Chapter 9

Sweet lies

BoyxBoy

Main pair: kaisoo

Rated: M

Typos

Rambut berantakan, lingkar mata menghitam dan sembab, pandangan kosong seolah kehilangan separuh jiwanya. Mungkin itu kalimat yang bisa mendeskripsikan keadaan kai saat ini. Hee chan masih menatap pria yang baru saja di bantunya untuk duduk diranjang. belum pernah selama sejarah persahabatannya dengan jongin, ia melihat pria yang dikenal sebagai cassanova itu terlihat sangat berantakan seperti saat ini.

"aku beryukur kau masih hidup– meski keadaanmu seperti ini! – sungguh aku tidak percaya ini dirimu, sahabatku kim jongin– kai seorang cassanova! Bisa terlihat seburuk hari ini! " hee chan mengoceh sambil berkacak pinggang didepan pria itu.

" semua sudah berahir– semuanya hancur... "

"aku tau! Tanpa penjelasanmu pun aku tau– bukan hanya semua kebohonganmu yang hancur, tapi dirimu juga ikut hancur! ".

Jongin tidak menyangkal – heechan sepenuhnya benar.

"sejak awal aku sudah melarangmu! – tapi kau pria keras kepala! Dasar bodoh! " hee chan kembali berucap lagi. Mengingat dirinya adalah satu-satunya orang yang tau, bahkan membantu jongin saat pria itu membawa pergi kyungsoo.

"aku mencintainya– sangat... Sangat mencintainya!– aku bahkan tidak tau, bagaimana cara menjalani hidupku saat ini! ".

Hee chan menghela nafasnya.

"ayo kembali ke korea! – kembali ke kehidupan awalmu! – anggap dia cuma mimpi dan sekarang kamu telah terbangun– sadarlah jongin, dia terlalu tinggi untukmu! Jadi jangan terlalu berharap– dia mimpimu! Dan sekarang saatnya kau harus realistis! "

Hee chan menjeda.

"akan ku kembalikan 100 jutamu, tapi sekarang kau harus ikut denganku ke korea– bisnisku sepi tanpamu cassanova! "

"bagaimana caraku melupakannya– dia terlalu nyata... "

"dia memang nyata! Tapi dia bukan untukmu! Sadarlah kim jongin!" hee chan serius.

Pria itu sangat jarang memanggil sahabatnya dengan nama aslinya dan jika ia sudah menyebutnya, maka hee chan benar-benar serius.

"semuanya sudah berahir– drama kebohonganmu yang begitu manis, sudah berahir! Kamu tidak punya pilihan lain selain kembali pada hidupmu yang dulu! "

"bagaimana jika aku bertemu dengannya? "

"bukan itu yang seharusnya kamu fikirkan! – jika kau bisa bertemu dengannya, maka itu sebuah keberuntungan! – masalahnya apa dia mau menemuimu! "

"lalu... Untuk apa hidupku? "

"seharusnya pertanyaan itu sudah kau tanyakan sejak dulu! Bahkan sebelum bertemu dengan kyungsoo?– untuk apa hidupmu? "

Jongin terdiam.

"aku benci mengatakan ini– tapi... Saat ini kau hanya seorang pria yang sedang patah hati! – tidak ada obat yang bisa menyembuhkanmu selain waktu! – dan juga... Ada banyak cara untuk mencintai seseorang tanpa harus memiliki... Ingat itu! "

Jongin terkekeh.

"sejak kapan kau bicara hal-hal menjijikkan seperti itu! "

"kau membuatku mengatakannya bodoh! Aissshh... "

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Berkas berserakan, komputer menyala, mata penuh konsentrasi membaca, pria bermata owl itu fokus pada apa yang tengah dicarinya. Ia tau pasti ada hal yang disembunnyikan oleh yixing tentang kepergian kekasihnya dan seluruh teman-temannya. Maka dari itu, kyungsoo mencari tau sendiri. Ia mengobrak abrik ruang kerja milik kekasihnya, mencari tau sesuatu yang mungkin janggal dan bisa dicurigai.

"ex'act? "

Kyungsoo berfikir sejenak. Rasanya nama itu terlalu asing. Ia sangat tau semua nama perusahaan kekasihnya juga keluarganya, tapi tidak satupun bernama itu. Jemarinya bergerak lagi. Ia membuka semua folder yang berkaitan dengan nama itu. Puluhan, bahkan ratusan file ada didalamnya. Seketika kyungsoo membuka satu persatu file itu. Mencoba mencari tahu lebih banyak lagi.

Hampir tiga jam ia berkutat dengan file pencariannya. Hingga ahinya ia menarik nafas dalam, sambil menyandarkan punggungnya dikursi. Tangannya memijat pelipisnya pelan. Ia tersenyum kecut untuk dirinya sendiri.

"another liar? Or i'm stupid? " monolognya sendiri.

Kini kyungsoo tau, apa itu ex'act. Mereka organisasi mavia besar, bahkan terbesar di korea. Yang lebih mengejutkannya lagi, organisasi itu diketuai orang tuanya sendiri. Lalu kekasihnya dan semua teman-temannya adalah bagian dari mereka.

Kyungsoo tidak habis fikir, kemana saja dirinya selama ini. Atau ia terlalu percaya pada orang-orang disekitanya. Bisa juga dirinya yang memang terlalu naif dan tidak ingin tau. Yang jelas ini lebih dari sekedar mengejutkan. Bahkan otaknya seperti tak mau berproses untuk mencari langkah apa yang seharusnya diambil.

Ia melangkah menuju jendela kaca besar. Berdiri disana menatap langit yang masih cerah. Gedung-gedung menjulang, jalanan ramai. Inilah realita. Sebuah kehidupan nyata. Tidak seperti kisah dalam hidupnya yang penuh kebohongan. Lebih tepatnya dibohongi. Mereka semua, teman-temannya, kekasihnya bahkan kedua orang tuanya tak satupun yang jujur. Dan orang yang baru dikenalnya pun ternyata juga seorang pembohong. Kim jongin.

Kyungsoo sadar, ia tidak bisa egois menyalahkan mereka semua. Karena dirinya sendiri selama ini juga tidak terlalu memperdulikan mereka. Karena itulah, ia dengan mudahnya dibohongi. Lalu apa yang harus dilakukannya saat ini.

.

.

.

.

.

London 08.17 pm.

"senyumlah... Bukankah ini yang kau inginkan... " chanyeol berbisik pada baekhyun yang sedang bercermin.

"aku ingin membatalkannya, pertunangan ini, jika aku bisa! – tapi aku tau itu akan mempermalukan semua orang! " baekhyun menjawab, menatap wajah pria yang lebih tinggi dari pantulan cermin.

"kamu mabuk?! " chanyeol mengerutkan dahinya.

Pria bermata sipit itu menggeleng.

"so... Why? Bukankah kemarin kamu yang memaksaku melakukan pertunangan ini? "

"hm– tapi aku sedikit menyesal, bagaimana mungkin aku bisa bertunangan dengan orang yang tidak bisa tersenyum bahkan dihari pertunangannya sendiri, aku merasa seperti orang bodoh! " baekhyun berbalik, menatap wajah park chanyeol secara langsung.

Pria itu terdiam.

"apa tidak bisa, sehari saja... Kamu mencintaiku seperti kamu mencintai kyungsoo, atau... Lebih buruknya, anggap saja aku dia, –!" baekhyun berucap seolah memohon dalam keputusasaan.

"kamu menyesal mencintaiku? "

"ya– aku menyesal mencintaimu, tapi aku tetap tidak bisa membencimu!"

"that's you byun baekhyun, dan itu alasan kenapa aku tidak bisa melepasmu begitu saja! " chanyeol menarik dagu baekhyun perlahan. Kemudian memberinya kecupan singkat.

"aku tau kamu tidak bisa mencintai orang lain selain aku". Park berkata penuh percaya diri.

"do you love me? " baekhyun bertanya.

"ya, i love you! "

"do you love kyungsoo? "

"ya, i love him... More! "

Chanyeol tersenyum. Sementara baekhyun menatapnya putus asa.

"kajja! – semua orang sudah menunggu kita! " . Chanyeol kemudian melangkah keluar dari kamar baekhyun duluan.

Selang beberapa menit, luhan datang. Ia mendekati baekhyun yang masih membenarkan jasnya. Segera ia membisikkan sesuatu.

Tangan baekhyun sedikit gemetar. Ia menatap luhan kaget. Sementara yang ditatap hanya membuang nafas pelan seolah mengisyaratkan bahwa yang dikatakannya adalah benar.

"jangan hawatir, yang tau hanya yixing, aku, sehun dan henry– tidak ada orang lain yang tau lagi jika kyungsoo telah kembali– aku akan merahasiakannya!"

"dimana dia sekarang?"

"dikorea, di rumah chanyeol bersama yixing– semuanya ku serahkan padamu baek, aku tidak ingin kamu menderita!"

"luhan... "

"jangan hawatir, kyungsoo akan baik-baik saja meskipun dia sendiri! – fikirkanlah perasaanmu terlebih dahulu! Aku akan selalu mendukungmu! "

"thanks... "

Baekhyun berjalan perlahan keluar dari kamarnya. Menatap meriahnya jamuan pesta di lantai satu. Matanya tertuju pada seseorang. Pria yang paling dicintainya, pria yang akan menjadi tunangannya malam ini.

"lu... Aku akan tetap bertunangan– ini satu-satunya kesempatanku agar bisa bersamanya, aku sudah sejauh ini, dan aku juga telah banyak berkorban, bukankahkah aku pantas mendapatkannya?" baekhyun berucap.

Sahabatnya merangkul dari belakang.

"hm, kau berhak mendapatkannya! "

.

.

.

.

.

Seoul...

Dua hari berlalu sejak kyungsoo tau semua kebenarannya. Ia memutuskan untuk keluar dari rumah chanyeol. Memilih menyewa sebuah apartemen dengan uang tabungannya. Kemarin, ia nekat pergi kerumahnya, melompati garis segel polisi dan mengambil semua yang dibutuhkannya. Dari dulu orangtuanya memang tidak pernah mencampuri semua keperluan kyungsoo, bahkan keuangannya. Dan sekarang ia tau alasan dibalik semua itu. Ya– orang tuanya sengaja, karena tidak ingin dirinya terlibat dalam kelompok mereka.

Kyungsoo masih mencoba mencari tahu dimana keberadaan orang tuanya saat ini. Ia bahkan malas untuk pergi ke kampus. Hidupnya serasa kacau. Ia tidak tau kemana harus pergi dan apa yang harus dilakukannya.

Tetapi... Bagaimanapun kyungsoo tidak boleh menyerah. Setelah berdiam diri beberapa hari, ahirnya ia mulai kembali pada kehidupannya yang dulu. Ia bertekad, entah ada atau tidak ada teman dan keluarganya, hidupnya tidak boleh berantakan. Ia kembali ke kampus, mengurus semua keterlambatannya selama ini, hingga kembali melanjutkan studinya. Kyungsoo juga berfikir untuk mulai menemukan pekerjaan, karena kini tak ada lagi orang tua yang bisa diandalkannya.

Malam itu, sepulang dari kampus kyungsoo berhenti didepan klub. Memorinya terputar kembali pada malam kejadian kecelakaan itu. Bukan hal lain, satu-satunya yang diingat pertama kali justru kim jongin. Pria yang sedang ditelpon Bersamanya saat sedang kecelakaan. Samar, ada sedikit ingatan saat ia melihat pria bertopeng berdiri dibalkon lantai dua gedung klub malam itu. Ia tidak yakin.

Ia merindukan pria itu tiba-tiba. Kim jongin

"ah... Bagaimana mungkin aku merindukan pembohong sepertinya! " kyungsoo berucap kemudian kembali melangkah menuju apartemennya.

Tetapi otak dan hatinya mulai berperang. Mereka tidak selaras. Hatinya berbisik ingin bertemu pria iru, namun otaknya masih menuruti logika bahwa pria itu telah membohonginya untuk alasan yang tidak jelas.

Kyungsoo tau, pria itu telah mengatakan jika dia mencintainya. Namun, kyungsoo tidak bisa begitu saja percaya. Alasan itu cukup gila hingga membuat jongin membohonginya dan merusak seluruh tatanan hidupnya. Meski begitu, hati kyungsoo tidak bisa mengesampingkan begitu saja perasaannya pada pria itu. Ya– semua kenangan indahnya dengan jongin masih tertinggal. Masih tetap indah dan tidak bisa begitu saja dibuang atau terlupakan.

Jongin begitu baik padanya, merawatnya bahkan ia bisa merasakan ketulusan hatinya. Meski pria itu sedikit protektif, tetapi kyungsoo tau, ia melakukannya untuk melindungi dirinya.

Berdiri di halte, kyungsoo menatap pantulan dirinya pada genangan air yang tersisa akibat hujan tadi sore. Ia terlihat sedikit berantakan. Sampai kemudian, ia menyadari sesuatu. Sebuah jaket yang dipakainya adalah milik pria itu. Milik jongin yang dipakainya saat mereka terahir kali bertemu. Kyungsoo amat menyukai bau pria itu, meski kini sudah memudar dan tak tercium lagi dari jaket itu. Atau lebih tepatnya digantikan bau parfum miliknya sendiri. Kyungsoo bahkan tidak sadar jika jaket itu jadi pakaian favoritnya yang sering ia kenakan ahir-ahir ini.

Kemudian, sebuah ingatan melintas di otaknya membuatnya sedikit terperanjat. Seseorang pernah memanggilnya 'kai' saat ia mengenakan jaket itu dan pergi ke klub untuk mencari tau tentang chanyeol tempo hari. Ia tidak tau, tapi kepalanya menoleh kembali. Otaknya seolah menyuruh kakinya bergerak untuk kembali ke klub itu. Dan benar saja– kyungsoo tidak akan membiarkan penasaran membuatnya susah tidur.

.

.

.

.

.

Kyungsoo tidak asing lagi bagaimana suasana klub malam. Meski ia bukan penikmat, tapi tempat ini adalah tempat favorit kekasihnya dan juga sahabat-sahabatnya. Mau tidak mau, ia juga tergolong sering datang kesana meski hanya sebentar, atau terkadang tidak masuk dan hanya menunggu diluar.

Kyungsoo melangkah perlahan. Matanya menyusuri setiap sudut tempat yang sudah penuh dengan orang. Tak jarang yang menatapnya, entah itu karena dirinya terlihat menarik atau karena beberapa orang mengenalnya sebagai kekasih seorang park chanyeol. Orang yang paling di segani di klub itu.

Tapi yang kyungsoo cari bukanlah kekasihnya saat ini. Ia mencari seorang pria pendek sama sepertinya yang pernah ia temui saat itu. Dan beruntung, pria itu tak sulit ditemukan. Ia berada disana, dibalik meja bar bersama seorang bartender sedang berbincang.

"permisi...! " sapa kyungsoo.

Hee chan menoleh, cukup terkejut.

"anda masih ingat saya? " kyungsoo berucap lagi.

"oh... I-iya, do kyungsoo... " hee chan sedikit gugup.

"aku ingin berbicara sebentar denganmu? "

"mm... Apa ini tentang park chanyeol? – kalau tentang dia, ... Maaf, aku belum punya kabar apapun! "

Kyungsoo menggeleng.

"bukan tentang dia– tapi tentang... 'kai'! "

Hee chan sungguh terkejut kali ini. Ia tidak bisa menyemvunyikam raut terkejutnya begitu nama 'kai ' disebut.

"kai? " si manager mengulang ragu.

"ya! – hari itu, anda sempat memanggilku dengan kai, siapa dia? Dan kenapa anda mengira aku adalah kai? ".

Bibir hee chan sedikit bergetar. Ia benar-benar gugup sementara otaknya bekerja keras mencari alasan yang tepat. Ia harus tetap menjaga perihal kai. Dan lelaki yang berdiri didepannya tidak boleh tau, jika kai adalah seorang kim jongin.

" Um, mungkin aku hanya salah orang, ya– dia seorang pelanggan disini! – begitulah!" hee chan menjawab dengan gugup.

Kyungsoo terdiam, ia terlihat begitu ragu dengan jawaban pria di hadapannya.

"maaf– saya permisi dulu, ada pekerjaan!" hee chan berdalih agar segera menghindari kyungsoo.

Sementara kyungsoo madih disana, otaknya justru lebih penasaran tentang siapa kai. Entah apa penyebabnya, tapi merasa harus mencari info tentang orang itu. Pandangan matanya menyusuri tempat itu lagi. Barangkali ada orang yang dikenalnya, untuk bisa bertanya tentang siapa kai.

Dan sepertinya kyungsoo sungguh beruntung malam itu. Dia– seorang pria datang tiba-tiba duduk disebelahnya lalu memesan whiskey. Kyungsoo sedikit memicing, meyakinkan matanya tidak salah. Dan ia benar-benar yakin, otaknya masih sangat jelas mengingat.

"permisi? " kyungsoo menyapa mendekati pria itu berani.

"iya? "

"anda... Ken?"

"oh– ya benar, bagaimana kau tau namaku?" pria itu terlihat sedikit bimgung.

"aku... Seseorang yang tidak sengaja hampir kamu tabrak waktu itu, di hongkong, anda memberikanku kartu nama! "

"oh! – ya! Ya! Aku ingat! " pria itu antusias.

"wah– kebetulan sekali kita bertemu disini, sepertinya dunia ini begitu sempit!" lanjutnya.

"aku do kyungsoo! " kyungsoo memperkenalkan diri.

"ne– senang bertemu denganmu, kamu baik-baik saja kan? "

Kyungsoo mengangguk, diiringi senyum ringan.

"kamu sering datang kesini,? " ken bertanya.

"lumayan– sebenarnya, aku tidak menyukai tempat ini, tapi kekasihku sering datang kesini, kamu sendiri? "

"aku bekerja disini! "

"ah jinjja? "

Ken mengangguk. "mungkin pekerjaanku tidak patut dibanggakan– aku bekerja di lantai dua! – jika mau mencoba denganku, mungkin aku bisa memberikanmu diskon, cause you're cute!" ken mengedipkan sebelah matanya menggoda.

Kyungsoo hanya tersenyum.

"oh– mian! Aku lupa kamu sudah punya kekasih, " buru-buru ken menambahi takut jika terlalu lancang menggoda.

Kyungsoo jelas tau apa pekerjaan pria dihadapannya. Ya– dia tau jika dilantai dua klub itu ada kamar-kamar yang memang di sediakan untuk mereka yang ingin menuntaskan hasrat. Dan ken adalah seorang penjaja jasa disana.

"um... Boleh aku tanya sesuatu? " kyungsoo sedikit ragu sebenarnya takut jika ia juga terlalu lancang atau dianggap sok akrab dengan pria yang baru ditemuinya.

Ken mengangguk. Memperlihatkan wajah ramahnya. Dan itu membuat kyungsoo lega.

"apa... Kamu kebetulan tau tentang seorang pelanggan bernama kai? "

"kai? Pelanggan? " ken ragu.

"kurasa aku tidak memiliki pelanggan bernama kai, kalau seorang yang bekerja disini, mungkin aku tau! "

"bekerja disini? "

"hm! Dia sama sepertiku, tapi... " ken mendekat, berbisik pada kyungsoo.

"dia sangat berkelas, seorang cassanova – dan harganya sangat mahal! ".

Kyungsoo sedikit terkejut mendengarnya. Ia menatap ken yang saat ini kembali pada posisinya dan meminum alkohol yang dipesannya.

Kyungsoo lebih mendekat pada ken.

"jadi... Dia sama sepertimu? "

"hm– tapi... Tidak banyak orang tau tentang wajahnya, dia selalu memakai topeng!"

Kalimat terahir kai sukses membuat kyungsoo tertegun. Ingatannya kembali pada pria yang dilihatnya dibalkon saat kecelakaan dulu. Memang samar, tapi kyungsoo begitu yakin dengan wajah pria yang melepas topengnya. Wajah yang dikenalnya, kim jongin.

"kamu pernah melihat wajahnya bukan? "

"tentu saja! Dia rekan kerjaku– tapi ahir-ahir ini dia menghilang, entah kemana! "

"kamu punya fotonya? Aku ingin tau! " kyungsoo antusias.

"um... Kurasa tidak bisa, ini melebihi batas privasi, – manager pasti akan menghajarku habis-habisan!"

"ku mohon, aku akan membayarmu sama seperti hargamu! "

Ken menatap kyungsoo serius. Seolah tidak percaya lelaki dihadapannya rela melakukan itu, hanya demi sebuah foto.

Namun ken menggeleng.

"sorry, aku tidak bisa! Itu terlalu... "

"dua kali lipat! Aku akan membayarmu dua kali lipat! " potong kyungsoo.

Dan ken benar-benar tidak bisa menolak kali ini.

"ikut aku! "

.

.

.

.

.

Ken dan kyungsoo berada disebuah bilik toilet. Bertatap muka dengan serius. Ken mengeluarkan ponsel dari sakunya, mengutak atik sebentar. Lalu memberikannya pada kyungsoo. Tapi sebelum kyungsoo meraihnya, ken urung.

"aku tidak ingin uang itu! "

"maksud kamu?" kyungsoo bingung.

"kamu berhutang padaku! – anggap saja seperti itu! Aku ingin kita berteman! "

"kenapa? "

"aku merasa kamu orang baik! – ya... Tidak ada alasan lain, bagaimana?"

Kyungsoo tersenyum. "gomawo... Ken! "

.

.

.

.

.

.

Berapa banyak lagi kebohongan yang harus ia terima dalam hidupnya?. Kalimat tanya itu seketika muncul dalam otaknya saat ia berbaring di kasur empuk apartemennya. Ingatan tentang foto seorang kim kai dan penjelasan ken masih begitu hangat. Kim kai, seorang cassanova dunia malam yang tak lain adalah kim jongin, seorang teman yang juga telah membohonginya.

Ini lebih dari mengejutkan. Kenyataan tentang pria yang berhasil mencuri sedikit tempat dihatinya. Kyungsoo hanya tersenyum kecut. Ia bahkan tidak tau kalimat apalagi yang harus digunakan untuk mendeskripsikan pria itu. Kim jongin.

Berantakan. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan hidupnya saat ini. Ingin rasanya ia lari ketempat baru, lingkungan baru, meninggalkan masalah yang memuakkan ini. Tapi kyungsoo tak ingin jadi pengecut. Karena itu, ia memilih untuk tetap tinggal, menghadapi apapun yang terjadi.

.

.

.

Sore itu hujan ketika kyungsoo sampai di halte pulang dari kuliahnya. Ia melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya, sambil menunggu tranportasi datang. Ada alasan kenapa kali ini kyungsoo lebih memilih halte daripada stasiun. Jawabannya adalah, ia ingin menghindari ingatannya sendiri tentang pria itu. Kim jongin. Meski sebenarnya ia sendiri tidak tau dimana pria itu saat ini.

Sejenak ia membungkuk, memperbaiki tali sneakernya yang sudah renggang. Tepat saat ia selesai, matanya menangkap sepasang pantofel mengkilap dihadapannya.

Ia ragu, namun perlahan mendongak sambil kembali berdiri. Seorang pria, dengan kacamata hitam, berpakaian rapi dengan setelan jas berwarna abu-abu dan celana senada. Pria itu tidak terlalu tinggi, hampir sama dengannya. Ia tersenyum setelah melepas kacamatanya dan memasukkan dalam saku vest jasnya.

"hai... Kyungsoo! " sapanya penuh percaya diri.

Kyungsoo ragu. "kau tau namaku?".

Pria itu mengulurkan tangannya. "aku suho– mungkin kamu belum mengenalku, tetapi... Orang tuamu ingin aku melindungimu! ".

"orang tuaku? " kyungsoo memicing. Mengabaikan uluran tangan pria itu. "kamu bagian dari exact? "

"kamu tau tentang exact? ".kali ini suho sedikit terkejut. Lalu dengan sedikit kikuk menurunkan uluran tangannya.

"kenapa?! Apa seharusnya aku tidak tau?"

"bukan begitu... Hanya saja, ini tidak seperti yang kuperkirakan! "

"aku tidak tau maksudmu apa! – tapi... Jika benar kau suruhan orang tuaku, katakan dimana mereka sekarang? " kyungsoo tegas tidak ingin bertele-tele.

Suho mengangguk, tapi kemudian tidak langsung menjawab.

"aku akan memberitahumu semuanya! Tapi tidak disini! Ayo kita cari tempat makan! "lanjutnya.

"kamu fikir aku bisa mempercayai orang begitu saja, maaf suho-ssi, aku sudah terlalu banyak dibohongi– aku tidak bisa menuruti perkataanmu begitu saja!, siapapun dirimu! ".

Bis berhenti, tepat disamping keduanya. Tanpa pamit kyungsoo segera berlari kecil menuju pintu bis dan masuk. Ia sama sekali tidak menengok kebelakang. Meminggalkan suho yang masih berdiri disana, dengan pakaian mewahnya yang sedikit terkena percikan hujan.

.

.

.

.

.

.

Kim jongin pov.

Sudah beberapa hari yang lalu aku berada di korea lagi. Kembali pada kehidupanku dulu, pada dunia malam yang menjijikkan. Apa aku baik-baik saja?. Jawabannya tidak. Hanya satu hal yang membuat segalanya berantakan. Rasa rindu padanya, pada lelaki yang sangat aku cintai– kyungsoo.

Aku telah mencoba berkali-kali, menegaskan pada fikiranku sendiri bahwa dia telah membenciku dan aku tak berhak atas dirinya lagi. Berbagai cara aku lakukan untuk meredam rasa rindu yang seolah mencekikku sendiri. Tapi semua gagal. Fikiran dan hatiku tidak mau berkompromi. Logikaku terlalu lemah. Aku merindukannya.

Sejak dulu, bahkan sebelum bertemu dengannya aku sangat menyukai berpergian dengan kereta. Tapi kali ini, aku mengalah. Aku sengaja melewati stasiun untuk menuju halte. Memilih bis sebagai alternatif transport. Menghindari kemungkinan untuk melihatnya. Karena aku masih tak sanggup menerima kenyataan tentang yang belum lama terjadi.

Tapi sepertinya tuhan memberiku cerita lain. Sore itu ketika hujan, duduk dibangku paling belakang dengan hoodie, aku menoleh keluar saat bis yang kutumpangi berhenti disalah satu halte. Dia sedikit berlari kecil, menuju pintu– melangkahkan dua kaki mungilnya masuk kedalam kendaraan yang sama denganku. Wajahnya terlihat sedikit kesal. Tapi sama sekali tidak mengurangi keindahannya. Itu kyungsoo.

Dia sesuatu yang mampu menghipnotisku. Membuat seluruh atensiku hanya terfokus padanya. Logika seolah lumpuh sesaat, meski ahirnya aku menyadari– ini bukan saatnya aku hilang kendali. Aku memalingkan wajah, sedikit menunduk berusaha menutupi wajahku sendiri saat ia berjalan menuju kursi kosong. Hanya dua kursi dihadapanku. Jarak yang membuatku semakin tak sanggup. Aku bukan membencinya, aku hanya tidak sanggup menahan gejolak rindu yang mendidih untuknya. Tubuhku serasa ingin melompat padanya detik ini juga.

Aku ingin melihat wajahnya dari jarak yang dekat.

Menggenggam tangannya.

Memeluknya erat.

Haruskah aku melakukannya?

Atau aku harus duduk diam disini, melihat pungungnya sambil menahan hasrat merindu.

TBC–

Heyyyyyyyyy long time no see... I'M SO SO SO SORRY for being late...

Aku baru saja menyelesaikan cerita lain, tapi updatenya di wattpad dan IG.

SO, buat yang mau baca bisa di igku or my WP 'cloudsclear', judulnya YOU AREN'T HIM...

AND NOW I COME BACK FOR THIS STORY...

Aku usahaian rutin update tiap minggu lagi ya...

Love you all...

GIVE ME REVIEW PLEASE...

HOPE YOU LIKE IT...