. Aku ingin masuk dan menemaninnya tapi perawat melarangku dan menyuruhku untuk menunggu dengan tenang dan berdoa akan kesembuhannya.
Aku pun berjalan menuju deretan kursi panjang, kursi yang menjadi saksi penantian orang-orang yang ingin mengetahui keadaan orang yang ada di ruang instalasi gawat darurat itu dengan perasaan was-was, apakah orang itu masih bisa bernapas atau satu tarikan napas terakhir telah terputus dari raganya yang lemah dan rapuh. Tapi aku, aku tidak ingin satu tarikan napas itu mengakhiri terputusanya raga Gin. Tidak dan tidak boleh!
Aku menunggu dengan perasaan gelisah, dan panik luar biasa. Banyak doa yang telah kupanjatkan pada Tuhan, aku ingin dia segera membuka matanya dan mengatakan padaku kalau dia mencintaiku, sama seperti saat dia membawaku ke rumah sakit waktu aku pingsan di kuil Shinto kota ini beberpa bulan yang lalu. Aku ingin dia mengatakan kata itu lagi dan aku ingin juga mengatakan hal yang sama padanya. Aku ingin mengatakan aku, aku mencintainya sangat, sangat-sangat mencintainya. Aku ingin mengatakan aku tidak bisa bernapas tanpanya, aku tidak akan bisa bernapas tanpanya.
Bulir-bulir air mata ini semakin banyak dan makin membanjiri pipiku sejak tadi, sejak aku melihat tubuhnya terkapar di lantai setelah pengawal Aizen menembaknya. Aku bodoh, kenapa tidak mau mendengarkan penjelasannya, aku tahu dia mungkin memiliki penjelasan logis kenapa dia berhubungan dengan Aizen. Tapi sudahlah bagiku apapun hubungan Gin dan Aizen dulu tidaklah penting yang penting saat ini, aku bisa melihatnya hidup dan menyapaku lagi dengan senyum khasnya. Oh bukan! Bukan senyum khas rubahnya, tapi senyum tulus yang keluar dari bibirnya. Gin, Aishiteru!
"Rangiku! Rangiku!" panggil seseorang yang menepuk-nepuk pundakku.
"Hn…"
Aku mendongakkan wajahku menatap wajah orang yang tadi menyadarkan lamunannku tentang hidup mati Gin.
"Kira!"
"Ya, bagaimana keadaan Gin? Maaf aku bersalah karena menyuruhnya ke rumahmu."
"Maksudmu?" tanyaku tidak mengerti.
"Aku tadi menyuruhnya ke rumahmu untuk menjelaskan masalah hubungannya dengn Aizen padamu. Setelah aku mendengar penjelasan darinya tentang hubungan itu, aku menyuruhnya menemuimu untuk menjelaskan semua ini." Kira mengakhiri penjelasannnya dan beranjak duduk di kursi disebelah kananku dan menatap wajahku penuh dengan rasa bersalah.
"Jadi dia ke rumahku untuk menemui dan menjelaskan semua itu? Gin, maafkan aku. Maaf aku tidak percaya padamu.. hikz.. hikz…"
"Sudahlah Rangiku, ini juga bukan kesalahanmu. Dia hanya ingin kau percaya bahwa dia juga tidak senang atas hubungan masa lalunya dengan Aizen, itu semua karena terpaksa."
Aku kembali menundukkan wajahku ke lantai, Kira menjelaskan padaku tentang Aizen dan Gin dimasa lalu. Dasar Aizen brengsek, tidak seharusnya dia melakukan pemaksaan perbuatan sodomi pada Gin. Aizen, apa separah itukah perilakumu bahkan terhadap orang yang tidak kamu kenal sama sekali, berpura-pura baik padahal kamu menginginkan tubuh mereka. Brengsek!
"Rangiku, aku akan membeli minuman untukmu dulu. Tunggu disini ya!" ucap Kira lalu beranjak dari duduknya dan menuju kearah kantin rumah sakit ini.
Aku kembali melamunkan dan tentunya memilikirakn nasib Gin di dalam sana, apakah dia akan selamat? Tuhan, selamatkanlah Gin, selamatkanlah orang yang berharga bagiku itu. Saat aku mengakhiri doaku, aku melihat Aizen duduk mendekatiku dan segera mengambil posisi duduk di sebelahku.
"Rangiku, Gin…" tanyanya padaku. Aku mendengus kesal dan tidak ingin menatap wajahnya.
"Maaf, aku tidak bermaksud menyakitinya. Pengawalku tidak sengaja menembaknnya, itu karena Gin memberontak untuk masuk dan menemuinya. Aku akan menghukum pengawalku itu," lanjut Aizen dengan wajah kesal namun tampak dari matanya bahwa diapun turut menyesal.
"Menghukum pengawalmu? Apa? Seharusnya kaulah yang dihukum, Aizen. Kau yang telah membuat Gin seperti ini!"
Aku berteriak marah padanya, dia hanya memandangiku yang sedang kalap memarahinya dan memakinya.
"Maaf, aku tahu aku salah. Karena itu aku minta maaf padamu, walaupun aku tahu kelakuanku ini tidak bisa kamu maafkan. Aku telah melukai orang yang berharga bagimu dan orang yang sangat kamu cintai. Maaf, Rangiku," ucap Aizen lagi.
"…"
Aku diam dan tidak berkata apapun. Aku kesal dan juga sedih, aku juga ragu. Ragu kalau-kalau ternyata aku masih memiliki rasa kasihan padanya, pada suamiku ini.
"Aku tahu, cinta yang kamu dan Gin miliki sangat besar dan tidak bisa dikalahkan oleh rasa cintaku padamu. Aku mungkin bisa bilang kalau aku sangat amat mencintaimu, tapi pada kenyataannya Gin lebih mencintaimu, dan rela mati untuk menemui hanya sekedar ingin memberitahumu bahwa dia tidak berbuat hal-hal bejat seperti yang kamu tuduhkan padanya."
"…"
"Sekarang aku tahu, apa yang dimiliki oleh Gin yang tidak bisa kuberikan padamu? Apa kelebihan Gin yang tidak bisa kukorbankan untukmu, walaupun aku akan berubah untukmu Rangiku," lanjut Aizen dengan wajah dan ekspresi yang sangat serius.
"APA?"
"Yang tidak kumiliki adalah Cinta yang besar dan Pengorbanan yang tulus padamu. Karena dua hal itu tidak bisa kuberikan padamu, aku tidak bisa melepaskan semua pasangan priaku dan kembali padamu. Aku tidak bersedia meninggalkan mereka demi kamu, aku juga terlalu takut kalau kamu akan terluka tapi justru aku melukaimu sangat dalam. Dan Gin, Gin melakukan semuanya dengan tulus padamu, walaupun belum tentu kamu juga merasakan hal yang sama dengannya. Dia menunggumu lima tahun lebih dan tetap berharap bisa bertemu denganmu walaupun mungkin sedikitpun kamu tidak mencintainya dan dia rela mati untuk menemuimu."
"Ya, aku rasa kau benar. Gin lebih mencintaiku, dan diriku sendirilah yang bodoh karena tidak mempercayainya."
"Ya, aku juga bodoh dan brengsek telah melakukan perbuatan bejat itu padanya dulu. Kuakui sampai saat ini, pesona pria-pria itu tidak pernah mengalahkan Gin dan aku juga mengingkinkannya. Tapi, aku… aku lebih ingin dia bersamamu dan membahagiakanmu," lanjut Aizen serius sambil menatap kedua bola mataku.
"MAKSUDMU?" tanyaku tekejut karena ucapannya.
"Ya, temuilah pangeranmu. Temui dewa penolongmu. Karena dialah yang telah membebaskanmu dari perjanjian yang telah dibuat oleh ayahmu dan ayahku. Apapun yang akan dikatakan ayahku nanti dan tindakan apa yang akan diambilnya saat dia mengetahui kamu tidak menepati janjinya, akulah yang akan mengurusnya. Saat ini yang harus kamu lakukan adalah mencintai Gin dan melupakan aku. Sekarang aku sadar, semua sikapku padamu dan semua kesalahan yang kulakukan padamu telah membuatmu menderita. Jadi sekaranglah saatnya kamu meraih kebahagiaanmu. Terimakasih telah mencintaiku dan telah menemaniku dan menjadi istriku selama 5 tahun ini. Aku bahagia kamulah yang menjadi istriku, istri yang menikahiku karena tulus mencintaiku walapun balasan yang kamu terima dariku hnyalah luka. Luka yang mungkin tidak akan pernah sembuh. Raihlah kebahagiaanmu, istriku," ucap Aizen getir lalu mencium keningku, aku terperangah pada semua kata-katanya. Benarkah dia mengizinkan aku bersama dengan Gin.
"Ta-tapi… Aizen?" tanyaku ragu.
"Tidak ada tapi-tapian! Hiduplah bahagia bersama dengan Gin, dan lahirkanlah keponakan-keponakan yang akan memanggilku 'Paman Aizen'. He… he… he…" lanjutnya disertai tawa kecil dan wajah yang selalu tenang.
"Aizen…dan kau?" tanyaku lalu menatap matanya, ada kesedihan di matanya. Ya mungkin diapun tidak rela melihatku yang akan bersama dengan Gin.
"Tenanglah jangan mengkhwatirkanku. Aku akan baik-baik saja, aku akan mengumumkan statusku pada publik bahwa sebenarnya aku ini seorang Gay dan itu tidak masalah bagiku. Sebab sekarang Ini bukanlah seperti dulu, para fansku juga bisa memahamiku dan mereka mungkin juga sudah tahu tentang hal itu. Santai saja, Rangiku. O ya, setelah ini aku akan mengurus surat perceraian kita dan setelah gin sembuh, menikahlah dengannya. Akan kuurus dan kupersiapkan pernikahan kalian."
"Aizen, apa tidak apa-apa seperti itu?" tanyaku makin bingung pada semua yang dibicarakan olehnya.
"Tidak, tidak apa-apa. Kamu pantas mendapatkannya, lagi pula bagiku kamu bukan saja istri, tapi juga saudaraku, saudari perempuanku," lanjutnya lalu memelukku dan mencium keningku lagi lalu segera menjauh dari hadapanku dan melangkah pergi. Sebelum beranjak jauh meninggalkanku dia menoleh dan berpesan padaku tentang Gin.
"Tolong katakan pada Gin, maaf. Dan juga tolong, jaga Rangiku dan Rangikunya. Tolong jaga saudariku ini. Tolong bilang begitu, ya!" serunya kemudian berbalik menjauhiku, hanya punggung badannya yang terlihat makin menjauh meninggalkanku yang terharu akan semua ucpaan dan keputusannya.
Aku masih mematung dan tiba-tiba dokter keluar dari ruang instalasi gawat darurat dan memanggilku.
"Nona Rangiku, ada kabar buruk tentang Gin!" lanjut dokter Uryuu padaku.
"Maksud anda apa dokter?" tanyaku panik.
"Dia… dia kehabisan banyak darah, kondisinya makin kritis dan sekarang sedang kami usahakan untuk mengembalikan detak jantungnya yang terhenti."
"Benarkah? DOKTER, TOLONG GIN, DOKTER!" teriakku kencang.
"Baik nona, tapi kami hanya bisa berusaha Tuhanlah penentu segalanya," jelas dokter padaku.
Mataku serasa berkunang-kunang namun aku tetap menjaga keseimbanganku, aku tidak boleh pingsan, aku harus tetap menemani Gin dan tidak akan kubiarkan Gin mati begitu saja dan meninggalkan aku. Aku lalu segera menuju ruangan tempat dimana Gin dioperasi dan saat aku masuk kedalam ruangan itu, aku melihat wajah kecewa dari para dokter yang mengoperasinya. Satu dokter memegang pundakku dan mengatakan.
"Maaf nona, kami tidak bisa menyelamatkannya. Kami sudah berusaha, tapi maafkan kami," kata dokter padaku.
Suhu tubuhku mendadak panas mungkin puluhan derajat, air mataku tidak bisa keluar lagi, tubuhku lemas, mataku menatap kosong dan hampa. Tidak mungkin! Tidak mungkin Gin meninggalkanku, meninggalkanku. Gin! Aku terduduk di lantai ruangan dan tidak bisa bergerak, para dokter mengurusi peralatan operasinya dan suster membersihkan darah yang berceceran diseprai dan lantai.
Aku tidak berkutik, tidak bisa menggerakkan setiap jengkal tubuhku, aku tidak bisa melakukan apapun. Hanya otakku saja yang berusaha memperoses apa yang terjadi padaku dan pada orang yang kucintai itu. Aku hanya meminta dua kalimat pada Tuhan dengan suara keras dan pasrah serta ikhlas akan hal ini.
"Tuhan seandainya Gin adalah kebahagiaanku yang tertunda, tolong apa yang kau tunda itu berikanlah padaku saat ini. Tolong biarkan dia hidup dan berikanlah kebahagiaanku itu padanya, tolong berikanlah satu nyawa lagi untuknya." Setelah itu tidak lagi kurasakan apapun lagi, semuanya gelap, gelap dan gelap.
End of Rangiku's POV
....P,TMS!...
Saat aku membuka mataku, aku mendapati ruangan putih ini dan melihat banyak darah diseprai tempatku berbaring. Alat-alat operasi masih lengkap disekitarku, lampu operasi masih menyala, hiruk pikuk keterkejutan dokter masih terngiang di telingaku. Aku menatap dokter dan melihat keterkejutan dokter padaku.
"Tuan, ada banyak keajaiban dari Tuhan untuk anda. Denyut jantung kehidupan anda kembali normal setelah nona yang disana itu, berdoa untuk anda walaupun anda telah kami nyatakan meninggal dunia," ujar dokter padaku dan menunjuk orang yang dimaksud.
Saat aku melihat wanita yang ditunjuk oleh dokter itu -wanita yang berada 5 meteran dari dekatku- aku berhasil mengenalinya walaupun saat ini dia sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Syall pink itu telah menuntun otakku untuk mengindentifikasi pemiliknya.
"Rangiku…" ujarku pelan padanya.
"Ya, nona Rangiku yang dari anda mulai dioperasi sampai sekarang menunggui anda dan sangat mencemaskan anda, dia sampai pingsan mendengar kalau anda meninggal," lanjut dokter lagi.
"Ya, aku mengenalinya dok. Dia adalah Rangikuku, orang yang sangat amat kucintai."
1 tahun kemudian….
"Gin! Cepat, mana buahnya! Aku lapar, si kecil di perutku ini juga lapar. Susu ibu hamilnya mana?" tanya Rangiku padaku yang sedang membuatkannya susu ibu hamil. Aku sedang menungkan air panas dari termos panas yang kami bawa ke piknik kami di pinggiran kota Hueco Mundo, tempat kencan pertama kami.
"Iya, iya sebentar sayang. Ini sedang dibuat, buahnya ada di keranjang, bukankah kamu sendiri yang meletakkannya di dalam keranjang itu saat kita siap-saipa tadi," jawabku sambil melihatnya yang sedang mengelus perutnya yang makin membesar, ya dia sudah hamil tujuh bulan lebih dan mungkin beberapa bulan lagi akan lahir anak kami.
Saat ini Rangiku sedang hamil 7 bulan lebih beberapa hari, setahun yang lalu kami menikah. Tepatnya satu bulan setelah aku keluar dari rumah sakit, setelah perceraian Rangiku dengan Aizen kami menikah dan yang mengurusi semua hal tentang pernikahan kami adalah Aizen. Ah.. ternyata Aizen menepati kata-katanya pada Rangiku. Tenang Aizen, Rangiku pasti akan kujaga dan tidak akan kubiarkan kebahagiaannya hilang, karena dia telah memberikan kebahagiaannya padaku dan pada buah hati kami yang akan terlahir kedunia beberapa bulan lagi.
"Gin sayang, sudah belum buatnya? Ayo cepat sini, aku sudah lapar sekali."
"Iya, ini," jawabku lalu memberikan susu itu pada istriku, Rangiku. Rangiku meminum habis susu yang kubuat tadi dan menatapku dengan tatapan lembutnya.
Aku mendekatinya, duduk disampingnya dan memeluk pinggangnya. Dia mengalihkan pandangannya dari menatapku kemudian menatap lazuardi biru berawan tipis itu, aku pun ikut menatap lazuardi itu tapi sebelum itu, aku memcium lembut bibir dan dahinya dan mengatakan kata "Rangiku, Aishiteru".
Entah sudah berapa kali aku mengatakan kata itu padanya, dan sudah berapa kali dia balik mengatakan kata "Gin, Aishiteru." Hal yang pasti adalah seberapa sering kami mengatakannya tidaklah terlalu penting, yang terpenting adalah bahwa kami memang saling mencintai dulu, sekarang dan selamanya.
7 Tahun Kemudian….
Saat ini sudah delapan tahun pernikahanku dengan wanita bersyall pink itu, sudah 8 tahun aku merasakan banyak kebahagiaan dari dan semua yang terbaik yang diberikannya padaku. Kehidupan rumah tangga yang bahagia dengan rumah baru, pekerjaan baru dan dua malaikat kecil yang terlahir dari rahimnya. Yang sulung laki-laki jagoan kami, Shota Ichimaru dan yang bungsu putri kecil kami, Yui Ichimaru. Kedua malaikat kecil kami lahir dari rahim wanita bersyall pink itu, Ichimaru Rangiku.
Kami tidak lagi tinggal di Hueco Mundo, kami memilih untuk kembali ke Karakura saja sejak kelahiran putra sulung kami, kami ingin membangun semuanya dari awal dan saat ini aku sudah memiliki pekerjaan sendiri. Tepatnya memimpin anak perusahaan milik Byakuya Kuchiki, Kakak sahabatku Rukia Kuchiki. Pekerjaan itu bukanlah serta merta diberikan kak Byakuya padaku, tetapi aku sendiri yang bekerja dari awal, dimulai dari menjadi pegawai biasa sampai akhirnya aku diangkat menjadi direktur di salah satu cabang perusahaan Kuchiki corp.
Sedangkan para sahabatku sudah menikah, Ichigo dan Rukia, Renji dan Tatsuki, Nemu dan Ikkaku, Hinamori dan Si dingin Hitsugaya, Hanataro sudah menikah dengan salah satu teman Rukia dan saat ini si lugu itu sudah pergi ke Korea, sepertinya dia benar-benar menjadi pemain band terkenal disana. Saat aku menikah dengan Rangiku mereka semua hadir walaupun mereka sendiri entah sudah tersebar dimana-mana namun mereka menyempatkan diri datang ke acara pernikahanku dan saat itu kebahagianku sangat kurasakan, ternyata semua temanku peduli padaku. Dan kesadaranku tentang kepedulian orang padaku adalah hal yang terlambat kusadari.
"Ayah… Cepat nanti kita ketinggalan pesawat! Cepatlah kita harus cepat menemui paman Aizen, nanti dia marah kalau kita terlambat lagi!" teriak Shota padaku, aku hanya tersenyum padanya dan melirik istriku yang sedang mengenakan kaus kaki pada putri kecil kami, Yui yang saat ini masih berusia 3 tahun.
"Gin, semua sudah siap! Ayo berangkat!" ucap Rangiku sambil mendekat kearahku dan segera menarik koper pakaian kami yang berada didekatku, aku menarik tangannya dan memelukknya erat.
"Hey, apa-apaan kamu ini?" tanyanya dengan semburat merah di pipinya.
"Hanya ingin memelukmu saja. Sebentar saja, ya."
"Gin lepaskan! Anak-anak melihat kita, cepat lepaskan!" pinta Rangiku padaku dengan agak cemas.
"Iya sebentar. Tapi aku masih..."
"Ayah, jangan peluk-peluk ibu terus. Cepatlah! Nanti pesawatnya berangkat!"
"Iya… iya Shota," jawabku agak malu ternyata Shota dari tadi memperhatikan tingkahku pada Rangiku. Aku cepat-cepat melepaskan pelukanku pada Rangiku, Rangiku hanya tertawa kecil melihat tingkahku yang gelagapan.
Kami segera berangkat ke bandara dan menaiki pesawat menuju Hueco Mundo, kami akan berkunjung ke Hueco Mundo, menemui paman Aizen. Yah menemui Aizen Sousuke, saat ini dia sedang dirawat dirumah sakit karena penyakitnya mulai parah dan saat ini yang bisa kami lakukan hanya mendoakan kesembuhannya dan sedikt menghiburnya.
Setelah beberapa jam akhirnya kami sampai di Hueco Mundo dan langsung menuju rumah sakit tempat Aizen dirawat, Aizen seperti biasa menyambut kami dengan tatapan tenangnya dan senyum yang terukir di wajahnya.
"Paman, kami datang lagi! Paman kali ini paman akan kasih aku dan Yui mainan apa lagi? O ya paman, kapan paman akan main kerumah Shota. Yui juga suka paman, Paman main ya kerumah kami, janji!" ucap Shota sambil mendekati Aizen, Aizen mengelus rambut Shota dan berkata.
"Apa paman bisa janji sama Shota? Paman sepertinya tidak bisa kesana, paman kan sedang sakit. Shota dan Yui saja yang main kesini."
"Oh begitu paman, oke kalau seperti itu. Tapi paman janjikan mau main sama Shota dan Yui lagi?"
"Iya.. iya.."sahut Aizen dengan tawa seringainya.
Beberapa saat kemudian setelah mengobrol lama dengan Aizen, aku dan Rangiku dipanggil oleh Aizen dengan suara paraunya. Shota dan Yui sedang bermain bersama Kira dan Nanao yang juga datang ke rumah sakit tempat Aizen dirawat karena mengetahui kami akan datang menemui Aizen jadi mereka juga ikut menjenguk Aizen.
"Gin, Rangiku. Terimakasih, terimakasih telah melahirkan dua malaikat kecil dan imut itu untuk memanggilku paman. Terimakasih sudah menyadarkan kesalahanku dan terimakasih Gin, kau telah menjaga Rangiku kita. Tapi maaf, sepertinya aku tidak bisa ikut menjaga Rangiku kita lagi, aku rasa sudah saatnya aku kembali padaNya. Maaf tidak bisa menepati janjiku untuk bermain dengan kedua keponakanku itu. Jika aku diberi kehidupan kedua, aku akan memiliki anak, bukan hanya keponakan seperti ini. Dan aku juga akan menjaga wanita bersyall pink itu dengan baik dan jangan sampai dia direbut oleh Rubah sepertimu. Hahaha…" ucap Aizen dengan tenang sambil tertawa, tidak tampak raut kesedihan di matanya.
"Maksudmu apa, Aizen?" tanya Rangiku khawatir.
"Apa yang kau maksud, Aizen?" tanyaku menimpali pertanyaan Rangiku.
"Maaf, aku tidak bisa bertahan lagi. Sudah saatnya aku pergi, penyakitku sudah tidak tertolong lagi dan mungkin ini adalah karma yang Tuhan titipan padaku. Karena telah menyakiti banyak orang dan juga kalian berdua. Aku berharap kalian akan terus bahagia dan tidak akan pernah ada perpisahan diantara kalian, aku ingin kalian menjadi orang tua yang baik untuk Shota dan Yui. Karena aku tidak punya anak, jadi semua harta milikku akan kuberikan pada Shota dan Yui, aku sudah mengurus surat-suratnya."
"Aizen, kau tidak boleh bilang begitu, kau pasti sembuh dan bertahanlah kau pasti bisa sembuh!" seru Rangiku khawatir. Sekarang aku bisa melihat bahwa ada kesedihan di wajah istriku untuk mantan suaminya itu, sedikit cemburu tapi ini bukan saat yang tepat.
"Kau tidak boleh berkata begitu, teman. Kita akan bersama-sama menjaga Shota dan Yui dan juga bersama-sama menjaga Rangiku kita," lanjutku iba melihat mata sendunya.
"Tidak, Gin. Kualah yang harus menjaga mereka sendiri. Akuu sudah tidak bisa, maaf Gin. Jagalah Shota, Yui dan Rangiku kita dengan baik demi aku."
Rangkiku meneteskan air mata dan mendekat serta meraih tangan Aizen aku pun mendekat dan ikut memegang tangan Aizen. Tanganku, tangan Rangiku dan tangan Aizen kini menyatu saling berpegangan. Aizen tersenyum pada kami dan menyuruh Kira membawa Shota dan Yui, dia ingin melihat dua malaikat kecil kami sekali lagi. Setelah itu, mata Aizen mulai merapat dan genggaman tangannnya yang kami pegang tiba-tiba menjadi lemas dan kaku. Aizen telah tiada.
2 Minggu setelah pemakaman Aizen, kami kembali ke kota Karakura dan di salah satu Sabtu dimusim gugur itu, kami pergi ke Kuil Shito tempat dimana kami pertama kali bertemu. Kurang lebih satu jam kami berdoa untuk Aizen. Setelah itu aku, Rangiku, dua malaikat kecil kami berjalan menuju bangku panjang di taman halaman kuil Shinto itu.
Shota dan Yui bermain di hamparan dedaunan coklat keorangenan itu dengan gembira, mereka tertawa sambil sesekali melihat kearah kami. Aku dan Rangiku kemudian duduk di bangku panjang itu sambil mengamati dua malaikat kecil kami yang sedang tertawa lepas sambil berlari-lari kecil. Aku merangkul bahu istriku dan berkata.
"Rangiku, saat-saat seperti ini pernah kuimpikan dan kubayangkan dulu, saat aku kembali bertemu denganmu di Hueco Mundo. Tidak disangka kita akan bisa bersama-sama kesini dan duduk di bangku panjang ini lagi," ujarku padanya. Dia menatapku lekat kemudian mencium pipiku, dan memelukku erat.
"Saat-saat seperti ini juga kuimpikan saat terakhir kali aku bertemu denganmu disini. Dan ini adalah kenyataan Gin, bukan mimpi kita lagi."
"Ya, benar sekali. O ya, kita juga harus berterimakasih pada Aizen, biar bagaimanapun juga dia telah mempersatukan kita."
"Ya, kamu benar. Terimakasih Aizen, terimakasih telah mempertemukanku dengan pangeran Silverku ini. he… he…" ucap Rangiku dengan tawa kecilnya. Aku hanya tersenyum padanya dan mencium lembut bibirnya lalu mengecup dahinya lalu kembali memandangi dua malaikat kecil kami.
Hari ini adalah hari Sabtu di musim gugur, dedaunan coklat keorangenan telah menjadi ciri khasnya. Dan satu lagi kutemukan alasan kenapa aku begitu menyukai musim gugur, karena di musim gugur Tuhan memberiku banyak pelajaran, memberiku banyak kenangan dan memberiku banyak kebahagiaan seperti hari ini. Saat ini suasana orange itu telah menyempurnakan kebahagiaanku dengan wanita bersyall pink ini bersama dua malaikat kecil kami, Shota dan Yui Ichimaru.
Rangiku… Aishiteru
Aishiteru, Gin
------THE END---
Review lagi ya, Oya gimana fict ini dari awal sampai akhir. Apakah author ini sukses membuat sudut pandang Gin di story ini, Lebay, abal or so melankolis. Apa ceritanya gaje, membosankan atau malah mengerikan.
Terimakash banyak banget buat yang sudah menyediakan waktunya untuk membaca dan mereview fict ini. Kritik, pesan, kesan, flame, dan semuanya akan diterima dengan baik dan benar dan senang hati.
Maaf kalau balasan reviewnya belum sempat, tapi akan di usahakan dibalas semuanya. Buat yang sudah review, penghargaan terbesar dari saya untuk kalian yang mereview fict ini. Semoga kalian bisa menjadi author yang hebat dan membanggakan.
Terimakasih untuk semua yang membantu, terimakasih untuk semua ide yang datang dan pergi dariku dan terimakasih sudah bisa melukiskan sedikit perasaanku.
Terimakasih banyak, Hontou ni Arigatou Gozaimashita.
Sampai jumpa di fict-fict Bleach lainnya,
Ja ne!
