Because… You Are My Pride…
.
.
Matanya mendadak bangkit dalam posisi sigap. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan cepat, seperti hewan liar yang sedang mencari keberadaan musuhnya. Nafasnya tidak teratur, dengan tempo yang cepat. Jantungnya berdegup kencang. Dia masih merasakan ketakutan yang sama dengan yang ia rasakan ketika menjalani penyiksaan di penjara Sacronecro.
Yuuya baru akan beranjak dari tempat tidurnya ketika ia merasakan nyeri di sekujur tubuhnya. Ia mengamati kedua tangannya yang berbalut perban dengan sedikit bercak darah di beberapa bagian. Disibakkannya selimut yang menutupi kakinya. Hawa dingin mulai merayapi kaki yang berbalut perban, yang juga diwarnai sedikit bercak darah itu. Ia mengelus pipinya yang masih agak memar.
"Senjata…"
Matanya menyapu seluruh ruangan yang berupa tenda itu. Mencari benda apa pun yang bisa ia gunakan sebagai senjata. Ia melihat beberapa pisau bedah terjajar rapi dalam sebuah wadah logam. Kedua kaki berbalut perban itu bergeser turun dari tempat tidur. Rasa nyeri kembali menyerang. Alisnya berkerut dan rahangnya menegang menahan sakit. Ia berdiri perlahan. Dingin dan nyeri. Itulah sensasi yang pertama ia rasakan ketika menjejakkan kakinya di atas alas tenda itu. Pandangannya terasa mengabur. Buram-jelas-buram-jelas, seperti lensa kamera yang diputar-putar perbesarannya. Kemudian ia berjalan menghampiri meja dengan wadah logam berisi pisau-pisau itu di atasnya. Ia mengambil sebuah, kemudian sebuah lagi, menembunyikan yang ia ambil terakhir di saku pakaiannya.
"Kabur…"
Manik hitamnya kembali menyapu ruangan itu mencari pintu keluar. Sebuah celah di ujung ruangan, pintu tenda yang tidak tertutup sempurna, tertangkap pandangan matanya. Ia melangkahkan kakinya, tertatih-tatih. Cahaya terang menghambur ke dalam tenda remang-remang itu ketika seorang pria berjas putih menyibakkan pintu kain tenda itu dan masuk ke dalam. Yuuya terperanjat. Ia menggenggam pisau yang tadi ia ambil erat-erat.
"Aah… Kau sudah bangun nona manis?" Dr. Shamal berjalan mendekat.
"Dia akan membunuhku…"
Yuuya melangkah mundur dengan was-was seiring dengan langkah dokter yang hanya mengobati wanita itu. Ketika sudah tak ada tempat lagi baginya untuk melangkah mundur, tanpa pikir panjang dia menerobos ke depan, mengayunkan pisau dalam genggamannya ke arah Shamal yang tentu saja, bisa menghindarinya dengan mudah. Ketakutan memberinya kekuatan untuk mengalahkan rasa sakit yang mendera tubuhnya. Celah yang dibuat Shamal memberinya jalan untuk berlari menuju pintu keluar.
Udara dingin menyambutnya. Kakinya yang hanya berbalut perban melesak beberapa senti ke dalam lapisan salju begitu keluar dari tenda, langsung terasa seperti ditusuk seribu jarum. Ia mengernyit, kemudian menoleh ke kiri dan ke kanan. Tampak beberapa tenda selain tenda tempat ia baru saja keluar, talinya berayun-ayun ditiup angin dingin.
"Lari…"
Ia menapakkan kakinya yang berdenyut-denyut nyeri, berlari memutari tendanya, berharap tak ada lagi tenda di belakangnya. Matanya bergerak-gerak liar, mencari tanda-tanda bahaya. Nafasnya yang terengah-engah mengeluarkan uap putih akibat udara dingin yang menyembur-nyembur dari mulutnya. Ia berusaha berlari secepat mungkin.
"Mereka akan membunuhku…"
Ketakutannya membuat gadis itu terus berlari, hingga sebuah tangan besar menangkap tubuh mungilnya. Ia meronta-ronta, tanpa berteriak. Hanya mengerang. Berteriak pun percuma. Pria itu tak akan melepaskannya. Malah akan menarik perhatian kawan-kawan orang itu.
"Yuuya! Yuuya!" pria itu berusaha menenangkannya. Tapi ia tidak mau mendengarnya, tetap meronta.
"Mati…mati…"
Yuuya menghatamkan kepalanya ke dagu pria itu. Diiringi rintihan tertahan, pria itu limbung ke belakang. Pegangannya melonggar dan Yuuya memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan tubuhnya yang terangkat beberapa senti dari tanah. Ia menahan jatuhnya dengan kedua tangan dan kakinya, segera bangkit, berlari lagi, mengabaikan rasa sakit yang masih mendera tubuhnya. Ia bisa mendengar pria itu mengejar di belakangnya. Jika ia tidak dalam keadaan terluka mungkin dia bisa meninggalkan pengejarnya itu, namun sekarang tubuhnya penuh perban. Namun ia mengabaikan fakta itu. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah
"Aku harus tetap hidup…"
Jarak antara gadis itu dan pengejarnya semakin sempit.
"Yuuya!"
Pria itu melompat, menangkap Yuuya untuk kedua kalinya, membiarkan tubuh mungil gadis itu terjatuh menghantam permukaan salju yang lunak. Pria berpakaian hitam berlapis-lapis itu menindih tubuh gadis yang masih meronta-ronta itu, menahan gerakannya dengan berat tubuhnya. Separuh tubuhnya terbenam di salju. Dingin menusuk. Ia mengangkat kepala, memberi ruang untuk mengisi paru-parunya. Secara insting ia mengayunkan pisau di tangannya. Namun pria itu jauh lebih sigap. Pergelangan tangannya ditangkap. Dengan gerakan yang gesit, ia membuat pisau itu terlempar beberapa meter dari tempat mereka berdua. Yuuya mengerang. Rasa sakit dan keputusasaan menderanya. Namun ia masih belum menyerah. Ia kembali meronta.
"Yuuya, ini aku!"
"Aku?"
Suara itu, entah mengapa, jadi terasa tak asing lagi baginya. Itu suara Kyouya, hanya saja sedikit lebih berat dari biasanya. Ia menoleh perlahan. Sosok Kyouya dewasa terlihat. Rambutnya yang berantakan berayun lembut tertiup angin. Mata onyxnya memancarkan raut kecemasan. Bulir-bulir air mata mulai bermunculan di sudut mata Yuuya.
"Kyou…ya…"
Kyouya tersenyum dan melonggarkan pegangannya. Sedetik kemudian mata Yuuya menggelap. Secepat kilat tangan mungilnya yang sudah terbebas menyambar pisau lain yang tadi ia sembunyikan, menebaskannya ke arah Kyouya. Dengan sigap Kyouya melompat ke belakang. Pipinya sedikit tergores, mengeluarkan darah segar yang menetes hingga ke dagunya. Tonfa yang sedari tadi tersembunyi pun keluar, menempati genggaman tangannya. Ia memasang kuda-kuda.
Tubuh Yuuya perlahan berdiri dengan cara yang ganjil. Seakan diseret oleh kekuatan yang lain. Kepalanya mendongak ke atas, perlahan-lahan turun hingga kedua matanya bertatapan dengan mata onyx di beberapa meter di depannya. Mata gadis itu, yang mulanya sewarna dengan onyx Kyouya berubah menjadi merah, semerah darah. Dia tersenyum ganjil, menebarkan sensasi aneh yang membuat Kyouya mual.
"Q-Ra…"
"Ah… you know me so well Kyou-ya-kyun~" suara bernada manja itu keluar dari mulut Yuuya dibarengi dengan gestur yang sok menggoda. Tentu saja Kyouya tidak tergoda. Ia jijik melihatnya. Jijik melihat tubuh adiknya dirasuki oleh wanita jalang itu. Yuuya menjilat darah yang menempel di pisau itu perlahan, kemudian menyeringai kejam.
"Nee~ Kyouya-kyun. Kau tahu kan? Q-Ra bisa membaca pikiran Skylark kecilmu ini loh…" dia berkata sembari berjalan perlahan ke arah pisau yang separuh menancap di salju beberapa meter dari tempat ia berdiri, pisau yang tadi dilempar oleh Kyouya. Ia membungkuk dan mengambil pisau itu dengan tangannya yang bebas.
"Info itu sudah basi Q-Ra"
"Hmm… jahatnya… Jadi kau bilang kemampuan Q-Ra ini juga sudah basi begitu?" nada manja di suaranya itu membuat Kyouya mual. Meski itu suara Yuuya, namun nada itu masih membuatnya mual.
"Jaa… apa kau tahu? Ternyata si Skylark kecil ini benci sekali padamu loh!" Q-Ra, dalam tubuh Yuuya, memain-mainkan pisau di tangannya dengan lihai, membuatnya berputar-putar seperti kincir angin. Kata-katanya membuat alis Kyouya bertaut.
Q-Ra menghentikan pertunjukan pisau putarnya dan dalam sekejap menggerakkan tubuh Yuuya untuk menerjang sang Cloud Guardian itu. Metal beradu dengan metal. Pisau dan tonfa beradu, saling menyerang dan menangkis. Kyouya tidak bisa mengeluarkan seluruh kemampuannya. Ia tidak mau menambah luka lagi di tubuh mungil Yuuya.
"Kenapa Kyou-ya-kyun? Tidak bisa melukai gadis yang membencimu ini kah?" dia tertawa sinis. Pisau menari-nari di tangannya. Mengirimkan goresan-goresan ke kulit pucat Kyouya.
"Memangnya kenapa kalau ia membenciku? Itu tidak penting." ujar Kyouya, tenang. Ia mengayunkan tonfanya, mengiringi sabetan pisau yang berayun-ayun di hadapannya. Setelah kalimat itu terucap Q-ra melompat mundur, memberi jarak di antara mereka berdua. Pertempuran berhenti sejenak.
"Aiiiihh! Kyouya-kyun benar-benar kakak yang dingin!" ia berujar sambil menyibakkan rambut pendek Yuuya dengan gaya yang angkuh dan menggelikan, "Apa kau tahu Kyou-kyun? Yuuya-chan di sini…" ia menunjuk dadanya, "…merasa kedinginan lho mendengar kata-katamu. Ahihiihhi…"
Q-ra benar-benar wanita yang menjangkelkan. Jika saja ia tidak menggunakan tubuh Yuuya, Kyouya pasti sudah meng-kamikorosu-nya sejak tadi. Kyouya berusaha mengulur waktu hingga Mukuro kembali sambil memikirkan cara mengeluarkan wanita jalang itu dari tubuh Yuuya. Seandainya Mukuro ada di sini, mengusir wanita itu bukanlah hal sulit. Tapi, saat ini Mukuro sedang melakukan pengintaian markas Sacronecro bersama Tsuna dan yang lainnya. Ia teringat akan Shamal. Dokter itu tidak akan banyak membantu. Meski dia seorang mafia handal yang dikenal dengan nama 'Trident Shamal', tapi jika tidak menarik hatinya dia tidak akan berbuat apa-apa. Dan sepertinya ini termasuk hal yang tidak menarik hatinya, meski menyangkut urusan wanita. Kyouya mendecakkan lidah frustasi, belum menemukan inspirasi.
Q-Ra kembali menyerang. Ia menjatuhkan dirinya dan meluncur menjegal kaki Kyouya yang saat itu sedang setengah melamun. Telapak kaki bertemu tulang kering. Kyouya terjungkal ke depan, kehilangan keseimbangan dan separuh tubuh bagian depannya terbenam di salju lunak yang terhampar. Ia membalikkan badannya sedetik kemudian. Namun, waktu yang sangat singkat itu sudah cukup bagi Q-Ra untuk melompat ke atas tubuh pria berlumur salju itu dan duduk di atas perutnya, kedua kaki mungilnya yang berbalut flame berwarna indigo menekan tangan Kyouya, membuatnya tak bisa bergerak. Tangan kanannya terangkat ke atas. Seringai kejam tergambar di wajahnya.
"Matilah kau…Kyou-ya-kyun!" pisau terayun turun, menuju leher jenjang pria itu.
"Yuuya!"
Teriakan Kyouya tidak keras, tapi cukup untuk didengar. Ayunan pisau itu terhenti satu senti di atas lehernya. Tangannya bergetar hebat.
"Yuuya…"
Wajah gadis itu menggelap. Tubuhnya bergetar hebat.
-xXx-
"Gelap… dingin…"
Matanya terbuka, tak ada apa-apa yang terlihat, bahkan tubuhnya sendiri.
"Ini dimana? Mimpi?"
Kepalanya terasa berat. Muncul dorongan untuk memejamkan mata dan tidur selamanya dalam kegelapan yang tenang ini.
Tiba-tiba sepasan mata merah menyeruak dalam benaknya. Mata itu mengorek-ngorek isi hatinya, apa yang ada dalam pikirannya. Seluruh kenangannya seakan berhamburan di depan sang mata. Ia merasa sesak. Sesak yang amat sangat. Ketika apa yang telah ia pendam dalam-dalam kembali tergali keluar. Ia merasa tak berdaya. Sang mata seakan menelanjangingya.
"Hentikan!"
Ia berteriak, tapi tak ada suara yang keluar. Ia mendengar tawa sadis wanita berambut merah itu lagi. Keputusasaan kembali merayapi. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Kelebatan kenangan itu membuat dadanya seakan ditusuk-tusuk.
-xXx-
"Kaa-chan! Kaa-chan!"
Dia meninggal. Baru saja. Di hadapan mataku. Dia tidak akan bangun lagi untuk mengucapkan selamat pagi padaku. Untuk membuatkan sarapan. Untuk membelai rambutku. Untuk mengecup keningku.
Aku ingin dia bangun kembali, tersenyum ke arahku. Memeluk erat diriku. Tapi itu tidak mungkin terjadi. Tangannya terkulai lemas di atas ranjang putih itu. Aku ingin menggenggamnya memaksanya untuk bangun. Tapi ada sepasang lengan yang menghalangi. Aku tidak dengar apa yang dia katakan. Yang kutahu hanya aku menangis. Memanggil-manggil ibuku yang tidak mungkin akan menyahut lagi di sana.
-xXx-
Kelebatan ingatan itu berganti, digantikan dengan memori lain…
-xXx-
"Yuuya, perkenalkan, dia adalah kakakmu Kyouya. Yang ini adalah ibu barumu."
Pria berambut hitam dan bermata sipit itu, ayahku, membawa mereka ke rumah ini. Wanita itu, istrinya simpanannya, adalah ibu baruku. Anak laki-laki itu, adalah kakak baruku, Kyouya. Wanita itu tersenyum ramah, sedangkan si anak laki-laki hanya diam tanpa ekspresi. Aku takut. Apa dia membenciku?
-xXx-
"Kyouya-sama? Anak Hibari-sama dengan istri simpanannya maksudmu?"
Bisikan-bisikan itu mulai sering terdengar.
"Kenapa dia bisa tinggal di sini?"
"Bukankah itu tidak baik untuk nama Hibari?"
"Tapi meski hanya anak istri simpanannya, sepertinya Kyouya-sama lebih berbakat daripada Yuuya-sama"
"Kenapa dia tidak bisa seperti Kyouya-sama ya?"
"Perempuan memang lemah"
"Sebaiknya Kyouya-sama saja yang menjadi pewaris utama keluarga Hibari"
"Sebaiknya Yuuya-sama menghilang saja dari dunia ini!"
"Seandainya sejak awal dia tidak ada di dunia ini…"
"Dia mengganggu Kyouya-sama saja"
"Pengganggu seperti dia harusnya disingkirkan saja"
"Hahahahaha…"
"Hahahaha…"
Suara-suara itu terus terdengar. Entah berapa lama, aku tidak tahu. Aku membenci Kyouya karenanya. Aku juga membenci ayah karena membawanya ke rumah ini. Aku membenci semua yang ada di sini. Aku benci.
-xXx-
"Yuuya…"
Suara Kyouya. Hangat. Kenangan lain kembali melintas…
-xXx-
"Kau kelihatan tidak terlalu sehat…"
Anak laki-laki itu berdiri di depan kamarku. Dia bersandar di samping pintu geser kamar bergaya Jepang ini.
"Ini tidak ada hubungannya denganmu Nii-sama"
Aku memang merasa tidak sehat. Hawa musim dingin membuatku gampang demam. Tapi aku tidak mengutarakannya pada semua orang di rumah ini. Aku membenci mereka. Toh biasanya dengan beristirahat sehari atau dua hari juga sembuh.
"Kau tampak menyedihkan"
Dia melangkah ke arahku, kemudian duduk di samping futon tempat aku duduk. Aku menjauhkan tubuhku darinya, juga menghindari pandangan matanya yang menusuk.
"Yuuya…"
Aku menoleh. Tanpa kusadari ia menempelkan tangannya ke dahiku. Aku langsung mundur karena terkejut.
"A-apa-apaan kau?"
"Hmm… agak panas. Pantas saja wajahmu merah."
Aku tidak tahu apakah wajahku benar-benar merah atau tidak. Aku terus meyakinkan diriku jika memang iya, ini pasti karena demam. Dia beranjak dari tempatnya dan berbalik pergi. Sejenak ia berhenti di ambang pintu.
"Tunggu di sini"
Dia segera menghilang dari pandanganku. Aku hanya terbengong-bengong. Memangnya aku mau pergi ke mana dalam keadaan seperti ini? Apa dia bodoh? Tak lama kemudian ia kembali membawa semangkuk sup hangat yang mengepul-ngepul.
"Kau bisa makan sendiri kan?
Aku mengangguk.
"Makanlah semoga kau cepat sembuh"
Aku mengangguk lagi. Dia mengelus rambutku sejenak kemudian pergi lagi. Beberapa hari kemudian aku baru mengetahui kalau sup itu buatan Kyouya. Aku mulai berpikir dia bukan orang yang jahat.
-xXx-
Kabar itu semakin menjadi-jadi. Mereka bilang ayah tidak lagi mempedulikanku. Ayah mengharapkan Kyouya menjadi penerusnya. Aku akan segera disingkirkan dari rumah ini. Karena Kyouya. Karena Kyouya.
Tapi, aku tak bisa membencinya. Dia selalu baik padaku. Aku sudah terlanjur menyayanginya.
-xXx-
"Aku akan keluar dari rumah ini dan melanjutkan sekolahku di Namimori"
Kyouya membuka pembicaraan di tengah acara makan malam keluarga. Semua orang langsung menghentikan makannya dan menoleh ke arah anak berambut hitam itu. Aku pun menoleh ke arah anak yang duduk di sebelahku itu. Sosoknya tampak lebih besar dan berwibawa daripada biasanya. Matanya memancarkan kebulatan tekad yang tak tergoyahkan.
"Apa maksudmu Kyouya?"
"Seperti yang kubilang." ia menenggak sup dalam mangkuk kecil di tangannya. "Aku akan keluar dari rumah ini dan bersekolah di Namimori."
Kata-katanya singkat. Tapi penuh makna. Aku hanya bisa terdiam. Berkedip, sambil berusaha mencerna kalimatnya. Untuk apa dia pergi ke sana?
-xXx-
"Nii-sama…"
"Hn?"
Cahaya temaram keemasan menerangi koridor panjang itu. Hanya kami yang ada di sana. Aku dan Kyouya.
"Kenapa kau pergi ke Namimori?"
"Karena kau masih lemah." katanya dengan nada dingin. Kata-kata itu menusuk hatiku. Setelah tiga tahun hidup bersamanya aku tahu betul bagaimana dia menyetarakan orang lemah dengan yang dipanggilnya herbivore. Kukira selama ini dia menganggapku sebagai karnivore. Ternyata…
"Begitu ya…" aku hanya bisa tertunduk lesu dan berbalik supaya dia tidak melihat air mataku. Aku beranjak pergi. Ingin menjauh darinya. Saat ini aku tidak ingin melihat mukanya.
"Mau kemana?"
"Minimarket. Ada beberapa barang yang mau kubeli." aku mencoba membuat suaraku tetap terdengar seperti biasa. Entah berhasil atau tidak, aku sudah tidak peduli. Aku bergegas keluar dan menuju minimarket, membeli dua kotak bento lalu berjalan ke taman di dekat danau. Permukaan danau itu memantulkan cahaya rembulan. Putih dan indah. Aku duduk di salah satu sisinya, membuka satu kotak bento yang baru saja kubeli dan memakannya. Perutku yang sudah terisi makan malam sebenarnya menolak makanan lain masuk ke dalam. Tapi mulutku merasa aku masih harus makan. Aku ingin mengalahkan rasa sakit di hatiku dengan rasa sakit di perutku. Entah berhasil atau tidak. Aku tidak peduli. Air mata mulai menetes di pipiku.
"Kyouya bodoh…" aku terus memakan bento itu sambil menangis. Tiba saatnya aku membuka kotak yang kedua dan memakannya.
"Kyouya bodoh…" perlahan bento itu habis juga. Perutku serasa akan meledak. Aku membaringkan diriku di rerumputan yang basah oleh embun. Dingin.
"Hei nona kecil, sedang apa kau di situ?" suara seorang pria terdengar. Aku tidak mengenalnya. Aku segera bangkit dan menjauh. Dia bersama dengan beberapa orang temannya perlahan mendekatiku. Aku merasa mereka bukan orang baik-baik.
"Mau kuantar pulang nona kecil?"
"Tidak. Terima kasih paman." aku berusaha tersenyum. Sayang aku tidak membawa tonfaku. Mereka semakin mendekat. Aku pun berbalik dan berlari. Mereka mengejar. Tiba-tiba saja hujan deras turun. "Apa-apaan ini? Rasanya hari ini aku sial sekali"
Aku terus berlari di tengah guyuran hujan dan gelapnya malam. Tapi bagaimanapun juga kaki mereka jauh lebih panjang daripada kakiku. Perutku yang terlalu penuh pun mengurangi efektivitas gerakanku. Aku pun terpeleset dan jatuh. Mereka pun dapat segera menangkapku. Aku meronta. Dengan tubuhku yang masih bebas aku memukuli mereka. Aku menendang, menyikut, mencakar, dan mengigit. Apapun yang bisa kulakukan untuk melawan mereka akan tenagaku tidak lebih kuat daripada Kyouya. Aku mulai merasa bahwa aku memang seorang herbivore yang lemah. Melawan tiga herbivore saja aku tidak sanggup. Bagaimana dia akan menganggapku kuat?
Saat ketakutan menderaku tiba-tiba saja sekelebat bayangan memukul salah satu dari mereka hingga terjatuh. Mataku melebar ketika menangkap sosoknya.
"Nii-sama!" dia segera menumbangkan dua orang sisanya. Aku hanya bisa terduduk, memandangi punggungnya. Dalam balutan kinagashi hitamnya ia tampak seperti dewa kematian. Hanya saja ia tidak membawa Z*npakutoh, melainkan sepasang tonfa metal berlumuran darah. Dia berbalik ke arahku dan berlutut, kemudian membelai rambutku.
"Kau tidak apa-apa?"
"Nii-sama…" aku tidak bisa membendung air mataku lagi. Aku menangis sejadi-jadinya di sana. Dia meredam tangisku dengan pelukannya. Kinagashinya dingin terkena air hujan. Tetapi tangannya hangat. "Jangan pergi… Aku janji akan menjadi kuat. Aku tidak akan menjadi seorang herbivore yang lemah seperti sekarang. Aku akan menjadi karnivore seperti dirimu. Karena itu… jangan pergi…" aku memohon sambil menatap wajahnya yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Aku bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi aku tidak bisa membaca ekspresinya. Dia hanya menatap ke arahku. Diam.
"Nii-sama… jawablah… kumohon" aku membenamkan kepalaku ke dadanya. Dia kembali memelukku. Aku bisa menendengar detak jantungnya. Ritme yang teratur tapi cepat. Aku tidak ingin dia pergi.
"Aku akan tetap pergi…" suaranya terhenti sejenak, "Hingga kau menjadi kuat dan mampu mengalahkanku, aku tidak akan kembali ke rumah utama."
"Eh?"
"Kalau aku tetap ada di rumah itu, kau tidak akan berkembang. Karena itu, aku akan pergi. Bagaimanapun juga nantinya kaulah yang harus menjadi pewaris utama keluarga Hibari. Bukan aku… Yuuya…"
-xXx-
Kelebatan memori itu menghilang. Ia kembali ke realita. Ia sedang menindih TYL Kyouya dan menghunuskan pisau ke arahnya. Entah bagaimana pengaruh Q-Ra telah menghilang. Warna manik matanya telah kembali berwarna onyx, seperti pria yang ditindihnya. Ia merasakan Kyouya menggenggam pergelangan tangannya. Ia tersadar dengan apa yang ia lakukan . Ia akan membunuh Kyouya.
Yuuya menjatuhkan pisaunya di salju putih. Tubuhnya bergetar hebat. Matanya memandang nanar ke arah kakaknya itu. Air matanya mulai mengaburkan pandangannya.
"Onii-sama… onii-sama…"
Mengetahui kesadaran Yuuya telah kembali, Kyouya segera bangkit dari posisinya dan merengkuh tubuh mungilnya erat-erat. Ia menempelkan dagunya di puncak kepala sang Skylark kecil yang saat ini sedang terisak.
"Onii-sama…onii-sama…"
Tangan besarnya membelai lembut rambut hitam gadis itu, mencoba memberinya ketenangan. Kedua tangan mungil Yuuya melingkari tubuh yang lebih besar itu, meremas keras punggung jasnya. Kyouya mulai merasakan air mata yang merembes melewati jas dan kemejanya, memberikan sensasi yang hangat dan lembab di dadanya.
Hampir sepuluh menit mereka bertahan dalam posisi itu. Kyouya melepaskan pelukannya ketika aia merasa bahwa isak tangis itu telah terhenti. Tubuh Yuuya sudah berhenti bergerak tak beraturan, digantikan dengan ritme nafas yang halus dan teratur. Cengkeraman di punggung jasnya juga sudah melonggar. Kyouya mengangkat tubuh mungil itu perlahan, mendapati kedua mata onyx itu telah tertutup. Jejak air mata masih berbekas di pipinya.
-xXx-
Ia mendapati tangan besar itu menggenggam tangan kirinya ketika ia bangun. Surai hitam yang berantakan tampak menyembul di sisinya. Ia mengangkat kepalanya untuk menambah jarak pandangnya, mendapati Kyouya tertidur di sisinya. Gerakannya yang tiba-tiba membuat sang Skylark terbangun dari tidur ayamnya.
"Kau sudah bangun Yuuya?" dia mengangkat kepalanya sambil mengusap mata, kemudian menguap.
Yuuya hanya mengangguk kecil, murung dan risau. Kyouya mengerjapkan matanya, mencoba mencari tahu apa yang sedang dipikirkan si Skylark kecil yang duduk di hadapannya itu.
"Kenapa?"
"Tidak... Tidak apa-apa" gadis itu memalingkan mukanya. Kyouya membelai lembut rambutnya, membuat gadis itu kembali menoleh.
"Tidak mungkin tak ada apa-apa kalau kau bersikap seperti ini..." Kyouya tersenyum lembut. Mata Yuuya terasa panas. Air matanya serasa mau keluar. Tapi ia tahan.
"Nee, ke mana Kyouya yang asli?" ia bertanya pelan.
Pria itu tersenyum, "Aku Kyouya yang asli. Hanya saja aku datang dari masa depan. Kyouya dari masa kini sedang menggantikanku di sana."
"Kapan dia akan kembali?"
"Sebentar lagi..."
"…"
"Kenapa?"
"..."
"Ceritakan saja padaku. Akan kurahasiakan dari Kyouya-mu."
Yuuya menatap pria itu lekat-lekat. Berusaha membaca ekspresinya. Pria itu memang Kyouya. Ceritanya bahwa ia berasal dari masa depan terdengar masuk akal. Pria itu mengelus rambutnya. Ia semakin yakin bahwa pria itu adalah Kyouya.
"Maaf… aku tidak bisa menjadi kuat sepertimu…"
"Hn?"
"Dulu aku pernah berjanji bahwa aku akan menjadi kuat sehingga kau bisa kembali ke rumah utama. Tapi aku malah dengan bodohnya tertangkap dan lari ketakutan. Bukannya menghadapi mereka dengan penuh kehormatan seperti dirimu. Aku tidak bisa menjadi sepertimu…"
Kyouya menghela nafas, kemudian bicara, "Nee… kau tahu mengapa ayah memberiku nama Kyouya?"
"Supaya kau bisa menjadi orang yang penuh kehormatan…?" dia mendongakkan kepalanya, menatap ke arah mata onyx lawan bicaranya.
"Kau tahu mengapa ayah memberimu nama Yuuya?"
"Ehhmmm…" gadis itu menunduk, berpikir sejenak, "Supaya aku menjadi orang yang penuh keberanian?"
Senyum terkembang di wajah sang Skylark, "Kau benar. Keberanian itu… tidak akan muncul tanpa adanya ketakutan."
Yuuya mengerutkan alisnya. Bingung. "Maksudmu?"
"Orang yang tidak mempunyai rasa takut, bukanlah orang yang berani. Orang yang berani adalah orang yang bisa menghadapi rasa takutnya. Dia merasakan ketakutan, tetapi dia bisa menghadapinya."
"Tapi, aku bahkan tidak punya keberanian untuk menghadapi mereka. Aku lemah Nii-sama…"
"Setidaknya kau sudah berani lari dari mereka. Seseorang yang berani membuang nyawa tanpa alasan yang bagus adalah orang yang bodoh." Ia menerawang jauh ke depan, :Suatu saat, kau akan menjadi orang yang kuat. Aku tahu itu."
Yuuya memandangnya tidak percaya,"Bagaimana kau bisa begitu yakin akan hal itu?"
Kyouya terdiam sejenak. Kepalanya berputar ke arah gadis mungil di sebelahnya itu. Ia tersenyum.
"Because… You are my PRIDE…"
-to be continued-
