Trouble maker vs
Cast:
Lee Eunhyuk
Lee Donghae
Lee Sungmin
Cho Kyuhyun
Kim Kangin
Leeteuk/ park Jungsoo
Kim Heechul
Tan Hangeng
Kim Ryeowook
Kim Kibum
Synopsis:
Cerita cinta di asrama khusus namja. Si troble maker, Hae dan si Mr. Perfect, Hyuk. Sama-sama terkenal di lingkungan sekolah. bagaimana kisahnya saat dua sifat bertolak belakang ini di pertemukan, setelah dua tahun hanya tahu tanpa bertemu secara langsung? Apakah mereka berdua tahan dengan sifat masing-masing?
Rate T, romantic, friendship, sedikit humor (maybe)
Warning: abal, AU, GJ, amburadul, aneh, BL/yaoi, OOC, EYD berterbaran, dsb
Happy reading~~~
Tidak suka jangan dibaca…
Chapter 10
Pagi ini tampak SM high school sedang ramai oleh murid-murid yang tengah mencari kesibukan, mengingat sekolah sedang libur dikarenakan semua guru tengah mengadakan rapat tahunan. Bukan hanya guru, panitia osis juga ikut ambil bagian. Siswa biasa seperti Eunhyuk, Heechul, Sungmin dan Leeteuk hanya bisa menikmati waktu di kantin sambil mengobrol santai.
"Heh bebek!" panggil sang primadona, Heechul.
"Berhenti memanggilku bebek!" kata Leeteuk tidak terima.
"Aku tanya padamu," Heechul meghela napas, membuat ketiga namja didepannya saling pandang. "Aku mengambil barang seseorang tanpa ijin lalu menyimpannya, apa itu perbuatan dosa?"
"Hyung mencuri?" teriak Sungmin dengan mimic kaget. Heechul yang gugup segera membekap mulut si namja imut.
"Tidak mungkin seorang Heenim mencuri my bunny!" kata Heechul dengan tawa garingnya. Dia mencoba bersikap wajar saat tahu setengah penghuni kantin tengah menatap kearahnya.
"Lalu kenapa hyung bertanya seperti itu?" tanya Sungmin setelah berhasil lepas dari tangan Heechul.
"Se-sebenarnya… aku hanya, tidak sengaja menemukan barang orang, lalu… aku menyimpannya dan belum aku kembalikan," 'Dan bodohnya, aku juga sempat membaca buku diary itu!' tambah Heechul dalam hati.
"Hyung jahat sekali!"
"Nde, perbuatanmu ini sungguh dosa besar! semoga dewa mengampunimu~" kata Leeteuk yang membuat Heechul merasa semakin bersalah.
"Hei tapi aku tidak sengaja, ingat!"
"Sama saja kucing, kalau tahu itu milik siapa kenapa tidak langsung dikembalikan?"
"Yaa anak monyet kenapa kau juga ikut memojokkanku?"
"Jika barang itu berharga, pasti sekarang si pemilik sedang mencarinya,"
"Tidak kok, barang itu hanya sebuah buku tua! Dia tidak bingung! Kalau ada waktu aku juga mengembalikannya, siapa juga yang mau menyimpan barang berbau orang menyebalkan seperti dia!" kata Heechul dengan nada ketus sambil melipat tangan didepan dada. "Sudahlah, aku mau beli minum saja! percuma bicara pada orang yang tidak tahu perasaa kita!"
"Minumanmu kan belum habis?" tanya Leeteuk yang mendapat anggukan dari Sungmin dan Eunhyuk.
"Jus wortelnya asam, itu tidak baik untuk kesehatan kulitku!" Heechul melangkah pergi meninggalkan tiga temannya yang kebingungan.
"Sejak kapan wortel asam?" tanya Sungmin yang dihadiahi gelengan dari Eunhyuk.
"Aigoo sikap kucing satu itu seperti orang yang ketahuan jatuh cinta!" kata Leeteuk yang membuat Sungmin langsung menatapnya.
"Menurut hyung jatuh cinta itu seperti apa? kapan kita tahu jika sedang jatuh cinta? Jelaskan pada bunny?" kata Sungmin dengan tangan mengatup.
"Jatuh cinta ya? eum… jika kita sedang jatuh cinta, yang paling terlihat pasti tanpa sadar kita memikirkan orang itu! perasaan aneh selalu muncul ketika kita bersamanya, membuat kita salah tingkah! Lalu apa yang dia lakukan entah itu hanya sekedar tersenyum, atau mengusap puncak kepala kita, membuat kita merona dan terus membayangkannya!" penjelasan ini membuat Sungmin dan Eunhyuk seketika terdiam. "Hei tunggu sebentar~ apa bunny min sedang jatuh cinta?"
"Hah? mmm… itu, entahlah! aku harus memastikannya sekali lagi!"
"Wah! Siapa dia?"
"Sepertinya nanti saja bunny beritahu!"
"Aigoo kelinci kecil ini memang nakal! Tapi sudah dewasa hehe," kedua namja ini tertawa, tidak dengan Eunhyuk. Namja manis itu diam. Entah sadar atau tidak, dia sedang memikirkan seseorang. Tiba-tiba hanphonenya berbunyi. Namja berwajah manis ini hampir terjatuh dari kursi melihat nama yang tertera disana.
"Kenapa tidak diangkat?" tanya Leeteuk dan Sungmin bersamaan. Eunhyuk tertawa garing sambil mengangguk. Setelahnya dia mengangkat telpon itu.
"Yo-yobosheo,"
"Aku tunggu di gudang kawasan bangunan tua sekarang, lima menit!" telpon itu pun mati. Eunhyuk menghembuskan napas sambil menatap dua namja didepannya.
"Aku harus pergi?"
"Wae?"
"Ada kepentingan mendadak!"
"Kepentingan apa hyung?"
"Tugas dari songaenim lagi?" terka Leeteuk.
"kapan-kapan saja aku jelaskan, arra?" Eunhyuk berlari menjauh. Lagi-lagi hanya wajah bingung yang ditampilkan dua namja ini.
"Kenapa semuanya pergi hyung?"
"Entahlah, hari ini mereka berdua aneh!"
…haehyuk…
Eunhyuk berlari saat melihat seorang namja tengah berdiri menyender tidak jauh darinya. tanpa memperdulikan napasnya yang tersenggal, Eunhyuk mempercepat langkah mendekati namja itu.
"Hosh.. hosh aku tidak terlambat kan?"
"5 menit, 40 detik! Kau terlambat," kata si namja tampan tanpa melihat Eunhyuk.
"Hanya lebih 40 detik,"
"Kau memang budak yang kebanyakan protes! Aku bilang terlambat ya terlambat,"
"Baiklah, aku minta maaf~" Donghae tidak menghiraukan Eunhyuk yang tengah menundukkan kepala. Namja tampan ini malah berjalan pergi.
"Sampai kapan kau disana? Apa aku harus menyuruhmu dulu untuk mengikutiku?" Eunhyuk langsung berlari mendekati Donghae. namja penyuka makanan manis ini mengerucutkan bibir kesal.
"Apa dia sedang pms?" tanya Eunhyuk pelan.
"Aku bisa medengarmu myeolchi,"
"Hehehe mian, bukan untuk Donghae kok," mereka terus berjalan sampai Donghae berhenti didepan pintu besi. "Kita mau kemana?"
"Ada barangku yang tertinggal," Donghae membuka pintu itu dan masuk, Eunhyuk hanya mengikutinya dari belakang. Namja manis ini tercengang melihat interior super mewah didalam ruangan yang dikiranya gudang itu. dia terus menatap kiri kanan, atas dan bawah.
"Siapa kau?" pertanyaan itu membuat Eunhyuk menoleh. Dia mendapati seorang namja kekar tengah menatap dengan mata garangnya.
"Sejak kapan markas kita diketahui orang lain?" Eunhyuk kembali menoleh, sekarang dia melihat namja tinggi yang berdiri melipat tangan.
"Mungkin system kedap suaranya rusak?"
#Eunhyuk pov
Tidak bisa kupercaya, mereka adalah Kangin, Kyuhyun, dan Hangeng… jadi ini markas F4? Seharusnya aku sudah bisa menduganya sejak awal! Apa namja itu sengaja melakukan ini padaku?
"Heh kau tidak bisa bicara ya? kami sedang bertanya padamu!" seru Kangin dengan volume yang membuatku terlonjak kaget.
"Kenapa ribut?" aku mendongak melihat Donghae berdiri tidak jauh dari tempatku.
"Tuh ada penyusup! Mungkin salah satu fans beratmu!" celutuk Kyuhyun.
"Aku yang membawanya," jelas Donghae dengan wajah santai. "Dan Kyu, kau iri karena aku memiliki fans fanatik? Kau tahu, bahkan dia rela menjadi budak hanya ingin berada disampingku!"
"Bodoh sekali namja ini!" Kyuhyun menunjukkan mimik merendahkan. TIDAK, INI TIDAK BENAR! apa-apaan Donghae! aku fans? Katanya aku seorang fans yang rela jadi budak? Dia mengada-ada! Ini fitnah, itu semua bohong! Donghae menyebalkan!
"Duduklah, maaf ya kami sudah berlaku tidak sopan padamu," aku menatap Hangeng yang tengah tersenyum. Pantas saja Heenim iri dengannya. Pesona namja keturunan China ini memang tidak bisa dianggap remeh.
"Jadi dia roommatemu Hae? Wah hebat sekali dia bisa bertahan dengan sikapmu yang super arogan itu!" aku tersenyum mendengar Kangin berbicara sambil berjalan mendekat. "Asal kau tahu ya, Donghae itu tidak pernah punya roommate! Jadi bisa dibilang kau adalah yang pertama! Entahlah apa itu sebuah keberuntungan atau malah sebaliknya!"
"Diamlah mulut ember!" Donghae mengapit kepala Kangin dan memukulnya. Entah sadar atau tidak aku tersenyum.
"Siapa namamu?"
"Lee Eunhyuk," jawabku yang membuat Hangeng tersenyum sambil mengangguk. Kyuhyun menatapku dan langsung berjalan mendekat.
"Siapa namamu tadi?"
"Lee Eunhyuk," aku mengerutkan alis melihat reaksi Kyuhyun. Apa ada yang salah?
"Heh ayo pergi, jangan terlalu lama bergaul dengan mereka!" Donghae mengandeng tanganku lalu berjalan pergi. sebelum pergi aku sempat melihat wajah Kyuhyun sekali lagi. ada apa dengannya?
#Eunhyuk pov end
"Kita mau kemana?" tanya Eunhyuk sambil menatap kanan kiri.
"Tidak usah banyak tanya," jawab Donghae yang membuat Eunhyuk mengerucutkan bibir. Lama tidak ada sahutan membuat Donghae melirik, sekedar ingin tahu apa yang dilakukan oleh namja yang duduk disampingnya ini. Ternyata dia sedang menyangga dagu sambil menatap ke jendela. "Aku hanya ingin mengajakmu ke rumah! Jika sendiri aku tidak punya alasan untuk kembali ke asrama,"
"Hah? rumah? Rumah Donghae?" tanya Eunhyuk yang mendapat anggukan dari si namja tampan. Setelahnya keheningan kembali muncul, sampai mobil mewah itu sampai di depan sebuah gerbang yang cukup besar.
"Selamat datang tuan muda~" kata seorang namja berjas sambil membungkukkan badan.
"Buka gerbangnya,"
"Baik." Eunhyuk membelalakkan mata melihat pemandangan yang disuguhkan didepannya. Halaman yang penuh pepohon hijau, air mancur yang dikelilingi bunga dan jangan lupakan betapa luasnya halaman ini. Eunhyuk yakin dengan halamana seperti ini dia dapat membuat 2 lapangan sepak bola beserta kantin yang muat untuk seluruh siswa SM. Apa ini tidak terlalu berlebihan hanya untuk sebuah halaman depan?
Eunhyuk memang pernah terpikir soal membuat taman kecil pengganti halaman dirumahnya, mengingat Eunyuk tidak memiliki halaman yang cukup luas. Tapi… melihat halaman rumah Donghae, namja ini jadi semakin terpuruk untuk memikirkan ide itu.
"Ayo masuk," katanya tanpa menatap Eunhyuk yang terlihat sangat bodoh. Rumah bergaya eropa ini membuat Eunhyuk semakin takjub. Berapa banyak uang yang harus dikumpulkan untuk membangun rumah sebesar dan semewah itu. Eunhyuk merasa tengah menjadi pangeran di istana musim dingin.
Saking luasnya, dan jalan Donghae yang semakin cepat dengan refleks Eunhyuk memegang ujung seragam Donghae, membuat namja tampan itu menoleh padanya.
"Wae?"
"Aku tidak mau tersesat," jawab Eunhyuk masih dengan wajah polosnya. Donghae tersenyum dan kembali berjalan. Sekarang Donghae merasa menjadi penculik yang merayu anak kecil ke tempat asing. Dia membuka pintu besar dihadapannya. Eunhyuk yang penasaran mengintip dari balik bahu Donghae. ruangan yang mirip kamar tidur itu membuat mulut Eunhyuk terbuka.
"Kenapa diam, ayo masuk," kata Donghae yang berhasil membuat Eunhyuk kembali kealam nyata. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa. dulu dia kira kamar asrama adalah kamar yang paling luas untuk hanya dijadikan sebagai tempat tidur. tapi itu tidak ada sepertiga dari ruangan yang sekarang dimasukinya.
"Ini ruangan apa?"
"Kau tidak lihat tempat tidur disana! Bodoh!" kata Donghae sambil menaruh tas ranselnya.
"Ini kamarmu?" tanya Eunhyuk tanpa memperdulikan ucapan Donghae yang menyebutnya bodoh, Donghae mengerutkan alis melihat sikap Eunhyuk yang tidak wajar itu. dia hanya mengangguk sambil melipat tangan. "Apa ini tidak terlalu berlebihan?" pertanyaan polos itu membuat alis Donghae bertaut. "Ini bisa dibuat dua rumah dengan taman kecil di belakangnya! apa luas kamar ini seperti taman yang waktu itu kita datangi ya Hae? wah sepertinya lebih luas…" kata Eunhyuk sambil menatap sekitar. Donghae menggeleng dengan senyum meremehkannya. Dia berjalan mendekati Eunhyuk dan menyentil dahinya, membuat namja penyuka manis ini mengaduh kesakitan.
"Yaa! Bisakah kau tidak seenaknya menyentil dahiku!"
"Kau tunggu disini, aku akan segera kembali! Nanti akan ada maid yang meladenimu!"
"Kau mau kemana?"
"Masih disekitar sini! tidak akan lama,"
"Aku sedikit tidak enak menunggu di kamar orang, sendirian pula,"
"Lalu kau mau menunggu dimana? di gudang bawah tanah? Duduklah dan jangan banyak bicara!" kata Donghae yang sukses membuat Eunhyuk mengangguk.
…haehyuk…
"Aish ternyata dia itu bodoh sekali!" gerutu Kangin entah yang keberapa puluh kali. Namja tampan ini sedang mengamati seseorang yang saat ini sedang berada dikelasnya. "Aigoo kenapa dia tidak melawan! Aku yakin namja yang bisa keluar dari sekolah tanpa ketahuan, seharusnya dia bisa melawan kelompok tidak punya kerjaan seperti itu!" Kangin hendak menghentikan pengamatannya, sampai akhirnya dia melihat namja yang sedang dipukuli itu mendapat bantuan dari namja lain. Kangin memicingkan matanya, untuk melihat wajah si penolong dengan lebih jelas. "Huh sekarang pasti hati si teroris itu senang!" katanya saat melihat namja penolong membantu untuk berdiri. Si namja penolong berusaha mengajak namja didepannya berbicara, sepertinya menanyakan keadaanya. Tapi namja itu hanya menunduk membuat Kangin menggeleng. "Benar-benar namja bodoh! Dan yang lebih bodoh, aku malah megamatinya hanya karena rasa penasaran! Ternyata dia Cuma stalker cap kerupuk! Jauh dari pikiranku, tidak seru!"
Kangin menghentikan gerutuannya saat melihat namja cantik yang dikenalnya sebagai bidadari galak menghampiri dua namja itu. mereka tampak mengobrol sebentar, lalu si bidadari galak berjalan bersama namja penolong. Mereka masuk kekawasan asrama hal ini membuat Kangin mengerutkan alis.
"Apa namja yang disukai teroris bodoh itu adalah teman si galak?" tanya Kangin entah pada siapa, setelahnya namja tampan ini menyeringai.
...haehyuk…
Heechul berjalan mondar-mandir sambil menggigit ujung kuku ibujarinya. Dia terus melakukan itu sambil menatap buku tua yang tergeletak diatas meja belajarnya.
"Aish kenapa bingung! aku cukup mengembalikan ditempatnya dan pura-pura tidak tahu! Tidak akan ketahuan juga kan?" kata Heechul entah pada siapa. "Iya, aku kembalikan sekarang saja, mumpung dia belum datang! Semakin cepat akan semakin baik! Buku itu membuatku jadi gila!" Heechul mengambil buku tua itu dan berjalan perlahan menuruni anak tangga, sesekali dia menatap kearah pintu. Takut tiba-tiba pintu itu terbuka dan si namja China masuk. Bisa mati berdiri dia!
Karena gugup Heechul menaruh buku itu sembarangan, membuat buku tua itu jatuh mengenai gelas pensil. Gelas keramik itu menggelinding dan pecah saat bertatapan dengan lantai. buku itu juga jatuh dan terbuka di salah satu halaman, terdapat ukiran huruf E2H disana. Karena panic Heechul mengambil buku itu dan mencoba membersihkan pecahan gelas sebelum akhirnya pintu kamar terbuka.
Bagai terjun bebas ke pusaran segitiga Bermuda melihat namja yang saat ini tengah menatap bingung kearahnya.
"Apa yang kau…" namja itu menghentikan pertanyaannya saat melihat buku yang sangat dikenalnya sedang berada ditangan Heechul.
"Mi-mian aku tidak sengaja! aku akan menggantinya, aku…" belum selesai Heechul berbicara namja itu sudah berdiri didepannya.
"Kemarikan bukunya!" kata Hanggeng setelah membantu Heechul berdiri. Heechul yang ketakutan hanya menuruti perkataan Hangeng tanpa berniat mengeluarkan suara. "Apa selama ini kau yang mengambil bukunya? JAWAB AKU APA KAU MENGAMBIL BUKU INI?" bentakan itu membuat Heechul refleks mengangguk karena kaget.
"N-nde, a-aku yang me-mengambilnya…" jawaban itu membuat Hangeng memejamkan mata mencoba meredam emosi.
"Apa kau melihat isi buku ini? apa kau pernah membacanya?" tanya Hangeng tanpa memutuskan kontak mata dengan Heechul. "Kim Heechul jangan diam saja, jawab pertanyaanku?!" melihat mimic wajah dan nada suara Hangeng yang tidak biasa membuat Heechul mengangguk dengan mata berkaca. Dia begitu takut sampai menundukkan kepala.
"A-aku…"
"Wae? kenapa kau sangat lancang melakukan hal ini?" tanya Hangeng sambil mengepalkan tangan.
"A-aku tidak sengaja! Su-sungguh, ma-maafkan aku? itu se-semua tidak sengaja," kata Heechul sambil memberanikan diri menatap namja didepannya. Tanpa diduga Hangeng berjalan pergi sambil membanting pintu.
Air mata Heechul mengalir, karena syok dan ketakutan namja cantik ini jatuh bersimpuh.
Dilain tempat.
Namja bersurai hitam menutupi dahi itu berjalan sambil menundukkan kepala. Langahnya terhenti saat melihat kaki seseorang didepan pintu kamarnya. Namja ini mendongak melihat sang roommate tengah berdiri sambil menyilangkan tangan.
"Ka-Kangin-ssi,"
"Sekarang kau sedang menjadi stalker namja ini kan?" tanya Kangin sambil menunjukkan foto namja cantik dengan pipi tirusnya. Mata namja bersurai hitam itu membelalak, dia segera merebut foto itu dari tangan Kangin. "Tidak usah takut, aku tidak akan memberitahu siapapun… malah aku ingin berkerjasama denganmu,"
"Ma-maksud Kangin-ssi?"
"Sudah berapa tahun kau jadi stalker?"
"Se-sejak kelas satu,"
"Daebak! Niat sekali kau melakukannya,"
"Da-dari mana Kangin-ssi tahu tentang foto ini?"
"Itu tidak penting! Aku mau kita berkerjasama, bagaimana?" tidak ada tanggapan, hal ini membuat Kangin memukul lengan namja didepannya. "Tenang saja! kerjasama ini tidak akan memberatkan salah satu pihak, malah kau yang akan memiliki keuntungan banyak! kau setuju?" namja bersurai hitam itu mengangguk pelan, tampak ketidak yakinan di wajahnya. Kangin tahu hal itu dan langsung merangkul sang namja. "Sebaiknya kita bicarakan hal ini didalam!"
…haehyuk…
Eunhyuk berjalan dari ujung ruangan ke ujung yang lain. Melihat berbagai macam benda di dalam kamar Donghae, menyalakan televise sambil melompat-lompat disofa yang empuk, bermain dengan ikan mainan di aquarium, dan menikmati jamuan makan yang beragam dari pelayan Donghae.
Sebenarnya hal ini sangat menyenangkan, tapi lama-lama dia bosan. Sudah terhitung dua setengah jam dia berada disini. tanpa siapapun yang dapat diajak bicara. Eunhyuk menghembuskan napas sambil membuka jendela disamping meja belajar. Melihat luasnya pekarangan belakang dan kolam renang yang super mewah. Eunhyuk duduk di depan meja belajar, menyangga dagu sambil kembali menghembuskan napas.
"Disini semua sudah tersedia, tapi sepi sekali! Bahkan ikan pun terbuat dari plastic!" Eunhyuk menatap sekeliling, matanya tertuju pada sebuah rak buku. Disalah satu barisan buku terdapat sebuah album foto. Dengan rasa penasaran yang tinggi namja manis ini mengambil album itu dan melihatnya. Siapa tahu dia menemukan foto memalukan Donghae dan dapat menukar dengan foto miliknya.
Eunhyuk membuka satu demi satu foto itu. tampak Donghae kecil tengah merayakan ulang tahun seorang diri, wisuda sekolah dasar juga sendiri, banyak moment foto penting yang hanya ada Donghae, tidak ada orang tua ataupun teman disampingnya. Eunhyuk membuka lembar berikutnya, disana Donghae tengah berfoto dengan Hangeng diacara kelulusan. Tidak berbeda jauh dengan foto lain, hanya difoto ini Donghae sedikit tersenyum. Setelahnya tidak ada foto lagi. Eunhyuk terus membuka sampai kehalaman terakhir, difoto ini ada tiga namja. Sama seperti foto yang pernah Eunhyuk lihat dilemari Donghae. hanya di foto ini Donghae tampak tersenyum lebar. Hal ini membuat Eunhyuk juga ikut tersenyum.
"Tunggu, namja ini…" belum selesai Eunhyuk berpikir, terdengar pintu terbuka. Namja manis itu langsung berlari mengembalikan album ketempat semula.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Donghae saat melihat Eunhyuk tengah berdiri di depan rak buku.
"Ah, eum hanya… melihat-lihat!" jawab Eunhyuk seadanya.
"Aku sudah pernah bilang, kau tidak pandai berbohong," kata Donghae yang membuat mata Eunhyuk membulat.
"Kenapa kau tidak pernah percaya padaku!"
"Karena semua tergambar jelas dari wajahmu," kata Donghae santai sambil merebahkan diri ditempat tidur.
"Aish, dia memang menyebalkan! memang dia paranormal," gerutu Eunhyuk dengan bibir mempout. Donghae tersenyum tipis melihatnya.
"Kau menunggu lama?"
"Nde! kau bertanya tentang hal yang sudah jelas jawabannya!" jawab Eunhyuk dengan nada ketus. Donghae duduk di pinggir tempat tidur lalu melonggarkan dasi dan kancing kemejanya.
"Mianhae," satu kata yang terucap dari bibir Donghae membuat Eunhyuk mau tidak mau mengalihkan tatapan.
"Donghae meminta maaf?"
"Kau tidak menerimanya? Oke, anggap saja aku tidak mengatakan hal itu!"
"Kenapa kau cepat sekali berubah?"
"Bukan aku yang cepat, tapi otak perfectmu yang terlalu lemot!"
"Yaa siapa yang lemot?"
"Apa perlu kuperjelas? Monyet kecil yang bodoh?"
"Donghae! berhentilah memanggilku monyet kecil, myeolchi, atau bodoh!"
"Lalu aku perlu memanggilmu apa? mr perfect? Dengan loading selama itu? aku tidak mau membohongi public," perkataan ini membuat Eunhyuk mendengus kesal. Dengan kekuatan seadanya dia berusaha memukul Donghae, Donghae yang tidak mau kalah memegang kedua tangan Eunhyuk lalu membanting tubuh kurus itu kesamping tubuhnya. Lama mereka berada dalam posisi itu, menyelami mata satu sama lain.
Eunhyuk terus berdebar, hal ini yang membuatnya menggeleng lalu berusaha mengubah posisi. Donghae yang mengerti hanya bisa duduk disamping si namja manis. Tidak ada yang berniat memulai pembicaraan. Baik Donghae dan Eunhyuk sibuk dengan pemikiran masing-masing. Sesekali Eunhyuk melirik Donghae, begitupun sebaliknya. Sampai mata itu tidak sengaja bertemu. Eunhyuk segera memutusnya dengan menunduk, sedangkan Donghae memilih menatap kearah lain.
Suasana canggung ini, membuat Eunhyuk sedikit risih. Dia berusaha mencairkan suasana dengan mencari topic pembicaraan.
"Donghae," panggilnya, dengan nada dibuat sesantai mungkin.
"Mmm,"
"Disana ada aquarium, tapi ikannya mainan! Apa kau sengaja melakukannya?" pertanyaan itu hanya dibalas Donghae dengan anggukan. "Wae? bukankah akan lebih bagus jika diisi ikan sungguhan?"
"Terlalu merepotkan,"
"Aigoo itu bukanlah sebuah alasan, pabo!"
"Kau memanggilku bodoh?"
"Nde, wae kau tidak terima? namanya saja memelihara makluk hidup, kau juga harus menanggung kehidupannya! Memberinya makan, membersihkan tempat tinggalnya, sampai memikirkan nama panggilan untuknya! Tapi dibalik kerepotan itu, kau akan mendapat teman,"
"Bukankah sama saja? ikan mainan itu juga bisa menjadi teman, malah dia tidak akan mati, tidak merepotkan bahkan tidak akan menghianati seperti teman-teman pada umunya," Eunhyuk terdiam mendengar respon Donghae ini. Eunhyuk melihat mimik wajah Donghae yang lain. Terdapat kesedihan, dan kesepian disana.
"Jelas-jelas tidak sama! apa dia bernapas? Apa mainan itu menatapmu saat kau juga menatapnya? Apa dia merespon saat kau memukul aquariumnya? Jangankan manusia, hewan pun bisa merasakan apa yang orang didekatnya rasakan! Kalau manusia memberi respon baik dengan menanyakan keadaan atau mendengarkan keluah kesahmu sambil memikirkan solusi terbaik yang bisa dia berikan, jika respon buruk dia akan mengacuhkanmu atau mungkin tertawa diatas penderitaanmu!" Eunhyuk memberi jeda sambil menatap Donghae. "Sama seperti hewan, dia akan menatapmu, mengerakkan tubuh tanda dia bahagia saat melihatmu bahkan mendoakanmu saat kau bercerita padanya! Itu jika kau merawatnya dengan sungguh-sungguh, menjaga dan menganggap dia ada! Jika kau acuh maka dia akan berlaku sama," mendengar penjelasan itu membuat Donghae terdiam. Entah apa yang sedang dipikirkan namja tampan ini. "Hae?"
Donghae menatap Eunhyuk dan langsung berdiri dari tempat tidur. "Kajja, kita makan! Kau boleh pilih apapun yang kau inginkan!"
"Serius?"
"Kau tidak mau?"
"Mana mungkin aku menolaknya,"
"Ya sudah, cepat berdiri dan kita keluar dari sini!" Eunhyuk langsung berlari kedepan pintu. Melihat semangat Eunhyuk yang berlebihan membuat Donghae tersenyum meremehkan.
"Wah enaknya apa ya? jjajangmyeon, japchae, bibimbap, ramyeon, atau…"
"Pilihlah makanan yang tidak biasa! Kalau bisa yang mahal! Dan jangan mie, paham?"
"Samgyetang? Samgyeopsal? Bulgogi? Atau kita makan semuanya?" tanya Eunhyuk dengan mata berbinar. Donghae menggeleng melihat tingkah kekanakan namja disampingnya ini.
.
.TBC
.
Catatan kecil:
Maaf untuk semua pembaca karena saia selalu memposting dengan keterlambatan yang super duper sangat lama sekali. Kadang sampai semuanya lupa ama ceritanya. Maaf kan saia… banyak hal yang membuat saia jadi seperti ini, selain tugas yang semakin semester semakin banyak, saia juga terhambat. Ndak ada lagi temen-temen deket yang support, haehyuk ship ditempat saia semakin sedikit jadi berasa kayak binatang langka, ndak ada temen. Jadi kadang ndak ada ide… #alasan terus -_-
Terimakasih banyak yang masih mau membaca panpic nyebelin karangan orang galauan yang 1000x lipat lebih nyebelin. #sujut syukur, Terimakasih terutama yang nyempetin ngeripiu, saia jadi yakin masih ada haehyuk shipper yang nyempil di antara pulau indonesah #apaan sih?
Oke akhir kata, see you next chap~ semangat buat elf, apalagi Polaris…
