LOVER ETERNAL
.
CHAPTER 10
.
.
.
KAIHUN AGAIN ( ini GS soalnya mau diubah jadi Yaoi ntar ceritanya jadi aneh, kurang sreg. Bisa aja sich diganti Yaoi tapi emm bakalan gak ngepass dehh ceritanya)
RATED M
.
.
REMAKE FROM NOVEL J. R. WARD
.
CERITA SEBELUMNYA
.
Tanpa bicara lagi, Sehun pergi ke kamar mandi. Ia berdiam di bawah pancuran begitu lama hingga jemarinya mulai berkerut dan uap di udara terasa kental. Ketika sudah selesai, ia mengenakan pakaian yang sama yang dipakainya tadi, karena ia lupa membawa pakaian baru tadi. Ia membuka pintu ke kamar tidur perlahan.
Chanyeol tengah duduk di ranjang, bahunya yang besar membungkuk, tangannya memeluk pinggang. Membungkuk di atas tubuh Kai yang terlelap, vampir itu melengkungkan tubuh sedekat mungkin tanpa bersentuhan. Seraya berayun maju mundur, terdengar nyanyian samar.
Vampir itu menyanyi, suaranya naik turun, melompati nada nada, melengking tinggi. Luar biasa indah. Dan Kai tampak tenang, tidur dalam kedamaian yang sebelumnya tidak didapatkannya.
Sehun buru buru melintasi ruangan dan pergi keluar, meninggalkan kedua pria itu sendirian.
.
HAPPY READING
.
Kai bangun keesokan siangnya. Hal pertama yang dilakukannya adalah meraba raba dengan panik mencari Sehun, tapi ia menghentikan diri, tidak ingin membiarkan luka membakar tubuhnya lagi. Ia tidak merasa cukup kuat untuk melawan.
Membuka mata, ia memalingkan wajah. Sehun ada disampingnya, tidur menelungkup.
Ya Tuhan, lagi lagi Sehun merawatnya saat ia membutuhkan wanita itu. Sehun tidak berjengit. Kuat. Bersedia melawan para brother demi dirinya.
Cinta memenuhi hati Kai, membuat jantungnya membengkak hingga napasnya terhenti. Ia memegang dada dan merasakan plester yang ditempelkan Sehun. Perlahan lahan, ia membuka plester plester itu. Lukanya kelihatan membaik, sudah menutup dan tidak menyakitkan lagi. Besok luka luka itu tak lebih dari sekedar guratan merah muda, dan lusa akan sepenuhnya sembuh.
Ia membayangkan tekanan yang dialami tubuhnya akhir akhir ini. Perubahan. Desakan desakan saat berada di sekitar Sehun. Tertimpa sinar matahari. Cambukan. Ia bakal perlu minum darah segera, dan ia ingin melakukannya sebelum rasa lapar menghantamnya.
Ia selalu tepat waktu minum darah. Sebagian besar brother mengulur ulur rasa lapar sekuat yang mereka tahan, hanya karena mereka tidak ingin repot repot dengan semua keintiman itu. Tapi Kai tidak. Ia tidak mau monster dalam dirinya sampai haus darah_
Tunggu sebentar.
Kai menarik napas dalam dalam. Ada... Kehampaan yang luar biasa dalam dirinya. Tak ada terdengar dengungan. Tidak ada rasa gatal. Rasa terbakar. Padahal ia tengah berbaring disamping Sehun.
Ini... Cuma dirinya didalam tubuhnya. Cuma dirinya. Kutukan Scribe virgin sudah hilang?
Ha, tidak mungkin. Pikir Kai. Tentu saja ia hanya mendapat penangguhan hukuman agar bisa menjalani rythe tanpa perubahan. Kai bertanya tanya seberapa lama lagi penangguhan hukuman itu berlangsung.
Kai menghembuskan napas, udara keluar perlahan lahan dari hidungnya. Saat ia menarik napas lagi, ia menikmati kedamaian sempurna itu. Keheningan yang terasa seperti surga. Ketiadaan gejolak dalam dirinya.
Sudah seabad lamanya, ia tidak pernah mengalami ini. Astaga, ia ingin menangis. Kai menutup matanya mencegah dirinya agar tidak menangis. Apakah orang lain tahu betapa beruntungnya mereka mendapati momen seperti ini? Momen keheningan tiada tara? Ia tidak menghargai hal itu sebelum kutukan, bahkan tidak menyadarinya. Sial, kalau ia dianugerahi kedamaian ini, ia mungkin sebaiknya berguling dan kembali tidur.
" Bagaimana keadaanmu? Mau kuambilkan sesuatu? "
Mendengar suara Sehun, Kai bersiap siap mengalami ledakan energi. Tapi tak ada yang datang. Satu satunya yang ia rasakan hanyalah kehangatan yang berpendar di dadanya. Cinta yang membebaskannya dari kekacauan akibat kutukannya.
Kai mengusap wajah dan menatap Sehun. Memuja Sehun begitu kuat dalam kegelapan hening hingga ia merasa takut kehilangan Sehun. " Aku perlu menyatu denganmu, Sehun. Saat ini juga. Aku ingin bercinta denganmu. "
" Kalau begitu cium aku. "
Kai menarik tubuh Sehun ke arahnya. Sehun hanya mengenakan kaos, dan Kai mengulurkan tangan ke baliknya, merentangkan tangan dipunggung bawah Sehun. Ia sudah sangat terangsang dan siap bercinta dengan Sehun, tapi karena tak ada yang perlu dilawannya, membelai Sehun merupakan kenikmatan mewah.
" Aku butuh mencintaimu, " ucap Kai, ia melempar selimut dari ranjang. Ia ingin melihat dan menyentuh tiap jengkal tubuh Sehun, dan tak ingin ada yang menghalanginya.
Ia menarik kaos Sehun melalui kepala dan menyalakan lilin lilin dalam ruangan dengan kekuatannya. Sehun begitu menakjubkan dalam cahaya keemasan itu, kepalanya menoleh saat menengadah menatap Kai dengan mata kelabunya. Payudaranya tampak putih dan padat, puncak payudaranya menegang. Perutnya rata, sedikit terlalu rata, pikir Kai, mencemaskan Sehun. Namun pinggangnya sempurna, begitu juga tungkainya yang ramping.
Dan lekuk dibawah pusarnya, tempat yang paling manis...
" Sehun- ku, " Bisik Kai, membayangkan semua tempat ditubuh Sehun yang ingin dijelajahinya.
Saat menghampiri Sehun, tubuh Kai sendiri menegang, menuntut. Namun sebelum ia sempat membungkuk, Sehun menyentuh kejantanannya, ia membiarkan Sehun mengocok kejantanannya sesaat, membiarkan dirinya lepas sepenuhnya, membiarkan hasrat dan kenikmatan murni menguasainya.
Sehun bangkit untuk duduk, Kai tidak tahu apa yang akan dilakukan wanita itu. " Sehun? "
Sehun menunduk, mensejajarkan wajahnya didepan kejantanan Kai. Ia membuka mulutnya lalu mengulum habis kejantanan Kai.
Kai terkesiap dan terjengkang, menumpu diri dengan tangan. " Oh. "
Sejak mendapat kutukannya, Kai tidak pernah membiarkan wanita manapun yang ditidurinya untuk memperlakukannya seintim ini. Ia tidak menginginkannya, tidak suka membiarkan wanita wanita itu menyentuhnya.
Tapi ini Sehun.
Kehangatan mulut Sehun, isapannya, tapi terutama kesadarannya bahwa ini Sehun, menyedot segenap kekuatannya, membuatnya tunduk sepenuhnya dalam belas kasihan Sehun. Mata Sehun menengadah menatap Kai, sambil terus menghisap kejantanannya sampai pipi wanita itu mencekung dalam. Mata Sehun memperhatikan Kai yang tenggelam dalam kenikmatan yang diberikan wanita itu. Ketika Kai akhirnya roboh ke ranjang, Sehun semakin berani dan kuat mengulum kejantanan Kai. Kai meletakkan kedua tangannya di kepala Sehun, melengkungkan tubuh agar kejantanannya masuk lebih dalam ke mulut Sehun dan menggerakkannya seiring irama yang mulai ditemukan Sehun.
Tepat sebelum ia jatuh ke jurang kenikmatan, Kai melepaskan diri.
" Kemarilah, " Ucap Kai, menarik tubuh Sehun dan menggulingkannya hingga telentang. " Aku hanya akan klimaks saat aku berada didalam kehangatan vaginamu. "
Sambil mencium Sehun, Kai meletakkan tangan di dasar leher Sehun lalu beranjak turun hingga ke jantung Sehun, berhenti disana. Jantung Sehun berdetak cepat, dan Kai membungkuk untuk mendaratkan bibirnya di tulang dada Sehun, lalu berpindah ke payudara Sehun. Ia mengulum puncaknya seraya menyelipkan tangan ke bawah tulang belikat Sehun dan menaikkan tubuh wanita itu agar lebih dekat lagi ke mulutnya.
" Nyaahhh... " Sehun mengeluarkan suara erangan dalam di tengah tenggorokannya, terkesiap keras saat Kai menengadah untuk mengamatinya. Mata Sehun terpejam, giginya di kertakkan. Kai mencium jalur disepanjang pusar Sehun, tempat ia berlama lama dan membiarkan lidahnya menjilat sebelum bergerak ke pinggang dan punggung bawah Sehun.
Seraya menyelipkan jarinya ke dalam vagina Sehun, Kai mengeluarkan taring dan menggesekkan taringnya disepanjang tulang belakang Sehun.
" Oohh... Aahhnn... " Sehun mengerang, tubuhnya melengkung menyambut gigi Kai.
Kai berhenti dibahu Sehun. Menyingkap rambut Sehun yang menghalanginya. Dan menggeram saat menjilat leher Sehun.
Ketika Sehun menegang, Kai berbisik, " Jangan takut, Sehun. Aku tidak akan melukaimu. "
Kai mendesis saat hasrat menghantamnya. Napasnya mulai tersengal, tapi ia tetap tenang. Tak ada getaran, tak ada dengungan menakutkan itu. Hanya Sehun dan dirinya. Bersama. Bercinta.
Walaupun ia memang mendambakan sesuatu yang lain dari Sehun.
" Sehun, maafkan aku. " Lirih Kai.
" Untuk apa? " Tanya Sehun bingung.
" Aku ingin... Minum darahmu, " Bisik Kai ditelinga Sehun.
Sehun gemetar, tapi Kai bisa merasakan hasrat Sehun ditempat yang disentuhnya dan tahu itu getaran kenikmatan.
" Kau benar benar ingin melakukan... Itu? " Tanya Sehun.
" Oh, ya. " Kai mencium sisi leher Sehun. Ia menghisap kulit Sehun, sangat ingin melakukan lebih banyak lagi. " Aku akan sangat suka menghisap dari pembuluh darahmu. "
" Aku sering membayangkan seperti apa rasanya. " Suara Sehun terdengar serak serak basah. Astaga, apakah Sehun akan mengijinkannya? " Sakitkah? "
" Hanya sedikit pada awalnya, tapi rasanya seperti bercinta. Kau akan merasakan kenikmatanku saat aku mengisap darahmu, dan aku akan sangat berhati hati. Sangat lembut. " Jelas Kai sambil terus menjilati kulit leher Sehun.
" Aku tahu kau pasti tidak akan menyakitiku. "
Gairah berdentam dentam dalam darah Kai dan taringnya siaga. Ia bisa membayangkan membenamkan taringnya di leher Sehun. Mengisap. Menelan. Mencecap. Lalu ikatan yang terbentuk saat Sehun melakukan hal yang sama padanya. Ia akan memberikan darahnya pada Sehun, membiarkan wanita itu mengambil sebanyak yang dibutuhkannya_
Saat Sehun melakukan hal yang sama?
Kai menarik diri. Apa yang dipikirkannya? Sehun itu seorang manusia, brengsek. Dia tidak minum darah.
Kai menumpukkan kening dibahu Sehun. Dan teringat bukan saja Sehun seorang manusia, tapi wanita itu juga sakit. Ia menjilat bibir, berusaha membujuk taringnya untuk masuk kembali.
" Kai? Apakah kau akan... Kau tahu? " Tanya Sehun gugup.
" Kurasa lebih aman untuk tidak melakukannya. " Sahut Kai.
" AKu tidak takut, sungguh. "
" Oh, Sehun, aku tahu. Kau tidak takut pada apapun. " Dan keberanian Sehun adalah sebagian alasan Kai bersedia mengikatkan diri pada wanita ini. " Tapi aku lebih suka mencintai tubuhmu daripada mengambil sesuatu yang tak bisa diberikannya padaku. "
Dalam serangkaian gerakan cepat, Kai menarik tubuh Sehun ke atasnya, dan menyatukan tubuh mereka dengan hunjaman dalam. Panas menggelora dalam tubuhnya saat tubuh Sehun melengkung menyambutnya, dan tangan Kai menahan tubuh Sehun diantara payudaranya, kemudian memalingkan dagu Sehun supaya ia bisa menciumnya.
Napas Sehun terasa panas dan tersengal saat Kai memisahkan tubuh mereka, hanya untuk kembali menghunjam lebih dalam lagi hingga mereka berdua mengerang. Tubuh Sehun menyambutnya dengan hangat.
Kai beberapa melakukan hal itu, mengeluarkan kejantanannya sepenuhnya, dan kembali dengan kekuatan penuh sampai tubuh Sehun terhentak kuat. Jemari Sehun mencengkeram lengan berotot Kai, melampiaskan rasa nikmat.
Kai menghunjam penuh beberapa kali lagi lalu hasratnya mengambil alih sepenuhnya hingga ia tidak bisa menahan bibirnya di bibir Sehun lagi. Tubuhnya berdenyut keras dalam diri Sehun, dan Kai menahan diri disana.
Dada Sehun roboh ke ranjang dan wajahnya berpaling ke samping. Bibirnya merekah, matanya terpejam. Kai melepaskan tangannya dari dada Sehun dan menopang tubuh dengan kepalan tangan disisi sisi bahu Sehun. Wanita itu tampak begitu mungil, begitu kecil dibandingkan otot otot lengan Kai, tapi Sehun menerima sepenuhnya, lagi dan lagi hingga Kai sepenuhnya tersesat.
Tahu tahu Kai merasa tangannya tersengat. Ia menunduk dan melihat Sehun tengah meringkuk ke salah satu lengannya dan bibirnya terkatup dipangkal ibu jari Kai, menggigit.
" lebih keras, Sehun, " ujar Kai parau. " Oh, ya. Gigit... Lebih keras. "
Tikaman kecil rasa nyeri saat gigi Sehun tenggelam di jarinya membuat Kai nyaris mencapai pelepasannya.
Hanya saja Kai belum ingin semua ini berakhir.
Kai menarik diri dan dengan cepat membalik tubuh Sehun. Saat Sehun telentang, kakinya terkulai lemas kehilangan tenaga. Melihat tubuh Sehun terpapar dihadapannya , berkilauan untuknya, membengkak gara gara dirinya, hampir membuat Kai melupakan segalanya. Ia menunduk dan mencium tempat yang barusan dijelajahinya, mengecap aroma yang ditinggalkannya di sekujur tubuh Sehun.
" Kaaaiiiaaahhhhhh... " Sehun menjeritkan nama Kai dengan liar saat mencapai puncak. Dan sebelum semuanya berakhir untuk Sehun, Kai kembali menyatukan tubuh mereka. Kuku kukunya terbenam dipunggung Kai.
Setelah beberapa menit menghunjam Sehun dengan keras dan cepat, akhirnya Kai membiarkan tubuhnya merasakan pelepasan, seraya menatap mata Sehun yang melebar dan terpana. Karena tidak perlu menahan diri lagi, ia mencapai puncak lagi dan lagi. Kai terombang ambing dalam gelombang kepuasan yang kemudian menelannya. Kenikmatan itu seakan tak kenal akhir, dan tak ada yang mampu menghentikannya.
Tak ada, andai ia memiliki kekuatan untuk terus melanjutkannya.
.
.
.
Sehun mendekap Kai saat pria itu bergetar sekali lagi, tubuh pria itu mengejang, napasnya memburu. Kai mengerang dari kedalaman dadanya, dan Sehun merasakan tubuh pria itu tersentak dan kembali mengalami pelepasan.
Keintiman ini meluluhlantakkan, Sehun begitu tenang sementara Kai terempas dalam kenikmatan berulang. Dengan konsentrasi yang tak terpecah oleh hasrat, Sehun dapat merasakan setiap hal kecil dari tubuh Kai dalam tiap hunjaman keras. Ia tahu persis kapan tubuh Kai mengalami pelepasan, dapat merasakan getarannya. Itulah yang terjadi saat ini, napas pria itu tersendat, otot otot dan bahunya menegang saat ia kembali menghunjam.
Kali ini Kai menengadah, bibirnya menyingkap taringnya, matanya terpejam rapat. Tubuhnya berkontraksi, semua ototnya menengang, lalu Sehun merasakan gerakan itu jauh dalam dirinya.
Mata Kai terbuka. Berpendar.
" Maafkan aku, Sehun. " Sentakan lain menguasai Kai, dan Kai berusaha keras berbicara. " Tidak... Pernah... Seperti... Ini. Tidak bisa berhenti. Sialan. "
Kai menggeram liar, perpaduan permintaan maaf dan kenikmatan.
Sehun tersenyum pada Kai dan menyapukan tangan disepanjang punggung Kai yang halus, merasakan otot otot kekar disana saat Kai menyatukan tubuh mereka lagi. Dan ia bisa menghirup aroma ikatan yang dikeluarkan Kai baginya, aroma kental yang menyelimutinya.
Kai menopang tubuh dengan tangan, terlihat seolah hendak beranjak pergi.
" Kau mau kemana? " Tanya Sehun, menahan Kai ditempat.
" Bakal... Membuatmu gepeng. " Napas Kai kembali tercekat hingga kata katanya keluar dalam desisan.
" Aku baik baik saja. " Ucap Sehun.
" Oh, Sehun... Aku... " Kai melengkungkan tubuh lagi, dada maju, kepala tersentak ke belakang, leher terjulur kuat, bahu menegang kuat. Pria ini betul betul indah.
Mendadak tubuh Kai merosot, tubuhnya lunglai. Sehun menahankan diri di atas bobot tubuh Kai, nyaris tak mampu bertahan ataupun bernapas. Untungnya, Kai berguling ke samping dan membawanya bersama pria itu. Jantung Kai berdentam didadanya, dan Sehun mendengarkan denyutnya yang melambat.
" Apakah aku menyakitimu? " Tanya Kai kasar.
" Sama sekali tidak. "
Kai mengecup Sehun lalu menarik diri, melesat ke kamar mandi. Ia keluar membawa handuk, yang disapukannya ke tubuh Sehun.
" Apakah kau mau aku menyalakan air hangat? " Tanya Kai. " Aku, eh, sepertinya membuat semuanya berantakan. "
" Sama sekali tidak. Aku hanya ingin berbaring disini. " Lirih Sehun.
" Aku tidak bisa menjelaskan kenapa itu bisa terjadi. " Kai mengerutkan kening seraya menarik selimut kembali ke ranjang dan menyelimuti mereka berdua. " walaupun... Yah, mungkin aku tahu. "
" Apapun alasannya, kau menakjubkan. " Sehun mendaratkan kecupan di rahang Kai. " Luar biasa menakjubkan. "
Mereka berbaring bersama tanpa bicara selama beberapa saat.
" Dengar, Sehun, tubuhku mengalami banyak hal akhir akhir ini. "
" Ya. " Sahut Sehun.
" Aku bakal perlu... Merawat diri. " Ucap Kai hati hati.
Nada suara Kai terdengar aneh, dan Sehun menengadah padanya. Kai menatap langit langit.
Tikaman dingin menjalari tubuh Sehun. " Maksudmu? "
" Aku butuh minum darah. Dari wanita. Spesiesku. "
" Oh. " Sehun mengenang bagaimana rasa taring Kai saat menyusuri punggungnya. Dan mengingat getaran antisipasi ketika pria itu menyurukkan bibir dilehernya. Bayangan aktivitas malam Kai membuat Sehun menarik diri. Ia tidak bisa melalui itu lagi. Menunggu di tempat tidur pria itu, tahu bahwa pria itu berada bersama wanita lain.
Kai meraih tangan Sehun. " Sehun, aku perlu minum darah sekarang supaya aku bisa mengendalikan diri. Dan aku ingin kau hadir bersamaku saat aku melakukannya. Kalau terlalu berat untukmu melihatnya, setidaknya kau bisa berada di ruangan yang sama. Aku tidak ingin kau bertanya tanya apa yang terjadi antara diriku dan wanita itu. "
" Siapa yang akan kau " _ Sehun berdeham _ " minum darahnya? "
" Aku sudah memikirkan hal itu. Aku tidak ingin minum darah dari siapapun yang pernah kuminum darahnya. "
Jadi itu memperkecil kemungkinan keberapa, lima wanita? Mungkin enam?
Sehun menggeleng geleng, merasa seperti wanita sinting.
" Aku akan memanggil salah satu Yang Terpilih. " Ucap Kai.
Katakan padaku mereka perempuan tua ompong, batin Sehun. " Siapa mereka? "
" Utamanya mereka melayani Scribe Virgin, penguasa kami, tapi selama beberapa waktu mereka melayani kebutuhan darah anggota brotherhood. Pada zaman modern kami tidak pernah memanfaatkan mereka seperti itu, tapi aku akan menghubungi mereka, melihat apakah kami bisa mengatur pertemuan. " Jelas Kai.
" Kapan? "
" Segera. Besok malam, mungkin. "
" Aku sudah pergi saat itu. " Ketika melihat ekspresi Kai menggelap, Sehun tidak memberinya kesempatan untuk bicara. " Sudah waktunya aku pergi. "
" Omong kosong. " Marah Kai.
" Kai, bersikap realistislah. Apakah kau benar benar berpikir aku akan tinggal disini bersamamu selamanya? "
" Itulah yang kuinginkan. Jadi, ya. " Sahut Kai.
" Terpikirkah olehmu bahwa aku merindukan rumahku, barang barangku, dan _ "
" Aku akan memindahkan semua barangmu kemari. Semuanya. " Sela Kai.
Sehun menggeleng. " Aku ingin pulang. "
" Disana tidak aman, Sehun. "
" kalau begitu kita akan membuatnya aman. Aku akan memasang alarm keamanan, belajar menembak, entahlah. Tapi aku harus kembali ke kehidupanku. "
Kai memejamkan mata.
" Kai, tatap aku. Tatap aku. " Sehun meremas tangan Kai. " Ada hal hal yang perlu kulakukan. Di duniaku. "
Bibir Kai mengatup rapat. " Maukah kau membiarkanku meminta Chen memasang sistem keamanan? "
" Ya. "
" Dan kau akan tinggal disini bersamaku selama beberapa hari. "
Sehun menarik napas dalam dalam. " Bagaimana kalau aku menolak? "
" Aku akan mendatangimu. " Ucap Kai.
" Kupikir itu bukan_ "
" Aku sudah pernah memberitahumu. Berhentilah berpikir. " Sela Kai.
Bibir Kai melumat bibir Sehun, tapi sebelum lidah Kai menjelajah masuk dan menghilangkan kemampuannya untuk berpikir jernih, Sehun mendorong pria itu.
" Kai, kau tahu ini takkan berujung kemana mana. Ini... Apapun yang terjadi di antara kita. Ini tidak bisa. Tidak mungkin terjadi. " Lirih Sehun.
Kai berguling, telentang, meletakkan lengan di bawah kepalanya. Saat gerahamnya terkatup rapat, pembuluh darah dilehernya bertonjolan.
Sehun benci ini benar benar membencinya. Tapi lebih baik mengungkapkan semuanya sekarang. " Aku menghargai semua yang kaulakukan untukku. Pengorbanan untuk menjagaku tetap aman_ "
" Kenapa kau sangat marah malam itu, waktu aku pergi keluar? " Tanya Kai sinis.
" Apa? "
" Kenapa kau peduli bahwa aku bersama orang lain? Atau apakah kau hanya merasa butuh berhubungan seks secara kasar dan berusaha membuat alasan untuk menutup nutupinya? " Mata Kai menatap mata Sehun. " Dengar, lain kali kau butuh itu, kau hanya perlu meminta. Aku bisa memainkannya seperti itu. "
Ya ampun. Kemarahan ini bukanlah yang diinginkan Sehun. " Kai _ "
" Kau tahu, aku benar benar menyukainya. Aku suka dominasi yang kau tunjukkan. Menyukai sisi sadisnya juga. Merasakan darahku dibibirku setelah kau menggigitku, sangat merangsang. "
Nada dingin dalam suara itu sungguh mengerikan. Mata Kai yang datar dan berkilat kilat lebih buruk lagi.
" Maafkan aku, " Lirih Sehun. " Tapi _ "
" Bahkan, baru memikirkannya saja aku sudah terangsang. Agak mengejutkan, mengingat bagaimana aku menghabiskan dua puluh menit terakhir. " Sela Kai.
Sehun menghela napas lelah. " Menurutmu masa depan macam apa yang tersedia untuk kita? "
" Kita takkan pernah tahu, bukan? Tapi kau akan tetap disini sampai malam, kan? Hanya karena kau butuh aku untuk mengantarmu pulang. Jadi akan kupastikan aku bisa siap untuk berhubungan lagi. Tentunya aku tidak mau membuang buang waktumu. " Kai meraih kebalik selimut. " Sial, kau benar benar hebat. Aku sudah benar benar terangsang. "
" Apakah kau tahu apa yang akan kuhadapi enam bulan kedepan? " Tanya Sehun sedih.
" Tidak, dan aku takkan pernah tahu, bukan? Jadi, bagaimana kalau kita berhubungan seks? Karena itu satu satunya yang kauinginkan dariku, dan karena aku pecundang yang cukup menyedihkan untuk tetap menerima apapun yang kau tawarkan padaku, kurasa lebih baik aku segera melakukannya. " Ucap Kai.
" Kai !" Teriak Sehun, berusaha mendapatkan perhatian pria itu.
" Sehun !" Ejek Kai. " Maafkan aku, apakah aku terlalu banyak bicara? Kau lebih suka mulutku melakukan hal lain, bukan? Kau ingin mulutku berada di mulutmu? Bukan, dipayudaramu. Tunggu, lebih ke bawah. Ya, kau lebih suka itu. Dan aku tahu persis dimana harus menyentuhmu. "
Sehun membenamkan wajah ditangan. " Aku tidak ingin meninggalkanmu seperti ini. Dengan bertengkar. "
" Tapi itu takkan mengubah pendirianmu, bukan? Tentu saja tidak, kau kan Sehun si supertangguh. Kau akan langsung keluar ke dunia _ "
" Untuk sakit, Kai ! Aku meninggalkanmu untuk sakit, oke? Aku akan pergi ke dokter besok. Takkan ada pesta besar yang menungguku saat aku pulang. "
Kai menatap Sehun lekat. " Apakah kau menganggapku begitu tak berharga untuk merawatmu? "
" Apa? "
" Apakah kau tidak akan membiarkanku merawatmu saat sakit? " Ulang Kai.
Sehun berpikir tentang betapa berat baginya menyaksikan Kai menderita dan tak mampu melakukan apapun untuk menyingkirkan rasa sakit itu. " Kenapa kau mau melakukan itu? " Bisiknya.
Ketegangan langsung hilang dari bibir Kai, seolah Sehun baru saja menamparnya.
Kai langsung turun dari tempat tidur. " Ya, persetan denganmu, Sehun. " ia mengenakan celana kulitnya dan merenggut kaus dari laci.
" Berkemaslah, manis. Kau tidak perlu berurusan dengan anjing liarmu lagi. " Kai memasukkan kaus ke lengan lalu menariknya lewat kepala. " Aku akan meminta Chen memasang sistem pengaman dirumahmu secepat mungkin. Mestinya takkan lama, dan sampai dia selesai, kau bisa tidur di tempat lain. Salah satu pelayan akan mengantarmu ke kamarmu yang baru. "
Sehun melompat turun dari ranjang, tapi sebelum ia bisa menyentuh Kai, vampir itu menahannya di tempat dengan tatapan mematikan.
" Kau tahu, Sehun, aku layak mendapatkan ini. Sungguh. Aku melakukan hal yang sama pada banyak orang, pergi begitu saja tanpa ambil peduli. " Kai membuka pintu. " Hanya saja para wanita yang kutiduri beruntung. Setidaknya mereka takkan pernah mengingatku. Dan, Oh Tuhan, aku bersedia membunuh demi bisa melupakanmu sekarang, sungguh. "
Kai tidak membanting pintu saat melangkah keluar. Hanya menutup pintu dengan tegas.
.
.
.
Seorang lesser membungkuk di atas pria sipil itu dan mempererat alat penyiksanya. Ia menculik vampir pria ini di gang terdekat dipusat kota. Ia senang karena vampir yang ia tangkap ini memiliki hubungan tak langsung dengan Brotherhood.
Lesser itu menghirup napas dalam dalam. " Seberapa baik saudara perempuanmu mengenal Brotherhood? "
" Dia... Berhubungan seks... Dengan mereka. "
" Dimana? "
" tidak tahu. "
" Kau harus memberiku jawaban yang lebih bagus daripada itu. " Lesser itu memberi tekanan yang lebih kuat.
Vampir sipil itu berteriak dan matanya yang liar berputar putar. Dia sudah hampir pingsan lagi, jadi lesser itu melonggarkan alat penjepitnya.
" Dimana dia bertemu dengan mereka? "
" Adikku pergi ke semua bar. " Pria itu terbatuk lemah. " Tapi dia pergi ke One Eye kemarin malam. "
" One Eye? " Aneh. Itu berada dipinggiran kota.
" Bolehkan aku pulang sekarang? Orang tuaku bakal _ "
" Aku yakin mereka cemas. Dan mereka memang sudah semestinya cemas. " Lesser menggeleng geleng. " tapi aku tidak bisa melepaskanmu, belum. Sekarang, katakan padaku, siapa nama saudara perempuanmu itu? "
" Sandara. "
" Dan Brother mana yang dilayaninya? "
" Tidak tahu pasti.. Yang punya bekas luka diwajahnya. Tapi dia sebenarnya menyukai vampir yang berambut pirang... Tapi vampir itu tidak menyukai adikku. "
Vampir berambut pirang? Ahh, vampir yang memelihara monster. " Kapan terakhir kali dia menemui si pirang? "
Terdengar suara gelapan.
" Apa kau bilang? Aku tidak bisa mendengarmu? "
Vampir pria itu berjuang untuk bicara, tapi mendadak tubuhnya kejang kejang dan mulutnya menganga seolah ia sesak napas.
" Oh, ayolah, " Gumam lesser itu. " ini tidak sesakit itu. " Tapi tetap saja sepuluh menit kemudian vampir itu mati.
Pintu pusat persuasi terbuka dan Lesser yang sering dipanggil U berjalan masuk. " Bagaimana keadaan kita malam ini? "
" vampir sipil ini mati, dan aku tidak tahu kenapa. Padahal aku baru saja mulai. "
" Apakah kau mendapatkan informasi? "
" Saudara perempuannya berhubungan seks dengan para Brother, tapi tak banyak yang bisa kukorek darinya. "
" Alamat rumah? "
" Dompet vampir sialan itu sudah dicuri seseorang. Tapi dia sempat menyebut bar yang baru saja didatangi para Brother. One Eye. "
U mengerutkan dahi. " kau yakin dia tidak asal bicara hanya supaya kau berhenti? One Eye tidak jauh dari sini. "
" Well, tidak ada salahnya bukan kalau kita mengawasi bar itu. Mungkin saja para Brother akan kembali lagi ke sana. "
U berbalik pergi. " Terserah saja. "
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Maaf ini pendek yaaaa kekeke dan NC nya gak banget soalnya jiwa mesum ane lagi sembunyi di dasar jurang.
Moga masih ada yang berminat, review banyak dilanjut yaaaaa
