Disclaimer : Square Enix & Disney, Kingdom Hearts 2

Pair : Akuroku, Zemyx, Riso

Rating : T

Warning : AU & OOC

Minna.. sankyuuu buat semua yang udah baca sampai chapie ini.. pertama-tama author mau minta maaf karena lama banget updatenya m(_ _)m suatu hal ga terduga datang dan merusak moodku dalam buat cerita.. semoga kali ini bias terus lanjut buat chapie selanjutnya ^^

Sankyuu buat semua yang udah ripiu juga *hughug*

reika33riopix33gothic33lolita: ahaha… Xemnas emang dibuat tokoh anta disini.. :D Saix, Larxene sama Xigbar juga ^^

White-Black Scarlet Fragment : hee? AkuMar
aku ga terima kalau Ax dipasangin sama pair lain, nee-san XD haha~~
hoee.. masa lalu ZeMyx? O.O hnn.. kayanya sih ga masuk, nee-san.. mungkin dilain kesempatan XD kalau ga jadi cerita x'tra aja ^^

Sunset Memories: Wah.. kalau ntar diceritain deketnya gimana bisa panjang XD hoho.. Lime-nya di chapie ini.. moga" suka deh ./.

Esha Shalvovich : Iia ^^ jadi kubu Ax sama Xemnas :D
hee.. ga kok.. aku ga tega kalau Rox sampai di Rape ma Xemnas DX hoho~ Rox disini cukup punya Ax~ *plak*

Sky of Emptyness: Sankyuuu udah ripiu, Sora ^^ udah update nich :D

Yaya Hanamaki : Hoho.. perubahan buat Marly :3
Yup.. tapi mulai dari saat itu Marly jadi lebih terbuka, khususnya sama keluarganya :D
ooh.. iia aku lupa nulis POV-nya ya.. gomen

Nophie-Chan : Iiia nich jadi ngerusak acaranya deh DX
ehehe.. bagus lah kalau suka XD sip.. dah apdet~ ^^b

Ryouta : hehe… iia ^^
Okeokeiii :D

naomi arai : sankyuu udah ripiu :D
wahh.. kalau ganti gender bukan sho-ai lagi donk *plak*

Ok deh, met baca semua :D


CHAPTER IX : Let's end it!

"If it's just going to end before I understand, then I can't trust anything..I want to entrust all my pain to the wind. I feel the pain but feel no shame. What I've got I keep inside, some things have changed but I'm still the same –Roxas-"

Akhirnya, setelah kepergian Xemnas dan yang lainnya, acara sekolah terpaksa ditiadakan karena kerusakan-kerusakan yang diperbuat oleh anggota Xemnas. Baik Zexion maupun Riku, mereka pergi ke tempat pengurus OSIS, sepertinya mereka terpaksa mengundur acara ini sampai tahun depan. Itu berarti, Axel, Zexion dan Riku sudah tidak berada disini lagi. Kelas 3 akan lulus tahun depan, bukan?

Sora dan Demyx berkata agar kami pulang duluan, sedangkan mereka akan menunggu Riku dan Zexion. Tentunya Sora akan menunggu Riku, dan Demyx akan menunggu Zexion.

"Hei, Roxy" tiba-tiba Axel mulai berbicara setelah beberapa menit terdiam selama perjalanan menuju parkiran motor di sekolah.

Spontan aku langsung menjawabnya, memandangnya sambil tersenyum "Ya, Axel? Ada apa?"

"Aku boleh menginap di rumahmu? Hari ini? Mungkin kita bisa bermain atau masak atau apapun? Aku ingin meluangkan waktu bersamamu lebih lama" tanyanya sambil menggaruk-garuk kepalanya dan memandang dengan malas ke langit.

Aku menjawab pertanyaan Axel dengan mengangguk kepadanya. "baiklah, lagipula ibu pasti senang" balasku padanya yang kini memandang kearahku

Akhirnya kami sampai dirumah Axel, ia ingin mengambil barang-barangnya dulu. Kuakui, rumah Axel dapat membuat mulutku terbuka lebar-lebar ketika melihat pagar rumahnya saja. Sangat besar!

Axel mengajakku masuk kedalam rumahnya, begitu masuk yang kulihat tak ada siapapun disini. Apa selama ini Axel selalu tinggal sendiri? Dirumah yang seluas ini? Aku bisa merasakan bulu kudukku berdiri, dan dengan segera aku langsung lari dan memeluknya dari belakang

"Hwaaa! R..Roxy? ada apa?" Tanya Axel yang kaget ketika tiba-tiba merasakan seseorang memeluknya dari belakang.

Aku menutup mataku, menggelengkan kepalaku. "tidak.. aku hanya memikirkan betapa seramnya kalau aku tinggal seorang diri ditempat ini, Axel"

Axel langsung menarik tanganku, menyudutkanku ke tembok terdekat. Kini Axel berada di depanku, kami berpandangan, salah satu tangan Axel berada di daguku. Dan aku bisa merasakan tatapannya yang dapat membuat diriku tidak bisa bergerak.

"Roxy" ia menyebut namaku dengan sangat lembut, hampir berbisik malah di depan telingaku, membuatku merinding karena suara yang ia lontarkan.

"A.. Axel?" Wajah Axel kurasakan semakin mendekat, dan ketika ia hampir menciumku, tiba-tiba ponselku berdering

"Oh, shit!" teriaknya menjauh dariku sambil menggaruk kepalanya. Sepertinya ia ingin mengutuk siapa yang meng-smsku saat ini juga

1 new message(s)

From : Sora

Roxas! Hey, man. Kau tahu apa yang terjadi hari ini mungkin agak kacau, tapi aku hanya ingin memberi tahumu. Bila kau butuh bantuanku, jangan sungkan untuk memberitahuku, OK? Aku dan Riku selalu terbuka untuk menolong kalian. Sepertinya itu saja. See ya! –Sora-

Aku memandang kembali Axel yang sudah memandang ponselku dengan mata aku-ingin-melempar-HP-itu-sekarang-juga "Err.. dari Sora" kataku pada Axel yang membuat alisnya sedikit terangkat, penasaran

"Apa yang dia kirimkan?"

"Sora bilang kalau kita butuh bantuan, jangan sungkan untuk memberitahu dia dan Riku, mereka akan membantu kita. Begitu isinya"

Axel hanya berdumam "hem" saja sebelum ia mendekatkan kembali wajahnya dekat denganku, seakan ingin melanjutkan apa yang terpotong oleh sms Sora

"DISTURBING ME, PIERROT Jane e yo! DISTURBING ME, MAYBE IM A CRAZY CRAZY. DISTURBING YOU, I HATE YOUR ASS TOO, AND I—" wajah Kesal Axel tampak makin menjadi ketika ia mendengar seseorang menelepon ponselnya. Lagu dari ponselnya yang dialunkan nada dering Rock yang dinyanyikan oleh Tanaka Koki- Pierrot.

Akhirnya dengan muka kesal ia melirik ponselnya yang ia ambil dari saku dan mengutuk nama peneleponnya sebelum mengangkatnya.

"Holy Shit, Demyx, ada apa kau meneleponku disaat seperti ini, huh?" tanyanya sedikit marah sambil meng-aktifkan loudspeaker

"Ah, Ax! Aku ingin memberitahumu kalau besok Marly akan menjemput kita, jadi kau tahu.. bersiap-siaplah"

Kulihat Axel menjawabnya dengan segera "Katakan pada Marly kalau aku ada di rumah Roxy, Dem"

"Gotcha..! dan, hei.. kau tak akan percaya ini aku dan Zexy baru saja-" Dan Axel menekan tombol sambungan di ponselnya, setelah itu dia membuang ponselnya ke kasur

"Sekarang..tidak ada yang bisa mengganggu kita" bisiknya

Axel segera menarikku kedalam pelukannya, ia mencium bahkan berbisik kata 'I love You' dengan sangat pelan di kupingku sambil sesekali meniupnya. Axel tahu bahwa kupingku sangat sensitif dan dia sengaja membuatku merinding. "A..Axel! hentikan.."

Namun Axel tidak mengindahkan perkataanku, ia terus menciumku hingga ke leher. Mencium dan sedikit menggigitnya, mungkin kissmark akan terpapang disana, tapi aku tidak peduli. Aku memang milik Axel.

Axel segera melumat bibirku dengan cepat. Aku mendesah pelan ketika tangan Axel mulai meraba-raba disekitar tubuhku, perlahan ia membuka satu per-satu kancing baju sekolahku.

Mukaku memerah, seakan ingin memberhentikan Axel. Tapi aku tak memiliki tenaga yang cukup, lagipula, aku menyukainya.

(sisanya silahkan bayangkan sendiri apa yang terjadi pada Axel dan Roxy, author ga mau naekin rating cerita ^^ hoho..)

Setelah selesai melakukan aktifitas yang membuat kami berdua berkeringat, akhirnya Axel memutuskan untuk mandi dan dia mengajakku, menggendongku ala bridal style ke kamar mandi

"Ax, kau tahu kalau bajumu seperti daster bagiku. Masa aku harus keluar dengan memakainya?" tanyaku padanya, tapi Axel malah tertawa.

"Roxy, itu lebih baik daripada aku menatap dengan tatapan membunuh kepada setiap orang yang melihatmu dengan memakai kemeja sekolah yang tembus pandang itu karena basah, kau tahu?" jawab Axel dengan nada yang cepat. Nafasnya panjang, pikirku.

"Haa.. baiklah" senyumku padanya

"Lagipula, kau hanya milikku" katanya dengan cepat sebelum dengan lembut kembali mengunci bibirku dengan miliknya.

Setelah selesai mandi dan Axel memasukkan baju-bajunya ke dalam tas. Kami pun pergi ke rumahku, sesuai dengan tujuan awal.

Ibu langsung menyambut kedatangan kami dengan senang, ia segera memasak ke dapur, untungnya ibu tidak memperhatikan gaya berjalanku.

Tapi berbeda dengan Cloud, ia berada di ruang tengah sambil menoton berita sebelum melihat ke arah kami berdua

"Hei, Roxas, Axel" sapanya

Aku memandang ke arah Cloud, gawat.. ia bisa menanyaiku macam-macam "Cloud-nii? Hari ini kau tidak kerja?"

"Yo, Cloud-san" kata Axel dengan senyum lebar

"Hmng? Kenapa dengan gaya berjalanmu itu, Rox?" tanyanya padaku. Matilah aku!

"Err.. itu.." Apa yang harus kukatakan padanya? Apa aku harus bilang bahwa aku terpeleset kulit pisang hingga terjatuh dan membuatku pincang atau—

Namun sebelum itu terjadi, Ibu datang kemudian menyuruhku dan Axel menyimpan barang-barang Axel dikamarku. Setelah itu ia kembali ke dapur. Ah, ibu penyelamatku.

Sebelum kami menaiki tangga, Cloud kembali berbicara kepada kami "lain kali, bawa persediaan baju dirumah Ax, Rox. Bajumu saat ini terlihat seperti daster. Dan, Ax, jangan bermain-main dengan anak dibawah umur" katanya dengan pelan. Namun Axel hanya tertawa sebelum mengiyakan dan membawaku ke kamarku.

Owhh.. ternyata Cloud memang mengetahuinya.

Dan Sore hari itu, kami menikmati makan keluarga bersama. Cloud sesekali bercerita tentang pekerjaannya dalam pembicaraan saat itu, dan Axel juga banyak berbicara tentang dirinya. Ibu tersenyum mendengar sesekali Axel dan Cloud bertengkar dalam hidangan malam tersebut, dan aku terpaksa melerai mereka, walaupun tak lama kemudian kami sama-sama tertawa.

Setelah makan malam dan menonton sedikit acara TV, kami pun pergi ke luar, melihat bintang untuk sesaat. Axel menggandeng tanganku, ia mengajakku masuk sebelum aku masuk angin.

Merasa cukup lelah, akhirnya aku kembali kekamar bersama Axel untuk tidur. Kami tidur sambil berdekatan, seperti biasa. Tangan Axel berada di depan tubuhku, seakan aku adalah guling.

Aku hanya tersenyum sebelum akhirnya tidur didalam kehangatannya.

"Jangan pergi, Axel.." suaraku hampir lebih pelan dari berbisik sebelum akhirnya aku tertidur

Keesokan harinya, aku terbangun dengan tidak menemukan Axel. Dimana Axel?

"Axel? Axel..!" tanyaku panik

"Roxy! Tenanglah, aku disini" katanya

Aku melirik kearah sumber suara sebelum memutar bola mataku, mengutuk rasa khawatirku, Axel, dekat dengan jendela, sedang ber-yoga.

"Aku tak menyangka kau memiliki hobi seperti ini" kataku dengan malas dan kembali menyandarkan tubuhku ke kasur, bangun mendadak membuatku agak pusing.

"Haha.. pagi" sapanya padaku sebelum ia beranjak dan mendekatkan diri padaku. Axel kembali mencium pipiku

"Pagi" kataku "Kau tahu, Axel? Kupikir kau menghilang"

"Haha.. Roxy, tak mungkin aku meninggalkanmu sendiri" jawabnya dengan cepat.

Setelah itu kami bergegas untuk mandi dan sarapan. Siang harinya, Marluxia, Xion, Demyx, dan Zexion datang kerumahku. Aku memaksa mereka untuk ikut, tapi Axel melarangku

"Axel, biarkan aku ikut dengan kalian" kataku dengan nada memohon padanya

"Tidak bisa, baby..aku takut sesuatu terjadi bila kau kesana"

"Aku lebih khawatir padamu, Ax! Mereka mengincarmu, khan?"

"Roxy, kumohon.. kau tak boleh ikut, tetaplah disini, kami akan kembali sebelum malam hari, oke? Tunggulah kami" jawab Axel.

Aku hanya memandang dengan sedih sebelum mengangguk. Kulihat semuanya sedang mengobrol sesuatu dengan serius. Dan, ini kesempatanku, aku mengendap kebelakang mobil sebelum menempelkan sesuatu kebelakangnya. Setelah itu aku kembali, tak ingin membuat yang lain curiga.

"Habis kemana kau, Rox?" tanya Zexion padaku, sepertinya hanya ia yang curiga, walaupun sekarang semua memandang kearahku

Aku mencoba memasang wajah yang polos "ah, tidak.. hanya mengecek pos surat saja"

Tak lama aku melihat Zexion kembali fokus pada pembicaraan mereka, sepertinya aman.

Sebelum pergi, Axel kembali menciumku, dan setelah itu mereka pergi agak jauh. Aku mengambil sesuatu dari kantong celanaku. GPS, aku menaruh benda itu ke mobil Marluxia. Sepertinya profesi yang kubanggakan dari Cloud hanyalah ini. Apapun yang terjadi, aku ingin memastikan bahwa Axel baik-baik saja.

Akhirnya aku pergi mengikuti mereka, sambil melihat kearah monitor peta. Tiba-tiba seseorang menyapaku "Rox! Hei, kau mau kemana?"

Aku melihat Sora berbicara padaku sambil keluar dari toko membawa plastik belanjaan bersama Riku.

"Ah.. aku ingin mengikuti Axel dan yang lainnya, mereka pergi ke tempat Xemnas untuk menyelesaikan semuanya, begitu katanya"

"Dan, kau mengikuti mereka dengan berjalan? Roxas, sampai kapan kau akan sampai?" tanya Riku sambil menggelengkan kepalanya "ayo ikut kami" jawabnya kemudian

"Eh?" aku bingung mendengar ajakan Riku

"Kita akan membantumu kesana, Roxas. Riku akan mengantar kami, lagipula, kami tidak ada kerjaan lain kok saat ini" jawab Sora dengan tiba-tiba.

Senyumku merekah keluar mendengar pernyataan mereka berdua yang bersedia menolongku "Baiklah, terimakasih Riku, Sora"

Dan mereka tersenyum sebelum menyuruhku mengikuti mereka ke parkiran mobil yang letaknya tak jauh dari sana.

Disaat yang lain..

"C'mon, Ax.. jangan melamun begitu!" Tiba-tiba Demyx berbicara, mebuyarkan pikiranku yang dipenuhi oleh Roxy. Aku tidak menyangka, meninggalkannya seperti ini dapat berpengaruh besar terhadapku.

"Axel, aku tahu kau tidak ingin melibatkan Roxas. Tapi, jangan memasang tampang yang seperti itu, kau tahu, kau membuat kami merasa bersalah juga karena sudah meninggalkannya" Marluxia berkata sambil menyetir mobilnya, ia sesekali melihat raut wajah Axel melalui spion mobilnya.

"Yaa.. aku lifeless tanpa dirinya, got it memorized? Belum sampai 1 jam aku meninggalkannya, aku sudah merindukannya" jawab Axel sambil cemberut membuka-tutup ponselnya sebelum akhirnya membuka dan melihat wallpaper yang ia gunakan, fotonya bersama dengan Roxas. Ia pun tersenyum

"Love sick" jawab Zexion tiba-tiba sambil menghela nafas melihat tingkah laku Axel, Demyx tertawa disebelah Zexion. Dan sekarang Axel memandang mereka seperti ingin mencabik-cabik mangsanya.

"Semua, kita hampir sampai" Xion melirik kearah kami dibelakang. Dan muka kami semua berubah menjadi serius. Penentuan kami, akan ditentukan disini.

Akhirnya kami turun dari mobil dan memasuki tempat yang kami claim sebagai markas kami itu. Letaknya agak jauh dari Twilight Town, berada di tempat yang tersembunyi, tetapi dekat dengan laut.

Sesampainya kami disana, kami langsung disambut dengan tampang Xigbar yang garang. Ia menyuruh kami masuk kedalam, setelah itu dia menutup gerbang markas kami itu.

Didalam kami melihat Xemnas yang sedang duduk di kursi utama yang besar, Saix disampingnya, dan Larxene berada di dekat pintu masuk, melihat kearah kami dengan pandangan yang sinis.

"Well, well.. selamat datang kemari, para pengkhianat Organization XIII" katanya sambil tertawa, memandang kami satu persatu dengan tatapan sinis sambil tersenyum dingin.

"Aku tidak menyangka kalian akan datang secepat ini" balas Saix kemudian, tersenyum dengan licik.

"Sekarang, kita selesaikan apa yang seharusnya kita selesaikan saat ini, Xemnas" ucapku garang kepadanya

Tawa Xemnas semakin terdengar nyaring "Apa aku tidak salah mendengar? Axel, oh, Axel.. harusnya itu adalah perkataanku"

"Xemnas, aku minta kau untuk pergi dari Twilight Town" Marluxia tiba-tiba berbicara. "Kalian juga sudah tahu apa yang kalian perbuat, mengapa kalian masih mengincar kami?" tanya Xion kemudian

Kini bukan hanya Xemnas, bahkan Saix dan Larxene pun tertawa dengan histeris, apa mereka orang gila? Menertawakan hal yang kurasa tidak lucu.

Pandanganku fokus kearah Xemnas, menatapnya dengan tajam. Sebelum kami mendengar sebuah suara yang memberontak dari luar. Pandanganku tak bisa lepas dari Xigbar yang menggendong Roxy di tangan kirinya, pingsan. Dan Sora, yang memberontak di sebelah kanan Xigbar.

"Sora! Roxy!" Demyx berteriak begitu melihat mereka dibawa oleh Xigbar. Kami semua kaget ketika melihatnya. Bagaimana mungkin Roxy tahu tempat ini?

"Hei, Om! Turunkan aku! Riku tergeletak diluar! Lepaskan kami!" berontak Sora

"Damn.. kenapa Riku bisa sampai tergeletak" bisik Zexion, ia yakin kalau Riku cukup kuat untuk melawan Xigbar, dia ikut kejuaraan judo.

"Xemnas, lihat apa yang kutemukan diluar beberapa menit setelah kelompok pecundang ini datang" Xigbar kini menjatuhkan Roxy dengan kasar, namun ia tetap tidak sadarkan diri.

"Hey! Jangan perlakukan dia dengan kasar, sialan!" kataku, marah akan perlakuan Xigbar

"Huh.. ternyata kelinci datang sendiri ke kandang singa tanpa disuruh.. menarik, fufu" Saix tersenyum licik melihat kearah Roxy! Aku yakin dia pasti mau meng-apa-apakan-nya

"Apa yang kau lakukan padanya, Xigbar?" teriak Demyx padanya

Ingin rasanya aku memukulnya untuk yang ke-sekian kalinya sekarang juga. Namun Marluxia menahanku

"Ha? Apa yang kulakukan? Aku hanya memberi obat tidur pada Riku dan Roxas. Aku tahu bocah coklat ini tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan" tak lama ia pun tertawa bangga.

'Sialan kau' kata Sora mengutuknya dalam hati 'Kugigit kau baru tahu rasa'

Sora masih dalam tangan kanan Xigbar. Sedangkan Saix kini mendekat ke arah Roxy, memberdirikannya dengan kasar dan menyikut lehernya dengan lengannya, hingga kini ia berada dalam dekapan Saix, tak lama ia mengeluarkan pisau kecil didalam sakunya dan mengarahkannya ke leher Roxy.

"Roxas! Saix, lepaskan dia!" teriak Xion tiba-tiba

Kini Roxas sedikit tersadar, kaget akan posisinya saat ini. Saat ia mencoba memberontak, ujung pisau mengenai lehernya. Ia berhenti bergerak, merasakan benda tajam menusuk permukaan lehernya. Darah sedikit mengalir melalui pelipis lehernya.

Aku sudah mencoba menahan emosiku, tanganku sudah kukepal erat-erat, sepertinya sudah memutih akibat cengkramanku yang terlalu kencang.

"Kupikir kau tidak akan lupa seberapa malunya kami pada saat kau menghancurkan rencana kami dan membuat kami semua berurusan dengan polisi, bukan? Axel?" tanya Xemnas dengan sinis

Saix berbicara setelah Xemnas "Kau tahu bahwa PRIDE kami sangat tinggi, dan kau harus membayarnya dengan hal yang setimpal, Ax"

"Terserah apa yang akan kalian lakukan padaku, tapi lepaskan Roxy sekarang juga!" bentakku pada Saix

"Oh? Melepaskan mangsa kecil ini? Jangan harap" Saix tersenyum licik sambil memandang kearah Xemnas.

Kini Xemnas mengeluarkan 2 buah pistol, 1 ditangannya, dan satu lagi dia lempar tepat di lantai, depan ujung kakiku.

"Aku ingin kau membayarnya dengan nyawamu, Ax" Xemnas tertawa sinis sambil memandang kami.

~Owari~


A/N : buat chapie selanjutnya bakal ada action.. tapi.. hueeee TTOTT author ga pinter buat action, jadi gomen kalau jadinya membosankan

Ok deh, minna, matta ne! XD