"Bukannya ingin kepo ya, Jongin" Siwon menjeda ucapannya. "Aku hanya tidak menyangka saja jika kalian itu sudah saling mengenal"
Jongin mengangguk pelan. Tuan Choi mengundangnya makan siang bersama di luar. Beberapa pegawai mungkin akan cemburu melihat kedekatan kedua orang itu di luar jam kerja. Lagipula siapa sih yang bisa menolak pesona bos tampan mereka? Siwon itu sudah seperti refleksi dari kata sempurna yang sering didambakan para yeoja.
"Tapi waktu pernikahan Minho, kalian tidak saling bertegur sapa. Jadi ku pikir kalian memang tidak kenal" Siwon memakan daging steaknya dengan gayanya yang seperti para borju
"Hyung" Jongin mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Hm?"
"Soal proyek perusahaan di Jeju" Jongin tidak harus membicarakan hal lain saat Siwon mengajaknya berbicara mengenai Oh Sehun. Tapi mengenai Proyek kali ini jauh lebih penting. Selain dirinya yang tidak mau berbicara banyak mengenai Sehun dan masa lalu mereka.
"Ada apa?"
"Tidak, hanya ingin mengingatkan saja" kata Jongin. Ia berdehem pelan, dan berkata "Bisakah kita membicarakan sesuatu yang lebih penting lagi?"
"Ku rasa hal ini juga penting" Siwon menyahut. Dia mencoba mencari sesuatu saat ia menatap Jongin tepat di mata. "You know him better. Dan aku hanya tidak percaya itu"
"Saat masa lalu sudah berakhir. So what? Apa lagi yang harus dibicarakan. Hyung, Can you please stop it! The past is the past, and nothing to be told"
Siwon menarik napas dalam-dalam. Dari nada bicaranya Jongin terlihat tidak suka. Akan tetapi mengingat kedekatan Jongin dan Sehun, dia sangat.. Sangat.. Sangat tidak suka.
"You're not pretend, you're just boring" kata Siwon.
Memangnya kenapa kalau pura-pura? Siapapun itu, kalau sudah membuat dirinya merasa kesal. Jongin pasti akan marah, tidak terkecuali pada bosnya.
"Jadi hyung mengajakku kemari hanya untuk membicarakan ini?" Jongin menatapnya penuh kecewa.
"tidak.. Bukan begitu maksudku, Jongin" Pria itu mencoba untuk menghibur. Dirinya sama sekali tidak mau melihat mata almond itu menatap ke arahnya penuh kecewa. Malahan kalau bisa, Jongin menatapnya dengan cinta saja!
"Aku hanya sedikit merasa.. Yah, kalau boleh jujur i was jealous of you two"
"Why?"
"I don't know how to tell you. But" Siwon menjeda kalimatnya dengan tangan kanan menggenggam tangan Jongin yang terkepal di atas meja. Ia mendekat ke wajah Jongin, dan berbisik pelan..
"Saranghae"
.
.
.
I.
Sehun tidak ingin terlalu mengekang Jongin hanya untuk dirinya sendiri. Meski dirinya sudah cukup dekat dengan keluarga Jongin, dan sebaliknya-keluarga Kim menginginkan Sehun untuk menjadi bagian dari keluarga mereka dengan melamar Jongin secepatnya. Lagipula siapa sih yang tidak mau melamar Jongin? Melepaskan Kim Jongin sekali adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan selama 28 tahun dia hidup.
Dan ketika Tuhan memberinya jalan untuk kembali, Sehun tidak akan pernah membuang kesempatan keduanya. Pernah ia berpikir, ketika ia pergi meninggalkan Jongin, sosok yang begitu ia cintai. Jongin akan melupakan dirinya, dan memilih untuk menikah dengan orang lain. Namun sampai saat ini pun Jongin masih melajang, tentu saja itu kesempatan emas bagi pria oportunis seperti Sehun.
"Apa maksudmu membawa anak-anak itu kemari?" Hyera menatap tidak suka ke arah duo kembar yang tengah bermain-main di taman belakang rumah besar mereka.
"Ibunya sedang bekerja, dan aku menawarkan diri untuk menjaga mereka" Sehun berkata, mencoba untuk menjelaskan.
"Dan dia setuju? Bagaimana kalian bisa bersama jika dia masih egois dengan karirnya. Kau nantinya akan menjadi seorang kepala keluarga, bukan bapak rumah tangga"
"Ibu, stop!" Sehun berseru kesal. "Bukankah kita sudah membicarakan hal ini sebelumnya? Apa yang membuat ibu membenci Jongin?"
Hyera lantas terdiam. Baru kali ini putra bungsunya itu berseru dengan nada tinggi. Ia berusaha untuk tidak percaya, namun di depannya kini memang putranya, yang bahkan baru saja membentak dirinya.
"Apa ibu berpikir Jongin tidak pantas untuk diriku karena keluarganya begitu sederhana?" Sehun tertawa sangau. "Pernahkah ibu ingat kembali siapa ibu sebelum bertemu ayah?"
Hyera membulatkan kedua matanya. Ia menunduk dalam dan merasa malu. Saat dimana ia bertemu suaminya yang pewaris tunggal itu. Dirinya hanya seorang gadis biasa-biasa saja yang kebetulan mendapatkan beasiswa di perguruan ternama berkat otak cemerlangnya itu.
"Ibu hanya ingin kau bahagia" Hyera mendongak dengan mata berkaca-kaca.
Melihat itu, Sehun jadi luluh. Dengan nada lembut ia berkata, "Jika ibu ingin aku bahagia, kebahagianku itu sangat sederhana"
Sang ibu menghapus airmatanya. "Ibu tidak pernah membenci Jongin hanya karena alasan darimana ia berasal"
Sehun menggenggam tangan sang ibu dengan senyuman. "Ibu tidak perlu cemas. Jongin adalah segalanya bagiku. Kami pernah gagal sekali, dan sekarang kami sedang mencoba lagi. Jika gagal, aku akan menuruti keinginan ibu dan pergi jauh dari hidupnya"
Hyera menangis sesunggukan ketika Sehun pergi bersama kedua anak kembar itu. Putra bungsunya itu memutuskan untuk mengajak si kembar berjalan-jalan ke luar rumah, dibanding mengasuh kedua anak manis itu di rumahnya. Hyera cukup tahu, jika Sehun berpikir Hyera sangat membenci Jongin dan anak-anaknya. Padahal kenyataannya, Hyera hanya takut kehilangan putranya saat Sehun dan Jongin bersama. Sebelum benar-benar pergi, salah satu dari putra kembar Jongin menoleh Ke arahnya. Hal itu lantas membuat Hyera semakin larut dalam tangisannya. Baekhyun dan Jongdae mengingatkan dirinya Saat dimana kedua putranya masih kecil-kecil.
...
"Paman, kenapa nenek Oh menangis?" Jongdae kecil bertanya, dengan gayanya Yang khas seorang anak balita.
Sehun yang sedang mengemudi mobilnya menoleh. Ia tersenyum dan berkata jika nenek Oh tidak menangis, mungkin Jongdae saja yang salah lihat. Tetapi Baekhyun kecil yang memiliki pemikiran dewasa bertanya, apa karena Sehun memarahi nenek Oh sehingga yeoja itu menangis.
"Baekie lihat kok waktu paman tampan malahin nenek Oh" kata Baekhyun.
Sehun tidak terlalu kaget mendengar pengakuan Baekhyun. Mungkin saat dirinya berteriak, salah satu dari kedua anak itu menoleh dan mencari tahu.
"Terus Baekie dengar paman dan nenek Oh membicarakan mommy" kata Baekhyun.
"Kami sedikit berdiskusi saja tadi" Sehun mencoba untuk berdalih.
"Beldiskusi itu altinya apa, paman?" Daeie bertanya.
"Beldiskusi itu artinya saling berbicara. Baekie benal kan, paman?" Baekhyun berkata, sok tahu.
Sehun terkekeh pelan. Nyaris dua bulan mengenal dua balita itu, membuat Sehun merasa jiwa seorang ayah dalam dirinya muncul dan mengalir begitu saja dengan alami. Dia tidak memuji dirinya sendiri, Nyonya Song lah yang pertama kali berkata begitu.
"Tapi" Baekhyun menatap Sehun serius. "Apa paman tampan suka sama mommy?"
Sehun nyaris saja menginjak rem mendadak ketika mendengar kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Baekhyun.
"Soalnya paman tampan bilang mommy itu segalanya buat paman" Baekhyun berkata lagi.
"Memangnya kalau segalanya itu harus saling suka ya, Baekie?" Sehun pura-pura tidak mengerti.
Baekhyun dan Jongdae mengangguk pelan.
"Soalnya waktu itu Luhan hyung bilang dia suka Daeie. Dan Daeie itu segalanya buat Luhan hyung" kata Baekhyun, polos.
Blush..
Jongdae kecil merona mendengarnya. Waktu itu kan mereka sepakat untuk dirahasiakan. Ini malah dibeberkan, Baekhyun ini ceplas-ceplos orangnya.
"Baekie kan udah janji gak boleh ngomong-ngomong soal lahasia kita" Jongdae berbisik pelan.
Baekhyun tertawa kecil menyadari kebodohannya itu. Ia menggaruk tengkuknya pelan dan berkata, "Maap ya, Daeie.. Baekie Keceplosan hehehe"
.
.
.
Sebenarnya Jongin tidak ingin ambil pusing tentang pernyataan cinta Tuan Choi padanya. Bukan rahasia lagi, jika pria bernama lengkap Choi Siwon, itu memiliki perasaan khusus padanya.
Selama 2 tahun lamanya, Siwon memendam perasaannya terhadap Jongin. Entah apa yang membuat dirinya begitu kesulitan untuk mengatakan cinta. Padahal dia bisa mengajak Jongin berkencan, dan melamar namja manis itu di sebuah pesta di atas kapal pesiar. biar punya kesan romantis.
Tapi selama itu pula, Siwon lebih memilih diam dan menunjukan perasaannya lewat perhatian-perhatian khususnya untuk Jongin.
Begitupun dengan Jongin. Dia sama sekali tidak Ambil pusing dengan berbagai macam tanggapan orang lain mengenai kedekatan dirinya dan pria Choi itu.
Namun kali ini, ia mau tidak mau kepikiran setelah Choi Siwon menyatakan cinta untuk pertama kalinya. Yang bahkan Sehun saja tidak pernah mengucapkan kata cinta saat mereka masih pacaran. Hal itu lantas membuat Jongin merasa ia perlu mempertimbangkan kembali siapa yang hendak ia pilih. Terbaik untuk anak-anaknya dan juga hatinya.
"Apa kau selalu seperti ini?" Sehun datang dengan membawa nampan makanan untuk si kembar. Bahkan saat ditanya Jongin mau makan apa. Dia hanya menggeleng dan berkata ia tidak lapar sama sekali.
Oh Sehun bukan orang yang pemaksa. Maka dari itu ia hanya mengangkat bahu, seolah tidak mau ambil pusing dengan penolakan Jongin untuk makan malam bersama.
"Apa?" Jongin terkesiap. Ia bahkan tidak mendengar celotehan-celotehan si kembar yang ribut.
Sehun terkekeh, ia meletakan burger porsi anak-anak di atas piring si kembar. "Melamun seperti itu. Bahkan kau tidak tahu apa saja yang dibicarakan anak-anakmu tadi"
Jongin menarik napas pelan. Ia hanya memperhatikan Sehun yang meletakan lava cake di depannya. Rupanya Sehun masih ingat dessert favorit Jongin saat berkunjung ke restaurants fast-food.
"Hanya ada sedikit masalah tadi" Jongin berkata jujur.
"Apa? Soal proyek besar itu?" Sehun bertanya. "Kau tidak usah khawatir! Aku bisa menjaga anak-anak saat kau pergi"
"Bukan itu yang ku khawatirkan" Jongin menyahut cepat. Dia sudah sangat percaya dengan orang rumah kalau soal menitipkan anak-anak.
"Kau akan pergi dengan bos tampanmu itu kan?" Sehun bertanya.
"Begitulah" Jongin menyahut lagi. Dia membantu Jongdae membuka kertas pembungkus pada burger mini-nya. "Aku hanya berpikir aku belum siap bepergian berdua saja dengannya"
Sehun menautkan alisnya. Serius pergi berdua? Menang banyak sekali pria Choi itu.
"Biasanya pak Ha akan menemani kami. Tapi kali ini pak Ha harus jadi supir pribadi nyonya Choi selama dia di Seoul" Ujar Jongin.
"Siapa itu pak Ha?"
"Asisten pribadi keluarga Choi"
Tidak heran, pikir Sehun. Keluarganya sendiri pun juga punya asisten kepercayaan yang sudah bekerja sejak ayahnya masih bujangan.
"Kalau begitu tidak usah pergi saja" Sehun menyarankan.
"Tidak bisa" Jongin menggeleng pelan. "Siwon hyung butuh aku selama di sana"
"Kalau aku bilang aku butuh kau juga, bagaimana?" Sehun menatapnya tepat di mata. "Bahkan anak-anak juga butuh ibunya di sini"
Jongin menggigit bibir bawahnya. Tidak tahu musti menjawab apa. Saat ia memperhatikan kedua putranya menikmati hamburgernya, Jongin mencelos.
Dia akan sangat merindukan putranya saat di Jeju nanti. "Apa kau akan memintaku untuk tetap di sini?"
"Apa kau ingin aku melakukannya?"
Jongin menggelengkan kepala. Wajah merona saat tak sengaja ia membayangkan kehidupannya setelah menikah. Dan suaminya adalah Oh Sehun. Apalagi saat pria itu mengelap pipi Baekhyun kecilnya yang penuh dengan saus. Ini tidak baik.. Tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
.
.
.
II.
"Tidak apa-apa" Siwon mengulum senyuman. "Ku pikir satu bulan itu terlalu lama saat kau perlu mengurus anak-anakmu"
Padahal Siwon pernah menyarankan supaya Jongin mengikut sertakan kedua putranya ke Jeju. Tersirat nada kecewa, tapi mau bagaimana lagi? Seminggu saja sudah pasti memberatkan. Apalagi satu bulan? Siwon juga tidak mau memisahkan Jongin dengan anak-anaknya terlalu lama.
"Maaf, hyung" ucap Jongin, dengan nada bersalahnya. Ia menunduk tidak berani menatap Siwon.
"No problem" Siwon menyahut. "Kalau begitu aku akan meminta Lee untuk mengurusnya"
Jongin mendongak. Lee itu seorang manager di perusahaannya. Dia itu orang yang paling hafal bagaimana tabiat Tuan Choi kalau sudah memerintah.
"Apa itu tidak memberatkan untuk Lee hyung?"
Siwon menggeleng pelan. "Dia selalu bisa diandalkan" katanya, diselingi tawa
"Tapi bukan berarti kau bebas dari pekerjaanmu, Jongin"Siwon mengingatkan. "Kau juga harus memonitoring perkembangan proyek kita setiap hari. Ku harap kau bisa melakukannya"
Jongin mengangguk mantap. "I'll try my best"
"You have to" Siwon menyahut.
.
.
Problem untuk menghidar dari Tuan Choi sudah terselesaikan. Meski pada akhirnya Jongin memang tidak pergi ke Jeju, akan tetapi dia musti bekerja keras dengan memonitoring aktivitas apa saja yang terjadi selama proyek itu berlangsung. Seolah memang tidak ingin kehilangan moment perkembangan proyek yang menjanjikan itu.
Semua berjalan baik-baik saja. Dimana pun ia bekerja, Jongin tetap akan mencintai pekerjaannya sehingga dengan mudah ia melaluinya.
Weekend adalah hari dimana ia tidak perlu pergi ke kantor. Dan Jongin sangat menantikan moment dimana ia bisa menghabiskan waktunya bersama keluarga, terutama kedua putra kembarnya. Karena ia ingat, tadi pagi ibunya dan Taehyung pergi ke rumah Bibi Haejo yang berada Di daerah Myeongdong. Ibunya memang punya hobi jalan-jalan meskipun hanya untuk sekedar berkunjung ke rumah rekan-rekan lamanya.
Jongin yang sudah menyelesaikan kegiatan monitoringnya itu memutuskan untuk memasak makan siang saja. Selama kedua putranya sedang asyik bermain, dan terdengar sangat cerewet dengan celoteh-celotehan mereka.
Ting.. Tong..
Dering bell terdengar beberapa saat setelah Jongin mencuci sayuran. Ia mematikan keran dan berjalan ke arah ruang tamu. Dimana ia mendapati kedua putra manisnya tengah merengut masam di depan pintu.
"Siapa yang datang?" Jongin bertanya.
"Nenek jahat yang datang" kedua balita itu berkata bersamaan.
Jongin menautkan alisnya. Maksudnya nenek jahat itu apa sih? Jongin tidak pernah mengajari anak-anak itu untuk menambahkan sebutan 'kasar' di belakang nama seseorang.
"Mommy, tidak boleh!" Baekhyun merentangkan kedua tangannya di depan pintu, seolah mencegah sang ibu membuka pintu.
Jongin menarik napas pelan. Ia menyamai tingginya di depan kedua putranya. "Babies, dengar!" pintanya, dengan senyuman. "Tidak baik membiarkan tamu berdiri di depan pintu lama-lama seperti itu"
Keduanya mengangguk pelan. Jongin memberi kecupan di pipi gembul kedua putranya dan memuji keduanya pintar. Hal itu lantas membuat kedua balita itu berlarian ke arah ruang tengah, dimana semula mereka tengah bermain berdua di sana.
"Hey" seorang yeoja menyapanya ketika Jongin baru saja membuka pintu.
Jongin terpaku di tempat, terlalu terkejut dengan kehadiran yeoja paruh baya itu di depan rumahnya.
"Boleh aku masuk?"
Kembali ia tersentak, dan meminta maaf beberapa kali. Lalu mempersilahkan yeoja itu masuk ke dalam.
Hyera berkunjung ke rumahnya..
...
"Silahkan diminum, nyonya" Jongin meletakan secangkir teh hangat dan beberapa camilan untuk yeoja itu.
Hyera tersenyum ramah. Hal yang tidak pernah ia perlihatkan di depan Jongin. Bagaimana Jongin tidak terkejut? Jika selama ini, ketika mereka bertemu, Hyera akan mencibirnya dan menatapnya seolah dirinya begitu hina.
"Terimakasih" ucapnya, pelan.
Jongin mendudukan dirinya tak jauh dari posisi yeoja itu duduk. Hyera berdehem pelan, ia tahu jika Jongin sangat kikuk dan tidak tahu harus bersikap bagaimana di hadapannya.
"Apa aku mengganggumu, nak Jongin?" tanyanya.
Dengan cepat namja manis itu menggeleng. "Aku hanya tidak percaya jika nyonya Oh mau berkunjung ke rumah ini"
"Aku pun juga" yeoja itu berkata perlahan. "Tetapi naluri seorang ibu berkata jika aku harus menemui calon menantuku untuk memintanya tetap di samping putraku"
"Maaf?"
Hyera terkekeh pelan. "Putra-putraku adalah segalanya bagiku. Kebahagiannya adalah kebahagianku. Kau seorang ibu, aku tahu kau pasti mengerti maksudku"
Jongin menundukan kepalanya. Dalam hati ia bertanya-tanya, gerangan apa yang membuat yeoja ini datang ke rumahnya? Bahkan untuk bertanya darimana yeoja itu tahu alamat rumahnya saja, Jongin tidak bisa. Atau memang ia rasa tidak perlu. Orang-orang kaya seperti nyonya Oh bisa melakukan apa saja dengan uang dan kedudukannya. Mengetahui dimana Jongin tinggal itu bukan suatu hal yang sulit baginya.
"Nak Jongin" ucapnya.
Mendongak dan mencoba memandang ke arah Hyera. "Aku.. Aku hanya tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang"
Fakta dimana Jongin mampu mengambil hati siapapun, termasuk Woori rival sekaligus sahabat dekatnya. Dan kini, dia pun bisa merasakan bagaimana hebatnya seorang Kim Jongin dan pesonanya. Dia tidak bisa berbohong, jika saat ini dia pun juga merasakan apa yang dirasakan putranya, dan para keluarga Choi.
"Kau menang, Kim Jongin" kata Hyera.
"Maksud, nyonya?"
"Kau telah memenangkan perasaanku. Dan sebagai hadiahnya, jadilah menantuku. Tetaplah bersama putraku yang labil itu" Nyonya Hyera berkata lagi.
"Nyonya"
"Ku mohon, Kim Jongin" katanya. "Kau adalah satu-satunya yang bisa membuat putraku lebih hidup saat dimana aku dan suamiku telah gagal membuatnya bahagia"
Jongin terkejut ketika yeoja itu duduk di sebelahnya dan menggenggam erat tangannnya.
"Aku berharap lebih padamu" Kata yeoja itu.
"Nyonya"
"Sst" Yeoja itu menggeleng. "Just call me mommy"
.
.
.
.
Seminggu berlalu sejak kedatangan nyonya Oh berkunjung ke rumahnya. Hal itu lantas membuat hubungan keduanya terjalin baik-baik saja.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" Tanya Jongin.
3 hari yang lalu Sehun harus disibukan dengan tugas barunya sebagai seorang pewaris perusahaan ternama itu. Dan selama itu pula, Sehun tidak mengunjunginya atau bahkan sekedar menghubunginya via suara.
"Sangat melelahkan. Tapi aku sangat menyukainya. Kau tahu? Ada banyak hal yang musti ku pelajari sebagai seorang presedir muda" kata Sehun. Kemudian menyeruput kopi hangatnya. "Tapi selama itu pula aku tidak bisa menemuimu. Padahal baru tiga hari, tapi sudah rindu saja"
Jongin yang merona malu menyikut perut Sehun Sehingga membuat pria tampan itu meringis kesakitan.
"Hey, bear.. Ini sakit sekali" rintihnya.
Fokus Sehun kemudian terarah pada si kembar yang sedang menonton acara kartun kesukaannya sambil makan es krim. Mereka terlihat tenang, dan tampak serius. Sesekali akan tertawa jika salah satu tokoh kartun itu berbuat konyol. Dasar anak-anak, pikir Sehun.
"Oh.. Iya, Jongin" Sehun mengingat sesuatu, mengenai pembicaraannya dengan nyonya Kim 5 hari yang lalu.
"Hm?" Jongin menoleh, wajahnya yang manis itu membuat Sehun tak sabar untuk menikahinya.
"Bibi bilang kau akan resign. Apa itu benar?"
Jongin membulatkan kedua matanya. Ibunya ini, apa saja pasti dijadikan bahan cerita. Ia menggembungkan pipinya lucu. Meski usianya sudah 28 tahun, Jongin masih terlihat menggemaskan seperti anak ABG.
"Begitulah" Jongin menjawab. Ia menarik napas pelan. Berbohong juga percuma kan?
"Mengapa tiba-tiba?"
Jongin tersenyum simpul. Dia bilang dia ingin menghabiskan waktu bersama kedua putra kecilnya itu. Apalagi dia ingin membuka toko kue, dimana ia punya hobi makan-makanan manis dan ibunya yang hobi sekali memasak. Pasti seru sekali kalau nantinya dia bisa membuka toko kue pertamanya.
Sehun bertepuk tangan, memuji niat baiknya itu bersama sang ibu.
"Aku pasti akan mendukungmu" Sehun merangkul bahu mungil itu.
"Kau memang harus mendukung aku tahu" kata Jongin.
Sehun tertawa mendengarnya. "Tentu saja. Seorang suami itu harus selalu mendukung niat Istrinya kan"
Blush..
Jongin merona, kenapa Sehun bicara begitu sih? Jongin kan jadi berpikir yang macam-macam.
"Jangan bicara yang tidak-tidak!" Jongin berseru kesal.
Sehun menarik Jongin agar merebahkan kepalanya di atas bahu lebarnya. Jongin menurut, dan membiarkan Sehun menepuk pipi gembilnya.
"Aku bicara serius" katanya. "Kau mau kan?"
Jongin menarik diri dari bahu Sehun. Menatap cowok itu tepat di mata. "Mau apa?" tanyanya, dengan nada jahil.
"Bilang saja mau! Kau ini pura-pura tidak tahu ya" sahut Sehun.
Jongin menyeringai. "Kalau aku bilang tidak mau gimana?"
"Kau yakin tidak mau?" Sehun mengerling nakal.
Kata-katanya itu mampu membuat Jongin seperti terbakar oleh rasa malunya. Jadi yang dia lakukan adalah menjewer telinga Sehun dengan gemas. "Kau ini melamar tidak ada romantis-romantisnya, ya"
"Adududuh.. Sakit, bear.. Sakit.. Kau ini galak sekali sih" Sehun mencoba melepaskan telinganya dari jeweran tangan Jongin.
Tanpa mereka sadari dua orang yeoja nampak memperhatikan mereka di balik dinding.
"Ku harap Jongin mau menerima Sehun" Kata Hyera, penuh harap.
Kim Seohyun menoleh, ia mengangguk pelan. Seolah mengamini doa Hyera. "Benar.. Ku harap juga begitu. Mereka sangat cocok sekali"
...
"Hentikan, bear! Aaaa.. Kau bisa memutuskan telingaku"
"Biar saja.. Kau memang pantas mendapatkannya!"
Di kamarnya, Taehyung menarik napas pelan. Dia segera menyumpal telinganya dengan earphone dan memainkan musik di ponselnya dengan volume penuh.
"Dasar pasangan labil" gerutunya.
.
.
.
.
End..
.
.
.
Like a dream you can' t explain
Love can chase a beating of your heart
Like the sunshining in the rain
Love can make your whole world fall apart
All I wanted now, I just wanna spend my life with you
Time will show me how
Suddenly everything has turned me inside out
Suddenly love is the thing that I can't live without
You are my dream, my love, my life
I just wanna spend my life with you
You are the one that makes me smile
I just wanna spend my life with you
God I love somehow... I just wanna spend my life with you
You can show me how
...
A/n
Yeeaay finally selesai. Cuma segini doang sih.. Maaf kalau kalian gak berkenan sama endingnya. Gaje? Yah, terserah bagaimana pendapat kalian nanti. Hehehe..
