OYII!

Tentu saja firstly first, terima kasih untuk para reviewer! Dwinur .halifah .9, cocoa2795, Aniver22, Untuk Hikage Natsuhimiko dan Miyaka Himizuka yang sumpah panjangggg banget XD (gomen, eyd saya kurang bagus T.T and sorry for typos T.T), dan tak lupa Natsu Yuuki juga Zee Cielova! YAY! Bahagia gw baca review kalian XD XP

Baiklah, aku harap kalian menyukai yang satu ini! Mohon maaf juga karena waktu yang lamaaa banget buat update!

Pernyataan: Aku tak memiliki KHR dan bukanlah pengarang aslinya karena Amano Akira adalah sang author

Perhatian: beberapa kesalahan, typos, waktu update yang tak tentu dan OOC.

"Japan."

"Italia."

'Pikiran.'

"Flashback"


Tsuna berjengit kesakitan. Belum ada sepuluh menit ia memasuki kamarnya ketika ia merasakan hyper intuition-nya mulai bereaksi terhadap sesuatu. Ia tak tahu apa, tapi hyper intuition-nya terus saja memberikannya peringatan, sekaligus mengirimkan rasa sakit ke kepalanya.

Tsuna terduduk seraya ia memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.

'Apa yang terjadi?' Tsuna berpikir seraya bersusah payah menjaga kesadarannya. Dengan sebelah mata menutup dan sebelah mata membuka ia melihat keluar jendela untuk menemukan bahwa langit di luar mulai mendung dan ia bisa mendengar petir menggelegar di kejauhan. Sesuatu yang buruk akan terjadi. Ia tahu itu.

'Di mana Lambo?' Tsuna tiba-tiba teringat. Dengan susah payah, ia bangun dari tempatnya dan berjalan menuju ke dapur di mana ibunya biasanya berada.

"Mama," Tsuna menyapa begitu ia melihat sosok ibunya di sana. Nana mendongak dari pekerjaan yang sedang dilakukannya dan dengan khawatir berjalan menuju ke arah Tsuna.

"Ada apa Tsu-kun? Apa kau baik-baik saja?" Nana bertanya dengan nada khawatir. Tsuna menggeleng seraya memaksakan senyuman, menahan sakit yang masih terus menyerang kepalanya.

"Aku baik-baik saja, Ma. Apa Mama tahu di mana Lambo?" Tsuna bertanya dengan khawatir. Nana mengerutkan dahinya seraya berpikir selama sesaat. Raut kekhawatiran yang sekejap hilang dari wajahnya mulai muncul lagi.

"Lambo-kun? Tadi siang dia bilang akan menunggumu di taman yang biasa kau lewati sepulang sekolah. Tadi Mama mengajaknya berbelanja sebentar, tapi dia bilang dia ingin menunggumu pulang seraya bermain di taman. Mama memang mengeceknya sejam sekali. Apa kau tak bertemu dengannya, Tsu-kun?" Nana bertanya dengan khawatir. Tsuna menggeleng dengan pelan.

"Tidak. Aku langsung berjalan pulang. Tadi sempat hujan, apakah Lambo tak pulang?" Tsuna bertanya lagi. Kekhawatiran mulai muncul dari dalam dirinya.

"Ya, dia pulang. Tapi kemudian ia mendengar suara langkah kakimu dan pergi keluar lagi." Nana menjelaskan. Tsuna menatap ibunya yang juga mulai khawatir. Ia lalu tersenyum.

"Aku akan mencarinya, Ma. Mama di sini saja bersama dengan Gio-nii, G-san dan Reborn-san. Mama merindukan Gio-nii, kan?" Tsuna berkata. Nana masih menatapnya dengan khawatir.

"Apa kau yakin kau akan baik-baik saja, Tsu-kun?" Nana bertanya. Tsuna hanya mengangguk menenangkan sebelum berjalan menuju ke pintu depan. Setelah membawa sebuah payung dan memakai jas hujan-hanya untuk berjaga-jaga-ia segera melangkahkan kakinya untuk mencari Lambo.

Tsuna menatap langit yang bergerumuh. Ia menggenggam erat payung di tangannya. Hyper intuition-nya yang masih saja terus memberikan peringatan tak membuat segalanya menjadi lebih baik.

'Lambo,'


Giotto mengubah posisinya menjadi lebih nyaman begitu ia melihat Tsuna menyelinap pergi. Walaupun ia merindukan adik semata wayangnya, tapi ia membutuhkan waktu untuk berbicara dengan Reborn dan G tentang suatu hal yang lebih penting dan serius, sekaligus harus disembunyikan dari Nana dan Tsuna.

G yang juga menyadari perginya Tsuna, berpindah tempat ke samping Giotto. Reborn di lain tempat hanya duduk di tempatnya semula seraya memperhatikan sosok Tsuna yang telah pergi.

"Giotto." G memulai. Giotto menghela nafas sebelum menatap sahabatnya itu.

"Dia sangat lucu kan?" Giotto tersenyum kecil. G mengangguk setuju. Sejujurnya ia sendiri pun kaget. Ia tak menyangka bahwa Giotto dan adiknya, Tsuna benar-benar sangat mirip. Bukan sekedar wajah, tetapi juga sampai ke sikap mereka. Bagaimana mereka merespon, bagaimana mereka berbicara dan bagaimana mereka bersikap di depan Reborn (jujur G ingin tertawa melihat wajah Tsuna ketika ia melihat Reborn, salah satu ekspresi yang tak pernah lepas dari Giotto ketika Giotto kabur dari tugasnya maupun latihannya).

G hanya tertawa kecil. Ia bukan seseorang yang punya hak untuk berbicara seperti itu ketika ia sendiri pun memiliki adik lelaki yang walaupun beda ayah memiliki wajah dan sikap yang mirip dengannya.

"Ya, sangat lucu." G menatap sahabatnya. Giotto hanya tersenyum sebelum wajahnya berubah menjadi serius. Ia mengalihkan pandangannya ke tutornya.

"Reborn, apa yang ingin kau bicarakan?" Giotto bertanya. Reborn menatap Giotto selama beberapa saat sebelum akhirnya mengeluarkan sebuah amplop dari balik jasnya. Dengan pelan, ia membuka amplop itu dan mengeluarkan sebuah kertas. Api dying will dengan cepat berkobar di atas surat itu.

"Nono mengirimkan surat kepadamu." Reborn berkata. Ia menyerahkan surat di tangannya dan menyerahkannya pada Giotto.

"Setelah kau mengalahkan Xanxus setahun yang lalu, sebagian besar mafioso sudah mengakui kemampuanmu. Apalagi setelah kau berhasil membuat aliansi dengan Millefiore famiglia yang baru terbentuk tapi sudah menjadi salah satu mafia famiglia terkuat di dunia bawah. Yah, walaupun mereka tak mengetahui pertarunganmu dengan Byakuran di masa depan." Reborn melanjutkan.

Giotto hanya mendengarkan seraya matanya membaca surat di tangannya. Ia membelalakkan matanya begitu ia selesai membacanya. Ia lalu menatap Reborn dengan pandangan tak percaya.

"Apa maksudnya ini, Reborn?" Tanya Giotto. Ia menyerahkan suratnya kepada G untuk dibaca.

"Seperti yang telah dituliskan di surat itu, Nono memberikan tugas untukmu." Reborn berkata.

"Ya, aku mengerti, tapi apa maksudnya memberikan tugas ini ketika aku sedang berkunjung ke Jepang? Ini bisa membahayakan keluargaku." Giotto berkata dengan serius. G di sebelahnya menurunkan surat yang dipegangnya dan ikut menatap Reborn dengan serius. Reborn di lain pihak menurunkan fedoranya agar menutupi matanya.

"Kau pernah mendengar tentang cloak-man?" Reborn bertanya. Giotto menegang begitu pula dengan G.

"Ya, aku pernah mendengarnya selama beberapa waktu lalu." Giotto berkata.

"Berdasarkan rumor yang tersebar di dunia bawah, cloak-man telah berhasil menghancurkan dua mafia famiglia kecil hanya dalam waktu satu minggu dan membantai seluruh anggotanya dengan sadis. Selain itu, tak ada saksi atau pun bukti yang menunjukkan identitas dirinya kecuali hanya dia memakai topeng dan jubah karena itu dia dijuluki Cloak-man." G berkata. Reborn mengangguk.

"Ya, tak banyak yang tahu, tapi kedua famiglia itu, meskipun kecil merupakan famiglia yang mempunyai aliansi dengan Vongola karena kecerdasan mereka dan juga keahlian di bidang mata-mata dan science." Reborn menjelaskan.

"Karena itu Nono memintaku untuk menangkapnya?" Giotto berkata. Reborn menghela nafas.

"Kau tak baca surat itu baik-baik dame-Gio." Reborn mengancam. Giotto merinding.

"Nono berkata kau harus menginvestigasi tentang hal itu, karena dari kabar yang didapat, Cloak-man sedang menuju ke Jepang, tanpa alasan yang jelas. Nono menulis, jika memungkinkan, tangkap Cloak-man." Reborn berkata dengan suara mengancam. Giotto mengangguk-angguk dengan cepat.

"Ok, ok, Reborn, aku mengerti."

G, yang sendari tadi memperhatikan, hanya bisa menghela nafas melihat sahabatnya itu.


Tsuna berlarian mengelilingi taman di sekitar rumahnya dengan khawatir. Ia tak bisa menemukan Lambo di manapun dan dengan suara langit yang mulai menggelegar, ia bisa mendengar badai yang akan segera datang.

"Lambo! Di mana kau!?" Tsuna berteriak dengan khawatir. Perasaannya tak menentu dengan rasa sakit yang mulai menjalar ke tengkuknya dan Lambo yang tak kunjung ditemukan.

Tsuna terduduk di salah satu bangku seraya memegangi tengkuknya yang menegang. Kepalanya berdeyut pusing seraya ia memperhatikan setiap sudut taman. Matanya kembali melebar ketika ia menemukan sesuatu yang bergerak di sudut matanya.

Melupakan rasa sakit yang dirasakannya, ia segera berdiri dan menghampiri apa yang baru saja dilihatnya. Betapa leganya ia ketika mengenali rambut keriting dan baju bermotif kulit sapi yang dikenalnya.

"LAMBO!" Tsuna berteriak dengan lega. Lambo yang semula gemetar kedinginan dan bersembunyi di balik salah satu tempat teduh mendongak. Wajahnya cerah seketika ketika ia menemukan Tsuna yang berlari ke arahnya.

"Tsuna-nii!" Lambo berteriak. Ia segera berdiri dan melemparkan dirinya ke dalam gendongan Tsuna.

"Kau baik-baik saja, Lambo? Bajumu basah. Apa dari tadi kau di sini?" Tsuna bertanya dengan khawatir. Ia segera melepaskan jaketnya dan melingkarkannya ke tubuh Lambo. Lambo hanya mengangguk.

"Lambo-sama menunggu Tsuna-nii. Lalu hujan turun dan Lambo-sama berteduh di sana." Lambo menjelaskan dengan bahasanya sendiri yang membuat Tsuna meneteskan keringat.

Ia menghela nafas.

"Syukurlah kau baik-baik saja. Ayo, Mama sudah menunggu di rumah. Makan malam akan segera siap." Tsuna berkata. Lambo hanya menganggukkan kepalanya seraya merapatkan dirinya ke Tsuna yang menurutnya hangat.

Tsuna segera berbalik dan hendak berjalan pergi ketika ia menangkap sekelebat rambut abu-abu yang dikenalnya.

Matanya terbelalak seraya ia menatap sepasang mata bewarna hijau emerald yang juga menatapnya.

"Hayato?"


"Tsuna?"

Hayato berbisik dengan jantung berdetak kencang. Sosok yang berdiri di depannya memang Tsuna. Tsuna, sahabatnya. Ia masih memiliki wajah yang sama seperti yang dilihatnya tiga hari yang lalu, tak ada yang berubah.

"Hayato!" Tsuna berteriak lagi, kali ini dengan senang. Ia berlari ke arah Hayato dengan senyuman besar di bibirnya.

"Apa yang kau lakukan di sini!?" Tsuna berteriak dengan senang. Matanya bersinar-sinar. Hayato yakin ia bisa melihat bunga-bunga bermekaran di belakangnya.

"Tsuna." Hayato berkata lagi dengan pelan. Mau tak mau seluruh pikiran buruk yang tadi dipikirkannya menghilang. Tsuna menatap Hayato dengan khawatir.

'Apa sesuatu terjadi pada Hayato?'

Tsuna tersentak ketika merasakan serangan rasa sakit yang muncul dengan tiba-tiba diriingi dengan peringatan tanda bahaya yang dibunyikan oleh Hyper Intuition miliknya.

"Tsuna-nii?" Lambo yang masih ada di gendongan Tsuna menatap Tsuna dengan pandangan khawatir. Tsuna hanya tersenyum menenangkan.

"Sesuatu terjadi, Tsuna?" kali ini Hayato yang bertanya seraya memperhatikan wajah Tsuna yang mulai memucat. Ia juga menyadari sikap Tsuna yang gelisah dan menengang.

"Hayato." Tsuna menatap sahabatnya seraya matanya menyusuri sekelilingnya. Hayato menyadari ini dengan segera merapat ke Tsuna.

"Kita harus pergi dari sini, bukan?" Hayato berbisik. Tsuna menatap temannya dan mengangguk. Dengan segera mereka berdua berjalan menjauh dari tempat mereka berada.

"Kita pergi ke wilayah perbelanjaan." Tsuna berbisik pelan. Tangannya memegang kepalanya sedangkan tangannya yang lain memagangi Lambo dengan erat. Hayato menatap Tsuna dengan khawatir.

"Apa yang terjadi, Tsuna?"

"Aku tak tahu Hayato." Tsuna berkata pelan. Ia terus menatap ke depan. "Tapi perasaanku berkata bahwa kita harus segera pergi dari sini. Sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Benar-benar buruk."

Hayato mentap Tsuna seraya memperhatikan matanya yang bercahaya orange. Ia terperangah, dan kagum di saat bersamaan. Ia kembali memfokuskan perhatiannya ke depan dan hanya mengangguk seraya mengikuti Tsuna menuju ke pusat perbelanjaan. Kali ini, dia berjanji pada dirinya, jika sesuatu terjadi pada Tsuna, dia akan melindungi Tsuna apa pun yang terjadi. Dengan dying will miliknya.

"Khu khu khu, halo, Tsunayoshi-kun."


Sebuah sosok bertopeng dengan jubah berkibar tak jauh terlihat memperhatikan kota kecil di depannya.

"Hmn..." Sosok itu bergumam seraya memperhatikan tiga buah sosok yang terlihat di kejauhan. Ia lalu menatap langit yang mulai menunjukkan badai yang akan datang.

"Badai huh?" Ia lalu mengalihkan pandangannya lagi ke sebuah rumah dengan tiga buah sosok lainnnya yang sibuk berdiskusi.

"Pengawas Tri-ni-sette, dan Vongola Decimo. Mana yang harus kutemui pertama, huh?" sosok itu kembali bergumam. Sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangannya pada tiga sosok yang berjalan menjauh dari pandangannya.

"Khu khu khu, tri-ni-sette, selalu menjadi tujuan utama." Ia berdiri dari tempatnya seraya mengejar tiga sosok yang berjalan menjauh.

"Sawada Tsunayoshi, aku datang untuk mengambil apa yang menjadi milikku." ia berbisik dengan pelan.


Giotto tersentak dari tempat duduknya. Ia menatap sekelilingnya dengan wajah pucat seraya Hyper Intuitionnya mulai bereaksi terhadap sesuatu. G dan Reborn yang berada di sampingnya langsung bersiap untuk menyerang segala sesuatu yang mungkin akan datang terhadap mereka.

"Sesuatu terjadi, Giotto?" G bertanya dengan serius. Giotto menatap langit yang masih mendung sebelum akhirnya menoleh ke dua penghuni lainnya.

"Aku tak tahu, tapi Hyper Intuitionku berkata sesuatu yang buruk akan terjadi." Giotto berkata pelan.

"Apa salah satu dari penjagamu?" Reborn bertanya. Giotto menggelengkan kepalanya.

"Kurasa bukan. Orang lain..." Giotto berkata pelan. Tiba-tiba ia berdiri dari tempatnya dan segera berlari keluar menuju ke lantai bawah. G dan Reborn mengikuti dari belakang.

"Mama!" Giotto berteriak memanggil mamanya. Nana segera keluar dari dapur untuk menyambut anak tertuanya.

"Ada apa Ie-kun?" Nana bertanya dengan khawatir.

"Di mana Tsuna?" Giotto bertanya. Kesadaran muncul di wajah G dan Reborn seraya mereka mendekati Giotto.

"Tsu-kun? Ia pergi keluar untuk mencari Lambo-kun." Nana menjelaskan. Giotto mengerutkan alisnya. G hanya menatap Nana degan bingung.

"Lambo-kun, seperti di Lambo Bovino?" G bertanya. Nana terlihat berpikir sebentar sebelum menganggukkan kepalanya.

"Ya, kemarin Tsu-kun membawanya pulang kemari. Apa ada masalah, Ie-kun?" Nana bertanya dengan bingung. Giotto menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia memberikan ibunya senyuman menenangkan.

"Kalau begitu aku ijin untuk mencari mereka dulu, Mama. Sebentar lagi makan malam akan siap, aku ingin kita makan bersama." Giotto berkata. Nana hanya tersenyum dan mengangguk seraya kembali ke dapur.

Giotto dengan wajah yang penuh kekhawatiran segera bejalan keluar untuk mencari adik tersayang, diikuti oleh G dan Reborn di belakangnya.

"Giotto, mungkinkah?" G bertanya dengan serius. Giotto hanya terdiam seraya ia menelusuri setiap sudut jalan yang dilewati.

'Tsuna, kuharap kau baik-baik saja.'


-Di kediaman Hibari-

Kyoya benar-benar kesal. Seperti benar-benar kesal.

Ia menatap dengan dingin herbivore yang baru saja masuk ke rumahnya dengan percaya diri.

"Halo, Kyoya." herbivore bernama Alaude itu mengucapkan salamnya. Kyoya memicingkan matanya seraya menatap Alaude dengan tak suka.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Kyoya bertanya. Alaude menatap Kyoya, menganalisanya, sebelum menjawab.

"Aku berkunjung." Alaude menjawab. "Mengunjungi adikku tentu saja."

"Aku tak perlu kunjunganmu ataupun dia." Kyoya mendesis tak suka. Ia bisa mengurus dirinya, kenapa setiap orang masih menganggapnya sebagai anak kecil?

"Aku tahu, tapi boss-ku di sini dan aku tak mau mengikuti kerumunannya." Alaude berkata dengan final. Kyoya memandang kakak keduanya dengan geram. Ia benar-benar, sama sekali tak menyukai kedua kakak kandungnya. Mereka entah kenapa bisa membuat perasan kesalnya bertumpuk menjadi dua kali lipat.

"Terserah." Kyoya mendesis kesal. Ia kembali memasuki kamarnya dan mulai membaca bukunya dengan cuek. Dari balik pintu, ia bisa mendengar suara langkah kakaknya yang berjalan degan pelan menuju ke kamarnya di sebelah kamar Kyoya.

'Sawada Tsunayoshi.' Pikiran Kyoya tiba-tiba terfokus pada herbivore yang ditemuinya baru-baru ini. Ia mengingat apa yang dikatakannya tadi ketika ia bertemu dengan herbivore itu di sekolah. Ia yakin bahwa ia ingin sekali menggigit herbivore itu sampai mati, tapi sesuatu menghentikannya. Tiba-tiba saja ia mengucapkan kata-kata aneh yang begitu saja keluar dari mulutnya. Ia tahu itu bahasa Italia. Tapi ia tak mengerti kenapa ia mengucapkannya kepada herbivore itu.

Ia ingat, ada perasaan yang menariknya ke herbivore itu.

Pikiran Kyoya teralihkan ketika ia merasakan instingnya mengatakan sesuatu padanya. Tiba-tiba saja, ia memiliki keinginan untuk berpatroli di Namimori karena ada 'sesuatu' yang akan terjadi.

Dengan cepat, Kyoya segera berjalan keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke pintu depan. Tanpa mengucapkan salam apa pun, ia segera berjalan keluar dengan tonfa di kedua tangannya dan keinginan membunuh yang tampak jelas di matanya.


Yamamoto Takeshi terhenti dari gerakannya dengan tiba-tiba. Ia menatap langit yang mendung dari jendela kamarnya dan menyadari bahwa sesuatu yang salah akan terjadi.

Ia segera mengambil jaketnya dan berjalan turun dari lantai dua untuk menemui ayahnya. Tak lupa ia mengambil stik baseball miliknya karena ia merasa akan memerlukannya nanti.

"Yah, aku harus pergi!" Takeshi berteriak seraya tangannya menggeser pintu menuju keluar Takesushi.

"Kembalilah sebelum gelap, Takeshi!"

Takeshi segera memakai jaketnya begitu keluar dari rumahnya. Ia bisa merasakan udara dingin yang menerpa tubuhnya. Setelah memandangi langit dan sekelilingnya, ia segera berlari menuju ke jalanan untuk mencari sesuatu.

Seseorang.

Saat itulah ia tahu siapa yang ingin ditemuinya saat itu.

'Tsuna...'


Sasagawa Ryohei terhenti dari latihannya dengan tiba-tiba. Ia bisa merasakan perasaan yang mirip dengan kekhawatiran mulai merayapi dirinya.

'Apa yang perasaanku ingin katakan secara EXTREME?' Ryohei berpikir seraya melanjutkan kembali larinya.

Ia berusaha untuk mengalihkan perhatiaannya, tetapi cuara yang buruk dan memberikannya kesan aneh tak membantunya sama sekali. Ia berkali-kali mendongak menatap langit seraya memperhatikan badai yang mulai datang.

'Aku harus pulang, Kyoko akan mengkhawatirkanku.' Ryohei berkata. Meskipun begitu, gerakannya terhenti ketika ia melihat sesosok yang dikenalinya, dengan seorang pemuda berambut abu-abu berbentuk... gurita? berdiri di dekat taman seraya berbicara. Mereka tiba-tiba berbalik dan berjalan menjauh dengan sedikit terburu-buru.

Ryohei mengerutkan alisnya seraya melihat Tsuna dan pemuda yang tak dikenalnya itu menjauh. Ia memiliki perasaan buruk.

Dengan pelan, tapi cepat, ia berjalan mengikuti mereka beberapa saat kemudian, untuk melihat sesosok tak dikenal berbicara pada mereka.


Mukuro Rokudo dan Chrome tak segera pulang. Mereka masih duduk di taman ketika Mukuro merasakan perasaan yang pernah dialaminya dulu menghinggapinya. Perasaan seperti ancaman, ketakutan, dan tentu saja bahaya.

Ia berdiri, dan mengeluarkan tridentnya dalam sekejap. Chrome yang berada di dekatnya segera bergerak menghampiri Mukuro dengan mata ketakutan dan waspada.

"Chrome," Mukuro berbisik seraya merasakan hawa aneh yang mengarah pada suatu arah. Chrome yang ada di belakangnya menatap ke arah wilayah pembelanjaan dengan kekhawatiran terlihat di matanya.

"Mukuro-nii. Sesuatu akan terjadi." Chrome berbisik seraya ia masih menatap ke arah yang sama.

"Oya, rupanya Sawada Tsunayoshi-kun terlibat dalam sesuatu?" Mukuro berkata seraya ia menatap ke arah yang dipandangi Chrome sendari tadi. Matanya menangkap sekelebat dari api kabut yang digunakan di kejauhan.

"Bossu dalam bahaya." Chrome berbisik dengan tegang. Mukuro menatap saudarinya dengan terhibur.

"Kufufu, lebih baik kita melihat 'boss' kita, Chrome." Mukuro berkata pelan.

Detik berikutnya, mereka menghilang dalam kabut.


Tsuna merunduk untuk menghidari tendangan yang diarahkan sosok itu. Di pelukannya, Lambo memegang Tsuna dengan erat. Hayato di lain tempat mengeluarkan dinamitnya dan mengarahkannya ke arah sosok itu.

Sosok itu tiba-tiba saja muncul di depannya, Lambo dan Hayato. Dengan jubah yang berkibar dan topeng yang terpasang di wajahnya, sosok itu meminta Tsuna untuk menyerahkan cincin yang dimiliki Tsuna. Tsuna tentu saja menolak, dan saat itulah sosok itu mulai menyerang Tsuna.

"Khu khu khu, lebih baik kau menyerahkan cincin cincin itu, Sawada Tsunayoshi-kun." Sosok itu berbicara dengan dingin dan penuh ancaman.

"Tak akan pernah." Tsuna berkata dengan tegas seraya ia menghindari tendangan lain.

"Tch. Meledaklah!" Hayato berteriak seraya melemparkan dinamitnya yang lain. Tentu saja itu tak berhasil melukai sosok itu, tetapi cukup bagi Tsuna untuk pergi ke sebuah gang kecil dan menurunkan Lambo di sana untuk bersembunyi.

"Tunggu di sini, Lambo." Tsuna berkata seraya beranjak pergi, nmun terhenti ketika ia meraskan Lambo masih memegang bajunya dengan erat.

"Ts-Tsuna-nii..." Lambo berkata dengan khawatir. Tsuna tersenyum.

"Semua akan baik-baik saja Lambo." Tsuna berkata seraya kembali untuk membantu Hayato.

Hayato melemparkan series dinamit lainnya ke sosok itu dan segera menghindar sesaat sebelum ledakan terjadi. Ia melirik ke arah Tsuna yang berlair untuk menyembunyikan Lambo sebelum kembali memfokuskan perhatiannya kembali ke musuh di depannya.

'Satu hal yang pasti, dia mengincar Tsuna.' Hayato berpikir seraya menghindari serangan lainnya. Ia melemparkan dinamit lainnya.

'Tapi, kenapa dia mengincar Tsuna?'

"Hayato! Awas!" Teriakan Tsuna membuatnya tersadar dari lamunannya, tepat ketika sebuah serangan diarahkan padanya.

'Gawat!'

"EXTREMEEE!" sebuah teriakan membuatnya menoleh. Sebuah remaja berambut abu-abu pendek dengan plester di hidungnya berlari kearahnya.

"Khu khu, gangguan lain?" sosok itu mendesis seraya menghindari serangan Ryohei.

"HEI! Apa yang kau lakukan di sini!?" Hayato menggerutu. Tsuna di lain pihak terkejut melihat Ryohei yang datang dengan tiba-tiba.

"Onii-san!" Ia memekik seraya berlari menghampiri mereka.

"Apa yang kau lakukan di sini!? Kau harus segera pergi, Onii-san!" Tsuna berseru lagi. Ryohei menoleh ke arahnya.

"Apa baik-baik saja?" Ryohei berkata dengan suara yang extremely serius. Tsuna mengangguk pelan seraya matanya membesar. Ia tak pernah mendengar Ryohei berbicara serius itu. Ryohei kembali memfokuskan perhatiannya ke musuh di depannya.

"Siapa kau?" Ryohei bertanya lagi dengan suara yang bukan karakternya alias serius dan rendah. Tsuna di lain termpat tersadar dari lamunannya dan segera menghampiri Hayato yang masih terduduk.

"Hayato, kau baik-baik saja?" Tsuna bertanya dengan khawatir.

"Aku baik-baik saja, Tsuna." Hayato berkata dengan serius. Mereka berdua kembali memfokuskan perhatiannya ke sosok misterius di depan mereka.

"Khu khu khu," sosok itu terkekeh. Ia menatap para remaja yang berdiri di depannya tanpa keinginan untuk menjawab pertanyaan Ryohei. Ia tak menyangka bahwa Sawda Tsunayoshi akan menemukan para penjaganya secepat ini. Well, tentu saja itu menjadi sebuah hiburan tersendiri baginya.

"Sawada Tsunayoshi." Sosok itu kembali berkata. Tsuna tersentak ketika mendengar namanya disebut sedangkan Hayato di sampingnya menggeram tak suka.

"Kau benar-benar menarik, kau tahu itu?" sosok itu berkata seraya berjalan ke kiri, sebelum berbalik untuk berjalan ke kanan dengan momentum yang membuat setiap langkahnya mengancam.

"Menjadi penjaga Tri-ni-sette, menemukan penjaga secepat ini, bahkan memiliki banyak api. Benar-benar menarik." Ia menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Tsuna. Tsuna menyipitkan matanya seraya merasakan hyper intuitionnya memberikan peringatan padanya. Sosok itu tiba-tiba menghilang dari pandangan.

"Sayang sekali kau tak mau bekerja sama denganku." suara yang dingin dan penuh ancaman berbisik di belakang Tsuna. Tsuna merasakan bulu kuduknya merinding. Ia menoleh dengan cepat hanya untuk menemukan dirinya terangkat dengan sebuah tangan yang mencekik lehernya.

"Tsuna!"

Hayato berteriak begitu ia melihat sahabatnya dalam situasi yang berbahaya. Dengan cepat, ia mengeluarkan dinamitnya dan mengarahkannya ke arah sosok yang mencekik Tsuna, meskipun sosok itu berhasil menghindar dengan baik. Serangannya diikuti dengan tinju Ryohei yang juga berhasil dihindarinya dengan kelneturan yang luar biasa.

"Lepaskan Tsuna!" Hayato berteriak dengan penuh ancaman. Sosok itu tak bergerak dari tempatnya.

"Lepaskan adikku!" Ryohei berteriak dengan geram di sampingnya seraya menyiapkan tinjunya. Sosok itu hanya terkekeh seraya bersiap-siap untuk pergi. Hayato dan Ryohei bersiap untuk memulai serangan beruntun mereka. Namun, sebelum sempat mereka melakukan sesuatu, sebuah suara lain mengganggu mereka.

"Herbivore, lepaskan dia." Suara itu dingin dan mengancam. Detik berikutnya, Tsuna telah terlepas dari pegangan sosok itu, dan sosok itu terlempar jauh ke belakang.

"Hibari-san!" Tsuna berteriak seraya terbatuk memandang penolongnya. Kyoya melirik Tsuna sebelum kembali memfokuskan perhatiannya kepada musuh di depannya.

"Setiap herbivore yang mengganggu ketenangan Namimori harus digigit sampai mati." Kyoya mengatakan kalimatnya sebelum melompat ke depan untuk menyerang musuh yang telah kembali berdiri.

"Tsuna!" Hayato berteriak seraya menghampiri sahabatnya, diikuti dengan Ryohei dibelakangnya. Tsuna tak menoleh seraya ia memperhatikan pertarungan antara Kyoya dan sosok itu. Ia tak begitu mengerti mengapa sosok itu menyerangnya, tetapi sosok itu pasti mengincar sesuatu padanya. Saat ini, seseorang yang termasuk di daftar musuhnya adalah...

Mata Tsuna terbelalak ketika ia mengetahui siapa identitas sosok yang mengincarnya itu.

"Oh, tidak." Tsuna berbisik dengan ngeri. Hayato di sampingnya memandang Tsuna dengan pandangan penuh selidik.

Tsuna memperhatikan pertarungan tak seimbang itu dengan serius. Ia memutukan untuk mengambil tindakan ketika ia melihat Kyoya yang terlempar.

"Hentikan Cloak-man!" Tsuna berteriak. Pertarungan terhenti seketika. Hayato, Ryohei dan Kyoya memandangnya, begitu pula sosok itu yang merespon panggilan Tsuna.

"Khu khu khu, jadi kau mengenaliku?" Sosok itu bertanya. Tsuna menggenggam tangannya erat-erat.

"Apa yang kau lakukan pada Sephira dan Kawahira-san?" Tsuna bertanya dengan geram. Ia bisa merasakan seluruh mata teman-temannya mengarah padanya. Cloak-man tidak bergerak dari tempatnya.

"Lebih baik kau menyerahkan cincin itu Tsunayoshi-kun. Sebelum aku membunuh seluruh penjagamu." Cloak-man mengancam. Tsuna membeku. Lidahnya kelu dan pikirannya kalut. Ia tak bisa membiarkan teman-temannya terluka, tidak setelah ia melibatkan mereka dalam situasi berbahaya ini untuk menjadi penjaganya.

"Tsuna!"

"TSUNA!"

"Omnivore!"

Tiga teriakan dari tiga orang berbeda membuatnya sadar dari lamunannya tepat ketika Cloak-man berlari ke arahnya. Dengan segera, Tsuna menghindar, diiringi oleh seragan yang dilontarkan oleh Hayato, Ryohei dan Kyoya secara bergantian.

"Kau tak akan lari dariku." Cloak-man berkata lagi. Tsuna memegang kepalanya dengan cepat. Tiba-tiba saja dunianya seraya berputar. Ia bisa merasakan hyper intuitionnya mulai menyala lagi. Tsuna terduduk seraya merasakan udara yang berat mulai menekannya.

"Kufufu, benar-benar situasi yang menghibur." Sebuah suara yang Tsuna kenal terdengar.

"Bossu." Suara pelan seorang gadis terdengar. Seketika, seluruh tekanan yang dirasakannya menghilang. Ia mendongak untuk menemukan sepasang kembar, Mukuro dan Chrome berdiri di depannya. Mukuro tak menatapnya seraya memutar-mutarkan trident yang ada di tangannya. Sebaliknya, Chrome berjongkok di depannya seraya menatapnya dengan khawatir.

"Bossu, kau baik-baik saja?" Chrome bertanya. Tsuna menatapnya sebelum menoleh ke sekelilingnya lalu mengangguk.

"Kufufu, beraninya kau melakukan hal yang tak seharusnya kau lakukan, bodoh." Mukuro berkata dengan menyeramkan. Tsuna bisa merasakan bulu kuduknya berdiri mendengar suara Mukuro yang mendesis. Ia mencoba berdiri sebelum tubuhnya kembali oleng dan ditangkap oleh sepasang tangan kuat lainnya. Tsuna mendongak.

"Kau baik-baik saja, Tsuna?" Seorang Yamamoto Takeshi bertanya. Tsuna menatapnya selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.

Tak jauh darinya, Cloak-man hanya memperhatikan dengan seringai tersungging di balik topengnya.

"Khu khu khu, sepertinya waktu bermainku telah selesai, huh?" Cloak-man berkata dengan jelas, membuat seluruh perhatian kembali terfokus kepadanya. Ia menunduk dengan anggun dan mengejek seraya menatap Tsuna.

"Sampai di sini, perkenalan kita, Sawada Tsunayoshi." Cloak-man berkata seraya api indigo mulai mengelilinginya. Tsuna terdiam di tempatnya seraya menatap sosok itu dengan mata menyipit tak suka.

"Sampai bertemu lagi." Tsuna bisa merasakan sosok itu menyeringai.

"Ciao." dan sosok itu menghilang.


Okayyy... aku tak terlalu baik dalam menceritakan adegan pertarungan kuharap itu tak canggung...

Well, terima kasih telah membaca.

Ja Mattane!

Kutunggu review kalian XD