Imprint

Pair:

Kim Namjoon x Kim Seokjin

Rate: M

Genre: Fantasy, Drama, Romance, Hurt.

Length: Parts

Summary:

Sebagai seorang Omega, Seokjin akan tahu siapa pasangannya ketika dia bertemu dengannya dan dia selalu menantikan hari itu tiba. Tapi ketika akhirnya Seokjin menemukan sosok yang ditakdirkan untuknya, dia justru mengerahkan segala cara untuk melarikan diri dari dia yang sudah ditakdirkan untuknya. / NamJin, BL, ABO!AU.

.

.

.

.

.

.

.

.

Part 10: Reconcile 3: Fix It

Namjoon mengetuk pintu kamar Seokjin dengan pelan, "Jinseok, sarapan."

Namjoon menunggu hingga lima detik dan Seokjin tidak juga menyahut, dia mengetuk lagi, kali ini lebih keras. "Jinseok? Jinseok?"

"Kakakku belum bangun?"

Namjoon menoleh dan dia melihat Jungkook berdiri di koridor tak jauh dari pintu kamar Seokjin tempat Namjoon berdiri.

"Entahlah, dia tidak menjawab." Namjoon menjawab, tangannya kembali bergerak mengetuk pintu. "Jinseok?"

"Buka saja, kakakku itu morning person. Mungkin dia sedang mandi." Jungkook berujar santai kemudian dia berjalan ke dapur.

Namjoon terdiam, setelah melewati perdebatan batin, akhirnya dia membuka pintu kamar Seokjin dengan perlahan. "Jinseok? Aku masuk ya." ujarnya kemudian dia mendorong pintu membuka semakin lebar. Dan ketika pintu itu terbuka seutuhnya, Namjoon tertegun karena dia tidak melihat Seokjin dimanapun.

Pintu kamar mandi terbuka, begitu pula dengan jendela yang ada di kamar. Tempat tidur Seokjin masih berantakan dan tasnya juga masih ada di kamar. Namjoon mengerutkan dahinya, dia menatap sekeliling dan entah kenapa dia berjalan menuju jendela, saat dia melongok keluar, dia melihat pakaian Seokjin berserakan di tanah berumput tepat di bawah jendelanya.

Namjoon melompat keluar dengan ringan dan berjongkok di dekat pakaian Seokjin. Dia bisa mencium aroma Seokjin dan aroma itu mengarah ke hutan.

"Seokjin.."

Namjoon melemparkan pakaian itu ke tanah dan kembali melompat ke dalam, dia berlari dengan sangat cepat ke arah ruang makan tempat orang-orang berkumpul. Di sana dia melihat Jungkook sedang mengambilkan roti untuk Taehyung, Taehyung yang menguap, Hoseok yang tertidur di meja, Yoongi yang baru saja datang dari dapur dengan seteko kopi, dan Jimin yang sedang melahap rotinya.

"Seokjin menghilang!"

Seruan Namjoon menghentikan semua kegiatan yang tadinya sedang berlangsung di dapur. Jungkook terlihat membulatkan matanya kaget dan sebelum Namjoon melanjutkan, Jungkook sudah melesat ke arah kamar kakaknya.

Namjoon menyusul Jungkook dan dia melihat Omega berambut hitam kelam itu tengah berjongkok di pinggir jendela yang terbuka. Matanya basah dan tubuhnya gemetar, Taehyung segera menghampiri Jungkook dan memeluknya erat-erat.

"Aku akan mencarinya. Aku masih bisa mencium aromanya." Namjoon berujar kemudian dia melompat keluar jendela dan shift, tubuh manusianya berubah menjadi tubuh serigala berukuran besar berwarna hitam kelam dengan bola mata abu-abu terang. Namjoon mengangguk pada teman-temannya kemudian melesat ke dalam hutan.

"Tolong katakan padaku hutan ini bukanlah hutan sesungguhnya dan kau memiliki pembatas seperti pagar atau lainnya." ujar Yoongi.

Taehyung terdiam, dia mengangkat kepalanya dan menatap Yoongi kemudian menggeleng pelan.

Jimin membulatkan matanya, "Maksudmu ini benar-benar hutan liar?"

Taehyung mengangguk dengan wajah yang perlahan berubah pucat.

"Aku akan telepon ayahku. Kita harus mencari Seokjin secepatnya." ujar Jimin cepat.

Yoongi mengangguk, dia meremas lengan Jimin sebentar sebelum kemudian Alphanya berjalan meninggalkannya. Berada di hutan liar bagi seorang Omega adalah neraka. Mereka tidak ahli menjaga diri dan di hutan kita bisa bertemu apa saja.

Dulu, saat mereka masih tinggal dalam pack, Omega akan selalu berada dalam pack karena berbahaya apabila dia pergi keluar dari pack sendirian. Dan sekarang, Seokjin, Omega matang tanpa Alpha, berada di luar sendirian.

Hal paling ringan yang mungkin dia temui adalah hewan buas. Tapi jika dia sial, dia bisa saja bertemu Alpha-Alpha berengsek yang bisa memperkosanya kapan saja dan membuangnya, atau mungkin membunuhnya.

Jungkook meremas lengan Taehyung kuat-kuat, kenapa setelah semua ini kakaknya justru melarikan diri? Apa yang sebenarnya terjadi?

Yoongi tersenyum sedih melihat Jungkook, tidak ada isakan yang keluar dari Omega dengan usia paling muda diantara mereka itu. Tapi jika melihat dari seerat apa pelukannya pada Taehyung, maka Yoongi bisa menebak sekacau apa perasaannya sekarang.

.

.

.

.

.

.

.

Kaki berbulu Namjoon bergerak melompati sebuah pohon yang tumbang, dia mendongak dan mengendus-endus udara, mencoba menemukan aroma Seokjin di tengah udara terbuka yang menyelubunginya.

Seandainya saja Namjoon sudah mengklaim Seokjin, maka dia bisa melakukan telepati dengan Omeganya, dengan Seokjinnya. Tapi saat ini Namjoon tidak bisa melakukan itu. Dia dan Seokjin belum terikat dan dia tidak bisa menghubungi Seokjinnya, satu-satunya yang bisa dia andalkan adalah indera penciumannya.

Namjoon berlari lagi, kali ini dia berbelok dan memacu larinya semakin cepat, aroma Seokjin tercium cukup kuat dan itu artinya dia masih belum lama melewati tempat ini. Namun langkah kaki berbulu milik Namjoon berhenti saat dia sampai di pinggir sungai.

Aroma Seokjin.. menghilang.

Aromanya hilang tersapu air sungai dan Namjoon tidak bisa mencarinya lagi.

Namjoon menggeram marah, dia menunduk sedih menyesali keterlambatannya menghampiri kamar Seokjin pagi tadi. Kalau saja dia lebih cepat, mungkin dia bisa mencegah Omeganya pergi.

Namjoon tidak tahu apa yang menjadi alasan Seokjin melarikan diri disaat mereka sudah semakin dan semakin dekat.

Namjoon tidak tahu.

Dia tidak pernah tahu.

Karena Seokjinnya selalu tersenyum padanya, dan menerima semua tindakannya.

Namjoon tidak tahu apakah Seokjin sudah menerimanya.

Namjoon tidak tahu apakah Seokjin sudah benar-benar sembuh dari traumanya.

Dia tidak tahu.

Karena Seokjin memang tidak pernah memberitahunya.

Dia hanya diam menerima semua perhatian Namjoon.

Namjoon benci mengakui ini, tapi dia merasa terombang-ambing dalam perasaannya sendiri. Di satu sisi dia merasa bersalah dan ingin sekali menyembuhkan Seokjin, dan Seokjin terlihat menerimanya. Tapi di sisi lain, sisi egois dari hati seorang Alpha yang ada dalam tubuhnya melarang Namjoon untuk menunggu Seokjin.

Dan sekarang, setelah Seokjin kembali pergi darinya, Namjoon mulai berpikir untuk mendengarkan bagian egois dari hatinya.

Karena seorang Alpha tidak bisa ditinggalkan. Seorang Alpha tidak pantas tertinggal di belakang.

Apalagi jika itu oleh Omeganya sendiri.

.

.

.

.

.

.

.

.

Seokjin berhenti berlari saat keempat kakinya mulai terasa lelah. Dia berjalan hati-hati menuju sebuah lubang yang ada di dasar pohon dan meringkuk di sana.

Tubuhnya basah karena berlari melintasi sungai tapi Seokjin tidak peduli. Dia perlu menenangkan dirinya sendiri. Dia dan Omeganya perlu menenangkan diri sendiri.

Helaan napas keras keluar dari bibir Seokjin, dia menatap sekeliling dan menyadari kalau saat ini dia benar-benar berada di dalam hutan dan kembali shift ke wujud manusianya bukanlah sesuatu yang bagus.

Seokjin menatap tanah yang dihiasi daun-daun gugur di hadapannya dengan pandangan kosong. Dia terlalu takut menerima kenyataan kalau seseorang kembali menolaknya. Perasaan ditolak itu begitu menakutkan bagi Seokjin. Dia merasakannya bertahun-tahun bahkan sebelum dia bisa menata hatinya sendiri.

Dia masih terlalu kecil saat dia menerima penolakan pertamanya. Dan sekarang, bahkan setelah dia bertumbuh besar, trauma akibat penolakan itu masih menjadi momok yang terlalu menakutkan bagi Seokjin.

Penolakan itu membuatnya merasa terbuang, dan penolakan itu membuatnya merasa begitu tidak diinginkan. Seokjin tidak mau mengalami itu lagi, dia tidak mau. Butuh waktu bertahun-tahun baginya dan Omeganya untuk pulih, tidak sembuh, tapi setidaknya waktu membuatnya dan Omeganya merasa bahwa mereka layak untuk berada di dunia ini.

Layak untuk ikut berdiri dan berjalan bersama manusia lainnya, bersama Alpha, Beta, dan Omega lainnya.

Seokjin memejamkan matanya, rasa lelah akibat berlari terlalu jauh mulai terasa di setiap sendinya. Dia menghembuskan napas perlahan, mencoba tenang dan tidur sejenak. Dia tidak yakin keluarganya akan menemukannya. Yang bisa melakukan telepati dengannya dalam wujud serigala adalah keluarganya, dan itu berarti hanya ayah dan ibunya yang bisa.

Tapi saat ini, bahkan jika ayahnya berteriak dalam kepalanya, Seokjin tidak ingin kembali. Dia hanya ingin sendiri saat ini.

.

.

.

.

.

.

.

Jungkook masih terisak pelan, dia sudah menghubungi kedua orangtuanya dan ibunya justru terkena serangan jantung karena terlalu shock. Ayahnya mengatakan pada Jungkook untuk tetap tenang dan berusaha mencari Seokjin sementara ayahnya akan mengurus ibunya terlebih dahulu.

Kenyataan buruk ini menimpa mereka seperti badai di siang hari dan tidak ada satupun yang siap dengan terpaannya. Jimin berjalan mondar-mandir dengan telepon yang terus tersambung. Yoongi duduk diam di sofa dengan wajah mendung sementara Taehyung terus memeluk Jungkook dan membisikkan kalimat penenang untuknya.

"Appa, ini temanku dan dia Omega. Dia berada di luar sana dan aku benar-benar tidak bisa menduga bagaimana kondisinya sekarang. Dia dalam kondisi kacau." Jimin memijat pelipisnya, ayahnya bersedia membantu dengan mengirim beberapa agen mereka ke villa Taehyung. Memang selain bagian dari kepolisian, keluarga Jimin juga mengelola perusahaan keamanan.

Yoongi menatap Alphanya dan menarik lengannya lembut untuk duduk di sebelahnya. Jimin menurut dan menghempaskan tubuhnya di sebelah Yoongi. Yoongi mengulurkan tangannya dan mengelus-elus bahu serta tengkuk Jimin, memberikan pijatan lembut untuk membuatnya rileks karena dia tahu saat ini emosi Alphanya sedang naik.

Sementara itu Namjoon hanya diam di sudut ruangan seraya bersandar ke kaca besar yang menghiasi ruang tengah. Pandangan matanya terfokus ke pepohonan rimbun yang terlihat olehnya. Saat ini Omeganya ada di sana dan dia bahkan tidak bisa menemukannya.

"Namjoon, kau kehilangan jejaknya di sungai, kan?"

Suara Jimin membuyarkan lamunan Namjoon, dia mengangguk singkat ke arah Jimin dan Jimin kembali sibuk berbicara di telepon.

Namjoon berdiam diri selama beberapa detik hingga kemudian dia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Dad, aku butuh bantuanmu." Namjoon berujar saat seseorang yang dihubunginya sudah menjawab panggilannya.

"Joon-ah, kenapa?" sahut ayah angkatnya. Namjoon memang memanggil ayah angkatnya dengan panggilan 'Dad' untuk menghormatinya.

"Omegaku menghilang."

"Omega.. maksudmu Seokjin?" ujar ayah angkatnya langsung. Dia memang mengenal Seokjin karena saat persidangan Namjoon, pria manis itulah yang membela Namjoon bersama pengacaranya.

Namjoon mengangguk pelan walaupun dia sadar ayah angkatnya tidak bisa melihat itu. "Ya, sesuatu terjadi padanya. Aku tidak tahu kenapa dia pergi meninggalkanku."

"Namjoon, kau baik-baik saja?" tanya ayah angkatnya khawatir.

"Aku tidak baik, Dad.." bisik Namjoon.

"Namjoon.."

"Dad, bisa aku mendapat seorang psikolog? Kurasa aku butuh itu."

"Kau akan mendapatkannya, Son. Aku akan siapkan segalanya."

.

.

.

.

.

.

.

Seokjin merobek daging anak rusa itu dengan menggunakan rahangnya. Sudah beberapa hari dia tinggal di hutan dan selama ini dia hanya bertahan hidup dengan berburu. Seokjin tidak merubah wujudnya menjadi manusia sekalipun. Dia tetap dalam wujud serigalanya.

Seokjin merasa jauh lebih aman berada dalam wujud serigalanya. Dia merasa dekat dengan Omega dalam dirinya dan ini membantunya untuk tenang. Seokjin bergerak mencari air dan setelah dahaganya terpuaskan, Seokjin kembali bergelung dalam pohon yang dia temukan beberapa hari lalu.

Selama dia berada di sini, ayahnya sempat mencoba menghubunginya melalui telepati. Tapi Seokjin menutup kepalanya dan mendiamkan panggilan ayahnya. Dia lebih memilih untuk diam dan membiarkan traumanya sembuh dengan sendirinya.

Dia masih tidak siap untuk kembali ke lingkungan dan kembali bersosialiasi dengan yang lainnya.

Telinga dengan hiasan bulu halus berwarna coklat pudar milik Seokjin bergerak saat dia mendengar suara yang tak jauh darinya. Seokjin berdiri dan bergegas melarikan diri dari tempatnya berada.

Dia tahu hutan sangat berbahaya, terlebih lagi untuk Omega dengan kekuatan standar seperti biasa. Dia harus pandai dalam melakukan kamuflase untuk melindungi dirinya sendiri.

Seokjin berlari ke arah sungai kecil yang selama ini menjadi sumber airnya dan melompat ke dalamnya, membasahi tubuhnya kemudian dia bergerak bersembunyi ke balik semak-semak rimbun. Dia meringkuk serapat mungkin menyembunyikan tubuhnya dan mengintip keluar.

Dia melihat beberapa orang menghampiri pohon tempatnya berlindung selama ini dan jika melihat dari seragamnya, maka bisa jadi dia adalah agen dari suatu perusahaan keamanan.

"Dia ada di sini sebelumnya!"

Seokjin bisa mendengar salah satu dari mereka berbicara dan Seokjin semakin merapatkan dirinya, menyembunyikan tubuhnya serapat mungkin di balik semak-semak yang melindunginya.

"Baunya tercium kuat, mungkin dia baru saja pergi."

Jantung Seokjin berdegup begitu kuat, mereka semua Alpha dan Seokjin tidak yakin mereka tidak akan menyadari Seokjin yang bersembunyi di balik semak-semak seperti ini.

"Hubungi Tuan Jimin dan katakan ini padanya."

Seokjin terdiam, jadi mereka adalah agen dari perusahaan keamanan yang dikelola oleh keluarga Jimin. Dia tahu keluarga Jimin bekerja dalam bidang semacam ini karena Jimin sendiri sedang mendirikan perusahaannya sendiri.

Seokjin menghela napas lega saat para agen itu meninggalkan 'rumah'nya. Dia bergerak keluar dan bergegas kembali ke dalam rumahnya dan bergelung di sana.

Seokjin tidak yakin berapa lama lagi dia akan menetap di sini, tapi mungkin dia akan terus menetap di sini sampai traumanya sembuh.

.

.

.

.

.

.

.

Namjoon berbaring di kursi ruang konsultasi bersama psikolognya dengan mata terpejam. Dia sudah melewati empat konsultasi selama dua minggu sejak Seokjin menghilang.

Dia tidak gila, tapi dia butuh berkonsultasi sebelum dia benar-benar mati karena semua penolakan dan Seokjin yang terus saja lari darinya. Dia Alpha, tapi dia juga manusia, sudah terlalu banyak yang dia alami dan jiwa manusianya mulai melemah. Dan jika jiwa manusianya melemah, maka jiwa Alphanya juga akan mati.

Alpha dalam tubuhnya adalah bagian dari dirinya, penopang hidupnya dan penyokong kekuatannya. Tanpa Alphanya dia akan hampa, kosong, seperti tubuh tanpa jiwa. Tapi jika dia 'berbagi' tubuh dan pikiran dengan Alpha dalam dirinya, maka dia harus siap menanggung segala resiko kepribadian Alpha dan juga kepribadiannya yang mungkin saja bertentangan.

Hoseok duduk diam di salah satu kursi, sejak dia tahu temannya menerima konsultasi dari psikolog, Hoseok langsung mengajukan diri sebagai penasihat kesehatan Namjoon yang disetujui oleh ayah angkat Namjoon. Dan sejak saat itu Hoseok selalu datang di sesi konsultasi Namjoon, mendampinginya dan mendiskusikan kondisi Namjoon dengan psikolognya.

"Tuan Kim, bagaimana kabarmu?" ujar psikolognya memulai.

"Aku.. baik." Namjoon menjawab dengan datar.

Psikolognya terlihat mengangguk ringan dan menulis sesuatu di kertas yang ada di pangkuannya.

"Apa kau merindukan Seokjin? Omegamu?"

Namjoon menghembuskan napas pelan, "Sangat."

Hoseok menegakkan tubuhnya, sejauh ini Namjoon hanya diam saat ditanya soal Omeganya dan baru kali ini Namjoon kembali merespon pertanyaan terkait Omeganya, Seokjinnya.

"Apa kau ingin bertemu dengannya?"

Terdapat jeda panjang yang terasa menyesakkan hingga akhirnya Namjoon mengangguk pelan. "Ya,"

"Apa kau siap mendengar kabar terbaru tentangnya?"

Namjoon mengerjap pelan, dan Hoseok berkeringat di kursinya. Dia merasa sesi konsultasi kali ini benar-benar menjadi fokus utama dari semua sesi konsultasi selama ini. Karena memang inti dari semua sesi konsultasi yang dilakukan adalah untuk menyembuhkan Namjoon dari rasa sakit akibat penolakan Seokjin.

Dan mendengar dia mau bertemu Seokjin merupakan tanda bahwa Namjoon sudah bisa menerima semua penolakan itu dan siap untuk menyambut awal yang baru dengan Seokjin.

"Ya,"

Hoseok mengeluarkan helaan napas lega. Dia tersenyum kecil mendengar Namjoon sudah siap untuk menemui Seokjin.

"Seokjinmu sudah ditemukan, Tuan Kim. Dia.. dalam keadaan aman."

Namjoon terdiam, tapi sebuah senyum tipis muncul di bibirnya.

"Syukurlah.."

.

.

.

.

.

.

.

Jungkook menopang dagunya seraya menghela napas pelan. Sejak kakaknya menghilang dua minggu lalu, dia dan Taehyung memutuskan untuk tinggal sementara di villa itu bersama dengan Yoongi dan Jimin untuk memantau keadaan Seokjin.

Dan sekitar empat hari lalu, agen perusahaan keamanan milik Jimin berhasil menemukan Seokjin, tapi karena Omega itu terlihat begitu ketakutan maka Jimin akhirnya memerintahkan mereka untuk tidak memaksa untuk membawa Seokjin pulang. Dan sejak itu Seokjin masih tinggal di sana namun dalam keadaan terpantau.

Jungkook agak lega menyadari kakaknya sudah dalam keadaan aman dan selamat. Tapi tetap saja dia ingin bertemu dengan kakaknya. Saat ini sudah hampir mendekati hari heat kakaknya dan dia tidak mau kakaknya melewati heatnya sendirian di hutan belantara seperti ini.

"Kookie?"

Jungkook menoleh dan melihat Alphanya tengah mengintip dari balik pintu kamar yang hanya terbuka sedikit.

"Ada apa?" tanya Jungkook.

"Makan siang sudah siap."

Jungkook tersenyum kecil, "Kau yang memasak?"

"Bukan, Yoongi yang memasak. Jadi kau tidak perlu khawatir. Tidak akan ada resiko makanan hangus dan rasa yang tidak bisa dideskripsikan. Makanan buatan Yoongi layak makan, kau tahu itu."

Jungkook tertawa renyah, "Baiklah. Aku akan keluar sebentar lagi."

Taehyung tersenyum, "Cepatlah, sayang."

Jungkook mengangguk.

.

.

"Mana Jungkook?" tanya Yoongi saat Taehyung berjalan ke ruang makan sendirian.

"Dia akan menyusul," sahut Taehyung kemudian dia menarik kursi dan duduk di atasnya.

"Dia masih murung?" tanya Yoongi lagi.

"Dia akan terus seperti itu sampai kakaknya kembali." Taehyung menjawab pelan.

"Tidakkah kalian merasa Namjoon dan Seokjin itu sangat sulit untuk bersatu? Tidak seperti kita, mereka melalui terlalu banyak kesulitan bahkan hanya sekedar untuk bersama." Jimin berujar kemudian menghela napas pelan.

"Bagaimana kondisi Namjoon? Kau sudah menghubungi Hoseok?" tanya Taehyung.

Jimin mengangguk, "Ya, dia dalam kondisi sehat. Terapinya sukses, dia sudah mau bertemu dengan Seokjin lagi."

Taehyung mengacak rambutnya, "Kurasa aku baru bisa pergi bulan madu dengan tenang kalau kedua orang itu sudah benar-benar bersama."

Jimin mengangguk, "Ya, aku tidak bisa tidur dengan tenang memikirkan mereka. Kenapa nasib mereka begitu rumit? Seolah lingkaran takdir mereka adalah benang kusut yang tidak akan mungkin terurai dan satu-satunya cara untuk membebaskannya adalah dengan memutusnya."

Yoongi tersenyum kecil dan duduk di sebelah Jimin, "Tapi jika salah satu diantara mereka memutusnya, maka mereka akan mati."

"Ikatan takdir antara Alpha dan Omega memang rumit, tapi aku tidak pernah melihat yang ikatannya serumit Namjoon dan Seokjin." Jimin berujar lagi.

Taehyung tertawa kecil, "Yah, yang terpenting sekarang adalah mereka akan segera bersama lagi. Mereka berdua terluka, mereka hanya dua serigala yang terluka. Dan lukanya mungkin terlalu besar sampai membutuhkan waktu dan proses yang sangat lama untuk sembuh."

"Yeah, and it takes like forever." Jimin menyahut lagi dan kali ini Yoongi ikut tertawa kecil.

.

.

.

.

.

.

.

Namjoon membuka pintu mobilnya dan bergerak turun. Dia sudah berkendara dari Seoul menuju Gangwon dengan keinginan untuk memutar balik mobilnya sampai lebih dari tiga kali dan untungnya hasrat kuat dari Alphanya untuk menemukan Omeganya berhasil membuatnya menetapkan hatinya untuk pergi ke villa milik Taehyung.

Dia sudah siap, sesi terapi dengan psikolog mungkin adalah satu-satunya yang dia butuhkan selama ini. Seharusnya sejak lama dia menurunkan egonya dan mengikuti terapi dengan psikolog untuk menyembuhkan luka masa kecilnya, mungkin saja dia tidak akan tumbuh menjadi sosok sekeras dan sekejam ini.

Jari Namjoon bergerak membuka pintu depan villa Taehyung dan dia melihat Yoongi yang tadinya sedang memasukkan beberapa tangkai bunga ke vas terhenti.

"Namjoon?" pekiknya.

Namjoon mendengar suara seseorang tersandung dan tak lama kemudian Jimin muncul dari balik pintu. "Hei, mate!"

Namjoon tersenyum dan berjalan masuk, "Hai, mana yang lainnya?"

"Taehyung dan Jungkook sedang pergi berbelanja." Yoongi menjawab, "Duduklah."

Namjoon menggeleng, "Aku ingin menemui Seokjin."

Jimin dan Yoongi terdiam, mereka berdua menatap satu sama lain sampai akhirnya Jimin mengangguk pelan.

"Aku akan menunjukkan tempatnya."

.

.

.

.

.

Namjoon berjalan menyusuri hutan dengan berbekal peta acak-acakan buatan Jimin. Jimin mengatakan dia tidak mau ikut bersama Namjoon dan mengatakan kalau ini adalah saatnya bagi Namjoon dan Seokjin untuk berbaikkan.

Sudah hampir satu bulan Seokjin dalam wujud serigalanya dan mungkin bila diteruskan Seokjin tidak akan mau berubah menjadi wujud manusianya lagi.

Dan karena itu Namjoon pergi menghampiri Seokjin dalam wujud manusianya. Dia tidak mau membuat Seokjin semakin takut padanya karena pergi menemuinya dalam wujud serigalanya.

Namjoon bisa mencium aroma manis Seokjin yang entah kenapa tercium semakin manis. Dia melihat sosok serigala dengan bulu coklat muda tengah bergelung di dalam lubang sebuah pohon.

Itu Seokjin.

Namjoon bisa mengenalinya karena Seokjin tetap terlihat cantik, walaupun dalam wujud serigalanya.

Namjoon berjalan mendekati Seokjin dan Seokjin bergerak bangun saat Namjoon menginjak ranting kering. Seokjin menggeram pada Namjoon tapi Namjoon tetap melangkah maju.

Dia terus berjalan sekalipun Seokjin sudah memasang pose bersiaga.

"Seokjin.. hei, Jinseok." Namjoon bergerak semakin dekat, "Ini aku."

Geraman marah kembali Seokjin keluarkan dan saat tangan Namjoon hampir menyentuhnya, Seokjin mengayunkan lengannya yang dihiasi dengan cakar dan berhasil merobek lengan bawah Namjoon. Cakaran itu berhasil mengoyak kulit di lengan bawah Namjoon, darah mengalir deras dari sana dan menetes ke tanah basah yang penuh dengan daun-daun gugur.

Seokjin terlihat terkejut saat melihat banyaknya darah yang mengalir keluar dari lengan Namjoon. Dia terlihat ketakutan dan panik sehingga Namjoon menggeleng pelan untuk menenangkan.

"Hei, aku tidak apa-apa." ujar Namjoon seraya memegang lengannya yang berdarah, berusaha menutupi luka lebar yang dibuat oleh Omeganya sendiri.

Seokjin melangkah mundur dengan perlahan.

"Sayang, aku tidak apa-apa. Ini luka kecil, aku akan baik-baik saja." Namjoon berusaha meyakinkan walaupun darah yang keluar dari tubuhnya semakin banyak dan menggenangi kakinya.

Seokjin menatap Namjoon dan Namjoon membalasnya dengan senyum.

Namjoon bergerak semakin dekat dan saat sudah dekat, dia meraih Seokjin dalam pelukannya, memeluk leher Seokjin yang berbulu erat-erat.

Seokjin meronta keras tapi Namjoon menahannya, cakar Seokjin kembali melukai bagian punggung dan pinggangnya tapi Namjoon tetap memeluknya.

"Maafkan aku, Seokjin. Maafkan aku atas semua penderitaanmu."

Seokjin masih meronta namun lama kelamaan rontaannya berhenti dan sosok serigala Seokjin menyusut dan semakin menyusut hingga akhirnya dia berubah menjadi Seokjin, sosok Seokjin dengan rambut pinknya yang manis. Seokjin terdiam dalam pelukan Namjoon saat dia sudah bertransformasi ke wujud manusianya. Kepalanya terasa kosong dan yang bisa didengarnya hanyalah suara napas berat Namjoon dan bisikan penuh permintaan maafnya.

Namjoon masih memeluknya walaupun bau anyir darah tercium kuat di sekitar mereka. Darah Namjoon mengucur deras karena luka cakaran Seokjin dan Namjoon sendiri masih tetap memeluknya.

"Maafkan aku, Seokjin.." bisik Namjoon parau.

Seokjin balas memeluk Namjoon dengan gerakan ragu, dia bisa merasakan ketulusan dan kepasrahan Namjoon dalam setiap bisikan permintaan maafnya. Dan entah kenapa Seokjin tidak lagi merasa takut akan diri Alphanya, Alphanya benar-benar menerimanya secara utuh. "Aku.. memaafkanmu." bisiknya pelan, sangat pelan bahkan Seokjin sendiri ragu dia benar-benar bersuara.

Namjoon tersenyum dan setelahnya pelukannya melonggar hingga akhirnya Namjoon jatuh menghantam tanah penuh daun kering di bawah mereka.

"N-Namjoon.. Namjoon!" teriak Seokjin panik karena Namjoon tidak sadarkan diri. Dia menatap tubuh Namjoon yang penuh luka hasil cakarannya dan Seokjin mendadak merasa pusing karena aroma anyir yang menguar di sekitar mereka.

"NAMJOON!"

To Be Continued

.

.

.

.

.

Nah, part sedih-sedihannya sudah selesai (semoga)

Tadinya ini mau aku selesaikan di chapter 10 lho. Tapi kelihatannya kalau kehidupannya mereka yang penuh kerumitan itu selesai begitu saja rasanya aneh ya. Hmm.

Jadi akhirnya aku panjangkan sedikit chapter untuk Imprint ini sampai semua masalah mereka beres. Hehehe

.

.

.

.

Part berikutnya masih reconcile (kapan selesainya bagian reconcile ini sih, Lun? Hmm)

.

.

.

Ah, semoga kalian sukaaa~

Dan selamat datang untuk para pembaca baru di ff penuh drama yang mengalahkan ftv pagi ini. hahaha

Semoga kalian betah ya dengan drama-drama ala Black Luna. Hahahha

.

.

.

Thank you so much for the review!

Love yaaa~

Btw, aku ingin sekali lihat review untuk ini mencapai 1k+, jadi bersediakah kalian mewujudkan keinginanku itu? hehehe /dihajar karena banyak maunya/