[Chaptered]
Title : You Can't Hear
Chapter : 10/?
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.
Genre : Shounen Ai
BGM : Fish Leong - Can't Hear
Gomen, kalau ceritanya makin rumit, kayak main layangan, tarik ulur tarik ulur #plak
Kamar Shikamaru.
"Huuf~ Memang sudah rusak kah?", tanyaku pada ponsel Sasuke yang sedang kuperbaiki. Body ponsel tersebut benar-benar hancur, bahkan layarnya pecah dan tidak menyala.
Aku mengacak-ngacak rambut pirangku.
"Gah! Baka-teme!", umpatku.
Kalau ponselnya rusak bagaimana aku bisa menghubunginya? Huh! Dia tidak tahu apa bahwa aku merindukannya?
"Tadaima!", sapa Shikamaru yang baru pulang dari kampus.
"Okaeri!", sahutku.
Shikamaru menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
"Besok aku mulai magang di RS. Konoha", kata Shikamaru.
"Wah! Kau hebat, Shika!", pujiku.
"Aku belum diterima juga~", cibirku.
"Kau harus lebih giat lagi dan fokus pada pelajaran, jangan galau terus", nasehat Shikamaru.
Aku hanya memanyunkan bibirku. Ada benar juga yang dikatakan Shikamaru.
"Sedang apa?", tanya Shikamaru.
"Memperbaiki ponsel Sasuke yang hancur ini", jawabku.
Shikamaru memutar kedua bola matanya, ekspresinya tampak jenuh.
"Kurasa kau lebih tertarik menjadi dokter bedah ponsel ketimbang menjadi dokter anak. Setiap kali ponsel Sasuke rusak kau sangat excited untuk memperbaikinya. Aku juga heran dengan tuan muda yang satu itu, mengapa ponselnya selalu rusak? Rusaknya juga tidak tanggung-tanggung", kata Shikamaru dengan cuek.
"Heheehee...", cengirku.
Sasuke memang tidak pernah menghargai barang, selalu saja merusaknya. Kalau dia sedang kesal, apapun di hadapannya pasti akan dibanting atau dilempar, meskipun itu bukan barangnya sekalipun. Kyuubi, notebook kesayanganku juga pernah menjadi korban kekesalannya. Tapi Kyuubiku sangat tahan banting, sudah beberapa kali Sasuke membanting atau melempar Kyuubi ke wajahku, akupun tidak bisa mengingatnya. Haaah~ aku juga sih yang salah, malah menggodanya saat dia sedang bad mood.
Beberapa hari kemudian.
Aku berpapasan dengan Sasuke di jalan. Sasuke berjalan pelan sambil memeluk beberapa buku yang lumayan tebal. Mungkin dia habis dari toko buku atau perpustakaan umum.
"Tidak kelihatan, tidak kelihatan, tidak kelihatan", rapalku pelan sambil menutup wajahku dengan buku.
Sasuke hanya terdiam menunduk saat aku melewatinya, pandangannya fokus pada jalan. Dia tidak melihatku?
Aku berbalik dan menatap punggungnya. Dia pasti memikirkan sesuatu.
"Sasuke!", panggilku.
Dia tidak menoleh.
Aku berlari mendekatinya.
"Yo, Sasuke!", sapaku sambil menepuk pelan pundaknya.
Dia bahkan tidak menyahutku, dia terlalu asyik dengan pikirannya.
"Bukumu banyak sekali. Aku bantu membawakannya ya!", aku mengambil paksa semua buku yang dipeluknya.
Sasuke merebut kembali buku-bukunya dengan kasar dari tanganku.
"Pergi~ jangan ganggu aku~", usirnya.
Gah! Melankolisnya kumat lagi!
Jika aku bertanya apa yang terjadi padanya, dia pasti akan menjawab...
"Aku sakit, Dobe~", lirihnya sambil memeluk erat buku-buku tersebut.
Padahal aku belum bertanya, tapi dia sudah menjawabnya. Aku sangat tidak berharap dia mengeluarkan 3 kata tersebut.
"Aku sakit, Dobe~", lirihnya lagi.
Aku benar benar tidak suka, sangat tidak suka!
"Jya! Gaara menungguku!", pamitku.
"Aku sakit, sangat sakit~"
Aku tidak peduli!
Hey, Sasuke! Sampai kapan kau akan bersikap dewasa!
Sore harinya, saat perkuliahan selesai.
Aku melihat ponselku, ada panggilan masuk dari Itachi-san sebanyak 4 kali.
Dengan segera aku menghubungi Itachi-san kembali. Pasti ada hal penting yang ingin disampaikannya, dan pasti ini ada hubungannya dengan Sasuke.
"Naruto!", terdengar suara Itachi-san yang sangat excited.
"Maaf, Itachi-san. Aku baru selesai kuliah", jelasku.
"Sasuke? Apa Sasuke bersamamu? Dia baik-baik saja kan? Mengapa ponselnya tidak aktif?", tanya Itachi-san cemas.
"A, aku tidak bersama Sasuke. Ponselnya rusak", jawabku singkat.
"Tolong cari Sasuke dan pastikan dia baik-baik saja!", tegas Itachi-san.
"Se, sebenarnya ada apa?", aku merasakan kecemasan yang dirasakan Itachi-san.
"Ah, maaf aku telah meneriakimu. Aku sangat cemas dengan adikku",
"Sasuke kenapa?", tanyaku.
"Tadi aku dapat info bahwa Sasuke datang ke kantor. Tidak ada yang tahu apa yang telah diperbuat Sasuke hingga Otou-san marah dan mengusirnya. Sasuke pasti sangat kecewa, padahal tadi pagi dia sangat bersemangat untuk mengikuti beberapa test dari Otou-san. Kalau saja saat itu aku ada di Konoha, mungkin aku akan menghiburnya", jelas Itachi-san merasa bersalah.
"Baiklah! Aku akan mencarinya! Itachi-san tenang saja! Aku akan menjaganya!", janjiku.
"Arigatou, Naruto! Aku percayakan Sasuke padamu!",
Setelah percakapan kami selesai, aku langsung berlari menuju asrama. Aku berharap Sasuke ada di asrama, dan dia tidak melakukan hal yang aneh-aneh.
"Aku sakit, Dobe~",
Damn! Mengapa 3 kata tersebut terngiang-ngiang di pikiranku!
Seharusnya aku mendengar perkataan Sasuke. Sakit yang dimaksud bukan sakit di tubuh karena terluka ataupun berdarah, melainkan sakit pada perasaan yang tidak bisa terlihat oleh siapapun.
Sesampainya di asrama.
Aku langsung membuka pintu, karena aku tahu Sasuke tidak pernah mengunci kamar asrama.
Jreng jeng jeng! Pintunya terbuka! Seperti dugaanku.
Ketika memasuki kamar, aku disuguhkan dengan alunan musik menyesakkan, favorite Sasuke ketika sedih. Tebak, musik apakah itu?
Ya! Despair! Lagu galau kesukaan Sasuke.
Suasana kamar sangat berantakan, kertas-kertas berserakan dimana-mana, buku-buku yang disobek-sobek, beberapa uang juga tercecer dimana-mana, Manda -laptop Sasuke-, tergeletak di lantai. Bisa aku pastikan bahwa Manda telah dibanting oleh tuannya.
"SASUKEEEE!", teriakku kesal melihat kerusuhan yang dibuat Sasuke.
Tidak ada jawaban.
Aku berlari menuju kamar mandi setelah mendengar suara shower dari kamar mandi.
"Sasuke!", teriakku sambil membuka pintu kamar mandi dengan kesal.
Aku sangat terkejut mendapati Sasuke yang sedang tergeletak di lantai dengan shower menyirami tubuhnya yang masih berpakaian lengkap.
Dengan cepat aku mematikan shower tersebut.
"Sasuke!", panggilku mengguncang-guncang tubuhnya.
Tidak ada respon. Tubuh dan wajahnya pucat, suhu tubuhnya sangat dingin.
"Ng?", guman Sasuke.
"Sasuke!", panggilku.
Sasuke membuka kedua matanya perlahan.
"Aku tertidur~", gumannya sambil memberdirikan tubuhnya.
"Baka! Kau harus mengganti pakaianmu!", omelku.
Sasuke hanya menggeleng.
"Aku sedang bertapa~ jangan mengangguku, Dobe~", katanya pelan.
"Jangan gila, please!", ketusku.
Aku membuka kancing kemejanya dengan paksa. Dia harus mengganti pakaiannya. Dia tampak menggigil.
"Jangan perkaos aku~", lirih Sasuke sambil mendorong pelan tubuhku, kemudian dia merapatkan kemejanya yang membuat dada ratanya terekspos barusan.
"Pakaianmu basah! Kau bisa sakit nanti!",
"Aku sudah terlanjur sakit~",
"Kau ingin melepas pakaianmu sendiri atau aku yang melakukannya!", bentakku.
"Aku ingin kau pergi! Pergi dari sini! Pergi sejaaaaaaaaauuh mungkin!",
Aku menatap Sasuke dengan pandangan tidak suka.
"Lepaskan pakaianmu, aku akan ambil pakaian kering untukmu", perintahku.
"Aku beri waktu 1 menit untukmu, kalau kau masih belum melepas pakaianmu. Jangan salahkan aku untuk memperkaosmu, Uchiha Bakasuke!", ancamku sambil melempar handuk ke wajahnya.
"Namaku Uchiha Sasuke!", protesnya.
Aku menutup pintu kamar mandi dengan kesal.
Setelah memaksa Sasuke berganti pakaian.
"Mengapa kau mematikan laguku?", tanya Sasuke sambil mengeringkan rambut pantat ayamnya.
"Aku kan sudah bilang, jangan memutar lagu itu ketika ada aku", jawabku.
"Aku tidak menyangka kalau kau akan ke sini!", cibirnya.
"Kalau aku tidak ke sini, mungkin kau sudah ada di rumah sakit!", omelku.
Sasuke melempar handuk ke wajahku. Dengan santai dia menelungkupkan diri di ranjangnya.
"Keringkan rambutku!", perintahnya.
"Cih!", cibirku.
Aku duduk di atas punggungnya.
"Akh! Kau berat Dobe!", protes Sasuke.
Tanpa menghiraukannya, aku mulai mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Kau menyebalkan, teme!",
"Aku menggemaskan! Catat itu di otakmu, Dobe!", bantah Sasuke tidak suka.
"Kau ini sebenarnya kenapa? Tahukah kau bahwa kau telah menyeretku dalam kegilaan yang kau buat ini",
"Aku sakit, Dobe~ Aku sakit sendirian, tidak ada yang peduli padaku~", lirihnya.
"Kau sakit apa? Aku bisa menyembuhkanmu, aku kan calon dokter", bujukku supaya dia mau berbagi masalah denganku.
"Aku tidak tahu aku sakit apa. Rasanya sangat sakit, sehingga aku ingin marah",
"Sakit hati?", tanyaku.
"Mungkin. Apa lagi kaulah penyebab utamanya! Kau tidak mau menolongku, kau sudah tidak peduli lagi padaku~", tuduhnya.
"Maafkan aku~", ngalahku.
Sebenarnya kaulah yang sering menyakitiku, Sasuke~
"Aku tidak kompeten, aku tidak pandai bahasa Inggris atau Mandarin, aku bahkan tidak mengerti istilah bisnis dan perbankan, apa aku bisa mengelolah perusahaan seperti aniki?", curhat Sasuke.
"Jangan pesimis, kau butuh banyak belajar lagi. Aku yakin kau bisa seperti Itachi-san yang hebat itu!", hiburku.
"Hn! Aku butuh waktu dan kesempatan, tapi Otou-san tidak mau memberikannya padaku, dia mengusirku dan memperingatkanku untuk tidak datang ke kantor lagi.. Huhuhuhu... Aku dimarahi dan diusir orang tuaku sendiri, Dobe~ Huhuhuhu... Ini tidak adil...", curhatnya sambil berpura-pura menangis imut.
Aku menutupi kepalanya dengan handuk.
"Kalau kau ingin menangis, menangis saja. Jangan ber-huhuhuhu terus. Tidak masalah kok kalau kau ingin menangis benaran, aku tidak akan menertawakanmu",
Aku membaringkan tubuhku di sebelahnya.
"Hoaam~ bolehkah aku tidur sebentar?", tanyaku.
"Hn!",
Aku memejamkan kedua mataku, samar-samar kudengar suara isakan Sasuke.
Sasuke, kuharap dengan menangis, rasa sakitmu sedikit berkurang.
Maafkan aku yang tidak bisa berbuat apa-apa. Aku ini payah!
Keesokan harinya, masih di kamar asrama.
"Dobe?", panggil Sasuke telah terbangun.
"Ohayou, Sasuke!", sahutku.
"Kau sedang apa?", tanya Sasuke.
"Membereskan kamarmu", jawabku.
"Kau tidak perlu repot-repot merekatkan kembali buku-buku yang sobek itu", Sasuke kembali membaringkan tubuhnya. Dia memijit keningnya.
"Kepalamu pusing?", tanyaku.
"Buang saja buku-buku itu ke tong sampah! Aku tidak membutuhkannya!", perintahnya.
"Teme! Ini buku perpustakaan, bagaimana kau tega membuangnya! Dimana rasa tanggung jawabmu!", omelku.
"Aku akan menggantinya dengan yang baru. Yang itu sudah sobek dan tidak layak pakai!", katanya dengan cuek.
"Teme! Tolong hargai barang-barangmu! Jangan kau rusak sesuka hatimu! Aku tahu kau anak orang kaya, tapi please! Jangan keterlaluan seperti ini!",
"Cukup, Dobe! Jangan mengaturku!", bentak Sasuke yang tidak terima dengan nasihatku.
"Mengapa kau keras kepala, teme!",
"Jangan salahkan aku! Ini salah Otou-san! Dia selalu memberiku uang yang melimpah, dia menyuruhku menikmati masa mudaku dan bersenang-senang. Sebagai konsekuensinya aku dicoret dari hak waris perusahaan Uchiha, itulah alasannya mengapa dia tidak mau memberiku kesempatan untuk belajar bisnis. Tidak ada peluang untuku!", curhat Sasuke, kedua tangannya mengepal erat.
Apa benar yang kau katakan itu, Sasuke? Papamu tidak mungkin berpikiran seperti itu.
Sasuke bangkit dan turun dari ranjang.
"Aku mau mandi!",
"Teme~",
"Setelah mandi, aku mau makan sekenyang mungkin, lalu melakukan perawatan ala keraton, dan shopping sepuas mungkin, berkeliling-keliling sampai aku mati kelelahan. Aku ingin beli ponsel yang mahal, yang canggih dan juga tahan banting!", seringai Sasuke.
"Kau tidak boleh seperti itu, teme~",
"Kau mau ikut? Kita akan bersenang-senang, Dobe!", ajak Sasuke.
"Teme! Berhenti berfoya-foya! Aku tidak suka!",
"Jangan melarangku, aku hanya ingin menikmati hidup, seperti yang diperintahkan Otou-san", kata Sasuke sebelum dia memasuki kamar mandi.
Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran ayah dan anak Uchiha ini.
Keesokan harinya.
Sasuke memberiku sebuah tablet baru berwarna orange.
"Kau suka? Ini limited edition!", kata Sasuke pamer.
"Punyaku berwarna dark blue! Tablet kita kembaran! Yeeey!", sambungnya sambil memamerkan tablet miliknya.
"Kau terlalu berlebihan!", aku mengembalikan tablet itu padanya.
"Kau tidak suka?", tanya Sasuke kecewa.
"Aku tidak suka, sangat tidak suka!", ketusku.
Dia benar-benar menghambur-hamburkan uang!
"Katakan apa yang kau suka?",
"Aku tidak ingin apa-apa darimu!", tolakku.
"Kau menyebalkan!", maki Sasuke sambil melempar tablet orange itu ke arahku.
Dengan sigap aku menangkap barang mahal dan limited edition itu.
"Teme! Ini barang mahal! Jangan main lempar!",
"Aku tidak peduli!", Sasuke berlari meninggalkanku.
Dasar Bakasuke!
"Sebaiknya kukembalikan saja pada Itachi-san", pikirku.
Ya, daripada kukembalikan pada Bakasuke. Aku yakin dia pasti akan melemparnya ke tong sampah.
Terputus
Review, please ^^v
