桜の花びら (Sakura no Hanabira)

Sae Kiyomi

[Rin.K, Len.K]

All Rin's POV

Warning: gaje, aneh, abal, typo, OOC, alur cepat, bad summary, dll

Disclaimer: Vocaloid bukan milik Sae, namun cerita ini punya Sae!

Memenuhi request dari Kiriko Alicia-senpai.

Sudah dua hari kulewati. Akhir-akhir ini sikap Shion aneh. Dia jadi pendiam, dan susah ditemui. Ya sudahlah. Mungkin dia ada urusan. Aku sedang membereskan buku-buku lamaku, dan hendak diganti dengan buku-buku baru. Setelah selesai, ku masukkan semua ke dalam kardus, dan membawanya keluar rumah, untuk disumbangkan. Tiap tahun buku-buku bekasku selalu aku sumbangkan, karena kalau aku simpan terus malahan jadi sampah.

Aku keluar rumah, dan menaruh buku-buku itu di sebuah toko buku.

"Selamat siang," ucap petugas toko buku ramah.

"Aku mau menyumbang buku," ucapku. Petugas itu mengangguk, dan aku menaruh kardus berat itu di atas meja.

"Sudah mau pergantian tahun pengajaran, ya?" kata petugas itu.

"Iya," kataku. Petugas itu tersenyum, dan menunduk, mengambil sesuatu. Setelah selesai, petugas itu mengeluarkan dua buah buku.

"Nona, karena nona sering menyumbang, saya mempunyai buku yang sepertinya akan berguna buat nona," ucap petugas itu. "Buku menempuh ujian tingkat SMP. Bagaimana?"

"Berapa harganya?" ucapku gembira.

"Tidak tidak tidak," kata petugas toko buku tersebut. "Buku ini akan aku berikan kepadamu."

"Benarkah?" ucapku senang. "Terima kasih!"

Petugas itu tersenyum. "Nona akhir-akhir ini bayak perubahan. Jadi lebih suka menunjukkan smile face."

Mukaku memerah, malu. "Te-terima kasih."

"Ah, maaf. Selamat siang," kata petugas toko memalingkan wajahnya, menyambut tamu yang baru masuk.

"Kazura!" kata seseorang. Aku menoleh.

"Sh-Shion!?" kataku kaget. "Sedang apa kamu?"

"Mau beli buku. Kazura sendiri?" ucap Shion.

"Menyumbang buku bekas," ucapku sekenanya. Shion mengangguk. Aku menunggu Shion, karena ada hal yang ingin aku bicarakan dengannya. Sambil menunggunya, aku melihat ke luar jendela.

"Bunga sakura," gumamku. Petugas toko menangkap bisikanku.

"Sudah waktunya bunga sakura bermekaran. Untuk daerah ini, mungkin sekitar 1-2 hari lagi. Pasti jalan-jalan menjadi cantik," ucapnya.

"Ya. Benar. Jalan menuju sekolah banyak pohon sakura yang berdempetan, jadi seperti jalan. Warna pink bunga sakura akan memenuhi jalan itu dan kelopaknya yang jatuh akan membuat jalan menuju sekolah berwarna pink lembut," kataku. Kenapa aku suka sekali bunga sakura? Karena Ibu sangat menyukai bunga sakura. Jika beliau menyukainya, akupun menyukainya.

Shion membayar buku yang ia beli. "Bagaimana keadaan Lily-basan?" kataku.

"Kaa-san? Dia baik-baik saja," ucap Shion sambil berjalan keluar dari toko buku itu, aku mengikutinya.

"Ehm… Ayah?"

"Kalau Tou-san… baik," kata Shion. "Ada apa?"

"Sudah mau musim mekar bunga sakura. Siapa tahu salah satu dari mereka ada yang alergi," ucapku.

"Mungkin."

"Kamu mau ke mana?" ucapku.

"Entahlah. Kazura sendiri?"

"Tidak tahu," ucapku. Shion tersenyum, dan menyentuh pundakku.

"Kita ke sana, yuk," kata Shion menggandeng tanganku ke taman penuh dengan bunga sakura.

Senyum terpancar dari wajahku. Aku suka sekali bunga sakura. "Cantiknya!" ucapku gembira.

"Ya, memang cantik," kata Shion. "Kapan lagi ya aku melihat bunga sakura…"

Aku terkagum-kagum akan bunga-bunga berwarna pink lembut itu. "Di sekitar rumah dan sekolah belum ada yang mekar. Baru kuncupnya yang setengah terbuka," ucapku. Aku mengambil beberapa, untuk ditunjukkan kepada Ibu.

"Untuk apa, Kazura?" ucap Shion kepadaku.

"Buat ditunjukan kepada Ibu. Ia suka sekali sama bunga sakura," ucapku tersenyum.

"Oh iya, bagaimana kabar Bibi?" ucap Shion.

"Ibu sudah mendingan. Kadang-kadang suka menggigil, sih. Tapi berkat waktu itu, semua berjalan dengan baik," ucapku. "Terima kasih ya, Shion."

"Tenang saja," kata Shion.

"Baiklah. Aku pulang dulu. Sampai jumpa besok," kataku melesat pergi. Shion melambaikan tangan.


Sampai di rumah, tampak sebuah mobil hitam menghalangi rumah kami.

"Aku pulang, Ibu! Ada siapa?" kataku masuk rumah. Aku terbalak melihat seseorang di rumah kami. "AYAH!" ucapku tersenyum.

"Hai, Rin," kata Ayah memelukku.

"Sedang apa Ayah di sini?" ucapku gembira.

"Hanya mengobrol dengan Ibumu, iya kan, Avanna?" kata Ayah.

"Ya," jawab Ibu tersenyum.

"Oh iya, Ayah, tadi aku ketemu sama Shion, lho. Dia habis beli buku," ucapku.

"Benarkah? Berarti dia masih ada di sekitar sini. Aku akan menjemputnya. Sampai jumpa, Rin, Avanna," kata Ayah keluar rumah.

"Hati-hati!" ucapku tersenyum.

Ayah membawa mobil hitamnya dan pergi.

"Kalian akrab sekali, Rin," kata Ibu. Aku tertawa kecil.

"Ehehe…" kataku malu.


NEXT DAY

"Aku pulang, Ibu!" kataku.

"Selamat datang, sayang," kata Ibu sambil mencuci piring.

"Sudah minum obat?"

"Sudah, dong," jawab Ibu.

"Bagus. Hei, Ibu. Besok aku ada upacara kelulusan. Aku sebentar lagi menjadi siswi kelas 3," ucapku.

"Bagus," kata Ibu. "Senang mendengarnya."

Aku melirik ke arah sebuah pot bunga, berisi ranting dengan beberapa kuncup bunga sakura. "Apa di rumah kita bunga sakura sudah mulai mekar?"

"Untuk sekarang ini sih belum. Tapi besok pasti mekar sempurna," ucapnya.

"Ya," ucapku tersenyum. "Di sekolah juga. Baru beberapa. Semoga besok mekar semua, agar suasana upacara kelulusannya lebih menyenangkan! Aku sangat menyukai bunga sakura."

"Kenapa?"

"Karena bunga sakura melambangkan kasih sayang Ibu, dan aku sangat menyukainya. Jika melihat bunga sakura, aku teringat akan Ibu," ucapku apa adanya.

Ibu langsung memelukku.

"Ibu sangat menyayangi Rin."

"Aku juga sangat menyayangi Ibu," ucapku membalas pelukannya.


NEXT DAY

Aku duduk teratur di tempat duduk di aula.

"Dengan ini kami sangat bangga, akan para murid yang berhasil lulus dengan sempurna," ucap kepala sekolah. Dan kepala sekolah mulai membagikan ijazah kepada para kakak kelasku.

Tampak IA sedang tengah menangis menerima ijazah itu. Syukurlah…

"Selamat, IA!" ucapku memberi karangan bunga.

"Te-terima kasih," kata IA terisak, menangis. Aku memeluknya.

"Sampai jumpa di SMA nanti ya, I-A-SEN-PAI," kataku berbisik. IA mulai tertawa kecil. "Dan…"

"Dan?"

"Bagaimana misi pernyataan cintanya?"

.

.

.

"R-RIN!" kata IA. Aku tertawa.

"Aku yakin lancar, kan?" kataku menggoda.

"Sejujurnya… aku belum nembak," kata IA malu-malu.

"HEI! CEPAT DONG! Kalau enggak, nanti sudah diembat orang, lho!" kataku pura-pura mengomeli.

"Ngg…" kata IA merajuk. Aku menghela napas, dan merogoh kantong sakuku. Kukeluarkan dua buah plester.

"Nih. Jadi kalau ditolak, tidak terlalu sakit, bukan?" kataku mengedipkan mata.

IA tersenyum. "Dasar."

"Ano, Tachibana-san? Aku ada perlu sebentar," panggil seseorang. Tiba-tiba wajah IA memerah.

"Yohioloid-kun," gumam IA. Aku menyikutnya.

"Jangan lupa traktirannya, ya!" bisikku sambil menjulurkan lidah.

"RIN!" kata IA malu.


Aku mencari Shion. Aku harus berterima kasih kepadanya.

"Maaf, ada yang lihat Shion Len?" kataku.

"Barusan ia keluar dari gerbang sekolah," kata temannya.

"Katanya sih dia mau pindah."

"Eh? Bener? Aku denger dia dikirim bapaknya dinas. Baru balik empat tahun lagi."

"Masa?"

Mataku membulat. Aku segera berlari keluar sekolah, melewati pepohonan bunga sakura yang sudah mekar sempurna.

"SHION LEEEEN!" teriakku. Tampak Shion tengah menderek tas kopernya, keluar dari sekolah. Ia berbalik, dan tersenyum. "KENAPA KAMU TIDAK BILANG KEPADAKU, BODOH!?"

"Maafkan aku, Rin," kata Shion tersenyum. Aku berlari menghampirinya. Air mataku keluar. Sial, masa aku menangis?

"Kenapa kamu tidak bilang kepadaku? Bahwa kamu… kamu…" ucapanku terputus, tidak kuat melanjutkannya. Jujur, aku sangat kesal sekarang. Shion yang tidak memberitahuku, dan Shion yang bersikap tegar. Menyebalkan.

"Maaf, Rin, aku harus pergi ke luar negeri. Aku disuruh Tou-san agar membantunya melanjutkan pekerjaannya di luar sana," ucapnya sambil menepuk kepalaku.

AYAAAH! Kenapa kamu tidak bilang sama aku!? Kenapa waktu itu kamu diam saja!?

"…kembali," gumamku.

"Eh?"

"KAMU HARUS KEMBALI SECEPATNYA! AKU TIDAK MAU TAHU, KAMU HARUS KEMBALI!" bentakku. Oke, aku anak yang egois. Biarlah Shion bosan akan sikap anak-anakku ini. "KALAU KAMU TIDAK KEMBALI, AKAN AKU KULITI DAN BAKAR TUBUHMU!"

"Kalau tidak kembali, bagaimana di kuliti? Kan tidak ketemu," kata Shion cekikikan.

"…!" aku terdiam. Kalah. Mukaku memerah, sambil menunduk.

Shion mengelus kepalaku, dan memelukku. "Ya, aku akan kembali. Secepat yang aku bisa. Maka, tunggulah aku," kata Shion mengecup dahiku. Wajahku memerah.

Kuusap mataku yang memerah. "Kupegang janjimu," kataku sambil menarik dasinya, dan mengecup pipinya. "And I pray for your happiness."

Shion kaget, dan menyentuh pipinya. Lalu, ia tersenyum. Aku membalas pelukannya.

"Tunggu ya, dan bersiaplah."

Kutunggu kamu, disaat bunga sakura bermekaran lagi.


To Be Continued


SaeSite

Sae: Wawawawaw! Bagaimana? Sudah kelihatan ujung ceritanya? Mungkin chapter depan habis. Jadi tunggu saja ya! Jujur, fict ini adalah fict pertama Sae bikin cerita yang enggak melencong.

Nori: maksud? #sambil makan#

Ann: maksud Sae-san, fict ini adalah fict pertama Sae-san enggak ubah alur ceritanya.

Sae: Ann! #malu#

Ann: yosh, RnR?