Fiuuuh. Akhirnya selesai juga bab ini. Salah satu bab paling sulit yang pernah aku buat kalo aku boleh bilang begitu. Karena idenya baru datang pada saat-saat terakhir dan aku bikinnya di bawah tekanan. Gimana engga kalo pas lagi enak-enak nulis malah digangguin ama adekku. cari2 sapu lidi buat nabokin adek tercayang
Ya udahlah. Yang penting FF ini udah kelar n aku ga terlalu kecewa ama hasil akhirnya. Mungkin ada sedikit penurunan kualitas (karena emosiku udah tersedot abis), but I hope you'll enjoy it. Salah satu ciri khas dari FFku adalah aku memanfaatkan celah-celah yang ditinggalkan ama Master JK Rowling dan POV berbeda dari versi asli (yang mayoritas pake POV Harry). Jadi kalo ada yang mau protes kenapa pesta Slughorn ga mirip ama versi aslinya, jawabannya ya… coz aku engga mau mengutip kata perkata dari buku aslinya. Oke? Peace!
Bab 10
Beberapa menit kemudian, di depan kantor Slughorn,
"Kukira datang sedikit terlambat tidak akan masalah. Slughorn pasti akan tetap senang dengan kehadiran kita, Madeline."
Madeline menatap Zabini dan memberinya senyum hambar sekilas. Bukan, bukan keterlambatan mereka yang membuat gadis itu gugup luar biasa. Dia hanya gelisah menantikan bagaimana reaksi Harry ketika mereka bertemu nanti. Apakah Harry akan senang melihat penampilanku atau malah sebal sama seperti Draco? Madeline terus bertanya-tanya dalam hati. Jika dia bisa membuat Harry terpesona, maka perjuangannya berdandan seharian ini tidak akan sia-sia. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, Madeline sudah punya solusi jitu untuk mengatasinya. Solusi yang dipesannya dari toko Weasley's Wizard Wheezes, sebotol minuman mead bercampur ramuan Amortentia.
"Kau sudah siap?" tanya Zabini, membuyarkan lamunan Madeline.
"A… sudah. Aku sudah siap," balas Madeline tergagap. Tentu saja dia sudah sangat siap. Dia bahkan tak takut untuk menerobos masuk andai pintu itu terkunci rapat untuknya. Dia harus masuk. Dia harus menemui Harry.
"Baiklah," kata Zabini, menarik nafas panjang seraya memandangi lekat-lekat pintu masuk kantor Slughorn seolah pintu itu bisa meledak seketika jika dia nekat membukanya. Seperti juga Madeline, Zabini tegang sekali malam ini. Mengingat banyak orang penting yang diundang, dia hanya bisa berharap semoga ketegangannya ini tidak membuat dirinya bertingkah konyol di luar sadar.
Nampaknya pesta Slughorn tidak mau menunggu sampai mereka berdua selesai membenahi kegugupan masing-masing, karena pintu itu segera terbuka dengan sendirinya ketika pasangan Madeline-Zabini sudah semakin mendekat ke arahnya.
Pemandangan sebuah pesta yang sungguh meriah segera tersaji di hadapan mereka. Semua undangan mengenakan gaun dan jubah pesta terbaik mereka dengan dilengkapi pernik aksesori berkilauan, dan tampak sedang asyik mengobrolkan banyak hal mengenai diri mereka sendiri. Mendadak belasan peri rumah bermunculan dari sela-sela kaki para tamu dengan menyunggi nampan-nampan perak berisi beraneka kue-kue lezat. Zabini buru-buru menarik lengan Madeline sebelum sepasang peri rumah yang sedang kerepotan menggotong nampan berat berisi kue Krim Stroberi menubruk lututnya. Serbuk warna-warni berpendar yang menghujani kepalanya refleks membuat Madeline mendongak dan ternganga. Di atas sana, gumpalan-gumpalan bola bercahaya yang masing-masing berisi seorang peri kecil di dalamnya terbang memenuhi langit-langit sembari menebarkan butiran pasir berkilau mirip potongan confetti ekstra-halus di atas kepala setiap tamu.
"Pesta ini indah sekali, Blaise," bisik Madeline, berusaha mengalahkan suara musik mandolin dan suara gelak tawa tamu-tamu di sekeliling mereka. "Aku sangat senang kau mengajakku, sungguh!"
"Untukmu, Madeline, tak ada hal yang tak mungkin kulakukan," kata Zabini, balas berbisik.
"Oya? Lalu jika aku memintamu menjauhkan tanganmu dariku sebelum aku mengutukmu jadi patung es, apakah kau juga akan bersedia melakukannya?" gumam Madeline selirih mungkin.
Sekarang dia merenungi kebenaran kata-kata Draco tadi. Gaun yang sedikit terbuka memang menarik tangan-tangan usil untuk menjamahnya. Mau tak mau, Madeline menyesali mengapa dia bisa terjebak di dalam pesta bersama pemuda mesum macam Zabini. Sejak tadi Zabini tidak pernah melepaskan tangannya dari pinggang ramping Madeline, dan ini membuat Madeline risih.
Zabini yang sedang mengagumi lampu kristal mewah yang tergantung di tengah ruangan tidak mendengar gumaman kesal Madeline, bahkan diam saja saat Madeline berhasil melepaskan pegangan tangannya dari pinggang gadis itu.
"Blaise! Senang melihatmu disini!" seloroh Slughorn yang tiba-tiba menyeruak muncul di antara sepasang penyihir wanita bertopi lebar, mengagetkan baik Madeline maupun Zabini.
"Malam, Professor! Suatu kehormatan bisa menjadi bagian dari pesta luar biasa anda," kata Zabini, berusaha menjilat.
Slughorn yang nampaknya sudah dalam pengaruh alkohol terkekeh, membusungkan perutnya yang sebesar galon air minum dan menepuk bahu Zabini hangat.
"Tak masalah, nak! Nikmati malam ini sepuasmu! Dan…" Slughorn mengalihkan perhatiannya dari Zabini ke Madeline yang sedang mengedarkan pandangan untuk mencari Harry. "…siapa gadis cantik yang kau ajak ini, Blaise? Pacarmu?"
Madeline tersentak dan memberi Slughorn senyuman salah tingkah. Sementara itu bibir Zabini menyunggingkan seulas senyuman bangga. Tanpa ragu lagi dia merangkul bahu Madeline (tak sadar kalau Madeline mendelik kaget) dan mendeklarasikan hubungan mereka.
"Begitulah, Sir! Kami belum lama berhubungan. Saya bahkan belum sempat mengenalkan dia pada orangtua saya."
"A… apa?!" desis Madeline, menggemeretakkan giginya karena geram. Namun dia bisa menyamarkan amarahnya dan mengubahnya menjadi senyum gemas saat Slughorn mengamati penampilannya dengan maksud menilai keserasian mereka berdua.
"Kalian berdua memang sangat serasi. Kuucapkan selamat!" cetus Slughorn sambil mengangkat piala berisi meadnya tinggi-tinggi.
Zabini meraih segelas Whisky Api dari atas nampan berjalan yang baru saja lewat di antara mereka dan bersulang dengan Slughorn. Di sisi lain, Madeline menggenggam tinjunya kuat-kuat dan berusaha menahan diri agar tidak menjejalkan tinju itu ke wajah Zabini.
"Ngomong-ngomong, siapa namamu, nak?"
Madeline mendongak, agak terkejut. Rupanya pertanyaan Slughorn ini ditujukan untuk dirinya.
"Err… Madeline…" jawab Madeline ragu. Dia telah mendengar kabar bahwa Slughorn tidak senang dengan anak-anak para pelahap maut dan dia berasumsi kalau guru Ramuan itu tentu akan segera mendepaknya dari pesta setelah mengetahui siapa nama belakangnya.
"Madeline?"
Dahi Slughorn berkerut, seperti sedang mencoba mengingat-ingat sesuatu. Madeline menelan ludahnya dengan agak kesulitan karena panik. Dari ekspresi heran yang ditunjukkan Slughorn, tampaknya dia pernah mendengar nama ini entah dimana.
"Siapa nama belakangmu, nak?" desak Slughorn dengan nada lembut namun terdengar seperti bunyi halilintar di telinga Madeline.
"Madeline Equinox," sahut Zabini tiba-tiba.
Spontan Madeline dan Slughorn menoleh ke arahnya. Entah apa yang sedang dirasakan Madeline saat ini. Zabini berani membohongi Slughorn? Pasti dia punya alasan tertentu melakukan ini, kan?
"Ya, Sir, namanya Madeline Equinox. Ayahnya berasal dari Swedia dan ibunya asli Inggris," bual Zabini sambil merangkul Madeline mesra. "Betul kan, sayang?"
Kali ini alih-alih menampar Zabini dengan nampan perak tebal, Madeline justru mengangguk mengiyakan dan memberi Sluhorn senyum termanisnya.
"Ayahmu dari Swedia? Well, memang namamu terdengar agak mirip nama orang dari daratan Skandinavia. Semula aku kira kau dari Norwegia, nak," tutur Slughorn sambil menghirup minumannya lagi.
"Terima kasih, Blaise!" bisik Madeline lega dan buru-buru menambahkan saat Zabini balas memandanginya dengan sorot penuh kemenangan, "Tapi ini bukan berarti aku mau jadi pacarmu."
Suara cegukan Slughorn membuat Zabini tidak jadi memprotes perkataan Madeline tadi. Apalagi ketika Slughorn tiba-tiba saja mengajaknya bertemu Menteri Sihir. Bertemu Menteri Sihir adalah alasan utama Zabini datang ke pesta dan tentu saja dia tidak akan membuang kesempatan langka ini. Zabini sudah merasa girang tak karuan saat mencoba menggandeng tangan Madeline dan hanya bisa meraih angin. Madeline sudah tidak ada lagi di sampingnya. Gadis itu sudah menghilang tertelan kerumunan orang.
"Maaf, Sir," kata Madeline sesopan mungkin saat tak sengaja bersenggolan dengan seorang penyihir berjenggot lebat dan buru-buru kabur sebelum penyihir tadi sempat berkomentar macam-macam.
Dalam hatinya, Madeline berulangkali merutuk. Di mana Harry? Siapa gadis yang bersamanya malam ini? Madeline belum bisa merasa tenang sebelum kedua pertanyaan ini terjawab. Sayangnya sejak tadi dia belum juga menemukan orang yang menjadi alasannya datang ke kemari.
Sementara suasana pesta semakin ramai saja. Banyak dari tamu undangan berdiri bergerombol memblokade jalan dan menyebabkan Madeline harus sudah payah menerobosnya. Kepulan asap pipa rokok menambah pengap dan sesak dalam ruangan itu. Jika saja jantung Madeline masih sama seperti dulu, mungkin dia sudah jatuh pingsan detik ini juga. Untung saja dia membuat pilihan tepat dengan menegak ramuan Cardiogranolus. Ini membuat Madeline merasa sanggup menjelajahi seluruh ruangan semalaman nonstop.
"Aww…!" pekik Madeline tertahan.
Mendadak seseorang menabraknya dari arah belakang. Baik Madeline maupun penabraknya sama-sama terkejut saat mereka saling berhadapan.
"Kau lagi?"
"Pertanyaan yang sama untukmu, Granger!" balas Medeline dengan suara bernada cemooh. "Heran! Kenapa aku selalu ditakdirkan bertabrakan denganmu? Kaya orang kurang kerjaan saja."
Hermione mendelik kaget. Dia sedikit bingung mengapa mendadak sikap Madeline berubah drastis begini. Pada pertemuan mereka yang sudah-sudah biasanya gadis Slytherin itu bisa sedikit lebih sopan padanya. Paling tidak Madeline tak pernah mengamatinya lekat-lekat dari bawah ke atas dengan sorot menghina seperti apa yang sedang dia lakukan sekarang.
"Aku sedang menghindari seseorang…"
"McLaggen ya?" potong Madeline sinis. "Kupikir sudah seharusnya kau menyesal kenapa tidak mengajak orang yang benar-benar ingin kau ajak ke pesta ini. Si kumuh Weasley memang lebih layak untukmu dibandingkan semua cowo yang ada di asramamu, Granger. Kau tak perlu gengsi mengakuinya."
"Tutup mulutmu, Lestrange!" bentak Hermione berang. "Jangan pernah katakan hal buruk tentang Ron!"
Madeline memutar bola matanya dan tersenyum puas melihat kemarahan Hermione. Di sisi lain, Hermione sungguh tak menyangka kalau gadis di hadapannya ini ternyata mampu berkata kasar seperti ini. Dia pasti sudah tertular pengaruh buruk dari Malfoy, pikir Hermione, berusaha logis.
"Jangan marah, Granger! Justru aku ingin memberimu selamat. Kalian memang pasangan paling serasi, menurutku," kilah Madeline sambil menyipitkan mata. "Sudah tentu tidak ada yang lebih cocok selain percampuran antara darah pengkhianat dengan darah lumpur. Sudah pasti akan menghasilkan generasi penyihir bermutu rendah sama seperti orangtuanya."
"Kau benar-benar sudah keterlaluan, Lestrange!"
Tangan kanan Hermione sudah melayang untuk menampar pipi Madeline ketika tiba-tiba saja dia tidak bisa menggerakkan sekujur tubuhnya. Ini pasti bukan mantra pembeku, pikir Hermione sesaat sebelum kepalanya benar-benar terasa kosong. Mantra pembeku tidak mungkin bisa membuat tangannya turun dengan sendirinya sementara kesadarannya terbang melayang-layang entah ke mana.
"Kau kenapa, Granger?" tanya Madeline keheranan. Semula dia menganggap kalau Hermione akan menempelengnya sekeras mungkin atas ketidaksopanan ini, tapi yang terjadi justru Hermione malah bengong selama beberapa menit.
"Ap… apa yang kulakukan tadi?" tanya Hermione kepada dirinya sendiri.
Kening Madeline berkerut-kerut, semakin kebingungan.
"Kupikir kau akan menamparku," balas Madeline jujur.
"Untuk apa?"
"Kau ini sudah linglung atau kepalamu baru saja terhantam sesuatu yang kasat mata, Granger?" cetus Madeline polos tanpa ada maksud untuk mencela Hermione. "Kau benar-benar aneh!"
Hermione hanya memberi Madeline tatapan hampa dan ini membuat Madeline merasa ada hal tak beres yang sedang terjadi. Namun apapun itu, Madeline memilih untuk mengabaikannya.
"Dimana Harry?" desak Madeline ketus.
Dengan gerakan kaku bak robot, Hermione menunjuk ke suatu arah. Untuk sepersekian detik Madeline ragu-ragu dan hanya mencermati ekspresi kosong Hermione.
"Kau bohong, Granger!" kata Madeline mantap selang beberapa menit kemudian. "Aku tahu kau mencoba menyesatkanku. Harry tidak ada di sana. Kau baru saja bertemu dengannya tadi dan kau malah menunjukkan arah yang salah padaku. Seharusnya aku sadar kalau semua darah lumpur adalah penipu busuk menjijikan!"
Setelah mengatakan perkataan kejam ini, Madeline membalikkan badan dan bergegas berjalan menuju ke arah berlawanan dengan arah yang sudah ditunjukkan Hermione tadi.
Sementara itu, di koridor atas, Draco mendesah menyadari kegagalannya. Kutukan Imperiusnya tadi berhasil mengendalikan Hermione namun dia gagal mengelabui Madeline.
Ketika melihat sepupunya itu hendak ditampar oleh Hermione Granger, gadis rendahan kelahiran Muggle, serta merta Draco mengambil tindakan. Ide mengelabui Madeline dengan memanfaatkan Hermione melintas setelah dia berhasil melancarkan Kutukan Imperius, namun sayang sekali rencana Draco tidak berjalan mulus. Bagaimana bisa dia melupakan kemampuan Legilimens yang dimiliki Madeline. Sudah tentu Madie mampu membaca arah pikiran Hermione yang sedang berada di bawah kendaliku dan segera tahu kalau dia sudah dibohongi, pikir Draco geram. Gadis itu benar-benar sudah menyusahkanku saja!
Suara kucing mengeong pelan sontak mengagetkan Draco. Apalagi saat menemukan Ms.Norris yang sedang menatapnya dengan sepasang mata berkilat-kilat tajam. Entah bagaimana tiba-tiba saja binatang peliharaan Filch itu sudah berada dekat sekali dengan kaki Draco, bahkan sedang memamerkan taring-taring kecilnya yang tajam.
"Hei, kau! Sedang apa kau di sini?!" hardik seseorang.
Tak perlu waktu lama bagi Draco untuk menyadari bahwa Filch sudah memergokinya. Tahu-tahu saja pria penjaga sekolah itu telah menyeretnya ke depan Slughorn dan beberapa orang tamunya tanpa memberi kesempatan pada Draco untuk memberi penjelasan.
Draco tak hanya merasa sangat malu, dia juga sangat marah. Marah kepada Madeline yang sudah memaksanya berbuat nekat begini, kepada dirinya sendiri yang begitu ingin melindungi sepupunya yang sedang dibodohi cinta monyet, kepada Filch yang memang pada dasarnya sangat memuakkan dan kepada semua orang yang sedang menatapnya dengan tatapan menghakimi. Amarahnya tidak akan bisa segera mereda saat dia menemukan orang yang menjadi sumber dari segala masalah ini sedang bersama Slughorn sekarang. Biang onar itu adalah Harry Potter.
Dengan langkah tergesa Madeline menyeruak keluar dari kantor Slughorn. Malam yang benar-benar menyebalkan! pikirnya kesal. Tak ada yang lebih buruk dibandingkan apa yang menimpanya malam ini. Coba saja pikirkan! Seharian penuh dia menghabiskan waktu untuk mempersiapkan diri demi menjadi pusat perhatian di pesta Slughorn, berjam-jam memilih gaun dan juga berdandan habis-habisan, tapi apa yang dia dapat? Tidak ada! Harapannya untuk menjadi tamu undangan yang tercantik hancur sudah saat menyadari siapa gadis yang lebih menarik perhatian di pesta malam ini, Luna Lovegood. Siapa sih orang bodoh yang mau datang ke pesta natal dengan gaun berkelip-kelip mirip lampu disko selain Lovegood? batin Madeline semakin kesal. Tapi herannya mengapa semua orang justru menatapnya dengan sorot kagum yang berlebihan seolah-olah dia seorang mahabintang? Gadis sinting itu harus sadar kalau orang-orang tidak mengagumi kehebatan penampilannya. Mereka lebih memperhatikan kehadirannya karena dia datang bersama Harry. Ya, aku yakin begitu!
"Jauhi Harry, Lovegood! Dia milikku!" desis Madeline geram.
Namun sayangnya, kesabaran Madeline sudah habis sebelum harapannya terkabul. Dan itu terjadi tepatnya setelah dia melihat Draco diseret Filch di depan ratusan pasang mata. Sangat memalukan! Sepupunya itu pasti nekat menyusup ke pesta untuk memata-matainya. Amarah Madeline berubah menjadi rasa malu tak tertahankan dan membuatnya tanpa pikir panjang pergi menyelinap sejauh mungkin dari jangkauan Harry dan beberapa tamu yang sedang ngobrol bersama Slughorn. Sejak tadi Madeline memang hanya berani mengawasi gerak-gerik Harry dan Luna dari kejauhan.
"Madeline, aku mencarimu kemana-mana," kata Zabini, terengah-engah.
Sayangnya Zabini tidak tahu kalau saat ini Madeline benar-benar sudah hampir lepas kendali. Dia malah nekat mencegat gadis itu bahkan mengajaknya berdansa.
"Aku tidak bisa berdansa dan aku tidak mau," tolak Madeline tegas. "Perasaanku sedang tidak enak saat ini."
Tapi Zabini mengabaikan kekesalan Madeline dan memaksanya berdansa walau gadis itu berusaha berontak. Kesabaran Madeline benar-benar diuji saat Zabini berusaha menciumnya di bawah Mistletoe. Untuk pemuda kurang ajar dan tak tahu diri semacam ini, Madeline memang perlu memberi sedikit pelajaran untuknya.
"Kau tahu, Blaise, kau sungguh membuatku muak!" desis Madeline dengan seringai di wajahnya yang cantik sebelum menghantamkan lututnya sekuat mungkin ke tengah selangkangan Zabini. "Rasakan ini!"
Zabini memekik tertahan dan jatuh berlutut. Wajahnya merah padam menahan sakit, sementara Madeline sudah bergegas pergi meninggalkannya tanpa ada keinginan untuk menoleh lagi.
"Sekarang aku harus mencari kemana Harry pergi," gumam Madeline sesaat setelah meninggalkan hangar-bingar pesta. "Tadi aku melihatnya keluar tak lama setelah Snape membawa Draco pergi. Kalau saja Blaise tidak menghalangiku pasti aku masih bisa membuntuti Harry."
Madeline mengedarkan pandangannya ke segala arah. Tak ada siapapun di sana. Suara keramaian pesta Slughorn yang masih terdengar telah menyamarkan suara langkah kaki atau suara apapun di sana. Dengan langkah perlahan Madeline menyusuri koridor sambil berusaha menajamkan indera pendengarannya.
Samar-samar dia mendengar suara langkah kaki menuju ke arahnya. Suara langkah yang berat dan mantap. Madeline tak tahu apa yang menggerakkan dirinya untuk segera bersembunyi di balik salah satu pajangan baju zirah yang berderet di sepanjang koridor. Pilihan untuk menuruti kata hati ini rupanya memang tepat, karena yang datang bukan Harry melainkan Snape. Untung saja Madeline masih sempat menahan nafas dan memblokir semua hal dalam kepalanya saat Snape berjalan melewati tempat persembunyiannya. Kepala asrama Slytherin itu lewat tanpa merasa curiga sedikitpun. Madeline baru keluar dari persembunyiannya setelah merasa keadaan telah benar-benar aman.
Madeline menghela nafas lega. Kini dia tahu kemana Harry pergi. Jika dugaannya betul, bahwa Harry sedang berusaha mengikuti Snape dan Draco, maka Harry pastilah pergi ke arah dari mana Snape datang. Dan Madeline yakin sekali kalau Harry pasti belum kembali dari sana.
Apa yang sedang Malfoy rencanakan? Kenapa dia menolak tawaran Snape?
Terdengar suara-suara lirih yang biasa muncul di kepala Madeline saat dia berusaha menelusup ke dalam pikiran orang lain. Suara yang berasal dari alam pikir Harry ini menuntunnya ke ujung koridor dan membuat gadis itu yakin betul kalau Harry masih belum beranjak dari tempatnya berada.
"Jangan pergi dulu, Harry! Aku sangat ingin menemuimu," harap Madeline, mempercepat langkahnya.
Benar saja. Harry memang ada di ujung koridor. Dia sedang melipat sesuatu yang bentuknya menyerupai selembar jubah dan dari ekspresi yang terlihat menunjukkan kalau Harry sedang mencoba berpikir keras.
"Hai Harry!"
Sontak Harry terkejut bukan main, apalagi saat menemukan Madeline sedang menatapnya dengan wajah berseri-seri.
"Madie?" kata Harry gugup. "Sedang apa kau di sini?"
"Mencarimu," balas Madeline sambil berjalan semakin mendekat.
Buru-buru Harry menyelipkan jubah gaibnya ke dalam sakunya dan mencoba menyembunyikan kegelisahannya. Peristiwa yang baru saja dilihatnya tadi memang membuatnya semakin curiga dan gelisah tak karuan. Semua terasa aneh. Tingkah laku Malfoy dan juga Snape. Sepertinya mereka sedang menyembunyikan sesuatu dari semua orang.
"Kau… kau cantik sekali malam ini…" kata Harry terbata-bata.
Sesaat setelah berhasil mengendalikan diri, justru dia malah gugup menyadari pesona yang dipancarkan gadis di hadapannya ini. Tentu saja. Semua benda yang melekat di tubuh Madeline mulai dari atas sampai ke bawah terlihat begitu cocok untuk gadis itu seakan memang dia dilahirkan untuk mengenakannya. Harry sempat terpukau untuk sesaat, namun dia menyadari kalau tidak seharusnya dia merasa begitu.
"Aku berdandan seharian ini hanya untukmu," tutur Madeline, berputar di tempatnya dengan anggun dan menyibakkan gaunnya seperti seorang putri raja. "Kau tahu kenapa?"
"Err…"
"Karena aku menyukaimu, Harry. Kurasa bahkan aku sudah jatuh cinta padamu," kata Madeline, semakin merapatkan tubuhnya.
Harry merasa jengah. Jika ini dibiarkan terus-menerus, bisa-bisa dia kelewat batas. Dia mendorong Madeline menjauh sepelan mungkin dan berusaha tetap terlihat seperti seorang gentleman.
"Maafkan aku, Madie. Kurasa hubungan kita tidak bisa lebih dari sepasang teman saja."
"A… apa? Tapi bukankah kau bilang kalau kau sudah tertarik padaku…"
Kedua mata Madeline terbeliak. Ada nada tersinggung yang kentara dalam suaranya.
"Itu benar. Tapi setelah kurenungkan baik-baik, aku tidak bisa memberikan hatiku untukmu. Err… ada seseorang yang sudah memilikinya lebih dulu."
"Jadi kau tidak menyukaiku?" tuntut Madeline, mengigit bibirnya.
Harry menarik nafas panjang dan mengatakan dengan mantap, "Tidak. Kurasa tidak…"
Sekarang mata Madeline berkaca-kaca dan dia mulai terisak-isak. Hal ini membuat Harry agak panik. Sungguh dia tidak pernah bermaksud untuk menyakiti hati Madeline. Dia hanya mencoba untuk berkata jujur. Dalam hati Harry heran kenapa para gadis susah sekali menerima kenyataan menyakitkan. Bukankah dia sudah mengatakan penolakan dengan cara sesopan mungkin?
"Begitu ya?" kata Madeline seraya mengusap air matanya. Kini make-upnya mulai luntur dan wajahnya merona kemerahan karena menahan emosi yang belum tersalurkan. "Jadi kau sudah lebih dulu menyukai gadis lain."
Harry menelan ludahnya sebelum mengatakannya dengan nada lembut, "Maafkan aku, Madie. Tapi itulah yang terjadi."
"Dia pasti gadis yang sangat hebat."
Harry membalasnya dengan seulas senyum tipis. Dalam benaknya terbayang seorang gadis dengan daya tarik luar biasa. Gadis berambut merah dan punya energi meluap-luap serta tingkah laku yang kerap kali tak terduga. Gadis yang diam-diam selalu mampu mengacaukan konsentrasi dan mengusik perhatian Harry setiap kali mereka berdekatan. Juga senyum manisnya yang selalu membuat dada Harry terasa hangat di musim dingin sekalipun. Sosok gadis perwujudan segala keindahan dunia yang mati-matian berusaha ditolaknya karena dia tak ingin melukai persahabatannya dengan Ron. Gadis hebat itu adalah Ginny Weasley.
"Yeah, aku mengerti, Harry," sahut Madeline lirih. "Aku memang tak layak untukmu…"
"Bukan begitu," balas Harry cepat-cepat."Mungkin kau belum menemukan orang yang tepat untukmu. Suatu hari nanti pasti kau akan menemukannya. Aku yakin itu."
"Aku tak tahu, Harry," ujar Madeline lirih, air matanya sudah kering dan dia nampak sudah baikan. "Tenggorokanku kering. Kurasa aku ingin minum sesuatu."
Tanpa buang waktu, Harry segera mencabut tongkat sihirnya dan memproduksi gelas dari udara kosong.
"Agua…"
"Tunggu, Harry!" sergah Madeline. "Aku punya sesuatu yang lebih enak daripada sekedar air putih. Ini mead aroma ek terbaik."
Harry memperhatikan botol yang disodorkan Madeline kepadanya.
"Aku mengambilnya dari pesta professor Slughorn. Hanya sebotol tidak akan jadi masalah, kan?" jelas Madeline sambil melambaikan tongkatnya sendiri untuk menciptakan satu gelas lagi dan menuangkan isi botol itu bergantian ke gelasnya dan gelas Harry. "Ini aman, Harry. Kujamin!"
Sudah pasti semua perkataan yang keluar dari mulut Madeline tadi adalah sebuah kebohongan belaka. Dengan akting yang sangat meyakinkan, Madeline bisa menunjukkan ekspresi innocent yang benar-benar tak terduga.
Untuk sesaat Harry mencermati mead dalam gelasnya. Tak terlihat ada sesuatu yang mencurigakan, pikir Harry. Dia berusaha meyakini kalau Madeline tidak mungkin memasukkan sesuatu ke dalam botol itu. Lagipula Madeline bukan Romilda Vane kan? Mustahil gadis itu menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya.
"Kita bersulang untuk gadis yang kaucintai itu," kata Madeline dengan suara parau.
Harry mengangguk dan mulai menghabiskan meadnya setelah melihat Madeline meneguk gelasnya sendiri. Namun Harry tidak tahu kalau sebenarnya Madeline hanya berpura-pura meminum meadnya, bahkan dia tak menyadari keampuhan Amortentia dalam mead tersebut akan segera terasa beberapa detik lagi.
Yang ada terjadi pada Harry sesaat kemudian adalah bahwa dia merasakan sensasi hangat dalam tubuhnya disertai emosi campur aduk dalam dadanya. Dan ketika tubuhnya mulai terasa panas terbakar, yang tersisa hanyalah perasaan meluap tak karuan bahwa dia mencintai Madeline setengah mati dan juga bersedia memberikan seluruh hidupnya hanya untuk bisa bersama gadis itu. Jika cinta semu Harry ini adalah sebuah samudera, maka dapat dikatakan bahwa saat ini dia sedang tenggelam di dalamnya. Dia benar-benar hilang akal dan dilumpuhkan oleh pengaruh dashyat Amortentia.
"Aku mencintaimu, Madie," bisik Harry dengan sorot mata hampa.
Madeline mengangguk puas. Semua rencana berjalan sesuai dengan harapannya. Harry sudah takluk. Pengaruh Amortentia hanya bisa bertahan semalaman (karena Madeline hanya membubuhkan dosis secukupnya ke dalam botol mead tadi), dan ini artinya dia harus memanfaatkan waktu yang tersisa untuk menguasai Harry malam ini juga.
"Maafkan aku, Harry. Tapi aku tak punya pilihan lain selain melakukan hal ini padamu. Aku sungguh-sungguh serius menyukaimu dan aku ingin memilikimu."
"Begitu pula denganku," balas Harry spontan.
"Kau tahu, si kembar Weasley pasti tidak pernah menyangka kalau salah satu barang dagangan mereka dapat aku manfaatkan untuk menyakiti adik perempuan kesayangan mereka ketika mereka menjualnya padaku," kata Madeline sambil membelai-belai kedua pipi Harry mesra. "Aku akan segera membuat perhitungan dengan gadis Weasley berengsek itu, Harry. Dan kau pasti akan menjadi milikku seutuhnya."
P.S. Ada 3 POV loh! Napa? Coz awalnya aku bingung mau bikin lewat POV sapa. Malah sempet males buat ngelanjutin nulis cerita ini (tanya aja ama Sifa & Regulus). Akhirnya aku paksa2in ngelanjutin (thanx banged buat paksaan dan dorongan dari mereka berdua). POV Madie, Draco ama Harry aku gebet semua. Xixixi. Maruk ya? Moga aja perpaduannya pas dan alur maju mundur yang aku pilih (ga tau napa aku suka ama alur maju mundur) engga bikin bingung yang baca. Amin.
Dan adegan Madie nendang 'anu'-nya Zabini itu terinspirasi dari kisah pribadiku sendiri. Wekekekek. Ketawa sadis mode on Madie sudah mulai jahat, semakin jahat dan semakin tega. Di chapter berikutnya udah ada duel seru yang menunggu. Perjuangan belum berakhir. Satu chapter lagi dan bakalan tamat. meres keringet mode on
