HunHan
.
"Chanyeol layanganmu sangat keren!" Luhan kecil memekik antusias dengan sepasang mata indahnya melihat takjub layangan Chanyeol yang terbang di langit.
"Tentu saja. Layanganku adalah yang terbaik," sahut Chanyeol dengan bangga sementara tangannya sibuk menarik ulur senar layangan agar tidak putus.
Mata berbinar Luhan kemudian tertuju pada layangan satunya di sebelah layangan Chanyeol. "Oh, Baekhyun! Punyamu juga bagus. Wuah, bolehkah aku coba menerbangkannya?"
"Tidak. Kalau kau yang menerbangkannya nanti layanganku putus, kau kan payah." Baekhyun berkata dengan kejamnya tanpa mengalihkan pandangan dari layangannya.
"Aku bisa kok Baekhyun." Luhan cemberut. Ia pikir ia bisa jika saja mendapat kesempatan untuk menerbangkannya. Namun sayangnya Luhan hanya mendapat kesempatan untuk memegang layangannya saja saat membantu ChanBaek menerbangkannya ke udara. Ia tidak punya layangan dan tidak punya uang untuk membeli layangan dan senarnya.
"Luhan minggir! Kau mengacaukan konsentrasiku!" Baekhyun menyikut Luhan yang sedari tadi terus berdiri di sampinya. Napas Luhan yang menerpa kulit leher Baekhyun, itu sangat mengganggu menurutnya.
"Ugh." Luhan meringis sakit karena siku Baekhyun mengenai perutnya.
Omong-omong soal perut, Luhan belum makan siang dan ia mulai lapar, tapi ia menahannya karena ingin melihat layangan Baekhyun dan Chanyeol yang terbang indah di udara.
Luhan berjalan menjauh dari Baekhyun, dan berjongkok di pinggir lapangan sementara sepasang mata indahnya terus terpaku ke langit dengan takjub.
Luhan juga mau layangan. Layangan bagus seperti punya Chanyeol dan Baekhyun.
"Idiot! Apa yang kau lakukan?" Baekhyun mengomel karena layangan Chanyeol baru saja menyerang layangannya.
Sementara si anak bongsor terbahak. "Siap siap kehilangan layanganmu pendek!"
"Yak! Sialan!" Baekhyun memekik jengkel dan mulai menarik ulur layangannya dengan lincah untuk balas menyerang. "Hiyaaa!"
"Wow wow Baek!" Chanyeol panik, tangannya kewalahan menghadapi serangan Baekhyun yang bertubi-tubi. Hingga kemudian ia kehilangan kendali, layannya putus dan terbang menjauh. Si bongsor mendengus jengkel sementara si pendek tertawa jahat dan puas.
"Rasakan! Itu akibatnya kau berani melawanku dasar idiot!" Baekhyun menjulurkan lidahnya pada Chanyeol.
"Hah..." Chanyeol mengembuskan napas, melempar gulungan senarnya yang sudah tidak berguna ke tanah dengan kesal. "Ini sudah tidak asik! Ayo pulang! Aku akan minta Papa membelikan layangan yang lebih besar dan senar yang lebih kuat,"
"Dasar payah!"
Setelah ChanBaek meninggalkan lapangan, Luhan masih tetap disana. Ia melihat layangan Chanyeol terbang ke utara ke arah gunung. Luhan ingin layangan, dan mungkin ini adalah kesempatan untuk ia mendapatkannya. Maka Luhan kecil beranjak dengan penuh tekad untuk menemukan layangan Chanyeol.
Berjalan di antara pepohonan, kepala Luhan terdongak ke langit, mencari keberadaan layangan Chanyeol yang mungkin hinggap di salah satu pohon, atau masih terbang luntang lantung di udara.
Luhan nyaris hilang harapan dan mengembuskan napas putus asa ketika melihat seseorang dekat tebing dengan sebuah kamera di tangannya—sibuk memotret. Sepertinya ia seseorang dari kota, orang-orang kota memang sering kali datang kemari untuk mendaki atau berkemah. Luhan berkedip, berpikir orang itu barangkali melihat kemana layangan Chanyeol terbang.
Maka Luhan mendekat, kemudian menyapa. "Permisi?" Orang itu menurunkan kameranya dan menoleh ke arah Luhan.
"Ya?"
"Apa kau melihat layangan putus sekitar sini?" Luhan bertanya, memberi gestur dengan tangannya.
"Layangan?" Orang itu mengulang.
"Ung." Luhan mengangguk.
Terdiam, orang itu melihat Luhan dengan pandangan tidak biasa seperti sedang menilai atau sesuatu. Itu nyaris satu menit hingga ia akhirnya menjawab. "Oh, sepertinya aku melihatnya,"
"Benarkah?" Mata Luhan segera berbinar penuh harap.
"Ya." Orang itu mengangguk. "Itu terbang kesana, ayo ikuti aku."
Tanpa menaruh curiga sedikitpun Luhan mengikutinya, dan bukannya mencari layangan ia malah membawa Luhan pada tempatnya berkemah. Sejenak Luhan lupa akan layangannya dan bertanya. "Kau berkemah sendiri?"
"Tidak," jawab orang itu. "Aku bersama teman-temanku. Mereka sedang mengambil gambar di air terjun disana. Memang kau tidak bisa menghitung jumlah tenda disini?"
"Oh." Benar juga, Luhan pikir. Terdapat beberapa tenda disini. Lagipula akan sangat menyeramkan jika berkemah sendirian di gunung, meskipun tidak ada binatang buas hidup di gunung ini selain celeng (itupun jika babi hutan bisa dikategorikan buas). "Kenapa kau tidak ikut dengan mereka?" tanya Luhan.
"Kenapa kau ingin tahu?" Dia menjawabnya dengan pertanyaan lain. Duduk di sisi tenda, ia menyulut sebatang rokok dan menghisapnya, tidak peduli meski merokok di gunung ini dilarang karena puntungnya yang seringkali masih menyala dibuang pendaki sembarangan dan memungkinkan jadi penyebab kebakaran. Apalagi di musim panas seperti ini.
"Heii, tidak boleh merokok disini!"
Orang itu mengedikkan bahu. "Siapa peduli?" Ia mengambil sepotong kue dalam ranselnya, dan menyerahkannya pada Luhan. "Ini, makan ini. Kau butuh makan, tubuhmu benar-benar kurus."
Luhan berkedip melihat kue yang terulur padanya. Menelan ludahnya karena itu tampak sangat lezat dan rasa laparnya mulai parah. Luhan melihat orang itu. "Apa ini untuk tutup mulut?"
"Tutup mulut?"
"Ya, supaya aku tidak mengadukanmu merokok di gunung,"
Dia tertawa, mengacak rambut Luhan. "Ya. Terserah bagaimana kau mengartikannya."
Pada akhirnya Luhan menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Perutnya benar-benar tidak bisa menolak.
Menggigit sepotong, mata Luhan segera melebar. "Wuah, ini enak sekali!"
"Kau suka?"
"Ung.." Luhan mengangguk. "Sebenarnya aku suka semua makanan manis terutama kue seperti ini," jawab Luhan di antara gigitannya. "Meskipun aku jarang makan kue sih,"
"Kau bisa menghabiskannya kalau begitu." Orang itu mengacak rambut Luhan lagi yang tampak sangat gembira diberi sepotong kue dari para penggemarnya yang ikut berkemah pagi ini. Daripada dibuang, ia pikir. Itu adalah salah satu alasan kenapa dia tidak ikut ke air terjun. Para penggemar perempuannya di sekolah yang ikut akan luar biasa menyebalkan dan cari perhatian.
Kemudian Luhan berhenti, ingat tujuannya kemari. "Tapi, dimana layangannya?"
Orang itu menghisap rokok dan mengembuskannya, kemudian berkata. "Sejujurnya Nak, aku tidak tahu dimana layangan yang kau maksud." Ia melihat Luhan yang segera murung mendengar itu. "Tapi aku bisa memberikan satu untukmu,"
"Sungguh?" Mata Luhan menyala kembali.
"Uh-huh." Orang itu mengangguk. "Asal kau mau melakukan apa yang aku suruh. bagaimana?"
"Iya. Mau." Luhan yang polos segera mengangguk semangat. Menyetujuinya tanpa berpikir panjang. Terlalu senang sebentar lagi akan punya layangan, ia melewatkan seringai penuh maksud di wajah orang asing itu. "Aku ingin layangan yang bagus dan besar seperti punya Chanyeol dan Baekhyun. Aku akan melakukan apapun untuk itu,"
"Bagus sekarang habiskan dulu makananmu,"
"Ung!"
Setelah Luhan selesai dengan kuenya, orang itu menyuruh Luhan masuk tenda. Ia melihat sekitar memastikan jika teman-temannya tidak akan kembali dalam waktu dekat sebelum menginjak puntung rokoknya dan mengikuti Luhan masuk.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Luhan dengan kedipan polosnya.
"Berdiri!" Orang itu memerintahkan.
Luhan menurutinya dengan patuh.
"Buka bajumu!"
Luhan juga melakukannya tanpa banyak bertanya. Membuka kaos yang ia pakai yang warna birunya sudah pudar karena keseringan di cuci.
"Celanamu!" Orang itu melanjutkan dan Luhan menurutinya tanpa banyak bicara seperti robot terprogram.
"Sekarang pakaian dalamu."
Dan saat itulah Luhan sadar. "Nanti aku telanjang kalau begitu,"
"Ini untuk layanganmu kalau kau tidak mau tidak apa, kau bisa pergi sekarang,"
"Iya iya. Aku mau aku mau aku. Mohon belikan aku layangan." Luhan memohon cepat.
Dan orang itu tampak menahan napasnya saat melihat Luhan sepenuhnya telanjang mempertontonkan kulit putihnya yang mulus.
.
.
.
"Berhenti bergerak!"
"I-ini sangat geli...u—ugh,"
"Jika kau tidak diam aku tidak akan memberikanmu layangan!"
"Maafkan aku maafkan aku. I—iya aku akan diam"
.
"Ya, seperti itu. Mendesahlah anak manis,"
"A—ah, a-ku mau pipis,"
"Lakukan disini tidak apa-apa,"
"Akh—"
"Sakit,"
"Setelah ini tidak sakit lagi."
.
.
Sehun menarik kembali zipper celananya, menatap anak itu yang meringkuk tidak berdaya dengan napas satu satu kelelahan. Tubuh mungilnya yang telanjang bermandikan keringat bercampur cairan Sehun dan miliknya sendiri yang lebih banyak. Bibirnya bengkak dan mengeluarkan sedikit darah, tubuhnya dipenuhi bercak merah, ulah Sehun.
Sehun merasa ini gila. Bagaimana mungkin tubuh seorang anak kecil bisa membuatnya sebergairah ini. Dan entah setan apa yang merasukinya barusan hingga ia berani menyetubuhi seorang anak yang bahkan tidak ia tahu namanya dengan iming-iming sebuah layangan di tengah gunung.
Tapi jujur, Sehun menikmati ini. Sangat. Wajah dengan sorot polos itu telah mengundang sesuatu buas dalam diri Sehun, yang tidak pernah ia rasakan bahkan ketika melakukan hubungan seksual dengan perempuan paling cantik di sekolahnya sekalipun.
"Kau baik-baik saja?" Ia bertanya. Merasa agak bersalah.
Anak itu mengangguk lemah. "Layangannya..." katanya pelan dengan kedipan lemah.
"Ah ya, layangannya. Dimana aku bisa membelinya? Aku akan membelikannya untukmu berapapun yang kau mau. Ayo bangun, pakai bajumu sebelum teman-temanku yang lain kembali."
Sehun membantunya bangun, dan memakaikan kembali pakaiannya.
.
.
Dia tersenyum ceria dengan sebuah layangan dan gulungan senar disepasang tangan mungilnya. Melambai pada kakak baik hati yang telah membelikannya layangan termahal dan terbagus. Senyum ceria masih tertinggal di wajahnya yang polos bahkan saat ia berbalik kembali ke rumah siap memamerkan layangan barunya ke teman-temannya yang lain di panti asuhan dan menceritakan pengalamannya seharian ini bersama si kakak layangan baik hati yang juga memberikannya kue yang lezat.
Oh tapi tidak, Luhan mengurungkan niatnya yang satu itu untuk menceritakan apa yang mereka lakukan karena si kakak itu sudah mewanti-wanti agar ia tidak mengatakannya pada siapapun tentang itu.
Takdir memang sulit di tebak. Yang tidak mereka tahu adalah; di masa depan mereka akan bertemu kembali. Satu sama lain akan menjadi bagian hidup paling penting dari yang lainnya.
Oh Sehun dan Luhan, hidup di dunia yang berbeda dan jelas memiliki begitu banyak perbedaan. Namun siapa yang tahu jika takdir mereka adalah untuk berada di sisi satu sama lain.
Berputar diantara satu sama lain...
Dan tidak ada yang bisa mengubah itu...
.
Sehun pertama ketemu Luhan, pas Sehun remaja umur 17 lagi bangor-bangornya, sementara Luhan umur 8 taun belum ngerti apapun. Sehun pedo tapi cuma ke Luhan. Nah pas itu dia udah punya obsesi aneh pada diri Luhan, tepatnya tubuh Luhan pas ketemu pertama kali di gunung pas dia kemping ama kawan-kawannya (bab ini). Tapi Sehun merasa ga sebejad itu untuk menjadikan seorang anak kecil umur 8 taun jadi seks slave-nya, lagian juga dia masih remaja waktu itu belum seberkuasa di umur dia yang ke 28.
Maka Sehun nunggu Luhan cukup umur (17 tahun) biar dia bisa memiliki Luhan seutuhnya meski itu dengan paksaan. Itu adalah cerita yang flashback pertama kemaren yang Luhan umur 17 pas dia balik dari pasar si Sehun balik lagi buat ngambil Luhan. Yah, begitulah pokoknya intinya.
Untuk side story atau kemungkinan sequel akan di buat bisa jadi dengan alur mundur yaitu ke masa awal awal Luhan KAWIN ama Sehun atau bisa jadi juga maju ke masa kehidupan rumah tangga mereka yang lebih harmonis. Tapi bisa jadi dua duanya di tulis atau gak ada side story sama sekali. Tapi kemungkinan sih bikin. Cuma gak sekarang sekarang.
Hehe...
Oke...
Terimakasih untuk seluruh pembaca, seperti biasa.
Happiness!SeLu
Ps: publis telat. Tadi ketiduran maap. Ini ge lagi publish masih nundutan(?). Gak di edit dulu tapi semoga minim typo.
pss: kmaren ffn eror gak bisa liat review masuk yang baru selain lewat e mail. Tapi sekarang udah bener :)
Psss: mau lanjut tidur. Sekarang pas nulis ini disini jam 22:10 *penting getoh*
Pssss: bye~~~
.
.
.
.
520!
