Title : Uno Story's
Disclaimer : Grand Chase Indonesia dan juga milik KOG Korea. Cuman meminjam karakternya aja
Pairing : Rufus X OC (Maybe)?
Rating : T
Genre : Drama, dll
Warning : Tulisan Gaje, Typo dimana-mana,dll
Summary : Menceritakan tentang Awal mula lahirnya Uno. Akan diceritakan dengan lengkap disini!/Ga bisa bikin summary/Langsung baca aja ga usah ragu./
Chapter 9
.
.
.
-Alam Bawah Sadar Sieghart-
"Kita harus bekerja sama!" Ucap Sieghart sambil menyalami Uno.
"Yah.. Kurasa tidak ada cara lain lagi..."
"Gunakan darahmu untuk menyadarkanku, Sieghart!" Kata Uno membuat Sieghart terkejut.
"Maksudmu?" Sieghart merasa kurang jelas.
"Tusuk saja jantungku dengan pedangmu yang sudah kau aliri darahmu sendiri!" Jawab Uno enteng.
"Tidak... Mungkin... Aku mau melakukannya... Bisa-bisa kau terbunuh nanti..." Sieghart tak berani melakukannya atau lebih tepatnya ragu-ragu.
"Tenang saja. Kau tidak akan membunuhku langsung, melainkan hanya menyadarkanku saja. Selebihnya biar aku sendiri yang melakukan sisanya." lanjut Uno kemudian.
"Tetap saja..." Sieghart tetap tak berani melakukannya sambil menundukkan kepalanya.
"Hah..." Uno menghela nafas pelan.
"Apa kau ingin tau kenapa aku hanya bisa meminta tolong padamu?" Sebuah pertanyaan keluar dari mulut Uno.
Sieghart yang mendengarnya, langsung mengangkat kepalanya dan memandangi Uno seolah ingin tau jawabannya.
"Karena hanya darahmu -Darah Highlander- yang dapat bercampur dengan roh-roh balas dendam yang hinggap ditubuhku saat ini."
"Ketika darahmu mengalir ditubuhku, Roh-roh ini pasti akan diam tak berkutik selama beberapa detik. Kesempatan itu akan kugunakan untuk memulihkan kesadaranku kembali." Jawab Uno sekenanya.
"..." Sieghart langsung terdiam seribu kata.
"Bagaimana, Sieghart? Apa kau mau berani melakukannya?" Tanya Uno memastikan.
Setelah beberapa detik berpikir, Sieghart akhirnya memantapkan keputusannya. "Ya, aku akan melakukannya!"
"Hm... Terima Kasih!" Jawab Uno sambil berpaling dari Sieghart.
.
.
.
*Dunia Asli*
Sieghart langsung terbangun dengan cepat seolah baru ada yang memasuki tubuhnya. Teman-temannya pun langsung ikut menangis gembira karena ternyata Sieghart tidak mati.
"Aku harus segera mengakhiri ini!" Ucap Sieghart sambil berdiri dengan susah payah. Mengambil pedang Gladiator kebanggaan miliknya pun ia sudah kepayahan. Bisa dipastikan kondisi Sieghart saat ini terluka parah.
"Cih! Ternyata kau masih hidup rupanya. Kali ini aku akan kupastikan kau mati." Uno langsung berlari menyerang Sieghart dan bersiap menebas Sieghart.
"Mati, huh?!" Sieghart menundukkan kepalanya.
.
.
SRING! JRAASSHH!
Sieghart menahan tebasan Uno dengan tangan kirinya. Namun karena serangannya memang kuat – tangan kiri Sieghart mengeluarkan darah begitu banyak.
"Kurasa yang akan mati adalah... KAAUU!" Dengan tangan kanan yang masih memegang pedang Gladiator-nya, ia menusukkan pedangnya ke arah Uno yang tidak bisa menghindar karena pedangnya masih digenggam rapat oleh Sieghart.
JLEB!
"Huh, Kau kira ini bisa membunuhku?!" Ucap Uno mengejek.
DEG!
"A-apa... I-ini...?" Tubuh Uno mendadak bergemetar tak karuan. Kesadarannya pun perlahan-lahan mulai menghilang. Ia terjatuh ke tanah.
"APAA YANG KAU LAKUKAN TERHADAPKU, AEKNARD SIEGHART?" Dengan sedikit tenaga tersisa Uno berteriak.
Sieghart hanya menatapnya datar sambil memengangi tangan kirinya yang terluka parah. "Aku hanya membebaskan jiwa Uno yang kau kurung didalam hatimu!"
"Ternyata... kau membantunya. SIAALAAN AKU TAK AKAN MEMBIARKANNYA TERJADI!" Uno mengambil pedangnya dengan susah payah dan ia mengarahkan pedangnya ke Jantungnya sendiri. Ternyata ia berniat membunuh Uno dari Luar.
"CELAKA JANGAN BIARKAN IA MENUSUK DIRINYA SENDIRI!" Teriak Sieghart terkejut dengan tindakan diluar akal Uno.
"Hehehe... Sayonara, Uno!" Ucap Uno pada dirinya sendiri.
"Hyaatt..." Teriaknya sambil menikam dirinya sendiri.
"JANGAANNN!"
DOR! TRANGG!
Ujung pedang Blood Dance mengenai sebuah sabit ungu, bukan jantung Uno. Sedangkan tangan kiri Uno terluka karena tertembus peluru yang keluar dari mulut pistol.
"Untung kami tepat waktu!" Ucap sosok kedua orang itu bersamaan.
Semua orang disana melihat kearah dua orang tersebut – termasuk Sieghart. Betapa terkejut sekaligus bahagia begitu mengetahui kalau ternyata kedua orang itu adalah Rufus dan Dio. Mereka semua bersorak gembira kecuali Sieghart dan Edel yang tidak mengenal Rufus & Dio.
"UAGRRHH!" Teriak Uno sambil memegang kepalanya seperti orang gila.
Sieghart berjalan perlahan ke Uno yang masih memegang kepalanya kesakitan. "Kau harus melawannya. Jangan biarkan dia mengendalikanmu!"
.
.
.
-Uno Pov-
Aku hanya diam disini – menunggu Roh para Highlander yang menguasai tubuhku. Sieghart sudah berjanji menolongku dan aku mempercayainya. Aku tau kalau dia pasti akan menepati janjinya.
SRING!
Sebuah cahaya putih tiba-tiba muncul dihadapanku. Dan dari dalam cahaya putih itu keluar seorang manusia yang memiliki rupa, tubuh seperti diriku. Anggap saja seperti kembaranku.
"DIMANA INII?" Teriaknya keras.
Aku langsung berdiri sambil berkata, "Ini adalah Alam Bawah Sadar kita. Kau semestinya tau bu'kan?"
Dia menoleh kepadaku, dan ada sedikit kekagetan yang terpancar dari wajahnya.
"Uno? Bagaimana bisa?" Tanyanya kaget.
"Kau terlalu meremehkanku, Wahai Jiwa Highlander! Kau harus segera keluar dari tubuhku karena seharusnya tidak pernah ada!" Jawabku sambil mengambil posisi bertempur.
"Hahaha... Kau ingin mengusirku? Silahkan saja kalau bisa." Katanya lagi-lagi meremehkanku.
CRING!
Aku membuka telapak tangan kananku dan dalam sekejap keluar sebuah pedang yang biasanya kugunakan untuk bertarung, yaitu 'Blood Dance'.
"Kau pikir aku hanya akan diam saja?" Dia melakukan hal yang sama denganku, namun bedanya tidak ada apapun yang terjadi.
"Kenapa...?" Tanyanya penuh kekagetan kembali.
Aku tersenyum miris sekaligus senang ketika mendengar ucapannya. "Blood Dance tidak pernah mengakuimu sebagai tuannya. Jadi dia hanya akan patuh terhadapku."
Dia langsung terkejut beberapa detik setelah aku mengucapkannya. Namun ia kembali tertawa jahat lagi, "Hahaha... Kau kira dengan menusukku kau bisa mengusirku dari sini?"
Aku mendengus pelan, "Lagi-lagi kau meremehkanku. Kita lihat saja yang akan terjadi!"
SYUT! JLEB!
Dalam sekejap aku berada dihadapannya dan langsung kutusuk ia dibagian jantungnya. Tidak ada darah yang keluar karena dunia ini hanya alam bawah sadar yang kuciptakan.
"AARRGHH!" Teriaknya kesakitan.
"K..a..u... ti..dak ak..an per..nah bi..sa meng..usirku ke..luar!" Katanya pelan karena aku tetap terus menusuk jantungnya. Aku hanya diam tak menjawab perkataaannya.
WHUSSH!
Tubuh dia perlahan-lahan mulai menghilang seolah-olah lenyap terkena sinar Matahari. Dia terus berteriak histeris karena perlahan-lahan tubuhnya mulai lenyap.
"SIAALL... Kenapa ini bisa terjadi?" Tanyanya.
"Karena darah Sieghart sudah mengalir masuk kedalam tubuhku!" Jawabku enteng.
"Sejak kapan?"
"Sejak Sieghart menikammu, Ia sudah kusuruh untuk melumurkan darahnya di ujung pedang miliknya. Itulah yang menyebabkan ini semua terjadi. Karena Sieghart merupakan Highlander maka darahnya bisa menjadi senjata untuk mengusirmu keluar dari tubuhku!" Jelasku panjang lebar.
Ia terkejut mendengarnya. Lagi-lagi ia kembali tertawa seperti orang gila, "HAHAHA... Ternyata seperti itu rencana kalian. Kalian berhasil menipuku, Sialan!"
"Camkan ini kalau kau tidak akan pernah bisa mengusirku keluar. Karena KITA SEBENARNYA ADALAH SATU!" Ucapnya teriak sebelum menghilang.
Aku hanya diam melihatnya menghilang dari hadapanku. Apa maksudnya kalau Aku dan Dia adalah Satu? Pertanyaan ini masih berkeliang dipikiranku.
Hm. Nanti saja kupikirkan lebih lanjut. Lebih baik sekarang aku kembali kedalam tubuhku.
-Uno Pov End-
.
.
.
*Dunia Nyata*
Uno membuka kedua matanya setelah berhasil kembali menguasai tubuhnya. Ia melihat sekelilingnya dan mendapati semua pandangan orang tertuju pada dirinya.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Kata Uno heran.
Mereka terdiam sejenak. Semuanya terlihat ragu-ragu. "Apakah kau benar-benar, Uno?" Tanya Arme ragu.
Uno menaikkan alis matanya heran. Dia benar-benar bingung dengan semua ini.
"Tentu saja. Memangnya siapa lagi?" Jawabnya tenang.
Semua yang ada disana langsung bersorak gembira mendengarnya.
"Memangnya apa yang terjadi?" Tanya Uno entah kepada siapa.
PUK!
"Kau tidak ingat semuanya?" Tanya Sieghart heran. Uno menggeleng pelan.
"Hah... Akan kuceritakan semuanya." Sieghart menghela nafasnya perlahan.
-Skip-
.
"Begitu... Ya?!" Uno menghela nafas.
"Ya..." Jawab Sieghart lemas.
"Rupanya aku telah membuat kekacauan disini. Lebih baik aku segera pergi dari sini!" Ujar Uno, membuat suasana disini langsung menjadi ramai.
"Tidak usah terburu-buru pergi, Kau tidak merepotkan kami, kok!" Kata Arme sambil memelas kepadanya.
"Maaf. Aku tetap harus pergi sekarang!" Jawab Uno bersikeras.
"Kenapa Kau ingin cepat pergi dari sini? Apa kau merasa membebani kami?" Tanpa basa-basi, Edel langsung memberi pertanyaan tajam kepada Uno.
Uno melirik Edel sebentar, "Aku hanya ingin mencari tau jati diriku lebih lanjut. Tak ada hubungannya dengan kalian!" Jawab Uno tak kalah sinis.
Hening.
Keadaan berubah menjadi hening setelah mendengar perkataan Uno. Sedangkan Edel -Ia masih diam terpaku ditempatnya berdiri
"Maaf... Mungkin perkataanku terlalu kasar!"
Edel maju perlahan kearah Uno. Tanpa sadar, ia melakukan sesuatu yang tidak biasa terhadap Uno.
GREP!
"Berjanjilah kepadaku, Kalau kau akan kembali, Uno!" Ucap Edel sendu sambil memegang kedua tangan Uno dengan erat.
Semua yang ada disana terbelalak tak percaya. Pasalnya, Edel merupakan perempuan yang jarang menunjukkan ekspresinya kepada orang lain. Namun kali ini takdir berkata lain.
Uno hanya melihatnya tak percaya. Sedetik kemudian ia tersenyum dan membisikkan sesuatu kepada Edel, "Pasti!" Lalu Uno pergi menjauh darinya. Edel mengeluarkan senyum tipis.
"Maaf, semuanya! Memang keputusanku mendadak. Tapi... aku akan cepat kembali dengan kalian ketika urusanku sudah selesai!" Uno langsung berjalan meninggalkan mereka yang masih diam ditempatnya.
.
.
Ini bukanlah akhir!
.
Tapi...
.
Ini adalah sebuah awal yang akan membimbing Grand Chase menuju sebuah tragedi yang mengerikan.
.
.
.
TBC
Author Curhat:
Weehhh... akhirnya selese juga nih chapter yg ga jelas ini. Udah nunggak beberapa minggu nih untuk chap ini, semoga bisa memuaskan rasa penasaran kalian. Hehehe... rupanya gw masih ga bsa lepas dari jeratan writer block. Udah diceritain bukan kalau bulan februari saya masih berduka atas meninggalnya Mama Tercinta Saya, sehingga beberapa fic akhirnya jadi terbengkalai. Belum juga begitu banyak urusan membuat saya bingung untuk menulis cerita. Moga-moga dengan hadirnya chapter 9 ini, untuk berikutnya supaya tidak menunggu lama.
NB : Masih Sedih akibat Penutupan Server Grand Chase 15 April Nanti. Semoga Grand Chase tetap hidup selamanya walaupun Gamenya udah ga ada TT_TT!
.
.
.
+Review Please+
