Sembilan
.
.
.
Jika tidak mengingat usia kehamilannya yang masih sangat muda, niscaya Baekhyun telah berlari melintasi halaman. Ia sekarang berjalan cepat, berusaha tidak tersaruk bebatuan timbul yang menjadi jalan setapak menuju gerbang rumah, dipagari rerumputan dan kebun bunga di tiap sisi.
Beruntung, orang yang ia bermaksud hentikan itu masih berdiri di sana, memperbaiki letak kotak pesanan lainnya di bagian belakang sepeda motor. Baekhyun menepuk pundaknya, membuat pria empat puluh tahunan itu menoleh.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Dengan senyum di bibirnya, Baekhyun menggeleng, lalu menyodorkan sebungkus makanan di hadapannya. Agak lambat bagi orang itu untuk menerimanya, perlu beberapa usaha seperti Baekhyun yang menjejalkannya ke tangan pria itu langsung. Kebingungan masih lekat di wajahnya ketika Baekhyun mengetik cepat di ponsel lalu menunjukkannya.
Pesanan saya salah. Saya tidak memesan nasi goreng seafood.
Seketika, pria dengan seragam merah berlogo sebuah restoran besar itu membungkuk meminta maaf.
"Oh, saya minta maaf. Biar saya ganti."
Tidak usah. Bapak suka nasi goreng seafood?
"Ya?" Sekali lagi, alis itu berkerut, terutama pada senyum kelewat ramah yang gadis itu tunjukkan. Senyumnya seolah-olah ia tidak percaya dengan adanya kejahatan di sekitar.
Ini untuk Bapak. Uangnya tidak usah diganti. Saya alergi. Nanti saya memesan yang baru saja.
.
.
Siang. Hampir pukul dua. Waktu istirahat telah berakhir hampir setengah jam lamanya dan meeting hampir dimulai. Namun, Chanyeol tidak bisa berkonsentrasi. Tidak bahkan ketika ia memerlukannya untuk mengecek data, melakukan riset dadakan, atau keperluan teknis lainnya, ponselnya justru terus saja berdering semenjak tadi. Sejak tadi pagi, sebenarnya. Dan kesemuanya dari Jinah.
"Kyungsoo," ujarnya pada sang sekretaris. Wanita berambut pendek itu dengan sigap menghampiri, siap menerima tugas. Chanyeol menyerahkan beberapa berkas di tangannya.
"Tolong lakukan riset tentang perusahaan ini dan para pemegang saham serta jumlahnya. Saya ada urusan sebentar."
"Baik, Sajang-nim."
"Changmin?"
"Seorang pria tinggi yang duduk di sisi kanan Chanyeol berdiri. "Ya, Sajang-nim?"
"Tolong mulai rapatnya."
"Baik."
Usai mengembankan tugas-tugas pokoknya, Chanyeol meminta diri dan keluar meninggalkan ruangan. Ponsel di tangannya masih berdering.
Ia sudah banyak berpikir. Setiap menatap cincin kawin di tangannya, Chanyeol seperti dipukul dengan kenyataan, bahwa ia tahu mana yang benar dan mana yang salah. Awalnya, berpisah dengan Baekhyun terdengar mudah. Mereka tidak saling mencintai. Tapi sekarang ada bayi yang bisa menjadi alasan apa saja untuk tinggal. Ia hanya... harus belajar mencintai Baekhyun. Dan melupakan cinta pertamanya.
Dengan kesal ia mengangkat telpon itu.
"Bisa tidak, kau berhenti menggangguku?"
Ini adalah kedua kalinya ia berteriak pada Jinah. Bertahun-tahun mereka berkencan, dan ini hanya kali kedua. Pertama ketika gadis itu sakit sendirian tanpa memberitahunya, membuatnya panik, dan yang kedua ... sekarang. Ia tidak pernah marah atas apapun yang gadis itu lakukan. Tapi sekarang ... cukup.
Ini demi bayinya.
Tidak ada jawaban selama beberapa menit di seberang sana kecuali napas yang teratur, lalu. "Maaf," ujar Jinah, dan sambungan diputus begitu saja.
.
.
Rapat kali ini hanyalah rapat internal perusahaan tanpa melibatkan klien atau para shareholder lainnya. Changmin, manager dari divisi marketing berdiri di depan, mempresentasikan proyek dan ide-idenya demi menaikkan omset. Semua orang mendengarkan dengan seksama, ada Chanyeol di situ, Chanyeol yang terkenal tegas pada bawahannya.
Pengecualian untuk hari ini, karena Chnayeol sendiri tidak bisa berkonsentrasi sepenuhnya pada apa yang Changmin sedang sampaikan. Kata-kata Daehyun si kurang ajar itu mau tidak mau bergema di benaknya. Tidak mau pergi.
"Cinta pertama dan seorang istri. Kecuali anda berniat untuk poligami, apa anda sudah membuat keputusan, Tuan Park?"
Chanyeol ingat seberapa keras ia menggebrak meja saat itu.
"Kau datang ke sini hanya untuk menggejekku?!"
Daehyun menatapnya tepat di manik mata. Tajam.
"Kita bukan hanya kerabat, kita juga sahabat, Chanyeol. Aku hanya ingin kau memikirkannya matang-matang. Memangnya, kau pernah memberikan Baekhyun kesempatan? Pernah, kau mencoba membuatnya bahagia?"
Sebuah dering pesan masuk aplikasi line membuyarkan lamunan Chanyeol. Di sisinya, seorang staff dengan panik menyimpan ponselnya. Temannya, yang duduk di sisi lain pria itu mencondongkan tubuh, sedikit berbisik saat ia bertanya.
"Gimana kabar istrimu?"
Chanyeol dapat mendengarnya dengan cukup jelas. Terimakasih pada keadaan ruangan yang sepi begitu Changmin berhenti sejenak untuk menampilkan slide yang baru.
Pria yang ditanya, Lee Hyukjae, kalau tidak salah, dari divisi HRD menjawab dengan volume suara yang sama. "Berat, ternyata. Sejak hamil bulan kedua mintanya aneh-aneh, waktunya aneh-aneh pula. Tengah malam, subuh-subuh. Sekarang. Pada sudah dibilang lagi rapat."
"Eh pantes kayak kurang tidur gitu, Hyung." Ryeowok terkekeh.
Changmin memulai bahan presentasi barunya. Kali ini sebuah video. Chanyeol mengalihkan tatap, sementara telinganya terfokus pada hal berbeda.
"Mintanya apa aja?"
"Macem-macem. Yang asem-asem, yang manis-manis, yang aneh-aneh."
Lalu terdengar bunyi pesan masuk. Berderet-deret. Dari sudut mata, Chanyeol melihat pria itu dengan gugup melepas baterai ponselnya.
"Duh, tuh kan orangnya merengek terus. Minta beliin makanan Jepang. Astaga. Mana mintanya sekarang."
"Yah nggak bisa, Hyung. Kita kan lagi rapat."
Tiba-tiba, Chanyeol berdiri. Dua orang yang mengobrol itu seketika panik, terutama begitu menyadari ke arah mana pandangan sang CEO sekarang. Berjalan ke arah mereka, Chanyeol menyodorkan sejumlah uang tunai, yang sebenarnya jumlahnya agak terlalu banyak.
"Beli sana. Untuk istrimu. Dan satu lagi bawa ke sini."
"B-Baik, Sajang-nim."
.
.
Hari ini adalah satu dari sekian waktu yang jarang terjadi. Ketika Chanyeol pulang seperti karyawan biasa. Sore-sore. Ia telah meminta sekretarisnya untuk mengosongkan jadwalnya malam ini, dan memilih membawa sebagian pekerjaan pulang untuk dikerjakan di rumah.
Entah bagaimana, suasanya hatinya sedang baik. Mungkin karena ucapan selamat dari beberapa karyawan yang akhirnya mengetahui bahwa ia akan segera menjadi ayah. Atau mungkin karena, ini, untuk pertama kalinya ia membawa sesuatu pulang. Dan sesuatu itu tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan.
Awalnya, Chanyeol cukup kaget mendapati satu buah tupperware biru muda di mejanya. Ia tahu itu milik siapa. Baekhyun sempat ke sini. Ia membuka kotak itu dan menemukan aroma familiar menguar ke udara.
Kue mentega. Kesukaannya. Kue yang, pernah, beberapa kali, sering, malah, ia berikan untuk Kyungsoo atau karyawan lain. Hanya karena ia tidak mencintai Baekhyun, dan ia bosan setengah mati dengan sikap baik yang gadis itu tunjukkan. Namun hari itu ia duduk menghadap jendela besar yang menyentuh lantai di kantornya, menatap jalanan Seoul di bawah kakinya hingga seluruh kue mentega ia habiskan. Sendirian.
Sekarang Baekhyun tidak sedang berada di kebun bunganya, atau dapur, atau kamar. Hanya ada satu tempat lain dan Chanyeol pergi ke sana. Ia mendapati Baekhyun tertidur di atas karpet. Satu buah jambangan berisi warna-warni kertas origami berbentuk hati di sisinya, bersama beberapa kertas hati lain yang terserak. Chanyeol memungutnya, dan memasukkannya ke dalam jambangan.
Baekhyun tertidur pulas, dan Chanyeol tidak mungkin menggendongnya turun melalui tangga kecil curam di kamar mereka. Jadi ia hanya duduk di situ, menunggu. Angin yang masuk melalui celah jendela kecil di salah satu ruangan menerbangkan helai rambut Baekhyun. Chanyeol mengusapnya, membenarkan letak anak rambut itu ke belakang telinga, nyaris seperti refleks. Hal yang baru ia ketahui, atau tepatnya sadari adalah, Baekhyun akan terbangun dengan sentuhan kecil. Dan kali ini tidak ada bedanya.
Melihat Chanyeol, gadis itu segera duduk, mengucek matanya demi menghilangkan kantuk.
Sudah pulang? Ia bertanya. Kebingungan. Lalu matanya bergerak liar mencari-cari jam dinding. Sementara Chanyeol hanya mampu samar-samar memahami makna 'rumah' ketika gadis itu menempelkan empat jarinya di sudut bibir lalu di pelipis.
"Hm, aku pulang cepat." Jawaban pria cukup untuk menghentikan kepanikan Baekhyun. Sayangnya, senyum yang pria itu sodorkan detik berikutnya hanya membuat kekacauan baru yang tidak ia sadari.
Kekacauan dalam detak jantung Baekhyun.
Chanyeol tersenyum. "Kalau masih ngantuk, tidur saja lagi."
Baekhyun buru-buru menggeleng.
Maaf, aku tidak tahu. Kau mau kopi?
Gadis itu nyaris beranjak, jika saja Chanyeol tidak mencengkeram pelan lengannya. "Tidak perlu. Kamu sedang hamil, kenapa naik ke atas sini?"
Kesadaran baru, dan penyesalan terpancar dari gurat wajah Baekhyun, berganti-ganti. Gadis itu menundukkan pandangan.
Maaf, ujarnya, sekali lagi menempelkan genggaman tangannya ke dada lalu membuat gerakan memutar berlawanan arah jarum jam. Aku tidak akan mengulanginya.
Terkekeh kecil, Chanyeol mengusak rambut gadis di depannya. Secara mengejutkan, sangat lembut. Chanyeol mulai bertanya-tanya, ini kah pertama kali menyentuh rambut Baekhyun?
"Tidak apa. Lain kali, lebih hati-hati."
Dan seolah baru ingat, Chanyeol meraih plastik yang dari tadi ia bawa, menyerahkannya pada Baekhyun yang terlihat terkejut.
Sekarang jadi aneh. Karena ... selama tiga tahun, Chanyeol tidak pernah melakukan ini.
"Tadi aku ... membeli masakan Jepang ini. Kamu ... suka makanan Jepang?"
Baekhyun membuka bungkusannya, menemukan bento lengkap di sana. Nasi, sushi, sashimi ... udang. Udang yang sangat besar. Potongan tuna yang banyak.
Seafood.
Baekhyun tersenyum, lebar. Ia tidak menghabiskan satu detik untuk berpikir sebelum mengangguk bersemangat. Tidak juga menghabiskan detik berikutnya untuk berdebat. Ia segera meraih sumpit yang tersedia dan menyuap nasinya. Lalu lagi. Lalu lagi. Nyaris rakus.
Tawa kecil lepas dari bibir Chanyeol. "Udangnya, nggak suka?"
Lalu, masih dengan senyum lebarnya, Baekhyun meraih udangnya, juga tuna, menggigitnya. Ia mengunyah semuanya, lagi dan lagi. Hingga habis. Hingga tidak ada yang tersisa.
Karena makanan ini dari Chanyeol. Ia ... tidak bisa lebih bahagia lagi.
"Habis ini ganti baju," Chanyeol tiba-tiba buka suara. "Kita jalan-jalan."
Atau mungkin, Tuhan sedang sangat sangat berbaik hati padanya.
.
.
Suhu sore itu mencapai 30° celcius dengan kelembapan yang tinggi. Rasanya gerah. Mungkin, hanya orang gila yang mau memakai sweater rajut tebal dengan model tutrle neck dan lengan yang kepanjangan melampaui jari, nyaris menyembunyikan badan seluruhnya. Tapi, Baekhyun melakukannya. Harus melakukannya.
Ia tidak ingin Chanyeol melihat bintik-bintik merah di hampir seluruh kulitnya kecuali wajah.
Chanyeol sedikit mengernyit ketika mendapati Baekhyun yang seperti gumpalan berwarna biru malam saat itu. "Kamu yakin mau makai baju ini? Nggak panas?"
Baekhyun menggeleng cepat, kemudian meletakkan dua genggaman di depan dada sambil bergidik sedikit.Dingin, kilahnya.
Tidak ingin membahas lebih banyak, Chanyeol hanya mengendikkan bahu seraya berjalan ke arah mobil dan membuka pintunya. Ia berdiri di sana, menunggu Baekhyun untuk masuk lebih dulu.
"Ada tempat yang mau kamu kunjungi?"
Baekhyun berhenti sejenak, memikirkan. Ada banyak, begitu banyak tempat yang ia ingin kunjungi bersama Chanyeol. Tapi, ia tidak ingin membuat pria itu lelah. Ia harus menyusun prioritas.
Minimarket, ujarnya beberapa saat kemudian. Kulkas kita hampir kosong.
Di luar dugaan, Chanyeol justru membawanya ke supermarket di sebuah pusat perbelanjaan besar. "Kita bisa sekalian belanja yang lain," jelas Chanyeol. Lalu sebelum Baekhyun meraih troli untuk mulai belanja, Chanyeol telah melakukannya.
"Kita beli apa dulu?" Chanyeol bertanya seraya menoleh pada Baekhyun di belakangnya. Pria itu sibuk mendorong trolinya, tidak membiarkan Baekhyun campur tangan.
Daging. Kau suka daging.
Chanyeol tersenyum. Ia tidak pernah bercerita, tapi gadis itu seolah membacanya, tahu dengan baik apa-apa yang ia suka dan tidak.
"Kalau kamu?"
Sedetik, Baekhyun menatapnya dengan mata membulat bingung. Ekspresinya menggelitik Chanyeol. Apa seaneh itu pertanyaannya?
"Makanan apa ... yang kamu suka?"
Apapun yang Chanyeol buat, atau beli. Apasaja. Semuanya.
"Bagaimana?" Sepertinya Chanyeol kesulitan memahami kalimat terakhir, pada gerakan memutar di genggamannya dan kecepatan gadis itu saat menggerakkan tangan.
Tidak ingin memperpanjang masalah, Baekhyun hanya tersenyum seraya meraih sebuah lobak dan menunjukkannya.
"Lobak? Kimchi?"
Dengan antusias, Baekhyun mengangguk.
"Nanti kita buat, kalau begitu."
Mereka terus berbelanja hingga setengah jam berikutnya. Chanyeol tidak perlu menggandeng tangannya, atau berjalan berdempetan sambil bercengkerama seperti kebanyakan pasangan lainnya. Hanya dengan pria itu yang berjalan di sisinya, mendorong troli dan meraih ini itu untuk dimasukkan seperti ini pertama kalinya ia berbelanja membuat senyum tidak dapat melepaskan diri dari bibir Baekhyun.
.
.
Baekhyun tidak dapat melepaskan mata dari deret buku cerita bergambar untuk anak-anak di hadapannya. Ia mencintai buku cerita, terlebih lagi, gambar-gambar. Ia ingin membuat satu, suatu hari nanti. Untuk anak-anaknya.
"Beneran mau beli ini?" Chanyeol sedikit mengernyit. Masalahnya kandungan Baekhyun itu baru sekitar tiga bulan, perutnya bahkan belum nampak. Anak mereka akan memerlukannya tiga atau empat tahun lagi. "Apa nggak sebaiknya beli perlengkapan bayi aja?"
Baekhyun menggeleng. Ia ingin buku itu. Ingin sekali. Tatapannya pada Chanyeol menunjukkan itu semua; matanya yang layu bertambah sayu, dan bibirnya mengerucut tanpa sadar. Mendadak, Chanyeol merasa goyah.
"Tapi kamu bahkan tidak bisa memb—"
Buru-buru, Chanyeol menghentikan ucapannya. Rasa bersalah yang besar menyergapnya seketika, atas apa yang telah dan yang nyaris ia katakan. Ia bukan pria baik, ia tahu itu. Tapi ia juga bukan orang jahat tanpa hati, kan?
Rasanya, ia ingin menampar dirinya sendiri keras-keras melihat gurat kesedihan di wajah Baekhyun, sesaat sebelum ia menjatuhkan pandangan.
"Maksudku—"
Jemarinya ragu-ragu mencoba meraih Baekhyun. Ia ingin memeluknya, menenangkannya dan meminta maaf. Ia telah banyak menyakiti gadis itu, ia tidak boleh menambahnya.
Namun ketika Baekhyun mendongak kembali, gadis itu tersenyum. Senyum khasnya. Senyum Byun Baekhyun. Senyum yang ... seolah gadis itu tidak tahu hal lain selain tersenyum dengan tulus.
Kau, jemari lentiknya menunjuk Chanyeol, yang akan melakukannya, kan?
Sekarang Chanyeol mengembalikan senyum itu.
"Ya. Aku akan membacakan buku-buku itu untuk anak kita."
.
.
.
Hmm... apa chapter ini masih sedih? Enggak kan ya. Walaupun ada Baekhyun yang nahan alerginya demi Chanyeol : )
