Why Love Is Hurt Me ?
***
-Diclaimer-
Bleach : Tite Kubo
***
Kenapa cinta itu itu menyakitiku ??
Padahal aku telah mengorbankan apa pun
Untuknya ..
***
Semua menganggapku bahagia saat bersama Ichigo. Renji, Inoue, Nii-sama dan yang lainnya.
Memang, aku bahagia. Tapi, semua hal yang di lakukan Ichigo adalah hal yang aku tak mengerti.
***
Aku telah siap turun dari mobil saat Ichigo menarik tangannku.
"Tunggu sebentar," pintanya.
Aku mengangguk. Menunggu dia yang secara tiba-tiba merogoh tas dan mengeluarkan sebuah kotak musik.
"Kotak musik lagi? Berapa banyak sih, kotak musik yang kau miliki?" tanyaku bingung.
"Kau tak perlu bertanya macam-macam. Ambillah."
Aku menatapnya secara bergantian, kotak musik lalu ke Ichigo lagi. Terus begitu sampai kebingunganku justru bertambah besar.
Akhirnya, tanganku terulur dan mengambil kotak musik tersebut.
"Sampai jumpa, Ichigo. Aku mencintaimu."
Ichigo hanya tersenyum saat aku mengatakan hal itu. Aku segera turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Lagi-lagi sama seperti hari-hari lalu.
***
Sesampainya di kamarku, aku segera melempar tas ke sembarang tempat lalu menghempaskan diri ke kasur. Tangan mungilku masih menggenggam erat kotak musik pemberian Ichigo untuk hari ini.
Setelah lama, aku bangkit dan berjalan ke rak. Di sana berjejer rapi semua kotak musik yang di berikan Ichigo selama ini padaku. Kemudian, kotak musik yang tadi berpindah ke salah satu barisan lain sejenisnya.
Aku menghela napas panjang.
Kenapa sih, Ichigo selalu seperti itu? Dari pertama kami menjadi sepasang kekasih, setiap hari dia memberiku kotak musik. Kotak musik, kotak musik dan kotak musik—sampai tak terhitung lagi jumlahnya.
Dan anehnya lagi, dia tidak pernah berkata "aku mencintaimu" padaku. Selalu aku yang mengatakan itu padanya. Apa yang dia lakukan itu sangat salah—menurutku. Kenapa dia tidak pernah mengungkapkan rasa kasih sayangnya padaku? Tapi
…apa aku yang sebenarnya salah?
Argghhh. Aku jadi semakin bingung dengan keadaan ini.
***
Situasi sama kembali menyergapku. Saat Ichigo mengantarkanku pulang dan sekarang kami sudah sampai di depan rumahku.
"Ini."
Barang itu lagi. Kotak musik.
"Ichigo, apa maksudmu dengan memberikanku kotak musik setiap hari?"
Ichigo hanya memasang mimik wajah datar.
"Baiklah. Aku ambil. Sampai jumpa, aku mencintaimu." Aku menekankan di kata "ambil" lalu bisa di tebak—segera mengambil kotak musik itu, turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumah.
Kejadian ke berapa kali itu? Kesekian kali—yang aku tahu.
***
Aku berpikir. Sebenarnya Ichigo mencintaiku tidak sih? Kenapa dia bersikap dingin saat bersamaku? Tapi terkadang dia bisa begitu perhatian.
Aku benar-benar tidak mengerti dengan dia.
Lalu, kembali ke topik awal. Kotak musik.
Argghhh. Aku masih bingung dengan hal yang berhubungan dengan Ichigo dan benda bersuara lembut itu.
Kenapa dia selalu memberikan itu? Apa tidak ada hal lain seperti memberikan bunga atau hanya sekadar berkata "aku mencintaimu"?
***
Situasi yang sama lagi.
Ichigo menyikut tanganku sampai aku menoleh padanya dan tangannya yang mengulurkan benda itu lagi. Kotak musik.
Aku kembali mengambilnya seperti biasanya.
"Sampai jumpa. Aku mencintaimu."
Tidak ada respon sama sekali dari pria berambut orange itu.
"Ichigo, tolong, balaslah berkata "aku mencintaimu" kepadaku. Kenapa kau tidak pernah berkata seperti itu padaku?"
"Kalau kau tidak suka dengan sikapku, kau boleh pergi jauh dariku."
Apa?
Dia barusan berkata seperti itu padaku?
"I-ichigo, aku tidak bermaksud seperti itu padamu!" seruku padanya.
"Maaf tapi cepatlah keluar, aku masih ada tugas les."
Aku terdiam sejenak lalu menuruti maunya. Turun dari mobil dengan air mata yang siap menetes.
Apa ini benar Ichigo yang dulu selalu tersenyum manis padaku?
Apa sebenarnya aku saja yang selama ini salah menilai Ichigo?
Tuhan, tolong beri aku jawabannya.
***
Aku menatap jam. 08.10.
Tidak terlalu malam.
DRETT! Ponsel berwarna putihmilikkubergetar, tanda ada pesan masuk.
"Cepat keluar rumah dan temui aku di dekat lampu lalu lintas taman Karakura."
Ichigo
Dahiku berkerut. Lalu menatap kalender. Benar juga, ini hari di mana kami telah 1 tahun menjadi sepasang kekasih.
Segera aku mengenakan jaket dan keluar dari kamarku. Semoga di hari ini, Ichigo bisa sedikit berubah.
***
Lampu lalu lintas taman Karakura …
Aku menatapnya. "Nggg… konbawa…."
"Hai Rukia. Tidak terasa kita sudah 1 tahun selalu bersama ya," ucap Ichigo lembut.
"Yah, begitulah."
Tapi, mood milikku langsung berubah saat melihat benda itu lagi. Lagi-lagi kotak musik.
"Ini. Untukmu." Ichigo mengulurkan kotak musik yang ukurannya lebih besar dari biasanya.
"Aku tidak mau," ucapku pelan.
Dahi Ichigo berkerut. "Tidak mau?"
"Iya, aku tidak mau."
Ichigo terdiam saat suaraku mulai berubah karena penekanan kalimat tersebut. Tapi, Ichigo dengan cepat meletakkan kotak musik itu di tanganku.
"Aku sudah bilang aku tidak mau!" Aku reflek melempar kotak musik itu ke arah jalanan. Ichigo yang melihat itu segera berlari mengambil kotak musik itu—sebelum hancur berantakan.
Tepat pada saat itu juga, sebuah truk melaju dengan kecepatan cepat dan akan menabrak Ichigo.
"Ichigo!"
BRAKKKK!
"ICHIGO!!!!!"
***
Orang-orang dengan pakaian serba hitam mengikuti acara pemakaman Ichigo. Semuanya menampakkan ekspresi sedih. Bukan hanya keluarga Ichigo—ayahnya dan kedua adiknya, Yuzu dan Karin—yang menatap dengan mata beku peti matinya sampai akhirnya peti mati itu di kuburkan dalam-dalam. Bukan hanya Inoue yang tiba-tiba menangis setelah beberapa lama tersenyum terpaksa dan mencoba tegar melewati semuanya. Bukan hanya Renji yang mencoba untuk tetap menerima kepergian sahabatnya itu. Bukan hanya Toushiro yang lagi-lagi kehilangan orang yang di anggapnya berharga setelah Hinamori.
Dan tentunya, bukan hanya aku yang sedari tadi meneteskan air mata tanpa henti sampai Nii-sama menatapku dengan pandangan cemas.
Setelah pemakaman itu selesai, hujan sedikit demi sedikit mulai turun membasahi bumi dan segala isinya. Aku perlahan mulai mendekati peristirahatan terakhirnya dan mengusap pelan nisan berukirkan nama orang yang begitu aku cintai.
"Selamat jalan, Ichigo. Mimpilah yang indah di tempat sana."
Air mataku mengalir semakin deras. Sama dengan hujan yang tiba-tiba menjadi badai di temani tiupan angin kencang.
"Ayo, Rukia, kau bisa sakit kalau terlalu lama kehujanan seperti itu. Lebih baik kita segera pulang ke rumah," ujar Nii-sama.
Aku hanya bisa mengangguk sembari menyeka air mataku dengan tisu.
***
Kamar Kuchiki Rukia …
Aku menatap rak itu juga satu per satu kotak musik dengan warna coklat terang. Rasanya sedih kalau hanya mengingat bahwa kenanganku bersama Ichigo hanya mengalir melalui kotak musik itu.
Aku hitung satu per satu kotak itu. "1…2…3…4…5…6…" terus begitu, "363… 364…."
Ya, ada sekitar 364 kotak musik di sana.
Aku raih satu di antaranya dan tanpa pikir panjang, aku membuka kotak yang pastinya akan mengalirkan alunan lagu.
Aku terdiam. Nyaris kaget dengan apa yang aku dengar.
Lalu, aku raih kotak musik kedua. Lalu kotak musik keempat. Lalu kotak musik kelima dan seterusnya.
Saat itu aku baru menyadarinya.
Di setiap kotak musik itu melantun lagu cinta dari berbagai bahasa.
Aku—yang tanpa pikir panjang pula, mengambil kotak musik yang paling besar di antaranya. Kotak musik ke 365 yang di selamatkan Ichigo untuk terakhir kalinya.
Saat aku buka, bukan lagu lagi yang melantun.
"I LOVE YOU. I LOVE YOU. I LOVE YOU. I LOVE YOU. I LOVE YOU."
Terdengar suara boneka beruang yang bisa bersuara. Dan suara setelah itu yang paling aku rindukan.
"Rukia, tidak terasa bukan, kalau kita sudah saling mencintai selama 365 hari? Maaf selama ini kalau aku sering membuat kesal. Maaf juga kalau selama ini aku membuatmu bingung akan semua yang aku lakukan. Semua kotak musik dan semua lagu-lagunya adalah ungkapan hatiku padamu. Lalu, suara boneka beruang tadi adalah hal yang paling aku tidak bisa aku lakukan padamu, mengucapkan "aku mencintaimu". Kenapa? Karena aku malu."
Ucapan itu terhenti sejenak. Terdengar desahan napas di antaranya.
"Tapi, aku berjanji kalau kau menerima kotak musik terakhirku ini, aku akan berkata aku mencintaimu terus menerus sampai aku mati."
Air mata Rukia menetes. Tidak menyangka dengan kenyataan yang sebenarnya.
Bahwa Ichigo begitu menyayanginya.
Bahwa Ichigo begitu mencintainya.
"Maafkan aku Ichigo. Aku yang selama ini salah menilaimu. Aku yang selama ini terlalu egois padamu, menuntut kasih sayang lebih yang padahal telah kau perlihatkan lewat semua ini. Maafkan aku Ichigo. Maafkan aku."
***
Di manakah aku harus berlari?
Saat orang yang bisa
Menghentikan tangisku,
Adalah satu-satunya orang yang bisa
Membuatku menangis.
***
Rukina : Ceritanya nggak berkesan apa-apa –di gampar author- bercanda kok :p
Author : Hehe, buat fans IchiRuki, maaf ya akhirnya malah tragis gini. Bingung bagusnya gimana sih. –author sedeng-
Rukina : Kenapa kata-kata "lebay" ada di akhir cerita? Tumbenan.
Author : Hanya ingin menambahkan. Emang nggak boleh? :p
Rukina : Trus napa nggak tulis "aishiteru" aja bukan "aku mencintaimu" ??
Author : Haha. Aku juga nggak tau kenapa. Rasanya enakan pake "aku mencintaimu" deh.
Rukina : -nggak meduliin author- jangan lupa REVIEW ya !!
A/N : yang kotak musik ke 365 itu isinya rekaman suara ichigo … tapi, kayaknya nggak ada kotak musik bisa ngerekam ya ?? Yah itu hanya dalam khayalanku aja kok XD
