Disclaimer: Bleach © Tite Kubo-Sensei
Apa kabar semuanya? Author lagi sariawan jadi ga' bisa banyak bicara kali ini.
Nah, selamat membaca semuanya ^_^
Title : To Make You Feel My Love
By : Nakki Desinta
Pairing : Byaruki
Chapter 9 : Another Truth
Rukia terduduk di ruang loker sendirian, sementara yang lain sudah berkumpul di auditorium. Dia masih berusaha menenangkan diri, apa yang baru saja terjadi sungguh tidak pernah terlintas dalam benaknya. Keheningan ruang loker, serta keheningan malam adalah perpaduan sempurna untuk mengurangi geliat resah dalam dirinya. Berkali-kali ia menarik napas dan menghembuskannya, semua hanya untuk memberikan kelegaan yang lebih pada dirinya.
"Kaulah perempuan yang ku cintai, selama ini hanya kau, Rukia."
Rukia memegang dadanya yang berdetak tak karuan setiap kali mendengar kalimat itu berulang dalam benaknya. Semuanya rumit, dia bahkan tidak dapat mengartikan dengan jelas apa yang tengah ia rasakan, bukan benci pada Byakuya, dia malah ikut merana mengingat bagaimana wajah Byakuya saat mengucapkan kalimat itu, wajahnya terlihat sangat menderita dan terluka.
"Sudah berapa lama ia mencintaiku? Kenapa dia harus mencintaiku? Dasar Bodoh! Ada begitu banyak perempuan di dunia ini, tapi kenapa kau malah mencintaiku, adikmu sendiri!"
Rukia mengusap wajahnya yang kebas, dan jari-jarinya perlahan turun menyentuh bibirnya, kembali merasakan bibir Byakuya diatas bibirnya.
"Sembarangan menciumku. Bagaimana aku harus menghadapimu nanti?"
Rukia teringat ucapan Ukitake kalau Byakuya sedang berada di masa sulit, mungkin itu pula penyebab Byakuya tiba-tiba menciumnya lalu meracau tentang perasaan cinta.
"Ya, itu benar." Rukia meyakinkan dirinya. "Byakuya hanya tertekan, sehingga ia kehilangan akal sehatnya," katanya menyimpulkan.
Pintu ruang loker terbuka, Rukia mengangkat wajahnya dan melihat Rangiku bersama Hinamori berdiri disana.
"Sudah acara penyerahan hadiah, kenapa kau masih disini?" tanya Rangiku.
Kantong kertas cokelat yang berisi gaun pemberian Ichigo menggantung di tangannya.
"Iya, kami menunggu kau dari tadi di auditorium. Pelatih Zaraki menunggumu, karena walikota Urahara ingin mengumumkan sesuatu yang penting," tambah Hinamori dengan suara tegang, dia terus-terusan melihat jam tangan di lengan kanannya, menghitung mundur detik mereka yang tersisa.
"Aku dapat dari Byakuya, katanya kau tidak sengaja menjatuhkannya," kata Rangiku seraya mengulurkan kantong kertas pada Rukia. Rukia melirik kantong kertas itu, dia tidak ingin mengenakan gaun itu, dia tidak ingin tampil cantik, dia tidak ingin dilihat siapapun dalam suasana hati kacau seperti ini.
"Bibirmu kenapa?"Rangiku mendongakkan wajah Rukia, melupakan kantong kertas yang tidak diterima Rukia. Dia meneliti luka yang masih basah dari bibir Rukia, seketika dia curiga, luka di bibir bukanlah hal lazim.
"Kau tidak habis berkelahi kan?" tanya Rangiku. Hinamori ikut-ikutan membungkukkan badan untuk memperjelas luka yang sedang dilihat Rangiku.
Rukia menggeleng, dia menatap kedua temannya yang masih sangat perhatian dengannya, dia sendiri sadar sudah meghabiskan lebih dari satu jam berdiam diri sendirian di ruang loker, mendengar suara hingar binger music yang mengalun dari auditorium, serta beberapa pengumuman yang diberikan oleh pembawa acara, dia juga dengar kehadiran walikota Urahara yang secara khusus hadir untuk memberikan hadiah pada penutupan acara festival, tapi dia tidak ingin menampakkan diri dan membiarkan Ichigo melihatnya, entah bagaimana ia harus menghadapi Ichigo dengan rasa gamang seperti ini.
"Penyerahan hadiah akan dilakukan langsung oleh walikota Karakura, Urahara Kisuke, kepada seluruh pemenang cabang olahraga harap naik ke podium. Dimana ya putri festival kita?"
Mereka bertiga mendengar suara pembawa acara dengan jelas, Rukia menarik napas yang tercekat di tenggorokannya, dia memutuskan akan langsung pulang, mengurung diri dalam kamar kalau perlu.
"Rukia, kau harus hadir. Kau pemenang lari marathon, kau juga putri festival, kau tidak bisa tidak hadir. Ayo!"
Rangiku seperti membaca isi kepala Rukia, dia langsung menarik Rukia berdiri, menyisir rambut Rukia yang agak kusut dengan jarinya, sekenanya saja, yang penting tidak terlalu berantakan, tapi setelah disisir pun Rukia tetap tampak mengenaskan, kaos putih yang ia kenakan sudah lusuh, celana olahraga selututnya pun seperti mendukung untuk menghancurkan penampilannya kali ini.
"Kau tidak tertolong, Rukia." Rangiku menggeleng pasrah.
Akhirnya Rangiku menarik Rukia keluar dari ruang loker, meninggalkan gaun pemberian Ichigo diatas tempat duduk. Hinamori mengekornya.
Rukia tidak banyak protes, tenaganya sudah terkuras untuk memikirkan tindakan bodoh Byakuya, mengingat kalimat Byakuya, bahkan membayangkan wajah merana Byakuya.
Mereka setengah berlari menuju auditorium, Rukia berkali-kali nyaris jatuh karena tidak bisa menyeimbangi langkah kaki Rangiku yang terlalu cepat untuknya. Rangiku membuka pintu auditorium sampai menjeblak terbuka, menarik perhatian seisi auditorium yang dipenuhi sekitar tiga ratus orang. Rukia berdiri kaku di sebelahnya, mata Rukia tertuju pada podium, disana berdiri berdampingan Ichigo dan Byakuya, keduanya menatap Rukia.
Rukia masih berusaha mengatur napasnya, dia tidak mampu berdiri di hadapan keduanya. Dia ingin lari dari pandangan mereka, karena melihat mereka berdiri disana, mendapati mereka berdua menatapnya, semua hanya membuat suasana hatinya tambah kacau.
"Akhirnya, Kuchiki Rukia. Putri festival kita hadir," kata Renji, si pembawa acara.
"Silahkan naik ke podium."
Rukia menggeleng samar saat Rangiku kembali menarik tangannya.
"Rukia…" Rangiku memohon lewat sorot matanya.
Perhatian Rukia kembali pada podium, dan disaat yang sama Byakuya memalingkan wajah, menolak tatapan Rukia.
"Kau yang menyebabkan masalah ini, jadi sekarang kau merasa bersalah hah?" kata Rukia dalam hati.
Rukia tidak dapat menolak lagi karena Renji sampai turun podium untuk menjemputnya di pintu masuk. Renji menyodorkan tangannya untuk digandeng Rukia, persis putri-putri di negeri dongeng, tapi putri yang ini mengenakan kaos dan celana olahraga.
"Wah, betapa kerennya putri festival kita kali ini. Dia bahkan tidak mengenakan gaun sama sekali, benar seorang atlet sejati," puji Renji sambil menggiring Rukia, dan kalimatnya mendapat tepuk tangan serta gelak tawa dari yang lain.
Rukia tidak merasa risih sama sekali dengan pakaiannya, dia tidak ingin tampil cantik, dia ingin orang melihat dirinya yang apa adanya, namun dia juga merasa bersalah pada Ichigo, gaun pemberiannya hanya teronggok tak bersalah.
Langkah kaki Rukia terasa sangat berat, dia merasa seperti sedang berjalan menuju tiang gantungan hukuman mati, takut dan gugup, bukan karena apa-apa, hanya karena kehadiran Byakuya dan Ichigo di sana.
Dalam beberapa langkah Rukia sudah berada di atas podium, matanya tertunduk kebawah, dan Renji langsung menempatkan Rukia agar berdiri diantara Ichigo dan Byakuya.
"Sekarang sudah lengkap, Walikota Urahara." Renji nyengir melihat tiga orang yang berdiri di hadapannya.
"Ichigo mewakili Universitas Soul Society, Byakuya mewakili Universitas Karakura dan Rukia putri festival, kalian terlihat sangat serasi."
Tidak ada tanggapan dari ketiganya, yang ada malah teriakan yang lain, bertepuk tangan senang.
Walikota Urahara berjalan menuju nampan hadiah, mengambil dua buah medali untuk Ichigo dan Byakuya, dia memakaikan pada keduanya setelah itu menjabat tangan mereka berdua. Lalu ia mengambil mahkota berbahan kristal, meletakkannya di puncak kepala Rukia, dan Rukia tidak perlu repot-repot menunduk, tingginya sudah cukup untuk walikota meletakkan mahkota.
"Selamat, Rukia." Walikota Urahara menjabat tangan Rukia yang membalas genggaman tangannya lemah, tidak ada aura senang dalam wajah Rukia, malah sedih.
"Boleh aku mengumumkan sesuatu?" walikota berwajah cerah itu meminta izin pada Renji.
"Silahkan," jawab Renji senang, dia langsung memberikan mic padanya.
"Tiga minggu lagi akan diadakan pertandingan lari marathon tingkat nasional, dan saya sudah menemukan peserta yang tepat untuk mewakili Karakura. Rukia, selamat ya!"
Rukia ternganga, seketika dia mengangkat wajahnya tinggi-tinggi hanya untuk melihat wajah walikota yang selalu tersenyum.
"Saya?" ulang Rukia kaget.
"Iya, kamu. Ku dengar dari Pelatih Zaraki sudah sejak lama kau ingin ikut pertandingan nasional."
Rukia mengangguk cepat, senang sekali mendengar kata-kata walikota Urahara. Wajahnya yang sedih tiba-tiba sedikit berwarna merah, kebahagiaan terpancar dari wajah pucatnya.
"Terima kasih, Pak."
"Nah sekarang waktunya dansa, silahkan putri berdansa dengan pasangannya," kata Renji sambil menunjuk lantai dansa dengan tangannya, memberi tempat pertama untuk Rukia dan Ichigo.
Ichigo tersenyum, namun Rukia yang terlihat salah tingkah tidak luput dari pandangannya. Dia memperhatikan dengan baik bagaimana Rukia menoleh pada Byakuya, seolah mengkhawatirkan suasana hati Byakuya jika mereka berdansa. Ichigo tidak peduli, dia langsung menarik pinggang Rukia hingga menempel padanya, tidak memberi ruang sedikitpun untuk Rukia bicara dengan Byakuya.
Mereka menuruni podium, langkah kaki Rukia sangat lambat mengikuti Ichigo, mereka berdua berdiri di tengah lantai dansa saling tatap. Musik mulai mengalun.
"Jadi kemana gaun yang aku berikan, Rukia?" tanya Ichigo seraya memegang pinggang Rukia, mulai bergerak perlahan berdansa bersamanya.
"Maaf, aku tidak sempat memakai gaun pemberianmu, gaunnya masih di ruang loker."
"Jadi apa yang kau lakukan sampai tidak sempat memakai gaun?" tanya Ichigo dengan alis terangkat tinggi.
Rukia menekuri jas Ichigo yang melekat dengan pas di tubuhnya, dia tidak bisa mengatakan kebenaran pada Ichigo, dia tidak ingin Ichigo terluka atau bahkan akan menghajar Byakuya jika tau apa yang terjadi tadi.
Ichigo tau Rukia tidak akan bicara, namun melihat Rukia yang tidak bisa jujur padanya tetap saja membuatnya kecewa, dan rasa sakit itu semakin membuatnya yakin bahwa Rukia belum bisa menerima dirinya seluruhnya. Rukia pun masih gelisah karena insiden itu, melihat bagaimana reaksi Rukia dia malah jadi balik curiga ada yang aneh dalam diri Rukia, mungkinkah Rukia juga memiliki perasaan khusus pada Byakuya?
"Jangan pernah tinggalkan aku, Rukia," bisik Ichigo seraya memeluk Rukia erat-erat.
Rukia tidak menjawab, rasa bersalah dalam dirinya semakin besar.
Ichigo meraih kotak yang telah ia sembunyikan di saku celananya, tapi tangannya berhenti mengeluarkan kotak itu dari saku saat Rukia mundur selangkah darinya.
"Maafkan aku, Ichigo, aku tidak enak badan, aku mau pulang saja."
Ichigo menarik keluar tangannya, memutuskan untuk tidak memberikan cincin sekarang, sepertinya waktunya tidak tepat.
"Aku antar kau pulang," kata Ichigo seraya meraih bahu Rukia.
"Aku sedang ingin sendiri," sahut Rukia dengan suara bergetar.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Ichigo seraya meraih wajah Rukia dalam tangkupan kedua tangannya, membuat Rukia mau tidak mau menatapnya, Rukia mengangguk dalam, tapi matanya tidak pernah mau menunjukkan kebenaran.
"Aku baik-baik saja," kata Rukia menegaskan lagi.
Ichigo tidak bisa membohongi dirinya lagi, dia terluka melihat Rukia yang seperti ini. Dia mencondongkan tubuh dan hendak mencium pipi Rukia, dia ingin memastikan Rukia masihlah miliknya, namun disaat bibirnya hampir menyentuh pipi Rukia, Rukia malah menghindar, menjauh seolah menolak dirinya.
"Maaf, Ichigo."
Hanya itu kalimat penutup Rukia sebelum akhirnya berlari dari hadapan Ichigo, membuat mereka menjadi tontonan ratusan pasang mata, setelah itu mulai terdengar suara bisikan-bisikan tidak enak. Ichigo menarik napas dalam-dalam, melihat Rukia yang menghilang dibalik pintu podium.
"Waduh, putri festival malah pergi?" ucap Renji.
"Dia sedang tidak enak badan." Ichigo mencoba menepis pikiran buruk orang lain, tapi malah hatinya yang memburuk. Rukia meninggalkannya dan itu membuatnya makin resah pada ketetapan hati Rukia.
Rangiku, Hinamori dan Hitsugaya langsung turun dari kursi auditorium, mereka mengejar Rukia, tapi saat mereka keluar podium mereka sudah kehilangan jejak Rukia.
"Dia terlihat aneh," kata Rangiku.
"Iya, seperti sedang memikirkan sesuatu," sahut Hinamori.
"Coba tanyakan padanya besok." Hitsugaya ikut-ikutan cemas melihat sikap Rukia.
.
.
Rukia berjalan melewati trotoar jalan yang terang karena cahaya lampu, dia meninggalkan semua barang-barangnya di ruang loker, bahkan dompetnya, dia tidak sempat berpikir lagi tadi, dia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari kampus, mengucapkan mantra berkali-kali dalam hatinya.
"Aku sedang bermimpi, aku sedang bermimpi, aku sedang bermimpi."
Kakinya melangkah lambat-lambat, menghirup udara malam yang mulai dingin sambil sesekali melihat langit yang terang, kedua tangannya tersimpan dengan baik dalam saku celana olahraganya, menghindari dingin yang menggigit kulit. Jalanan agak sepi kali ini, Rukia sedikit bersyukur karena ini, dia merasa sedikit lebih tenang, sekeras mungkin menenangkan diri.
"Hah..., aku benci seperti ini," seru Rukia pada udara, menghela napas cepat untuk melegakan hati.
Rukia tidak menyadari kehadiran seseorang yang mengekornya, menjaga jarak sambil memperhatikan punggung Rukia, ikut melangkah dengan lambat hanya untuk memastikan Rukia baik-baik saja. Sorot mata sendu miliknya tidak pernah lepas dari Rukia, bahkan dia mendengar seruan Rukia tadi, bagaimana punggung Rukia yang membungkuk lesu.
"Maafkan aku, Rukia," bisiknya penuh penyesalan.
Kembali melihat Rukia diam-diam seperti ini membuatnya seperti kembali ke masa sepuluh tahun lalu, betapa dirinya hanya terpaku pada sosok Rukia, hanya Rukia seorang, dan sekarang ia telah menyakiti perempuan yang telah berusaha ia jaga selama sepuluh tahun, ia mengutuk dirinya sendiri.
Rukia menendang udara, melampiaskan kegundahan yang masih bergelut dalam dirinya.
Waktu berlalu begitu saja, jarak yang mereka tempuh semakin jauh, Rukia terus berjalan, sementara Byakuya terus mengekornya di belakang.
Rukia berhenti melangkah dan berdiri di bahu jalan, bersiap untuk menyeberang jalan.
"Argh.. aku tidak bisa berpikir jernih!" kata Rukia pada dirinya sendiri, dan tangannya tanpa sadar menyentuh bibirnya yang luka, lembut namun memaksa, itulah yang ia ingat dari ciuman Byakuya, seketika ia menggeleng keras untuk menghilangkan ingatan itu. Rukia tidak sadar melangkah melintasi bahu jalan sambil terus menggeleng keras, tidak melihat mobil yang melaju kearahnya.
"Rukia, awas!"
Rukia tersentak, perhatiannya tertuju pada jalan, cahaya lampu mobil menyilaukan matanya dia menutup matanya susah payah, namun kakinya tidak mampu bergerak, dan mobil itu berusaha banting setir ke kanan, namun terlambat, Rukia sudah terhantam sisi mobil itu hingga jatuh tersungkur dibahu jalan.
"Akh!"
Rukia berusaha bangun dan mau mendamprat pengemudi kurang ajar itu, tapi mobil itu malah kabur meninggalkannya yang terduduk di jalan.
Byakuya berlari mendekat pada Rukia yang masih membersihkan debu dari lengan kaosnya, dan memijat bahunya yang sakit karena dia sudah mendarat keras dengan badan. Byakuya berlutut dihadapan Rukia, meraih bahu Rukia untuk membantunya berdiri, tapi Rukia malah terdiam memandangnya.
"Kenapa kau bisa disini?" tanya Rukia spontan.
"Aku.. kebetulan lewat," jawab Byakuya kaku.
Rukia mendengar suara peringatan Byakuya tadi, dan dia yakin Byakuya bukan kebetulan lewat. Rukia berusaha berdiri, tapi tiba-tiba kakinya terasa sangat sakit hingga ia jatuh kembali.
"Kakimu terluka," kata Byakuya seraya memeriksa lutut Rukia yang berdarah, bahkan luka parut disepanjang tulang kering kaki kanan Rukia.
Rukia memang merasakan sakit yang amat sangat menyerang kakinya, dia benci harus seperti ini, disaat tidak tepat malah terluka, ditambah lagi bertemu orang yang sedang tidak ingin di temui.
"Ayo kita ke rumah sakit, kita harus periksa kakimu. Kau tidak mau gagal ikut pertandingan nasional kan?" kata Byakuya seraya membantu Rukia berdiri dan mengalungkan tangan Rukia ke bahunya.
"Aku bisa jalan sendiri," gumam Rukia canggung, dia bisa berdiri diatas kakinya sendiri, namun saat melangkah sakitnya terasa jauh lebih menusuk, hingga ia hampir jatuh lagi, untungnya Byakuya menangkap bahunya cepat.
"Jangan keras kepala, aku tau kau tidak ingin melihatku. Maaf, tapi aku juga tidak bisa membiarkanmu terluka seperti ini."
Rukia tersentak karena Byakuya sangat terang-terangan.
"Ayo!"
Kali ini Byakuya malah berjongkok membelakanginya, menawarkan gendongan punggung untuk Rukia.
"Aku tidak mau!"
"Kau mau aku menggendongmu didepan?" Byakuya menoleh dan serius dengan kata-katanya, seketika wajah Rukia memerah, semua akan tampak lucu jika Byakuya menggendongnya didepan, seperti pengantin baru nyasar saja.
"Makanya cepat naik. Darahmu akan lebih banyak keluar!"
Rukia menurut, dia perlahan membungkuk dan membiarkan bobot tubuhnya tersandar sepenuhnya di punggung Byakuya, dia memegang bahu Byakuya erat saat Byakuya mulai bangun dan memegangi kedua kakinya mantap.
"Akh!" Rukia kembali meringis saat kakinya terangkat dan bergoyang.
Byakuya mulai melangkah, sengaja sangat hati-hati untuk mengurangi gerakan di kaki Rukia yang terluka. Menggendong Rukia seperti tidak pernah membawa beban apapun.
"Kenapa kau selalu terluka, Rukia?"
"Mana ku tau! Tanganmu sendiri juga terluka kan? Apa kau tau kenapa bisa terluka seperti itu?" Rukia mengembalikan pertanyaan Byakuya. Rasanya canggung berada sedekat ini dengan Byakuya, kerena rasa nyaman itu kembali ia rasakan, ia teringat saat terakhir kali Byakuya menggendongnya setelah lari dari rumah juga seperti ini rasanya.
"Maaf atas tindakanku tadi," bisik Byakuya dengan kepala tertunduk.
"Kau pikir bisa selesai hanya dengan maaf?" seru Rukia kesal.
"Aku tau aku keterlaluan, aku lepas kendali."
Keheningan kembali pada mereka, benar-benar aneh karena mereka masih bisa bicara sesantai ini setelah insiden tidak mengenakkan hati. Angin malam kembali berhembus, menerbangkan rambut Byakuya ke wajah Rukia hingga wangi rambut Byakuya memenuhi hidungnya, dan halusnya rambut Byakuya membelai wajahnya.
"Boleh aku tanya satu hal, Byakuya?" tanya Rukia, suaranya menjadi kecil dalam seketika.
"Ya."
"Sejak kapan kau mencintaiku?"
Byakuya menghentikan kakinya, jantungnya kembali menghentak cepat bila mengingat betapa hatinya seperti teraduk-aduk selama sepuluh tahun ini hanya karena seorang Rukia.
"Sejak ayahmu meninggal."
"A.. apa maksudmu?" tanya Rukia kaget.
Byakuya menarik napas panjang, dan kembali melangkah, dia sengaja mengulur waktu untuk menjawab.
"Sejak sepuluh tahun lalu aku selalu melihatmu menangis di dekat makam ayahmu, dan sejak detik itu aku hanya melihatmu, hingga akhirnya ayah membawamu sebagai calon adik untukku. Saat itu aku seperti sedang dihadapkan pada hal paling sulit dalam hidupku, aku tau karena perasaanku padamu tiba-tiba saja menjadi sesuatu yang terlarang, tidak sepantasnya, sekalipun aku sudah mencintaimu jauh sebelum ayah membawamu padaku, perasaanku tetap jatuh salah.
"Aku berusaha membuang perasaan itu, tapi tidak bisa, tidak mudah bagiku, dan akhirnya hari ini aku tidak bisa menahan diri lagi."
Semua seperti déjà vu bagi Byakuya, ia mengingat dengan jelas momen dia menceritakan isi hatinya sebelum ini, Rukia berada dalam gendongannya, hanya saja saat itu apa yang ia ucapkan hanya berupa bisikan pada angin. Rukia tertidur dan tidak mendengarnya sama sekali, namun sekarang Rukia mendengarkan semua kata yang ia katakan tanpa selaan.
Rukia mencerna kata demi kata dari Byakuya, kepalanya seperti terbuka lebar pada kenyataan yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya, semua seperti film yang baru saja mengungkapkan kebenaran kepada para tokohnya.
Pantas saja Byakuya tau tempat dimana Rukia suka menyendiri, tidak pernah sedikitpun terbayang dalam benaknya bahwa Byakuya ternyata sebegini perhatian padanya. Semua kelembutan sikap, perhatian penuh yang Byakuya berikan padanya memang berasal dari hati terdalam, panic yang tersirat saat Rukia masuk rumah sakit juga bukan sekedar khawatir kakak pada adik.
Pantas saja Byakuya dapat dengan mudah menerima dirinya yang berulang kali menolak keluarga baru ini.. pantas saja… pantas saja… dan pantas saja yang lainnya terkuak dalam benaknya…
"Kenapa kau bisa menahan perasaanmu selama itu?"
"Karena aku bodoh," jawab Byakuya sambil menghela napas.
Tidak ada kata-kata lain lagi dari keduanya.
Byakuya merasa lebih tenang sekarang karena Rukia sudah tau kebenaran yang telah ia tutupi.
Rukia justru merasa jauh lebih resah.
Mereka sampai di rumah sakit. Dokter langsung menangani luka Rukia, dan melakukan CT-Scan untuk memastikan tidak ada tulang yang retak, dan Rukia dinyatakan hanya menderita luka luar serta sendi yang bergeser. Lukanya dibalut, balutan sepanjang lutut hingga tulang kering, membuatnya tampak seperti penderita patah tulang saja.
"Jangan banyak membebani kakimu dulu selama tiga hari ini,"
"Iya, Dokter Unohana," jawab Rukia menundukkan kepala dalam-dalam.
"Sepertinya kau harus ekstra menjaganya, dia seperti magnet untuk luka seperti ini," kata Dokter Unohana pada Byakuya.
"Sepertinya saya harus menjaganya seumur hidup," jawab Byakuya yang menatap Rukia lekat. Seketika wajah Rukia merona, dia menangkap makna sesungguhnya dalam kalimat Byakuya.
Dokter Unohana tersenyum lembut melihat interaksi antara Byakuya dan Rukia, kakak adik ini mudah sekali untuk dibaca isi hatinya.
Byakuya pun kembali menggendong Rukia hingga rumah. Melangkah lambat dan memperpanjang waktu bersama Rukia, yang nantinya akan ia ingat dengan baik jika suatu saat nanti tidak bisa bersama Rukia lagi.
Namun hati kecilnya menjerit ketidak-relaan, dia tidak ingin mengalami hal itu.
.
.
Lisa menggeleng tidak habis pikir, menghadapi orang yang berdiri dihadapannya ini seperti tengah bicara dengan batu saja, berkali-kali di jelaskan tidak pernah mau mengerti. Angkuh, sombong dan keras kepala.
"Aku sudah bilang, Rukia tidak akan kembali padamu!" seru Lisa emosi.
"Bagaimanapun aku adalah Ibu kandungnya. Ikatan batin Ibu kandung dengan anaknya jauh lebih kuat dari apapun," kata wanita berambut hitam legam dihadapannya, dia mengenakan kacamata hitam di malam segelap ini, gelang berliannya bergoyang pelan saat ia menyibakkan rambutnya ke belakang.
"Tapi kau sudah membuangnya!" Ibu makin frustasi membayangkan Rukia yang akan diambil dari sisinya.
"Aku tidak membuangnya, aku menitipkannya."
"Menitipkan? Kau bahkan tidak pernah menanyakan kabarnya selama sembilan belas tahun ini."
"Lisa, aku akan mengirim pengacaraku jika kau tidak melepaskan Rukia kembali padaku,"
"Hisana, kau…"
Wanita itu pun pergi dengan lenggok tubuh anggun, menuju mobil mewahnya yang terparkir didepan rumah, dan mobil itu meluncur mulus pergi.
Lisa menahan gemuruh di hatinya, merasakan desakan untuk menangis memenuhi hatinya, dia tidak ingin menangis hanya karena menghadapi wanita seegois Hisana, dia berjanji tidak akan membiarkan Rukia kembali pada wanita tanpa perasaan itu. Tidak akan membirkan Rukia terluka karena mengetahui kenyataan yang sebenarnya, tidak akan pernah.
"Ibu, ada tamu?" tanya Byakuya.
Lisa mendongakkan wajah, dan melihat Byakuya menggendong Rukia.
"Tadi aku melihat mobil mewah pergi dari depan rumah," tambah Rukia.
"Ibu menangis?" Byakuya melihat pipi ibunya basah.
"Tidak, ibu tidak menangis. Ayo masuk," dia mencoba mengalihkan perhatian. Saat Rukia dan Byakuya melangkah mendahuluinya, diam-diam dia menghapus jejak air matanya.
"Rukia kenapa? Sampai digendong Byakuya?" tanya Ibu sambil menatap punggung Rukia lekat. Dia menyayangi Rukia dengan segenap hatinya, dia tidak ingin Rukia pergi dari hidupnya. Sekalipun Rukia bukan anak kandungnya, tapi kasih sayangnya pada Rukia sudah telalu besar, melebihi rasa sayang kepada anak kandung sendiri.
"Jatuh, padahal tiga minggu lagi harus ikut pertandingan nasional," jawab Byakuya seraya melangkah menuju ruang tengah.
"Aku tidak apa-apa, nanti juga sembuh." Rukia tersenyum menenangkan ibunya.
Ibu membalas senyuman Rukia. Dia ikut senang, karena ikut pertandingan marathon nasional adalah impian Rukia sejak lama. Akhirnya saat itu datang juga, seperti saat ini, kedatangan Hisana bukanlah hal yang ia inginkan, namun dia telah cemas salama Sembilan belas tahun ini, mengkhawatirkan kehadiran wanita itu dan merusak kebahagiaan Rukia serta dirinya.
"Ibu akan berdo'a untuk kemenanganmu."
"Terima kasih, Bu."
Rukia membaca kesedihan dalam senyum Ibu.
"Apa ada masalah? Ibu terlihat sedih."
Ibu menggeleng pelan, meyakinkan Rukia bahwa semuanya baik-baik saja, dan akan baik-baik saja. Sekalipun wanita itu berusaha untuk mengambil Rukia dari sisinya dia akan berusaha untuk mempertahankan Rukia, bukan karena keegoisannya, tapi karena dia tidak ingin Rukia sakit dan terluka karena tinggal bersama perempuan berhati dingin seperti Hisana.
Byakuya mengantar Rukia sampai kamar, dan mendudukkan Rukia diatas tempat tidurnya, langsung melangkah pergi karena tidak ingin melihat wajah Rukia yang sedih.
"Byakuya!"
Kakinya membeku seketika, menunggu kalimat lanjutan Rukia.
"Aku tau ini akan cangung bagi kita berdua. Tapi bisakah kita bersikap seperti biasa? Bukan maksudku mengabaikan perasaanmu, tapi beri aku waktu, dan selama itu aku minta kita tetap seperti biasanya," kata Rukia dengan wajah tertunduk lesu.
Lantai kamarnya seolah benda paling menarik yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, melihat garis-garis pertemuan sambungan parquet satu sama lain, alur yang rapi berwarna cokelat sejuk, andaikan hatinya bisa sesejuk itu…
Byakuya mengerti dengan baik, semua ini memang terasa sangat canggung bagi mereka berdua, namun satu hal yang sangat ia syukuri, ternyata Rukia tidak membencinya, tidak memintanya untuk enyah dari pandangannya, malah sebaliknya, meminta untuk bersikap seperti biasa.
"Aku minta maaf, dan aku akan bersikap seperti biasa padamu. Sekarang istirahatlah."
Byakuya meraih handle pintu dan menutup pintu dibelakangnya.
"Tidurlah, Rukia. Semoga semua akan jauh lebih baik besok," bisiknya seraya pergi menuju kamarnya sendiri.
.
.
Ibu sedang terduduk di kamar, matanya menerawang menatapi cermin yang memantulkan refleksi dirinya. Hari sudah berganti pagi, namun ia tidak merasa cemas dihatinya berkurang sedikitpun, kedatangan Hisana kemarin benar-benar mimpi buruk baginya.
Lisa memang tidak pernah membuka kenangan tentang diri Rukia, karena dia menganggap Rukia adalah anaknya sendiri, anak yang sedari bayi sudah berada dalam gendongannya, anak yang dibuang oleh ibu kandungnya karena ibu kandungnya memilih untuk mengejar kariernya sebagai seorang model, dari pada mengurus Rukia yang merupakan hasil hubungan gelap dirinya dengan managernya.
"Kenapa bengong?"
Ukitake mengelus bahu istrinya perlahan, mengantarkan kehangatan dan kelembutan kepada perempuan yang ia cintai ini.
"Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan."
Lisa menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, menyembunyikan rahasia ini hanya untuk dirinya sendiri.
"Ceritakan padaku, dari semalam sikapmu aneh."
Lisa menatap Ukitake ragu-ragu, dia sedang mempertimbangkan keputusannya untuk menceritakan rahasia yang telah ia simpan selama sembilan belas tahun ini pada Ukitake atau tidak. Melihat mata teduh milik Ukitake, menyelami kelembutan didalamnya, dan Lisa sadar, ia membutuhkan uluran tangan untuk membantunya melewati saat-saat sulit seperti ini, dan dia merasa Ukitake adalah orang yang tepat.
"Ibu kandung Rukia datang untuk mengambil Rukia," ucap Lisa dengan suara bergetar. Kesedihan membayangkannya saja sudah sebegini menyesakkan.
.
.
To Be Continue
.
.
A/N :
Mina-san, apa kabar?
Lama tak menyapa semuanya, begitu FFn ga' error lagi jadi banyak karya baru, seneng deh melihatnya *Bleach memang populer - Salut buat Om Tite Kubo*
Aku akan menyisipkan konflik keluarga dalam fict ini. Gomen jika tidak memuaskan, aku menuangkan semua plot yang sudah membludak dalam kepalaku, jadi gini deh… he…he…he…*Dasar author gaje*
Aku berharap FFn akan selalu sehat, agar karya-karya yang lain bisa ter-upload, agar kreatifitas tidak terkungkung.
Gomen untuk typo yang masih ada dan akan merusak mata Anda semua, maklumlah jari-jariku suka keseleo *alasan aja nih author-timpukin aja pake poster Junsu*
.
Oke deh, selamat melanjutkan aktivitas Mina-san.
.
Keept The Spirit On ^_^
.
Don't mind to review, becoz I'm here always waiting…
.
Pojok obrolan Author dengan new chara (Hisana-san)
Hisana : "Sepertinya aku jahat sekali di matamu, Nakki."
Nakki : "Tidak seperti itu kok, Hisana-san. Kau baik, sangat baik."
Hisana : "Lalu kenapa aku bicara sejahat itu pada Lisa?"
Nakki : "Gomen, itu hanya tuntutan plot. Jangan marah ya, kalau ndak puas silahkan mengadu pada KOMNAS HAM." Nakki nyeingir kuda
Hisana langsung mengambil anak buaya dan anak singa peliharaannya.
Hisana : "Beraninya kau membuat aku terlihat sejahat itu!" Hisana bicara sambil ngelemparin anak buaya dan anak singa pada Nakki.
Nakki : "Kau memang tepat menjadi antagonis, Hisana! Tolong… Ichigo! Byakuya! Tolong…"
Nakki sudah tenggelam dalam gigitan ratusan ekor anak buaya dan anak singa.
