Strange Feelings

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance

Rating : T+

Warning : AU! Typo(s), agak nganu/?

.

Enjoy guise~

.

.

Malam sudah berganti malam lagi. Ino yang alih-alih kembali ke rumah setelah membawakan Kiba makan malam, justru minta bermalam di rumah Kiba saja. Padahal tadi Kiba sudah memperingatkan siapa tahu ada pencuri yang akan masuk rumah Ino, tapi perempuan itu tetap kokoh pada pendiriannya.

Salah satu alasannya ingin menginap di rumah Kiba adalah karena kemarin malam ia merasa sangat nyaman saat tidur, dan bangun pagi dalam keadaan segar bugar. Jadi ia pikir kalau tidur di rumah Kiba lagi maka akan terjadi hal yang sama, ia akan mimpi indah seperti malam kemarin.

"Ino, lain kali kita beli saja makanan di luar. Kau pasti lelah kerja seharian."

Ino hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia melanjutkan makan dalam diam.

Kiba hanya menghela napas pasrah, sudah tahu betul sifat Ino bagaimana. Tetangganya ini memang selalu seperti ini, kalau Kiba bilang ingin beli makan di luar, lagaknya selalu setuju, tapi hal itu tidak pernah terlaksana dalam setahun terakhir.

"Kau akhir-akhir ini jadi pendiam, ada masalah?"

"Tidak, aku baik-baik saja." Ino meneguk air putihnya.

"Lalu kenapa aku kemarin malam mencium bau alkohol di mulutmu?"

Ino hampir menyemburkan minumannya kalau saja Kiba tidak menunjukkan kepalan tangan, bersiap memukul Ino kapan saja kalau berani menyemprot mukanya.

"Ah maaf, kau bilang apa tadi?"

"Kau kemarin malam minum, kan? Aku tidur di sampingmu, jadi baunya tercium."

Ino kembali meneguk air mineral, kali ini untuk menetralisir perasaan asing yang baru saja masuk ke dadanya.

"Kemarin ada makan-makan di kantor, jadi mau tidak mau harus minum. Oh ya, aku sudah selesai makan, ku bereskan dulu." Ino segera pergi mencuci piring yang selesai ia gunakan.

"Sekalian punyaku ya," Kiba nyengir.

Malam ini tidak ada pekerjaan kantor yang Kiba sisakan di rumah, jadi lelaki tinggi itu bisa mengistirahatkan badannya dengan langsung tidur setelah selesai makan.

Ino baru saja selesai mencuci muka ketika ia melihat Kiba sudah mengatupkan mata sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Lelaki itu tidur terlentang di sofa.

"Hei, kenapa tidur di sini?"

Kiba tidak menyahut.

Ino pasti terlalu lama berada di kamar mandi tadi, sehingga Kiba sudah jatuh ke dalam tidur yang terlalu dalam.

Berhubung Kiba ini tipe manusia yang susah dibangunkan, jadi Ino bergegas mengambil selimut dan memakaikannya di atas tubuh si tetangga.

Ino menatapi wajah damai Kiba saat tidur. Benar-benar nampak seperti manusia karena anak ini tidak sedang mabuk. Andai Kiba terus menerus sadar seperti ini, pasti kerjaannya bisa beres tanpa perlu dibawa pulang.

Dan tentang apa yang ia pikirkan tadi, apakah benar ia tidur nyenyak karena ada Kiba di sampingnya? Tapi bagaimana bisa? Dia sendiri tidak mengerti apa pengaruh Kiba di hidupnya hingga sampai seperti ini.

Lama berpikir, Ino akhirnya jatuh tertidur juga di samping Kiba. Kali ini ia yang meminta setengah bagian selimut untuk membungkus dirinya sendiri, bahkan tangannya kembali terulur untuk memeluk perut Kiba, meminta sedikit kehangatan di malam yang mulai dingin. Tidak apa, kan? Lagipula mereka adalah sahabat sejak kecil.

Di saat yang sama, Kiba membuka matanya. Ia belum benar-benar tidur sejak tadi. Hatinya kembali berdesir tidak karuan.

.

.

.

Kiba tidak tahan lagi, ia makin takut atas perasaannya sendiri. Harusnya dirinya dan Ino tidak pernah berada dalam situasi seperti ini. Mereka hanya teman, for a God sake. Orang tua Ino ingin Kiba menjaga putrinya, tapi bukan dalam konteks berdebar yang begini. Mungkin saja kan Ino sudah menganggap dirinya ini sebagai seorang kakak lelaki.

Ia menggigit jempolnya, berusaha mencari solusi.

"Ayo berpikir Kiba, berpikir." Ia memukul kepalanya sendiri, gemas dengan ide yang hampir muncul namun tenggelam lagi.

Matsuri.

Benar, nama itu mungkin bisa membantunya keluar dari situasi asing ini. Oke, Kiba harus menelepon Matsuri sekarang juga.

Persetan dengan pagi yang masih buta, dan Ino yang sedang memasak di rumahnya sendiri. Ia harus segera mengajak perempuan itu untuk pergi, entah kemana. Kencan mungkin, toh ini hari minggu.

Dengan tangan bergetar, Kiba berhasil mendial nomor Matsuri.

Tidak ada jawaban.

Kembali ia memanggil nomor yang sama, justru telepon Matsuri dinonaktifkan.

"Haruskah ini terjadi sekarang? Ayolah, aku butuh bantuanmu."

Kiba mengacak rambutnya. Ia gusar, belum lagi Ino akan tiba dalam beberapa menit dengan menenteng nampan berisi makanan.

Bermodalkan nekat, Kiba meraih jaket dan kunci mobilnya. Ia harus menemui Matsuri karena perempuan itu menolak panggilan teleponnya tadi.

Sebelum pergi, ia sempatkan untuk masuk ke dalam rumah Ino. Ia harus menghentikan perempuan yang sedang memasak itu untuk minta ijin pergi sebentar.

"Ino,"

Astaga, lihatlah saat ini Ino tengah melamun di depan kompor yang menyala.

"Ino, kompornya dimatikan dulu." Ia menepuk pundak tetangganya itu.

"Ah iya, maaf." Dengan gelagapan, Ino mematikan kompor yang menyala tanpa ditumpangi apapun.

Beruntung tidak ada hal buruk yang terjadi.

"Kau baik-baik saja?"

"Ya, aku baik. Kau mau pergi?"

"Iya, aku ada janji dengan Matsuri. Nanti siang aku kembali."

"Tidak mau sarapan dulu?"

Kiba menggeleng. "Tolong simpankan untuk nanti, aku pasti memakannya."

Seiring berjalannya Kiba keluar rumah, Ino membanting penggorengan kosong yang masih dingin ke lantai.

Kiba sendiri tidak mendengar keributan kecil yang tetangganya itu timbulkan, karena ia sibuk menelepon Matsuri berulang kali hingga masuk mobil.

Dilajukannya mobil hitam itu menuju komplek perumahan Matsuri yang sudah pernah ia lewati. Begitu nampak rumah kontrakan bercat pink, ia segera memarkirkan mobilnya di depan gerbang.

Beruntung sekali karena ada seorang perempuan cantik bersurai pink yang ada di luar rumah, sedang menyemprotkan air ke tanaman di dalam pot kecil.

"Selamat pagi," Sapanya.

Si perempuan yang sudah ia kenal beberapa hari lalu menampakkan keterkejutan lagi. Sakura membatu ketika Kiba berdiri tepat di hadapannya.

"Aku mau mencari Matsuri, apa dia ada di sini?"

Sakura mengangguk patah-patah.

"Matsuri, keluar sebentar! Ada tamu!"

"Ya, aku di sini!" Yang dipanggil berteriak nyaring.

Kiba tidak butuh waktu lama untuk mendapati gadis idamannya keluar dari rumah dengan pakaian seadanya. Khas anak gadis rumahan.

"Hai Matsuri,"

"Kiba," Suara Matsuri tiba-tiba melemah.

"Ada apa kau mencari Matsuri? Aku tidak mengijinkannya pergi ke bar lagi." Sakura menginterupsi.

"Ah, tidak. Aku tidak akan membawanya ke bar. Aku hanya ingin jalan-jalan saja sebentar dengannya. Boleh?" Kiba tersenyum ramah.

Matsuri menggaruk tengkuknya, hampir menjawab tapi ragu.

"Ehm, maaf Kiba. Tapi aku tidak bisa pergi denganmu lagi."

"Hah? Kenapa?" Kiba membelalak kaget.

Matsuri menggigiti bibir bawahnya. "Karena kau sudah bertemu Sakura, jadi tugasku sudah selesai."

Kiba semakin mengernyit tidak mengerti, ia menatap dua perempuan di hadapannya bergantian. Ada konspirasi apa ini?

"Apa maksudmu?"

"Sakura, dia.."

"Matsuri, jangan!" Sakura menggelengkan kepalanya, memohon pada teman baiknya untuk tidak membocorkan rahasia apapun.

"Tidak bisa seperti ini terus, Sakura. Kau yang membawaku ke bar dan memintaku mengawasi orang ini. Sekarang kalian sudah bertemu, jadi tugasku sudah selesai."

"Tapi aku tidak pernah memintamu untuk bicara padanya. Cukup awasi dia dan bilang padaku kalau keadaannya baik-baik saja!"

"Mana bisa begitu-"

"STOOOP!" Kiba menghentikan dua perempuan ini yang justru berdebat sendiri.

"Ada apa sebenarnya? Kalian mau bilang apa padaku?"

Niatnya jalan-jalan dengan Matsuri malah jadi tidak karuan begini. Kalau urusannya begini, rencananya menjauhi Ino untuk sementara waktu dipastikan gagal total.

"Diam Sakura, biar aku yang mengurus ini." Matsuri menatap sengit temannya sebelum bicara lebih serius ke Kiba.

"Kiba, Haruno Sakura ini adalah adikmu."

.

.

.

TBC

.

Waaaah masih ada yang baca. Aku senang. :D

Ini udah dilanjut ya, semoga kuat sampai ending. :D