Disclaimer: Hunter x Hunter © Togashi Yoshihiro-sensei

Warning!

AU banget! OOC kayaknya. Gaje banget! Humor? Gak terlalu bisa, tapi diusahakan! XD

Her Crazy Story

Chapter 11 — Kurapika's New Style

-oOo-

Hari ini, Kurapika dan Shalnark pergi ke pasar swalayan untuk membeli baju baru Kurapika. Didalam mobil, Shalnark bertanya-tanya pada Kurapika tentang perasaannya. Toh, selama 11 tahun terakhir ini, mereka tidak ketemu, 'kan? Apa salahnya?

"Shalnark, aku sudah bilang. Aku tidak menyukai siapa-siapa. Dan kau tahu? Belakangan ini, sepertinya 'danchou' mu itu agak aneh."

"Benarkah? Aneh seperti apa maksudmu?"

"Hm.. Aku tak bisa mendeskripsikannya dengan jelas keanehannya itu. Namun, ia aneh kalau sudah menyangkut.." Kurapika menggantungkan kalimatnya. Masih menimbang, ingin melanjutkan atau tidak perkataannya.

"Siapa? Menyangkut siapa, Kurapika?"

"Tidak jadi. Aku lebih suka membahasnya dengan buku harianku. Oh, apa kau tahu? Kemarin, sepulang aku dari rumah Killua, Shizuku menelfonku, katanya.."

Shizuku menelfon Kurapika? Apa ia memberitahu Kurapika kalau aku diberhentikan dari Ryodan? Apa Shizuku memberitahu, kalau Shizuku merindukanku? Apa dia menyuruh Kurapika untuk bilang bahwa, Shizuku dan aku tidak bisa bersama lagi? Shalnark membatin dengan sangat dalam. Sangat dalam sehingga, ia tak memperhatikan jalan.

"Shalnark! Shalnark!" Kurapika mengguncang-guncangkan bahu kakaknya. "Shalnark! Lihat jalan! Kau akan menabrak!"

Shalnark sadar ketika mendengar kalimat terakhir adiknya. "A-apa? Ah!" Lalu ia seperti membanting stir ke arah kiri. Dan bisa menyeimbangkan mobilnya lagi. "Danke, Kurapika."

Kurapika tidak menjawab. Itu membuat Shalnark penasaran. Biasanya, ia langsung mengomeli Shalnark kalau ia seperti ini. Penasaran kenapa dengan adiknya, Shalnark mengengok kearahnya dan mendapati adiknya pingsan. (Gambaran pingsan Kurapika: mulut terbuka sedikit, kepala agak tertunduk, mata terbuka melihat kedepan dan dimulutnya keluar putih-putih yang melayang yang wajahnya mirip dengannya.)

"Astaga, itu sih bukan pingsan, author!" Bentak Shalnark dari dalam mobilnya. Lalu ia melanjutkan menyetir kembali. Setelah sampai di pasar swalayan, ia menuju ke parkiran mobil dan memarkirkan mobilnya disana. "Kurapika, bangun. Kita sudah sampai."

Sontak Kurapika terperanjat dan memandang kakaknya. "Sudah sampai? Apa yang terjadi padaku?"

Shalnark tersenyum nista yang jahat. "Kau tidur. Dan kau mengeces. Banyak sekali, sampai banjir."

"Apa?! Ngeces?" Kurapika mengecek kerah bajunya. "Tidak basah. Berarti," Kurapika menoleh ke Shalnark dan mendapati ia menahan tawanya. "Kau bohong!"

"Ma-maaf. Aku tak tahan untuk berbohong padamu. Hahaha.." Ia juga tak tahan untuk tertawa. Sangat lucu, mungkin. Sehingga ia menangis. "Sudah," katanya sambil mengelap air mata 'bahagia' nya. "Kita sudah sampai. Ayo, turun."

"Hn," jawab Kurapika dingin sambil menoleh kearah jendela.

-oOo-

"Apa yang ini bagus?" Tanya Shalnark pada adiknya yang sedang sibuk memilah milah baju.

"Apa? Itu seperti nenek-nenek, Shalnark! Tidak! Yang lain!" Lalu Kurapika kembali kepekerjaan awalnya.

"Yasudah." Shalnark meletakkan baju itu ditempatnya lagi. Ia mulai mencari-cari dan 'menemukan' apa yang dicarinya. "Kalau ini?"

Kurapika tidak menanggapinya. "Jangan yang aneh lagi, Shalnark!" Ia berkata tanpa menolehkan wajahnya kearah kakaknya.

Merasa dikacangin, *tinggaldikasihselai:p* ia menyodorkan baju itu tepat didepan muka adiknya. "Lihat dulu, baru komentar!"

Ketika Kurapika melihat baju yang dipilihkan kakaknya, ia tersenyum dan menoleh kearahnya. "Bagus. Dimana kau menemukan ini?"

"Ditempat rahasia yang kau bahkan tidak melihatnya."

"Ah! Cepat beritahu! Dimana?"

"Oke, jika kau memaksa, disini." Shalnark mengalah dan menunjukkan dimana ia menemukan baju itu. Kurapika berjalan mengikuti arah telunjuk kakaknya.

"Oh," hanya itu jawaban darinya. "Aku pilih ini saja!"

"Kenapa?"

"Karena, baju yang kau pilihkan itu, bagus, Shalnark."

"Danke." Shalnark menjawabnya dengan wajah yang agak tersipu.

"Tak usah tersipu gitu! Kau jelek!" Kurapika mengulurkan lidahnya sedikit dan berlari kearah kasir. Setelah ia membayarkan bajunya, mereka keluar dari butik itu. "Shalnark, Shizuku kan kemarin menelfonku, dan ia bilang gini,"

"Tunggu. Kita makan yuk. Kau belum makan dari pagi. Makan disana saja!" Lalu Shalnark menarik Kurapika dan makan direstoran. Setelah mereka memasuki restoran, Shalnark melihat siluet yang ia kenali. Namun ia mengabaikannya dan berpura-puran tidak melihat. Lalu mereka duduk berhadapan dibangku kecil didekat jendela.

"Permisi, mau pesan apa?" Seorang maid datang dan memberikan dua buku menu kepada mereka.

"Aku mau.. Steak saja." Jawab Kurapika. "Dan untuk minumnya, aku mau.. Soda putih."

"Kalau saya lobster bakar dengan minumnya, jus anggur." Seru Shalnark.

"Baik, satu Steak dan satu Lobster bakar dengan minumnya jus anggur dan soda putih. Ditunggu, tuan, nyonya." Sang maid lalu meninggalkan mereka.

"Jadi, apa kata Shizuku?"

"Jadi, kata Shizuku, "Aku ingin mengajaknya makan malam untuk yang terakhir kalinya." Ya.. Itu katanya."

"Makan malam untuk yang terakhir kalinya?"

Kurapika menggangguk dan merasakan sakunya bergetar. "Tunggu, ada telfon. Aku akan keluar sebentar." Lalu Shalnark menggangguk dan Kurapika keluar. "Ya, Kurapika Clair—"

[Hai, ny. Claire. Tunggu saja aku dan kau akan bermain denganku.]

Lalu si penelfon memutuskan sambungannya. Kurapika tak mengerti apa maksudnya, dan langsung kembali kedalam.

"Apa katanya?"

Kurapika duduk kembali dihadapan Shalnark dan menjawabnya. "Aku tak mengerti maksudnya."

"Apa katanya?" Shalnark mengulanginya dengan nada datar.

"Katanya, "hai, ny. Claire. Tunggu aku dan kau akan bermain denganku." Memang, kau tahu maksudnya?" Shalnark menggeleng. Dan Kurapika menghela nafas. "Sudah kuduga."

"Permisi, tn.. Nyonya, pesanan kalian," maid yang berbeda datang dan meletakkan pesanan mereka berdua ditempatnya. "Selamat dinikmati. Saya permisi," lalu sang maid mundur dan menjauh.

-oOo-

"Claire!"

Kedua anak 'Claire' itu menoleh ke sumber suara. Lalu salah satu dari mereka membalas salamnya dengan senang hati. "Valent! Lama tak jumpa! Apa kabarmu?"

"Aku baik-baik saja, seperti biasa. Kalau kau?"

"Tak ada perubahan yang berarti. Oh, kenalkan, ini sahabat kecilku, Kurapika. Kurapika, ini temanku, Valent."

Kurapika dan Valent bergandengan (baca: bersalaman) satu sama lain. "Kurapika,"

"Valent. Oh, Shalnark, bagaimana dengan, 'danchou' mu? Kudengar, kau diberhentikan dari Ryodan, ya?"

Shalnark terperanjat mendengarnya. Ia tak percaya, bahwa rahasianya akan terbongkar didepan adiknya bahwa ia bukan lagi anggota Ryodan.

"Oh, maaf mengganggu. Kalian teruskan saja perbincangan kalian. Aku akan mampir kerumah Killua dulu. Da, Shalnark, Valent."

"Oke! Kau harus sampai rumah pukul 9, ya, Kurapika?"

Kurapika tersenyum tanda setuju dan pergi meninggalkan kakaknya dan Valent menuju rumah Killua.

-oOo-

Malam sudah datang. Ia berjalan pulang dengan langkah yang agak dirumah, Shalnark langsung menghempaskan dirinya ke kasurnya. Ia mengambil smart phone miliknya dan memencet nomor yang ada di daftar panggilannya. Ternyata Kurapika menelfon. Setelah sambungan tersambung, ia dapat mendengar suara adiknya dari seberang sana.

[Shalnark, kau dari mana saja? Aku mencari-carimu, kau tahu? Kau pergi pagi hari dan kau belum kembali! Kau ada dimana sekarang?]

"Aku sudah ada dikamar, Kurapika. Kau sendiri?"

[Aku ada di rumah Killua. Sedang mampir. Kebetulan ketika membeli bahan makanan. Apa kau baru saja kembali, Shalnark?]

Benar, tadi siang kan dia bilang dia akan kerumah Zoldyck itu.. "Iya. Aku baru saja kembali. Kau cepat pulang, Kurapika. Aku ingin berbicara sesuatu denganmu."

[Baik, tunggu setengah jam lagi. Kalau aku belum kembali, bisa kah kau menyusulku di rumah Killua?]

"Iya."

[Danke, Shalnark. Dah~]

"Ebenso, Kurapika." Telfon-pun ditutup Shalnark. Ia berusaha memejamkan matanya, tapi tak berhasil. Akhirnya ia mencoba mengecek bahan makanan yang tersimpan dikulkas. Dan benar saja, ketika ia memeriksa kulkas, ia tak menemukan apapun. Alhasil, yang ia lakukan adalah menonton televisi sambil menunggu adiknya pulang.

Sudah dua episode dia tonton. Berarti sudah satu jam berlalu. Kurapika belum kunjung kembali. Ia mulai mengkhawatirkan keadaan adiknya. Akhirnya, ia pergi kerumah Killua dan menjemput adiknya.

-oOo-

"Tapi Kurapika sudah pulang setengah jam yang lalu, Shalnark."

"Tapi ia belum kembali, Gon."

"Apa kau tak punya nomor telefonnya? Sebagai kakak kau itu tidak niat, ya?"

"Apa yang kau maksud, Zoldyck? Tentu aku niat menjadi seorang kakak. Ide bagus juga menghubunginya. Akan kucoba menghubunginya. Tunggu." Ia memencet nomor Kurapika. Ia mencoba beberapa kali tapi tak mendapat jawaban. Ketika nomor itu menjawab panggilan Shalnark, ia sangat senang. "Kurapi—"

[Shalnark?] Tanya Kurapika lirih. Air wajah Shalnark langsung berubah. Killua dan Gon yang menyadari itu langsung pergi menghadap Shalnark dan melihat ekspresinya. [Shalnark, tolong.. Tolong aku!]

Kini Shalnark membelalakkan matanya. Biar teman-temannya mendengarnya, ia mengubahnya menjadi 'loud speaker' pada hand phone-nya. [Shalnark,] kata Kurapika. Masih dengan suara yang lirih. [Tolong aku, tolong!]

"Kau kenapa, Kurapika?"

[Tolong! Tolo] ia seperti merasakan telefon berpindah pemilik. Dan benar saja, suaranya berubah menjadi suara seorang laki-laki. [Tn. Claire, Shalnark Claire. Benar?]

"Kau.. Kau siapa? Kau apakan Kurapika!? Dengar, bila kau menyentuhnya sedikitpun, kau akan tahu akibatnya!"

[Tenang saja, Tn. Claire. Aku tak akan menyentuh adikmu tersayang ini.] Tiba tiba terdengar suara teriakan Kurapika. Tapi itupun masih dengan suara yang lirih. [Pria brengsek! Kalau saja Shalnark tahu, kau pasti akan mati! Pria gila! Bodoh! Mati saja kau!]

Killua, Shalnark dan Gon langsung terbelalak kaget. Mereka tak pernah mendengar Kurapika berbicara seperti itu sebelumnya. [Lepaskan tangan hina-mu dari daguku, bodoh! Lepaskan!] Dengan sengaja, si penculik memang tidak mematikan telefonnya. [Ada apa, gadis manis? Kau ingin bermain main denganku?]

Shalnark geram mendengar suara bodohnya. Setelah lama ia diam, akhirnya ia angkat bicara. "Hei, kau!" Lalu telfon dijawab si penculik "apa syaratnya agar adikku kembali?"

[Syaratnya mudah. Kau hanya perlu membawa teman temannya beserta kau, tentunya. Datang ke reruntuhan di pinggir kota pukul 8 malam. Besok malam. Mengerti?]

"Mengerti."

[Kita deal?]

"Ya." Lalu telfon diputus Shalnark. "Kalian dengar? Pukul 7 malam akan aku jemput kalian." Killua, Gon dan Leorio menggangguk. Lalu Shalnark bergegas pulang.

-oOo-

Keesokan harinya, Shalnark pergi kerumah Killua. Killua, Gon dan Leorio sudah menunggu. "Apa kalian sudah siap?" Tanya Shalnark

"Sudah. Kita bisa berangkat sekarang?"

"Tidak. Satu masalah yang kita akan hadapi, adalah. Leorio. Apa kau bisa berlari dengan cepat. Tidak, maksudku, berlari sangat sangat cepat."

Leorio terdiam. "Aku tidak yakin itu."

"Kau akan aku gendong. Siap-siap saja. Sekarang?"

"OSU!"

-oOo-

"Shalnark, apa itu arti willkommen?" Tanya Gon.

"willkommen itu artinya, selamat datang. Dalam bahasa Jerman."

"Jadi kau orang Jerman, Shalnark?" Tanya Killua.

Shalnark tersenyum dan menggaruk pipinya pelan. "Bisa kalian bilang begitu. Sudah, ayo masuk."

Didalam, Shalnark dan yang lain melihat Kurapika dalam keadaan memprihatinkan. Keadaan Kurapika sekarang adalah, bajunya di sobek sampai se dada, celana panjangnya disobek sampai se paha dan tanggannya di ikat keatas. Intinya, ia sekarang seperti memakai hot pants dan baju seksi juga seperti keadaan Killua waktu itu. Ketika ia disiksa Milluki. Killua geram melihat keadaan Kurapika sekarang.

Senentara itu, dibalik kegelapan, bersembunyi penculiknya. Yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. "Valent!" Seru Shalnark dan membuat ketiga orang disampingnya menoleh kearahnya.

"Shalnark.. Bagaimana keadaanmu?"

"Tak usah basa basi, kau! Untuk apa kau menculik adikku? Lagipula, bagaimana kau tau itu adikku?"

"Kau bodoh? Aku melihat kesamaan diantara kalian. Berambut pirang, berjalan kearah rumah yang sama. Dan ketika aku memperhatikan lebih dekat, wajah kalian itu 90% hampir sama."

"Be-benarkah?" Shalnark terperanjat. "Sudah! Aku tak peduli! Sekarang, kembalikan adikku dan kau akan ku layani apa maumu."

"Benarkah? Aku hanya ingin bermain dengan adikmu sebentar saja. Kau tahu alasan aku merobek pakaiannya? Karena aku ingin bermain dengannya."

Killua yang sedari tadi diam, kini angkat bicara. "Hei, kau pria brengsek! Sekali kau menyentuh temanku, kau akan kehilangan kepalamu dalam sekejap!"

"Kau itu bukannya anggota keluarga Zoldyck? Ku kira, kau sudah pensiun menjadi pembunuh. Karena kudengar begitu, dari gadis manis ini." Killua membelalakkan matanya. Tak mungkin Kurapika membocorkan rahasia temannya dengan begitu mudahnya.

"Kau apakan adikku, Valent?"

"Tidak aku apa-apakan. Aku hanya memberinya minuman. Di campur ramuan berkata jujur, pastinya."

"Sialan kau! Enyahlah kau dari dunia ini, Valent!"

"Maaf, Shalnark. Tidak semudah itu, sahabatku." Lalu orang bernama Valent itu mendekati Kurapika. Dari kejauhan, Gon, Killua dan Shalnark dapat melihat apa yang Valent lakukan. "Biarkan aku bermain dengannya, sebentar saja. Aku ingin memuaskan hasratku, kau tahu itu, 'kan, Shalnark?"

Shalnark terdiam. Ia kaget ketika Valent menjilat pipi kanan Kurapika. Ia, Shalnark langsung menghilang dari hadapan Gon, Killua dan Leorio. Kini, Shalnark berada tepat dihadapan Valent. Disusul Gon dan Killua.

"Gon, lepaskan ikatan tangan Kurapika, dan bawa dia ke Leorio. Suruh dia periksa, apa ada yang aneh dari tubuh Kurapika atau tidak." Gon menggangguk dan pergi ke Leorio. "Killua,"

Killua mengangkat kepalanya menghadap Shalnark. "Tolong bantu aku memusnahkan orang ini dari dunia. Kau bersedia membantuku?"

"Tentu. Aku akan membuatnya membayar apa yang telah dia lakukan pada sahabatku."

Sementara Killua dan Shalnark melawan Valent, Gon dan Leorio memeriksa keadaan tubuh Kurapika. Gon yang pertama menyadari. "Leorio, di paha kirinya, ada luka memar. Bisa kau cek?" Leorio menggangguk dan berpindah posisi.

"Astaga, ini bukan memar yang biasa. Gon, coba tolong kau lihat Killua dan kakaknya yang sedang bertarung. Apa mereka sudah selesai? Bila sudah, suruh mereka kemari."

"Baik." Lalu Gon memeriksa keadaan Shalnark dan Killua. "Shalnark, Killua." Yang dipanggil menoleh. "Syukurlah kalian sudah selesai bertarung. Kalian dipanggil Leorio diluar."

-oOo-

Kurapika perlahan membuka matanya. Sangat sakit dan kepalanya sangat pusing. Ketika ia sepenuhnya sadar, ia sudah tidak didalam reruntuhan lagi. Lalu ia menyapu ruangan tempatnya berada. "Di kamarku, rupanya."

"Kurapika? Untunglah kau sudah sadar. Teman-teman! Kurapika sudah sadar!"

Kurapika langsung bangun dengan sempurna. Ia syok melihat ketiga temannya dan kakaknya ketika mereka memasuki kamar. Ia langsung duduk ditepi kasurnya dan melemparkan bantal kearah mereka berempat. Satu bantal mengenai pas wajah Gon, satu guling menenai pas wajah Leorio dan satu guling lagi menenai wajah Killua. Hanya Shalnark yang tidak kena.

Shalnark maju sedikit demi sedikit. Sementara Kurapika berteriak dengan histeris. Ia menenggelamkan wajahnya dikedua lututnya yang ia tekuk. Ketika Shalnark menyentuh bahu Kurapika, ia langsung mengangkat wajahnya dan menampar wajah kakaknya. Melihat itu, ketiga sahabatnya hanya bisa cengo.

"Kau.. Keparat! Kau mau apa dariku?!"

"Kurapika, tenang.. Ini aku. Shalnark."

"Shal..nark?"

Shalnark menggangguk. "Iya. Apa kau tidak ingat aku?" Kurapika menggeleng. Shalnark menghela nafas berat. Lalu ia memeluk adiknya. "Kurapika, aku janji. Aku tak akan membiarkanmu kenapa-napa lagi."

"Kau.. Janji?"

Shalnark mengangguk. "Trims, Shalnark." Lalu Kurapika membalas pelukan kakaknya.

-oOo-

"Selamat pagi, Kurapika!" Kurapika yang sedari tadi masih mempertaruhkan matanya. Antara tidur dan bangun-_- kini sepenuhnya bangun ketika mendengar namanya dipanggil oleh empat orang.

"Gon, Killua, Leorio? Kalian kenapa disini? Kenapa kalian tidak pulang?"

"Bodoh," Shalnark melipat kedua tangannya didepan dada. "Mereka sangat mengkhawatirkanmu. Sehingga, semalam ketika aku suruh mereka pulang, mereka menolak." Lalu Shalnark menurunkan kedua tangannya. Mendekati Kurapika dan menyentuh keningnya. "Kau sudah baikkan, Kurapika."

"Memang, aku kenapa?"

"Kau semalam, setelah memeluk Shalnark.. Kau pingsan." Jawab Leorio. Sepertinya mereka akan bergantian menjawab pertanyaan Kurapika.

"Ha? Pingsan? Kok bisa?"

"Karena, mungkin kau masih syok atas kejadian yang menimpamu kemarin malam." Kini Killua yang menjawab.

"Kejadian? Kejadian apa?"

"Yang kau diculik, Kurapika.." Sekarang, Gon yang jawab. Kan bener, ini bergiliran._.v

"Diculik? Diculik siapa? Seingatku, aku hanya berjalan pulang dari rumah kau, Killua. Dijalan sangat sepi. Lalu aku mempercepat langkahku dan sampai dirumah. Dan mendapati Shalnark.. Terkapar dilantai."

Keempat orang disampingnya sekarang terbelalak tak percaya. "Ter..kapar?" Gon mengulangi dialog Kurapika.

"Di..lantai?" Kini Shalnark yang meneruskannya. "Kurapika!" Ia menyentuh bahu adiknya. "Apa Valent memberimu sebuah ramuan? Maksudku, selain ramuan jujur itu?"

"Apa maksudmu, Shalnark? Itu memang kejadian yang aku alami. Dan aku saja, sebenarnya kaget melihatmu ada disini."

"Kau.. Pasti bohong, 'kan?" Tanya Shalnark tak percaya. Raut mukanya berubah menjadi setengah gila. Ketika teman Kurapika, (taukansiapa?malesnulisnya._.) Beserta Kurapika menolehkan wajah mereka kearah Shalnark. "Kau.. Pasti bukan Kurapika yang aku kenal!" Kini Shalnark jatuh terduduk.

"Shalnark," panggil Gon dengan nada yang khawatir. "Shalnark, ka—"

"BOHONG! Kurapika," Shalnark bangun lagi dan menepuk pundak Kurapika lagi. "Aku tahu kau bukan Kurapika! Kau itu Valent!"

Gon, Killua dan Leorio terperanjat mendengarnya. Ti..tidak mungkin! Aku sudah.. Sudah membunuhnya! Aku sudah mencabut jantungnya.. Batin Killua.

Apa? Valent-san masih hidup? Batin Gon.

He?! He!? Be-benarkah?! Batin Leorio.

Berbeda dengan reaksi ketiga temannya, Kurapika malah menutupi matanya dengan poninya dan tertawa. Bisa dibilang, tertawa jahat sih.. "Hmm.. Hmm.. Hahaha! Kau memang hebat dalam segi berfikir, seperti biasanya, Shalnark Claire." Lalu Kurapika jatuh tertidur.

Lalu, dari dada Kurapika, keluar cahaya hitam yang.. Sedang sih-,-.. Yang sedang. Ketika cahaya itu semakin menghilang, muncullah Valent dari balik cahaya itu. "Kau memang benar, ini aku. Shalnark," dan, Valent memasang senyuman iblis kearah Shalnark, Gon, Leorio dan Killua.

-oOo- *anggapsajadireplaysebentar*

"Kalau Valent-san ada ditubuh Kurapika, sekarang, roh Kurapika ada dimana?" Tanya Gon dengan polos dan memasang wajah 'berfikir' nya.

Killua dan Shalnark-pun juga berfikir. Namun, mereka tidak menemukan jawabannya. "Berputar difikiran kalian untuk menemukan jawabannya, huh? Mudah saja. Leorio!"

"I-iya?" Yang dipanggil kaget sambil bertanya.

"Ketika kau memeriksa tubuh gadis ini, apa kau melihat memar biru dipahanya?"

"Ti-tidak. Bukan aku. Tap—"

"Itu aku! Kenapa?" Tanya Gon dengan semangat.

"Apa yang terjadi pada memar biru dipahanya setelah itu?"

"A-aku tak tahu pasti sih. Tapi, memar itu hilang begitu saja. Memang kenapa, Valent-san?"

"Memar itu, adalah tempat aku mengambil roh Kurapika. Kini, roh itu masih berkeliaran disekitar reruntuhan untuk mencari tubuhnya."

"Bukannya jika tubuhnya kosong, tanpa roh.. Roh itu akan kembali ketubuh aslinya?" tanya Killua dengan bingungnya(?)

"Itu juga bisa. Tapi.."

"Tapi apa, Shalnark?"

"Tapi.. Kalau tubuh dan rohnya berjauhan.. Itu bisa menyebabkan roh itu kebingungan dan akhirnya tidak kembali ketubuh aslinya."

Gon, Killua dan Leorio terbelalak. "Be-benarkah? Ka-kalau begitu, tunggu apa lagi!? Ayo segera kesana dan bawa tubuh Kurapika!" Usul Killua.

"Ide bagus, Zoldyck! Ayo!"

Lalu mereka berempat bergegas kereruntuhan dengan menggendong Kurapika. Sebelum mereka keluar rumah Shalnark, Valent berkata, "sebaiknya kalian cepat. Karena kurang dari 20 menit lagi, roh itu takkan kembali ketubuh aslinya."

-oOo-

Direruntuhan tempat Kurapika diculik, telah berdiri empat orang lelaki dengan satu tubuh gadis yang tergulai lemah.

"Kita masuk?" Tanya salah satu orang untuk meyakinkan yang lain. Yang lain menanggapinya hanya dengan menggangguk.

Disuatu ruangan direruntuhan, terdapat sebuah arwah yang berwarna putih. Wajahnya sangat mirip dengan orang yang digendong. Lalu sang arwah, berputar-putar sambil menyebut nama seseorang. Ia juga hampir menangis karena kesepian.

"Dimana kau? Hiks.. Dimana?" Lalu ia berputar lagi. Sambil menanyakan pertanyaan yang sama. "Dimana kau? Dimana.. Hiks.. Dimana kau disaat aku membutuhkanmu? Dimana kau saat aku.. Hiks.. Saat aku merindukanmu? Aku takut! Aku takut, Shalnark.."

"Tak perlu takut, Kurapika."

Sang arwah menoleh kearah bawah dan mendapati ketiga temannya dan kakaknya yang menggendong tubuhnya. Sang arwah terbang kebawah menghampiri mereka dan tersenyum.

"Cepat, kau harus kembali ke tubuh aslimu. Karena, kurang dari 5 menit lagi, kau takkan bisa kembali lagi untuk selamanya, Kurapika." Tegur Shalnark. Mendengar itu, Kurapika menggangguk dan bersiap masuk kedalam tubuhnya.

Setelah ia masuk, tubuh yang tadi terkulai lemah, kini mulai membuka matanya. Tangan dan matanya mulai bergetar menandakan ia hidup dan berhasil. Lalu ia membuka matanya. Ketika ia bangun, ia disambut oleh pelukan hangat kakaknya.

"Kau.. Kembali, Kurapika!" Shalnark mempererat pelukannya. "Aku tak percaya kau.. Kau kembali!" Ia makin mempererat pelukannya sampai sang adik kehilangan nafas.

"Tak.. Bisa.. Bernafas.."

"Oh, maaf." Lalu Shalnark melepaskannya.

-oOo-

"Aku berangkat!"

Gadis berambut pirang itu menggangguk. "Hati-hati, Shalnark!"

Lalu orang didepannya melambaikan tangan dan berjalan. Gadis itu segera berbalik dan mendapati ia sedang memandang mata obsidian seseorang. "Lama tak jumpa, Kuruta."

Gadis itu terbelalak. "Ku-roro? Apa yang kau lakukan? Kukira, kau sudah musnah dari dunia ini." Katanya dengan nada yang mengejek.

"Benarkah? Musnah? Siapa yang berani memusnahkanku? Oh, apa kau sudah dengar kabar saudaramu?"

"Siapa? Shalnark? Dia bai—"

"Pariston Hill."

"Ada apa dengannya? Dan.. Kenapa kau tiba-tiba menyebutkan namanya?"

"Tidak. Tidak ada apa-apa, Kuruta. Aku hanya ingin tahu. Apa kau anggap semua orang berambut pirang adalah keluargamu?"

"Bukan begitu! Tapi memang itu kenyataan yang author buat!"

"Author?"

"Sudah, lupakan! Kita jadi OOC. Kenapa? Kau tertarik dengannya?"

"Tidak. Sama sekali tidak. Oh, bagaimana dengan kupu-kupu kesayanganmu itu?"

"Kupu-kupu kesay— Shaiapouf?" Gadis itu bertanya. Dan orang didepannya menggangguk. "Mau apa kau? Kenapa kau ungkit semua nama keluargaku?!"

"Kan sudah kubilang waktu itu." Orang didepannya memasang wajah serius. "Untuk mendekatkan aku, dengan calon pacarku." Lalu, orang didepannya ini menggenggam erat kedua tangan si gadis.

"Ap—"

"Permisi,"

-oOo-

A/N: oke, menurutku, ini chapte terpanjang yang pernah aku buat dalam semua fiksi -.- lebih dari 3 K words! Kuokuokuok -_-v sudah lah, ya~?

Oke, kalau misalkan aku hiatusnya sebentar, itu karena aku juga tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan. Karena, sebenernya, aku juga.. Galau-.-)a

Replies:

Nahya-chan: iya.. Sudah di update kok. Walau tidak update 'kilat', sih.. masa sih, itu dialog paling 'ngakak' seantero jagad got? -,-

Ukimitaro: iya, sih.. Agak keulang. Tapi juga, udah.. *binggung*

Trims atas semua review yang sudah kalian berikan.. *hiks*