Saya masih newbie disini, setelah sekian lama menjadi silent reader akhirnya saya mencoba untuk membuat sebuah fanfic.
Ini fanfic pertama saya, ceritanya agak pasaran juga ^_^, dan maaf kalau ada kesalahan penulisan dan lain-lain.
Semoga kalian suka...
Disclaimer : Masashi Kishimoto dengan semua chara-chara dalam anime Naruto
WARNING : OOC, typo, cerita gaje, alur kecepatan, Lemon dll.
Summary: 'Jujur saja aku tak bisa menunggu lebih lama lagi tentang keputusanmu mengenai tawaranku kemarin. Bisakah kau mengatakan jawabanmu saat ini, Cherry?/Aku... sungguh tak mengerti apa keinginanmu yang sebenarnya, Hime/Berhati-hatilah dalam berbicara manis terhadap gadis lain tuan Sabaku, gadismu bisa cemburu jika mendengarmu mengatakan hal seperti itu kepadaku'/Warning: Lemon Inside for this Chapter.'
Author by : Hikaru Sora 14
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada kalian semua yang telah membaca serta me-review, mem-follow dan mem-fav kan fic ini ^_^ Tanpa kalian fic ini tidak akan berarti apa-apa
Please Enjoy Reading
Don't Like Don't Read
Suasana pagi hari yang terasa begitu dingin di luar sungguh berbanding terbalik dengan suasana pagi hari di salah satu kamar yang terdapat di dalam villa milik keluarga Uchiha. Hal ini diakibatkan karena aura hangat yang terpancar dari kedua sejoli yang kini tengah melanjutkan aktivitas kemesraan mereka yang sempat tertunda tadi malam.
Sang pemuda Uchiha yang telah terlebih dahulu membuka kedua mata onyx-nya sebelum sang emerald, secara sengaja melumat dengan penuh kelembutan bibir ranum gadisnya yang memang masih bertautan dengan bibirnya sedari malam, berusaha untuk membangunkan sang gadis musim semi tersebut dari alam mimpinya.
Pada awalnya tak ada reaksi yang ditunjukkan oleh sang gadis manis tersebut atas tindakan yang dilakukan oleh Sasuke. Tentu saja hal ini membuat Sasuke sedikit merasa kesal karena Sakura tak juga bangun dari tidurnya. Segera saja Sasuke mengangkat tubuhnya untuk beralih posisi ke atas tubuh mungil Sakura tanpa melepaskan pagutan bibirnya terhadap Sakura. Dikurungnya tubuh mungil Sakura di dalam kungkungan erat nan hangat kedua tangan kekarnya.
Pemuda raven tersebut semakin melumat dengan ganas bibir manis sang gadis yang menjadi menu sarapannya pagi ini. Namun, sekali lagi cara yang dilakukan oleh Sasuke tersebut nampaknya tak membuahkan hasil karena Sakura sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda akan membuka kedua mata indahnya.
Spontan saja Sasuke langsung menggigit bibir bawah Sakura sampai mengeluarkan cairan kental berwarna merah yang terasa begitu asin dimulutnya. Tindakan Sasuke kali ini sepertinya berhasil membangunkan Sakura yang kini tengah berjengit merasakan sakit pada bibirnya akibat gigitan sensual sang Uchiha bungsu tersebut.
Namun, beberapa detik kemudian rasa sakit itu hilang karena Sasuke menghisap dengan lembut luka pada bibir Sakura yang justru menimbulkan suatu kenikmatan tersendiri bagi Sakura.
"Selamat pagi Hime." Sapa Sasuke sambil mengecup sekilas kening lebar Sakura.
"Kenapa kau tidur lama sekali? Aku bosan menunggumu sedari tadi dan bermain sendirian seperti ini." Sasuke merengkuh dengan lembut wajah cantik Sakura dengan kedua tangannya sambil menampilkan ekspresi cemberut pada wajah tampannya, yang tentu saja menciptakan sebuah senyum simpul pada bibir sang gadis musim semi tersebut.
Tangan mungil Sakura terulur untuk merengkuh kepala raven Sasuke dan membawanya ke dalam pelukannya. Sasuke sendiri kini tengah menyamankan kepalanya pada leher jenjang Sakura dan mengecup dengan intens kulit putih mulus yang terperangkap oleh onyx-nya tersebut.
"Selamat pagi Sasuke-kun." Ucap Sakura membalas sapaan Sasuke. Tangan mungilnya membelai dengan sayang surai dark blue milik Sasuke, hal ini tentu saja membuat sang pemuda raven semakin ingin berlama-lama untuk bermanja-manja dengan gadis yang dicintainya ini.
Kecupan-kecupan yang ia berikan di leher Sakura kini mulai berubah menjadi sebuah lumatan-lumatan lembut yang berhasil membuat Sakura melengguh pelan karena merasa geli dengan tindakan Sasuke yang menggesek-gesekan lidahnya pada kulit lehernya.
Kini ciuman lembut Sasuke mulai beralih ke rahang mungil Sakura yang terlihat begitu seksi di mata onyx Sasuke. Sementara Sakura sendiri mengarahkan kepala Sasuke agar dengan segera menyambut bibirnya dan membagi kelembutan dan kehangatan satu sama lain pada bibir mereka.
Bibir mereka pun pada akhirnya kembali berpagutan mesra, saling mengecup, saling melumat dan saling bertarung lidah dalam kehangatan pagutan bibir mereka dengan begitu agresif, membuat saliva mereka menetes sedikit demi sedikit dari ujung bibir mereka.
Lumatan yang diberikan Sasuke kepada bibir Sakura terlihat semakin bergairah dan panas, seolah tak pernah puas untuk terus menerus mendominasi dan merasakan kenikmatan bibir ranum Sakura.
Kini Sasuke mengalihkan tangannya untuk memeluk pinggang ramping Sakura dan dalam waktu sekejap Sasuke sudah membalikkan posisi tubuh mereka sehingga Sakura kini berada di atas tubuh kekarnya. Ciuman mereka semakin dalam dan dalam saja tatkala Sasuke menarik tengkuk sang gadis musim semi tersebut dengan tangan kanannya dan semakin mengobrak-abrik isi mulut Sakura dengan lidahnya yang bergerak liar di dalam sana, sementara tangan kirinya menelusuri dengan agresif setiap inci lekuk tubuh Sakura.
Seandainya saja hubungan mereka telah benar-benar membaik dan Sakura telah kembali menerima dirinya sepenuhnya maka Sasuke tak akan segan-segan untuk menarik turun resleting gaun putih milik Sakura yang terasa mengganjal di tangannya tatkala tangannya meraba-raba dengan lembut punggung mungil Sakura, untuk menikmati keindahan tiada tara dari tubuh sang gadis musim semi tersebut untuk yang pertama kalinya.
Namun, Sasuke masih bisa bersabar dan menahan diri untuk tidak melakukan hal tersebut sebelum Sakura mengatakan bahwa dirinya menerima tawaran Sasuke untuk berdamai selama-lamanya.
Biarlah pagi ini Sasuke menikmati dengan leluasa keromantisannya bersama Sakura untuk yang terakhir kalinya pada hari ini, sebelum nantinya Sasuke menghadapi kemungkinan terburuk saat Sakura kembali menolaknya.
Merasa pasokan udara di dalam rongga dadanya menipis, Sakura memukul-mukul kecil dada bidang Sasuke seolah meminta kepada sang pemuda raven untuk segera melepaskan pagutan bibirnya dari bibir Sakura.
Mengerti akan keinginan Sakura, Sasuke akhirnya dengan berat hati memutuskan ciuman mesranya terhadap Sakura. Namun, sebelum benar-benar mengakhiri ciumannya, Sasuke kembali menggigit kecil bibir bawah Sakura dan menghisapnya dengan kuat, menyebabkan bibir mungil Sakura terlihat sedikit bengkak.
Benang tipis yang tercipta dari cairan saliva mereka berdua kini terjalin dari mulut Sakura ke mulut Sasuke tatkala pagutan bibir mereka sudah terlepas. Deru napas mereka berdua terasa begitu berat menandakan bahwa mereka benar-benar merasa kelelahan dengan aktivitas kemesraan yang telah mereka lakukan barusan.
Kedua sejoli itu saling menatap dengan penuh kasih dan saling melemparkan senyuman kebahagiaan satu sama lain kepada pasangannya. Sasuke membelai dengan lembut paras cantik di hadapannya tersebut yang kini terlapisi tipis oleh peluh keringat akibat permainan mereka yang sedikit panas.
"Ayo kita segera bersiap-siap untuk kegiatan pemotretan hari ini, Sasuke-kun!" Ucap Sakura sambil menggenggam tangan Sasuke yang bertengger pada wajah cantiknya.
Sasuke menganggukkan pelan kepalanya sebelum akhirnya menanggapi perkataan Sakura.
"Hn. Baiklah kalau begitu. Kau mau mandi bersama denganku di kamar mandiku atau kembali ke kamarmu dan mandi di sana?" Tanya Sasuke sambil menyeringai menggoda kepada Sakura yang kini wajahnya tampak bersemu merah karena ucapan Sasuke tersebut.
Spontan saja Sakura langsung menghempaskan pelan tangan Sasuke dari genggaman tangannya dan kembali memukul-mukul dada bidang Sasuke dengan sedikit keras kali ini. Sasuke tersenyum simpul dengan sikap Sakura yang salah tingkah seperti itu. Ditariknya Sakura ke dalam pelukan hangatnya dengan begitu erat untuk menghentikan aksi pukul memukul yang dilakukan oleh Sakura.
"Kau manis sekali Hime." Puji dan goda Sasuke kepada Sakura.
"Sejak kapan seorang Uchiha Sasuke menjadi pemuda penggodadan pervert seperti ini, hm?" Tanya Sakura menyindir sikap sang Uchiha bungsu tersebut, namun masih terselip nada candaan di sana.
"Sejak kau memerangkapku dalam pesona keindahanmu, Cherry." Ucap Sasuke jujur mengatakan alasannya kepada Sakura sambil tersenyum bahagia. Meskipun perkataan yang dilontarkan oleh Sasuke tersebut dapat dikatakan manis, namun justru terdengar aneh di telinga sang gadis musim semi.
"Gombal! Kau tampak aneh mengucapkan kata-kata seperti itu, Sasuke-kun!" Ucap Sakura sambil terkikik geli dalam pelukan Sasuke.
"Aku serius, Cherry!" Ucap Sasuke tegas kepada Sakura, yang tentu saja membuat gadis bubble gum tersebut menghentikan tawanya. Kali ini Sakura terdiam untuk fokus mendengarkan ucapan yang akan dilontarkan kembali oleh Sasuke.
"Aku... benar-benar ingin menjadikanmu sebagai milikku seorang. Aku tak ingin lagi kehilangan dirimu untuk yang kedua kalinya, Cherry." Sasuke kini menggulingkan tubuh Sakura untuk berbaring di samping tubuhnya. Onyx-nya menatap penuh arti ke dalam mata hijau bening milik Sakura.
"Jujur saja aku tak bisa menunggu lebih lama lagi tentang keputusanmu mengenai tawaranku kemarin. Bisakah kau mengatakan jawabanmu saat ini, Cherry?" Pinta Sasuke secara halus kepada Sakura.
Sebenarnya Sakura ingin mengatakan bahwa dirinya sudah bisa menerima kembali Sasuke di hatinya. Namun, tidak seru bukan jika Sakura harus mengatakan kenyataan tersebut pagi-pagi seperti ini kepada Sasuke? Bukankah batas waktu perjanjian mereka berdamai adalah nanti malam. Jadi, biarkan saja Sasuke menunggu sampai nanti malam untuk mendapat kejutan yang akan diberikan oleh Sakura kepadanya, Ne?
"Tidak mau! Aku akan memberikan jawabannya nanti malam, Sasuke-kun!" Tolak Sakura sambil menjawil keras hidung mancung milik Sasuke, yang tentu saja membuat sang Uchiha bungsu tersebut meringis kesakitan.
"Kenapa? Apa sulitnya bagimu untuk mengatakan keputusanmu sekarang kepadaku, Cherry?" Sasuke meminta penjelasan lebih terhadap penolakan yang dilakukan oleh Sakura.
"Aku yakin jawabanmu adalah menerimaku kembali, benarkan Cherry?" Ucap Sasuke memperkirakan jawaban Sakura dengan penuh keyakinan.
"Kau terlalu percaya diri, Sasuke-kun!" Ucap Sakura menanggapi perkataan Sasuke sambil menyeringai tipis namun justru terlihat manis bagi Sasuke. Perlahan Sakura mengangkat tubuhnya dan beranjak dari ranjang milik Sasuke, namun tak sempat terjadi karena Sasuke telah terlebih dahulu menarik tangan Sakura sehingga Sakura kembali berbaring di atas ranjang milik Sasuke.
"Aku berbicara mengenai fakta, Cherry!" Ucap Sasuke tegas, sedikit terselip adanya nada amarah di dalam perkataannya. Alih-alih merasa takut karena Sasuke yang mengeluarkan aura hitam disekeliling tubuhnya, Sakura malah tersenyum geli menghadapi sikap Sasuke tersebut. Sasuke sendiri hanya bisa menaikkan sebelah alisnya karena merasa heran dengan sikap Sakura yang tidak menanggapi keseriusannya.
"Kau ini sama sekali tidak bisa bersabar ya, Sasuke-kun!" Jari-jari mungil milik Sakura kini mulai bergerak lincah untuk menggelitiki tubuh Sasuke dengan gemas, membuat sang pemuda Uchiha itu merasakan kegelian pada tubuhnya.
"Hentikan! Hentikan Cherry!" Pinta Sasuke kesal sambil berusaha melepaskan tangan Sakura dari tubuhnya yang terasa begitu geli akibat tangan Sakura yang tak henti-hentinya menggelitiki tubuhnya.
Namun, sepertinya Sakura belum berniat untuk segera menghentikan kejahilannya tersebut. Justru Sakura tampak begitu menikmati ekspresi Sasuke yang terlihat aneh saat ini, suara tawa tak henti-hentinya keluar dari mulut mungilnya.
.
.
.
Sosok bayangan yang terpantul pada cermin di hadapan gadis indigo itu tampak terlihat begitu menyedihkan. Amethyst-nya menatap sendu pada bayangan dirinya yang terlihat begitu lemah dan rapuh saat ini. Wajah putih gadis cantik itu kini tampak begitu pucat dilengkapi dengan lingkaran hitam tipis yang mengelilingi kedua mata indahnya.
Semalaman gadis keturunan Hyuuga ini tidak bisa tidur dengan nyenyak karena otaknya tak pernah berhenti untuk terus menerus memikirkan perkataan pemuda Namikaze yang memilih untuk melepaskan perasaannya terhadap Hinata. Kedua matanya pun tak henti-hentinya mengeluarkan air mata kesedihan yang merupakan luapan rasa sakit dari hati dan perasaannya saat ini.
"Kau berbohong Naruto-kun! Bukankah dulu kau mengatakan bahwa kau akan terus berjuang untuk mendapatkan hatiku kembali, sebesar apapun rintangannya! Bukankah dulu kau mengatakan bahwa kau tidak akan pernah menyerah karena aku adalah satu-satunya gadis yang hanya tercipta untuk mendampingimu sampai kapan pun juga!" Maki Hinata sambil menatap pantulan dirinya di cermin dan meluapkan semua rasa sesak yang saat ini tengah menyelimuti dadanya.
Hinata tidak peduli jika suaranya saat ini terdengar oleh orang-orang di luar kamarnya, yang terpenting baginya saat ini adalah beban yang terasa di hatinya bisa sedikit demi sedikit terkikis dan terangkat agar dirinya bisa merasa tenang.
"Kenapa?! Kenapa kau menyerah secepat ini, NARUTO-KUN BODOH!" Maki Hinata lagi merasa putus asa. Belum ada satu jam berlalu, liqiud bening itu kembali mengalir membahasi kedua pipi putihnya.
"Aku baru mengujimu seperti ini, tapi kenapa kau tak mau berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan kembali kepercayaanku, Naruto-kun?! Kenapa? Kenapa kau mengatakan hal yang terdengar begitu menyakitkan sekali seperti tadi malam kepadaku?! Kenapa kau selalu membuat aku menangis seperti ini, NARUTO-KUN!" Maki Hinata lagi mengungkapkan semua perasaan yang terasa mengganjal di dalam hatinya saat ini.
Isakan tangis yang keluar dari mulut mungilnya semakin menjadi-jadi tatkala Hinata mengingat kembali semua kenangan manis yang pernah terjalin di antara dirinya dengan Naruto. Semakin menyesakkan dadanya karena semua itu tak akan pernah ia alami lagi bersama pemuda yang dicintainya tersebut.
Deg
Secara tak sengaja pemuda yang menjadi sumber rasa sakit hati sang gadis indigo tersebut mendengar dengan jelas semua perkataan dan makian Hinata kepada dirinya tatkala Naruto tengah berjalan melewati kamar sang gadis Hyuuga tersebut untuk turun ke lantai satu guna menikmati aktivitas sarapan pagi bersama para rombongan work tour gabungan ini.
Hatinya terasa begitu sakit mendengar semua pernyataan yang diungkapkan oleh Hinata. Tubuhnya kini tak bergeming sedikitpun dari depan pintu masuk kamar sang gadis indigo. Suara pilu yang dihasilkan dari isak tangis pujaan hatinya itu, sungguh tak sanggup untuk ia dengarkan lebih lama lagi. Mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat seolah menahan berbagai emosi yang kini tengah berkecamuk di dalam hatinya.
"Aku... sungguh tak mengerti apa keinginanmu yang sebenarnya, Hime." Bisik Naruto lirih kepada dirinya sendiri sambil berlalu pergi dari hadapan pintu kamar Hinata menuju ke lantai satu. Langkahnya terasa begitu berat saat menuruni satu persatu anak-anak tangga villa milik keluarga Uchiha tersebut.
.
.
.
Kegiatan pemotretan hari kedua ini akan dilakukan di Desa Dongeng Zawa-Zawa Mura yang merupakan tempat penginapan unik dengan pemandangan alam sekitarnya yang tampak begitu mempesona persis seperti di dalam buku cerita.
Saat ini para kru dan para model sudah tiba di Desa Zawa-Zawa Mura, sebelumnya Deidara memang sudah menyewa salah satu rumah penginapan khusus untuk melakukan kegiatan pemotretan di sini.
Para kru sendiri kini tengah mempersiapkan peralatan yang akan digunakan dalam kegiatan pemotretan di Desa Zawa-Zawa Mura ini. Sementara para model tengah beristirahat di dalam bus untuk mempersiapkan diri mereka sebelum melakukan pemotretan.
Masing-masing dari mereka duduk saling berdampingan, namun tentu saja hal ini tidak berlaku terhadap pasangan Naruto-Hinata yang duduk pada kursi yang saling berjauhan. Memang sedari pagi tadi saat pertama kali Naruto bertemu dengan Hinata di ruang makan, Naruto sudah mulai bersikap menghindari dan mengacuhkan Hinata.
Perasaannya sendiri menjadi bimbang dalam mengambil keputusan untuk melepaskan atau tidak melepaskan perasaan cintanya terhadap Hinata tatkala sebelumnya Naruto secara tidak sengaja mendengar pengakuan yang keluar dari mulut gadis indigo tersebut. Sepertinya pemuda Namikaze tersebut membutuhkan waktu lebih banyak lagi untuk memikirkan kembali keputusannya tersebut.
.
.
.
Pemotretan hari ini dilakukan di dalam rumah penginapan dengan konsep yang masih sama seperti kemarin, yaitu melakukan pose-pose berciuman mesra yang biasa dilakukan oleh pasangan kekasih.
Seperti hari sebelumnya pasangan Ino-Sai, Matsuri-Gaara dan juga pasangan Shion-Sasori telah terlebih dahulu melakukan sesi pemotretan pertama dengan begitu lancar dan sempurna.
Kini tiba giliran Sakura dan Sasuke untuk melakukan sesi pemotretan pertama ini. Berbeda dengan hari kemarin, Sakura dan Sasuke kali ini justru begitu menyambut antusias kegiatan pemotretan ini.
Pose pertama, Sakura dan Sasuke kini berada di dalam dapur. Sakura kini tengah melakukan akting memasak sebuah makanan di dapur. Seulas senyum tipis mengembang di wajah ayu Sakura tatkala Sasuke memeluk dengan begitu erat pinggang ramping sang gadis musim semi dari arah belakang dengan menggunakan tangan kirinya. Sementara tangan kanan Sasuke kini mulai meraih wajah cantik Sakura agar berhadapan dengannya.
Klik!
Sakura melepaskan spatula yang sedari tadi dipegangnya ke atas meja dapur saat Sasuke mulai mengeliminasi jarak di antara mereka sampai akhirnya bibir mereka pun bersentuhan. Sasuke pun mulai mencium dengan lembut bibir ranum Sakura yang tampak begitu menggoda karena polesan tipis lipstik berwarna merah muda pada permukaan bibirnya. Tangannya sendiri kini mulai mengelus-ngelus pelan perut rata sang gadis musim semi.
Klik!
.
.
Beralih pada pose kedua, Sakura dan Sasuke kini berada di ruang makan. Sasuke duduk pada salah satu kursi makan yang terdapat di ruang makan tersebut. Sementara Sakura sendiri kini tengah duduk dengan nyaman di atas pangkuan sang Uchiha bungsu tersebut, dengan salah satu tangannya yang merangkul mesra pundak kekar Sasuke. Sementara tangannya yang lain kini tengah menggenggam satu buah tomat yang berukuran cukup besar.
Diletakkannya buah tomat itu di antara permukaan bibirnya dan permukaan bibir Sasuke, dimana bagian bawah dari buah tomat itu masih disangga oleh jari-jari mungil Sakura. Masing-masing dari mereka mulai menggigit kedua ujung buah tomat tersebut secara perlahan.
Klik!
Bibir mereka berdua pun terlihat begitu basah akibat air yang keluar dari buah tomat tersebut. Gigit, gigit dan terus digigitnya buah tomat tersebut oleh kedua sejoli ini, sampai akhirnya kedua bibir mereka pun bersentuhan setelah buah tomat yang berada di antara mereka habis termakan.
Perlahan bibir mereka pun kembali berpagutan mesra untuk yang kedua kalinya, setelah sebelumnya mereka berciuman pada pose yang pertama. Rasa manis yang mereka kecap di dalam mulut pasangannya masing-masing, benar-benar membuat sensasi yang berbeda dalam ciuman mereka kali ini.
Klik!
.
.
Pose ketiga sebagai pose terakhir, Sasuke kini tengah berbaring pada sofa yang terdapat di ruang tamu dengan menyanggakan kepalanya pada tangan kanannya sambil menutup kedua mata onyx-nya. Sementara tangan kirinya melingkari tubuh ramping sang gadis musim semi yang kini tengah berbaring di atas tubuh kekarnya sambil meletakkan kepalanya dengan nyaman pada dada bidang sang pemuda raven. Kedua emerald-nya pun mengikuti sang onyx yang telah terlebih dahulu terpejam.
Klik!
Kini sang emerald dan sang onyx pun kembali menampakkan keberadaannya. Masih dengan posisi yang sama, namun kali ini Sakura agak sedikit memajukan tubuhnya ke depan agar wajahnya bisa berada lebih dekat dengan wajah mempesona sang Uchiha bungsu.
Sakura menampilkan sebuah senyuman manis sementara Sasuke sendiri menampilkan sebuah senyuman tipis nan menggoda. Sakura menangkup wajah Sasuke dengan kedua tangannya, kemudian secara perlahan Sakura mulai mencium bibir bawah Sasuke dengan cukup agresif. Sementara Sasuke sendiri kini tampak menikmati cumbuan sang gadis bubble gum.
Klik!
"Bagus seperti biasanya, aku tahu kalian memang da-..." Nagato yang berucap sambil melihat hasil pengambilan foto pada layar kameranya, tidak bisa melanjutkan perkataannya tatkala dirinya mengalihkan pandangannya ke arah pasangan Sakura dan Sasuke dan mendapati mereka kini tengah bercumbu mesra dengan lebih agresif di hadapannya.
Sakura kini berada di atas pangkuan Sasuke dengan kedua kakinya yang melingkar sempurna pada pinggang Sasuke. Sasuke merengkuh dengan begitu kuat tubuh mungil di hadapannya. Kedua bibir mereka saling melumat dengan begitu cepat dan liar, masing-masing dari mereka pun saling mendorong bibir pasangannya sehingga pergerakan kepala mereka pun tak menentu ke mana arahnya. Mereka sama sekali tidak menyadari jika fokus semua pandangan para kru maupun para model terarah kepada mereka.
Nagato kembali mengangkat kameranya dan bersiap-siap untuk mengambil foto adegan pasangan Sakura dan Sasuke yang sedikit panas di hadapannya.
Klik! Klik! Klik!
Sebuah senyum kepuasan kini terpatri di wajah tampan Nagato saat dirinya melihat kembali hasil bidikannya pada display kamera miliknya. Nagato kemudian berdehem guna menyadarkan Sakura dan Sasuke dari aksi panas mereka berdua. Sakura dan Sasuke yang mendengar suara deheman Nagato langsung menghentikan ciuman panas mereka dan mengalihkan pandangan mereka ke arah Nagato.
"Jika kalian mau, kalian bisa melanjutkan aktivitas kalian ini nanti di villa setelah sesi pemotretan kedua berakhir." Ucap Nagato sambil menyeringai penuh arti kepada Sakura dan Sasuke.
Sakura yang mendengarkan perkataan Nagato hanya bisa tersenyum canggung dengan kedua pipinya yang bersemu merah. Sementara Sasuke sendiri hanya bisa menampilkan ekspresi tenang tanpa sedikit pun merasa risih dengan ucapan Nagato.
.
.
.
Kali ini giliran pasangan Naruto dan Hinata yang akan melakukan sesi pemotretan pertama.
Pose pertama, Hinata kini tengah duduk di sebuah meja kecil sambil mengalungkan kedua tangannya pada leher tegas Naruto yang saat ini tengah berdiri di hadapan Hinata. Kedua tangan kekar Naruto pun turut melingkari pinggang ramping Hinata dengan begitu erat. Sapphire-nya yang semula terlihat datar kini mulai sedikit memancarkan cahayanya tatkala bertatapan langsung dengan amethyst dihadapannya.
Seulas senyum tipis kini terpatri di wajah tampannya yang juga turut mengundang sebuah senyuman manis di wajah cantik Hinata. Mereka tahu bahwa masing-masing dari mereka saat ini tengah mengartikan senyuman itu sebagai senyuman kepura-puraan yang penuh dengan kepedihan.
Perlahan Naruto mulai mengeliminasi jarak yang tercipta di antara dirinya dan Hinata. Tangan kanannya kini mulai beralih untuk membelai pipi putih Hinata. Bibirnya bergumam pelan namun masih dapat terdengar dengan jelas di telinga Hinata.
"Maafkan aku Hinata-chan."
Butiran air mata itu seketika jatuh dari sang amethyst tatkala bibir pemuda blonde itu sukses mendarat di atas permukaan bibir Hinata. Naruto yang merasakan basah pada pipinya karena air mata Hinata, kini mulai memejamkan kedua matanya merasa tak sanggup untuk menatap wajah gadis yang dicintainya saat ini. Lagi-lagi Naruto merasa tak berguna karena telah membuat Hinata semakin menderita.
Diciumnya dengan penuh perasaan dan kelembutan bibir ranum Hinata yang terasa sedikit bergetar itu. Hinata pun kini hanya bisa menikmati pagutan bibirnya dan bibir Naruto dengan penuh rasa sesak.
Klik!
Ciuman Naruto kini beralih ke pipi sebelah kanan Hinata lalu ke sebelah kiri Hinata guna menghapus air mata yang tampak masih mengalir dari kedua sudut matanya karena Naruto tak ingin seorang pun tahu bahwa Hinata tengah menangis. Dilumatnya rasa asin yang berasal dari air mata Hinata dengan begitu intens agar tak ada setetes pun air mata yang tertinggal di sana.
Klik!
.
.
Beralih pada pose kedua, Naruto kini tengah menggendong Hinata di punggungnya sambil menuruni anak-anak tangga dari lantai dua menuju ke lantai satu. Pada pertengahan anak-anak tangga, Hinata kini meraih dagu sang pemuda Namikaze agar wajah tampannya itu bisa berhadapan dengan Hinata.
Diciumnya dengan sedikit ragu bibir tegas sang Namikaze tunggal tersebut, namun Naruto dengan cepat mengambil alih untuk memimpin ciuman mereka. Kembali Naruto maupun Hinata kini memejamkan kedua mata mereka untuk menikmati setiap sentuhan bibir mereka yang biasanya terasa begitu menyenangkan namun kali ini terasa begitu menyedihkan.
Klik!
Perlahan Naruto kembali menuruni anak-anak tangga yang masih tersisa tanpa melepaskan sedikit pun pagutan bibirnya dari Hinata. Setelah mereka sampai di lantai satu, Naruto langsung melepaskan pagutan bibirnya dari Hinata. Dengan sigap Naruto langsung membawa tubuh Hinata untuk beralih ke depannya dan didorongnya tubuh Hinata tersebut agar bersandar pada pintu kaca yang terdapat di sana. Dilumatnya dengan penuh kelembutan bibir tipis sang gadis Hyuuga tersebut.
Klik!
.
.
Pose ketiga sebagai pose terakhir, kini Naruto tengah duduk berselonjor di lantai dengan salah satu kakinya ditekuk untuk menyangga tangan kanannya. Punggungnya sendiri ia sandarkan pada kaki sofa yang ada di belakangnya. Sementara Hinata kini tengah duduk di sofa dengan kedua kakinya yang bersila di atas sofa tanpa mengenakan alas kaki. Wajah Naruto menengadah ke atas sementara wajah Hinata menunduk ke bawah. Beruntung saat ini suraipanjang Hinata tengah digelung ke atas sehingga tidak akan menutupi wajah keduanya saat akan melakukan pose berciuman.
Klik!
Naruto kembali menutup kedua mata biru langitnya, Hinata kini mulai meraih bibir Naruto dengan bibirnya dan mulai melakukan sebuah lumatan kecil pada bibir bawah Naruto. Naruto sendiri kini tak melakukan pergerakan apapun, karena kini ia tengah merasakan sentuhan terakhir yang diberikan oleh bibir Hinata kepadanya. Mencoba untuk merekam setiap rasa manis di setiap kecupan sang gadis indigo dalam pikirannya.
Klik!
"Hm, bagus. Tapi sepertinya keadaanmu tampak tak begitu baik saat ini, Hyuuga-san?" Tanya Nagato kepada Hinata yang memang wajahnya terlihat lebih pucat dari sebelumnya. Naruto sendiri kini sudah pergi menjauh dari Hinata saat pemotretan sesi pertama berakhir.
"Ah, tidak apa-apa Nagato-san. Saya baik-baik saja, mungkin hanya perasaan Anda saja." Ucap Hinata sopan sambil menampilkan sebuah senyuman manis kepada Nagato, berusaha menutupi keadaan dirinya yang sebenarnya. Nagato pun akhirnya mengerti dan tidak bertanya lebih lanjut kepada Hinata.
.
.
.
Sekarang mereka akan melakukan sesi pemotretan kedua di luar rumah penginapan. Sesi pemotretan kedua ini dilakukan secara bersama-sama.
Pose pertama, mereka semua kini tengah duduk pada anak-anak tangga yang terdapat di luar yang merupakan akses untuk masuk ke dalam rumah penginapan. Posisi mereka saling berselang-seling dari atas ke bawah, untuk masing-masing pasangan model tentunya.
Pasangan Ino dan Sai yang saling merangkul mesra punggung masing-masing pasangannya sambil menempelkan kedua pelipis mereka intim. Sang onyx dan sang aquamarine kini saling melirik jenaka membuat kedua pasangan kekasih itu terlihat begitu manis.
Sebelah tangan Sai yang lain meraih dagu mungil Ino dan mengangkatnya sedikit ke atas. Perlahan Sai mulai mengecup penuh kasih bibir ranum di hadapannya. Masing-masing dari mereka melemparkan sebuah senyuman kebahagiaan yang tampak begitu kontras pada wajah rupawan mereka.
Pasangan Matsuri dan Gaara kini tengah duduk dengan posisi sedikit menyamping dimana Matsuri menyelonjorkan kedua kaki jenjangnya yang saling bertumpuan pada anak tangga sementara Gaara tengah memeluk sempurna pinggang ramping Matsuri dengan kedua tangan kekarnya dari belakang.
Matsuri mengarahkan kepalanya sedikit ke belakang untuk menghadap ke arah Gaara yang kini mulai mendekatkan bibirnya pada bibir mungil Matsuri dan mengecupnya dengan lembut.
Pasangan Shion dan Sasori, kini Sasori tengah memeluk tubuh indah Shion dengan begitu erat pada dada bidangnya. Sementara Shion sendiri tengah melingkarkan kedua tangan mungilnya pada punggung tegap Sasori. Sasori menengadahkan wajah tampannya ke atas sambil menyunggingkan sebuah senyuman manis tatkala Shion mengecup dengan begitu lembut dagu lancip miliknya.
Pasangan Sakura dan Sasuke, kini Sakura tengah menyisir poninya ke belakang dengan menggunakan jari-jari tangannya yang sebelah kanan. Sementara tangan kirinya kini bertengger dengan anggun pada kepala raven Sasuke yang sedikit menyusup pada lekukan leher jenjangnya dan mengecupnya dengan begitu intens. Wajah gadis itu tampak begitu angkuh namun tetap terlihat begitu mempesona.
Tangan kekar Sasuke pun melingkar di atas perut sang gadis musim semi dan sedikit membelainya secara perlahan. Aroma tubuh Sakura benar-benar membuat Sasuke merasa nyaman untuk terus menerus berada dalam posisi tersebut.
Pasangan Hinata dan Naruto sendiri kini tengah menempati anak tangga terbawah. Naruto menangkup wajah putih Hinata yang memang tampak terlihat lebih pucat dari biasanya, dengan menggunakan sebelah tangannya yang tersembunyi dari arah bidikan kamera. Kepalanya sedikit ia tengadahkan ke atas untuk meraih kening sang putri sulung Hyuuga dan mengecupnya dengan penuh kelembutan.
Sementara tangan Naruto yang lain tampak menggenggam dengan begitu erat tangan mungil Hinata. Keduanya saling memejamkan kedua mata mereka. Seulas senyum tipis pun kini terpatri pada wajah cantik Hinata.
Klik! Klik!
.
.
Pose kedua, kini mereka tengah berada di luar rumah penginapan tepatnya berada di jalan utama yang merupakan akses menuju ke rumah-rumah penginapan di Zawa-Zawa Mura, dimana jalan utama ini benar-benar dikelilingi oleh suguhan alam yang tampak begitu menakjubkan.
Para model dan pasangannya kini tengah berdiri secara horizontal dari kiri ke kanan. Sebagai pose terakhir dalam kegiatan pemotretan di Hokkaido ini, mereka akan bersama-sama melakukan pose meloncat ke udara. Masing-masing dari mereka menampilkan sebuah raut kebahagiaan dengan senyuman ceria pada wajah rupawan mereka tatkala mereka semua mulai mengangkat tubuh mereka ke udara sambil mengangkat tinggi-tinggi kedua tangan mereka dengan begitu antusias.
Klik! Klik!
Dengan begitu berakhir sudah kegiatan pemotretan di Hokkaido ini. Para kru pun kini tengah meluapkan perasaan bahagia mereka dengan saling merangkul teman seperjuangan mereka yang telah bekerja keras dengan begitu baik.
.
.
.
Kini Hinata tengah merebahkan tubuhnya yang terasa begitu lelah pada ranjang queen size miliknya, setelah sebelumnya dirinya membersihkan tubuhnya dengan berendam di dalam bathtub kamar mandinya. Kedua mata indahnya tertutup dengan penuh keresahan di dalamnya.
"Naruto-kun." Gumam Hinata lirih kepada dirinya sendiri. Sebutir air mata kini kembali menyeruak keluar melalui salah satu ujung sudut matanya.
Gadis indigo itu benar-benar dibuat kalut dengan sikap dingin pemuda blonde yang dicintainya itu seharian ini. Terlebih lagi ucapan Naruto saat melakukan sesi pemotretan pertama tadi, benar-benar membuat hatinya semakin terasa sesak.
Bukankah Naruto mengatakan bahwa dirinya hanya akan melepaskan perasaan cintanya terhadap Hinata dan ingin tetap bersahabat dengan dirinya? Tapi ternyata apa yang dilakukan oleh Naruto kepadanya saat ini? Kenapa pemuda itu justru tampak menghindari dirinya seperti ini? Menyedihkan! Sungguh terlihat menyedihkan sekali keadaan Hinata saat ini!
'Tidak bisa! Aku harus bertemu dengan Naruto-kun untuk membicarakan semua hal ini dengan jelas. Aku tak ingin semua ini berakhir dengan sebuah kesalahpahaman di antara dirinya dan diriku. Jujur saja aku tak pernah bisa melupakan perasaan cintaku padanya meskipun masih terselip sedikit perasaan benci terhadapnya.' Hinata mengutarakan isi pikirannya dalam hatinya.
'Aku tak ingin kembali menjadi sahabatnya lagi! Aku hanya ingin kembali menjadi calon pendamping hidup Naruto-kun untuk selamanya! Aku tak ingin kehilangan dirinya saat ini, aku membutuhkannya! Aku benar-benar membutuhkan keberadaan Naruto di dalam hidupku saat ini dan selamanya!' Ucap Hinata lirih di dalam hatinya.
Kini gadis indigo itu mulai menampakkan kedua mata indahnya yang begitu dipenuhi oleh cahaya keyakinan, sungguh terlihat kontras dari menit sebelumnya. Tekad Hinata kini sudah bulat untuk kembali memperbaiki hubungannya dengan sang pemuda Namikaze.
Perlahan Hinata beranjak dari ranjangnya untuk menghampiri Naruto di kamarnya yang terdapat di sebelah kamar Hinata. Meskipun kini tubuhnya terasa begitu lemah tapi Hinata terus memacu dirinya agar tetap melangkah keluar dari kamarnya. Dengan penuh keberanian Hinata mengetuk pintu kamar Naruto saat dirinya sudah berdiri tepat di depan kamar sang pemuda Namikaze.
Tok tok tok
"Naruto-kun, apa kau ada di dalam?" Ucap Hinata sedikit ragu untuk bertanya mengenai keberadaan Naruto di dalam kamarnya. Namun, beberapa detik berlalu tak pernah ada sahutan balasan dari suara sang putra tunggal Namikaze itu.
Sekali lagi Hinata mencoba untuk mengetuk pintu dan memanggil-manggil nama Naruto agar sang penghuni kamar tersebut keluar untuk menemuinya. Tapi tetap saja hanya suasana keheningan yang menyambut sang gadis Hyuuga tersebut.
Dengan terpaksa Hinata mengulurkan tangan mungilnya untuk meraih kenop pintu kamar Naruto dan berusaha untuk membukanya. Namun, tak berhasil dilakukannya karena pintu kamar Naruto itu terkunci.
Hanya sebuah helaan napas kekecewaan yang kini dilakukan oleh Hinata. Akhirnya Hinata pun mengalah untuk tidak menemui Naruto saat ini. Mungkin besok pagi-pagi sekali ia akan datang untuk menghampiri Naruto kembali di kamarnya.
"Hinata?!" Itachi menegur Hinata yang saat ini tengah membalikkan tubuhnya untuk kembali ke kamarnya. Hinata yang melihat kedatangan Itachi hanya bisa menampilkan sebuah senyuman tipis pada wajah cantiknya yang terlihat begitu pucat saat ini. Kedua amethyst-nya pun menatap sayu kepada pemuda sulung Uchiha tersebut.
Itachi sendiri baru tiba di lantai tiga ini setelah sebelumnya membereskan suatu urusan pribadi dengan seseorang.
"Kau... Apa kau mencari Naruto, Hinata?" Tanya Itachi to the point kepada Hinata yang saat ini memang masih berdiri di depan pintu kamar Naruto. Bukannya tanpa alasan Itachi bertanya seperti itu kepada Hinata, tapi gelagat dari putri sulung Hyuuga tersebut memang menunjukkan bahwa dirinya memang berniat untuk menemui Naruto di kamarnya.
"Ti-tidak Itachi-nii! Aku tidak mencari Naru-..." Ucapan Hinata telah terlebih dahulu terpotong oleh ucapan Itachi.
"Dia sudah pergi!" Ungkap Itachi kepada Hinata.
"Apa?!" Tanya Hinata mengernyitkan keningnya dalam merasa heran dengan ucapan Itachi yang tak jelas artinya itu.
"Naruto sudah pulang ke Tokyo. Dia bilang ada urusan mendadak yang harus ia kerjakan di sana." Ucap Itachi menjelaskan perkataannya kepada Hinata sebelumnya.
Mendengar penjelasan Itachi membuat tubuh sang gadis Hyuuga tersebut tak bergeming dari tempatnya. Pikiran Hinata seketika saja terasa begitu kosong, pandangan matanya pun semakin mengabur dan lama-kelamaan semakin gelap.
Tubuh mungil itu pun akhirnya tumbang karena Hinata kehilangan kesadarannya, namun Itachi dengan cepat mengambil alih tubuh Hinata agar tidak jatuh ke atas lantai.
Itachi tentu saja merasa panik karena Hinata tiba-tiba saja pingsan tepat di hadapannya. Namun, sebisa mungkin Itachi mengontrol sikapnya agar dirinya dapat bersikap lebih tenang. Itachi membopong tubuh lemah Hinata ke dalam kamarnya dan membaringkannya di atas ranjang milik Hinata.
Segera saja Itachi menghubungi seorang dokter kenalannya yang berada di kota Biei ini, untuk segera datang ke villa milik keluarganya dan memeriksa keadaan sang putri sulung Hyuuga.
Setelah mengakhiri sambungan teleponnya, Itachi pun kembali memusatkan pandangan onyx-nya ke arah Hinata. Sungguh Itachi tidak menyangka jika kabar mengenai kepergian Naruto justru akan membuat kondisi fisik Hinata menjadi sedemikian buruk seperti ini.
"Naruto, seandainya saat ini kau melihat kondisi Hinata yang lemah seperti ini, pasti kau akan mengurungkan niatmu untuk pergi ke Amerika sore ini." Gumam Itachi pelan kepada dirinya sendiri.
Ya, Itachi memang berbohong kepada Hinata saat dirinya mengatakan bahwa Naruto telah pulang ke Tokyo, karena memang Naruto sendiri yang meminta Itachi untuk tidak memberitahukan kepergiannya ke Amerika kepada Hinata.
Naruto juga mengatakan bahwa dirinya akan me-nonaktifkan ponselnya selama perjalanan dari kota Biei sampai ke Amerika. Oleh karena itu, Itachi tak bisa menghubungi Naruto saat ini untuk memberitahukan keadaan Hinata.
Pagi tadi Naruto memang meminta kepada Minato untuk mengirimnya ke Amerika untuk menangani bisnis perusahaan ayahnya di sana selama sebulan. Pada awalnya Minato memang menolak keinginan Naruto yang terkesan tiba-tiba tersebut karena Minato juga mengkhawatirkan keadaan perusahaan Namikaze Entertainment tanpa keberadaan Naruto nantinya.
Selain itu, Minato juga menyayangkan perayaan pesta ulang tahun Naruto yang mungkin saja dibatalkan jika Naruto tetap bersikukuh untuk pergi ke Amerika.
Tapi karena Naruto terus menerus mendesak dan memberi keyakinan kepada Minato bahwa perusahaannya akan baik-baik saja tanpa keberadaannya dan ia tak berminat untuk merayakan pertambahan usianya dengan sebuah pesta, maka Minato pun akhirnya memberikan izin kepada Naruto untuk pergi ke Amerika dan mengontrol keadaan cabang Namikaze Corp di sana.
Tentu saja ini merupakan salah satu cara Naruto untuk menghindari pertemuannya yang terbilang intens dengan Hinata di kantor Namikaze Entertainment. Naruto membutuhkan waktu untuk menenangkan hati dan pikirannya serta mempersiapkan hatinya agar bisa bersikap seperti biasa lagi kepada Hinata.
Oleh karena itu, Naruto memutuskan untuk menjauh sementara waktu dari gadis yang dicintainya itu. Tentu saja keputusannya ini sudah dipikrkan matang-matang oleh Naruto.
.
.
.
Malam ini para peserta work tour gabungan mengadakan pesta kecil-kecilan di taman belakang villa milik keluarga Uchiha tersebut untuk merayakan kesuksesan mereka yang telah berhasil menyelesaikan pekerjaan mereka selama dua hari ini dengan begitu sempurna.
Baik itu dari pihak Yamanaka Entertainment yang sukses dengan kegiatan pemotretannya maupun dari pihak Namikaze Entertainment yang sukses dengan pembuatan mv penyanyi solo mereka, Yukie Fujikaze. Semuanya turut merasakan suatu perasaan suka cita atas kerja keras yang telah mereka lakukan selama di kota Biei ini.
Namun kemeriahan pesta ini tentu saja tidak dirasakan oleh sang gadis Hyuuga yang saat ini tengah terbaring tak sadarkan diri di dalam kamarnya. Kin, sang sekretaris gadis Hyuuga tersebut dengan penuh kesetiaan dan kesabaran menunggu atasannya yang terlihat begitu rapuh dan tak berdaya saat ini di atas ranjangnya.
Itachi memang sengaja tidak memberitahukan keadaan Hinata yang sebenarnya kepada para karyawan Namikaze Entertainment karena Itachi tak ingin membuat mereka khawatir dengan melihat kondisi sang putri sulung Hyuuga tersebut yang saat ini terbaring lemah di atas ranjangnya.
Terlebih lagi kondisi buruk yang menimpa Hinata saat ini disebabkan karena permasalahan pribadi yang terjadi di antara Hinata dan juga Naruto, yang memang bukanlah suatu hal yang layak untuk diumbar-umbar kepada orang lain. Oleh karena itu, Itachi meminta Kin untuk menjaga dan merawat gadis cantik indigo tersebut.
Kepergian sang pemuda Namikaze yang terkesan mendadak tadi sore, begitu membuat perasaan Hinata semakin rapuh karena tak sempat mengungkapkan keinginannya yang sebenarnya terhadap Naruto. Sikap acuh yang ditunjukkan oleh sang pemuda blonde seharian ini sungguh benar-benar membuat batinnya terasa tersiksa.
Hinata sama sekali tak menginginkan Naruto untuk menyerah terhadap perasaannya. Hinata ingin kembali berdamai dengan Naruto dan memulai kembali hubungan kasih mereka sedari awal. Sungguh gadis indigo itu tak ingin semuanya berakhir dengan ketidakjelasan seperti ini.
Hinata ingin merengkuh kembali Naruto ke dalam pelukannya dan merasakan kehangatan yang selalu tercipta tatkala Naruto memperlakukan dirinya dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang. Bukan hanya sekedar pelukan yang mereka lakukan pada saat kegiatan pemotretan saja, tapi Hinata ingin pelukan abadi dari pemuda blonde itu.
Namun, kenapa semua keadaan ini menjadi semakin rumit saja?! Kenapa rasa penyesalan itu datang di saat seseorang yang kau cintai menyerah begitu saja untuk mendapatkan kembali cintamu sementara saat orang yang kau cintai itu berjuang untuk meraih hatimu lagi kau malah menyia-nyiakannya begitu saja?!
Sebenarnya siapa pihak yang benar dan pihak yang salah di sini?! Siapa pihak yang tersakiti dan pihak yang menyakiti di sini?! Kenapa Naruto tak mempertanggungjawabkan semua perbuatan yang telah dilakukannya terhadap Hinata?!
Kenapa lagi-lagi Hinata yang harus merasakan perih di hatinya? Kenapa pemuda Namikaze itu begitu berpengaruh besar terhadap kehidupannya? Kenapa selalu Naruto, Naruto dan Naruto saja yang selalu bersemayam di dalam hati kecil dan pikirannya? Lalu, kenapa pemuda Namikaze itu tega meninggalkan Hinata di saat Hinata ingin mengatakan kejujuran akan hatinya saat ini?
Entahlah, sepertinya semua ini hanya akan menjadi sebuah misteri yang akan selalu dibawa oleh Naruto dan tentunya akan selalu dirasakan oleh Hinata sampai kapan pun juga jika mereka tidak saling bersikap terbuka kembali satu sama lain untuk mengungkapkan perasaan mereka masing-masing.
.
.
.
"Bukankah tadi sudah kukatakan kepadamu jika kau harus mengenakan jaket dan juga syal, Cherry!" Ucap Sasuke sambil menyentil agak keras dahi lebar Sakura karena merasa kesal kepada Sakura yang tidak juga mengindahkan perkataannya. Terbukti kan saat ini sang gadis musim semi tersebut terlihat sedikit menggigil kedinginan karena hembusan angin malam yang terasa membekukan kulit.
Mereka berdua kini tengah duduk di salah satu bangku yang terdapat di taman belakang villa milik keluarga Uchiha tersebut, yang saat ini terlihat begitu meriah dan ramai dengan tawa canda yang berasal dari para anggota work tour gabungan ini.
Saat ini Sasuke tengah mengenakan sebuah sweater tebal berwarna putih yang memiliki kerah yang cukup tinggi sampai menutupi leher tegasnya, sehingga ia tak merasakan kedinginan seperti yang dirasakan oleh Sakura. Sementara Sakura kini tengah mengenakan dress selutut berwarna merah muda berlengan pendek dengan aksen pita kecil menghiasi bagian pinggangnya.
Sakura dengan sifat keras kepalanya tidak ingin mengenakan jaket maupun syal karena penampilannya akan terlihat tidak matching dengan gaun yang dikenakannya saat ini. Lagipula Sakura memang tidak berniat berada lama-lama di luar kamarnya yang terasa hangat dan nyaman itu. Setelah acara pesta kecil-kecilan ini selesai maka Sakura pun akan kembali secepatnya ke kamarnya.
"Kau pikir ini tidak sakit eh, Sasuke-kun!" Sakura sedikit meringis menahan rasa sakit di dahinya.
Cuuuppp~
Sasuke mengecup agak lama dahi lebar Sakura yang tadi sempat disentilnya seolah ia ingin menghilangkan rasa sakit yang saat ini tengah dirasakan oleh Sakura. Tindakan Sasuke ini tentu saja membuat sang gadis musim semi tersebut tertegun dan tak bergeming dari tempatnya duduk saat ini. Semburat merah tipis pun kini mulai menghiasi kedua pipi putih cantiknya.
"Tunggu aku! Aku akan mengambilkan jaket milikku dan sebuah syal untukmu, Cherry." Ucap Sasuke penuh perhatian kepada Sakura. Perlahan Sasuke beranjak berdiri dari bangku taman dan dengan tergesa-gesa melangkahkan kakinya untuk segera masuk ke dalam villa.
Sakura yang ditinggalkan sendirian oleh Sasuke hanya bisa terkikik geli menatap punggung tegap itu yang perlahan-lahan menghilang dari hadapannya. Sungguh Sakura masih belum bisa mempercayai jika sikap Sasuke yang dulu begitu dingin dan acuh terhadapnya kini berubah begitu drastis seratus delapan puluh derajat menjadi seorang pemuda yang begitu hangat dan penuh perhatian kepadanya.
Senang? Tentu saja, siapa gadis yang merasa tidak senang jika diperlakukan dengan penuh kasih sayang oleh pemuda yang dicintainya seperti ini? Apalagi pemuda yang kau cintai dan mencintaimu itu adalah seorang aktor tampan bernama Uchiha Sasuke, pasti akan membuat gempar para fans fanatik Uchiha Sasuke di seluruh Jepang tentunya, jika mereka tahu bahwa aktor kesayangan mereka telah memiliki kekasih.
.
.
.
Pukk
Seseorang menepuk dengan pelan pundak kanan Sakura, yang tentu saja mengalihkan pandangan sang emerald ke arah yang sama dengan arah tepukan itu berasal. Terpantul bayangan sesosok pemuda bersurai merah maroon dengan tato 'Ai' yang melekat di dahinya pada pupil emerald sang gadis musim semi.
Alih-alih merasakan keterkejutan karena mendapati sang mantan kekasih hatinya kini tengah berdiri di belakangnya, Sakura malah memberikan sebuah senyuman yang tampak begitu manis kepada pemuda Sabaku tersebut.
"Apa... kau merasa keberatan jika kita terlibat pembicaraan secara empat mata sebentar saat ini, Cherry?" Tanya Gaara meminta secara halus kepada Sakura.
"Hm." Gumam Sakura menganggukkan kepalanya singkat sambil tetap mempertahankan senyuman manisnya.
Setelah mendapatkan persetujuan dari sang gadis, kini Gaara pun melangkahkan kakinya untuk menghampiri Sakura dan duduk dengan leluasa di samping gadis cantik tersebut.
"Hal apa yang ingin kau bicarakan dengan diriku, Sabaku-san?" Tanya Sakura to the point kepada Gaara.
Gaara terkekeh pelan mendengar perkataan yang diucapkan oleh Sakura tersebut. Sementara Sakura sendiri dibuat bingung oleh sikap Gaara tersebut. 'Memangnya ada yang lucu dari perkataanku barusan, huh?!' Tanya Sakura menggerutu di dalam hati.
"Sabaku-san?" Gaara mengerutkan keningnya dalam. "Panggilan itu sungguh terdengar aneh ditelingaku, Sakura." Gaara tersenyum tipis sambil menatap lembut kedua emerald Sakura yang tampak begitu serupa dengan jade miliknya tersebut.
Sakura menyunggingkan sebuah senyuman tipis kepada Gaara. "Hm, sudah kuduga bahwa kau akan mengenali identitasku yang sebenarnya dengan mudah seperti ini, Gaara-kun." Ucap Sakura tenang tanpa adanya nada keterkejutan maupun ekspresi keterkejutan yang ditampilkan pada wajah manis Sakura kepada Gaara.
"Tidak! Pada awalnya aku juga sedikit merasa ragu jika Cherry sebenarnya adalah dirimu, Sakura. Pertama kali kita bertemu setelah selama sebulan berpisah, penampilanmu sungguh terlihat jauh berbeda dari sebelumnya sehingga membuat aku tak bisa mengenalimu dengan baik. Terlebih lagi kau memperkenalkan dirimu dengan nama Cherry, yang semakin membuat aku yakin bahwa kau bukanlah Sakura yang kukenal." Ucap Gaara menyanggah dengan sopan perkiraan yang diucapkan oleh Sakura.
"Kalau begitu bagaimana bisa kau mengenali diriku, Gaara-kun?" Tanya Sakura sambil mengerutkan keningnya penasaran.
Seulas senyum tipis terpatri di wajah putih pemuda Sabaku tersebut. "Tapi, sikapmu yang cenderung diam dan terkesan canggung waktu pertama kali kita bertemu lagi, membuat aku berubah pikiran dan menyimpulkan bahwa dirimu adalah Sakura. Tidak mungkin kau bersikap seperti itu kepadaku jika kau tidak mempunyai perasaan enggan untuk bertemu denganku, benarkan Sakura?" Tanya Gaara kepada Sakura.
Sakura terkekeh pelan menanggapi ucapan Gaara yang memang benar-benar tepat seratus persen. "Ya, kau benar Gaara-kun. Saat itu aku memang merasa enggan untuk bertemu denganmu. Kau pasti tahu alasannya mengapa aku bersikap seperti itu, bukan?" Sakura menatap ke arah Gaara yang saat ini tengah menundukkan wajah tampannya ke bawah.
"Maafkan aku Sakura. Aku tahu perlakuanku terhadapmu saat dulu itu benar-benar keterlaluan. Tidak seharusnya aku berkata-kata buruk seperti itu dan bersikap acuh kepadamu. Aku... benar-benar merasa menyesal telah melakukan semua itu kepadamu dan membuatmu menderita." Ucap Gaara lirih penuh penyesalan kepada Sakura, kini kedua iris hijaunya menatap sendu ke dalam emerald indah Sakura.
Sakura sendiri tersenyum maklum kepada Gaara dan tampak tak mempermasalahkan kembali mengenai perlakuan Gaara terhadapnya dulu. Tangannya terulur untuk meraih surai merah maroon milik pemuda tersebut dan mengacak-ngacaknya dengan penuh rasa gemas sambil tertawa kecil melihat ekspresi Gaara yang seolah tak suka dengan perlakuan Sakura terhadapnya.
Dengan cepat Sakura menghentikan tindakannya mengacak-ngacak surai pendek pemuda Sabaku tersebut karena melihat gelagat Gaara yang hendak melayangkan tangannya untuk menepis keberadaan tangan Sakura di atas kepalanya.
Sakura beranjak berdiri dari bangku taman sambil mengerling jahil ke arah Gaara. Sebuah senyuman manis diberikannya kepada pemuda tampan Sabaku tersebut.
"Kau memang benar-benar menyebalkan, Gaara-kun! Dulu aku memang sangat, sangat, sangat dan sangat membencimu sampai sebesar ini." Ucap Sakura sambil merentangkan kedua tangannya lebar menjauhi sumbu tubuhnya.
"Ah, bahkan mungkin lebih besar dari ini." Ucap Sakura ringan dan polos tanpa memperhatikan wajah tampan Gaara yang saat ini tampak begitu tertekan karena mendengar ucapan Sakura yang kelewat jujur tersebut.
"Tapi semenjak kehadiran Sasuke-kun dalam kehidupanku, aku sendiri sudah melupakan tentang rasa benci itu padamu, Gaara-kun. Aku sadar jika Kami-sama mempunyai rencana lain yang begitu indah dalam hidupku. Dulu aku memang begitu menderita dan selalu menyalahkan Kami-sama atas semua perasaan sakit yang selalu kurasakan." Ucap Sakura lirih sambil menatap hamparan bintang-bintang kecil yang tergantung dengan indah di atas langit malam.
"Namun, aku baru menyadari bahwa sebenarnya rasa sakit itulah yang membuatku berubah menjadi sosok gadis yang kuat dan dewasa seperti ini, Gaara-kun." Ucap Sakura ceria sambil menggerakkan kedua tangan mungilnya mulai dari atas kepala dan berakhir dengan menunjuk kedua kakinya seolah mengatakan bahwa kini penampilan Sakura sudah banyak berubah menjadi lebih mempesona dari sebelumnya.
Gaara menyunggingkan sebuah senyuman tipis karena melihat sikap Sakura yang terlihat bahagia seperti itu. Tatapan jade itu memancarkan sebuah cahaya kekaguman yang ditujukannya kepada sang gadis musim semi.
Ya, gadis merah muda yang dulu sempat mengisi relung hatinya itu kini sudah benar-benar berubah menjadi sosok gadis dengan kepribadian yang periang dan dewasa, penampilannya pun kini setara dengan penampilan Matsuri, sang kekasih hatinya. Ah, atau bahkan jauh lebih sempurna jika dibandingkan dengan Matsuri, Ne?
"Jangan menatapku seperti itu, Gaara-kun! Kau pasti merasa menyesal kan sudah meninggalkan diriku dulu!" Ucap Sakura penuh percaya diri kepada Gaara sambil melipat kedua tangannya di depan dada, namun tentu saja itu hanyalah sebuah candaan yang dilontarkan oleh Sakura kepada Gaara.
"Hahaha... Ya, aku menyesal. Jika tahu kau akan berubah menjadi angsa cantik seperti ini, aku tidak akan pernah melepaskanmu, Sakura." Ucap Gaara menanggapi perkataan Sakura dengan nada yang terdengar menggoda.
"Berhati-hatilah dalam berbicara manis terhadap gadis lain tuan Sabaku, gadismu bisa cemburu jika mendengarmu mengatakan hal seperti itu kepadaku." Sakura menyeringai tipis sambil menggerakkan pelan dagunya ke arah belakang Gaara, seolah memberi kode bahwa ada seseorang yang tengah berjalan ke arah mereka saat ini.
Spontan saja Gaara memutar kepalanya ke arah belakang dan mendapati sang kekasih hatinya tengah berjalan menghampirinya di sini bersama Sakura.
Sebelum Matsuri benar-benar sampai di tempat Gaara dan Sakura, segera saja Sakura pamit diri kepada Gaara untuk memberikan ruang privasi bagi kedua pasangan kekasih tersebut. Sakura melangkahkan kakinya perlahan ke dalam villa untuk menghampiri Sasuke yang sampai saat ini tak juga datang dari kamarnya untuk mengambil jaket dan sebuah syal baginya.
.
.
.
"Aaarrrgghhh... Brengsek! Kenapa penyakit sialan ini harus kambuh di saat seperti ini sih, bodoh!" Sasuke menggeram kesakitan sambil terus menerus menekan kepalanya yang terasa berdenyut dan berputar hebat akibat penyakit vertigo-nya kambuh kembali.
Kini Sasuke tengah meringkuk di atas ranjangnya yang terlihat berantakan karena sedari tadi Sasuke terus menerus mengguling-gulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri sambil menggesek-gesekkan kuat kakinya pada seprai ranjang miliknya seolah menyalurkan rasa sakit tak tertahankan pada kepalanya.
Selimut tebal miliknya pun sudah jatuh terlempar ke atas lantai kamarnya karena Sasuke yang menendang-nendang dengan liar selimut miliknya itu. Niat hati ingin mengambil jaket dan sebuah syal untuk diberikan kepada Sakura, tapi keadaan fisiknya sama sekali tak mendukung keinginan hatinya tersebut sehingga berakhirlah pemuda tampan itu terbaring tak berdaya di atas ranjang miliknya tersebut.
Tok tok tok
"Sasuke-kun, apa kau ada di dalam?" Tanya Sakura memastikan keberadaan Sasuke di kamarnya.
"Aarrrggghhh... Sialan!" Alih-alih mendapatkan jawaban dari sang pemuda Uchiha, Sakura malah mendapati sebuah teriakan kesakitan yang berasal dari suara bariton yang begitu amat sangat dikenalinya.
Segera saja Sakura membuka pintu kamar Sasuke dengan tergesa-gesa karena merasa panik sekaligus khawatir dengan keadaan Sasuke saat ini. Kedua emerald-nya membulat karena merasa terkejut dengan keadaan Sasuke yang tampak begitu kacau saat ini. Sakura langsung berlari untuk menghampiri Sasuke di atas ranjangnya.
"Kami-sama! Kau kenapa Sasuke-kun?" Tanya Sakura panik sambil meraih kepala Sasuke dari atas bantal dan membaringkannya di atas pangkuan pahanya serta membelainya penuh kelembutan surai raven yang terasa basah karena keringat itu.
"Sakit... Ke-kepalaku sa-... Aaaarrgghh!" Sasuke menjambak surai dark blue-nya dengan begitu kuat menggunakan kedua tangannya. Sakura sendiri meringis mendengar teriakan pilu yang tercipta dari mulut sang Uchiha bungsu tersebut, seolah ikut merasakan rasa sakit yang kini tengah mendera kepala Sasuke.
"Obat! Kau harus segera minum obat Sasuke-kun!" Ucap Sakura semakin bertambah panik. Tangannya hendak meraih kepala Sasuke untuk kembali ia baringkan di atas bantal dan berniat untuk mencari bantuan serta meminta obat kepada Itachi, namun Sasuke menolak untuk ditinggalkan oleh Sakura.
Sebelah tangan Sasuke menggenggam dengan kuat tangan mungil Sakura, yang tentu saja membuat Sakura sedikit berjengit sakit akibat cengkraman tangan Sasuke yang tak selembut biasanya itu.
"Aku tidak butuh obat Cherry! Aku benci minum obat! Aaarrgghh!" Tolak Sasuke sambil kembali menggeram kesakitan. Deru napasnya terdengar begitu berat dan tidak teratur di telinga Sakura.
"Tapi kalau kau tidak minum obat, kau ti-... hhmmppp..." Sasuke menarik tengkuk Sakura agar wajah cantik gadis itu mendekat ke wajah tampannya dan tanpa aba-aba sang pemuda Uchiha tersebut langsung melumat dengan kasar bibir ranum sang gadis musim semi, seolah berusaha mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit di kepalanya pada kenikmatan dan kelembutan bibir tipis Sakura yang selalu berhasil membuatnya terbius.
.
.
.
-Start For Lemon-
.
.
.
.
.
Merasa tak nyaman dengan posisi yang mereka lakukan, Sasuke pun mulai mengangkat kepalanya dan mendorong Sakura dengan bibirnya yang masih berpagutan mesra dengan Sakura, agar tubuh mungil itu berbaring dengan nyaman pada ranjang miliknya.
Kini Sasuke pun sudah berada tepat di atas tubuh sang gadis musim semi sambil memeluknya dengan begitu erat sampai-sampai Sakura hampir tak bisa bernapas dibuatnya. Sikap Sasuke saat ini benar-benar terlihat lepas kendali, ciuman yang diberikannya pada bibir Sakura pun semakin panas dan ganas saja.
Sakura sama sekali tak bisa berkutik dengan serangan tiba-tiba yang dilakukan oleh Sasuke ini. Ingin menolak tapi tubuhnya benar-benar tak bisa berkompromi dengan pikirannya. Setiap lumatan yang diberikan bibir Sasuke pada bibirnya kali ini terasa sangat berbeda dari sebelumnya.
Ciuman Sasuke kali ini begitu terasa menggairahkan dan membangkitkan nafsu tersembunyi dalam diri Sakura. Sakura semakin terbuai dibuatnya dan semakin ingin merasakan sentuhan lebih dari pemuda Uchiha bungsu tersebut.
Tubuh mungilnya ikut bergerak liar dibawah pelukan tubuh Sasuke untuk mengikuti permainan lidah Sasuke di dalam mulutnya yang semakin terasa membakar hasrat terpendam dalam dirinya. Sakura mengalungkan kedua tangannya pada leher Sasuke untuk semakin memperdalam pagutan bibir mereka.
Sasuke menyunggingkan sebuah seringaian kecil tatkala merasakan pergerakan empuk kedua buah dada Sakura yang bergesekkan kuat dengan dada bidangnya. Tentu saja hal ini membuat libido sang Uchiha bungsu tersebut menjadi semakin meningkat. Namun, Sasuke tak ingin terburu-buru untuk melakukan penyatuan dengan Sakura karena dirinya ingin menikmati setiap detik aktivitas berharga mereka kali ini.
Meskipun kepalanya masih terasa seperti ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum, tapi sepertinya Sasuke tak mempedulikan hal tersebut karena dirinya sudah tenggelam dalam kenikmatan aktivitas kemesraan yang terjadi di antara dirinya dan Sakura.
Bunyi kecupan mesra yang tercipta dari pagutan liar bibir Sasuke dan bibir Sakura begitu mendominasi dan bergema di seluruh kamar sang Uchiha bungsu tersebut. Saat Sasuke kembali merasakan kepalanya semakin berdenyut, ia pasti akan meluapkannya dengan cara menggigit bibir ranum Sakura dan melumatnya dengan penuh nafsu seperti binatang buas yang menerkam mangsanya tanpa ampun. Sang gadis musim semi itu sendiri hanya bisa mendesah pelan di sela-sela pagutan panas bibir mereka.
Kini jajahan bibir tegas Sasuke tak hanya bibir manis milik sang gadis saja. Leher jenjang sang gadis yang tampak menggoda hasratnya sedari tadi pun kini menjadi sasaran empuk selanjutnya bagi sang pemuda raven yang memang tengah lapar saat ini.
Dikecupnya perlahan dengan intens leher putih nan mulus tersebut, kecupan itu pun berubah menjadi lumatan-lumatan nakal yang diselingi oleh aksi lidah Sasuke yang menjilat dengan penuh kelembutan kulit putih nan menggoda itu.
Jilatannya pun kini mulai beralih ke cuping telinga Sakura yang tentu saja menghantarkan suatu sensasi rasa geli yang akan semakin menggugah rasa nafsu yang tengah menggebu-gebu di dalam diri Sakura.
"Ngghh~... Sa-Sasuke-kun~..." Desah Sakura dengan suara yang terdengar begitu seksi di telinga Sasuke, membuat sang pemuda Uchiha itu semakin liar dalam menjelajahi leher jenjang Sakura. Dikecup, dilumat dan digigitnya dengan penuh kenikmatan untuk memberikan beberapa kissmark pada leher indah Sakura tersebut, seolah menegaskan bahwa Sakura telah mutlak menjadi milik Uchiha Sasuke seorang.
"Aaahhh~..." Tubuh Sakura semakin bergerak tak karuan karena tindakan Sasuke tersebut. Tangan mungilnya pun kini mulai menjelajahi dan membelai dengan mesra punggung tegap Sasuke yang berada di balik sweater putih milik sang Uchiha bungsu tersebut.
Belaian lembut yang dirasakan oleh Sasuke pada punggungnya semakin menambah keinginannya untuk bersentuhan secara langsung dengan tubuh gadisnya tanpa sehelai benang pun yang melekat pada tubuh mereka. Miliknya di bawah sana kini sudah mulai terasa sedikit sesak pada celana jeans-nya seolah memberontak ingin cepat keluar dari sarangnya.
Akhirnya Sasuke dengan tergesa-gesa melepaskan sweater yang dikenakannya saat ini dan memperlihatkan tubuh atletisnya yang begitu terlihat sempurna. Sakura sampai terkagum-kagum dibuatnya, rona-rona kemerahan kini mulai menghiasi wajah cantiknya.
Sasuke kembali memerangkap bibir mungil gadisnya dalam ciuman panas untuk kesekian kalinya dan tentu saja pemuda Uchiha itu tak pernah merasa bosan untuk selalu mengecap rasa manis dari bibir gadisnya itu.
Tangan kekar pemuda Uchiha yang melingkar pada pinggang ramping sang gadis, kini mulai menyusuri lekuk tubuh indah sang gadis musim semi yang terbaring di bawahnya ini. Sasuke menyeringai tipis tatkala dirinya mendapati sebuah gumpalan daging yang menonjol pada dada Sakura yang terasa begitu empuk dan pas dalam genggaman tangannya.
Meskipun kedua buah dada Sakura masih tertutupi dengan gaun yang melekat pada tubuhnya, tapi kenikmatannya masih dapat Sasuke rasakan dengan begitu luar biasa. Tanpa ragu Sasuke pun meremas dengan penuh kelembutan buah dada Sakura yang sebelah kiri, sementara bibirnya sendiri masih aktif untuk memuaskan bibir ranum Sakura.
Sakura semakin tak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri tatkala Sasuke menyentuh titik-titik sensitif pada tubuhnya dengan begitu lembut. Darahnya terasa berdesir saat Sasuke memainkan jari-jarinya dengan lincah di atas puncak buah dadanya yang masih tersembunyi dalam balutan gaun putih Sakura, sehingga semakin membuat dirinya terangsang dan akhirnya mengalami orgasme-nya yang pertama dalam permainan panas malam ini bersama Sasuke.
"Ngghhh~..." Desah Sakura di sela-sela cumbuannya dengan Sasuke sambil menjambak agak keras rambut raven pemuda tersebut. Gadis musim semi itu tengah merasakan kenikmatan akibat pelepasan ketegangan seksualnya karena perbuatan Sasuke.
Sasuke melepaskan ciuman panasnya terhadap Sakura dan dalam waktu sekejap Sasuke sudah membalikkan posisi tubuh mereka. Tangan kekar pemuda Uchiha itu bergerak dengan nakal di atas punggung Sakura berusaha mencari keberadaan resleting gaun yang kini tengah dikenakan oleh Sakura.
Setelah mendapati apa yang dicarinya, segera saja Sasuke menarik turun resleting gaun milik Sakura dan membuka gaun Sakura seutuhnya, tentu saja sang gadis musim semi pun turut andil dalam membantu Sasuke untuk melepaskan gaun yang dipakainya saat ini.
Terekposlah sudah tubuh indah sang gadis musim semi yang selama ini begitu diidam-idamkan oleh sang pemuda Uchiha tersebut. Kini hanya ada selembar kain bra hitam dan juga selembar kain celana dalam hitam yang masih terpampang menutupi bagian tubuh sang gadis yang merupakan surga dunia terindah bagi para lelaki. Ah atau lebih tepatnya surga terindah bagi sang Uchiha bungsu saja.
Sungguh tubuh Sakura yang kini tersaji di hadapan Sasuke terlihat begitu seksi sampai-sampai berhasil membangkitkan hormon kejantanan milik sang Uchiha bungsu.
Onyx-nya tak henti-hentinya menatap penuh nafsu keindahan yang telah Kami-sama berikan kepada tubuh gadisnya tersebut yang kini tengah duduk di atas perut six pack miliknya.
"Ja-jangan menatapku seperti itu terus, Sasuke-kun!" Kedua pipi Sakura bersemu merah karena pandangan Sasuke yang tampak begitu liar menatap tubuh setengah telanjang Sakura saat ini. Sasuke hanya bisa menampilkan seringaian tipis yang tampak begitu menawan pada wajah tampannya itu.
Perlahan tangan sang pemuda Uchiha itu terulur untuk membuka kaitan bra milik Sakura yang tepat berada di antara belahan dada Sakura. "Kau benar-benar indah, Cherry." Puji Sasuke tatkala onyx-nya dapat melihat langsung kedua buah dada Sakura yang tampak menantang dirinya saat ini.
Segera saja Sasuke meremas dengan gemas kedua buah dada Sakura tersebut yang tentu saja menyebabkan tubuh Sakura menggelinjang penuh gairah merasakan sensasi yang begitu terasa menyenangkan pada tubuhnya.
"Aaahh~... Ngghh~... Sa-Sasukehh~... -kun... Aaahh~..." Sakura terus menerus mengeluarkan suara desahannya yang terdengar begitu indah bagi Sasuke, tatkala Sasuke semakin menambah kecepatan gerakan jari-jarinya untuk meremas keras kedua bukit kembar sang gadis musim semi tersebut.
Tak puas hanya dengan meremas kedua buah dada Sakura, kini Sasuke mulai memainkan jari-jarinya pada puting berwarna kemerahan yang sedari tadi begitu ingin dihisapnya dengan kuat menggunakan mulutnya.
Dipelintirnya dengan intens kedua puncak buah dada Sakura tersebut yang semakin membuat Sakura menggelinjangkan tubuhnya tak karuan. Sebisa mungkin Sakura tak mengeluarkan suara desahannya dengan menggigit kuat bibir bawahnya.
Sasuke yang merasa gemas karena Sakura tak juga mengeluarkan suara desahannya, akhirnya menarik tubuh Sakura untuk membungkuk ke arahnya. Segera saja Sasuke menjilat dan menghisap dengan kuat puncak kemerah-merahan buah dada Sakura sebelah kanan dengan mulutnya yang menyebabkan sang gadis musim semi itu mengerang penuh kenikmatan. Sementara tangan kanannya kini dengan lincah meremas-remas buah dada Sakura yang sebelah kiri.
"Ngghh~... Sa-... Akh~..." Pekik Sakura tatkala Sasuke tiba-tiba saja menggigit puncak buah dadanya dengan begitu kuat dan kembali menghisapnya dengan penuh nafsu. Lidahnya sendiri terus menerus berdansa lincah memutari puncak buah dada sang gadis musim semi.
Merasa puncak buah dada Sakura yang sebelah kanan kini sudah mengeras, Sasuke pun mengalihkan lidahnya untuk bermain-main dengan puncak buah dada Sakura yang sebelah kiri. Sementara tangannya yang lain kembali meremas-remas buah dada Sakura yang sebelah kanan dengan begitu agresif.
Sakura yang merasakan hasratnya belum juga tercapai kini mulai menekan kepala raven Sasuke agar sang pemuda Uchiha itu semakin melumat dengan dalam buah dadanya. Tentu saja Sasuke akan melakukannya dengan senang hati. Aktivitas mulutnya semakin menjadi-jadi untuk melahap kenikmatan yang disajikan oleh buah dada Sakura tersebut.
Sasuke meraih kedua buah dada Sakura dan mendekatkan kedua puncak kemerah-merahan itu satu sama lain. Dengan seringaian penuh kini Sasuke melahap dengan ganas kedua puncak buah dada sang gadis musim semi tersebut sekaligus.
Lidahnya bergerak dengan begitu cepat pada kedua puncak buah dada Sakura tersebut. Mengecup, menjilat, mengulum, menghisap dan menggigit kedua pucak buah dada Sakura secara bersamaan sungguh terasa jauh lebih besar kenikmatannya jika dibandingkan saat Sasuke hanya menghisap salah satu diantara kedua puncak buah dada Sakura.
Sakura semakin membusungkan dadanya ke depan sambil mengeluarkan sebuah suara desahan yang begitu kuat karena perlakuan Sasuke terhadap kedua buah dadanya. Gadis musim semi itu kembali mengeluarkan cairan orgasme keduanya, tepat di atas perut kekar sang Uchiha bungsu.
"Kau sangat basah, Cherry." Ucap Sasuke sambil menyeringai tipis setelah sebelumnya melepaskan mulutnya dari kedua buah dada Sakura. Sementara Sakura kini tampak kelelahan karena sudah mengalami orgasme sebanyak dua kali.
Sasuke membawa tubuh Sakura untuk kembali berbaring di bawah tubuhnya. Tangan kanannya dengan gesit segera melepaskan sebuah kain tipis yang masih meliputi barang berharga milik sang gadis musim semi yang terasa begitu basah saat ini.
Sasuke kembali membungkam bibir manis Sakura, sementara tangannya kini mulai beraksi di sekitaran selangkangan Sakura. Perlahan-lahan tangannya membelai dengan lembut bibir kewanitaan Sakura, untuk memberikan rangsangan awal kepada tubuh sang gadis bubble gum sebelum miliknya benar-benar masuk ke dalam lubang sempit nan hangat itu.
Kemudian salah satu jarinya mulai menyusup ke dalam lubang kewanitaan Sakura dengan begitu agresif membuat sang empunya berteriak kesakitan. Namun, Sasuke dengan cepat kembali membungkam mulut gadisnya itu dengan bibirnya.
Setelah Sasuke merasakan Sakura bersikap lebih tenang, kali ini Sasuke mulai menggerak-gerakan pelan satu jarinya itu di dalam lubang kewanitaan Sakura. Semakin lama, gerakan jari Sasuke semakin cepat saja bergerak dalam lubang sempit tersebut. Sakura hanya kembali mendesah sambil menggeliat-geliatkan kecil tubuhnya yang berada di bawah tubuh Sasuke.
Gesekan yang terjadi antara gumpalan kedua bukit kembar Sakura dengan dada bidang Sasuke semakin membuat Sasuke bertindak liar dengan memasukkan dua jari sekaligus pada lubang kewanitaan Sakura dan menggerakkannya dengan lincah di dalam sana.
"Akh~... Sasukehh~... kunhh~... Akh, lebihh cepathhh~..." Desah Sakura meminta kepada Sasuke agar semakin mempercepat gerakan jarinya di dalam miliknya. Tentu saja sekali lagi Sasuke akan dengan senang hati akan melakukan hal tersebut. Tanpa ragu, Sasuke semakin menambah tempo gerakan ketiga jarinya di dalam milik Sakura yang terasa begitu sempit itu.
Tubuh Sakura pun kembali menggelinjang tatkala dirinya merasakan bahwa ia akan mencapai klimaksnya yang ketiga. Cairan berwarna putih itu pun keluar membasahi ketiga jari Sasuke yang masih tertanam di dalam miliknya.
"Hn. Cairan cintamu ini banyak sekali ya, Cherry." Sasuke menjilat dengan lahap semua cairan putih pada tangannya yang berasal dari milik Sakura tersebut tanpa sedikit pun merasa jijik. Sakura hanya bisa memalingkan wajahnya ke arah lain karena merasa malu kepada Sasuke.
Sasuke sendiri kini telah beranjak dari atas tubuh Sakura dan memposisikan dirinya-ah, atau lebih tepatnya wajahnya di depan lubang kewanitaan Sakura yang terlihat berkedut-kedut kemerahan itu. Dijilatnya milik Sakura tersebut dengan lidahnya untuk membersihkan sisa-sisa cairan cinta milik Sakura yang tercipta dari permainan mereka sebelumnya.
"Ngghhh~..." Sakura kembali mendesah pelan atas perlakuan Sasuke tersebut. Sasuke terus saja mempermainkan lidahnya pada bibir kewanitaan Sakura. Baru saja beberapa detik berlalu, kini Sakura sudah mencapai klimaksnya yang keempat. Semua cairan putih itu pun ditelan bulat-bulat tanpa bersisa sedikit pun oleh Sasuke.
"Manis, cairan cintamu ini terasa begitu manis, Cherry." Ucap Sasuke sambil membelai penuh kelembutan wajah cantik Sakura yang dipenuhi oleh peluh keringat itu. Sakura sendiri hanya bisa tersenyum malu-malu kepada Sasuke.
Sasuke kemudian melepaskan celana jeans dan juga celana dalamnya yang masih menutupi kejantanannya yang saat ini tampak begitu menegang. Dilebarkannya kedua kaki jenjang Sakura agar Sasuke mendapatkan akses yang lebih leluasa untuk menerobos masuk ke dalam lubang sempit milik Sakura tersebut. Kini kejantanannya sudah bersiap-siap di depan bibir kewanitaan Sakura.
"Aku akan memulainya, Che-..." Ucapan Sasuke terpotong oleh perkataan Sakura.
"Sakura! Mulai saat ini panggil aku dengan nama Haruno Sakura, Sasuke-kun!" Ungkap Sakura mengenai nama aslinya kepada Sasuke. Sasuke yang mendengar ucapan Sakura hanya bisa menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti.
Sakura menangkup wajah tampan Sasuke dengan kedua tangannya. Sebuah senyuman manis pun dilayangkan Sakura kepada Sasuke. "Aku ingin saat kita melakukan penyatuan nanti, kau memanggil nama asliku, Sasuke-kun." Terang Sakura memberikan penjelasan kepada Sasuke.
"Jadi... namamu yang sebenarnya adalah Haruno Sakura?" Tanya Sasuke merasa sedikit ragu kepada Sakura. Sakura hanya menganggukkan kepalanya pelan, seolah memberikan ketegasan akan pernyataannya tadi.
"Kau berhutang satu penjelasan kepadaku, Haruno Sakura! Ssshhh~..." Ucap Sasuke sambil melesakkan sebagian kejantanannya ke dalam lubang kewanitaan Sakura yang terasa begitu nikmat, tanpa memberikan sedikit pun peringatan kepada Sakura bahwa dirinya akan masuk ke dalam miliknya.
"Akh~... Sa-sakit Sasuke-kun..." Butir air mata kini mengalir dari kedua emerald indahnya menandakan bahwa sang gadis musim semi itu tengah merasakan rasa perih pada selangkangannya.
"Bertahanlah sedikit lagi Sakura. Rasa sakitnya akan menghilang saat milikmu sudah terbiasa dengan keberadaan milikku." Ucap Sasuke dengan suaranya yang terengah-engah, berusaha untuk menenangkan Sakura. Kejantanannya benar-benar terasa begitu diremas-remas dengan begitu kuat oleh otot-otot dinding kewanitaan Sakura.
Sakura mulai bisa menggerakkan pinggulnya secara perlahan-lahan yang menandakan bahwa dirinya sudah terbiasa dengan keberadaan milik Sasuke di dalam miliknya.
"Lanjutkanlah, Sasuke-kun!" Sakura memberi aba-aba kepada Sasuke untuk memulai penyatuan mereka. Sasuke pun mulai memaju mundurkan miliknya dengan tempo yang sedikit teratur di dalam lubang sempit nan hangat milik gadisnya tersebut.
"Aaahhh~... haaahhh~... Lebih cepat lagiihhh Sasukehh~... -kunh~..." Pinta Sakura sambil mendesah terengah-engah.
Sasuke menambah tempo gerakan kejantanannya menjadi semakin cepat di dalam lubang kewanitaan Sakura, yang menyebabkan dirinya merasakan kenikmatan yang begitu besar dan tak bisa ia ungkapkan hanya dengan kata-kata saja.
Kedua bukit kembar Sakura pun turut bergerak liar mengikuti alunan pacuan yang dilakukan oleh sang pemuda Uchiha tersebut. Tak ingin menyia-nyiakan kedua bukit kenyal itu, kedua tangan Sasuke kembali meremas-remas dengan kuat kedua buah dada Sakura itu dan semakin menambah tempo gerakannya di bawah sana.
Merasa ada sebuah selaput tipis yang menghalangi ujung kejantanannya, dengan sekali hentakkan Sasuke berhasil merobek selaput yang menjadi tanda sebuah keperawanan seorang gadis tersebut. Cairan kental berwarna merah itu pun mengalir melalui selangkangan Sakura.
"Akkhhhh~..." Kali ini Sakura berteriak lebih kencang dari sebelumnya, rasa perih yang dirasakannya jauh lebih dahsyat dari rasa perih saat pertama kali Sasuke memasukkan kejantanannya ke dalam miliknya. Tangan-tangan mungilnya mencengkram dengan kuat seprai ranjang di bawahnya.
Sasuke kembali mencium bibir Sakura dengan ganas berusaha mengalihkan rasa sakit yang tengah dirasakan oleh sang gadis musim semi itu. Selang beberapa menit, kini Sakura sudah mulai bisa menggerak-gerakkan kembali pinggulnya untuk menyesuaikan dirinya dengan kejantanan Sasuke. Sakura tersenyum tipis seolah memberikan tanda kepada Sasuke bahwa dirinya sudah tidak merasakan rasa sakit lagi di bawah sana.
Sasuke menyunggingkan sebuah senyuman lembut kepada Sakura. Dibelainya dengan penuh rasa sayang wajah kelelahan Sakura di hadapannya. "Aku benar-benar mencintaimu, Haruno Sakura." Ucap Sasuke sambil mulai menggerakkan kembali miliknya dengan perlahan di dalam milik Sakura.
"Aku juga mencintaimu Sasuke-kun." Ucap Sakura membalas ungkapan cinta Sasuke, sambil tersenyum manis kepada Sasuke.
Sasuke pun kembali menyambar penuh nafsu bibir mungil Sakura sambil menggenjot lubang kewanitaan Sakura dengan kecepatan yang semakin bertambah saja. Kedua tangannya pun tak tinggal diam untuk kembali meremas-remas kedua bukit kembar milik Sakura dan memelintir dengan kuat puncak kemerah-merahan yang memang sudah mengeras itu.
Tubuh Sakura tak henti-hentinya menggeliat dengan tak karuan di bawah genjotan Sasuke yang terasa begitu nikmat. Suara desahan yang keluar dari mulut sang gadis bubble gum semakin menggema dengan begitu merdu di seluruh penjuru kamar sang pemuda raven.
Gerakan kejantanan Sasuke yang semakin bertambah liar di dalam milik Sakura, membuat gadis itu semakin tak bisa menahan keinginannya untuk mengalami klimaksnya yang kelima.
"Aaaaahhhh~..." Desah Sakura penuh rasa nikmat tatkala dirinya berhasil mengeluarkan cairan orgasmenya yang terasa begitu hangat pada batang kejantanan Sasuke.
Sasuke sendiri belum mengalami orgasme sama sekali sedari tadi. Pemuda Uchiha itu kembali menggenjot penuh kegairahan lubang sempit milik sang gadis musim semi. Deru napasnya terdengar begitu berat dan seksi di telinga Sakura.
Sasuke kembali memacu miliknya untuk bergerak lebih, lebih dan lebih cepat lagi di dalam lubang sempit milik Sakura tersebut. Butiran-butiran keringat kini mulai membahasi seluruh tubuhnya, kedua matanya membuka dan menutup seolah benar-benar menikmati rasa gairah yang begitu luar biasa dalam proses penyatuan dirinya dan Sakura.
"Ssshhh~... hah... hah..." Sasuke mendesah tatkala dirinya merasakan bahwa kejantanannya sudah mulai menegang dan siap untuk menyemburkan benih-benih cintanya di dalam rahim gadis yang dicintainya.
Ditambahnya tempo gerakan kejantanannya di dalam lubang kewanitaan Sakura sampai pada akhirnya Sasuke mengalami klimaksnya untuk pertama kalinya bersamaan dengan klimaks Sakura yang keenam. Sasuke kembali melahap kedua bukit kembar Sakura dengan rakus untuk menambah sensasi kenikmatannya sekaligus untuk membungkam suara desahannya.
Di sisi lain Sakura sendiri merasakan suatu perasaan hangat yang mengisi rahimnya tatkala cairan cintanya dan juga cairan cinta Sasuke pada akhirnya bertemu dan berbaur menjadi satu. Sakura menekan tengkuk kepala Sasuke agar pemuda itu tidak beranjak untuk terus memanjakan kedua buah dadanya. Sementara sang adik kecil Sasuke kembali bergerak-gerak pelan di dalam milik Sakura.
Aktivitas mereka pun terus menerus berlanjut sampai dini hari tanpa sedikit pun mengenal rasa lelah. Pada akhirnya setelah menyelesaikan permainan panas mereka sampai mencapai lima ronde, masing-masing dari mereka pun tumbang dan mengistirahatkan tubuh mereka dari rasa lelah.
.
.
.
.
.
.
-End of Lemon-
Hari terakhir work tour gabungan ini hanya diisi oleh kegiatan bebas. Para kru dan para model kini bebas melakukan aktivitas apa saja yang mereka inginkan dengan sesuka hati mereka di kota Biei ini. Kepulangan mereka ke kota Tokyo sendiri telah dijadwalkan pada siang hari setelah acara makan siang bersama untuk yang terakhir kalinya.
Pasangan Ino dan Sai kini tengah berada di dalam pameran seni untuk melihat-lihat karya-karya lukisan di sana. Matsuri dan Gaara sendiri kini tengah mengelilingi kota Biei dengan menggunakan sepeda sambil berboncengan mesra.
Sementara pasangan Shion dan Sasori kini tengah bermain-main di Panorama Road untuk melihat keindahan bunga-bunga berbagai jenis yang tampak begitu cantik.
Pasangan Sakura dan Sasuke tentu saja masih bergelung dengan nyaman di atas ranjang mereka. Hari terakhir di kota Biei ini lebih mereka habiskan untuk mengistirahatkan tubuh kelelahan mereka saja di dalam kamar.
Berbeda dengan pasangan lainnya yang saat ini tengah berbahagia. Hinata kini hanya bisa menyendiri di dalam kamarnya. Semalam saat dirinya sudah sadar dari pingsannya, Hinata meminta Kin untuk meninggalkannya saja sendirian di kamar. Sampai saat ini gadis indigo itu pun hanya bisa merenung dalam kesedihan.
Begitu tiba di Tokyo, secepatnya Hinata akan datang ke kediaman Namikaze untuk bertemu dengan Naruto dan membicarakan mengenai masalah yang membelit di antara mereka berdua. Hinata ingin meminta maaf kepada Naruto karena selama ini ia begitu sulit untuk kembali mempercayai pemuda blonde tersebut. Semoga saja hubungan mereka dapat kembali membaik dan berbahagia seperti dulu. Ya, semoga Kami-sama masih berbaik hati untuk kembali merestui hubungan mereka berdua.
.
.
.
"A-Amerika Kaa-san?" Tanya Hinata dengan suara yang terdengar bergetar. Wajah cantiknya kini menunjukkan ekspresi keterkejutan akan apa yang telah diucapkan oleh Kushina kepadanya. Kini Hinata dan Kushina tengah berada di depan pintu masuk kediaman Namikaze.
Pada awalnya Hinata ingin bertanya mengenai keberadaan Naruto kepada Kushina, namun begitu Kushina mengatakan bahwa Naruto tidak ada di rumah, Hinata menolak untuk masuk ke dalam rumah dan lebih memilih untuk berbicara di luar.
Kushina menganggukkan kepalanya dengan begitu enggan seolah tak ingin meng-iya-kan pertanyaan Hinata. Wajah cantik ibu Naruto tersebut juga tampak begitu sendu dan tak bersemangat.
"Iya Hinata-chan. Maaf, Kaa-san sendiri baru tahu hari ini dari Minato Tou-san. Sepertinya Minato Tou-san memang sengaja tidak memberitahu Kaa-san kemarin agar Kaa-san tidak berusaha mencegah kepergian Naruto ke Amerika." Terang Kushina mengutarakan perkiraannya kepada Hinata.
"Tidak! Kaa-san tidak perlu meminta maaf kepadaku. Kaa-san kan memang tidak bersalah apa-apa terhadapku." Hinata menggeleng-gelengkan pelan kepalanya sambil menampilkan sebuah senyuman maklum kepada Kushina namun masih tetap tersirat suatu rasa kepedihan di sana.
"Ah, kalau begitu Hinata pamit pulang dulu Kaa-san. Hinata takut Tou-san akan merasa khawatir di rumah." Ucap Hinata sambil tersenyum manis kepada Kushina, tapi Kushina tahu bahwa senyuman itu hanyalah sebuah senyum kepalsuan.
Direngkuhnya tubuh Hinata ke dalam pelukan hangat seorang ibu yang tentu saja membuat pertahanan Hinata untuk tidak menangis menjadi runtuh seketika. Dibelainya dengan penuh kasih sayang surai panjang dark blue sang gadis Hyuuga tersebut tatkala Hinata mulai mengeluarkan suara isak tangisnya dengan begitu keras.
"Bersabarlah Hinata-chan. Kau harus kuat! Kau harus bertahan sayang!" Bisik Kushina lirih di telinga Hinata. Hinata semakin terisak dalam saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh Kushina. Kata-kata penyemangat yang seharusnya dapat membuatnya tenang justru malah semakin mengiris hatinya kian dalam dan menimbulkan perih yang tak terbayangkan.
Entah apa yang saat ini harus Hinata lakukan agar dirinya bisa menjalani hari-harinya tanpa pemuda yang dicintainya di sisinya.
-TBC-
Saya hanya bisa mengatakan maaf yang sebesar-besarnya karena keterlambatan update fic ini, lagi-lagi saya kehabisan stok ide untuk membuat chapter ini hehe... Maaf untuk segala kerumitan, ketidakjelasan dan hal-hal yang tidak masuk akal di dalam cerita fic ini... dan juga untuk word yang terlalu panjang pada chapter ini ^_^ Sehingga membuat bosan bagi para reader yang membacanya... hehe... ^_^
Untuk chapter depan sendiri kemungkinan akan sedikit lama juga untuk update... maaf ya... ^_^
Terima kasih kepada para readers, reviewers, followers, favoriters, dan silent readers yang sudah berkenan untuk membaca fic ini dari chapter awal sampai saat ini. Terima kasih atas semua dukungan dan semangat yang telah kalian berikan kepada saya...^_^
Salam Hangat,
Hikaru Sora 14.
Balasan Review
hanazono yuri: Di chapter ini SasuSaku udha bersatu lagi kok Senpai ^_^ Makasih udha R&R yah.
dylanNHL: Di chapter ini Hinata udha mulai menyesal kok, tapi untuk balikan lagi sama Narutonya... hehe di chapter depan ada jawabannya ^_^ Makasih yah udha R&R.
yuan: Um, pastinya harus happy ending ^_^ Jadi chapter ini juga tetap baca yah... hehe...Arigatou.
sakakibaraarisa: Iya gak apa-apa kok Senpai, saya juga gak suka pairing SasuHina ^_^ ... Hehe... Lemonnya maaf klo gak asem, tapi saya sudah berusaha untuk membuatnya dengan sekuat tenaga saya #lebay mode on#... ^_^ Makasih yah udha R&R Senpai.
CherrySand1: Maaf kalau chapter ini malah gak sebagus chapter kemarin Tapi semoga Cherry-san masih bersemangat untuk membaca chapter ini ^_^ Arigatou.
Sasa Cherry: Hihi iya boleh-boleh ^_^ Memang sedikit banyak kepribadian saya mirip Hinata... Siipp Sasa-chan jadi Sakura yah~... Um, di chapter ini moment romantis mereka kerasa gak yah Sasa-chan? Hehe... maaf untuk adegan lemonnya klo jelek... haduhhh~... aslinya susah banget buatnya
NaruHina yah~... Tunggu di chapter depan yah :D
Oh, harusnya pakai kata 'gembul' yah? Oke, siap nanti klo ada lagi saya akan pakai kata itu... Iya kemungkinan dua chapter lagi fic ini tamat Sasa-chan... sedih juga karena harus mengakhiri karya pertama saya di FFN dan fic ini juga yang mempertemukan saya dengan Sasa-chan dan juga teman-teman yang lainnya ^_^ Saya senang karena kalian semua bisa menerima fic pertama saya dengan baik, semangat kalian semua yang membuat saya menjadi lebih baik dalam membuat suatu cerita... Makasih banyakkkkk muaaachhh #big hug# ^_^
Akemi Yoshi: Oke siap Senpai ^_^ Setelah mereka berbaikan pasti ada cerita tentang kelanjutan kehidupan mereka kok hehe... Makasih yah Senpai udha R&R.
irawan fajar: Gomen gak bisa update kilat... semoga suka dengan chapter ini yah ^_^ Arigatou.
chiha: Makasih buat semangatnya ^_^ Orang ketiga untuk SasuSaku gak ada kok... Tapi untuk NaruHina... Tunggu di chapter depan yah hehe...
Shiika Richiki: Makasih Shiika-chan ^_^ ... Maaf gak bisa update kilat soalnya saya kehabisan ide untuk menulis chapter ini hehehe... Eh, Shiika-chan udha dapat ide buat fic BTC? #Kepo mode on# ^_^
fidas: Wah seriusan? Hehehe saya juga merasa seperti itu ^_^ Soalnya waktu itu saya agak kurang mood untuk menulis adegan romantis mereka Jadilah seperti itu hasilnya... Makasih yah udha R&R.
Eagle onyx: Iya Senpai, saya juga gak nyangka udha chapter 9 lagi... ^_^ Semua berkat dukungan dari kalian yang selalu menyemangati saya untuk melanjutkan fic ini hehe... Makasih yah Senpai.
Guest: Um, oke oke ^_^ Siappp, khusus untuk guest nanti saya buatkan... Gak tahu saya juga kenapa mereka harus putus hehe... tiba-tiba aja kepikiran scene NaruHina seperti itu... Tapi tenang nanti ada kejutan di chapter depan hehe... Makasih udha R&R ya.
imahkakoeni: Di chapter ini SasuSaku udha balikan kok, tapi NaruHina-nya masih menunggu hehe ^_^ Makasih buat dukungannya Imah-chan.
Oh Haneul: Hehe... NaruHina menyusul Senpai ^_^ Maaf gak bisa update cepat... Makasih udha R&R.
Eysha CherryBlossom: Serius Senpai?! Wah, senangnya di puji sama Senpai hehe ^_^ #loncat-loncat kegirangan# Terlalu berlebihan, eh? Makasih Senpai #big hug# ^_^
Tapi sayangnya di chapter ini justru saya malah gak bisa mendeskripsikan apa-apa... hiks hiks Gomenne Senpai
Sasra Uchiha: Sama saya juga sayang Sasra-chan #big hug# ^_^ Maaf gak bisa update kilat dan untuk adegan lemon kayaknya di chapter ini kurang asam malah hehe... Selamat menikmati aja yah Sasra-chan ^_^ Arigatou.
Zaoldyeck13: Mereka happy ending kok, tapi masih berliku jalannya hehe... tunggu yah saat mereka bersatu lagi ^_^ Makasih udha R&R.
Anka-Chan: Hehe... Saya udha gak kuat untuk buat Sakura benci ke Sasuke terus... jadilah begitu Anka-Chan ^_^ Apa seharusnya proses meminta maafnya lebih rumit lagi? Hihi... Makasih yah udha R&R.
Bunshin Anugrah ET: Siap ini lanjuttt ^_^ Kesempatan kan gak boleh disia-siakan Senpai hehe... Um, serius Senpai? Lebih nyesek mana sama chapter ini? Hehe... Maaf ya membuat mereka menderita terlebih dahulu, tapi gak tahu kenapa saya ingin sekali membuat mereka seperti itu... Ditunggu kejutan mereka yah... ^_^
Gilang363: Makasih banyakk Paman Gilang ^_^ Ciieee Paman sweet banget... Kereeennn! Kayaknya Paman orang yang sangat romantis yah... hehehe... ^_^
sutra fosil: Iya gak apa-apa kok Senpai ^_^ Siapp... Makasih buat dukungan dan masukkannya selama ini yah Senpai ^_^ #big hug#
love sasusku: Oke siapppp... Meskipun saya udha berusaha untuk tidak mempedulikan perkataan-perkataan kasar dari para flamer, tapi ujung-ujungnya saya malah jadi suka pundung di pojokan hehehe... Tapi udha githu lupa lagi kok dan terus lanjut dengan karya abal ini ^_^ Makasih yah udha R&R Senpai.
Cherryma: Maaf gak bisa update cepat Senpai... semoga suka dengan chapter ini yah ^_^ Arigatou.
haruchan: Hehe... Akhirnya mereka berdamai juga, Ne? Makasih udha R&R yah Senpai ^_^
bella-chan: Eh, ini bella yang di fb bukan yah? Iya saya masih author newbie ^_^ Makasih banyakkk yahhh ^_^ Fic ini masih banyak kekurangannya... semoga saya bisa membuat fic-fic lainnya yang lebih dari ini di kemudian hari... hehe...
qiu: Makasih banyakkkk qiu-san^_^ Maaf gak bisa update kilat... lemonnya juga aneh banget deh... hehe... Semoga suka yah dengan chapter ini... Arigatou.
Dita Love SasuSaku: Maaf ini baru lanjut Senpai soalnya saya benar-benar kehabisan ide untuk membuat chapter ini dan berakhirlah seperti ini. Maaf ya kalau jelek hehe ^_^ Makasih udha R&R ya.
